Pages

2/11/10

Old Jeep and Happy Family


Teks dan foto oleh Yusuf Solo

________________________________________________
Kontributor




Yusuf Solo adalah penggiat wisata ala backpacker. Pernah mencicipi indahnya Thailand dan bolak-balik Singapura dengan harga mahasiswa. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 dengan jurusan Pariwisata. Sebagai seorang enterpreneur, ia ingin membangun sebuah jasa tour murah untuk mempromosikan Solo pada dunia.





________________________________________________

Perjalanan kali ini tidak kulewati bersama teman-temanku. Istimewanya kali ini aku mengajak bapak, ibu dan juga adik semata wayangku untuk menikmati eksotisme wisata Wonogiri. Kami semua belum pernah kesana, hanya berbekal tourist map Wonogiri dan sebuah jeep tua, akhirnya kami sekeluarga berangkat. Wonogiri tidak jauh, hanya sepelemparan batu dari Solo. Kota di selatan Jawa ini bisa ditempuh dalam satu jam dengan menggunakan mobil atau sepeda motor. Tujuan kami adalah untuk melihat gua dan Museum Karst kelas dunia di Pracimantara dan pantai Parang Gupito.

Adik dan bapakku

Perjalanan ke daerah Pracimantoro butuh satu jam dari Wonogiri. Kami sekeluarga sempat mampir sejenak di sebuah bukit untuk melihat keindahan Waduk Gajah Mungkur dari atas. Semilir angin membuat badan kami terasa segar kembali. Setelah rileks, perjalanan pun kami lanjutkan ke daerah Pracimantara. Jalanan yang bergelombang membuat perut kami mual, daerah selatan Wonogiri memang didominasi dengan perbukitan yang gersang. Pantas saja banyak penduduk Wonogiri yang mamilih jadi TKI atau mengadu nasib di ibukota.

Wonogiri yang berbukit gersang

Setelah sampai di dekat terminal Pracimantara, saya coba menanyakan penduduk sekitar dimana letak Museum Karst dan gua wisata, setelah mendapatkan info akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Penduduk lokal memang guide terbaik. Karena di daerah ini masih sangat minim petunjuk arah, jadi jangan segan untuk tanya ke penduduk sekitar.

Jalan bergelombang, udara panas menyengat dan tanjakan tajam menjadi bumbu tak sedap perjalanan kali ini. Untung saja bapak pake jeep, meski tua namun masih bisa diandalkan. Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang bikin kuda lumping kesurupan kami pun menemukan gua pertama, Gua Tembus namanya. Disebut demikian karena gua ini bisa dimasuki dari dua sisi yang terhubung. Lorong guanya memang tidak panjang, hanya sekitar 50 meter, tapi cukup menarik untuk dinikmati karena masih alami. Tidak banyak pengunjung di gua ini. Selama berkunjung aku hanya menemui beberapa orang saja. Jadi kita bisa menikmati gua ini sepuasnya. Setiap ujung lorong menawarkan pesonanya sendiri, dari sisi pintu gua yang lain aku bisa melihat megahnya Museum Karst di tengah tandus dan gersangnya bukit kapur Wonogiri.

Gua Tembus yang sepi

Perjalanan akhirnya kita lanjutkan ke Museum Karst yang tak jauh dari Gua Tembus. Tapi sayang, pintu museumnya masih terkunci rapat dari dalam. Memang bagian interior museum kelas dunia ini masih dalam tahap pembangunan. Kami tidak menyerah begitu saja. Setelah mencari info dari penduduk sekitar, ternyata ada beberapa gua di sekitar museum ini. Namun sial, jalan menuju gua masih juga dalam tahap perbaikan, jadi tidak bisa untuk dilewati. Kelihatannya nasib baik belum berpihak pada kami. Setelah berkeliling tanpa hasil, kami melihat ada satu pura kecil di puncak bukit, ya sudah kami kunjungi saja pura kecil ini. Cukup menarik untuk dikunjungi.

Arsitektur Museum Karst Dunia

Setelah berpuas-puas berfoto di pura, akhirnya perjalanan pun kami lanjutkan ke daerah pantai Parang Gupito. O iya, jangan lupa isi bensin penuh motor atau mobilnya, karena SPBU terakhir cuman ada di dekat pasar Pracimantara. Cari bensin eceran pun juga belum tentu nemu di daerah terpencil seperti ini. Kondisi jalan juga tidak bersahabat, kami serasa naik bomb bomb car, terpental kesana kesini, kulihat ibuku meringis di jok belakang, kasihan juga melihatnya, "Ibu gak papa tho?" tanyaku. Sambil tertawa kecil ibuku menjawab,"Gak papa le, ya ini tantangannya!" Ooh ibuku memang rocker tulen! I love you mom, senang melihat ibuku bisa ‘menikmati’ perjalanan liar ini.

Sepanjang jalan, tidak banyak kendaraan yang lewat, hanya kadang berpapasan dengan sepeda motor atau mobil. Karena minimnya info dan akses transportasi ke daerah pantai Parang Gupito menjadikan orang-orang malas pergi kesana. Apalagi di tambah kondisi jalannya yang bikin Mama Lauren jadi gila, niscaya sampai lima tahun mendatang daerah ini masih terisolir dari banjir wisatawan.

Setelah banyak tanya dengan penduduk lokal, akhirnya kami menemukan tanda penunjuk jalan ke Pantai Sembukan. Penduduk setempat bilang dekat, “Cuman lima kilo mas,” kata mereka enteng. Batinku,”Lima kilo kok dekat?" dan Anda pun akan terperangah jika tahu bahwa penduduk di sana biasanya berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lainnya. Di daerah ini memang tidak ada angkutan umum. Bapakku bertanya,”Pantainya sebelah mana?” Aku jawab,”Lha aku juga belum pernah ke sini pak,” dan kami pun bengong bersama. Krik krik.

Tapi perlahan dari atas bukit kulihat samar lautan biru terhampar luas. Hati kami yang kusut pun jadi bersemangat, jeep tua kami geber lebih cepat. Suaranya gelodakan karena jalan yang tak ramah. Setelah melewati beberapa bukit, akhirnya jalan menuju Pantai Sembukan terlihat juga. Wow, pantai ini masih alami. Hamparan pasir putihnya seakan mengundangku untuk menikmatinya. Airnya sangat jernih sekali, aku bisa melihat keindahan batu-batu karang khas pantai selatan di pantai ini yang masih sepi ini. Dari atas bukit batu pemandangannya jadi berlipat kali indahnya, aku bisa melihat sepanjang pantai Sembukan yang masih alami, ombaknya yang keras dan tinggi menjulang seakan menggodaku untuk surfing. Udara yang panas aku hiraukan. Pantai ini memang melepas penat perjalanan liar yang kami jalani.

Pantai Sembukan

Setelah puas bermain-main dengan adikku, akhirnya perjalanan kami lanjutkan ke pantai berikutnya; Pantai Nampu. Kami kembali ke jalan utama lagi, dan berjalan ke arah timur. Pantai Nampu berbatasan dengan Kabupaten Pacitan, jadi bisa dikatakan ini adalah pantai paling timur di pesisir selatan Jawa Tengah. Jarak pantai Sembukan dan pantai Nampu sebenarnya ndak jauh, cuman enam kilo saja, tapi karena medan yang hebring membuat perjalanan ini jadi terasa lebih lama.

Pantai Nampu juga tak kalah indahnya dengan Pantai Sembukan. Garis pantainya membentuk lengkungan yang indah. Pasir putihnya menarik perhatianku untuk berguling-guling disana. Aku berjalan ke arah timur dan coba menaiki batu karang, pemandangan yang luar biasa aku dapatkan. Samudra Hindia membentang luas hingga batas cakrawala. Pantai di pesisir selatan Wonogiri, karena masih belum touristy, jadi kita bisa nikmati sepuasnya tanpa diganggu kerumunan orang apalagi anak-anak muda labil penganut alay.

Pantai Nampu

Tak terasa waktu pun beranjak sore. Sebenarnya aku pengen melihat sunset di pantai Nampu, tapi karena jalanan di daerah Parang Gupito tidak ada lampu di waktu malam, terpaksa kami putuskan pulang lebih awal demi alasan keselamatan. Pulangnya kami menempuh jalan yang berbeda melewati daerah Baturetno, kondisi jalannya sih tidak berbeda jauh dengan daerah Pracimantoro, bergelombang dan penuh tanjakan, tapi semua halangan itu kami libas dengan mudah berkat jeep tangguh yang sudah menemani keluarga kami selama puluhan tahun ini.

Bapakku bilang kalo di Baturetno banyak yang jual sate kambing yang uenak. Ternyata memang benar, ketika kami masuk daerah Baturetno, penjual sate kambing bertebaran dimana-mana. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti di salah satu warung sate kambing dengan merek "Pak Giyarto". Rasanya jangan ditanya, emmm uenak tenan. Aku yang kelewat lapar pun jadi sedikit rakus, habis dua porsi, padahal biasanya empat porsi, hahaha. Harganya bisa dibilang cukup murah, kami berempat hanya menghabiskan 60.000 rupiah untuk 4 porsi sate kambing. Cukup terjangkau oleh kantong kalian bukan?

Kota wonogiri juga terkenal dengan kacang mente yang enak, jadi kalo lewat Wonogiri jangan lupa beli untuk oleh-oleh. Akhirnya setelah perjalanan pulang hampir tiga jam akhirnya kami pun sampai di rumah dengan bahagia, berkat jeep tua kami yang sakti.

1 comment:

bayu said...

seneng ama foto buah pandan lautnya.......
* makanan kesenangan kelomang- ku*