Pages

9/10/09

Life in Garbagepolis

Text and photo by Mochammad Asim
_____________________________________________










Kontributor

Mochammad Asim adalah seorang pecinta kopi dan fotografi. Sebagian besar malam-malamnya dihabiskan di warung kopi Sarkam, sebuah warkop yang melegenda di daerah Ampel Surabaya. Fotojurnalistik adalah kegemarannya yang lain, berbekal kamera digitalnya Asim menyusuri sudut-sudut minor Surabaya, lalu dengan senang hati ia membagikan penjelajahan visualnya kepada Hifatlobrainer semua. Bisa ditemui di http://moch-asim.blogspot.com/.
_____________________________________________

Aroma tak sedap tiba-tiba saja menyeruak masuk ke lubang hidung saya seratus meter di depan LPA Benowo, Surabaya. Asap dari truk-truk tua pengangkut sampah yang lalu lalang menambah perih udara yang masuk ke kerongkongan saya. Seseorang yang tidak terbiasa menghadapi kondisi seperti itu akan lumrah untuk muntah karena memang bau tumpukan sampah memang sama sekali tidak manusiawi. Apalagi tumpukan sampah menyerupai bukit menjadi panorama tersendiri yang sama sekali tak sedap dipandang mata. Jika bukan karena niat yang bulat, maka cukuplah alasan di atas untuk memalingkan saya dari tempat itu selamanya.

Hari masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas bagi mereka yang bekerja di kantoran, namun ribuan lalat hijau itu sudah berdengung kerans sekali. Berputar-putar bekerja keras menclok diatas apa saja yang jorok. begitu juga di atas bebukit sampah itu, terlihat puluhan orang sudah tenggelam dalam aktivitasnya, mendengus terburu-buru saling berebut dengan lalat hijau. Mereka seperti para ksatria yang berperang diantara deru debu padang Kurusetra. Senjata mereka tiga: keranjang dipunggung, caping penutup kepala dari anyaman bambu, dan gancu yang terbuat dari besi panjang dimana bagian ujungnya dibuat runcing-melengkung. Tangan-tangan dengan kulit legam itu begitu lincah mengumpulkan sampah-sampah, mulai dari sampah karet, plastik, botol kaleng, hingga kardus yang masih terlihat bagus. Pemulung sampah itu terus mengais dan terus mengais apa saja yang mereka bisa dapatkan.

Umumnya mereka berasal dari luar kota, seperti Situbondo, Bondowoso, Gresik, bahkan dari Pulau Madura. Mereka jauh-jauh pergi meninggalkan kampung halaman tidak lain karena alasan ekonomi. Iming-iming rupiah untuk bisa merasakan hidup layak menyulut nyali mereka untuk mengadu nasib di kota. Meskipun pada akhirnya pendidikan yang rendah dan ketidaktersediaannya lapangan pekerjaan memaksa mereka untuk bertahan dengan menjadi pemulung sampah. Sebuah pekerjaan yang sama sekali tidak pernah terlintas di benak mereka. Hampir semua pemulung ini hidup dan tinggal di areal LPA Benowo. Bau busuk adalah makanan mereka sehari-hari, hidung mereka sudah kebal rupanya.

Namun, justeru dari sampah-sampah itulah mereka mendapatkan berkah. Mula-mula sampah yang berhasil mereka dapat dikumpulkan di satu tempat untuk disortir. Proses sortir ini dilakukan untuk memilah sampah berdasarkan jenis dan bahan pembuatannya. Selanjutnya sampah-sampah itu kemudian dibungkus dalam karung dan ditimbun, sambil berharap para pengepul akan segera tiba menjemput dan membeli sampah itu. Untuk 10 karung sampah plastik biasa, para pemulung itu bisa mendapatkan penghasilan sebesar 100.000 rupiah. Sedangkan untuk sampah yang sudah mulai langka yaitu gelas plastik air mineral, mereka mendapatkan 2500 rupiah per kilogramnya. "Penghasilan saya sih bukannya harian, tapi mingguan. Satu minggu kadang minim saya bisa dapat 200.000 rupiah," kata Udin yang terpaksa memulung karena ajakan kakaknya.

Silahkan dinikmati beberapa photoshoot saya,


nb:
Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumentasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!

3 comments:

panca said...

buat mas ayus..
bole minta info wisata ala backpacker ke raja ampat?very thanks

Ayos Purwoaji said...

waduh, lha saya sendiri belom pernah keRaja Ampat e, hahaha jadi saya nggak bisa kasih jalur bekpeker kesana, maaf yaaa...

panca said...

kalo mu ikut berkontribusi bagi cerita...
kirim kemana ya?