Pages

2/25/10

Travel Quote



Taken from The Art of Traveling film opening.

2/11/10

I’m Hungry but I’m Happy



Apa kabar Hifatlobrainers?

Lama tak jumpa. Terhitung sejak postingan Ebook Laweyan, otomatis blog ini vakum sekitar empat bulan. WTH! Itu adalah waktu yang lama untuk sebuah blog maknyus penuh lemak semacam Hifatlobrain untuk berhibernasi. Tapi tak apalah, jangan disesali apa yang sudah terjadi. Saat itu memang Om Editor dan Tante Kontributor sedang sibuk. Sangat sibuk malah. Tante Kontributor sedang sibuk menyiapkan TA –untuk kedua kalinya- yang sudah ada di depan mata, sedangkan Om Editor sangat sibuk sekali mengurus account Facebooknya yang penuh dengan notifikasi. Haha.

Blog ini adalah bayi kami berdua. Setelah berapa bulan tidak diberi makan, dia pun meraung-raung kelaparan. Bayi kami yang lemu ginuk-ginuk penuh lemak ini memang laper banget. Tapi bayi kami ini memang hebat luar biasa. Bayangkan jika dia bayi sungguhan, sudah tidak makan berapa bulan juga masih hidup! Hell yeah, i’m proud of you my boy!

Tapi santai saja kawan, juga para penggemar blog ini, yang tentu saja lapar dengan laporan perjalanan yang baru dan seru. Seperti waktu-waktu setelah liburan, akan ada banyak catatan perjalan dari para kontributor kami yang luar biasa. Mereka akan menunjukkan destinasi dengan sudut pandang yang berbeda, dan tentu saja lucu khas Hifatlobrain. Kami jamin postingan pasca liburan kali ini akan membuat Anda, para pembaca sekalian, kenyang seketika. Lambung Anda akan kami jejali dengan catatan perjalanan dari:

Bowo Item akan mengisahkan perjalanannya melepas penat setelah ujian dengan menyeruput Secangkir Kopi di Lereng Merapi. Dalam postingannya Bowo akan mengajarkan kepada pembaca bagaimana bentuk social traveler sebenarnya, dan membawa keramahtamahan khas Jogja dalam trip singkatnya.

Keindahan pantai dan gua di Wonogiri akan diceritakan secara gamblang oleh Yusuf Solo dalam artikel yang berjudul Old Jeep and Happy Family. Sebagai penggiat pariwisata Indonesia, Yusuf akan bercerita tentang hangatnya suasana traveling bersama keluarga menyusuri alam liar Pracimantara hingga menambah timbunan lemak di perut dengan melahap sate kambing di Baturetno.

Dwi Putri is comeback with Long Road to Ullen Sentalu! Dia adalah seorang kontributor swasta yang paling aktif yang dimiliki oleh Hifatlobrain. Cewek travelholic ini akan menceritakan dengan detail kisah susahnya menemukan Museum Seni dan Budaya Jawa Ullen Sentalu di tempat paling nyelempit di Jogja. Dia juga dengan senang hati menceritakan bagaimana rasanya makan bakso dari plastik dalam keadan berkuah panas.

Wahyu Gunawan hadir menceritakan perasaannya jatuh cinta dengan tiga Gili di Lombok. Gili Lovers: Yes, We Are! Adalah statemennya kepada dunia. Gunawan, dengan detail yang menawan akan menceritakan pengamatannya selama menghabiskan pergantian tahun di Gili Air dan Gili Trawangan, sebagai salah satu the hottest destination on earth. Ini adalah tulisan Gunawan yang pertama di Hifatlobrain.

***
Sebagai editor dari blog jagoan ini saya tentu merasa bahagia. Sangat bahagia dengan hadirnya tulisan-tulisan dari para kontributor Hifatlobrain ini. Mereka memberikan perspektif baru terhadap sebuah destinasi. Seperti Bowo yang jauh ke Merapi hanya untuk secangkir kopi dan ngobrol dengan Mbah Pudjo. Seakan Bowo ingin mengatakan,”Lha emang kenapa kalo saya ke Merapi demi secangkir kopi?” sangat unik bukan. Bowo, tanpa menggurui, mengajarkan bagaimana penghargaan kita terhadap seorang penduduk lokal di sebuah destinasi. Di Hifatlobrain, orang seperti Bowo ini akan disebut sebagai social traveler. Jadi nggak datang ke sebuah destinasi, terus foto, terus pulang. Tapi menikmatinya dan menjadikan pengalaman untuk memperkaya batin.

Wujud excitement lainnya adalah: mereka menuliskan kisah perjalanan mereka dalam format yang sangaaaat panjaaang. Yusuf Solo menuliskan catatannya dalam tiga halaman MS Word atau sekitar 1134 kata. Dwi Putri menuliskan perjalanannya ke Ullen Sentalu kali ini dalam 2550 kata. Sedangkan artikel Gunawan menampung 3254 kata! Edian tenan. Padahal format tulisan Hifatlobrain standar adalah sekitar 500-700 kata saja, hahaha. I love you all! Pengamatan yang jeli dengan deskripsi yang indah membuat saya, sebagai editor, agak kesulitan merampingkan tulisan panjang mereka. Akhirnya saya menyerah, dan membiarkan tulisan mereka hadir dengan jujur dalam format panjang.

Dulu Hifatlobrain takut sekali memasukkan tulisan panjang di dalam format blog, karena khawatir pembaca akan segera bosan membaca deskripsi bertele-tele tentang sebuah destinasi. Tapi sekarang kami berubah. Bayi kami bertambah besar, dia butuh banyak tulisan panjang untuk sebuah ulasan lengkap sebuah tempat wisata.

Tren tulisan panjang di Hifatlobrain memang pertama kali hadir dalam tulisan dari Dwi Putri tentang Karimunjawa. Tulisan ini patut dikenang sebagai Tulisan Panjang Pertama yang Bisa Masuk Hifatlobrain. Secara keseluruhan, Dwi Putri, dengan artikel panjangnya waktu itu merubah semua rule yang berkaitan dengan aspek penulisan di blog ini. Sehingga tulisan diatas 2000 kata pun akan kita tolerir dengan batasan satu hal: tulisanmu harus enak dibaca cuk! Hahaha.

Anyway, silahkan dinikmati suguhan mengenyangkan ala Hifatlobrain kali ini. Have a nice day, keep on traveling way!

Salam,
Hifatlobrain

Secangkir Kopi di Lereng Merapi



Teks dan foto Arie Wibowo

________________________________________________
Kontributor












Arie Wibowo, atau lebih akrab dipanggil Bowo Item ini adalah mahasiswa Diploma Teknik Elektro UGM angkatan 2006. Menurut pengakuannya; lebih enak naik gunung daripada kuliah! Dia memang anak yang jujur. Bowo ini adalah aktivis MAPAGAMA (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada). Spesialisasinya adalah rafting. Pengalamannya ngopi di rumah Mbah Pudjo adalah tulisannya yang pertama untuk Hifatlobrain.
_______________________________________________

Sore hari sehabis ujian di kampus aku merasa bosan sekali dengan segala rutinitas kampus. Kampus–sekretariat–kost adalah rute yang kulalui saban hari dan –tentu saja- sangat membosankan. Hmm akhirnya seusai ujian aku coba untuk merefresh pikiran, dan satu hal yang ada dibenaku adalah; ngopi di tempat Mbah Pudjo.

Kamis, 22 Oktober 2009, aku berangkat dengan modal bensin seliter dan kamera pinjeman dari Mas Joko. Perjalanaan kulalui dengan penuh semangat. Aku bener-bener pengen refresh dan membuang jauh-jauh soal ujian yang menghantui benakku selama ini. Aku bersama motor butut kesayanganku, SupraXX tahun 2002, akhirnya berangkat ke Desa Kinahredjo. Baru sekitar 4 kilometer dari kost aku melihat dua motor yang saling tindih alias tabrakan. Bukannya tidak mau menolong, tapi kulihat dari tepi jalan ternyata mereka masih bisa berdiri dan banyak orang lain yang sudah menolongnya. Akhirnya kuputuskan melanjutkan perjalanan saja. Sesampainya di daerah Sambi, hujan turun deres banget, yowes mandeg dulu pake mantel dan melanjutkan lagi perjalanan. Bagiku hujan bukanlah halangan untuk menikmati secangkir kopi istimewa di tempat Mbah Pudjo.

Sampai juga ditempat Mbah Pudjo, hari sudah beranjak malam, senyuman hangat dari istrinya yang sedang memberi makan ternak menyambutku dengan hangat. Sementara Mbah Pudjo sendiri lagi naik ke talang air buat bersihin sampah dedaunan agar tidak menyumbat saluran air ketika hujan datang.

“Dewean le kowe rene? Mlebu wae kono, nggawe wedang dewe kono, nggo ngangetke awak. Kopi, teh, karo banyu puanase ono neng mejo,” kata Mbah Pudjo ramah. Dia mempersilahkanku masuk dan membuat segelas kopi dan teh sendiri. Selalu saja begitu, ramah tamah seperti ini yang membuatku dan pejalan lain kangen. Sebuah ramah tamah khas orang desa yang ngangeni, karena sudah langka di jaman informatika seperti saat ini.

Aku langsung melepas mantel dan bikin kopi sendiri. Walaupun cuma kopi hitam biasa tapi rasanya dapat membayar dan menghilangkan semua penat yang ada di pikiran. Secangkir kopi, bukan hanya dilihat dari rasanya saja, tapi juga prosesnya. Ini urusan batin tentu saja, secangkir kopi tubruk menjadi sangat berharga, apalagi diminum sehabis kehujan, wuih nikmatnya ngalahin Strabucks!

***
Nama Mbah Pudjo memang tidak seterkenal Mbah Maridjan. Namun nama itu sangatlah familiar di kalangan kelompok pencinta alam di Yogyakarta. Sosoknya yang ramah dan sederhana selalu welcome kepada setiap tamunya yang datang. Meskipun hanya untuk sekedar berjalan-jalan menikmati sejuknya udara desa Kinahredjo di lereng selatan Merapi. Selain itu banyak pula kelompok-kelompok pencinta alam di Yogya yang memakai rumahnya sebagai salah satu basecamp sebelum mendaki Merapi melalui jalur selatan. Meski hingga saat ini jalur pendakian bagian selatan masih belum bisa dilalui, namun masih banyak juga yang menggunakan daerah sekitar lereng selatan merapi untuk acara diklat dan latihan skill mountaineering.

Di rumah yang sangat sederhana itulah ia tinggal bersama dengan istrinya. Hampir setiap minggu rumah tersebut ramai dikunjungi temen-temen pecinta alam untuk menitipkan kendaraan sebelum mereka memulai kegiatan alam bebas di sekitaran lereng Merapi. Hari itu, di rumah Mbah Pudjo, aku bertemu dengan temanku Oon anak STTL beserta rombongan dan beberapa anak UAD yang sedang melakukan diklat.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul bareng Mbah Pudjo dan istrinya sekitar satu jam aku merasa lapar, langsung saja aku pamitan dan next destination adalah warung di sekitar Lava Tour, lima menit dari rumah Mbah Pudjo. Jalannya gelap dan menanjak, memang lumayan dingin, tapi tak apalah. Masak pecinta alam takut dingin, hehe. Sesampainya di warung, langsung saja aku pesan segelas coffeemix dan mie rebus telor untuk mengganjal perut dan menghangatkan badan. Hmmm tak lama pesananku pun datang juga. Sikaat! Perut ini memang sudah keroncongan sejak tadi. Uap panas yang masih mengepul dari mangkuk mie pun aku hiraukan. Huh rasa laparku pun terobati, nah pas mau kubayar ibunya bilang total habis sembilan ribu, asem mahal banget! Haha dasar anak kost. Maklum saja warung itu berada di tempat wisata dan cuma satu-satunya yang buka, apalagi bukanya malem, di kaki gunung Merapi lagi.

Setelah perut terisi, akhirnya harus kusudahi petualangan kecilku ini, besok pagi masih ada ujian, aku harus pulang…

Old Jeep and Happy Family


Teks dan foto oleh Yusuf Solo

________________________________________________
Kontributor




Yusuf Solo adalah penggiat wisata ala backpacker. Pernah mencicipi indahnya Thailand dan bolak-balik Singapura dengan harga mahasiswa. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 dengan jurusan Pariwisata. Sebagai seorang enterpreneur, ia ingin membangun sebuah jasa tour murah untuk mempromosikan Solo pada dunia.





________________________________________________

Perjalanan kali ini tidak kulewati bersama teman-temanku. Istimewanya kali ini aku mengajak bapak, ibu dan juga adik semata wayangku untuk menikmati eksotisme wisata Wonogiri. Kami semua belum pernah kesana, hanya berbekal tourist map Wonogiri dan sebuah jeep tua, akhirnya kami sekeluarga berangkat. Wonogiri tidak jauh, hanya sepelemparan batu dari Solo. Kota di selatan Jawa ini bisa ditempuh dalam satu jam dengan menggunakan mobil atau sepeda motor. Tujuan kami adalah untuk melihat gua dan Museum Karst kelas dunia di Pracimantara dan pantai Parang Gupito.

Adik dan bapakku

Perjalanan ke daerah Pracimantoro butuh satu jam dari Wonogiri. Kami sekeluarga sempat mampir sejenak di sebuah bukit untuk melihat keindahan Waduk Gajah Mungkur dari atas. Semilir angin membuat badan kami terasa segar kembali. Setelah rileks, perjalanan pun kami lanjutkan ke daerah Pracimantara. Jalanan yang bergelombang membuat perut kami mual, daerah selatan Wonogiri memang didominasi dengan perbukitan yang gersang. Pantas saja banyak penduduk Wonogiri yang mamilih jadi TKI atau mengadu nasib di ibukota.

Wonogiri yang berbukit gersang

Setelah sampai di dekat terminal Pracimantara, saya coba menanyakan penduduk sekitar dimana letak Museum Karst dan gua wisata, setelah mendapatkan info akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Penduduk lokal memang guide terbaik. Karena di daerah ini masih sangat minim petunjuk arah, jadi jangan segan untuk tanya ke penduduk sekitar.

Jalan bergelombang, udara panas menyengat dan tanjakan tajam menjadi bumbu tak sedap perjalanan kali ini. Untung saja bapak pake jeep, meski tua namun masih bisa diandalkan. Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang bikin kuda lumping kesurupan kami pun menemukan gua pertama, Gua Tembus namanya. Disebut demikian karena gua ini bisa dimasuki dari dua sisi yang terhubung. Lorong guanya memang tidak panjang, hanya sekitar 50 meter, tapi cukup menarik untuk dinikmati karena masih alami. Tidak banyak pengunjung di gua ini. Selama berkunjung aku hanya menemui beberapa orang saja. Jadi kita bisa menikmati gua ini sepuasnya. Setiap ujung lorong menawarkan pesonanya sendiri, dari sisi pintu gua yang lain aku bisa melihat megahnya Museum Karst di tengah tandus dan gersangnya bukit kapur Wonogiri.

Gua Tembus yang sepi

Perjalanan akhirnya kita lanjutkan ke Museum Karst yang tak jauh dari Gua Tembus. Tapi sayang, pintu museumnya masih terkunci rapat dari dalam. Memang bagian interior museum kelas dunia ini masih dalam tahap pembangunan. Kami tidak menyerah begitu saja. Setelah mencari info dari penduduk sekitar, ternyata ada beberapa gua di sekitar museum ini. Namun sial, jalan menuju gua masih juga dalam tahap perbaikan, jadi tidak bisa untuk dilewati. Kelihatannya nasib baik belum berpihak pada kami. Setelah berkeliling tanpa hasil, kami melihat ada satu pura kecil di puncak bukit, ya sudah kami kunjungi saja pura kecil ini. Cukup menarik untuk dikunjungi.

Arsitektur Museum Karst Dunia

Setelah berpuas-puas berfoto di pura, akhirnya perjalanan pun kami lanjutkan ke daerah pantai Parang Gupito. O iya, jangan lupa isi bensin penuh motor atau mobilnya, karena SPBU terakhir cuman ada di dekat pasar Pracimantara. Cari bensin eceran pun juga belum tentu nemu di daerah terpencil seperti ini. Kondisi jalan juga tidak bersahabat, kami serasa naik bomb bomb car, terpental kesana kesini, kulihat ibuku meringis di jok belakang, kasihan juga melihatnya, "Ibu gak papa tho?" tanyaku. Sambil tertawa kecil ibuku menjawab,"Gak papa le, ya ini tantangannya!" Ooh ibuku memang rocker tulen! I love you mom, senang melihat ibuku bisa ‘menikmati’ perjalanan liar ini.

Sepanjang jalan, tidak banyak kendaraan yang lewat, hanya kadang berpapasan dengan sepeda motor atau mobil. Karena minimnya info dan akses transportasi ke daerah pantai Parang Gupito menjadikan orang-orang malas pergi kesana. Apalagi di tambah kondisi jalannya yang bikin Mama Lauren jadi gila, niscaya sampai lima tahun mendatang daerah ini masih terisolir dari banjir wisatawan.

Setelah banyak tanya dengan penduduk lokal, akhirnya kami menemukan tanda penunjuk jalan ke Pantai Sembukan. Penduduk setempat bilang dekat, “Cuman lima kilo mas,” kata mereka enteng. Batinku,”Lima kilo kok dekat?" dan Anda pun akan terperangah jika tahu bahwa penduduk di sana biasanya berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lainnya. Di daerah ini memang tidak ada angkutan umum. Bapakku bertanya,”Pantainya sebelah mana?” Aku jawab,”Lha aku juga belum pernah ke sini pak,” dan kami pun bengong bersama. Krik krik.

Tapi perlahan dari atas bukit kulihat samar lautan biru terhampar luas. Hati kami yang kusut pun jadi bersemangat, jeep tua kami geber lebih cepat. Suaranya gelodakan karena jalan yang tak ramah. Setelah melewati beberapa bukit, akhirnya jalan menuju Pantai Sembukan terlihat juga. Wow, pantai ini masih alami. Hamparan pasir putihnya seakan mengundangku untuk menikmatinya. Airnya sangat jernih sekali, aku bisa melihat keindahan batu-batu karang khas pantai selatan di pantai ini yang masih sepi ini. Dari atas bukit batu pemandangannya jadi berlipat kali indahnya, aku bisa melihat sepanjang pantai Sembukan yang masih alami, ombaknya yang keras dan tinggi menjulang seakan menggodaku untuk surfing. Udara yang panas aku hiraukan. Pantai ini memang melepas penat perjalanan liar yang kami jalani.

Pantai Sembukan

Setelah puas bermain-main dengan adikku, akhirnya perjalanan kami lanjutkan ke pantai berikutnya; Pantai Nampu. Kami kembali ke jalan utama lagi, dan berjalan ke arah timur. Pantai Nampu berbatasan dengan Kabupaten Pacitan, jadi bisa dikatakan ini adalah pantai paling timur di pesisir selatan Jawa Tengah. Jarak pantai Sembukan dan pantai Nampu sebenarnya ndak jauh, cuman enam kilo saja, tapi karena medan yang hebring membuat perjalanan ini jadi terasa lebih lama.

Pantai Nampu juga tak kalah indahnya dengan Pantai Sembukan. Garis pantainya membentuk lengkungan yang indah. Pasir putihnya menarik perhatianku untuk berguling-guling disana. Aku berjalan ke arah timur dan coba menaiki batu karang, pemandangan yang luar biasa aku dapatkan. Samudra Hindia membentang luas hingga batas cakrawala. Pantai di pesisir selatan Wonogiri, karena masih belum touristy, jadi kita bisa nikmati sepuasnya tanpa diganggu kerumunan orang apalagi anak-anak muda labil penganut alay.

Pantai Nampu

Tak terasa waktu pun beranjak sore. Sebenarnya aku pengen melihat sunset di pantai Nampu, tapi karena jalanan di daerah Parang Gupito tidak ada lampu di waktu malam, terpaksa kami putuskan pulang lebih awal demi alasan keselamatan. Pulangnya kami menempuh jalan yang berbeda melewati daerah Baturetno, kondisi jalannya sih tidak berbeda jauh dengan daerah Pracimantoro, bergelombang dan penuh tanjakan, tapi semua halangan itu kami libas dengan mudah berkat jeep tangguh yang sudah menemani keluarga kami selama puluhan tahun ini.

Bapakku bilang kalo di Baturetno banyak yang jual sate kambing yang uenak. Ternyata memang benar, ketika kami masuk daerah Baturetno, penjual sate kambing bertebaran dimana-mana. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti di salah satu warung sate kambing dengan merek "Pak Giyarto". Rasanya jangan ditanya, emmm uenak tenan. Aku yang kelewat lapar pun jadi sedikit rakus, habis dua porsi, padahal biasanya empat porsi, hahaha. Harganya bisa dibilang cukup murah, kami berempat hanya menghabiskan 60.000 rupiah untuk 4 porsi sate kambing. Cukup terjangkau oleh kantong kalian bukan?

Kota wonogiri juga terkenal dengan kacang mente yang enak, jadi kalo lewat Wonogiri jangan lupa beli untuk oleh-oleh. Akhirnya setelah perjalanan pulang hampir tiga jam akhirnya kami pun sampai di rumah dengan bahagia, berkat jeep tua kami yang sakti.

Long Road To Ullen Sentalu



Teks dan foto oleh Dwi Putri

________________________________________________
Kontributor





Dwi Putri adalah seorang traveler dan hiker. Ia adalah salah satu kontributor utama blog ini. Suka membaca buku, khususnya travel novel. Terobsesi dengan Trinity dengan Naked Travelernya. Sedang menyukai lomografi, dan seorang movie freak sejati. Sebelumnya Putri pernah membagikan pengalamannya yang luar biasa saat traveling ke Kawah Ijen dan Karimunjawa untuk Hifatlobrain.




________________________________________________

Kalo kalian pernah liat kaos Dagadu yang bertuliskan ’Jogja Never Ending...’ ternyata itu beneran lho. Kenapa? Karena sejak kecil sampai sekarang, setelah keluar masuk kota Gudeg sebanyak ratusan kali, saya baru tau kalo ada Museum Seni dan Budaya Jawa Ullen Sentalu di daerah Kaliurang. Itu juga karena saya baru membaca artikel di sebuah majalah. Dan yang mengherankan, sepupu saya yang sudah lama tinggal di daerah lereng Merapi itu juga ndak tau keberadaan museum ini.

Informasi di majalah dan hasil googling; untuk menuju Ullen Sentalu tanpa kendaraan pribadi bisa dengan menyewa taksi dengan sistem carter, karena dikhawatirkan bisa ke Ullen, tapi ga bisa balik lagi ke Jogja. Diperkirakan tarifnya 150-200 ribu, tergantung nego. Kelebihan cara ini adalah kita bisa lebih cepet sampe ke Ullen, tapi agak mahal. Apalagi taksi itu cuman mau diisi empat orang saja, sedangkan kali ini saya bawa rombongan ibu PKK yang jumlahnya lima orang. Alternatif kedua; naik bus TransJogja ke Jalan Kaliurang (Jakal) dan dilanjutkan dengan naik angkot atau bus kota ke Jakal KM 25, hingga pertigaan Hotel Vogel, kemudian jalan kaki ke Ullen Sentalu.

Oke, mumpung lagi liburan di Jogja, pada hari Sabtu pagi yang cerah, cewek-cewek -yang ndak tau kenapa bisa kompakan make baju bernuansa merah dan pink, kecuali saya- sudah nongkrong di shelter TransJogja di daerah Malioboro-Sosrowijayan. Kebetulan kita menginap di hotel daerah itu. Karena dari kita berlima ndak ada yang pernah menjamah bus TransJogja sebelumnya, maka informasi dari petugas shelter sangatlah penting untuk didengarkan. Untuk menuju shelter Kentungan (shelter di daerah Jakal KM 5) kita harus oper bus dua kali, tapi bayarnya tetap sekali aja kok. Per orang 3000 rupiah saja, dudukan empuk plus AC plus radio yang selalu menyala. Saya jadi pengen di Surabaya ada bus Trans juga, asik kali ya, apalagi kalo petugas shelternya so friendly. Jadi ndak heran kalo bule juga banyak yang make moda transportasi ini.

Kekurangan naik bus TransJogja cuman satu: nunggunya lama, boros waktu. Walopun kedatangan bus sudah sangat terjadwal, tapi karena saat itu musim liburan, rasanya semua manusia tumplek blek di Malioboro, otomatis kemacetan juga ndak bisa dihindari. Pfuuh. Setelah turun dari bus Trans ketiga di shelter Kentungan, kita jalan kaki dulu ke daerah Jakal, untuk mencari tempat yang pas buat nunggu angkot berikutnya. Konsentrasi agak terganggu, karena kita berdiri di depan warung gudeg dan soto, hoho. Tadi pagi cuman sarapan roti, tapi karena hari sudah cukup siang, dan perjalanan kita masih 20 km lagi, yah, kita tahan-tahan saja.

Sekitar 15 menit menunggu, datanglah sebuah angkot dengan jenis Elf dengan desain seadanya. Sebenarnya kita agak enggan masuk, karena di dalam sudah sangat penuh, tapi ndak ada pilihan lain, daripada tambah kesiangan. Sopirnya bertipe kejar setoran, di tengah perjalanan juga masih nambah penumpang beserta keranjang belanjaan mereka yang banyak, tinggal nambah beberapa ekor ayam, sudah mirip pasar, asssiiik.

Sebenarnya, kami masih ndak ngerti mau turun di mana, tapi tiba-tiba ada tiga orang cewek yang duduk di depan saya menyeletuk sesuatu tentang Ullen Sentalu. Tanpa ba bi bu langsung aja saya potong dengan sok kenal, ”Mbak, mau ke Ullen Sentalu juga ya?” Dan mereka pun mengiyakan, hoho bagus. Kemudian saya berkenalan sungguhan dengan mereka dan ternyata Mbak Isna dan kawan-kawan yang datang dari Sleman itu juga ndak tau harus turun di mana. Waktu saya menginformasikan turun di Hotel Vogel, mereka cuman bilang, ”Oooh, ya udah kita ikutan turun di situ juga deh...” Saya cuman bisa melongo: “Lha yang orang Jogja itu siapa tho?” celetuk saya dalam hati.

Ternyata di bangku belakang temen saya pada asik dengan kegiatan masing-masing, Leny dan Rina yang dapet jackpot duduk dan diajak ngobrol bersama mbah yang agak -ehmm- mesum gitu. Trus Sulih dan Icha lagi ngobrol sama seorang wanita yang punya putra, dokter muda lagi magang di Surabaya, punya resto nasi bakar, dan sedang mencari jodoh. Sip! Tapi sayang sekali informasi alamatnya kurang jelas, karena si Ibu juga lupa-lupa ingat, padahal beliau semangat banget pas turun dari angkot sambil melambaikan tangan, ”Jangan lupa mampir ya, Mbaaaaak!”

Well, ternyata pak sopir tidak menjalankan angkotnya sampai Kaliurang Atas, cuman sampai Pasar Pakem aja, sedangkan menuju Ullen Sentalu masih sekitar 8 kilometer lagi. Tarif angkot ini per orang 5000 rupiah, kita turun di pangkalan ojek, suasana mulai gloomy doomy skinny. Saat itu langit mendung, gelap, lesu, wes kayak Gotham City aja. Suasana itu menjadi bertambah muram ketika hujan tiba-tiba turun dengan hebohnya.

Saya yang menjadi provokator perjalanan ini, mulai kepikiran, jangan-jangan ini museumnya ndak worthed. Temen-temen saya padahal udah pada dandan cantik pengen foto-foto, tapi lah kok sampe jam sebelas siang masih stuck di tengah jalan. Saya takut teman-teman saya yang cantik berubah jadi monster dan menerkam wajah imut saya.

Sekilas saja ada seorang tukang ojek yang bersedia menyewakan mobil, “Sampe Ullen Sentalu 80 ribu aja mbak,” katanya tanpa dosa. Haaah, walopun rombongan kita jadi berdelapan –akibat ketambahan tiga mbak yang ketemu di angkot- sekarang, tapi rasanya kok males gitu buat nyarter mobil. Terlalu mahal dan nuansa wildnya jadi ilang. Akhirnya kita milih nunggu di situ, menikmati hujan lengkap dengan sensasi kecipratan dari mobil yang lewat dan ketawa-ketawa mendengarkan kisah mesum si Mbah Angkot tadi. Haha. Nikmati saja perjalanan kalian kawan.

Hampir setengah jam kita berteduh di situ, hampir ndak ada angkot yang lewat. Tiba-tiba ada mas tukang ojek semangat neriakin kita, ”Mbak mbak itu ada yang mau ke atas!” Yes, terima kasih mas-ojek-tak-dikenal, dan kita pun bergegas menerobos hujan menuju angkot yang dimaksud. Namun, Mbak Isna dan kawan-kawan ndak ikut angkot ini, mereka menunggu salah seorang teman yang masih dalam perjalanan dari Magelang.

Setelah memastikan pada pak sopir bahwa angkot akan berjalan sampai Kaliurang Atas, maka kita pun masuk dengan gembira. Berbeda dengan angkot tadi, yang ini mah sepi pisan euy. Hanya ada kita berlima, seorang kenek, dan seorang bapak. Yang bikin suasana meriah adalah; hujannya masuk ke dalam angkot dengan lancar seperti air kran. Gak papa wes, kita hepi-hepi aja.

Betapa lengkap kegembiraan kita ketika Pak Sopir mengatakan dia tahu di mana letak museum itu. Jadi, kita harus turun di Taman Kaliurang, dan kemudian berjalan beberapa ratus meter sampai menemukan lapangan tenis dan gereja. Museumnya terletak di daerah itu.

Yap, sampai Taman Kaliurang, kita turun dan barulah di sana kita melihat Hotel Vogel yang ternyata adalah sebuah hostel bercat kuning cerah tepat di pertigaan taman tersebut.
Melewati beberapa pedagang bakso dan sate di Taman Kaliurang, bikin kita ingat perut. Krucuk krucuk. Tapi lagi-lagi kita tahaaan, karena setahu saya Ullen Sentalu tutup cepat pada sore hari. Ditambah lagi menurut info yang saya dapat dari internet, untuk turun ke jogja jangan terlalu sore, karena angkot sudah jarang lewat.

Kami pun mulai berjalan mencari di mana lapangan tenis itu berada. Hati-hati salah ambil jalan, karena ada jalan cabang yang salah satunya menuju Kaliurang lebih atas, dan itu hampir terjadi pada kami. Hehe. Setelah menemukan lapangan tenis dan gereja, ada penunjuk jalan super kecil yang bertuliskan Museum Seni dan Budaya Jawa Ullen Sentalu. Hoho. Ternayata beneran museum ini nyelempit senyelempit-nyelempitnya.

Sampailah kita di museum yang sangat rimbun itu, sodara-sodara. Ullen Sentalu ternyata adalah akronim dari ulating blencong sejatine tataning lumaku, yang artinya kira-kira adalah nyala pelita sebagai penunjuk jalan kehidupan manusia. Keseluruhan bangunan yang luasnya lebih dari satu hektar ini disebut Ndalem Kaswargan atau Taman Surga, dan diresmikan pada tahun 1997. Mungkin karena museum ini milik swasta, jadi tiket masuknya tergolong mahal. Untuk orang asing dipatok limapuluhribu rupiah, dewasa duapuluhlimaribu rupiah, dan jika Anda masih berwajah mahasiswa kere akan diberi diskon menjadi limabelasribu rupiah per orang. Tunjukkan saja KTM Anda. Biaya itu termasuk guide dan segelas jamu yang dipercaya dapat membuat Anda awet muda selamanya seperti Dayang Sumbi, hoho. Jadi kita memang tidak diijinkan masuk secara perorangan di dalam museum, karena jujur saja, kalo saya dilepas ke tempat ini tanpa panduan saya bisa nyasar dan masuk ke daerah-daerah horror.

Sistemnya, setiap satu jam satu rombongan boleh masuk ke dalam museum ditemani oleh seorang guide. Jadi pada saat beli tiket, sudah ditentukan bahwa orang ini masuk jam sekian. Waktu itu kita masuk ke museum pukul 12.30 WIB bersama sekitar 10 orang lainnya. Yap, mendadak kita menjadi manusia tahan hujan. Museumnya memang indoor, tapi ketika kita berpindah dari satu ruang ke ruang lain, kita akan melewati labirin sempit berdinding batu-batu dan beratapkan langit. Jadi ya tubuh imut ini jadi basah kuyup. Hujan pun masih terus mengguyur langit Kaliurang. Tapi karena kita selalu exciting dan penasaran akan keunikan bangunan dan folklore di tiap ruangnya yang, jadi hujan pun kita terabas.

Ruangan pertama yang kita kunjungi adalah lorong bawah tanah yang dinamakan Guwo Selo Giri. Hmmm, by the way ada satu aturan yang harus dipatuhi; kita tidak diijinkan untuk mengambil foto selama tour, bolehnya nanti pas di luar setelah tour berakhir. Itu kenapa postingan kali ini jadi sedikit sekali fotonya. Tapi ada saja yang bandel, mas-ganteng-berbaju-putih yang bawa kamera DSLR selebar martabak sepertinya udah gatel pengen jeprat-jepret, eh dia nekad aja ngambil gambar pake kamera HP. Cepret! Si mbak guide, yang mirip Denish di film Rumah Dara, dengan sopan -dan spooky- menegur, ”Mas, maaf, sudah saya ingatkan bahwa dilarang mengambil foto di dalam, karena kalau ada apa-apa, kami tidak menanggung.” Mendadak atmosfer ruangan jadi semriwing. Bulu kuduk kami jadi berdiri.

Ruang foto dan lukisan itu banyak menceritakan tentang kehidupan para penghuni empat keraton besar yaitu Kasultanan, Pakualaman Jogja, Kasunan, dan Mangkunegaran Solo. Barang-barang di sini juga merupakan seumbangan dari empat keraton tersebut. Dari foto-foto pendidikan mereka di luar negeri sampai pada saat prosesi penobatan menjadi Raja. Semua terasa anggun dalam balutan aristokrasi Jawa.

Menurut saya pribadi sih dilihat dari foto yang ada, setiap perempuan keraton selalu memiliki aura ningrat yang membuat kecantikan di wajah mereka itu tampak berbeda. Susah menjelaskannya. Tapi berkali-kali saya dan teman-teman selalu berdecak kagum melihat foto-foto jadul itu. Seperti foto Gusti Nurul saat masih muda, she’s my favorite one, karena punya hobi yang unik yaitu berkuda dan berani menolak pinangan pria keren macam Bung Karno dan Sultan HB IX, karena Gusti Nurul adalah seorang wanita yang antipoligami, sip! Saat ini beliau berusia 88 tahun dan tinggal di Bandung.

Si Mbak bercerita bahwa tiap Raja yang sedang menjabat suatu keraton, diwajibkan menciptakan tarian. Walah ternyata jadi itu Raja ga gampang. Di akhir lorong, terdapat foto Partini Djayadiningrat -eyang putri dari sutradara video klip Dimas Djayadiningrat- putri dari Mangkunegara VII, yang terkenal sebagai wanita cerdas dan berpengetahuan luas. Beliaulah yang mengarang buku ’Ande-Ande Lumut’.

Ketika kami keluar dari lorong ini, hujan masih setia mengguyur. Aaah, sebenarnya saya agak sebel, tapi daripada merusak suasana liburan, mending hujan-hujanan dengan gembiraaa. Ruangan berikutnya adalah rangkaian Kampung Kambangan atau Desa Apung, yaitu beberapa ruangan yang dibangun di atas kolam, jadi seakan-akan bangunan ini melayang di atas air.

Ruangan pertama adalah ruang batik. Oke, saya ga sepintar si mbak guide yang bisa memaparkan dengan jelas arti tiap goresan canting di atas selembar kain. Yang bisa saya ingat cuman ciri khas batik Jogja adalah kaku, sesuai dengan watak orang-orangnya keraton. Kalo batik Solo sendiri lebih luwes, seperti Putri Solo. Untuk perayaan pengantin, tidak boleh menggunakan batik bermotif parang, karena parang identik dengan kekerasan, perang, dan sebagainya. Saya cuman bisa mesam-mesem, pada saat si mbak menunjukkan salah satu motif batik yang merepresentasikan kegembiraan hati seorang Ibu ketika anaknya telah mendapatkan jodoh yang baik. Hohoho amazing, i have to buy it as soon as possible haha.

Beralih ke ruangan lain, yang menjadi tempat favorit saya yaitu ruang puisi. Bukannya sok puitis, sok nyastra atau gimana, tapi saya suka alasan mulia dibangunnya ruangan ini. Lembaran surat dan puisi di sini semuanya persembahan baik dari keluarga, sahabat dekat dan teman, kepada Koes Sapariyem atau akrab dipanggil Tineke, yang akan segera dijodohkan, padahal dia cinta sama orang lain tetapi sayangnya tidak direstui. Semua yang dipajang berupa tulisan tangan asli tertanda sekitar taun empatpuluhan, dilengkapi pula translet bahasa Indonesianya, karena kebanyakan puisi dan surat ini ditulis dalam bahasa Belanda. Hampir semuanya berisi tentang motivasi, cinta dan eksistensi perempuan dalam sebuah keluarga, singkat ndak belibet bin maknyus! Aah pengen saya copy paste rasanya.

Ada satu ruangan yang khusus didedikasikan untuk Gusti Nurul, Putri Mangkunegara VIII. Ruangan ini berisi foto-foto beliau dari bayi hingga dewasa, dan pasti ada foto beliau bersama si kuda, karena seperti saya sebutkan tadi, Gusti Nurul memiliki hobi berkuda. Ada juga foto yang menggambarkan beliau sedang membawakan tarian Jawa di luar negeri, uniknya musik gamelan yang mengiringinya dimainkan di Solo secara live, yah mungkin kalo jaman sekarang kayak teleconference gitu. Untuk membantu Gusti Nurul membawakan tariannya, sang bunda memberikan aba-aba dengan ketukan. Agak ribet membayangkannya memang, tapi totally great idea! Mereka-mereka ini para jenius lokal yang membentuk budaya adiluhung seperti saat ini.

Ruangan terakhir adalah ruang arca yang bersambung pada ruang Paes Ageng. Arca-arca yang dipajang adalah asli, jadi kalau banyak bagian yang hilang, itu dikarenakan pada saat ditemukan memang kondisinya sudah seperti itu. Arca-arca dijejer rapi di tengah sebuah taman bunga, Mbak Guide masih saja menceritakan kisah di balik arca itu dengan lancarnya. Saya yakin syarat mutlak jadi guide di sini adalah nilai pelajaran sejarah di rapor sekolah dulu harus di atas delapan. Hafalan nama raja, ratu, putri beserta angka romawinya itu yang berkali-kali bikin saya cengar-cengir kayak orang bego. Salutku buatmu, Mbak Guide!

Ruang Paes Ageng memang agak spooky, karena ketika berbelok di sebelah kiri, mata saya malah melirik ke arah ruangan sebelah kanan yang masih gelap, dan berdirilah sebuah patung wanita dewasa nan anggun memakai baju pengantin di ujung sana. Bikin jantungan seluruh peserta tour. Sementara si Mbak sibuk menjelaskan arti semua properti pakaian pengantin adat Jawa, saya asik melihat lukisan sebuah prosesi di kerajaan. Si Mbak bilang, tarian itu dilakukan oleh sembilan gadis yang sedang dalam keadaan suci, dan mereka menari selama dua jam nonstop. Uniknya, selalu ada ’gadis’ lain di sana, yap the famous Nyai Roro Kidul, yang konon, hanya bisa dilihat oleh Raja saja. Penguasa pantai selatan itu selalu hadir pada prosesi pernikahan keraton. Jadi total penari di mata seorang Raja adalah 10 orang. Well, yang bikin saya tertarik pada lukisan ini adalah, Nyai Roro Kidul digambarkan layaknya ’wanita tembus pandang’. Ini kayak teknik multiexposure di lomography yang memang sengaja dibuat untuk menampilkan kesan ghostly.

Ruang spooky ini adalah ruangan terakhir yang kami kunjungi, total satu kali tour adalah limapuluhlima menit. Sebagai penutup, kami dipersilahkan beristirahat di sebuah pondok sambil mencicipi jamu Wedhang Kusmayana, yang dipercaya sebagai minuman rutin para kanjeng ratu sebagai kunci awet muda. Hoho, toast!

Sesi berikutnya tentu saja foto-foto sebebas-bebasnya di area luar museum. Yap, kami menikmati rimbun daun, sulur-sulur akar pohon besar, patung-patung, kolam dengan tanaman air, beserta rintik hujan yang masih sedikit mengguyur Ndalem Kaswargan ini. Kebetulan sedang ada anak-anak gadis berlatih tari Jawa di ruang bawah tanah. Kami menonton sebentar, namun karena hari sudah sore dan perut sangat lapar kami memutuskan untuk pulang. Oh iya, ada restoran Belanda di sana, namanya Beukenhof Restaurant, tapi karena Leny ngidam bakso di Taman Kaliurang, ya kita turutin aja. Ckck, dia emang ndak ada jiwa ningrat sama sekali. Hahaha.

Oke, sebenarnya lebih enak menggunakan motor, karena ga ada kekhawatiran bakal kehabisan angkot. Saking takutnya ga bisa pulang, baksonya nekad minta dibungkus plastik, dan kami makan di pinggir taman sambil menunggu angkot yang akan turun ke bawah. Cara makan yang sangat bangsawan sekali sodara-sodara. Hehee. Ndak sampai lima menit kemudian, bus kota idaman sudah muncul, yipppiii. Duduk di bangku paling belakang, makan bakso panas dan sepanjang jalan dari Jalan Kaliuran Atas hingga Kopma UGM diguyur hujan deras, sukses bikin kita ngantuk. See ya next time, Ullen Sentalu, dalam versi kering tentu saja.

Gili Lovers, Yes We Are!


Teks: Wahyu Gunawan
Foto: Miko Mantap

______________________________________________

Kontributor










Wahyu Gunawan adalah seorang mahasiswa Desain Grafis tingkat akhir. Gemar traveling dengan menggunakan sepeda motor. Gunawan memiliki obsesi untuk menyusuri tanah liar Sumbawa dengan sepeda motor seorang diri. Mari kita doakan agar dia selamat di perjalanan.










Miko Mantap adalah teman Gunawan. Mereka berdua saling mencintai. Miko seorang fotografer handal, memiliki spesialisasi di bidang commercial and wedding photography. Mengelola usaha bernama MikoPhoto Indonesia, entah jalan entah tidak.

TravelMate: Edo Gunarsono dan Rodhim Larajiwa

______________________________________________

Menjelang akhir tahun saya mendapat kabar dari seorang teman bernama Miko bahwa dia akan melakukan perjalanan ke Lombok, NTB. Miko pergi untuk survey Tugas Akhirnya yang mengambil subjek Lombok. Seminggu sebelum saya berangkat, saya pastikan untuk ikut serta, walaupun kondisi ekonomi akhir tahun kemaren cukup mengenaskan. Hehe.

Berbekal tekad saya bulatkan untuk nekat ikut. Karna beberapa kali rencana saya traveling ke Lombok terpaksa ditunda karena urusan kerjaan. Kali ini saya sudah siap berangkat. Travelmate saya cukup banyak, yaitu Edo, Miko, dan Rodhim. Rencana awal sih kita akan berangkat tanggal 28 Desember, tapi setelah keruwetan sana sini akhirnya baru pada tanggal 29 Desember kita bisa berangkat dari Surabaya menuju Lombok. Kami semua pergi dengan menggunakan motor, formasinya: saya berboncengan dengan Edo, lalu Miko membonceng Rodhim.

Motif kami untuk pergi ke Lombok tidak seragam. Saya dan Edo sih murni ingin liburan, sedangkan Miko untuk survey dan Rodhim adalah guide, karena hanya dia seorang yang sudah pernah mengunjungi Lombok sebanyak lima kali. Dia sudah hafal jalan di Lombok.

29 Desember 2009

Rencana awal kita akan berangkat sebelum jam duabelas siang. Yah tapi rencana tinggal rencana, faktanya: kami semua molor! Kami semua baru tidur menjelang pukul tiga pagi. Padahal besok pagi kami harus berangkat. Kami janjian di rumah seorang teman di daerah Prapen. Saya sudah datang pukul sepuluh pagi, namun sialnya STNK motor saya ketinggalan di rumah. Bukan hanya saya, surat survey Miko juga ketinggalan di kos. Maka kita putuskan untuk bertemu kembali sejam kemudian di Stasiun Waru.

kami mulai dari stasiun waru pukul 13.30 WIB. Setelah sampai Gedangan, Sidoarjo, Miko harus kembali ke kost di Keputih karna charger kamera DSLR milinya ketinggalan! Anjriiit! Saya langsung lemas seketika, padahal awalnya semangat sudah berkobar kobar, langsung mati seperti korek yang disiram sirup. Kami putuskan untu menunggu Miko di masjid Pabrik Gula Candi, Sidoarjo. Di sini Edo sempat memotret lori-lori tua dengan kamera manual anehnya, sepertinya itu kamera lomo.

Pukul 15.00 WIB, Miko dan Rodhim belum sampai juga. Saya dan Edo akhirnya menunggu mereka di Gempol. Setelah mereka berdua datang, kami recheck untuk terakhir kalinya dan memastikan semuanya sudah siap. Kami gak mau sudah sampai Banyuwangi harus terpaksa balik ke Surabaya karena salah satu dari kami lupa membawa celana dalam. Jadi persiapkan perjalananmu dengan sempurna, kawan.

Melewati Bangil mendadak gerimis turun, kita sempat berhenti di warung untuk berteduh. Miko yang katanya belum makan dari pagi pun memesan makanan. Setelah reda, kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini nonstop. Kami geber kuda-kuda besi kami tanpa henti sampai pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Sebelum menyebrang ke Bali kita mengisi perut di sekitar pelabuhan dan saya mengeluarkan sembilanbelas ribu untuk makan ayam goreng yang cukup besar dan minum teh hangat. Sebuah harga yang cukup nampol buat traveler low budget seperti kami.

30 Desember 2009

Sebuah kebetulan menyapa kami. Di atas kapal kami bertemu dengan Pak Thomas, seorang dosen ganteng dari kampus kami. Beliau sangat excited begitu kami cerita tujuan kami ke Lombok. Pak Thomas dan keluarganya sangat baik dan perhatian. Bahkan turun dari kapal di pelabuhan Gilimanuk, kami sempat berhenti sebentar untuk makan dini hari karena dipaksa ditraktir oleh Pak Thomas dan keluarga. Haha, makasih pak!

Pisah dari Pak Thomas, kami kebut jalur menuju Denpasar. Saya sendiri sudah kehabisan energi, mata ini sudah sangat berat rasanya, saya pun beberapa kali mengigau di atas motor. Bebrapa kali helm saya membentur helm Edo yang saat itu sedang giliran bawa motor membelah keheningan daerah Bali Barat. Sesampainya di Tabanan, sekitar jam lima pagi kita berhenti di sebuah pom bensin. Edo dan Rodhim pun diserang kantuk luar biasa, padahal ini saatnya mereka nyetir. Mungkin kami memang kurang istirahat sebelum berangkat, baru di Tabanan saja rasanya kami sudah sangat loyo luar biasa.

Tapi bayangan kami tentang birunya laut Lombok dan eksotisme pantai putihnya mengalahkan segala jenis kantuk. Dengan keyakinan bahwa cahaya pagi hari akan membilas mata dari kantuk, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Padangbai, pintu utama menuju Lombok. Perkiraan kami salah, udara pagi di Bali yang sejuk ternyata sangat efektif untuk membius mata kami, jalur Tabanan - Padangbai pun terasa sangat panjang dan tak berujung. Kesialan kembali menemui kami; untuk menuju Padangbai dengan cepat, seharusnya setelah Denpasar kami bisa lewat jalur bypass, tapi itu tidak kami lakukan karena ternyata Rodhim yang menjadi guide lupa jalan! WTH! Namun kealpaan Rodhim kali ini bisa kami maklmi. Melewati jalan bukan bypass membuat kami bisa melewati sisi pedesaan Bali di pagi hari yang indah. Itu membuat saya sangat bersyukur bisa menikmati suasana Bali yang masih sepi, kontur jalan yang berkelok, dan landscape view yang cantik, cukuplah bagi biker pemula seperti saya.

Pukul tujuh pagi kami sampai juga di Pelabuhan Padangbai. Total perjalanan kami dari Gilimanuk menuju Padangbai kurang lebih lima jam. Sebelum menyeberang, kami sempatkan untuk istirahat di pelabuhan untuk cuci muka dan makan. Sekitar pukul delapan pagi kami pun menyeberang menuju pelabuhan Lembar, pelabuhan yang menjadi pintu masuk Lombok. Tarif kapal ferry Rp.86.000 untuk sebuah motor dan dua orang penumpang.

Penyeberangan ke Lombok sekitar lima jam, dan kami habiskan waktu dengan istirahat. Saya dan Rodhim yang terserang rasa kantuk yang hebat pun terlelap tidur. Sementara Edo dan Miko masih terjaga menikmati laut selat Lombok. Menjelang masuk ke Pelabuhan Lembar, kami dikejutkan kehadiran beberapa ekor lumba-lumba yang berenang dalam formasi yang cantik. Walaupun jaraknya beberapa ratus meter dari kapal tapi kami masih bisa menikmati rangkaian cantik lumba-lumba tersebut. Tiba-tiba saja kami merasa begitu istimewa, lumba-lumba Lombok ternyata punya selera bagus terhadap orang ganteng seperti kami. Haha.

Turun dari ferry kami langsung menuju Mataram, ibukota Lombok yang berjarak empatpuluhlima menit dari Pelabuhan Lembar. Sampai di Mataram kami menginap di rumah teman Rodhim. Kami langsung mnyerbu kamar mandi untuk membersihkan diri, badan penuh keringat dan wajah yang terus menerus ditampar debu selama perjalanan ini memang terasa sangat lengket dan bau. Setelah mandi, lalu kami tidur sampai malam. Akibatnya, malam hari kami tidak bisa tidur! Oh Tuhan. Kami pun mengisi waktu dengan mengobrol, makan malam, dan ngenet. Setelah kami kalkulasi, ternyata perjalanan dari Surabaya menuju Mataram kami tempuh dalam waktu duapuluhtiga jam. Edan.

31 Desember 2009

Pagi itu Miko dan Rodhim mandi paling pagi. Mereka harus menuju kantor pemerintah untuk menemui salah seorang kepala dinas untuk keperluan survey. Saya yang pagi memiliki rencana untuk servis motor, terpaksa harus batal karena tiba-tiba Miko dan Rodhim sudah kembali dari dinas dan mendapat persetujuan untuk menemui orang di Gili Air untuk keperluan wawancara.

Setelah sarapan, kami bersiap menuju Gili Air. Sebelumnya saya tidak mempunyai bayangan apa pun tentang Lombok dan tiga Gili. Kami berangkat menuju Gili Air sekitar pukul sebelas siang. Dari kota Mataram kami menuju Bangsal, dermaga untuk menyeberang menuju tiga Gili tersebut. Kami melewati jalur pantai, jalanan yang kami lewati cukup mulus, dengan pemandangan bukit dan laut lepas. Sangat indah. Apalagi pemandangan di Malimbu Beach, sekitar duapuluh menit dari Mataram. Namun ada masalah yang sedikit mengganggu benak saya, yaitu banyaknya papan penunjuk informasi tanah dijual atau disewakan. Bahkan sampai tanah yang berada di pinggir laut yang berupa bukit batu pun tak luput dari komersialisasi tersebut.

Sampai di Bangsal kami memarkir motor dan bergegas membeli tiket untuk menyeberang ke Gili Air. Kami sempat kebingungan, karena destinasi ke Gili Air yang kurang diminati ketimbang dua Gili lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa satu kapal one way seharga Rp. 155.000. Pengelolaan tiket cukup rapi, sepertinya dikelola oleh warga setempat dan berbentuk badan usaha koperasi. Seharusnya memang pengelolaan wisata di Indonesia seperti ini, sehingga bisa meningkatkan tingkat ekonomi warga lokal. Suasananya sendiri siang itu cukup ramai dan panas. Menurut info yang kami terima, yang paling diminati adalah Gili Trawangan karena disana banyak wisatawan lokal maupun asing yang akan merayakan pergantian tahun. Pada hari biasa pun Gili Trawangan merupakan destinasi utama ketimbang Gili lainnya.

Akhirnya kami menyeberang ke Gili Air dengan menumpang satu kapal kapasitas duapuluh orang yang hanya terisi empat orang, yaitu kami ini para traveler ganteng dari Surabaya. Banyak pertimbangan di sini kenapa kita tidak memilih layanan public boat dengan harga 10.000 per orang, yang paling utama karena si Miko yang ingin segera menemui orang Dinas Pariwisata. Jika menggunakan public boat, kami musti menunggu kapal penuh terisi duapuluh orang terlebih dahulu. Dan itu dipastikan akan makan waktu berjam-jam lamanya karena kurangnya minat wisatawan menuju Gili Air.

Menuju Gili Air dari Bangsal butuh waktu sekitar duapuluh menit, di sini kami berpencar: Miko dan Rodhim bergegas menemui orang dinas di salah satu tempat makan bernama Dream Divers sedangkan saya dan Edo memilih menunggu di bawah pohon sambil menikmati udara panas. Ternyata di samping tempat kami berteduh sedang ada sesi wawancara beberapa wartawan kepada seorang tetua Gili Air. Para wartawan itu memanggilnya Pak Haji. Wawancara tersebut berada di sebuah beruga, saya pun tertarik untuk menyimak.

Dari hasil mencuri dengar tersebut saya mendapatkan banyak cerita. Antara lain legenda masyarakat di sekitar Gili Air yang percaya bahwa nenek moyang mereka adalah orang Bugis yang berlayar. Di tengah perjalanannya kapal mereka pecah, mereka lalu diselamatkan oleh kura-kura. Di Gili Air sendiri terdapat pantangan memakan telur kura-kura atau segala hal apapun yang berhubungan dengan meyakiti kura kura.

Menurut cerita Pak Haji, pada tahun 1984 penduduk di Gili Air hanya sekitar 25 KK, namun sekarang populasinya membludak berkali lipat sampai kurang lebih 1000 jiwa. Pak Haji juga berpendapat bahwa rusaknya terumbu karang di sekitar pantai tiga Gili bukanlah karena penggunaan bom ikan, melainkan karena naiknya suhu laut di permukaan bumi. Pada tahun 1989, Pak Haji sangat menentang pembangunan sarana pariwisata seperti hotel dan resort di kawasan tiga Gili. Pak Haji percaya hal tersebut akan mengakibatkan turunnya tinggi pulau terhadap permukaaan laut, dan habisnya pemakaian air tawar di pulau tersebut karna eksploitasi operasional hotel. Pak Haji ini lahir dan besar di Gili Air, dua anaknya menikah dengan orang Australia dan Turki. Mendengar penuturan Pak Haji kepada para wartawan itu saya jadi punya sedikit cerita yang bisa dibagikan.

Tak lama kemudian Miko dan Rodhim datang. Selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri Gili Air ke arah timur sesekali berhenti untuk mengambil gambar. Kami sempat bertemu nelayan pengantar turis asing untuk diving yang merapat dan membawa ikan sebesar bayi tujuh bulan. Dia menyebut ikan tersebut Jackfish.

Suasana Gili Air dari siang hingga sore cukup lengang, hanya terdengar alunan musik reggae dari beberapa minibar di pinggir pantai. Beberapa bule terlelap tidur di beruga yang ada di sepanjang pantai. Rodhim sudah tidak kuat lagi menahan hasrat untuk menceburkan diri ke laut, saya hanya duduk-duduk di pinggir pantai, mencoba merenungi apa yang saya lihat. Sesekali terdengar warga lokal berkaraoke diiringi genjrengan gitar di sebuah minibar belakang kami menyanyikan lagu dari Peterpan hingga Steven n the Coconut Trees dan beberapa anthem reggae lainnya.

Hari sudah semakin sore ketika kita bergerak kembali menyusuri pinggiran kafe-kafe kecil di pinggir pantai menuju arah barat, arah tempat kami mendarat tadi siang. Tak disangka niat kami untuk kembali ke Mataram dulu dan melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan esok pagi, tiba-tiba buyar. Karena kapal terakhir menuju bangsal telah berangkat. Sedikit kebingungan, akhirnya kami melihat satu kapal yang mengangkut para bule, Miko dan Rodhim dengan sigap bertanya kepada awak kapal,”Ini kapalnya kemana pak?”, ternyata kapal ini ke Gili Trawangan, yeah!

Setelah tawar menawar dengan pemilik kapal, kami setuju dengan tarif seratus ribu rupiah untuk empat orang. Kami pun menyeberang ke Gili Trawangan sore itu tanpa punya bayangan kita akan tidur di mana malam nanti. Saat itu satu kapal penuh semua dengan bule yang berjumlah kurang lebih duapuluh orang, tiga awak kapal, dan empat orang gembel dari Surabaya ini.

Debur ombak menggoyang kapal, saya hanya tersenyum dan tertawa, ksangat menikmati perjalanan ke Gili Trawangan tersebut. Saya terpukau dengan keramah tamahan si awak kapal yang cukup fasih berbahasa Inggris, sebelum kita berangkat dan turun dari kapal, layaknya guide internasional, dia mengucapkan salam dan basa basi. Ia juga pandai membuat joke dengan mempelesetkan kata gili trawangan menjadi gili tralala. Beberapa saat kemudian kami telah sampai di Gili Trawangan. Kami yang tidak punya rencana akhirnya hanya berjalan-jalan saja di sepanjang pantai menuju arah matahari terbenam.

Suasana New Year Eve di Gili Trawangan lebih tampak seperti bazaar di kampung-kampung; meriah tapi beraura internasional. Kanan kiri penuh kafe, tempat duduk, meja meja makan, minibar, dan alunan musik-musik chillout. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Buddha Dive Cafe yang memajang patung Buddha di depannya, seperti Buddha Bar yang terkenal, namun Buddhanya gendut dan tersenyum lebar seperti orang mabuk. Kami hanya berjalan kesana kemari tanpa tujuan, mbambung. Lalu kami bertemu dengan anak-anak dari Surabaya juga. O ya, saat kami juga sempat mendapat ucapan selamat makan dengan lafal yang cukup fasih dari turis asing saat kita makan nasi bungkus di beruga pantai. Gili Trawangan adalah sebuah desa internasional, kami semua di sini memiliki tujuan yang sama dan untuk itu kami secara instan menjadi saudara. Kami sungguh-sungguh mencintai tempat ini!

Sampai menjelang tengah malam kami tetap tidak tahu kemana tujuan kami, akhirnya kami beristirahat di sebuah beruga milik sebuah villa. Akhirnya rencana istirahat kami hancur karena mendapat usiran halus untuk pergi, kami tidak tahu kalau beruga itu adalah tempat jaga petugas keamanan villa tersebut. Sambil berbasa-basi, saya sempat ngobrol dengan salah satu bapak penjaga villa tersebut, saya jadi tahu kalau rata-rata hotel dan resort yang ada di Gili Trawangan adalah milik orang asing. Harga tanah per meter di Gili Trawangan juga mahal, berkisar antara seratus juta rupiah per meter persegi, itu pun bukan di kawasan utama tapi di kawasan yang agak jauh dari keramaian.

Setelah diusir, kami pun bergerak kembali berjalan kaki dengan niat mencari tempat penginapan. Namun karena budget yang terbatas, kami pun mengurungkan niat kami mencari hostel. Kami lewati kembali jalan di sepanjang pantai yang semakin malam semakin meriah, riuh rendah orang-orang gempita menanti pergantian tahun. Akhirnya setelah beberapa lama berjalan, kami menemukan beruga sederhana, yang mungkin kalo siang hari digunakan sebagai tempat berteduh. Bukan beruga seperti milik villa tadi yang cukup kuat dan bagus, beruga ini sederhana –kalau tidak mau dibilang reyot- dan saya yakin kalo hujan pasti atapnya bocor. Beruga inilah yang akan kami gunakan sebagai shelter untuk tidur malam ini.

Makan malam kami saat itu adalah sate bulayak, bentuknya nggak beda jauh sama sate ayam, namun beda di bumbunya. Makan sate bulayak paling enak dengan ketupat dengan diameter kecil yang dibungkus daun kepala muda. Ini lontong khas Lombok. Limabelas tusuk sate yang kami beli dibagi untuk empat orang. Sate dan ketupat kcil itu tentu saja tidak cukup mengganjal perut kami yang keroncongan habis jalan seharian. Tapi tak apalah, kami punya cara sendiri untuk melewati malam tahun baru. Hehe. Setelah makan, kami tiduran di beruga karena tubuh sudah remuk. Malamnya saya sempat terbangun karena mendengar suara ledakan kembang api di udara memecah tengah malam. Oh sudah tahun baru rupanya. Hmm Happy New Year!

1 Januari 2010


Pagi itu saya bangun paling buncit. Miko paling duluan bangun karena ingin mengambil foto sunrise. Meski matahari sudah tinggi, masih saja terdengar alunan musik yang cukup keras dari pulau seberang yaitu Gili Meno. Di pantai saya lihat banyak turis asing bergeletakan tidak memakai baju dan beralaskan pasir, sisa hangover semalaman. Herannya mereka tidak kedinginan, padahal angin semalam cukup keras berhembus. Saat saya bangun, Edo, Rodhim, dan Miko sudah asyik menikmati surutnya air laut dengan mencari hewan laut yang aneh-aneh di sepanjang pantai. Saya pun menyusul mereka menikmati hamparan rumput laut dan matahari pagi pertama di tahun baru. Saya dan Miko pun berjalan-jalan saja, kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan.

Pagi itu, menurut itinerary, kami harus kembali ke bangsal. Kami pun mengantri tiket terlebih dahulu di loket yang terletak setengah kilo ke arah barat dari shelter beruga kami. Disana sudah banyak warga lokal dan turis asing yang ingin meninggalkan Gili Trawangan. Cukup berjubel juga. Setalah sepuluh menit antri, akhirnya kami pun dapat tiket public boat dengan harga Rp. 10.000/orang. Walaupun cuaca pagi itu kurang cerah karna mendung, tapi suasana hati saya senang karna bisa menikmati apa yang telah saya lakukan di Gili. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa; melewati New Year Eve di salah satu hottest destination on earth! How amazing!

Dari Bangsal menuju Mataram, kami menggunakan jalur yang berbeda dari jalur berangkat. Saat pulang kami melewati daerah perbukitan dan gunung yang menurut Rodhim daerah tersebut bernama Pusuk. Di sini banyak kera liar dari hutan yang turun berkeliaran di jalan. Mulai hanya yang duduk-duduk saja sampai menyebrang jalan. Jumlahnya memang bisa dihitung dengan jari, namun sepanjang beberapa kilometer ke depan masih sering saja terlihat kera-kera Pusuk tersebut. Sampai akhirnya kami berhenti di tempat mangkal kera-kera yang menunggu pemakai jalan berhenti hanya untuk sekedar berinteraksi dengan mereka dengan memberi makanan kecil seperti roti, buah, dan kacang.

Beberapa kilometer di depan Pusuk terdapat anyak penjual durian yang berjajar di sisi bahu jalan, kami sempatkan berhenti untuk membeli dua biji durian dengan harga 25.000. kami berniat memberi buah tangan pada Mbah pemilik rumah tempat kami menginap.

Sesampai di rumah kami beristirahat total sampai esok pagi.

2 Januari 2010

Kami santai saja hari itu karna mungkin dini hari nanti kami berencana kembali ke Surabaya. Kami semua bangun telah lewat pukul 07.00 WITA. Siang hari setelahnya kami pergi mencari beberapa cinderamata di daerah Cakranegara. Siang itu cuaca cukup panas, dari rumah tempat kami menginap menuju Cakranegara kurang lebih limabelas menit. Daerah Cakranegara adalah pusat grosir dengan toko berjajar di kanan kiri jalan. Tidak semuanya menjual cinderamata. Di sini kita bisa membeli kaos, tas, kopyah, kain tenun, dengan desain khas Lombok. Harganya pas tidak bisa ditawar, rata-rata harga kaos adalah delapan belas hingga duapuluhlima ribu. Edo dan Miko terlihat kalap, mereka paling banyak membeli oleh-oleh.

Setelah sekitar satu jam kami belanja, kami baru merasa bahwa tentengan kami menjadi berlipat kali banyaknya. Kami pun bergeser menuju daerah Karangbelo, saya belum tahu sebelumnya bahwa daerah ini adalah sentra penjualan kerajinan mutiara. Ada berbagai macam jenis mutiara yang dijual, dua jenis utama adalah mutiara air tawar dan mutiara air asin. Dari Cakranegara menuju Karangbelo tidak jauh, hanya sekitar 20 menit. Kawasan ini masih masuk kota Mataram, namun agak pinggiran. Setelah sampai di sana, kami berhenti di salah satu toko. Saya cukup terkejut juga, karena ada berbagai macam kerajinan mulai bros, cincin, kalung, gelang, dan tasbih dengan harga sepuluh ribu sampai ratusan ribu rupiah. Bagi para penghobi belanja ini adalah kawasan surga. Setelah cukup puas berbelanja, kami pun kembali ke rumah menjelang sore.

Ini malam terakhir kami di Lombok. Beberapa jam lagi kami harus kembali ke Surabaya. Setelah bersiap ini itu dan sempat tidur sebentar untuk mengisi tenaga. Tepat pukul 1.30 dini hari kami mulai keluar rumah, menyalakan motor, mengecek barang-barang kami yang mungkin tertinggal, lalu berpamitan untuk pulang ke Surabaya. Saat menuju Pelabuhan Lembar, kami sempat tersesat, lagi-lagi karna Rodhim lupa. Kami sempat tersesat duapuluh kilometer menuju Lombok Tengah sebelum kami menyadari kalau kami salah arah. Kami pun buru-buru balik arah. Lombok yang sepi populasi semakin terasa mencekam pada malam hari. Saat memasuki Pelabuhan Lembar, kami kaget saat tahu bahwa tarif berangkat dan pulang ternyata sama yaitu Rp. 86.000. Perhitungan kami meleset. Karena menurut info yang kami dapat sebelumnya, tarif pulang lebih murah daripada berangkat. Uang kami makin tipis jadinya. Setelah naik diatas kapal, kami masing pun segera mengambil posisi istirahat, dan akhirnya terlelap tidur sampai memasuki Pelabuhan Padangbai, Bali.

3 Januari 2010

Sampai di Pelabuhan Padang Bai kira-kira pukul sembilan pagi. Kami tidak berhenti, namun segera melanjutkan perjalanan menuju Gilimanuk. Di daerah Tabanan kami sempat mampir di Pasar Kodok (Frog Market) dan berburu apparel bekas. Kegiatan belanja di Pasar Kodok sangat menguras energi. Sekitar pukul 12.30 WITA kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gilimanuk. Sampai di pelabuhan suasana padat sekali karena banyak turis lokal yang kembali ke Pulau Jawa setelah merayakan liburan akhir tahun. Sampai di Ketapang, Banyuwangi, kami melanjutkan perjalanan menuju Surabaya tercinta. Sampai di Surabaya malam hari pukul 21.00 WIB. Alhamdulillah saat perjalanan pulang kami tempuh dengan sangat lancar. Setelah kami hitung perjalanan pulang kami tempuh dalam 20 jam.