Pages

9/10/09

Klayar Revealed

Text and photo by Ghagha

________________________________________________










Kontributor

Ghagha atau Rangga Aditya adalah seorang traveler akut. Perjalanan panjangnya menyusuri Madura yang eksotis dan Pulau Sempu yang senyap membuatnya bertekad untuk lebih banyak tra
veling menjelajah Indonesia. Beberapa negara telah disinggahinya, pesona Paris dan suasana malam di Orchad Road pernah dirasakannya. Sangat mencintai musik dan film, juga keripik usus Cak Bud. Sebelumnya ia pernah menuliskan kisah perjalanannya ke Anyer dan Gili untuk Hifatlobrain.
________________________________________________

Awal 2009 saya datang ke Jogja untuk bertemu teman-teman, sekaligus saya berencana untuk mengadakan sebuah farewell party. Atas rekomendasi seorang teman yang kuliah di Solo kami pun berencana untuk melakukan sebuah trip ke pantai-pantai di Pacitan yang sedang naik daun di forum-forum traveling di internet. Berbekal keteguhan hati dan sikap yang tawaddhu akhirnya kami bertujuh berangkat dengan mengunakan sebuah mobil menembus daerah sekitaran Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri yang berhutan lebat. Kami berangkat dari Pleburan, Jogja, jam 12 malam, berharap bisa menikmati indahnya sunrise di pantai pada saat yang tepat. Awalnya sih kami enjoy saja, perjalanan yang mulus itu kami lewati dengan canda tawa. Kami bertujuh memang punya sederet masalah kejiwaan yang kronis.

Tapi kegilaan itu tidak bertahan lama. Di daerah Wonogiri segala kengerian itu bermula, kami melihat sebuah benda teronggok di tengah jalan. malam yang gelap gulita sedikit menyulitkan kami untuk mengidentifikasi benda apakah itu. Tapi memang kecepatan mobil mendadak kami kurangi agar kami bisa melihat dengan jelas benda apakah yang merintang jalan kami. Akhirnya semakin kita mendekat semakin jelas benda apakah itu, yang pasti benda ini bukanlah benda yang kalian harap temukan selama perjalanan. Ada yang tahu benda apakah itu? Ah jawaban kalian tidak ada yang benar, ternyata benda itu adalah seonggok mayat manusia penuh darah yang terhempas di tengah jalan! Fuckkkk! Kami bertujuh cuman bisa melongo melihat mayat segar tersebut. Sepertinya itu adalah korban hit and run yang nahas. Shittt! Adrenalin di dalam darah kami pun naik, bergumul dengan rasa takut seperti jika Anda adalah Manohara ketika disilet sang suami. Can you imagine that? Sebenarnya kamera digital sudah stand by di tangan saya, tapi saya tidak punya keberanian untuk mengambil gambar jasad tersebut. Sepertinya ndak lucu jika saya terngiang muka bapak yg nahas itu selama saya hidup.

Masih shock dengan kejadian tersebut, akhirnya sekali lagi kami teguhkan sikap untuk melanjutkan perjalanan. Setelahnya perjalanan mulus-mulus aja, tapi canda kami surut seiring pemikiran parno kami atas kejadian tadi. Sekitar jam empat pagi akirnya kita sampai di pantai Teleng Ria Pacitan, karena matahari masih belum terbit, keadaan gelap gulita membimbing kami dalam ketiadaan. Hahaha. Karena saat itu gelap kami pun bertanya-tanya apakah pantai ini cukup indah atau tidak. Akhirnya kami pun mengutus dua hulubalang untuk melihat-lihat daerah pantai. Ternyata pantainya kotor dan banyak sampah yang bertebaran di bibir pantai. Memang pantai ini adalah pantai yang touristy, dimana orang banyak yang melakukan rekreasi di hari libur. Akhirnya kami putuskan untuk mencari daerah yang bersih untuk tidur dan beristirahat karena kami tidak tahu kalau perjalanan ini bisa begitu melelahkan. Akhirnya kita menemukan sebuah pendopo yang berlantaikan ubin, kami tidur disana kurang dari dua jam bersama kru sound system di pendopo yang tampaknya akan dipakai untuk acara dangdutan siang nanti. Kami pun dibangunkan oleh suara cengeng dari Krisna Mukti dan Ridho Rhoma dalam balutan nada khas dangdut, sebuah cara yang salah untuk memulai hari. Arrrgggghhh!

Kami bangun dengan malas dan bersiap-siap pergi ke pantai berikutnya. Kami pun menyusuri daerah-daerah yang jarang terjamah oleh turis, dari jalan setapak yang hanya cukup dilewati satu mobil saja hingga tanjakan curam yang mengharuskan kami semua turun kecuali yang nyetir karena kondisi jalanan bukan aspal melainkan bebatuan dan kerikil tajam yang sangat mudah membuat ban tergelincir. Kami mulai curiga, jangan-jangan kami tersesat, lha ini kok cari pantai Klayar susahnya minta ampun. Kami pun terus menyusuri jalan dan bertanya kepada orang yang lewat. Ternyata kami menembus jalan yang tidak umum, jadi wajar saja kalo lama sekali menuju Klayar. Setelah beberapa kali tanya dan jauh berjalan kami pun menemukan jalan yang beraspal, kami pun cukup lega karena tampaknya kami sudah mengambil jalan yang benar. Selang 20 menit akhirnya kami pun tiba di Pantai Klayar, tujuan kami yg sebenarnya. Subhanallah, tidak salah pantai ini jadi the next big thing buat para traveler seperti kami. Pantainya sendiri sangat sepi dengan pasir yang relatif bersih. Scenery pantai ini unik, penuh batu cadas yang menyerupai patung-patung raksasa yang indah akibat digerus air selama ribuan tahun. Airnya bagus, tone birunya sangat cantik. Membuat kami betah berlama-lama tinggal di sini.

Selama tiga jam lebih hanya kami pengunjung pantai tersebut. Sangat sepi dan Pantai Klayar seperti milik kami bertujuh saja. Dari laut sampai bebatuan karang yang bertumpukan kami hinggapi sampai puas. Tapi romantisme itu tidak bertahan lama, hingga akhirnya alien-alien itu datang. Alien yang saya maksud adalah manusia dengan motor knalpot ronder, berbaju merah black id dan celana coklat bermotif kotak-kotak 7/8, memakai topi hitam blink 182, dan sepatu adidas putih bergaris empat. Karena hari juga sudah memanas, maka kami pun memutuskan mencari makan dekat pantai. Menunya sangat praktis, hanya ada mi ayam dan mi goreng yang menjadi sangat enak bagi kami yang berperut kosong. Sudah kenyang kami akirnya pergi meninggalkan pantai Klayar dan menuju sebuah situs lokal di dekat pantai yaitu sebuah goa mineral. Cukup menarik walaupun hanya beberapa dari kami saja yang turun karena sebagian dari kami sudah letih dan matahari semakin ganas menguras tenaga kami. Tidak lama kami berdiam di gua mineral karena kami harus pulang menuju Jogja.

Sore hari kami sempatkan singgah di solo karena lapar telah memanggil. Akhirnya kami singgah di Rumah Makan Bebek Pak Slamet yang dibanggakan oleh supir kami. Honestly, if you want the best taste of duck cooking in Indonesia please check Surabaya. Jam delapan malam kami kembali ke Jogja dan berakhirlah perjalanan singkat kami yang meninggalkan banyak kenangan.

6 comments:

pyut said...

huooo... kepingin kesini...

siska herwinda said...

aq jg pgn...

Gola said...

Wah kq g mampir?
Aq nag pacitan, rumahku dket klayar. Pntai2 dket klayar masih banyak n da yg lebih bagus. Aq kul d jogja...

taaammii said...

Waw.. Amazing!
Tapi syg y kl pantai bersih itu hrs kena polusi genk2 motor y?!

osta segara said...

abis uts kesana akhhh
siiik,thanx info yang membuat aku bergairah.hahah

モバゲー said...

モバゲー無料登録で遊び&出会い放題!!暇な時間を素敵な時間に変化させませんか?毎日退屈だと思っている方…そんな方に刺激をあげるサイトです