Pages

2/11/10

Secangkir Kopi di Lereng Merapi



Teks dan foto Arie Wibowo

________________________________________________
Kontributor












Arie Wibowo, atau lebih akrab dipanggil Bowo Item ini adalah mahasiswa Diploma Teknik Elektro UGM angkatan 2006. Menurut pengakuannya; lebih enak naik gunung daripada kuliah! Dia memang anak yang jujur. Bowo ini adalah aktivis MAPAGAMA (Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Gadjah Mada). Spesialisasinya adalah rafting. Pengalamannya ngopi di rumah Mbah Pudjo adalah tulisannya yang pertama untuk Hifatlobrain.
_______________________________________________

Sore hari sehabis ujian di kampus aku merasa bosan sekali dengan segala rutinitas kampus. Kampus–sekretariat–kost adalah rute yang kulalui saban hari dan –tentu saja- sangat membosankan. Hmm akhirnya seusai ujian aku coba untuk merefresh pikiran, dan satu hal yang ada dibenaku adalah; ngopi di tempat Mbah Pudjo.

Kamis, 22 Oktober 2009, aku berangkat dengan modal bensin seliter dan kamera pinjeman dari Mas Joko. Perjalanaan kulalui dengan penuh semangat. Aku bener-bener pengen refresh dan membuang jauh-jauh soal ujian yang menghantui benakku selama ini. Aku bersama motor butut kesayanganku, SupraXX tahun 2002, akhirnya berangkat ke Desa Kinahredjo. Baru sekitar 4 kilometer dari kost aku melihat dua motor yang saling tindih alias tabrakan. Bukannya tidak mau menolong, tapi kulihat dari tepi jalan ternyata mereka masih bisa berdiri dan banyak orang lain yang sudah menolongnya. Akhirnya kuputuskan melanjutkan perjalanan saja. Sesampainya di daerah Sambi, hujan turun deres banget, yowes mandeg dulu pake mantel dan melanjutkan lagi perjalanan. Bagiku hujan bukanlah halangan untuk menikmati secangkir kopi istimewa di tempat Mbah Pudjo.

Sampai juga ditempat Mbah Pudjo, hari sudah beranjak malam, senyuman hangat dari istrinya yang sedang memberi makan ternak menyambutku dengan hangat. Sementara Mbah Pudjo sendiri lagi naik ke talang air buat bersihin sampah dedaunan agar tidak menyumbat saluran air ketika hujan datang.

“Dewean le kowe rene? Mlebu wae kono, nggawe wedang dewe kono, nggo ngangetke awak. Kopi, teh, karo banyu puanase ono neng mejo,” kata Mbah Pudjo ramah. Dia mempersilahkanku masuk dan membuat segelas kopi dan teh sendiri. Selalu saja begitu, ramah tamah seperti ini yang membuatku dan pejalan lain kangen. Sebuah ramah tamah khas orang desa yang ngangeni, karena sudah langka di jaman informatika seperti saat ini.

Aku langsung melepas mantel dan bikin kopi sendiri. Walaupun cuma kopi hitam biasa tapi rasanya dapat membayar dan menghilangkan semua penat yang ada di pikiran. Secangkir kopi, bukan hanya dilihat dari rasanya saja, tapi juga prosesnya. Ini urusan batin tentu saja, secangkir kopi tubruk menjadi sangat berharga, apalagi diminum sehabis kehujan, wuih nikmatnya ngalahin Strabucks!

***
Nama Mbah Pudjo memang tidak seterkenal Mbah Maridjan. Namun nama itu sangatlah familiar di kalangan kelompok pencinta alam di Yogyakarta. Sosoknya yang ramah dan sederhana selalu welcome kepada setiap tamunya yang datang. Meskipun hanya untuk sekedar berjalan-jalan menikmati sejuknya udara desa Kinahredjo di lereng selatan Merapi. Selain itu banyak pula kelompok-kelompok pencinta alam di Yogya yang memakai rumahnya sebagai salah satu basecamp sebelum mendaki Merapi melalui jalur selatan. Meski hingga saat ini jalur pendakian bagian selatan masih belum bisa dilalui, namun masih banyak juga yang menggunakan daerah sekitar lereng selatan merapi untuk acara diklat dan latihan skill mountaineering.

Di rumah yang sangat sederhana itulah ia tinggal bersama dengan istrinya. Hampir setiap minggu rumah tersebut ramai dikunjungi temen-temen pecinta alam untuk menitipkan kendaraan sebelum mereka memulai kegiatan alam bebas di sekitaran lereng Merapi. Hari itu, di rumah Mbah Pudjo, aku bertemu dengan temanku Oon anak STTL beserta rombongan dan beberapa anak UAD yang sedang melakukan diklat.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul bareng Mbah Pudjo dan istrinya sekitar satu jam aku merasa lapar, langsung saja aku pamitan dan next destination adalah warung di sekitar Lava Tour, lima menit dari rumah Mbah Pudjo. Jalannya gelap dan menanjak, memang lumayan dingin, tapi tak apalah. Masak pecinta alam takut dingin, hehe. Sesampainya di warung, langsung saja aku pesan segelas coffeemix dan mie rebus telor untuk mengganjal perut dan menghangatkan badan. Hmmm tak lama pesananku pun datang juga. Sikaat! Perut ini memang sudah keroncongan sejak tadi. Uap panas yang masih mengepul dari mangkuk mie pun aku hiraukan. Huh rasa laparku pun terobati, nah pas mau kubayar ibunya bilang total habis sembilan ribu, asem mahal banget! Haha dasar anak kost. Maklum saja warung itu berada di tempat wisata dan cuma satu-satunya yang buka, apalagi bukanya malem, di kaki gunung Merapi lagi.

Setelah perut terisi, akhirnya harus kusudahi petualangan kecilku ini, besok pagi masih ada ujian, aku harus pulang…

2 comments:

Giri Prasetyo said...

mas, kok ga ada fotonya mbah pudjo....be'e tar saya mau mampir kalau ke merapi...

Radit said...

Wah akhirnya update ya...Hehehe