Pages

12/24/10

Preserving the Past for the Future

Photo courtesy of Lukman Simbah

Mungkin ini adalah posting terakhir di tahun 2010, sebuah posting penutup tahun hingga bertemu di posting selanjutnya di 2011. Biasanya orang membuat resolusi, meski ada pula yang membuat kaleidoskop. Seperti Dwi Putri Ratnasari, honorable contributor di Hifatlobrain, yang mendata seluruh kenangan travelingnya di tahun ini. Melewati tahun sebetulnya tidak lama, seperti bus Sumber Kencono jurusan Surabaya-Jogja yang selalu melaju terburu. Apa yang sudah Anda lakukan tahun ini? Apa saja pencapaian Anda?

Kami patut berbangga karena melewati 2010 Hifatlobrain mulai mendapatkan perhatian dalam lingkup yang lebih luas.

Resolusi kami untuk tahun yang akan datang adalah bagaimana Hifatlobrain mampu menjembatani antara potensi travel writer muda dengan banyak media dalam skala nasional. Kami sadar, berkontribusi di blog yang ciamik ini tidak ada bayarannya, tapi bukan tidak mungkin tulisan Anda yang dimuat di sini akan dilirik oleh media besar yang siap menyediakan space-nya untuk karya Anda. Cukup menarik bukan?

Awal tahun depan, blog ini juga memasuki tahun kelima. Bagi kami ini adalah pencapaian yang luar biasa, sebuah blog jalan-jalan dengan konsep kolektif dan mampu bertahan dalam waktu yang tidak sebentar. Apalagi kami akan selalu setia menjaga kualitas tulisan dan materi yang akan dipublish, sebelum dibaca oleh ratusan ribu juta Hifatlobrainers :p

Oh ya, lalu apa yang akan kami berikan pada pembaca di tahun depan? Oke sedikit rencana dari dapur redaksi, kami sedang menggodok adanya fitur baru dalam blog ciamik ini berupa rubrik baru yang bertajuk 'Review'. Kepikiran untuk membuat rubrik ini karena sekarang banyak sekali buku travel di pasaran, memenuhi rak-rak buku dengan janji manis. Padahal tidak sedikit dari sekian banyak buku itu yang memiliki kualitas buruk dan tidak berdasar riset yang faktual. Maka rubrik ini hadir untuk mereview buku-buku travel yang terbit di Indonesia.

Selain itu, dengan rubrik 'Review' ini nantinya kami meng-encourage Hifatlobrainers untuk menjadi traveler cerdas. Wedyan bukan? Hahaha. Buat kalian yang suka baca, silahkan berkontribusi dalam memenuhi rubrik ini.

Oh ya, foto kover posting kali ini saya menggunakan foto dari mas Lukman Simbah yang habis pulang jalan-jalan melintas Lamalera hingga Sumba. Nanti postingan awal tahun memiliki tema Nusa Tenggara Timur dengan berbagai posting dari kontributor kami yang sangat maknyus! So keep your browser to this awesome-cool-blog dude!

See you next year!

Hifatlobrain.
Ayos Purwoaji | Winda Savitri | Dwi Putri Ratnasari

12/20/10

Teguh Sudarisman on Travel Writing


Interview and photo by Ayos Purwoaji

_______________________
Beberapa waktu Hifatlobrain sempat untuk mewawancarai Teguh Sudarisman, seorang pelopor genre travel writing di Indonesia. Saat ini ia menjabat sebagai editor-in-chief untuk dua majalah traveling; Escape! Indonesia dan Liburan.

Teguh Sudarisman sejak beberapa tahun yang lalu mendirikan sebuah klub bernama Penulis Pengelana sebagai sarana untuk menelurkan para penulis travel lokal di Indonesia. Simak wawancara panjang secara random bersama Ayos Purwoaji yang akan mendedah dunia travel writing secara gamblang.
_______________________


Teguh Sudarisman [TS]: Aku sebetulnya punya konsep ya. Kalo di Thailand kan ada konsep One Village One Product. Tapi kurasa kebutuhannya bukan itu, Indonesia butuh konsep One City One Travel Writer. Setiap kota minimal punya satu travel writer.

Misalkan aku butuh artikel tentang Solo, aku pasti akan kontak Si A, karena dia travel writer-nya Solo. Sama misalnya aku butuh tulisan tentang Bromo, Surabaya, Madura, atau Malang, aku cuma perlu kontak satu orang yang memang serius nulis buat kota-kota itu.

Minimal ada satu orang lah yang jadi satu travel writer di satu kota. Karena setiap kota kan punya keunikan tersendiri tuh, sayang kalo nggak dieksplore habis. Tentu saja orang itu, selain dapat kerjaan dari media, dia juga berpartisipasi untuk membangun pariwisata di kota tersebut.

Hifatlobrain [HFLB]
: Bener mas.

TS: Kan sekarang banyak banget fotografer, udah jadi profesi sejuta umat lah ya. Tapi siapa coba yang serius mau jadi travel writer? Susah cari travel writer. Kamu cari fotografer yang bisa nulis susah! Kalo travel writer sih udah pasti fotografer.

HFLB: Ah belum tentu mas.

TS: Mostly kayak gitu.

HFLB: Banyak travel blogger yang fotonya juga gak bagus tuh.

TS: Wah itu sih sayang sekali. Travel writer harusnya juga bisa motret. Nulis bagus, foto juga keren.

HFLB: Yang aku agak terganggu tuh, ada banyak blogger yang fotonya bagus tapi dipublish pake watermark. Menurutku itu mengurangi estetika foto sih... Ya mungkin mereka takut fotonya dicuri, tapi kalo pake watermark itu dilihatnya nggak nyaman gitu, mungkin mas punya pendapat?

TS: Aku ya kalo lihat foto watermark, aku nggak nafsu. Aku selalu kalo posting di Multiply atau FB selalu panjang maksimalnya 480 pixel dengan resolusi 72 dpi. Itu kan kalo dibesarkan udah pecah. Ya walaupun kadang-kadang dikadalin juga, tetep diposting di beberapa tempat. Kalo ketahuan sama aku ya tinggal aku mintain duit aja... [Tertawa]

HFLB: Emang banyak foto mas yang dicuri ya?

TS: Ya ada sih beberapa, tapi nggak apa-apa. Ya namanya orang showcase di internet, dicopy sama orang lain itu udah resiko.

HFLB: Saya sih hampir sepakat dengan konsep tadi mas, tapi yang saya tanyakan adalah; sampai kapan kita bisa mengeksplor sebuah kota? Kecuali kota besar seperti Solo, Jogja, Bandung yang tiap tahun pasti ada annual program gitu ya, lha kalo misalkan kota kecil seperti Nganjuk atau Temanggung gitu sejauh mana dia bisa menggali potensi wisata daerahnya. Apa nggak mungkin suatu saat dia mentok dan kehabisan bahan? Kalo satu kota satu penulis sih agak susah ya, kalo beberapa kota satu travel writer baru mungkin...

TS: Ya mungkin kalo kotanya terlalu kecil dia bisa memperluas daerah eksplorasinya. Bisa ke kota lain di sekitarnya. Bogor misalnya, Bogor tuh kota kecil. Di sana sekarang banyak banget fotografer, tapi travel writer-nya ancur. Aku suruh kirim tulisan nggak ada yang bagus. Nggak bisa mereka nulis yang personal experiences, yang joyful gitu. Mereka biasanya nulis deskriptif. Tahun berdiri lah, lokasi lah, how to get there lah. Yah kalo kayak gitu sih nyari di Google banyak. Boring banget. Travel writer itu harus bisa membawa perasaan pembacanya dong.

Bogor itu kotanya kecil, tapi potensinya gede. Kalo dia merasa habis, dia bisa beralih ke kota sampingnya. Kayak Banyuwangi juga, kalo misalkan satu kota sudah habis yadia pindah ke kota sampingnya aja; Jember, Muncar, Ijen...

Karena setiap kota ini sekarang sedang berusaha menonjolkan diri masing-masing kan, dan sebetulnya setiap kota kan punya potensi wisata yang bisa ditulis.

Kayak Indramayu misalnya, itu kan kayak sleeping town yang gak jelas gitu kan, padahal sebetulnya dia punya potensi besar yang bisa digali seandainya ada orang yang mau concern untuk jadi travel writer; kulinernya apa? Ada pulau apa? Ada spot wisata apa? Kita kan jadi nggak kenal Indramayu soalnya eggak ada penulis yang concern di kota itu.

Makanya aku antusias bener untuk merangsang anak-anak muda biar jadi travel writer gitu, soalnya itu bisa dikoleksi, bisa diarsipkan, bisa buat jualan. Misalnya dirimu jadi kontributor tetap di travel magazine, itu bisa buat jualan ke banyak tourism board; Thailand, Qatar, Macau, Malaysia, macem-macem bisa kemana aja. Lalu dirimu traveling dibiayai gratis oleh tourism board itu. Enak kan, gak usah booking pesawat jauh-jauh hari. [Tertawa]

HFLB: Wohoo gaya banget dah. [Tertawa]

TS: Ya aku bukan orang kaya, aku orang biasa. Tapi aku lihat temen-temen yang suka jalan lucu banget. Mereka mau traveling ke Ho Cin Minh City aja harus booking tiket setahun sebelumnya, nah pas udah mau berangkat, eh rutenya ditutup. [Hahaha] Aduuuh kacau kan! Misalnya kayak gitu.

Kalo aku sih mau jalan ke Ho Cin Minh City tinggal kirim surat aja, dapet tiket, tinggal jalan. Simpel kan?

Ya mungkin tidak semua penulis wisata mau kayak gini. Ada pula yang pake uangnya sendiri, nabung dulu baru berangkat. Kalo aku sih nggak gitu ya, kalo ada kesempatan buat gratisan kenapa enggak? Soalnya di dunia travel writing itu banyak sekali hal gratis. Aku selalu nekanin prinsip ini ke anak-anak didikku.

Masalahnya cuma satu, untuk mendapatkannya dirimu harus minta. Contohnya kamar-kamar hotel berbintang itu, apa selamanya mereka full booked? Enggak kan? Banyak yang kosong. Makanya kita bisa switch; "Eh gue nginep dua hari dong di hotel lu, ntar gue bikinin review deh!" Kalo kita nggak minta ya PR-nya diam aja, emang siapa elu? Ya nggak?

Tapi misalnya ada email, oh dari Mas A misalnya, travel writer handal yang nulis di banyak majalah, maka mereka gampang aja kasih kamar. "Lu gua kasih tiga hari nginep deh, tapi balesannya apa? Buatin gue review satu halaman di majalah dong..."

HFLB: Oke, i got the point, Mas.

TS: Ya udah gitu sistemnya, barter aja kan.

HFLB: Termasuk mas nginep di Amanjiwo waktu itu?

TS: Iya, semua, semua gratis.

HFLB: Gimana tuh yang Amanjiwo mas? Resor itu adalah impian saya untuk melewatkan honeymoon mas...

TS: Nah itu, bagi kebanyakan orang biasa sih nggak bakal sampe ke situ. Ya kan? Karena biayanya terlalu mahal. Nah jadi travel writer itu adalah salah satu cara untuk melampaui orang-orang biasa itu. Kalo orang lain harus nabung bertahun-tahun untuk bisa tidur semalam di Amanjiwo, kalo aku sih tinggal pilih kamar... Ke jaringan Aman Resorts yang lain aku juga jadinya gampang aja [Tertawa]

HFLB: [Mbatin: asem tenan!] Lah kalo misalnya kita ajukan permohonan tapi kita nggak punya media, tapi kita cuman kontributor emang bisa ya mas?

TS: Bisa! Tapi ya kamu harus punya banyak portfolio dulu untuk meyakinkan mereka. Bagi kebanyakan orang itu hal yang tidak mungkin, tapi bagi travel writer itu mungkin banget.

HFLB: Oke. Umm pengalaman traveling mas Teguh yang paling keren di mana sih?

TS: [Berpikir lama] Um kayaknya belum ada sih, emm tergantung sih ya. Soalnya kadang-kadang kelemahan jadi travel writer itu; misalkan kamu menginap tiga malam di sebuah hotel, bisa jadi selama tiga hari itu kamu nggak sempat coba kolam renangnya!

Ya soalnya kamu sibuk keliling, motret, nulis, keliling lagi, motret lagi... [Tertawa] Ya justru bisa jadi pengalaman paling baik justru bukan didapat dari tempat yang sangat istimewa. Bisa jadi bermalam di desa Ngadas di lereng Bromo adalah pengalaman yang jauh lebih kaya... Ya tergantung setiap orang sih.

Contoh lain, misalnya pergi ke Guangzhou, jalan, jalan, jalaaan, eh malah gak dapet apa-apa. Tapi begitu masuk ke toko kaset tua, malah nemu sesuatu yang lama dicari. Nah kan pengalaman batinnya beda. Justru mungkin dari satu kaset yang ditemukan di toko tua itu yang bikin perjalanan istimewa.

HFLB: Berarti personal experience kayak gitu jauh lebih berharga ya?

TS: Iya, justru tidak harus sesuatu yang fisik dan kasat mata. Ya kembali aja contoh di Amanjiwo tadi, hotel yang rate-nya semalam bisa belasan juta, apa bedanya dengan tidur di hotel yang semalam satu juta per kamar? Justru pas di Amanjiwo itu lebih terkesan pas raftingnya, soalnya aku mau njungkel. kayak Tuhan negur saya; "Udah deh nggak usah yang gagah-gagahan lu, ini baru gue kasih sungai yang jeramnya level dua aja udah mau nyungsep lu," Akhirnya aku kan jadi lebih hati-hati, tetep eling dan waspada [Tertawa terbahak]

HFLB: Hwaduh, kok eling lan waspodo kayak Ranggawarsita gini jadinya...[Tertawa] Eh mas kemarin terakhir kali yang pergi ke Siak itu berapa lama?

TS: Oh itu cuma sehari aja.

HFLB: Hah! Apa yang bisa didapatkan seorang travel writer dalam perjalanan sehari aja? Kan penulis itu harus mencerap segala sesuatunya dengan cermat dan detail. Kalo cuman sehari rasanya kurang banget, kayak nggak dapet apa-apa...

TS: [Terdiam sejenak] Oh, travel writer itu beda dengan backpacker atau flashpacker sekalipun. Kalo travel writer itu menggunakan segala macam metode untuk bisa menghasilkan sebuah tulisan. Kamu udah baca tulisan tentang Rumahkoe yang di Solo itu, yang di multiply-ku bagian travelogue itu? Pernah baca nggak?

HFLB: Oh belom baca aku. Aku justru tertarik tulisanmu yang tentang Masjid Art Deco itu mas.

TS: Nah itu kan sama, ngliputnya sebentar...

HFLB: Iya tapi ada sesuatu yang beda gitu... Anda naik ojek, sholat subuh, lalu ngobrol dengan takmir masjid, itu keren banget menurutku mas!

TS: Ya makanya, pengalaman traveling itu tidak ditentukan lama sebentarnya perjalanan. Jadi ngapain kamu bermiskin-miskin jalan dari Jakarta ke Banyuwangi kalo misalkan nggak ada hal yang bisa diceritakan ke orang lain juga? Mending langsung aja, naik pesawat, langsung sampe di tempatnya, trus kita benar-benar mendalami daerah yang kita tuju itu... Itu tergantung sebanyak apa yang bisa kita serap dari tempat itu...

Sama kayak yang di Rumahkoe. Itu aku liputan cuma dua jam aja. Lihat lihat, keliling keliling rumah kuno, lihat kamar tidurnya, makan di dalamnya. Tapi banyak kesan yang kita serap di dalamnya.

Yang di Masjid Art Deco juga sama kan, berangkat jam 3 pagi, abis itu ikut subuhan, jam 8 pulang deh. Jadi dalam 5 jam aja udah banyak yang bisa kita dapetin gitu. Kita perlu mencerna lagi, apa yang bisa kita dapatin dari sebuah tempat.

HFLB: Selama ini aku lihat, kalo misalkan ada tulisan wisata, orang hanya nulis tentang hal-hal yang visual aja; laut biru, pasir putih, pantai jernih, banyak ikan badut, bla bla. Padahal sebetulnya yang aku tunggu tuh ada semacam thriller tentang interaksi dengan penduduk, disengat hewan atau hampir mati tenggelam gitu...

TS: Nah bener itu, sebenernya dengan liputan singkat bisa bikin cerita yang bagus kalo semua indera semua perasaan ikut bergerak. Semuanya mencerna. Tapi kalo cuma tulisan yang menceritakan tentang bergerak dari titik satu ke titik lain buat apa? Makanya aku selalu menyarankan jangan ikut grup tur... Itu membuat indera mati.

HFLB: Apalagi satu kelompok dengan ibu-ibu socialita yang suka belanja belanja gitu ya mas! [Tertawa]

TS: [Tertawa] Ya kecuali kamu mau nulis buat majalah kayak Femina atau Cosmopolitan gitu ya nggak papa.

HFLB: The place you wanna visit before you die dimana mas? Lima tempat gitu...

TS: Wah banyak ya sebenernya. Yang aku sedang planning itu ke Beijing, Angkor Wat, Tokyo, sama India, aku mau ke Varanasi.

HFLB: Itu kan baru empat mas, satu lagi apa?

TS: Umm [Terdiam] ya ke Pulau Moyo kali ya, mau nginep di Amanwana! [Tertawa]

HFLB: [Tertawa plus mbatin: bajigur!]

TS: Emm ke Tokyo sebenernya aku cuma mau nyoba bullet train aja. Kereta peluru.

HFLB: Shinkansen mas?

TS: Iya shinkansen. Udah aku ke Jepang gak mau macem-mecem. Cukup nyoba bullet train aja.

HFLB: Abis naik shinkansen langung pulang lagi gitu mas?! [Tertawa]

TS: [Tertawa] Ya semua hal buat travel writer jadi hal yang menarik ya. Soalnya semua hal unik. Selama kamu di sebuah tempat lalu kamu menikmati perjalananmu, itu udah jadi story yang menarik. Buat travel writer itu udah ngga ada bedanya, semua hal unik, either kamu nginep di hotel bintang tujuh ato losmen kelas kambing semua sama aja...

HFLB: [Bingung] Hotel bintang tujuh mas? Memang obat ya?

TS: [Tetep lanjut bicara] Yang penting kan pengalaman yang didapat di dalamnya.

HFLB: Ehm maaf mas, udah berkeluarga ya?

TS: Udah, istri satu, anak satu. Emang kamu gak tau ya?

HFLB: Waduh mas, maaf aku gak stalking sedalam itu [Tertawa] Emm kalo jalan-jalan sama istri atau sendiri mas?

TS: Sendiri aja. Istriku nggak terlalu suka jalan tuh.

HFLB: O berarti salah ya kalo saya bercita-cita punya istri yang suka traveling juga...

TS: Ya tergantung. Misalkan kamu suka naik gunung, kalo kamu dateng ke pamerah Garuda Travel Fair kayak gini pasti kaget. Tidak semua orang suka naik gunung kan, ada banyak juga orang yang suka ke kota-kota yang indah, tidur di hotel yang mewah, rela keluar duit jutaan untuk belanja. Kalo kita mah tidur di losmen tiga ratus ribuh juga jadi kan? [Tertawa]

Nah istriku tipe yang kayak gini, kalo jalan-jalan harus enak dong, nggak boleh susah. [Tertawa] Tapi bukan berarti itu tidak jodoh kan, ya kita harus saling menyadari keinginan jalan-jalan setiap orang sih...

HFLB: Saya juga melakukan backpacking juga bukan karena apa sih mas, soalnya buat mahasiswa kayak saya gini udah gak ada pilihan lain... [Tertawa] Err tapi sejak kapan sih mas suka travel photography? Menyadari kalo bisa nulis sekaligus motret bagus... itu kan nggak gampang.

TS: Kalo nulisnya udah lama, lima tahunan. Sejak di Femina pokoknya. Tapi nggak konsisten sih waktu itu, kadang nulis kadang enggak. Dulu pas di Femina travelingnya gak sempat jauh-jauh sih, ke Bukittinggi ke Bandung, ya pokoknya tipikal traveling ibu-ibu gitu... [Tertawa]

Kalo motret mulai kapan ya? [Terdiam] Sejak punya Nikon sendiri sih, sejak kerja di majalah JalanJalan. Nggak lama itu...

HFLB: Aku dulu pernah baca postingan mas di di milis. Mas bilang waktu itu foto Pulau Tidung jadi kover di LionMag. Mas bilang ke milis; "Buat yang lain santai aja, saya cuma pake kamera Nikon D40 kok, udah bisa jadi foto kover. Jadi nggak usah minder kalo kameranya nggak high-end." Jujur aja itu membekas banget mas di aku.

TS: Iya, sebetulnya kamera gini (Nikon D40) udah cukup kok. Sebelum ini aku pake kamera prosumer juga.

HFLB: Kalo nggak salah liputan mas juga pernah pake kamera hape ya?

TS: Iya, kamera 3 megapixel. Itu udah cukup juga kalo gambarnya gak besar-besar amat. Tapi pernah yang di LionMag digedein jadi gambarnya pecah. Sayang.

(Photo courtesy of Teguh Sudarisman)

HFLB: Nulis satu destinasi dalam beberapa artikel gitu nggak boring mas?

TS: Ya itu tergantung seberapa banyak obyek menarik yang bisa kamu dapatkan. Makanya travel writer itu kan beda banget sama orang biasa kalo jalan-jalan. Kalo kita (travel writer) kan traveling with mission kan? Kalo orang biasa dateng ke Karimunjawa cuma jebar jebur aja, soalnya gak ada kewajiban untuk nulis atau bikin reportase kan? Kalo kita pasti eksplorasi, mencari-cari sudut pandang mana yang bagus untuk ditulis, kita mikir apa konsepnya, apa yang kita kejar. Jadinya kepuasannya beda antara travel writer dengan orang biasa, kalo bisa bikin sesuatu yang bagus dari sebuah tempat, itu yang bisa bikin bangga sebetulnya.

Dari satu destinasi, sebetulnya bisa banyak story yang dihasilkan. Tapi itu tergantung sama level travel writer-nya juga sih. Misalkan kamu dateng ke Semarang, muter-muter gitu. Terus kamu cuma bisa bikin satu tulisan, [Tertawa] gagal kamu! Kelihatan...

HFLB: Pemula gitu ya mas?

TS: Iya, kelihatan pemula. [Tertawa] Nah kalo misalkan pas di Semarang, ke Semawis, ke Simpang Lima, ke tempat orang bikin lumpia, ke Lawang Sewu, itu udah bisa jadi berapa story coba? Ya misalkan satu tulisan 500 ribu, itu udah dapet dua juta kan? [Tertawa]

Jadi kayak misalnya ke Thailand, aku udah beberapa kali ke sana...

HFLB: Emang ke Thailand terus gak bosen mas?

TS: Ya Thailand kan luas...

HFLB: Udah ke Phi Phi Island berarti?

TS: Oh belom sempat ke sana, mungkin lain waktu. Jadi aku disana udah punya banyak nomor kontak, mulai A-Z ada. Itu bisa jadi bahan tulisan yang nggak habis kalo cuma lima tahun... Banyak sekali yang bisa aku tulis. Menarik kan?

HFLB: Menarik mas!

TS: Ya jadi kalo misalkan kamu travel writer muda, ya kamu masih harus banyak belajar. Banyak beli buku travel, banyak baca juga...

HFLB: Iya mas, pasti itu. Lha kalo mas Teguh sendiri punya travel writer favorit gitu?

TS: Umm [Terdiam] aku soalnya otodidak ya, jadi kebanyakan referensiku ya majalah luar negeri. Nggak ada satu sosok yang aku gandrungi.

HFLB: Emang travel magazine favorit apa mas?

TS: Ya mungkin Travel And Leisure atau Condé Nast Traveller.

HFLB: Oh kalo saya sih suka banget sama gaya CNN Traveller mas, tulisannya aduhai. Pernah dia nulis Varanasi dengan sangat keren...

TS: Umm CNN Traveller ya? Belom pernah baca aku.

HFLB: Nah kalo sekarang aku tanya dari sudut pandang mas sebagai seorang editor sebuah majalah wisata dan travel writer senior yang sudah malang melintang di dunia kayak gini; emang gimana sih mas majalah travel di Indonesia hari ini? Mungkin otokritik dan pendapat mas...

TS: Majalah traveling itu kan dalam kontrolnya relatif lebih sulit ketimbang majalah lain. Masalah utamanya di situ. Akhirnya mereka selalu ingin topik-topik yang levelnya menengah ke atas. Jadi kalo traveling ecek-ecek ke bukit apa atau ke pasar apa gitu jarang sekali bisa masuk.

Tapi kalo misalkan diving atau pergi ke mana yang bener-bener eksotik baru mereka mau. Raja Ampat, Wakatobi, Komodo misalnya. Soalnya itu yang lebih mudah dijual, dan editor pun rela membayar lebih mahal untuk destinasi seperti itu.

Tapi sebetulnya masalah itu bisa diatasi kalo si travel writer punya materi dan foto yang kualitasnya bagus. Kayak aku nulis Bromo misalnya, apa sih sekarang istimewanya Bromo? Udah banyak yang dateng dan nulis tentang Bromo kan? Tapi make it differently! Coba cari tempat-tempat yang baru di Bromo, makanya jangan jadi wisatawan biasa yang cuma dateng, naik kuda di Lautan Pasir, naik tangga ke kaldera, basi banget kalo nulis itu. Kayak gitu udah ditulis tiga puluh tahun yang lalu...[Tertawa]

Mikirnya harus beda, cari detail baru yang menarik. Itu yang bisa dijual.

Kayak Gunung Ijen juga, orang udah banyak yang kesana kan? Tapi cari sesuatu yang beda, mungkin waktu jangan siang, berangkatnya harus pagi benar misalnya. Jangan molor pas kuli belerangnya udah turun kamu baru naik. [Tertawa] Coba deh kamu janjian sama kuli belerangnya, tau rumahnya, berangkat naik bareng, tau percakapan mereka, jarang kan ada orang yang mau kayak gitu. Itu juga yang membedakan kualitas travel writer satu dengan yang lain.

HFLB: Tapi mas, emang bener ya travel writer di Indonesia masih jarang?

TS: Yang bagus ya sebetulnya itu-itu aja...

HFLB: Itu dulu grup Penulis Pengelana gimana mas awalnya? Awal pemikirannya apa sih?

TS: Ya karena di Indonesia belom ada...

HFLB: Emang di luar negeri banyak?

TS: Banyak banget, travel writing class ada banyak sekali di luar...

HFLB: Apa sih mas yang mas mau bilang buat para travel writer muda? Apa yang harus jadi bekal awal buat para penulis travel belia? Mas nggak bisa dong ngomong 'oh otodidak aja kok..."

TS: Ya kamu harus punya impian yang besar, kayak MLM aja. Misalnya kamu punya keinginan lebih kuat mana mau ke Dubai atau ke Jerusalem?

HFLB: [Tertawa] Opo sih mas, mosok pilihane Jerusalem?

TS: [Tertawa] Ya itu kan misalnya... Dengan cara biasa ngumpulin duit kamu nggak akan bisa. Nah sedangkan kalo jadi travel writer peluang itu terbuka lebar... Kamu tinggal milih aja mau kemana. Tinggal kamu berani nggak jadi seorang travel writer? Yang pasti perlu basic skill ya, seperti kemampuan berbahasa yang bagus dan kemampuan estetika fotografi, semua itu bisa dipelajari kan? Nggak susah kok jadi travel writer sebenarnya.

Cuma yang aku lihat seringkali kita terlalu banyak excuse...

HFLB: Maksudnya excuse gimana mas? Contohnya yang umum?

TS: Ya banyak alasan, salah satu yang paling besar sih biasanya malas dan tidak sungguh-sungguh. Terus minder juga. Banyak kok yang punya kemampuan nulis dan fotografi bagus, peluang dia jadi travel writer sebetulnya besar, tapi ya itu, dikalahkan sama minder. Kan sayang jadinya.

HFLB: By the way, mas Teguh nggak ada rencana bikin buku nih? Boleh dikasih bocorannya?

TS: Iya aku lagi nulis buku nih. Sebetulnya sih tentang catatan-catatam perjalananku aja. Dikumpulin gitu. Tapi nanti ada semacam side bar-nya gitu. Jadi semacam, behind the scene dalam peliputan yang aku lakukan. Semacam "how to make it happen-nya" lah!

HFLB: Wah kapan terbit mas? Nanti saya minta waktu khusus untuk book signing ya... [Tertawa]

TS: [Tertawa]

HFLB: Tapi kapan seorang travel writer bisa memiliki bargaining kepada publisher? Karena kan, misalnya saya nulis tentang Bali, ada juga orang lain nulis tentang Sulawesi, panjang tulisan dan jumlah fotonya sama. Bayaran juga sama. Padahal kan effort saya untuk ke Bali lebih murah ketimbang penulis satunya. Menurut mas gimana itu? Misalnya saya nulis tentang Vanuatu atau Timbuktu, itu kan jarang, bisa nggak kita menaikkan daya tawar harga tulisan kita di depan publisher?

TS: Mostly sih kebanyakan media udah punya standar, ada rate harganya. Mau ke Kutub Utara kek, atau mau ke Jombang kek misalnya, harganya sudah standar. Kecuali dirimu punya koneksi bagus dengan medianya. Itu beda soal. Ada beberapa sih editor yang baik kalo kita udah dekat. [Tertawa]

HFLB: Oke, pertanyaan paripurna mas: sesungguhnya jadi seorang full time travel writer itu bisa jadi pegangan hidup nggak sih biar dapur di rumah tetap mengepul?

TS: Bisa ya, bisa. Asalkan satu; sungguh-sungguh. Ya dulu soalnya karena aku nggak sungguh-sungguh ya, jadi end up being an editor ya. [Tertawa] Apalagi kalo koneksinya udah media di luar negeri ya mungkin lebih dari cukup kali ya kalo untuk sekedar hidup. Tapi kalo mainannya masih media dalam negeri yaaa dihitung-hitung aja sih.

Dulu pas masih jadi full time travel writer sih bisa sampe lima juta lebih perbulan. tapi kok ya rasanya masih kurang aja ya! [Tertawa]

Silahkan temui Teguh Sudarisman di blog pribadinya: http://sudarisman.multiply.com

12/19/10

Komodo Mystical Land

Komodo Mystical Land from Aklam Panyun on Vimeo.

A video remake of the work of Johnny Siahaan. About a trip to visit the habitat of Komodo dragons, ancient animal that's alive to this day. Please vote Komodo National Park as one of The New Seven Wonders of Nature!

Credit:
Video: Johnny Siahaan and Dwi Putri Ratnasari
Photos: Ayos Purwoaji and Dwi Putri Ratnasari
Editing: Ayos Purwoaji

Score: Breakfast by Riwin (My Sexy Life Album)

PS: The original video of Johnny Siahaan is here:

youtube.com/​watch?v=YdCG9XE_KNo&feature=share

12/18/10

Travelounge Edisi Desember 2010


Alhamdulillah tulisan saya tentang Wamena masuk dalam majalah Travelounge Ulang Tahun. Sayang versi PDF-nya belom ada. Nanti kalo udah ada saya share deh :) Ada beberapa catatan dalam publikasi kali ini.

1. Saya cukup senang karena gambarnya super gede-gede, hahaha! Apalagi saya memang kirim foto yang hi-res, jadi detail sampe kulit objek foto saya bisa tertangkap sempurna. Woho that's great!

2. Ada beberapa bagian artikel yang terpotong, contohnya tentang udang Baliem, yang awalnya saya tulis panjang, tapi dalam publikasi kali ini hanya menjadi insert fact saja...

Memacu Sapi Jawara on Liburan Mag 2010

Artikel honorable contributor Hifatlobrain yang pipinya segede bakpao Chik Yen, Dwi Putri Ratnasari, masuk dalam majalah Liburan. Peliputan panjang yang memakan waktu beberapa hari ini adalah peliputan yang menurut Putri sangat menarik,"Ya aku lihat sapi-sapi kerap yang rajin dipijat dan diminumi jamu, sampe sapi betina didandani untuk ikut kontes Sapi Sono' hahaha, very interesting!" kata dia.

Pada hari H saat peliputan sendiri Putri harus merelakan sepasang sepatu kets miliknya yang memang jarang dicuci untuk berlumuran lumpur. "Sebelumnya memang hujan deres banget di Pamekasan, jadi ya lapangannya penuh lumpur. Untungnya pas lomba cuaca sangat cerah..."

Silahkan klik untuk melihat tulisan lengkap Dwi Putri Ratnasari tentang Memacu Sapi Jawara.

12/17/10

Numpang Mandi

"...Merasa heran kalau ada orang yang mau 'backpackeran' dengan rute Medan - KL - Shanghai - Guangzhou - Macau - Hongkong - Medan hanya dalam waktu 6 hari. Jadi, rencananya cuma mau numpang mandi saja di kota-kota ini? :)) ..."

(Teguh Sudarisman, 2010)

12/11/10

The Last Living Dinosaur on Earth

(click image to enlarge)


Text: Dwi Putri Ratnasari
Photos: Dwi Putri Ratnasari & Ayos Purwoaji



“Kenapa Pulau Komodo harus terpilih jadi The New Seven Wonder?”
(Yudi ‘Kudaliar’ Febrianda, 2010)

Saya mohon maaf sebelumnya karena tidak membuat travelogue seperti biasa, mengawali tulisan dengan keindahan langit biru dan pantai berpasir putih, karena ada hal yang jauh lebih penting. Jujur saja, saya terusik dengan pertanyaan naïf seorang teman hunting di Pulau Komodo, Bang Yudi; mengapa pulau di selatan Labuan Bajo, Flores ini harus kita dukung menjadi tujuh keajaiban dunia baru?

Bang Yudi tidak berhenti sampai di situ, ia, sama naifnya dengan yang pertama, bertanya; kalau Komodo terpilih menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia, apa untungnya buat Indonesia yang telah melakukan promosi secara besar-besaran untuk program ini?

Tentu saja ini bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah oleh kroco macam saya. Tapi mari persilahkan saya untuk menjelaskan sedikit. Program hunting foto dan video di Taman Nasional Komodo yang saya ikuti ini diadakan oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia untuk satu tujuan, yaitu mendongkrak angka voting Komodo National Park for the New Seven Wonders of Nature in the World! Dalam ajang kelas dunia ini, TN Komodo memang harus bersaing dengan 27 finalis ajaib lain di dunia, seperti Dead Sea, Grand Canyon, Bay of Fundy, Masurian Lake District, Puerto Princesa Underground River, dan sebagainya.

Hingga saat ini voting memang terus berjalan, hasilnya akan diumumkan tahun depan pada 11-11-2011. Saat ini komodo mengantongi angka voting pada kisaran 40-50%, dengan 90% voters berasal dari Indonesia. Tapi rupanya itu tidak cukup, sodara! Coba klik link berikut ini, lihat sendiri statistik hasil perhitungan ranking terakhir minggu ini. Angka segitu ternyata masih harus dipompa terus agar bisa menyalip finalis-finalis yang sempat saya sebutkan tadi.

Salah satu usaha yang dilakukan oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata adalah mengirim fotografer, videografer, media dalam dan luar negeri, plus selebriti selama beberapa hari di Taman Nasional Komodo untuk membantu kampanye Seven Wonders ini sesuai dengan bidang yang digelutinya. Oke, karena saya hanyalah seorang travel writer dan fotografer kacangan, maka satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah menceritakan pada Anda sekalian, pembaca yang budiman, betapa Komodo itu layak mendapatkan posisi satu dari tujuh keajaiban dunia.

Komodo (Varanus Komodoensis) adalah salah satu hewan purba yang masih eksis hingga hari ini. Hewan lain, seperti ikan Coelacanth (Latimeria menadoensis) yang ditemukan di perairan Manado Tua juga sama purbanya. Hanya saja ikan monster yang dijuluki Ikan Raja Laut oleh nelayan lokal ini habitatnya masih bisa ditemukan di beberapa tempat lain di muka bumi, salah satunya Madagaskar.

Sedangkan komodo? Satu-satunya di muka bumi, naga ini hanya bisa ditemukan di Komplek Taman Nasional Komodo!

Kadal purba endemik yang hidup dari zaman Tertiarum ini seharusnya sudah punah seperti teman-teman seangkatannya. Saya tidak tahu mengapa Komodo bisa selamat dai Armageddon masa lalu, padahal hewan lain yang jauh lebih besar seperti Tyrannosaurus rex dan berbagai jenis dinosaurus lain punah dan sudah menjadi pajangan di museum.

Ajaibnya, hingga zaman Twitter seperti ini, si Komodo ini lah kok masih eksis gitu. Hidup dalam jumlah populasi yang stabil, yaitu sekitar 2500 ekor di Indonesia, tepatnya di Taman Nasional Komodo yang mencakup tiga pulau yaitu Pulau Rinca (1100 ekor), Pulau Komodo (1300 ekor) dan Pulau Padar (100 ekor).

Dari jumlah sekian itu, perbandingan antara yang jantan dengan betina adalah tiga banding satu. Maka tidak heran jika pada musim-musim kawin (Juli-Agustus), banyak pejantan usia produktif (di atas tiga tahun) yang terlibat pertarungan sengit demi nge-date dengan seekor betina. Yang jadi looser silahkan gigit jari, sedangkan pemenang akan mendapatkan mempelai wanita dan siap bersembunyi di hutan untuk melangsungkan perkawinan.

Yeap! Wisatawan yang berkunjung pada bulan Juli-Agustus besar kemungkinan bisa menyaksikan pemandangan raksasa-raksasa ini saling bertarung berebut cewek. Tapi ya harus sabar tingkat internasional juga jika menghadapi kenyataan tidak menemukan seekor komodo pun karena mereka tidak suka memperlihatkan diri jika musim kawin tiba.

Komodo betina akan bertelur pada bulan September. Lalu dia akan menggali tanah untuk mengubur dan mengamankan calon-calon bayinya hingga tanah yang menimbunnya cukup padat dan tidak tercium oleh komodo dewasa lain. Ow yeah, mereka kanibal men, anak sendiri bisa di makan! Selain komodo dewasa, yang menjadi predator telur adalah sekawanan babi hutan. Makanya induk betina akan berjaga selama beberapa minggu di atas gundukan tanah tersebut (biasa disebut sebagai ‘sarang’) hingga kondisi aman.

Seekor betina bisa menghasilkan 10 hingga 35 telur, dengan prosentase menetas mencapai 80%. Angka yang cukup tinggi dari masalah kepunahan, bukan? Tapi ya itu… setelah menetas pada bulan Maret-April, komodo imut-imut pemakan insect ini akan benar-benar diuji ketentraman hidupnya. Hanya dia yang mampu lolos dari predator lah yang bisa survive hingga dewasa.

Diperkirakan usia komodo bisa mencapai 50 tahun, dan kalau ada komodo mati ya biasanya ngga berbekas apa-apa. Begini, komodo akan melahap mangsa hingga tetes terakhir! Tulang pun akan dicerna dan dikeluarkan menjadi butiran kalsium. Makanya kotoran komodo pun warnanya putih. Kata Pak Dacosta, polisi hutan yang saya kenal di sana, hanya dua hal itu yang tidak bisa dicerna oleh komodo: kuku dan helai rambut saja.

”Kalau punya musuh, lempar saja ke Komodo, Mbak... Kalau dimakan komodo, pasti tidak ada bekasnya, hahaha...” canda lelaki Flores itu. Saya cuman bisa meringis.

Tapi ya, serius, kita sebagai pengunjung memang harus ekstra hati-hati selama berada di dalam Taman Nasional. Jangan melakukan hal-hal spontan, jangan berisik dan terlebih lagi jangan berkunjung saat datang bulan, wahai para wanita... Bau darah mudah sekali untuk membangkitkan nafsu makan komodo. Bagaikan anak kecil diberi asupan Scott’s Emulsion, laper mama...

Komodo bertebaran bebas di taman nasional ini, ada yang manjat di pohon, ada yang tiduran di bawah barak ranger taman nasional, ada yang jalan-jalan dengan gagah sambil menjulurkan lidah bercabangnya yang berwarna merah jambu, atau banyak pula yang hanya diam di tempat, tengok kanan kiri sambil pamer air liurnya yang mengandung enam puluh jenis bakteri mematikan itu. Beberapa kali saya sempat mengira mereka sebagai potongan kayu mati. Lah wong warnanya hampir sama, untung saya nggak inisiatif duduk mengaso di atas kayu mati palsu itu.

Tidak banyak orang tahu bahawa komodo adalah perenang jempolan. Mereka mampu bermigrasi menuju pulau-pulau lain yang jauhnya belasan mil.

Komodo memiliki tiga titik lemah, yaitu mata, leher dan kepala. Maka dari itu, tiap kali pergi trekking, para ranger selalu berbekal senjata berupa tongkat kayu panjang dengan ujung bercabang dua. Kali aja, hewan purba yang bisa mencapai panjang 3 meter dan berat 90 kg ini lagi badmood. Maka sodorkan saja tongkat-tongkat itu ke tiga area sensitif tadi, agar komodo tidak menyerang kita.

Dalam komplek Taman Nasional ini saya sering menemukan gerombolan rusa asik ngemil biji asam. Pohon asam memang vegetasi aseli yang banyak tumbuh di sini, selain jarak, srikaya dan gebang. Ada anggrek juga lho di sini, jenis Anggrek Vanda Limbata tumbuh liar di batang-batang pohon. Berbagai jenis burung, seperti kakak tua, gagak, juga hewan kecil lain seperti siput unik bercangkang kuning menyolok, sempat saya lihat selama trekking di Pulau Rinca dan Komodo. So wildlife banget lah!

Karena komodo berstatus sebagai predator utama, maka menjaga kelestarian rusa, babi, dan sebagainya dari perburuan liar, adalah tugas penting polisi hutan di sini. Intinya, jangan sampai komodo kekurangan makanan, sehingga beresiko menyerang penduduk di pulau tersebut.

Oke, apakah si naga tanpa sayap dan semburan api ini sudah cukup ajaib bagi Anda? Vote sekarang juga kalau begitu!

Lalu, kalau apa untungnya bangsa ini jika Komodo sudah menang voting dan resmi menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia, dengan promosi besar-besaran seperti ini?

Jawaban berikut ini berasal dari tulisan Pak Hanif dari pihak Kementrian Budaya dan Pariwisata. Sengaja saya copas dari milis, agar kalian semua, para pembaca HFLB, bisa turut memahami betapa promosi wisata sangat penting untuk mengangkat nama Indonesia di masa akan datang.

Untuk jangka pendek, jelas tujuan pemerintah adalah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke TNK, dengan demikian otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, karena pendapatan sektor pariwisata bisa langsung dinikmati oleh daerah setempat, yaitu melalui hotel, airline, travel, restoran, pedagang souvenir, pengusaha kapal, guide dan sebagainya.

Sebagai catatan semenjak BudPar mempromosikan TNK secara besar-besaran mulai tahun 2008, jumlah kunjungan ke TNK pada 2009 naik hingga 67% (naik sekitar 15.000 orang), jika rata-rata pengeluaran wisatawan asing USD 1000 berarti devisa yang diperoleh adalah USD 15 juta (sekitar 140 M).

Selain itu, melalui Seven Wonders ini, citra Indonesia bisa meningkat di mata internasional, mereka bisa melihat keseriusan pemerintah dalam mengelola aset dunia, karena TNK merupakan warisan dunia.

Jangka panjang, tentu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Logikanya semakin terkenal suatu destinasi, semakin banyak orang yang peduli terhadap destinasi tersebut, khususnya dalam menjaga dan memeliharanya.

Jangan sampai anak cucu kita hanya bisa melihat komodo lewat film seperti Jurrasic Park!

Namun perlu diketahui pula, bahwa kunjungan yang tidak terkontrol ke TNK dapat membuat komodo stress dan dapat membahayakan pengunjung. Menurut penelitian batas aman jumlah kunjungan ke TNK adalah 500 orang per hari, di sesuaikan dengan jumlah komodo dan jagawana yang ada di TNK.


Oke, selain melakukan trekking di Pulau Rinca (Loh Buaya) dan Pulau Komodo (Loh Liang) yang sangat menawan itu, jangan lupa untuk mampir ke Pulau Kalong, Pulau Papagaran, Pulau Mesah, dan Pink Beach. Pastikan Anda melihat lumba-lumba juga di perairan ini. Snorkeling dan diving adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Ada surga bawah laut yang sangat layak untuk dinikmati. Oh iya, satu lagi, jangan pernah bepergian ke Flores dengan tidak menyaksikan sunset! Ya ampun, dosa besar kalo Anda tidur kala matahari tenggelam!

Sunset di Pulau Kalong, misalnya... Widih, sadis berat! Pada pukul 18.00-19.00 WITA, kala matahari sudah ingin menutup hari dengan hanya meninggalkan hamparan cahaya merah di langit; ribuan kalong akan keluar terbang dari Pulau tersebut, berhamburan, berdesakan, dan tampak sangat tergesa-gesa. Entah mereka akan pindah kemana, yang jelas keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya, pemandangan langit merah dan ribuan kalong terbang ini akan terulang lagi.

Kalau beruntung, mungkin Anda bisa melihat Batman juga dalam defile besar hewan nokturnal ini :p

Pink beach adalah destinasi yang wajib hukumnya! Dari kejauhan sih memang tidak terlihat pink-nya yah, tapi coba mendekat dan letakkan segenggam pasir di tangan, barulah Anda akan melihat keajaiban lainnya. Pasir putih bercampur butir-butir pecahan koral merah tersebar di seluruh pantai ini. Amazing!

Di pantai merah muda ini Anda bisa snorkeling di pantai atau trekking ke bukit teratas, merekam gambar pantai biru jernih dengan pasir berwarna merah jambu yang dikelilingi gundukan bukit-bukit hijau. Sumpah, ngga bakal rugi mampir ke pantai ini!

Sayangnya, tidak ada itinerary mampir ke Pulau Papagaran dan Pulau Mesah. Dari atas yacht, sambil mendengarkan cerita Pak Andi Sucirta yang pernah bertugas sebagai dokter di sana, saya hanya bisa memandang sederet kampung nelayan yang ada di dua pulau tersebut.

Dan lebih sayangnya lagi, kami tidak bisa berkunjung ke Desa Komodo yang penduduknya hidup berdampingan dengan naga purba ini sejak ribuan tahun. Padahal menurut mitos lokal, Suku Komodo memiliki hubungan daran dengan hewan buas ini. Penduduk sekitar memanggil Komodo dengan sebutan Ora.

Yah, namanya juga perjalanan dibiayai, jadi saya harus nurut jadwal haha... Semoga saja lain kali saya bisa menginjakkan kaki lagi di sini. Amin! Dan semoga cerita per-komodo-an ini bisa melengkapi artikel Ayos dalam e-book ’Alone Longway From Home’ yang pernah dipublish oleh blog ini tahun lalu.

Oke, jangan lupa, vote ya! :)

12/9/10

Share The Happiness


"Happiness only real when shared"
(Christopher McCandless, Into The Wild, 2007)

Saya memang jadi salah satu Petualang ACI, meski tidak berhasil merebut grand prize senilai 100 juta, tapi kebahagiaan saya terganti dengan hal lain. Memang ada banyak kejutan yang menarik selama perjalanan, namun puncaknya adalah ketika orang-orang terdekat saya, para sahabat juga turut merasakan nikmatnya jadi traveler.

Ceritanya begini, pasca ACI, pihak Detik.com mengadakan lomba travel writing. Pesertanya umum, seluruh penggila jalan yang ada di Indonesia Raya. Banyak orang ikut dengan mengirimkan karya terbaiknya. Semua menulikan kisah dan kenangannya selama bertetirah. Termasuk diantara ratusan peserta yang ikut itu, ada tiga orang sahabat saya; Nuran, Nurul, dan Fajar. Saat pengumuman pemenang tiba, yang bikin saya kaget adalah, semua juara direbut oleh tiga sahabat saya itu! Hahaha.

Tulisan Nuran Wibisono, adalah pengalaman personalnya tentang backpacking ke Derawan beberapa tahun silam. Wajahnya masih begitu imut meski sudah berlumur dosa. Dia menceritakan bagaimana Tuhan, dengan caraNya yang misterius, menolong pria dekil ini untuk berkunjung di salah satu spot snorkeling terbaik di Indonesia ini. God save the travelers! Begitu kata Nuran. Tulisannya yang panjang ini mendapatkan hadiah pertama.

Muhammad Nurullah menyapa kita dengan foto-foto Bromo yang ciamik. Sebetulnya tulisannya sangat ringkas dan pendek, namun pria bertipe setia ini menuliskannya dengan cermat dan detail. Simpel sebetulnya, ini adalah cerita tentang bagaimana ia berjalan menembus kabut pekat di Lautan Pasir, Bromo. Walking Across The Mist, simpel sekali bukan? Memang dalam membuat cerita wisata yang baik tidak perlu petualangan yang spektakuler, cuman butuh seluruh indera perasa yang peka mengapresiasi keindahan. Tulisan pendek ini hadir pada juara kedua.

Anda ingin ke Afrika tapi tidak punya uang banyak? Silahkan tanya Fajar Dwi Nugroho yang merasakan aroma Afrika di Taman Nasional Baluran, Situbondo. Little Africa in The Middle of Java, tulisan yang hadir sebagai juara ketiga ini hadir lengkap dengan foto-foto indah hasil bidikan Swiss Winasis, seorang birdwatcher sekaligus petugas Taman Nasional yang memiliki sense of art yang tinggi.

Kegembiraan saya itu tidak berhenti sampai di situ. Setelah tiga orang teman dekat saya dapat juara, Dwi Putri Ratnasari, honorable contributor di Hifatlobrain juga mendapatkan kejutan lain karena dapat berkah dibiayai gratis jalan-jalan dan hunting di Pulau Komodo, NTT selama lima hari oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia. Kita nantikan nikmati kisah dan foto-foto yang dia dapatkan di sana.

Anyway, selamat menikmati!

Salam,
Hifatlobrain
Editor-in-chief

God Save The Travelers



Teks dan foto: Nuran Wibisono

________________________________________________
Kontributor











Jika ada seorang pemuda gila penggemar The Doors dan mencintai traveling, maka Nuran Wibisono lah orangnya. Pria kalem ini terlahir dari keluarga pecinta alam bebas. Nuran memiliki bakat menulis, karyanya menghiasi beberapa situs musik dan gaya hidup terkenal. Sungguh sebuah kehormatan ia bisa menuliskan kisahnya di Hifatlobrain. Nuran juga termasuk pembaca angkatan pertama Hifatlobrain. Temui pria ini di http://nuranwibisono.blogspot.com/

________________________________________________

Tuhan selalu punya cara yang misterius untuk membantu hambanya yang pergi traveling. Saya mengalami itu ketika mulai rutin traveling sejak kelas 2 SMP. Berkali-kali saya dibantu orang tak dikenal di jalan, ketika kehabisan uang, atau kelaparan. Saya percaya itu adalah perpanjangan tangan dari Tuhan.

Yang paling bikin saya geleng-geleng kepala adalah pengalaman saya pergi ke Derawan, Kalimantan Timur. Saya memimpikan pergi ke pulau kecil dengan underwater view yang indah ini semenjak kelas 1 SMA. Semua karena saudara saya mengirimi saya foto pulau ini. Juga foto-foto Sangalaki dan Kakaban. Pantai dengan pasir putih, air laut yang biru nan bening, pemandangan bawah laut yang menakjubkan, angin laut yang sepoi, serta penduduk yang ramah. Apalagi yang bisa diimpikan oleh seorang pejalan pecinta pantai seperti saya?

Saya berusaha mengumpulkan uang setelah menerima foto itu. Apa saja saya kerjakan. Mulai dari mengamen, mengumpulkan botol dan koran bekas untuk dijual lagi, hingga mengerjakan penerjemahan lintas bahasa. Sayang, uang saya tak pernah cukup untuk pergi ke Derawan.

Hingga saya duduk di bangku kuliah, semester 5.

Ketika saya sudah mulai sedikit pesimis, saya mulai rajin sholat. Curhat dengan Tuhan. Padahal saya bukanlah orang yang taat beragama. Doa saya Cuma satu waktu itu, "Tuhan, buatlah saya pergi ke Derawan. Aku tahu engkau ada dan selalu terjaga, meski kita tak pernah bersua. Maka tunjukkan kebesaranmu dengan membuatku pergi ke Derawan."

Percaya atau tidak, beberapa hari kemudian, saudara saya yang ada di Berau tiba-tiba melontarkan ajakan pergi ke Derawan!

Saya terkaget. Sedikit tak percaya. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba ajakan ini terlontar. Ketika saya sudah mengusahakan segala cara semenjak SMA, dan diakhiri dengan doa.

Ketika mengiyakan ajakannya, beberapa hari kemudian, tiket pesawat Jogja-Balikpapan-Berau sudah ditangan. Gila! Saya membayangkan perjalanan ke Kalimantan dengan naik kapal laut ekonomi bersama ribuan penumpang lainnya, terhimpit di dek, dan tidur berdesakan. Ini kok malah saya disuruh naik pesawat. Gila! Saya menggilakan situasi menyenangkan yang serba mendadak ini untuk kedua kalinya.

Keesokan siangnya saya sudah berada di Berau yang panas dan berangin kering itu. setelah bertemu saudara dan mengucap banyak terimakasih, saya pun beristirahat. Dua hari kemudian, barulah saya pergi ke Derawan. Kali ini saya ditemani Didi, anak buah saudara saya, untuk menemani ke Derawan. Saya sebenarnya agak malas, karena saya ingin menikmati Derawan sendirian saja.

Berdua kami pergi naik sepeda motor menuju Tanjung Batu, pelabuhan pintu masuk ke Derawan, sekitar 90 km dari Berau. Saya menikmati perjalanan ke Tanjung Batu, terutama karena aspal hot mix yang baru saja selesai. Dibangun karena beberapa waktu lalu PON diadakan di Kalimantan Timur.

Sesampainya di Tanjung Batu dan menitipkan motor, saya kebingungan karena ternyata tak ada transportasi massal untuk ke Derawan. Adanya speedboat yang waktu itu disewakan dengan tarif Rp. 300.000.

Saat saya sedang kebingungan, tiba-tiba ada kapal nelayan yang sepertinya akan angkat sauh. Setelah tanya-tanya ke nahkoda, ternyata kapal itu pergi ke Derawan! Saya meminta izin untuk numpang. Tapi saya disuruh untuk meminta izin ke seorang laki-laki yang menyewa kapal itu. Ternyata pria berkacamata itu angkuh sekali. Dia bilang hanya akan memancing dan tidak pergi ke Derawan. Dia berbohong tentu saja, dan dia melakukannya bahkan dengan tidak memandang muka saya sama sekali. Sialan.

Tak dinyana, tiba-tiba Didi dipanggil oleh seorang perempuan. Perempuan muda ini ternyata teman saudara saya, dan dia sudah tahu perihal kedatangan saya. Hanya saja ia tak tahu kalau saya pergi ke Derawan hari itu. setelah ngobrol sejenak, perempuan berkerudung coklat itu mengajak saya pergi ke Derawan bersama dia dan teman-temannya yang akan pergi memancing dan mampir ke Derawan. Yeah!

Tak disangka, ternyata pria angkuh berkacamata itu adalah teman sang perempuan muda itu. Lebih tepatnya: bawahan. Sekonyong-konyong iseng saya kumat.

"Loh mbak, tadi kata mas ini perahunya gak pergi ke Derawan," kata saya sambil menunjuk pria angkuh yang ternyata bukan boss itu. Lelaki berkacamata itu hanya cengengesan saja. Saya malah tertawa dalam hati. Rasakan itu sok jagoan!

Cerita berikutnya adalah bagian senang-senang. Naik kapal kecil yang penuh canda tawa, menginap di bungalow murah meriah, snorkeling seharian, lantas dilanjut dengan bermain bersama anak-anak kecil di pulau itu, yang diakhiri dengan melihat senja di dermaga. Matahari yang memerah dan tergelincir perlahan itu menjadi saksi bisu betapa sempurnanya sore itu.

Gara-gara kesempurnaan itu, saya lupa diri. Bahkan saya tak mengucap syukur dan saya tidak sholat. Iya, saya tipikal manusia yang mengadu pada Tuhan ketika susah, dan meninggalkanNya ketika senang datang.

Bisa jadi saya diberi pelajaran karena kebiasaan buruk itu. Keesokan harinya, saya yang janjian numpang pulang bareng perempuan muda itu, bangun kesiangan. Mbak itu akhirnya pergi dengan rombongannya, meninggalkan saya dengan Didi. Karena kita beda bungalow dan dia tak tahu dimana kami menginap, maka ia tak bisa mencari saya. Ditambah sinyal handphone yang jelek. Saya sih santai saja, berharap ada tumpangan menuju Tanjung Batu lagi.

Ternyata setelah menunggu hingga tengah hari, tak ada kapal nelayan yang berlayar ke Tanjung Batu. Saya mulai cemas. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan menyewa speed boat. Di dompet, uang saya tinggal RP. 280.000 saja. Dengan muka memelas, saya berhasil membuat iba sang pemilik kapal cepat itu. Maka saya menyewa speedboat-nya dengan harga Rp. 250.000 saja.

"Harga saudara mas, karena mas datang jauh-jauh dari Jawa," kata sang pemilik dengan ramah. Pergi ke Derawan menjadi bukti bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Saya sendiri masih tidak percaya saya bisa pergi kesana. Setelah dikalkulasi, ternyata biaya pergi kesana sangatlah besar untuk mahasiswa seperti saya. Dan saya bisa pergi kesana dengan cara yang terbilang ajaib; Tuhan telah mengabulkan doa saya melalui perpanjangan tangan saudara saya.

Tuhan juga menolong saya melalui Didi. Andaikan saya bersikeras untuk pergi ke Derawan sendirian, mungkin saya tidak akan berkenalan dengan perempuan muda yang mengajak saya naik kapalnya. Dan saya tak akan bisa pergi ke Derawan. Meski berakhir dengan mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk menyewa kapal cepat, saya tak menyesal. Karena salah satu impian saya tercapai.

Ya, saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu melindungi hambanya yang pergi traveling. God save the traveler! []

12/8/10

Walking Across The Mist


Teks dan foto oleh Muhammad Nurullah
________________________________________________
Kontributor










Muhammad Nurullah adalah seorang traveler cermat, selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Sedang menyelesaikan studinya di Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya. Termasuk pria santun yang tidak pernah selingkuh. Temui dia di http://suket-teki.blogspot.com/
________________________________________________

Saya mungkin termasuk orang yang telat mengunjungi Gunung Bromo. Sudah hampir 24 tahun saya hidup di Jawa Timur tapi baru beberapa waktu lalu saya bisa kesana. Bersama empat orang travelmate yang semuanya adalah saudara saya. Kami sepakat untuk tidak menggunakan hardtop, ojek atau kuda untuk menuju kawah Bromo. Alasannya, karena kami ingin menjajal trek lautan pasir Bromo dengan berjalan kaki!

Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah acuan kami supaya tidak kesasar. Memakai sepatu dengan kaos kaki adalah pilihan terbaik agar pasir-pasir vulkan yang dingin itu tidak menyentuh sela-sela kaki. Karena meski kita pakai jaket tebal lengkap dengan syal, namun jika telapak kaki masih disentuh pasir gunung, seketika otak kita bakal terasa beku. Sangat dingin.

Ternyata melintasi lautan pasir Bromo tidak semudah yang saya bayangkan. Kami harus berhadapan langsung dengan kabut tebal yang saat itu mulai turun memenuhi lautan pasir ini. Selain itu, debu dari lalu lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu juga sangat mengganggu pernafasan. Jadi, bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Tak hanya itu, kombinasi kabut dan debu tadi ternyata juga sukses membuat jarak pandang semakin terbatas.

Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya kami sampai juga di starting point pendakian ke kawah Bromo. Letaknya tidak jauh dari Pura Poten yang berada di tengah kaldera. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap naik, banyak pula penjual jasa yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap setia dengan prinsip "jalan kaki" kami, hehe. Ojek kuda disini rupanya sudah diorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan, tinggal menunggu dengan tertib giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.

Saat perjalanan menuju kawah Bromo, kabut saat itu masih tetap tebal. Masker yang saya pakai sejak di lautan pasir ternyata sudah tidak mempan lagi. Alhasil, hidung saya mulai bereaksi, bersin-bersin dengan ekstrim dan lendir pun keluar dari hidung. Sudah hampir dua pak kertas tissue ukuran sedang saya habiskan sepanjang perjalanan, tapi belum juga mampet. Sialnya kadang sampai tidak terasa keluar sendiri dari hidung. Srooot. Untung saja keadaan sekitar masih berkabut jadi kejadian disgusting ini tidak sempat membuat heboh pengunjung lain.

Meskipun sudah agak siang dan kabut mulai menghilang, rupanya dinginnya udara di sekitar Bromo masih dirasakan pengunjung lain. Buktinya, toilet sampai antri seperti antri minyak subsidi, terutama toilet cewek. Saya yang dari tadi juga kebelet buang air kecil sedikit tenang karena dari kejauhan, area toilet cowok tampak lengang. Begitu saya mendekat, jeng jeng! ternyata disana sudah ada beberapa orang wanita yang didominasi ibu paruh baya sedang antri. "Nggak salah masuk toilet toh?" tanya mas-mas di pinggir saya. "Toilet cewek antri panjang mas, udah kebelet ini," jawab mereka kompak. Jiaahhhh! Mungkin merekalah sekumpulan orang nekat yang dibutuhkan negara jika seandainya suatu saat republik ini kekurangan pasukan perang.

Dan akhirnya sekitar pukul delapan pagi, kabut sudah benar-benar hilang. Deretan bukit-bukit yang indah disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Berbagai hardtop warna-warni yang membawa para pelancong juga tampak berbaris rapi. Sebelum kembali ke homestay, kami berlima sempat minum kopi di warung sekitaran toilet. Disela-sela kami minum kopi, si Yusi, sepupu saya, nyeletuk, "Sebenarnya ke Bromo itu nggak susah lho. Dari homestay bisa nyewa hardtop atau ojek, mau ke kawah juga bisa naik kuda, kalau kedinginan juga ada warung kopi di atas. Masalahnya cuma satu, harus bawa uang banyak!". Hehehe, that's right, Yus! []