Pages

2/11/10

Gili Lovers, Yes We Are!


Teks: Wahyu Gunawan
Foto: Miko Mantap

______________________________________________

Kontributor










Wahyu Gunawan adalah seorang mahasiswa Desain Grafis tingkat akhir. Gemar traveling dengan menggunakan sepeda motor. Gunawan memiliki obsesi untuk menyusuri tanah liar Sumbawa dengan sepeda motor seorang diri. Mari kita doakan agar dia selamat di perjalanan.










Miko Mantap adalah teman Gunawan. Mereka berdua saling mencintai. Miko seorang fotografer handal, memiliki spesialisasi di bidang commercial and wedding photography. Mengelola usaha bernama MikoPhoto Indonesia, entah jalan entah tidak.

TravelMate: Edo Gunarsono dan Rodhim Larajiwa

______________________________________________

Menjelang akhir tahun saya mendapat kabar dari seorang teman bernama Miko bahwa dia akan melakukan perjalanan ke Lombok, NTB. Miko pergi untuk survey Tugas Akhirnya yang mengambil subjek Lombok. Seminggu sebelum saya berangkat, saya pastikan untuk ikut serta, walaupun kondisi ekonomi akhir tahun kemaren cukup mengenaskan. Hehe.

Berbekal tekad saya bulatkan untuk nekat ikut. Karna beberapa kali rencana saya traveling ke Lombok terpaksa ditunda karena urusan kerjaan. Kali ini saya sudah siap berangkat. Travelmate saya cukup banyak, yaitu Edo, Miko, dan Rodhim. Rencana awal sih kita akan berangkat tanggal 28 Desember, tapi setelah keruwetan sana sini akhirnya baru pada tanggal 29 Desember kita bisa berangkat dari Surabaya menuju Lombok. Kami semua pergi dengan menggunakan motor, formasinya: saya berboncengan dengan Edo, lalu Miko membonceng Rodhim.

Motif kami untuk pergi ke Lombok tidak seragam. Saya dan Edo sih murni ingin liburan, sedangkan Miko untuk survey dan Rodhim adalah guide, karena hanya dia seorang yang sudah pernah mengunjungi Lombok sebanyak lima kali. Dia sudah hafal jalan di Lombok.

29 Desember 2009

Rencana awal kita akan berangkat sebelum jam duabelas siang. Yah tapi rencana tinggal rencana, faktanya: kami semua molor! Kami semua baru tidur menjelang pukul tiga pagi. Padahal besok pagi kami harus berangkat. Kami janjian di rumah seorang teman di daerah Prapen. Saya sudah datang pukul sepuluh pagi, namun sialnya STNK motor saya ketinggalan di rumah. Bukan hanya saya, surat survey Miko juga ketinggalan di kos. Maka kita putuskan untuk bertemu kembali sejam kemudian di Stasiun Waru.

kami mulai dari stasiun waru pukul 13.30 WIB. Setelah sampai Gedangan, Sidoarjo, Miko harus kembali ke kost di Keputih karna charger kamera DSLR milinya ketinggalan! Anjriiit! Saya langsung lemas seketika, padahal awalnya semangat sudah berkobar kobar, langsung mati seperti korek yang disiram sirup. Kami putuskan untu menunggu Miko di masjid Pabrik Gula Candi, Sidoarjo. Di sini Edo sempat memotret lori-lori tua dengan kamera manual anehnya, sepertinya itu kamera lomo.

Pukul 15.00 WIB, Miko dan Rodhim belum sampai juga. Saya dan Edo akhirnya menunggu mereka di Gempol. Setelah mereka berdua datang, kami recheck untuk terakhir kalinya dan memastikan semuanya sudah siap. Kami gak mau sudah sampai Banyuwangi harus terpaksa balik ke Surabaya karena salah satu dari kami lupa membawa celana dalam. Jadi persiapkan perjalananmu dengan sempurna, kawan.

Melewati Bangil mendadak gerimis turun, kita sempat berhenti di warung untuk berteduh. Miko yang katanya belum makan dari pagi pun memesan makanan. Setelah reda, kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini nonstop. Kami geber kuda-kuda besi kami tanpa henti sampai pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Sebelum menyebrang ke Bali kita mengisi perut di sekitar pelabuhan dan saya mengeluarkan sembilanbelas ribu untuk makan ayam goreng yang cukup besar dan minum teh hangat. Sebuah harga yang cukup nampol buat traveler low budget seperti kami.

30 Desember 2009

Sebuah kebetulan menyapa kami. Di atas kapal kami bertemu dengan Pak Thomas, seorang dosen ganteng dari kampus kami. Beliau sangat excited begitu kami cerita tujuan kami ke Lombok. Pak Thomas dan keluarganya sangat baik dan perhatian. Bahkan turun dari kapal di pelabuhan Gilimanuk, kami sempat berhenti sebentar untuk makan dini hari karena dipaksa ditraktir oleh Pak Thomas dan keluarga. Haha, makasih pak!

Pisah dari Pak Thomas, kami kebut jalur menuju Denpasar. Saya sendiri sudah kehabisan energi, mata ini sudah sangat berat rasanya, saya pun beberapa kali mengigau di atas motor. Bebrapa kali helm saya membentur helm Edo yang saat itu sedang giliran bawa motor membelah keheningan daerah Bali Barat. Sesampainya di Tabanan, sekitar jam lima pagi kita berhenti di sebuah pom bensin. Edo dan Rodhim pun diserang kantuk luar biasa, padahal ini saatnya mereka nyetir. Mungkin kami memang kurang istirahat sebelum berangkat, baru di Tabanan saja rasanya kami sudah sangat loyo luar biasa.

Tapi bayangan kami tentang birunya laut Lombok dan eksotisme pantai putihnya mengalahkan segala jenis kantuk. Dengan keyakinan bahwa cahaya pagi hari akan membilas mata dari kantuk, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Padangbai, pintu utama menuju Lombok. Perkiraan kami salah, udara pagi di Bali yang sejuk ternyata sangat efektif untuk membius mata kami, jalur Tabanan - Padangbai pun terasa sangat panjang dan tak berujung. Kesialan kembali menemui kami; untuk menuju Padangbai dengan cepat, seharusnya setelah Denpasar kami bisa lewat jalur bypass, tapi itu tidak kami lakukan karena ternyata Rodhim yang menjadi guide lupa jalan! WTH! Namun kealpaan Rodhim kali ini bisa kami maklmi. Melewati jalan bukan bypass membuat kami bisa melewati sisi pedesaan Bali di pagi hari yang indah. Itu membuat saya sangat bersyukur bisa menikmati suasana Bali yang masih sepi, kontur jalan yang berkelok, dan landscape view yang cantik, cukuplah bagi biker pemula seperti saya.

Pukul tujuh pagi kami sampai juga di Pelabuhan Padangbai. Total perjalanan kami dari Gilimanuk menuju Padangbai kurang lebih lima jam. Sebelum menyeberang, kami sempatkan untuk istirahat di pelabuhan untuk cuci muka dan makan. Sekitar pukul delapan pagi kami pun menyeberang menuju pelabuhan Lembar, pelabuhan yang menjadi pintu masuk Lombok. Tarif kapal ferry Rp.86.000 untuk sebuah motor dan dua orang penumpang.

Penyeberangan ke Lombok sekitar lima jam, dan kami habiskan waktu dengan istirahat. Saya dan Rodhim yang terserang rasa kantuk yang hebat pun terlelap tidur. Sementara Edo dan Miko masih terjaga menikmati laut selat Lombok. Menjelang masuk ke Pelabuhan Lembar, kami dikejutkan kehadiran beberapa ekor lumba-lumba yang berenang dalam formasi yang cantik. Walaupun jaraknya beberapa ratus meter dari kapal tapi kami masih bisa menikmati rangkaian cantik lumba-lumba tersebut. Tiba-tiba saja kami merasa begitu istimewa, lumba-lumba Lombok ternyata punya selera bagus terhadap orang ganteng seperti kami. Haha.

Turun dari ferry kami langsung menuju Mataram, ibukota Lombok yang berjarak empatpuluhlima menit dari Pelabuhan Lembar. Sampai di Mataram kami menginap di rumah teman Rodhim. Kami langsung mnyerbu kamar mandi untuk membersihkan diri, badan penuh keringat dan wajah yang terus menerus ditampar debu selama perjalanan ini memang terasa sangat lengket dan bau. Setelah mandi, lalu kami tidur sampai malam. Akibatnya, malam hari kami tidak bisa tidur! Oh Tuhan. Kami pun mengisi waktu dengan mengobrol, makan malam, dan ngenet. Setelah kami kalkulasi, ternyata perjalanan dari Surabaya menuju Mataram kami tempuh dalam waktu duapuluhtiga jam. Edan.

31 Desember 2009

Pagi itu Miko dan Rodhim mandi paling pagi. Mereka harus menuju kantor pemerintah untuk menemui salah seorang kepala dinas untuk keperluan survey. Saya yang pagi memiliki rencana untuk servis motor, terpaksa harus batal karena tiba-tiba Miko dan Rodhim sudah kembali dari dinas dan mendapat persetujuan untuk menemui orang di Gili Air untuk keperluan wawancara.

Setelah sarapan, kami bersiap menuju Gili Air. Sebelumnya saya tidak mempunyai bayangan apa pun tentang Lombok dan tiga Gili. Kami berangkat menuju Gili Air sekitar pukul sebelas siang. Dari kota Mataram kami menuju Bangsal, dermaga untuk menyeberang menuju tiga Gili tersebut. Kami melewati jalur pantai, jalanan yang kami lewati cukup mulus, dengan pemandangan bukit dan laut lepas. Sangat indah. Apalagi pemandangan di Malimbu Beach, sekitar duapuluh menit dari Mataram. Namun ada masalah yang sedikit mengganggu benak saya, yaitu banyaknya papan penunjuk informasi tanah dijual atau disewakan. Bahkan sampai tanah yang berada di pinggir laut yang berupa bukit batu pun tak luput dari komersialisasi tersebut.

Sampai di Bangsal kami memarkir motor dan bergegas membeli tiket untuk menyeberang ke Gili Air. Kami sempat kebingungan, karena destinasi ke Gili Air yang kurang diminati ketimbang dua Gili lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa satu kapal one way seharga Rp. 155.000. Pengelolaan tiket cukup rapi, sepertinya dikelola oleh warga setempat dan berbentuk badan usaha koperasi. Seharusnya memang pengelolaan wisata di Indonesia seperti ini, sehingga bisa meningkatkan tingkat ekonomi warga lokal. Suasananya sendiri siang itu cukup ramai dan panas. Menurut info yang kami terima, yang paling diminati adalah Gili Trawangan karena disana banyak wisatawan lokal maupun asing yang akan merayakan pergantian tahun. Pada hari biasa pun Gili Trawangan merupakan destinasi utama ketimbang Gili lainnya.

Akhirnya kami menyeberang ke Gili Air dengan menumpang satu kapal kapasitas duapuluh orang yang hanya terisi empat orang, yaitu kami ini para traveler ganteng dari Surabaya. Banyak pertimbangan di sini kenapa kita tidak memilih layanan public boat dengan harga 10.000 per orang, yang paling utama karena si Miko yang ingin segera menemui orang Dinas Pariwisata. Jika menggunakan public boat, kami musti menunggu kapal penuh terisi duapuluh orang terlebih dahulu. Dan itu dipastikan akan makan waktu berjam-jam lamanya karena kurangnya minat wisatawan menuju Gili Air.

Menuju Gili Air dari Bangsal butuh waktu sekitar duapuluh menit, di sini kami berpencar: Miko dan Rodhim bergegas menemui orang dinas di salah satu tempat makan bernama Dream Divers sedangkan saya dan Edo memilih menunggu di bawah pohon sambil menikmati udara panas. Ternyata di samping tempat kami berteduh sedang ada sesi wawancara beberapa wartawan kepada seorang tetua Gili Air. Para wartawan itu memanggilnya Pak Haji. Wawancara tersebut berada di sebuah beruga, saya pun tertarik untuk menyimak.

Dari hasil mencuri dengar tersebut saya mendapatkan banyak cerita. Antara lain legenda masyarakat di sekitar Gili Air yang percaya bahwa nenek moyang mereka adalah orang Bugis yang berlayar. Di tengah perjalanannya kapal mereka pecah, mereka lalu diselamatkan oleh kura-kura. Di Gili Air sendiri terdapat pantangan memakan telur kura-kura atau segala hal apapun yang berhubungan dengan meyakiti kura kura.

Menurut cerita Pak Haji, pada tahun 1984 penduduk di Gili Air hanya sekitar 25 KK, namun sekarang populasinya membludak berkali lipat sampai kurang lebih 1000 jiwa. Pak Haji juga berpendapat bahwa rusaknya terumbu karang di sekitar pantai tiga Gili bukanlah karena penggunaan bom ikan, melainkan karena naiknya suhu laut di permukaan bumi. Pada tahun 1989, Pak Haji sangat menentang pembangunan sarana pariwisata seperti hotel dan resort di kawasan tiga Gili. Pak Haji percaya hal tersebut akan mengakibatkan turunnya tinggi pulau terhadap permukaaan laut, dan habisnya pemakaian air tawar di pulau tersebut karna eksploitasi operasional hotel. Pak Haji ini lahir dan besar di Gili Air, dua anaknya menikah dengan orang Australia dan Turki. Mendengar penuturan Pak Haji kepada para wartawan itu saya jadi punya sedikit cerita yang bisa dibagikan.

Tak lama kemudian Miko dan Rodhim datang. Selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri Gili Air ke arah timur sesekali berhenti untuk mengambil gambar. Kami sempat bertemu nelayan pengantar turis asing untuk diving yang merapat dan membawa ikan sebesar bayi tujuh bulan. Dia menyebut ikan tersebut Jackfish.

Suasana Gili Air dari siang hingga sore cukup lengang, hanya terdengar alunan musik reggae dari beberapa minibar di pinggir pantai. Beberapa bule terlelap tidur di beruga yang ada di sepanjang pantai. Rodhim sudah tidak kuat lagi menahan hasrat untuk menceburkan diri ke laut, saya hanya duduk-duduk di pinggir pantai, mencoba merenungi apa yang saya lihat. Sesekali terdengar warga lokal berkaraoke diiringi genjrengan gitar di sebuah minibar belakang kami menyanyikan lagu dari Peterpan hingga Steven n the Coconut Trees dan beberapa anthem reggae lainnya.

Hari sudah semakin sore ketika kita bergerak kembali menyusuri pinggiran kafe-kafe kecil di pinggir pantai menuju arah barat, arah tempat kami mendarat tadi siang. Tak disangka niat kami untuk kembali ke Mataram dulu dan melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan esok pagi, tiba-tiba buyar. Karena kapal terakhir menuju bangsal telah berangkat. Sedikit kebingungan, akhirnya kami melihat satu kapal yang mengangkut para bule, Miko dan Rodhim dengan sigap bertanya kepada awak kapal,”Ini kapalnya kemana pak?”, ternyata kapal ini ke Gili Trawangan, yeah!

Setelah tawar menawar dengan pemilik kapal, kami setuju dengan tarif seratus ribu rupiah untuk empat orang. Kami pun menyeberang ke Gili Trawangan sore itu tanpa punya bayangan kita akan tidur di mana malam nanti. Saat itu satu kapal penuh semua dengan bule yang berjumlah kurang lebih duapuluh orang, tiga awak kapal, dan empat orang gembel dari Surabaya ini.

Debur ombak menggoyang kapal, saya hanya tersenyum dan tertawa, ksangat menikmati perjalanan ke Gili Trawangan tersebut. Saya terpukau dengan keramah tamahan si awak kapal yang cukup fasih berbahasa Inggris, sebelum kita berangkat dan turun dari kapal, layaknya guide internasional, dia mengucapkan salam dan basa basi. Ia juga pandai membuat joke dengan mempelesetkan kata gili trawangan menjadi gili tralala. Beberapa saat kemudian kami telah sampai di Gili Trawangan. Kami yang tidak punya rencana akhirnya hanya berjalan-jalan saja di sepanjang pantai menuju arah matahari terbenam.

Suasana New Year Eve di Gili Trawangan lebih tampak seperti bazaar di kampung-kampung; meriah tapi beraura internasional. Kanan kiri penuh kafe, tempat duduk, meja meja makan, minibar, dan alunan musik-musik chillout. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Buddha Dive Cafe yang memajang patung Buddha di depannya, seperti Buddha Bar yang terkenal, namun Buddhanya gendut dan tersenyum lebar seperti orang mabuk. Kami hanya berjalan kesana kemari tanpa tujuan, mbambung. Lalu kami bertemu dengan anak-anak dari Surabaya juga. O ya, saat kami juga sempat mendapat ucapan selamat makan dengan lafal yang cukup fasih dari turis asing saat kita makan nasi bungkus di beruga pantai. Gili Trawangan adalah sebuah desa internasional, kami semua di sini memiliki tujuan yang sama dan untuk itu kami secara instan menjadi saudara. Kami sungguh-sungguh mencintai tempat ini!

Sampai menjelang tengah malam kami tetap tidak tahu kemana tujuan kami, akhirnya kami beristirahat di sebuah beruga milik sebuah villa. Akhirnya rencana istirahat kami hancur karena mendapat usiran halus untuk pergi, kami tidak tahu kalau beruga itu adalah tempat jaga petugas keamanan villa tersebut. Sambil berbasa-basi, saya sempat ngobrol dengan salah satu bapak penjaga villa tersebut, saya jadi tahu kalau rata-rata hotel dan resort yang ada di Gili Trawangan adalah milik orang asing. Harga tanah per meter di Gili Trawangan juga mahal, berkisar antara seratus juta rupiah per meter persegi, itu pun bukan di kawasan utama tapi di kawasan yang agak jauh dari keramaian.

Setelah diusir, kami pun bergerak kembali berjalan kaki dengan niat mencari tempat penginapan. Namun karena budget yang terbatas, kami pun mengurungkan niat kami mencari hostel. Kami lewati kembali jalan di sepanjang pantai yang semakin malam semakin meriah, riuh rendah orang-orang gempita menanti pergantian tahun. Akhirnya setelah beberapa lama berjalan, kami menemukan beruga sederhana, yang mungkin kalo siang hari digunakan sebagai tempat berteduh. Bukan beruga seperti milik villa tadi yang cukup kuat dan bagus, beruga ini sederhana –kalau tidak mau dibilang reyot- dan saya yakin kalo hujan pasti atapnya bocor. Beruga inilah yang akan kami gunakan sebagai shelter untuk tidur malam ini.

Makan malam kami saat itu adalah sate bulayak, bentuknya nggak beda jauh sama sate ayam, namun beda di bumbunya. Makan sate bulayak paling enak dengan ketupat dengan diameter kecil yang dibungkus daun kepala muda. Ini lontong khas Lombok. Limabelas tusuk sate yang kami beli dibagi untuk empat orang. Sate dan ketupat kcil itu tentu saja tidak cukup mengganjal perut kami yang keroncongan habis jalan seharian. Tapi tak apalah, kami punya cara sendiri untuk melewati malam tahun baru. Hehe. Setelah makan, kami tiduran di beruga karena tubuh sudah remuk. Malamnya saya sempat terbangun karena mendengar suara ledakan kembang api di udara memecah tengah malam. Oh sudah tahun baru rupanya. Hmm Happy New Year!

1 Januari 2010


Pagi itu saya bangun paling buncit. Miko paling duluan bangun karena ingin mengambil foto sunrise. Meski matahari sudah tinggi, masih saja terdengar alunan musik yang cukup keras dari pulau seberang yaitu Gili Meno. Di pantai saya lihat banyak turis asing bergeletakan tidak memakai baju dan beralaskan pasir, sisa hangover semalaman. Herannya mereka tidak kedinginan, padahal angin semalam cukup keras berhembus. Saat saya bangun, Edo, Rodhim, dan Miko sudah asyik menikmati surutnya air laut dengan mencari hewan laut yang aneh-aneh di sepanjang pantai. Saya pun menyusul mereka menikmati hamparan rumput laut dan matahari pagi pertama di tahun baru. Saya dan Miko pun berjalan-jalan saja, kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan.

Pagi itu, menurut itinerary, kami harus kembali ke bangsal. Kami pun mengantri tiket terlebih dahulu di loket yang terletak setengah kilo ke arah barat dari shelter beruga kami. Disana sudah banyak warga lokal dan turis asing yang ingin meninggalkan Gili Trawangan. Cukup berjubel juga. Setalah sepuluh menit antri, akhirnya kami pun dapat tiket public boat dengan harga Rp. 10.000/orang. Walaupun cuaca pagi itu kurang cerah karna mendung, tapi suasana hati saya senang karna bisa menikmati apa yang telah saya lakukan di Gili. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa; melewati New Year Eve di salah satu hottest destination on earth! How amazing!

Dari Bangsal menuju Mataram, kami menggunakan jalur yang berbeda dari jalur berangkat. Saat pulang kami melewati daerah perbukitan dan gunung yang menurut Rodhim daerah tersebut bernama Pusuk. Di sini banyak kera liar dari hutan yang turun berkeliaran di jalan. Mulai hanya yang duduk-duduk saja sampai menyebrang jalan. Jumlahnya memang bisa dihitung dengan jari, namun sepanjang beberapa kilometer ke depan masih sering saja terlihat kera-kera Pusuk tersebut. Sampai akhirnya kami berhenti di tempat mangkal kera-kera yang menunggu pemakai jalan berhenti hanya untuk sekedar berinteraksi dengan mereka dengan memberi makanan kecil seperti roti, buah, dan kacang.

Beberapa kilometer di depan Pusuk terdapat anyak penjual durian yang berjajar di sisi bahu jalan, kami sempatkan berhenti untuk membeli dua biji durian dengan harga 25.000. kami berniat memberi buah tangan pada Mbah pemilik rumah tempat kami menginap.

Sesampai di rumah kami beristirahat total sampai esok pagi.

2 Januari 2010

Kami santai saja hari itu karna mungkin dini hari nanti kami berencana kembali ke Surabaya. Kami semua bangun telah lewat pukul 07.00 WITA. Siang hari setelahnya kami pergi mencari beberapa cinderamata di daerah Cakranegara. Siang itu cuaca cukup panas, dari rumah tempat kami menginap menuju Cakranegara kurang lebih limabelas menit. Daerah Cakranegara adalah pusat grosir dengan toko berjajar di kanan kiri jalan. Tidak semuanya menjual cinderamata. Di sini kita bisa membeli kaos, tas, kopyah, kain tenun, dengan desain khas Lombok. Harganya pas tidak bisa ditawar, rata-rata harga kaos adalah delapan belas hingga duapuluhlima ribu. Edo dan Miko terlihat kalap, mereka paling banyak membeli oleh-oleh.

Setelah sekitar satu jam kami belanja, kami baru merasa bahwa tentengan kami menjadi berlipat kali banyaknya. Kami pun bergeser menuju daerah Karangbelo, saya belum tahu sebelumnya bahwa daerah ini adalah sentra penjualan kerajinan mutiara. Ada berbagai macam jenis mutiara yang dijual, dua jenis utama adalah mutiara air tawar dan mutiara air asin. Dari Cakranegara menuju Karangbelo tidak jauh, hanya sekitar 20 menit. Kawasan ini masih masuk kota Mataram, namun agak pinggiran. Setelah sampai di sana, kami berhenti di salah satu toko. Saya cukup terkejut juga, karena ada berbagai macam kerajinan mulai bros, cincin, kalung, gelang, dan tasbih dengan harga sepuluh ribu sampai ratusan ribu rupiah. Bagi para penghobi belanja ini adalah kawasan surga. Setelah cukup puas berbelanja, kami pun kembali ke rumah menjelang sore.

Ini malam terakhir kami di Lombok. Beberapa jam lagi kami harus kembali ke Surabaya. Setelah bersiap ini itu dan sempat tidur sebentar untuk mengisi tenaga. Tepat pukul 1.30 dini hari kami mulai keluar rumah, menyalakan motor, mengecek barang-barang kami yang mungkin tertinggal, lalu berpamitan untuk pulang ke Surabaya. Saat menuju Pelabuhan Lembar, kami sempat tersesat, lagi-lagi karna Rodhim lupa. Kami sempat tersesat duapuluh kilometer menuju Lombok Tengah sebelum kami menyadari kalau kami salah arah. Kami pun buru-buru balik arah. Lombok yang sepi populasi semakin terasa mencekam pada malam hari. Saat memasuki Pelabuhan Lembar, kami kaget saat tahu bahwa tarif berangkat dan pulang ternyata sama yaitu Rp. 86.000. Perhitungan kami meleset. Karena menurut info yang kami dapat sebelumnya, tarif pulang lebih murah daripada berangkat. Uang kami makin tipis jadinya. Setelah naik diatas kapal, kami masing pun segera mengambil posisi istirahat, dan akhirnya terlelap tidur sampai memasuki Pelabuhan Padangbai, Bali.

3 Januari 2010

Sampai di Pelabuhan Padang Bai kira-kira pukul sembilan pagi. Kami tidak berhenti, namun segera melanjutkan perjalanan menuju Gilimanuk. Di daerah Tabanan kami sempat mampir di Pasar Kodok (Frog Market) dan berburu apparel bekas. Kegiatan belanja di Pasar Kodok sangat menguras energi. Sekitar pukul 12.30 WITA kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gilimanuk. Sampai di pelabuhan suasana padat sekali karena banyak turis lokal yang kembali ke Pulau Jawa setelah merayakan liburan akhir tahun. Sampai di Ketapang, Banyuwangi, kami melanjutkan perjalanan menuju Surabaya tercinta. Sampai di Surabaya malam hari pukul 21.00 WIB. Alhamdulillah saat perjalanan pulang kami tempuh dengan sangat lancar. Setelah kami hitung perjalanan pulang kami tempuh dalam 20 jam.

7 comments:

yudhi puspa tya said...

hai salam kenal! :D

weehhh saluuutt!!! hebat bangett bisa motoran sampe lombok... arek surabaya emang tangguh! hihihi...
mau tanya dong itu daerah cakranegara sama karangbelo masih di mataram juga kan ya mas?

-nanasyalala- said...

yuhuuuiii....gili is d best place...feels like in heaveeennnn yeahhh!!!
koq mahal bgt nyebrangnya 100rb 4orang??bknnya per org 10rb???

airnya bening ya bokkk...pengen snorklig lagi disana..tapi sayang, kmrn ujan...='(
kalau ada yang mau traveling daerah ind. timur kabar2 yak.....

miko-photo said...

hohoho gili de best gun ayo mrono maneh!!!

sayang yang kedua kalian ga ikut aku sendirian ama maman...

tanggepan buat yudhi puspa tya: iya masih disana kok cakranegara ma sekarbela...

ckranegara deket mataram mall..
kalo sekar bela deket rembiga kayaknya...


buat nanasyalala:
kalo public emang 10rb per orang...
tp kita naik kapal yang buat snorkling... yang bawahnya ada kaca jadi kena 100rb...
kita naik ga melalui pelabuhan kecil itu...

oh ya saya miko

Anonymous said...

yudhi puspa tya : iya makasi, yup bener banget masi daerah mataram dan sekitarnya..

nana : critanya kita d gili air ketinggalan kapal balik ke bangsal na, trus lanjut aja ke trawangan naek kapal snorkling yg isinya WNA smw, mgkn ya itu org kapalnya narik tarif segitu...

didut said...

buset sampai lombok naek motor ..nekat banget deh ah :))

Anonymous said...

didut : ga nekat2 amat ko mbak, ms full prepare ini, sy n teman2 sendiri kalo nekat seringnya d trek2 pendek, jawa timur dan sekitarnya. tp bwt perjalanan kali ini alhamdulillah lancar. (gugun)

Anonymous said...

Miss lombok, abis TA ayo kesana.!!!

(MIKO)