Pages

2/11/10

Long Road To Ullen Sentalu



Teks dan foto oleh Dwi Putri

________________________________________________
Kontributor





Dwi Putri adalah seorang traveler dan hiker. Ia adalah salah satu kontributor utama blog ini. Suka membaca buku, khususnya travel novel. Terobsesi dengan Trinity dengan Naked Travelernya. Sedang menyukai lomografi, dan seorang movie freak sejati. Sebelumnya Putri pernah membagikan pengalamannya yang luar biasa saat traveling ke Kawah Ijen dan Karimunjawa untuk Hifatlobrain.




________________________________________________

Kalo kalian pernah liat kaos Dagadu yang bertuliskan ’Jogja Never Ending...’ ternyata itu beneran lho. Kenapa? Karena sejak kecil sampai sekarang, setelah keluar masuk kota Gudeg sebanyak ratusan kali, saya baru tau kalo ada Museum Seni dan Budaya Jawa Ullen Sentalu di daerah Kaliurang. Itu juga karena saya baru membaca artikel di sebuah majalah. Dan yang mengherankan, sepupu saya yang sudah lama tinggal di daerah lereng Merapi itu juga ndak tau keberadaan museum ini.

Informasi di majalah dan hasil googling; untuk menuju Ullen Sentalu tanpa kendaraan pribadi bisa dengan menyewa taksi dengan sistem carter, karena dikhawatirkan bisa ke Ullen, tapi ga bisa balik lagi ke Jogja. Diperkirakan tarifnya 150-200 ribu, tergantung nego. Kelebihan cara ini adalah kita bisa lebih cepet sampe ke Ullen, tapi agak mahal. Apalagi taksi itu cuman mau diisi empat orang saja, sedangkan kali ini saya bawa rombongan ibu PKK yang jumlahnya lima orang. Alternatif kedua; naik bus TransJogja ke Jalan Kaliurang (Jakal) dan dilanjutkan dengan naik angkot atau bus kota ke Jakal KM 25, hingga pertigaan Hotel Vogel, kemudian jalan kaki ke Ullen Sentalu.

Oke, mumpung lagi liburan di Jogja, pada hari Sabtu pagi yang cerah, cewek-cewek -yang ndak tau kenapa bisa kompakan make baju bernuansa merah dan pink, kecuali saya- sudah nongkrong di shelter TransJogja di daerah Malioboro-Sosrowijayan. Kebetulan kita menginap di hotel daerah itu. Karena dari kita berlima ndak ada yang pernah menjamah bus TransJogja sebelumnya, maka informasi dari petugas shelter sangatlah penting untuk didengarkan. Untuk menuju shelter Kentungan (shelter di daerah Jakal KM 5) kita harus oper bus dua kali, tapi bayarnya tetap sekali aja kok. Per orang 3000 rupiah saja, dudukan empuk plus AC plus radio yang selalu menyala. Saya jadi pengen di Surabaya ada bus Trans juga, asik kali ya, apalagi kalo petugas shelternya so friendly. Jadi ndak heran kalo bule juga banyak yang make moda transportasi ini.

Kekurangan naik bus TransJogja cuman satu: nunggunya lama, boros waktu. Walopun kedatangan bus sudah sangat terjadwal, tapi karena saat itu musim liburan, rasanya semua manusia tumplek blek di Malioboro, otomatis kemacetan juga ndak bisa dihindari. Pfuuh. Setelah turun dari bus Trans ketiga di shelter Kentungan, kita jalan kaki dulu ke daerah Jakal, untuk mencari tempat yang pas buat nunggu angkot berikutnya. Konsentrasi agak terganggu, karena kita berdiri di depan warung gudeg dan soto, hoho. Tadi pagi cuman sarapan roti, tapi karena hari sudah cukup siang, dan perjalanan kita masih 20 km lagi, yah, kita tahan-tahan saja.

Sekitar 15 menit menunggu, datanglah sebuah angkot dengan jenis Elf dengan desain seadanya. Sebenarnya kita agak enggan masuk, karena di dalam sudah sangat penuh, tapi ndak ada pilihan lain, daripada tambah kesiangan. Sopirnya bertipe kejar setoran, di tengah perjalanan juga masih nambah penumpang beserta keranjang belanjaan mereka yang banyak, tinggal nambah beberapa ekor ayam, sudah mirip pasar, asssiiik.

Sebenarnya, kami masih ndak ngerti mau turun di mana, tapi tiba-tiba ada tiga orang cewek yang duduk di depan saya menyeletuk sesuatu tentang Ullen Sentalu. Tanpa ba bi bu langsung aja saya potong dengan sok kenal, ”Mbak, mau ke Ullen Sentalu juga ya?” Dan mereka pun mengiyakan, hoho bagus. Kemudian saya berkenalan sungguhan dengan mereka dan ternyata Mbak Isna dan kawan-kawan yang datang dari Sleman itu juga ndak tau harus turun di mana. Waktu saya menginformasikan turun di Hotel Vogel, mereka cuman bilang, ”Oooh, ya udah kita ikutan turun di situ juga deh...” Saya cuman bisa melongo: “Lha yang orang Jogja itu siapa tho?” celetuk saya dalam hati.

Ternyata di bangku belakang temen saya pada asik dengan kegiatan masing-masing, Leny dan Rina yang dapet jackpot duduk dan diajak ngobrol bersama mbah yang agak -ehmm- mesum gitu. Trus Sulih dan Icha lagi ngobrol sama seorang wanita yang punya putra, dokter muda lagi magang di Surabaya, punya resto nasi bakar, dan sedang mencari jodoh. Sip! Tapi sayang sekali informasi alamatnya kurang jelas, karena si Ibu juga lupa-lupa ingat, padahal beliau semangat banget pas turun dari angkot sambil melambaikan tangan, ”Jangan lupa mampir ya, Mbaaaaak!”

Well, ternyata pak sopir tidak menjalankan angkotnya sampai Kaliurang Atas, cuman sampai Pasar Pakem aja, sedangkan menuju Ullen Sentalu masih sekitar 8 kilometer lagi. Tarif angkot ini per orang 5000 rupiah, kita turun di pangkalan ojek, suasana mulai gloomy doomy skinny. Saat itu langit mendung, gelap, lesu, wes kayak Gotham City aja. Suasana itu menjadi bertambah muram ketika hujan tiba-tiba turun dengan hebohnya.

Saya yang menjadi provokator perjalanan ini, mulai kepikiran, jangan-jangan ini museumnya ndak worthed. Temen-temen saya padahal udah pada dandan cantik pengen foto-foto, tapi lah kok sampe jam sebelas siang masih stuck di tengah jalan. Saya takut teman-teman saya yang cantik berubah jadi monster dan menerkam wajah imut saya.

Sekilas saja ada seorang tukang ojek yang bersedia menyewakan mobil, “Sampe Ullen Sentalu 80 ribu aja mbak,” katanya tanpa dosa. Haaah, walopun rombongan kita jadi berdelapan –akibat ketambahan tiga mbak yang ketemu di angkot- sekarang, tapi rasanya kok males gitu buat nyarter mobil. Terlalu mahal dan nuansa wildnya jadi ilang. Akhirnya kita milih nunggu di situ, menikmati hujan lengkap dengan sensasi kecipratan dari mobil yang lewat dan ketawa-ketawa mendengarkan kisah mesum si Mbah Angkot tadi. Haha. Nikmati saja perjalanan kalian kawan.

Hampir setengah jam kita berteduh di situ, hampir ndak ada angkot yang lewat. Tiba-tiba ada mas tukang ojek semangat neriakin kita, ”Mbak mbak itu ada yang mau ke atas!” Yes, terima kasih mas-ojek-tak-dikenal, dan kita pun bergegas menerobos hujan menuju angkot yang dimaksud. Namun, Mbak Isna dan kawan-kawan ndak ikut angkot ini, mereka menunggu salah seorang teman yang masih dalam perjalanan dari Magelang.

Setelah memastikan pada pak sopir bahwa angkot akan berjalan sampai Kaliurang Atas, maka kita pun masuk dengan gembira. Berbeda dengan angkot tadi, yang ini mah sepi pisan euy. Hanya ada kita berlima, seorang kenek, dan seorang bapak. Yang bikin suasana meriah adalah; hujannya masuk ke dalam angkot dengan lancar seperti air kran. Gak papa wes, kita hepi-hepi aja.

Betapa lengkap kegembiraan kita ketika Pak Sopir mengatakan dia tahu di mana letak museum itu. Jadi, kita harus turun di Taman Kaliurang, dan kemudian berjalan beberapa ratus meter sampai menemukan lapangan tenis dan gereja. Museumnya terletak di daerah itu.

Yap, sampai Taman Kaliurang, kita turun dan barulah di sana kita melihat Hotel Vogel yang ternyata adalah sebuah hostel bercat kuning cerah tepat di pertigaan taman tersebut.
Melewati beberapa pedagang bakso dan sate di Taman Kaliurang, bikin kita ingat perut. Krucuk krucuk. Tapi lagi-lagi kita tahaaan, karena setahu saya Ullen Sentalu tutup cepat pada sore hari. Ditambah lagi menurut info yang saya dapat dari internet, untuk turun ke jogja jangan terlalu sore, karena angkot sudah jarang lewat.

Kami pun mulai berjalan mencari di mana lapangan tenis itu berada. Hati-hati salah ambil jalan, karena ada jalan cabang yang salah satunya menuju Kaliurang lebih atas, dan itu hampir terjadi pada kami. Hehe. Setelah menemukan lapangan tenis dan gereja, ada penunjuk jalan super kecil yang bertuliskan Museum Seni dan Budaya Jawa Ullen Sentalu. Hoho. Ternayata beneran museum ini nyelempit senyelempit-nyelempitnya.

Sampailah kita di museum yang sangat rimbun itu, sodara-sodara. Ullen Sentalu ternyata adalah akronim dari ulating blencong sejatine tataning lumaku, yang artinya kira-kira adalah nyala pelita sebagai penunjuk jalan kehidupan manusia. Keseluruhan bangunan yang luasnya lebih dari satu hektar ini disebut Ndalem Kaswargan atau Taman Surga, dan diresmikan pada tahun 1997. Mungkin karena museum ini milik swasta, jadi tiket masuknya tergolong mahal. Untuk orang asing dipatok limapuluhribu rupiah, dewasa duapuluhlimaribu rupiah, dan jika Anda masih berwajah mahasiswa kere akan diberi diskon menjadi limabelasribu rupiah per orang. Tunjukkan saja KTM Anda. Biaya itu termasuk guide dan segelas jamu yang dipercaya dapat membuat Anda awet muda selamanya seperti Dayang Sumbi, hoho. Jadi kita memang tidak diijinkan masuk secara perorangan di dalam museum, karena jujur saja, kalo saya dilepas ke tempat ini tanpa panduan saya bisa nyasar dan masuk ke daerah-daerah horror.

Sistemnya, setiap satu jam satu rombongan boleh masuk ke dalam museum ditemani oleh seorang guide. Jadi pada saat beli tiket, sudah ditentukan bahwa orang ini masuk jam sekian. Waktu itu kita masuk ke museum pukul 12.30 WIB bersama sekitar 10 orang lainnya. Yap, mendadak kita menjadi manusia tahan hujan. Museumnya memang indoor, tapi ketika kita berpindah dari satu ruang ke ruang lain, kita akan melewati labirin sempit berdinding batu-batu dan beratapkan langit. Jadi ya tubuh imut ini jadi basah kuyup. Hujan pun masih terus mengguyur langit Kaliurang. Tapi karena kita selalu exciting dan penasaran akan keunikan bangunan dan folklore di tiap ruangnya yang, jadi hujan pun kita terabas.

Ruangan pertama yang kita kunjungi adalah lorong bawah tanah yang dinamakan Guwo Selo Giri. Hmmm, by the way ada satu aturan yang harus dipatuhi; kita tidak diijinkan untuk mengambil foto selama tour, bolehnya nanti pas di luar setelah tour berakhir. Itu kenapa postingan kali ini jadi sedikit sekali fotonya. Tapi ada saja yang bandel, mas-ganteng-berbaju-putih yang bawa kamera DSLR selebar martabak sepertinya udah gatel pengen jeprat-jepret, eh dia nekad aja ngambil gambar pake kamera HP. Cepret! Si mbak guide, yang mirip Denish di film Rumah Dara, dengan sopan -dan spooky- menegur, ”Mas, maaf, sudah saya ingatkan bahwa dilarang mengambil foto di dalam, karena kalau ada apa-apa, kami tidak menanggung.” Mendadak atmosfer ruangan jadi semriwing. Bulu kuduk kami jadi berdiri.

Ruang foto dan lukisan itu banyak menceritakan tentang kehidupan para penghuni empat keraton besar yaitu Kasultanan, Pakualaman Jogja, Kasunan, dan Mangkunegaran Solo. Barang-barang di sini juga merupakan seumbangan dari empat keraton tersebut. Dari foto-foto pendidikan mereka di luar negeri sampai pada saat prosesi penobatan menjadi Raja. Semua terasa anggun dalam balutan aristokrasi Jawa.

Menurut saya pribadi sih dilihat dari foto yang ada, setiap perempuan keraton selalu memiliki aura ningrat yang membuat kecantikan di wajah mereka itu tampak berbeda. Susah menjelaskannya. Tapi berkali-kali saya dan teman-teman selalu berdecak kagum melihat foto-foto jadul itu. Seperti foto Gusti Nurul saat masih muda, she’s my favorite one, karena punya hobi yang unik yaitu berkuda dan berani menolak pinangan pria keren macam Bung Karno dan Sultan HB IX, karena Gusti Nurul adalah seorang wanita yang antipoligami, sip! Saat ini beliau berusia 88 tahun dan tinggal di Bandung.

Si Mbak bercerita bahwa tiap Raja yang sedang menjabat suatu keraton, diwajibkan menciptakan tarian. Walah ternyata jadi itu Raja ga gampang. Di akhir lorong, terdapat foto Partini Djayadiningrat -eyang putri dari sutradara video klip Dimas Djayadiningrat- putri dari Mangkunegara VII, yang terkenal sebagai wanita cerdas dan berpengetahuan luas. Beliaulah yang mengarang buku ’Ande-Ande Lumut’.

Ketika kami keluar dari lorong ini, hujan masih setia mengguyur. Aaah, sebenarnya saya agak sebel, tapi daripada merusak suasana liburan, mending hujan-hujanan dengan gembiraaa. Ruangan berikutnya adalah rangkaian Kampung Kambangan atau Desa Apung, yaitu beberapa ruangan yang dibangun di atas kolam, jadi seakan-akan bangunan ini melayang di atas air.

Ruangan pertama adalah ruang batik. Oke, saya ga sepintar si mbak guide yang bisa memaparkan dengan jelas arti tiap goresan canting di atas selembar kain. Yang bisa saya ingat cuman ciri khas batik Jogja adalah kaku, sesuai dengan watak orang-orangnya keraton. Kalo batik Solo sendiri lebih luwes, seperti Putri Solo. Untuk perayaan pengantin, tidak boleh menggunakan batik bermotif parang, karena parang identik dengan kekerasan, perang, dan sebagainya. Saya cuman bisa mesam-mesem, pada saat si mbak menunjukkan salah satu motif batik yang merepresentasikan kegembiraan hati seorang Ibu ketika anaknya telah mendapatkan jodoh yang baik. Hohoho amazing, i have to buy it as soon as possible haha.

Beralih ke ruangan lain, yang menjadi tempat favorit saya yaitu ruang puisi. Bukannya sok puitis, sok nyastra atau gimana, tapi saya suka alasan mulia dibangunnya ruangan ini. Lembaran surat dan puisi di sini semuanya persembahan baik dari keluarga, sahabat dekat dan teman, kepada Koes Sapariyem atau akrab dipanggil Tineke, yang akan segera dijodohkan, padahal dia cinta sama orang lain tetapi sayangnya tidak direstui. Semua yang dipajang berupa tulisan tangan asli tertanda sekitar taun empatpuluhan, dilengkapi pula translet bahasa Indonesianya, karena kebanyakan puisi dan surat ini ditulis dalam bahasa Belanda. Hampir semuanya berisi tentang motivasi, cinta dan eksistensi perempuan dalam sebuah keluarga, singkat ndak belibet bin maknyus! Aah pengen saya copy paste rasanya.

Ada satu ruangan yang khusus didedikasikan untuk Gusti Nurul, Putri Mangkunegara VIII. Ruangan ini berisi foto-foto beliau dari bayi hingga dewasa, dan pasti ada foto beliau bersama si kuda, karena seperti saya sebutkan tadi, Gusti Nurul memiliki hobi berkuda. Ada juga foto yang menggambarkan beliau sedang membawakan tarian Jawa di luar negeri, uniknya musik gamelan yang mengiringinya dimainkan di Solo secara live, yah mungkin kalo jaman sekarang kayak teleconference gitu. Untuk membantu Gusti Nurul membawakan tariannya, sang bunda memberikan aba-aba dengan ketukan. Agak ribet membayangkannya memang, tapi totally great idea! Mereka-mereka ini para jenius lokal yang membentuk budaya adiluhung seperti saat ini.

Ruangan terakhir adalah ruang arca yang bersambung pada ruang Paes Ageng. Arca-arca yang dipajang adalah asli, jadi kalau banyak bagian yang hilang, itu dikarenakan pada saat ditemukan memang kondisinya sudah seperti itu. Arca-arca dijejer rapi di tengah sebuah taman bunga, Mbak Guide masih saja menceritakan kisah di balik arca itu dengan lancarnya. Saya yakin syarat mutlak jadi guide di sini adalah nilai pelajaran sejarah di rapor sekolah dulu harus di atas delapan. Hafalan nama raja, ratu, putri beserta angka romawinya itu yang berkali-kali bikin saya cengar-cengir kayak orang bego. Salutku buatmu, Mbak Guide!

Ruang Paes Ageng memang agak spooky, karena ketika berbelok di sebelah kiri, mata saya malah melirik ke arah ruangan sebelah kanan yang masih gelap, dan berdirilah sebuah patung wanita dewasa nan anggun memakai baju pengantin di ujung sana. Bikin jantungan seluruh peserta tour. Sementara si Mbak sibuk menjelaskan arti semua properti pakaian pengantin adat Jawa, saya asik melihat lukisan sebuah prosesi di kerajaan. Si Mbak bilang, tarian itu dilakukan oleh sembilan gadis yang sedang dalam keadaan suci, dan mereka menari selama dua jam nonstop. Uniknya, selalu ada ’gadis’ lain di sana, yap the famous Nyai Roro Kidul, yang konon, hanya bisa dilihat oleh Raja saja. Penguasa pantai selatan itu selalu hadir pada prosesi pernikahan keraton. Jadi total penari di mata seorang Raja adalah 10 orang. Well, yang bikin saya tertarik pada lukisan ini adalah, Nyai Roro Kidul digambarkan layaknya ’wanita tembus pandang’. Ini kayak teknik multiexposure di lomography yang memang sengaja dibuat untuk menampilkan kesan ghostly.

Ruang spooky ini adalah ruangan terakhir yang kami kunjungi, total satu kali tour adalah limapuluhlima menit. Sebagai penutup, kami dipersilahkan beristirahat di sebuah pondok sambil mencicipi jamu Wedhang Kusmayana, yang dipercaya sebagai minuman rutin para kanjeng ratu sebagai kunci awet muda. Hoho, toast!

Sesi berikutnya tentu saja foto-foto sebebas-bebasnya di area luar museum. Yap, kami menikmati rimbun daun, sulur-sulur akar pohon besar, patung-patung, kolam dengan tanaman air, beserta rintik hujan yang masih sedikit mengguyur Ndalem Kaswargan ini. Kebetulan sedang ada anak-anak gadis berlatih tari Jawa di ruang bawah tanah. Kami menonton sebentar, namun karena hari sudah sore dan perut sangat lapar kami memutuskan untuk pulang. Oh iya, ada restoran Belanda di sana, namanya Beukenhof Restaurant, tapi karena Leny ngidam bakso di Taman Kaliurang, ya kita turutin aja. Ckck, dia emang ndak ada jiwa ningrat sama sekali. Hahaha.

Oke, sebenarnya lebih enak menggunakan motor, karena ga ada kekhawatiran bakal kehabisan angkot. Saking takutnya ga bisa pulang, baksonya nekad minta dibungkus plastik, dan kami makan di pinggir taman sambil menunggu angkot yang akan turun ke bawah. Cara makan yang sangat bangsawan sekali sodara-sodara. Hehee. Ndak sampai lima menit kemudian, bus kota idaman sudah muncul, yipppiii. Duduk di bangku paling belakang, makan bakso panas dan sepanjang jalan dari Jalan Kaliuran Atas hingga Kopma UGM diguyur hujan deras, sukses bikin kita ngantuk. See ya next time, Ullen Sentalu, dalam versi kering tentu saja.

7 comments:

Giri Prasetyo said...

mungkin mbak Dwi ini bisa menyaingi Trinity dgn judul 'the jilbabed traveler'. anyway, trima kasih catatan perjalanannya yang ke Karimun mbak :)

didut said...

cool story :) ...jadi udah berasa awet mudanya belum minum 2 kali :))

Anonymous said...

aq mrasakan hawa aneh pas liat2 fotonya pyut...menyeramkan klo mnurutq..

bayu said...

Ullen Sentanu.......?????

hiiih...mrinding kalo inget2 waktu kesana.....abis dingin siii

udah baca yang ini belum?

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2697843

j. said...

ah siapa bilang.....!!!!!!!

tempatnya bagus kok, murah buat harga mahasiswa, guidenya informatif........

koleksi lukisannya bagus lagi.....

aaSlamDunk said...

wowwww keren
kemarin ke kaliurang tapi gak nemu museum ini?
besok bole dicoba nih
thanx infonya

Museum Ullen Sentalu said...

Thankyou for your story about us that inspired your friends.
We're waiting for your next visit

Please follow us on:
Facebook: Museum Ullen Sentalu
Twitter: @ullensentalu

Regards
Museum Ullen Sentalu