Pages

1/31/10

Menyambung Nusa, Membangun Bangsa

Oleh: Ayos Purwoaji

Pariwisata adalah sebuah industri raksasa. Tidak hanya menyentuh kalangan atas, namun juga bersentuhan langsung dengan rakyat bawah. Maka investasi telekomunikasi di bidang pariwisata adalah solusi pas untuk menumbuhkan perekonomian daerah.

Beberapa waktu belakangan pulau Komodo menjadi destinasi pariwisata yang paling sering diberitakan oleh media massa. Ini terkait dengan pencalonan pulau Komodo menjadi The New Seven Wonders of Nature. Hanya saja memang tidak mudah meraih pulau cantik ini. Dibutuhkan perjuangan lebih untuk mencapai pulau yang menjadi habitat alami hewan purba Varanus komodoensis ini. Tapi jangan khawatir, lelah badan akibat perjalanan selama empat jam dengan kapal kayu akan segera terbayar dengan keindahan alami yang dimiliki pulau Komodo.

Pemandangan Desa Komodo dari laut

Secara garis besar topografi pulau ini berbukit-bukit dengan sejenis tanaman rumput halus di atasnya. Pada musim kemarau semua rumput yang menutupi bebukitan akan berubah warna menjadi coklat muda. Seperti kepala orang tua yang beruban. Di tengah sabana yang luas itu berdiri satu dua pohon jangkung dari jenis palmae, sangat eksotis. Begitu juga lautnya, berwarna biru jernih bebas polutan. Bahkan di dermaga desa Komodo sekalipun, ikan yang berenang di bawah anjungan pun akan mudah terlihat. Pulau ini memang surga bagi para wisatawan.

Sebuah pemandangan dari Desa Komodo

Jangan lupakan pula sunset di desa Komodo yang sangat indah. Melihat laut yang tenang dengan posisi matahari yang tenggelam di balik bebukitan adalah sebuah pengalaman yang mendebarkan. Pulau ini, dengan segala keindahannya, terisolasi selama ribuan tahun. Menjadi tempat yang aman bagi Komodo untuk berkembang biak.

Selain bentang alam berupa laut, tidak adanya sarana telekomunikasi adalah benteng yang membatasi masyarakat desa Komodo dengan peradaban. Untuk berkirim kabar saja, seorang penduduk desa Komodo harus membuat surat yang baru bisa dikirimkan lewat kantor pos di Labuan Bajo. Kondisi bertambah buruk karena kapal penduduk yang menuju Labuan Bajo hanya tersedia sekali sehari. Bahkan jika musim angin barat pada bulan Desember hingga Januari –dimana angin sangat kencang dan ombak bergulung-gulung- jadwal ini bisa molor hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Sangat tidak praktis.

Jujur saja, meski pulau Komodo saat ini gencar dipromosikan, namun pembangunan sektor pariwisata di dalamnya masih belum maksimal. Partisipasi masyarakat terhadap pengembangan pariwisata di pulau Komodo masih belum tersentuh industri. Tidak banyak masyarakat yang mendapatkan cipratan berkah dari dipromosikannya pulau Komodo sebagai destinasi pariwisata dunia. “Kendala utamanya karena kami tidak memiliki akses komunikasi, untuk mendapat sinyal hape kami harus pergi Labuan Bajo,” kata Kasim, tokoh desa Komodo.

Pak Kasim, tokoh di desa Komodo

Padahal jika akses telekomunikasi dibangun, akan ada banyak kesempatan yang terbuka bagi masyarakat desa Komodo untuk ikut andil bagian dalam mengembangkan pariwisata di desa Komodo. Suatu sore di dermaga desa Komodo, seorang pemuda setempat bernama Dona mengatakan bahwa ia bercita-cita untuk menyewakan rumahnya sebagai homestay. Ini menjadi solusi brilian bagi para turis berkantong tipis yang ingin menikmati pulau Komodo. “Daripada menginap di resor Taman Nasional yang mahal, lebih baik menginap di homestay milik warga dengan harga murah,” kata Dona. Tentu saja mimpi Dona belum juga terwujud, selama sarana telekomunikasi belum dibangun di desanya maka mimpi Dona itu sulit menjadi kenyataan.

Dulu memang ada penyedia jasa telekomunikasi selular yang ingin melakukan investasi dengan membangun menara sinyal di desa Komodo. Namun rencana tersebut gagal dilaksanakan karena adanya larangan dari pihak pengelola Taman Nasional Komodo. Alasannya, ada sebuah kekhawatiran jika akses telekomunikasi dibuka, maka upaya penjualan komodo secara ilegal akan terbuka lebar. Menurut Vinsensius Latief, kepala Taman Nasional Komodo, itu merupakan tindakan preventif untuk menyelamatkan Komodo yang saat ini hanya tinggal 1300 ekor saja. “Kami sangat berhati-hati terhadap upaya perburuan liar Komodo, dan kebijakan ini adalah salah satu langkah yang kami tempuh,” kata Vinsen.

Padahal ketakutan seperti itu tidak perlu terjadi. Jika akses telekomunikasi dibuka, dan kesejahteraan masyarakat bertambah baik melalui sektor pariwisata maka ketakutan seperti yang dikatakan Vinsen tidak lagi relevan.

***

Kondisi pariwisata di Pulau Komodo memang berbanding terbalik dengan kondisi pariwisata di kawasan Taman Nasional Kepulauan Karimunjawa di Jepara. Kondisi di Karimunjawa jauh lebih baik karena sarana telekomunikasi sudah dibangun. Komunikasi antara penduduk Karimunjawa dengan wisatawan di seberang lautan pun lancar. Biasanya calon wisatawan memesan homestay jauh hari sebelum mereka datang.

Perubahan drastis terjadi, rumah-rumah penduduk pun berubah menjadi barisan homestay dengan harga miring. Jumlah wisatawan yang mengunjungi Karimunjawa mengalami kenaikan pesat dari tahun ke tahun. KM Muria, satu-satunya feri yang menghubungkan antara Jepara dan Karimunjawa, sekarang selalu dipadati penumpang saat musim liburan. Alih profesi pun dilakoni oleh beberapa warga yang bisa hidup dari industri pariwisata. “Dulu saya nelayan, tapi sekarang kapalnya saya sewakan untuk tour ke pulau-pulau, hasilnya lebih besar,” kata Murdi, pemilik kapal ikan di dermaga Karimunjawa. Bahkan ada beberapa warga yang bisa membangun rumah sendiri dan khusus disewakan untuk homestay. Tingkat ekonomi masyarakat di Karimunjawa meningkat pesat.

Contoh lainnya adalah kawasan wisata air terjun Curug Malela di Jawa Barat. Meski hanya berjarak sekitar lima puluh kilometer dari kota Bandung ke arah Cianjur, namun karena daerahnya bergunung-gunung dan akses jalan yang masih rusak, maka kawasan air terjun ini masih relatif sepi dari kunjungan wisatawan. Padahal curug ini memiliki pesona yang tak kalah dibanding Niagara.

Curug Malela, Jawa Barat

Ojek motor menjadi satu-satunya alat transportasi yang mungkin untuk menembus jalan makadam-setengah-lumpur di tengah hutan, sebelum akhirnya harus berhenti di sebuah desa yang terletak satu setengah kilometer sebelum air terjun. Karena tidak ada jalan lain maka wisatawan harus melanjutkan dengan trekking menuju lokasi curug.

“Di sini satu-satunya sinyal cuma XL, Kang,” ujar Romadhon, seorang tukang ojek yang masih belia. Sebelum ada BTS milik PT Excelcomindo Pratama, praktis tidak ada sinyal di kawasan Curug Malela. Setelah ada sinyal, maka warga desa berbondong-bondong menggunakan XL. “Nanti kalo kesini lagi dan butuh penginapan bisa hubungi saya, Kang. Silahkan disimpan nomor saya...” kata Romadhon. Sekarang, selain berprofesi sebagai tukang ojek, Romadhon pun memiliki sambilan sebagai tourist guide dan makelar penginapan. Romadhon tidak sendiri, beberapa teman ojeknya juga melakukan hal serupa. Perlahan tapi pasti kehidupan ekonomi mereka berubah. Tentu saja hal ini tidak akan terjadi ketika sarana telekomunikasi belum dibangun.

***

Membangun sarana telekomunikasi pada daerah yang memiliki potensi wisata sama saja dengan memberikan peluang lebih dan membuka akses masyarakat terhadap dunia luar. Ini merupakan suatu hal yang esensial. Tanpa akses telekomunikasi, sebuah tujuan wisata hanya akan menjadi surga yang tersembunyi. Tidak bisa dinikmati.

Sarana telekomunikasi juga menjadi elemen penting di era traveler digital seperti saat ini. Prinsip yang mereka miliki adalah berbagi. Para traveler digital tidak akan melewatkan liburan dalam keheningan. Mereka senantiasa berbagi melalui Twitter, update status via Facebook, berbagi gambar via Flickr, mengunduh peta dari GoogleMaps dan menuliskan kisah perjalanan melalui Wordpress. Dengan membawa sebuah gadget smartphone, maka seluruh kebutuhan itu akan terpenuhi. Istilahnya, dunia dalam genggaman.

Tapi smartphone itu menjadi barang usang nan useless ketika tidak ada sinyal yang bisa menghubungkan mereka dangan peradaban. Bagaimanapun, sebuah smartphone canggih tanpa sinyal adalah bagaikan keyboard tanpa tuts enter. Sinyal telepon selular ini seperti Jembatan Suramadu yang menghubungkan antara satu tempat ke tempat lainnya di negara yang penuh dengan pulau ini. Sebuah jembatan maya yang mempu menghubungkan satu orang dengan lainnya dalam hitungan milisecond.

Ketika para traveler digital ini mengunggah foto dan mengupdate microblogging maka otomatis itu merupakan sebuah bentuk promosi wisata yang murah dan efektif. Apalagi dengan ulasan yang bernas dan positif dalam sebuah blog, sangat mungkin membuat pembacanya bermimpi untuk mengunjungi destinasi yang ditulis sang blogger. Saat ini banyak sekali jumlah blog yang hadir khusus dengan konten tentang pariwisata. Semacam multiplier effect yang berdampak raksasa, namun dengan biaya minimum karena swadaya. Promosi pariwisata yang murah dan efektif ini sangat mungkin menjadi tren di masa yang akan datang. Traveling pun menjadi gaya hidup.

Meningkatnya tren travel lifestyle ini tampaknya dilihat sebagai peluang oleh PT Excelcomindo Pratama. Dengan meluncurkan brand 'XL Liburan Rame', Excelcomindo memberikan perhatian khusus pada para pengguna yang sedang berwisata. Hal ini akan semakin kongkrit jika XL tergerak untuk membangun sarana telekomunikasi di berbagai tempat wisata potensial yang ada di Indonesia. Jika hal itu terwujud maka XL turut memberikan layanan telekomunikasi terbaik bagi pelanggan sekaligus sebagai bentuk sumbangsih untuk memajukan pariwisata Indonesia. Semoga. []

*Penulis adalah mahasiswa ITS Surabaya
**Judul terinspirasi oleh motto Jembatan Suramadu
***Foto kover adalah BTS di puncak bukit, daerah Poto Tano, Sumbawa Besar