Pages

4/28/10

Nasty Boy Come With A Nasty Report


*Maaf wajah subyek kami buramkan, ini demi keselamatan anak bangsa.*

Jika ada bulan dalam satu tahun yang paling saya tunggu, maka bulan itu adalah bulan Mei. Mengapa? Karena bulan Mei adalah bulan yang istimewa. Mei itu berarti: musim panas tiba, film blockbuster pada menghiasi layar bioskop, libura panjang dimulai, hujan mulai jarang, dan ombak laut memberikan lambaian yang paling lembut. Ini adalah bulan yang paling dinantikan oleh para hedonis seperti Hifatlobrainers sekalian. Hahaha.

Bulan Mei tahun ini pula, insyaallah Hifatlobrain hadir dengan konten yang makin maknyus. Jika sebelumnya saya sudah menggembar-gemborkan akan adanya postingan riset Mie Ayam dari Bondan Wahyutomo, maka akan ada banyak kontributor lain yang akan segera mengisi halaman Hifatlobrain selama bulan Mei.

Salah satunya adalah Addo Renardo Prathama Abidin (bukan nama sebenarnya). Pria berwajah mesum dengan isi otak yang tidak jauh dari urusan ehem-ehem ini juga ingin menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk Hifatlobrain. Sebagai seorang nasty boy, dia akan membawa sebuah reportase yang nasty juga. Hmm sounds good, dan kami segenap redaksi Hifatlobrain menerima proposalnya untuk peliputan yang sangat menarik.

Apa itu? hoho stay tune di Hifatlobrain bulan depan yaaa...

Addo ini jika dirunut secara geneanalogis, maka ia adalah adik seperguruan dari mbak Kontributor. Secara tidak langsung pemikiran Addo sangat dipengaruhi oleh cara berpikir mbak Kontributor yang agak out of the box. Hingga akhirnya Addo menjadi seorang pemuda mesum, tentu itu adalah suratan takdir yang kejam.

Pria dengan potongan rambut ala Barry Prima ini konon sangat mengidolakan band yang mengusung genre high octane-rock, Seringai. Dia sering menutup mukanya dengan skull bandana ala Arian13. Dia bilang itu sebagai bentuk loyalitasnya terhadap Seringai. Tapi saya tahu, itu semua hanya kedok untuk menutupi mukanya yang mirip RIDHO RHOMA! Hahahaha

Coba perhatikan baik-baik wajah Addo. Semenit aja. Temukan kemiripannya.

Oke-oke. Tapi meski datang dengan wajah dangdut, namun Addo ini adalah seorang jurnalis dan fotografer yang berdedikasi. Semoga dalam liputan khususnya untuk edisi Mei, dia bisa menghdirkan cerita yang benar-benar seru. Selamat liputan Addo.

PS: Jika Vogue mengeluarkan semua liputan terbaiknya pada bulan September, maka Hifatlobrain akan mengeluarkan liputan khususnya setiap Mei!

4/24/10

Malang Tempoe Doeloe 2010



Acara ini kembali diadakan, tangga 20-23 Mei 2010.
Temanya Rekonstruksi Budaya Panji, budaya aseli Malang.

Semoga Hifatlobrain bisa datang dan memberikan event report yang ciamik. Yang mau tahu lebih lanjut silahkan masuka aja ke Group Malang Kembali di Facebook.

4/22/10

Baca Saya Saja


"...dan terbit sudah blogkuuuu huhuuuhuhuuuuu..."

Dwi Putri, salah satu kontributor Hifatlobrain paling produktif akhirnya memiliki pelabuhan sendiri untuk menampung setiap travelouge dan catatan konyol keseharian dirinya. Alhamdulillah. Putri selama ini memang sering menuliskan catatan harian bodohnya di note fesbuk. Tentu saja yang bisa melihat hanya rekan dan handai taulan. Padahal hidupnya yang fana ini dimaksudkan untuk memperbanyak amalan dan manfaat untuk kemaslahatan ummat. Jadi dia memutuskan untuk bikin blog saja. Spread the reader, bigger, and bigger.

Tapi santai saja kawan, sebagai keluarga besar Hifatlobrain, putri akan tetap menymbangkan catatan perjalanannya di blog ciamik ini. Jadi jangan khawatir.

Silahkan berkunjung jika ada waktu.
Temui pipi tembemnya yang tak pernah lekang dimakan zaman.
Temui Putri disini.


Satu lagi sahabat saya yang meluncurkan blog. Namanya Nuran Wibisono. Pastinya kalian sudah tahu lah siapa Nuran ini. Nah jika sebelumnya dia lebih mempercayakan benih pemikirannya ditampung di rahim Wordpress, maka kali ini dia menemukan rahim baru milik Blogspot yang akan dibuahinya dengan pemikirannya yang cutting edge dan jenaka.


Pria yang satu ini memang Don Juan yang suka gonta-ganti server blog. Dulu dia pernah punya Multiply, tapi hanya untuk download lagu. Trus pernah berniat mau bikin Posterous, karena ada cewek yang dia suka bikin blog di server ini. Alhamdulillah sekarang dia sudah kembali di jalan Blogspot yang diberkahi ini.

Maka temukan sahabat saya yang satu ini di:


Stop Press:















Oh ya, sekedar bocoran, sahabat saya, Bondan Wahyutomo, akan membuat sebuah liputan mendalam tentang Mie Ayam di seluruh Jogja. Tentu saja ini unik, dan belum ada sebelumnya. Bisa jadi malah ini yang pertama: sebuah riset kuliner tentang mie ayam. Wedian bukan? Khusus di Hifatlobrain bulan depan!

Bondan adalah mahasiswa pecinta fotografi, film bagus, dan makan enak. Bocah ginuk-ginuk ini aseli Jogja.

4/20/10

Rann: Truth is Terrible



Film India yang hadir tanpa balutan tari dan materi yang di luar ekspektasi.

Sejak My Name is Khan, pandangan saya tentang film India sedikit berubah. Harus saya akui kualitas film dari negeri para inspektur ini sudah berevolusi menjadi sangat baik. Tentu saja ini bukan surprise yang luar biasa, tahu kan kalo India adalah penghasil film nomor satu di dunia. Produktifitas mereka sungguh tidak perlu diragukan. Hanya saja satu yang masih saya sayangkan, yaitu scene tarian yang menghiasi alur cerita. Bukan, bukan saya anti, tapi memang nggak enak aja rasanya kalau saat menonton film dan mencapai puncak tiba-tiba dipotong dengan tarian aneh dan kostum yang sangat dangdut. Sangat Ellya Khadam. Bisa saja mereka bilang kalo tarian itu adalah signature mereka, khas film India, dan sah juga bila saya katakan saya tidak suka.

My Name Is Khan masih ada tarian. Slumdog Millionaire juga ada. 3 Idiot pun demikian, malah lebih parah. Rann, alhamdulillah saya tidak menemukan tarian annoying tersebut.

Film ini -jujur saja- di luar perkiraan saya. Sangat cerdas dan harus saya akui kalo saya suka banget sama alur ceritanya. Kritis dan faktual. Menyentuh kehidupan gelap media yang memiliki relasi erat dengan kuasa. Ini adalah cerita tentang pergulatan politik kotor India yang melibatkan media -TV khususnya- sebagai alat untuk membentuk opini publik. Ingatan saya jadi kembali pada kasus yang menimpa TVOne dan Indy Rahmawati beberapa hari lalu, saat terjadi kasus narasumber markus palsu yang hadir ke ruang redaksi. Nah, Rann mengangkat hal yang sama. Bedanya di Rann adalah tentang sebuah video fiktif yang menjadi barang bukti penyimpangan jabatan perdana menteri India yang terlibat kasus terorisme. Masalahnya, video fiktif tersebut adalah buatan anak Amitabh Bachchan, pemilik channel TV India 24/7 yang dikenal memiliki reputasi sangat baik di dunia jurnalistik.

Segala intrik pun mengalir dengan natural. Menariknya, setiap pemain memiliki kadar masalah dan kepalsuan yang seimbang: politisi yang bengis namun aktor yang baik di atas mimbar, pengusaha yang tamak tapi sekaligus ketakutan, raja media yang bermuka dua, dan pemuda labil namun ingin tampak gagah. Ini gila, dan membuat saya terus berpikir bagaimana caranya membuat naskah dimana semua pemain tampak bajingan dan manusiawi dalam waktu yang sama. Saya jadi ingat perkataan Pramoedya Ananta Toer dalam Bumimanusia;

"...Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput..."

Tentu saja tidak seperti script kacangan film Indonesia yang masih memegang teguh ajaran klasik tentang oposisi biner. Pemeran protagonisnya kelihatan sangat baik dan tanpa cela. Lebih cenderung kasihan dan sering disiksa, dipukul rotan lah, disiram susu lah, disuruh beli nasi Padang lah. Sedangkan yang antagonis pun berperan bengis habis-habisan. Senyum adalah haram. Katrok banget kan?

Dalam Rann, watak pemain juga diekspos sangat baik oleh Ram Gopal Varma, sang sutradara. Apalagi sudut pengambilan gambar yang tidak monoton -bahkan menurut saya eksperimental pada beberapa bagian- semakin mengukuhkan saya untuk menulis note jam tiga pagi. Memang kurang kerjaan, diantara tugas akhir yang bertumpuk ingin dikerjakan tapi saya masih sempat-sempatnya nulis review yang bahkan nggak bikin saya lulus cepat. Memang saya bodoh, kalo saya pintar tentu saja saya lulus cepat. Tapi, di luar perdebatan saya lulus kapan, ini merupakan film India yang bagus. Sangat jarang film di Indonesia yang menyorot hal kritis semacam ini. Padahal tentu saja riset tentang film politik itu sangat mudah, lha wong materinya selalu jadi headline setiap hari. Justru menurut saya lebih susah untuk membuat film Hantu Casablanca atau Misteri Jeruk Purut, karena objeknya yang kasat mata.

Ada satu adegan yang membuat saya menahan nafas, breathtaking istilahnya -hahaha sok keren. Yaitu pada saat Amitabh Bachchan melakukan permintaan maaf kepada pemirsa karena melakukan kelalaian jurnalistik yang fatal: tidak melakukan ricek materi berita yang ada. Sehinga fungsi media untuk mencerdaskan masyarakat menjadi hablur. Ini turnpoint yang sangat bagus. Sudut pengambilan gambar close up membuat guratan wajah Bachchan menjadi makin kharismatik. Shah Rukh Khan mah ke laut aja. Bachchan adalah aktor dengan wajah paling kharismatik nomor dua setelah Richard Gere, menurut saya.

Saat permintaan maafnya, Bachchan membuat pleidoi yang sangat menyentuh. Ini saya transkrip dari film. No repost for sure!

"But when government and the media in the race to achieve power, strike a deal amongst themselves. News are no longer reported, but created. Then whom should the public place their trust on?"

Film ini mendapat rating 7.2/10 di IMDB. Sebuah angka yang cukup bagus mengingat film pemenang Oscar, The Hurt Locker hanya meraih 7.9/10 di situs yang sama. Tapi sekali lagi saya tidak yakin apakah film Rann ini akan masuk jaringan 21. Enjoy!

PS: Makasih buat Fajjar yang udah menyuplai film bagus ini. Review ini didedikasikan untukmu.

4/18/10

Vogue: The September Issue



*Sebelumnya, maaf saya menghapus postingan Cock Fighting. Setelah saya pikir lagi, kok gak mutu ya, just a piece of shit. Biasa, kebodohan saya di kala senggang. Maka saya ganti saja postingannya dengan sesuatu yang lebih bermutu.

Sudah lama saya tidak nulis di rubrik igauanpanjang. Blog ini memang didedikasikan untuk para pejalan, tapi saya juga masih berhak untuk menulis pemikiran saya sendiri, meski bukan pada ranah traveling. Saya rindu untuk menuliskan sesuatu yang cheesy. Sesuatu yang ringan dan menggairahkan (?) Sebuah kejadian sehari-hari yang biasa diposting para blogger ABG pada umumnya. Saya rindu hal seperti itu.

Bagi yang baru saja mengikuti Hifatlobrain, jangan salah, dulu blog ini juga pernah diisi oleh review album -meski cuman satu album doang, punya Tompi, dan -bahkan- postingan tentang cinta! Wahahaha. Betapa bodohnya saya waktu itu. Tentu saja yang harus bertanggung jawab, tidak lain dan tidak bukan adalah: Mbak Kontributor.

Pada waktu senggang, kami berdua sering melihat-lihat postingan awal di blog ini pas masih cupu, dan kita berdua tertawa ngakak. Sialan.

Tapi tentu saja semua itu butuh proses. Meski sekarang sudah menjelma menjadi blog yang ciamik, tapi dulu kami hanya dibaca oleh tiga orang saja! Mereka adalah Nuran Wibisono, Rikian, dan Dwi Putri. Hanya mereka yang kasih komen di blog ini. Menyedihkan bukan. Tapi tak apa, namanya juga nostalgia. Seandainya ada Hifatlobrain Award, maka mereka akan kami beri Lifetime Achievement Award. Tiga orang cecunguk cerdas inilah yang membuat blog ini bertahan di tengah gempuran serdadu Amerika di Irak, krisis moneter yang berkepanjangan, dan kemerosotan moral yang merajalela. Salute!

Hmm saya mau cerita apa ya. Oh ya, saya habis nonton film bagus. Judulnya The September Issue. Ini film tentang proses pengerjaan majalah fashion terkenal, Vogue. Setiap bulan September, Vogue akan mengeluarkan majalah edisi khusus yang mempengaruhi dunia fashion setahun ke depan. Jika pada bulan biasa majalah Vogue setebal juz amma, maka pada bulan September majalah ini setebal AlQuran. Buat nimpuk kucing tetangga bisa langsung mati.

“This is the real Devil Wears Prada”
-Krista Smith, VANITY FAIR

Saya tertarik pada proses kreatif majalah ini. Sebagai majalah fashion paling berpengaruh, tentu saja majalah ini mengedepankan kualitas yang tak main-main. Saya pernah beli majalan fashion lokal baru, materinya jelek sama sekali. Fotonya diambil -dicolong?- dari internet. Resolusinya tidak diperhatikan, sehingga saat naik cetak pecah, mengganggu paha mulus Kate Winslet yang dijadikan pembahasan akibat acting-nya di film The Reader yang kelewat bagus. Tentu saja kasus foto pecah ini tidak mengenai Vogue, karena mereka memotret model mereka sendiri. Semua foto berkualitas tinggi dengan konsep ciamik dan direkam dengan kamera medium format seperti Hasselblaad.

Salah satu photoshoot yang ada di film September Issue

Apalagi saat mereka berdebat tentang foto kover yang -menurut saya sih- nggak ada bedanya! Kebetulan yang jadi model untuk edisi spesial ini adalah Sienna Miller. Dua alternatif kover yang diperdebatkan adalah foto headshot Sienna yang sedang tersenyum. Cuman bedanya yang satu lebih lebar beberapa centimeter saja. WTF. Ini bedanya kerja di media sekeren Vogue dengan koran lampu merah seperti Pos Kota yang kovernya didesain dengan prinsip tabrak lari.

Kover Vogue September 2007

Kualitas memang menjadi taruhan Vogue. Reputasi ini yang dijaga mati-matian oleh Anna Wintour, editor Vogue yang sangat disegani di dunia fashion. “We wanted to be as careful as we could to signal that this magazine is aimed at a different market, ... upscale feel.” ujarnya. Matanya memang sangat awas terhadap detail fashion. Meski selalu mengenakan kacamata hitam saat menonton barisan peragawati di atas catwalk, tapi Anna sangatlah jeli. Ia bisa saja memberikan sebuah review jelek, dan brand yang bersangkutan akan segera bangkrut tahun depan. Mengerikan.

Saya suka sosok Anna ini. Ia dijuluki "ice woman" karena sikapnya yang dingin dan tanpa tedeng aling-aling dalam mengomentari sebuah busana. Ia juga sangat fashionable, meski umurnya sudah tua dan kulitnya sudah mengkerut di sana-sini tapi Anna masih terlihat menarik. Selera fashionnya memang bagus, cocok lah kalo dia jadi editor Vogue. Hal itu tentu tidak berlaku di Hifatlobrain, karena selera fashion editornya sangat buruk. Meskipun suka membeli majalah fashion dan gaya hidup, tapi itu tidak merubah penampilan saya, sama sekali. Karena saya tahu, banyak resensi majalah mode bukanlah variabel utama dalam membuat seseorang menjadi fashionista, tapi tebalnya dompet adalah variable mutlak! Iya, saya akui saya ini old-fashioned, ini yang membuat mbak Kontributor selalu saja rewel.

Ya sudah silahkan liat saja filmnya. Tidak dianjurkan untuk wanita shopaholic, karena saya yakin kalian pasti bakal ngiler abis kalo liat film ini, dan berdoalah kalian untuk bisa bekerja di Vogue karena bisa jadi nanti handuk kalian pun akan bermerek Louis Vuitton! Tapi saya nggak tahu apakah film dokumenter seperti ini akan masuk ke jaringan bioskop 21 atau tidak. Kecuali kalau bintangnya Dewi Persik, pasti laku!

PS: Oh ya, di film ini saya juga baru tahu kalo majalah Vogue punya editor maho bernama André Leon Talley, selera berpakaiannya sangat aneh. Ini adalah sosok makhluk maho yang paling buruk yang pernah saya lihat di muka bumi.

4/17/10

The Next President

"[Mama Lorenk meramal] Dengan permodelan ARIMA (1,17,5), suatu saat Indonesia tidak lagi dipimpin oleh militer yg cuma tau daerah konflik, atau aktivis dan politikus yg tau rakyat dari media masa & isu kelompok. The next president is a BACKPACKER!! Karena dia yg paling tau bagaimana cara orang lapar berpikir dan bertahan hidup.."

Dengan nada bercanda, temen saya yang bernama Tika We menulis status di Facebook. Tika ini adalah teman saya sesama jurnalis kampus. Dari dulu dia sudah saya rayu untuk menulis di blog ini tentang perjalanan Pantura-nya. Tapi dia selalau menjawab,"Aduuh mas, itu perjalanan gagal," katanya sok imut. Semoga lain kali dia bisa membagikan kisah perjalanannya di blog ini.

4/9/10

Leaving No Trail on March


Maaf kawan. Sekali lagi blog ini vakum dalam hitungan bulan. Tapi penyakit ini sudah agak mendingan, vakumnya hanya satu bulan saja. Hehehe.

Jujur saja, bukannya bulan kemarin sepi postingan, tapi kami ini para editor yang memang lalai dan malas. Sebetulnya ada banyak sekali kontribusi yang akan menghangatkan pemikiran Hifatlobrainers sekalian yang mulai puyeng dengan tugas kuliah dan kerjaan kantor yang menumpuk bagai Freddie Krueger yang akan menghantui mimpi Anda sepanjang malam. Maka dari itu, sangat disunnahkan sebelum tidur setelah gosok gigi untuk membaca -minimal ngecek- Hifatlobrain yang ciamik soro ini.

Bulan April merupakan bulan yang penuh barokah -sebenernya semua bulan sih, plus bulan Ramadhan- terbukti dengan banyaknya peringatan yang jatuh di bulan ini. Salah satunya adalah Hari Kartini yang akan jatuh pada tanggal 21 April 2010. Ini merupakan penanda penting bagi gerakan feminisme di Indonesia. Apalagi saat ini banyak traveler cewek yang naik daun. Mungkin dimuali dari Trinity dengan the Naked Traveler-nya, setelah itu mulai banyak bermunculan sosok traveler wanita yang bisa diperhitungkan. Mereka ini adalah sosok-sosok yang cerdas dan mandiri. Merupakan wanita tangguh khas kesukaan editor Hifatlobrain, hahaha.

Salah satu traveler wanita yang ingin membukukan catatan perjalanannya adalah Lucy. Wanita cantik berkacamata ini mengaku seorang newbie di dunia traveling. Padahal itu semua bohong belaka, haha. Mbak Lucy ini sudah banyak menyecap tempat bagus di Indonesia. Untuk bukunya yang baru yang berjudul "8 Hari di Negeri Paman Ho" ini ia akan membagikan kisahnya traveling di Vietnam. Penulisannya sangat detail, khas traveler cewek. Spesialnya: editor Hifatlobrain diminta untuk memberikan sepatah-dua patah kata di dalam bukunya. Hoho tentu saja itu mebuat blog ini semakin eksis. Silahkan buru bukunya di Gramedia, atau toko buku terdekat.

Hifatlobrain pun menghormati gerakan feminism-traveling tersebut dengan caranya sendiri. Buktinya, kami semakin banyak menambah daftar kontributor cewek yang akan hadir dalam postingan bulan ini. Sebut saja Ainur Rohmah dan Bunga Sarita yang merupakan wajah baru sebagai kontributor blog ini. Sebagai penulis baru, bukan berarti mereka memiliki standar penulisan pemula, tulisan mereka memiliki sudut pandang yang segar tentang sebuah destinasi dan unik. Pokoknya, sangat Hifatlobrain lah.

Ini adalah daftar kontributor kita bulan ini:

Ainur Rohmah hadir dengan pengalamanya yang segar -sekaligus dodol- untuk turut hadir dalam perayaan Maulid Nabi ala Keraton Jogja yang meriah. Tulisan perdananya untuk blog ini terasa seperti permen Nano-Nano, asam dan manisnya sangat terasa. Dia begitu bahagia bisa ikut perayaan tahunan ini sekaligus juga menyesal karena tidak dapat jatah rebutan tumpeng raksasa. Tulisannya berjudul Catching Tails, sebuah plesetan dari lagu Jamie Cullum yang berjudung Catching Tales.

Seberapa jauh Anda mengenal Surabaya? Dara manis mahasiswi Unair bernama Bunga Sarita akan mengajak Anda untuk berjalan-jalan keliling Surabaya dalam Take A Walk: Surabaya. Sebuah tulisan yang padat dan menganut paham pointilisme -karena ia ditulis dalam poin-poin. Artikelnya ini memperkaya kolom Surabaya Heritage Trip. Bunga juga berjanji akan membuat versi panjangnya di kemudian hari.

Bagi penyuka tantangan alam bebas, Yunaidi Joepoet hadir dengan laporannya yang berjudul And We Call Them, Superman. Sebuah catatan perjalanan penuh inspirasi di Kawah Ijen yang penuh dengan manusia super panambang belerang. Dalam postingannya kalo ini Yunaidi dibantu secara visual oleh koleksi foto dari Andrey Gromico, sebuah cross over yang dahsyat. Yunaidi adalah seorang solo traveler yang pertama kali mejelajah alam Jawa, sedangkan Andrey adalah seorang fotografer handal yang aktif di Jember Photography (JPG).

Sebuah postingan kombo akan disajikan secara akurat oleh Yusuf Solo. Sebelumnya, pria yang lahir di Solo ini telah menuliskan family travelogue-nya ke Wonogiri. Kali ini ia mengisahkan petualangannya ke pantain selatan dalam Jogja Southern Beach Explore, dan perjalanannya ke Pacitan dalam postingan yang berjudul Full Track Pacitan. Angkat topi untuk mas yang satu ini.

Pernah kenal editor-cum-traveler gila bernama Nuran Wibisono? Jika belum, maka bersiaplah pergi ke kerak neraka yang paling dalam. Sosok pria eksperimental sekaligus binal ini menjadi pujaan bagi para traveler pemula; Pertama, karena sosok Nuran begitu kharismatik, seperti kebanyakan Kyai Khos NU di daerah Pantura. Kedua, karena Nuran ini penuh inspirasi. Lihat saja travelougenya yang terbaru pada Antara Logawa, Merapi, Armada, dan Wali. Pria berambut gondrong yang mengaku pecinta The Darkness ini ternyata menyimpan kekaguman yang dalam juga kepada Armada dan Wali. Berita baiknya adalah: naskah ini masuk tanpa editan sedikit pun! Saya begitu takut untuk mengedit naskah seseorang yang biasa mengedit naskah saya. Hehehe.

Anyway, makasih banyak atas semua kontribusi yang masuk. Kami, Hifatlobrain, hanya bisa memberikan apresiasi yang tak terhingga, karena uang kami tak punya. Semoga ada funding yang baca ini, lalu bisa memberikan pendanaan pada blog yang sangat oke ini, dan kami pun bisa menggaji para kontributor.

Mengapa blog ini perlu didanai? Karena blog ini mengupayakan sebuah pandangan baru tentang sebuah destinasi dan kedepannya bisa menjadi sebuah perpustakaan tentang pariwisata di Indonesia. Blog ini juga mengajak banyak traveler muda untuk menulis dan berbagi kisah perjalananya. Sehingga mengandung unsur edukasi. Dari berbagai alasan tersebut, maka bisa dibilang blog ini sangat keren.

Kami buka dengan apologi, dan kami tutup dengan narsisme tingkat dewa. Jadi maklumi.


Keep on traveling way,

Editor-in-chief
Hifatlobrain

Take A Walk: Surabaya

Teks: Bunga Sarita
Foto: flickr.


________________________________________________
Kontributor











Bunga Sarita adalah seorang mahasiswi aseli Surabaya penggiat turisme. Beberapa bulan pernah magang di Surabaya Tourism Board. Dipertemukan dengan Hifatlobrain di siang bolong, dan langsung ditawari untuk menulis sebuah kolom dalan rubrik Surabaya Heritage Trip. Gadis pecinta Pramoedya Ananta Toer ini ternyata juga suka John Mayer! Hoho. Silahkan cari Facebooknya untuk berkenalan lebih jauh.
________________________________________________

Jujur saja, saya bukan mahasiswa jurusan pariwisata, bukan pula kutu buku pecinta sejarah. Saya cuma “kebetulan” saja sedang magang di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya khususnya Tourist Information Centre, Balai Pemuda. Saya punya tugas menjadi “tourist ambassador” yang punya tugas mempromosikan dan menginformasikan tentang obyek–obyek wisata di kota pahlawan ini. Sialnya siang itu yang datang bukan bule ganteng sekelas Brad Pitt, melainkan mahasiswa buluk dengan tampang lusuh bernama Ayos Purwoaji. Dia pula yang menyodorkan tantangan untuk menulis artikel pariwisata di blog ini. Oke, siapa takut!

Bagi orang yang tidak terlalu paham tentang seluk beluk Surabaya seperti saya, mempromosikan pariwisata bukanlah hal yang mudah. Saya orang Surabaya asli, tapi selama 20 tahun saya lahir dan besar di kota ini, saya juga tidak paham betul seperti apa kota saya ini sebenarnya? Ya mungkin saya saja yang kurang plesir.

Saya masih ingat betul. Hari pertama saya magang, supervisor saya bertanya tentang apa saja obyek–obyek wisata di Surabaya yang saya ketahui. Oh tidaaakkkk! Pertanyaan ini seperti siksaan bagi saya, karena jujur saja saya masih ragu: apakah XXI dan Sutos bisa masuk dalam kategori ini?

Akhirnya, di tengah kebingungan yang amat hebat, saya hanya menyebutkan beberapa. Itu pun -jujur saja- saya menjawab dengan ngawur. Saya kurang begitu ingat apa saja yang saya sebutkan, tapi yang paling saya ingat, saya menyebutkan Pantai Kenjeran di dalamnya. Setelahnya supervisor balik tanya pada saya, “What kind of tourism object that you can find in Kenjeran beach beside the beach itself?”. “Mampus lo!”, saya membatin.

Sial. Lagi–lagi saya harus jujur pada Anda semua bahwa seumur hidup saya hanya pernah pergi ke Pantai Kenjeran tidak lebih dari dua kali; pertama, saat saya masih di dalam kandungan ibu saya yang mana saat itu saya belum bisa melihat bagaimana indahnya Pantai Kenjeran. Kedua waktu semester awal kuliah bersama beberapa teman, itupun merupakan kunjungan yang tidak berkesan.

Akhirnya mau tidak mau saya menjawab dengan jujur pada supervisor saya, “Umm don’t know mam…” Pasrah. Mimik muka saya memelas untuk sedikit mendramatisir keadaan. Hahaha.

Bisa jadi karena rasa iba yang teramat sangat. Mulailah supervisor saya memberi beberapa pidato singkat yang di imbuhi sedikit “extended version” yang berbunyi; “So, right now you should start to read this books ya,” sembari menunjuk setumpuk buku City Guide Free Megazine, Surabaya Tourism Scope, dan lima seri buku sejarah Surabaya lama dengan nama pengarang Dukut Imam Widodo. Belum puas dengan “extended version”–nya beliau menambahkan pula, “And also learn about those brochures”, dengan jari telunjuk yang mengarah ke rak yang berisi puluhan brosur pariwisata. Alamak!

Jadilah mulai hari itu saya dan beberapa teman magang mengunyah buku-buku jahanam tersebut. Dari sinilah pandangan saya tentang Surabaya mulai terbuka. Saya yang tadinya tidak tahu apa-apa tentang kota kelahiran saya ini, lama-lama jadi kagum dan bangga. Kenapa saya bisa bangga? Ini dia ceritanya:

Awalnya saya merasa bahwa kota kelahiran saya adalah kota yang biasa-biasa saja alias STDBGT (standarbanget). Ternyata setelah saya baca, baca, dan baca, kok ya ternyata saya menemukan beberapa fakta yang membuat saya berfikir, “Come on, it’s not that bad!” Begitu banyak obyek wisata yang tidak kalah menarik dari pada kota lain di Indonesia. Saya sebutin beberapa:

House of Sampoerna

Nah kalau yang satu ini merupakan salah satu wisata andalan yang ada di Surabaya. Letaknya yang berada di sekitar Kota Lama membuat tempat ini menjadi the most interesting object to visit! Arsitekturnya yang masih orisinil denan nuansa kolonialisme membuat gedung ini semakin terlihat “luxurious”, saya jamin tidak akan rugi mengunjunginya!

Kalau dari berbagai buku yang saya baca, House of Sampoerna (HoS) merupakan museum rokok. Tapi menurut saya tempat ini bukan sekedar museum rokok, tapi lebih tepatnya museum entrepreneur. Karena memang di dalam museum ini terdapat banyak peninggalan dari keluarga Liem Seeng Tee pemilik PT Sampoerna Tbk yang merupakan salah satu perusahaan rokok terbesar se-Indonesia. Peninggalannya tidak hanya berupa foto-foto saja, namun ada juga furniture, mobil tua, serta gerobak dan kios yang di gunakan saat pemilik masih merintis usahanya dulu. Sangat menginspirasi!

Bagi para pecinta seni, anda juga dapat menikmati galeri lukisan yang terdapat di dalamnya. Bangunan ini terdiri dari tiga bangunan yaitu bangunan utama berupa museum, sedangkan bangunan di sebelah kanan pintu masuk digunakan sebagai café dengan kualitas setara dengan hotel berbintang lima. Sedangkan bangunan terakhir yang berada di sebelah kiri bangunan utama merupakan hunian pribadi sang pemilik. Bagi Anda yang tertarik untuk melihat proses produksi rokok kretek yang masih tradisional Anda dapat pergi ke lantai dua dimana anda dapat menemukan sekitar 2900 pekerja yang semuanya adalah wanita sedang melinting rokok (hand rolling process). Di samping itu ada juga sebuah kios yang menawarkan bermacam-macam souvenir berupa T-shirt, asbak, mug, dan aneka souvenir bertemakan Indonesia lainnya.

Anda juga berkesempatan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sekitar kawasan HoS dengan mengikuti program “Surabaya Heritage Track” (SHT) yang gratis. Melalui program ini Anda dapat mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Surabaya, terutama di sekitar kawasan Kota Lama. Cukup dengan mendaftarkan diri pada petugas yang ada di HoS, Anda dapat mengikuti tour ini dengan mengendarai bis yang menyerupai kotak sabun. Program ini memiliki dua pilihan waktu yaitu, short tour dengan durasi 1,5 jam dan long tour dengan panjang 2 jam perjalanan. Silahkan pilih.

Jika Anda membawa teman bule, HoS menyediakan beberapa orang guide untuk menemani mereka berkeliling museum atau saat mengikuti SHT. So don’t worry.

Jembatan Merah

Ada tiga cerita yang menjadi dasar penamaan jembatan yang sangat fenomenal ini: Pertama
adalah cerita fabel yang sering dikaitkan dengan munculnya nama kota Surabaya. Mungkin Anda semua sudah sering mendengar tentang kisah ikan Suro -yang lebih di kenal dengan ikan hiu- yang bertarung melawan buaya untuk memperebutkan wilayah kekuasaan meraka di Sungai Kalimas. Syahdan, menurut cerita orang tua dahulu, kejadian itu terjadi tepat di bawah Jembatan Merah yang merupakan muara Sungai Kalimas. Terjadilah pertumpahan darah yang tidak di inginkan itu hingga darah dari kedua petarung tangguh tersebut menodai air sungai di sekitar jembatan dengan merah darah.

Kedua, penamaan Jembatan Merah ini adalah kisah nyata tentang sebuah perang hebat antara arek-arek Suroboyo melawan tentara belanda yang akhirnya menyebabkan tewasnya Brigadier Jendral AWS Mallaby. Perlu saya luruskan di sini adalah letak kematian Jendral Mallaby tersebut, banyak orang salah kaprah dan beranggapan jika beliu tewas tepat di atas jembatan Merah. I would like to say, “You wrong, dude!” Memang benar Jendral Mallaby tewas dalam insiden itu, namun beliau tidak tewas di atas Jembatan Merah, melainkan di Taman Jeyengrono yang berada tepat di seberang Gedung Internatio.

Oke, kembali lagi ke topik utama kita tentang penamaan Jembatan Merah, jadi dalam peperangan antara arek-arek Suroboyo yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 itu terjadilah pertumpahan darah yang menyebabkan banyak noda darah tertinggal di sekitar jembatan tersebut sehingga jembatan tersebut di beri julukan “Jembatan Merah”.

Versi terakhir –ini alasannya jauh lebih simpel dan bisa diterima akal sehat- adalah karena besi-besi jembatan diwarnai dengan cat merah, sehingga dinamailah jembatan itu Jembatan Merah. Cat merah sebenarnya merupakan wujud dari kebanggaan para veteran yang tiap tahunnya rajin mengecat besi-besi yang ada di atas jembatan itu dengan meni (cat) berwarna merah sebagai bukti dari perjuangan mereka di masa lalu. Jika menyambangi kawasan ini jangan sampai lupa membawa kamera untuk mengabadikan moment menarik yang mungkin bisa Anda temukan di sekitar tempat ini.

Pantai Ria Kenjeran

Harus saya akui kalau pantai ini jorok, sangat jorok malah! Tapi jangan salah, di sana juga ada obyek yang sangat menarik. Kalau Anda pernah memperhatikan acara – acara wisata di televisi yang menayangkan tentang obyek wisata yang ada di Thailand anda pasti akan takjub melihat patung Buddha empat wajah atau yang biasa di sebut Four Faces Buddha Statue setinggi 9 meter yang berada di kawasan ini. Konon patung Buddha dengan empat wajah juga ada di Thailand, tapi milik Surabaya berukuran jauh lebih besar. Selain itu masih ada juga patung Dewi Kwan Im setinggi 20 meter.

Bagi anda yang tertarik untuk berolah raga, disediakan pula tempat untuk berkuda, skate park bahkan arena go-kart. Belum lagi sajian sunrise di pagi hari yang bisa kita lihat dengan menyewa perahu nelayan yang akan membawa kita ke sebuah gundukan pasir di tengah laut, biasanya nelayan Kenjeran menyebutnya Pulau Pasir. Sebenarnya ini hanya seonggok gundukan pasir di tengah laut yang biasa kita lihat saat air laut sedang surut di pagi hari, tapi berhubung sambil melihat sunrise jadi terasa romantis banget! Dan bagi anda para pecinta kuliner, terutama seafood, tempat ini bisa dijadikan sasaran karena di sekitar jalan menuju pantai ada banyak pedagang lontong kupang yang rasanya maknyuss pemirsaa. Takut alergi? Jangan khawatir, biasanya setiap penjual lontong kupang juga menyediakan es kelapa muda untuk menetralisir alergi Anda. Jadi bisa saya bilang bahwa Pantai Kenjeran ini tidak kalah menarik kok dengan kawasan Ancol di Jakarta maupun Pantai Parangtritis di Jogja.

Tugu Pahlawan

Bangunan yang berdiri tegak menyerupai bentuk paku terbalik setinggi 40,5 meter ini merupankan salah satu icon kebanggaan masyarakat Surabaya. Terletak di Jalan Pahlawan Surabaya, di dalam Tugu Pahlawan juga terdapat Museum 10 Nopember yang di resmikan oleh Alm. Bapak Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000. Museum ini dibangun underground, di bawah tanah. Sengaja dibangun sedemikian rupa agar tidak mengurangi kemegahan Tugu Pahlawan itu sendiri.

Musium yang di bangun tujuh meter di bawah tanah ini memiliki dua lantai dengan interior yang megah. Di lantai pertama kita dapat menyaksikan diorama elektronik serta film-film dokumenter yang mengisahkan seputar pertempuran di Surabaya yang di lengkapi dengan berbagai visualisasi menarik. Terdapat juga hall of fame, gugus patung, koleksi foto, dan rekaman pidato yang di sampaikan oleh Bung Tomo saat membangkitkan semangat arek-arek Suroboyo dalam rangka menghadapi ultimatum sekutu.

Sedangkan di lantai dua terdapat dua ruangan yang berisikan ruang kaca yang menggambarkan beragam peristiwa peperangan yang terjadi di Surabaya dalam rangka perebutan kekuasaan. Tentunya museum ini sangat layak untuk disinggahi serta dapat menambah pengetahuan kita, khususnya bagi warga Surabaya tentang peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Surabaya.

Balai Pemuda

Gedung yang di dirikan sejak tahun 1907 ini awalnya berfungsi sebagai tempat pesta para kumpeni Belanda dengan kasta high class. Di rancang oleh seorang arsitek kenamaan bernama Westamaes, bangunan yang memiliki ciri khas kubah yang menyerupai mahkota raja yang tepat berada di atap bangunan ini awalnya bernama de Simpangsche Societeit. Kalau hari ini anak muda Surabaya suka nongkrong di VerticalSix. Pada zaman kumpeni dulu, Simpangsche Societeit inilah tempat dugemnya. Tapi berhubung zaman itu belum ada turntables dan DJ dan The Justice, maka tempat itu hanya berfungsi sebagai ballroom dance, jamuan makan makam, pertunjukan orkestra, serta tempat bermain bowling dan billiard. Tempat ini sangat exclusive, sampai-sampai di tempat ini dibuatlah sebuah tulisan yang berbunyi “Forboden Vor Irlender”. Kalaupun toh di dalamnya ada orang pribumi, dapat dipastikan bahwa mereka adalah para “youngens” alias “jongos”.

Pada tanggal 10 Oktober 1945 bangunan ini dapat di ambil alih oleh arek-arek Suroboyo hingga akhirnya di jadikan markas Pemuda Republik Indonesia (PRI). Saat ini tulisan tersebut dapat Anda temukan pada prasasti yang berada di tengah gedung ini. Bagi anda yang gemar mengamati bangunan tua maka jangan sampai melewatkan kesempatan untuk mampir di gedung yang bersejarah ini. Karena banyak hal menarik yang dapat Anda temukan pada bangunan warisan zaman Belanda ini. Sebagai contoh, ada ukiran yang membentuk huruf “W” pada kaca, kayu, maupun temboknya huruf ini merupakan simbolisasi dari Ratu Wihelmina yang memegang kekuasaan di Belanda pada saat itu.

Tidak hanya itu, anda juga dapat menemukan sebuah piano tua buatan Jerman bernama Gotrian Steinmeg yang dulu biasa di gunakan untuk mengiringi para meneer dan mevrow Belanda saat sedang berdansa. Ada pula sebuah lemari cabinet yang keempat kakinya membentuk cakar macan yang merepresentasikan simbol dari kerajaan Belanda pada masa itu. Dalam cabinet kayu tersebut ada juga cangkir teh serta gelas dan piring yang biasa digunakan pada saat mereka mengadakan jamuan makan malam. Jika berada di dalam ruangan berkubah, saat Anda menengadahkan kepala, Anda akan mendapati dua buah lampu tua warisan Belanda yang bergaya classic.

Meskipun arsitektur bangunan sampai saat ini masih orisinil, namun ada beberapa bagian penting yang hilang. Sebagai contoh bunker yang terdapat di dasar ruangan yang berkubah telah di tutup, marmer yang melapisi seluruh wilayah yang saat ini telah menjadi lokasi parkir telah diganti aspal, balkon tempat mengadakan orkestra musik saat ini hanya tinggal sepetak kecil itupun berada di dalam ruang karyawan. Sayang sekali. Tapi bagaimana pun juga bangunan ini merupakan bangunan yang sangat saya rekomendasikan untuk di kunjungi! Bukan karena arsitektur dan interiornya saja, tetapi juga karena sejarah yang terkandung di dalamnya.

***

Sementara ini dulu yang bisa saya informasikan kepada Anda sekalian. Sebenarnya masih ada seabreg tempat-tempat yang sangat menarik di Surabaya tapi maaf ya, ceritanya harus saya cicil karena supervisor saya juga sedang memberikan seabreg tugas. Tapi saya janji saya akan bikin catatan extended version jilid selanjutnya, swear! Oke fellas, see ya []

nb:
Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumentasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!


4/8/10

Catching Tails

Text and photo by Ainur Rohmah
________________________________________________
Kontributor











Ainur Rohmah adalah mahasiswi UGM jurusan Hubungan Internasional. Jago menulis dan suka mendengarkan Jason Mraz. Suatu saat ia mendapatkan anugerah menjadi juara II lomba penulisan TEMPO, padahal itu tulisan pertamanya. Wedian bukan. Penggemar coklat panas ini bisa ditemui di blog pribadinya secangkircoklatpanas.blogspot.com
________________________________________________

Saya bangun telat pada hari Jumat, 26 Februari 2010. Saya seperti orang kesetanan, jam dinding sudah menunjuk angka sembilan. Dengan cepat saya menyambar handuk, mandi dan berpakaian. Lalu menyabet kamera di atas meja dan berlari menuju jalan depan gang kos. Saya pun naik bus jalur 4 menuju Malioboro. Sebenarnya, itu hari yang saya tunggu-tunggu karena tepat tanggal 1 Maulud, namun terlupakan karena saya sukses ngebo sampai hampir siang.

Tapi saya bertekad untuk tidak melewatkan perayaan yang dipusatkan di alun-alun utara Yogyakarta yang sekarang pasti telah dipenuhi berbagai macam manusia. Kalau Anda sekalian belum tahu tempatnya, maka akan saya tunjukkan; Dari pasar kembang, terus saja ke selatan menelusuri Jalan Malioboro. Sampai Anda menemukan perempatan, tak perlu belok ke kiri atau kanan, tapi terus lurus saja. Anda akan melewati gapura yang ada diantara bangunan tua yaitu kantor pos dan Bank BNI jadul. Nah itulah pusat kegiatan orang Jogja yang saya jamin jarang sepi.

Kembali lagi ke sekatenan. Sebenarnya Grebeg Maulud adalah puncak acara dari sekatenan yang merupakan peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Kalau Anda biasanya melihat di TV ada kehebohan di Jogja, dimana para warga sedang berlomba-lomba memperebutkan gunungan tumpeng, itulah yang disebut acara Grebeg Maulud. Super heboh. Sebenarnya itu simbolisasi dari ucapan rasa syukur keraton atas kesejahteraan yang selama ini dinikmati oleh masyarakat Jogja.

Rangkaian sekatenan sendiri sebenarnya panjang, namun sayangnya saya tak menyaksikan seluruhnya dan hanya datang saat Grebeg Maulud. Sial bukan kepalang, itu pun ketika semua orang telah bubar setelah berebut gunungan. Tapi jangan khawatir, saya tetap akan bercerita tentang ekor Grebeg Maulud yang tidak kalah serunya dibanding tubuhnya yang tidak sempat saya saksikan.

***

Saat itu sudah jam 10.00 ketika saya sampai di Malioboro. Alamaaak pemandangannya membuat saya kegirangan. Kalau Anda di sana, saya yakin Anda akan memiliki naluri yang sama seperti saya, yaitu nyolong motor. Hahaha. Saya seperti melihat lautan motor. Disana-sini yang terlihat adalah manusia dari berbagai umur, andong, payung, dan tentu saja motor. Saya pun bergegas menuju alun-alun utara dan meninggalkan hiruk-pikuk jalan di depan kantor pos besar. Arrrggh tapi ternyata sama saja. Saya tetap menemukan lautan manusia. Kanan kiri saya yang terlihat adalah pasar dadakan yang menjual beraneka barang. Mulai dari pakaian, aksesoris, mainan, makanan, ah semua kebutuhan hidup ada disana.

Saya pun menelusur lebih dalam, maka sampailah saya di sebuah Masjid tempat Grebeg Maulud tadi dipusatkan. Hmm masih banyak orang disana. Asyiiiik siapa tahu ada yang bisa dikecengin!
Saya pun tertarik dengan kesibukan beberapa orang yang sedang mengaduk-aduk pasir hitam di depan pagar masjid. Tepatnya bukan mengaduk, tapi menggaruk dan kadang menggali dengan tangan atau alat lain. Ternyata mereka sedang mencari sisa-sisa gunungan yang pada waktu grebeg tadi diperebutkan di area itu. Gunungan sendiri dibuat dari bahan makanan seperti sayur-sayuran, kacang, cabai merah, ubi dan beberapa pelengkap yang terbuat dari ketan dan dibentuk menyerupai gunung, yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan tanah Keraton Mataram.

Saya mendekati tempat itu dan melihat bapak-bapak, anak-anak, ibu-ibu, kakek-kakek nyebur ke satu tempat dengan tujuan yang sama, yaitu mengumpulkan makanan keramat yang tadi telah didoakan oleh penghulu keratin itu. Aneh juga karena banyak dari mereka yang mengatakan sedang mencari koin. Masalahnya tak akan ruwet kalau koin itu hanya bersembunyi dibalik pasir, tapi ternyata koin itu nyungsep ke lubang selokan dan karenanya mereka harus jeli menggiringnya agar mau keluar dari tempat persembunyian. Yaikks. Bau anyir pun tercium di sekitar daerah itu yang saya identifikasi sebagai bau telur. Saya sebenarnya ingin bergabung mencari koin, tapi sayangnya saya tak membawa sekop, jadi tak ada alat untuk menggali. Saya takut manicure saya rusak, hehe boong deng. Saya pun meninggalkan tempat itu menuju ke dalam masjid.

Di pelataran masjid, pemandangan yang pertama kali terlihat adalah seorang laki-laki yang sedang jongkok di pinggir kolam air. Sebelum mengambil air dengan tangannya, dengan khusuk dia berdoa dan mulai membasuh mukanya. Hati saya langsung saja bergetar seperti diingatkan untuk sholat dhuha, namun mendadak menjadi datar lagi karena ternyata banyak orang melakukan hal yang sama. Bukan karena mau sholat dhuha, tapi karena ingin dapat berkah dengan membasuh muka dengan air di sepanjang halaman masjid itu. Hayyaa saya pikir mau sholat.

Hal lain yang membuat saya agak terpingkal adalah: kolam air itu ternyata multi fungsi. Semua kegiatan dapat dilakukan di dalam atau dengan kolam itu. Ada anak-anak yang sedang berenang tak jauh dari bapak-bapak tadi mencuci muka, ada juga yang sibuk mencari koin dengan nyebur ke dalamnya. Entahlah, mereka seperti tidak perduli keadaan sekitar, sibuk dengan kesenangan masing-masing. Tapi satu hal yang selalu saya lihat adalah keceriaan anak-anak yang bebas bermain dan bercanda satu-sama lain. Jadi ingin kembali kecil.

Karena udara yang semakin panas, saya pun memutuskan untuk meninggalkan masjid dan mencoba bergaul dengan beberapa orang yang saya temui. Pertama adalah seorang anak yang terlihat lelah setelah dua jam yang lalu berdesak-desakan ikut memperebutkan gunungan. Katanya, dia berhasil mendapat banyak sayuran dan telah diberikannya pada orang tuanya. Ketika saya tanya kenapa dia ikut berebut gunungan, dia hanya tersenyum-senyum dan menjawab pendek “Ikut-ikutan saja, mbak”. Hehe saya ikut tertawa, dan sepertinya tawa saya mengagetkannya karena terlalu keras.

Setelah selesai ngobrol, saya pun meninggalkannya dan mulai menelusuri rute yang sama ketika saya datang tadi. Selama perjalanan, saya melihat anak-anak yang sedang bermain keong warna-warni, anak muda yang bergandengan tangan, dan orang tua yang berjualan. Haha itulah, ketika para orang tua sedang sibuk mencari nafkah, saya melihat begitu banyak anak muda yang hanya saling menggoda, tertawa-tawa seperti mereka tak akan tua.

Saking asyiknya saya melihat sekitar, sampai lupa kemana saja kaki saya telah melangkah. “Loh loh, kok muter lagi,” batin saya dengan dodolnya. Ternyata sudah tiga kali saya menelusuri jalan yang sama dan tak sampai-sampai pada jalan keluar.

Karena kesal sendiri, saya pun iseng-iseng memotret dua “remaja” yang sedang jajan es. Hehe akhirnya saya pun ikutan jajan es dawet seperti mereka. Sayang waktu itu saya tak pakai baju warna hijau, kalau iya, maka kami akan sudah naik ke panggung menyanyikan lagu Trio Kwek-kwek.

Saya sudah akan beranjak pergi ketika saya melihat anak-anak membawa telur berwarna merah yang ditusuk memakai bambu dan dihiasi kertas warna putih di bagian atas dan bawahnya. Ow ow ternyata tak jauh dari tempat saya guyon dengan para remaja ada penjual mainan itu ada penjual telur merah. Saya samperin dan ngobrol-ngobrol tentang dagangannya yang unik. Namanya ibu Djumiati, wajahnya yang telah dipenuhi keriput itu semakin terlihat tua karena kepanasan, makanya beliau berjualan di bawah gerobak penjual buah. Asalnya Bantul dan beliau telah berangkat dari rumahnya ketika matahari baru menyingsing. Dan disinilah orang tua itu sekarang. Bersama telur-telur yang berwarna merah yang telah ditusuknya memakai bambu.

Saya tak tahu bagaimana beliau melakukannya, tapi terlihat sekali, dengan susah payah beliau mendapatkan telur-telur itu. Saya pun pindah ke penjual telur lain, kali ini dengan ibu-ibu yang lebih muda. Tampaknya ibu ini lebih pandai daripada Bu Djumiati karena beliau berjualan di tengah-tengah orang lalu-lalang sambil memakai topi bambu dan sesekali menawarkan telur-nya pada anak-anak yang lewat. Lalu mereka akan merengek minta dibelikan.

Wanita terakhir adalah ibu Muladi, yang ternyata itu adalah nama suaminya. Seperti ibu Djumiati, ibu ini juga berangkat pagi-pagi dari rumahnya yang ada di daerah Parangtritis. Saya bertanya bagaimana beliau menusuk telur yang masih utuh itu dengan bambu, dan tidak seperti jawaban yang saya harapkan, dengan polosnya beliau menjawab, “Niki tigan pitik...” artinya, ini telur ayam. Dan ketika saya tanya darimana mendapatkan telur-telur itu, beliau menjawab lirih, “Kulo mlampah mriki wau” yang berarti dia jalan kaki ke sini. Oke baiklah, paling tidak nenek manis ini berhasil menjawab satu pertanyaan yang saya ajukan yaitu darimana asalnya, yang beliau jawab, “Parangtritis, mbak”. Saya sebenarnya tak tahu persis itu jawaban yang saya inginkan atau tidak, tapi satu kesimpulan saya setelah bertemu mereka semua adalah para penjual telur itu telah tua, yaaaa berumur diatas 55 tahun lah. Muncul pertanyaan nakal di otak saya; Akankah ada penjual-penjual telur merah selanjutnya ketika generasi penjual telur yang telah tua itu tak eksis lagi? Hmm Mama Laurent mungkin bisa menjawabnya.

Ternyata para penjual telur merah itu menjadi semacam penunjuk jalan untuk saya. Akhirnya! saya menemui gapura yang siap mengantarkan saya keluar dari pasar dadakan itu. Tak berapa jauh dari gapura, saya melihat jajanan es lagi dan mau tak mau tenggorokan saya merengek minta disejukkan lagi. Saya pun kali ini membeli es kelapa muda. Selama penjual es menuangkan, saya baru nyadar kalau penjual es disana sangat banyak. Dan beruntunglah saya membeli di sini karena rasa es-nya semanis penjualnya. Hehe mbaknya manis juga kalau senyum.

Tak jauh dari tempat mbak manis berjualan, saya terpaksa meringis kuda karena melihat pemandangan yang sebenarnya sangat tidak menyenangkan. Hmm pemandangan itu adalah beberapa orang yang berhasil dicopet dan akhirnya harus curhat dengan bapak-bapak polisi untuk melaporkan kesialan mereka. Sebelum berangkat, saya memang sudah diperingatkan oleh teman untuk berhati-hati ketika di sekatenan, HATI-HATI BANYAK COPET! Short message-nya dengan huruf kapital. Untung muka saya muka mahasiswa.

Saya berharap tahun depan saya tak boleh hanya dapat ekornya saja, saya juga mau makan tubuh dan kepalanya! []

Antara Logawa, Armada, Merapi, dan Wali


Teks Nuran Wibisono
Foto Yunaidi Joepoet
________________________________________________
Kontributor











Jika ada seorang pemuda gila penggemar The Doors dan mencintai traveling, maka Nuran Wibisono lah orangnya. Pria kalem dengan segudang gebetan ini terlahir dari keluarga pecinta alam bebas. Nuran memiliki bakat menulis, karyanya menghiasi beberapa situs musik dan gaya hidup terkenal. Sungguh sebuah kehormatan ia bisa menuliskan kisahnya di Hifatlobrain. Nuran juga termasuk pembaca angkatan pertama Hifatlobrain.











Yunaidi Joepoet adalah solo backpacker dari Riau. Kecintaannya akan fotografi membuatnya terus memburu tempat indah di Nusantara. Penjelajahannya ke Jawa di awal tahun 2010 merupakan kunjungannya yang pertama. Dalam kesempatan kali ini ia menyempatkan diri mengunjungi Bromo, Surabaya, Jember, dan juga Kawah Ijen. Bersama Nuran, dia melakukan perjalanan ke Merapi.
________________________________________________


Semua berawal dari kenyataan bahwa aku tak akan bisa backpacking pada bulan Juli. Hal itu dikarenakan aku harus menempuh semester pendek agar targetku untuk lulus bulan November tercapai. Menghadapi kenyataan itu, aku sedikit kecewa. Tapi itu tak berlangsung lama.
Bermula dari cangkrukan rutin di warung Bulek, aku melemparkan ajakan iseng pada Fahmi, teman SMAku yang hitam tapi tidak manis itu.

“Mi, munggah gunung yuk. Merapi koyoke enak (Mi, naik gunung yuk. Merapi sepertinya enak)” kataku.

Dan siapa yang menyangka ajakan iseng itu terealisasi.

***

Aku dan Fahmi mulai mengatur itenerary kami, termasuk budget perjalanan hingga dana untuk konsumsi. Kami ingin semua lancar. Maklum, kami sudah lama tak naik gunung. Aku terakhir naik gunung “beneran” adalah waktu aku mendaki ke Semeru pada tahun 2004. Fahmi sendiri terakhir naik gunung ketika dia masih menjabat sebagai ketua umum organisasi pecinta alam di kampusnya, pada medio 2007. Makanya aku menyematkan julukan pensiunan pendaki gunung pada kami berdua.

Ajakan iseng itu ternyata memakan korban. Beberapa hari menjelang hari H, ada 4 orang yang merelakan diri untuk ikut mendaki bersama kami.

Ada Zainul, pria 20 tahun banyak omong yang sering menjadi objek sarkasmeku yang sadis. Lalu ada pula Ruffo, pria tinggi besar yang berwajah sangar tapi berhati hello kitty. Ada Yoga, yang kapan hari pacarnya sempat aku maki-maki karena melarang Yoga beraktivitas di alam bebas. Terakhir ada Agus, pria bertubuh kecil, pendiam, dan selalu dijadikan objek kambing hitam oleh Zainul. Selain Agus, kami semua sudah berstatus mahasiswa.

Kami memutuskan tema untuk pendakian kali ini adalah “happy hiking.” Kami semua sudah lama tak mendaki gunung, jadi sebaiknya tak usah terlalu ngotot untuk mencapai puncak. Budget yang ditetapkan adalah IDR 150.000 per orang. Itu semua mencakup biaya perjalanan dan biaya logistik. Hari yang sudah ditentukan adalah Kamis, 25 Februari 2010.

***

Kamis, 25 Februari 2010. Kami semua sudah stand by di stasiun Jember. Kami akan menaiki Logawa, kereta api sejuta umat. Tujuan kami adalah stasiun Purwosari, stasiun kecil di Solo. Aku mendapatkan itenerary kasar dari seorang teman yang sudah mengenal Solo luar dalam. Dion Bandenk namanya, sang pria absurd pemuja Joy Division.

Harga tiket Logawa untuk menuju Solo dibandrol IDR 28.000. Murah bukan? Tapi kami jadi seperti tumbal dari petuah para kapitalis: ada harga ada mutu. Maka kami harus rela menempuh perjalanan selama 11 jam. Masih pula ditambah dengan aroma keringat para penumpang yang semerbak baunya. Tapi tak apalah, toh itu bumbu kehidupan. Dan lagi aku bisa puas menghina Zainul, sebuah kesenangan yang tiada taranya.

Satu hal yang aku perhatikan sejak dulu adalah para pengamen di dalam kereta. Semasa awal aku mulai backpacking di jaman SMP dulu, aku sering menemukan para pengamen dengan formasi big band. Para pengamen itu terdiri dari 2 gitaris, satu pemegang perkusi, satu biola, satu bass betot, dua vokalis, dan ditambah dengan satu orang yang bertugas meminta bayaran. Tak jarang lagu yang mereka bawakan adalah lagu suci. Aku pernah mendengarkan sebuah big band pengamen ini menyanyikan Jhonny B. Goode milik Chuck Berry. Mereka adalah para pengamen yang berdedikasi. Mereka bernyanyi dengan sepenuh hati. Mereka menganggap mengamen adalah pekerjaan, karena itu mereka serius. Karena itu pula aku selalu bisa menikmati lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Dan aku tak sayang melempar uang seribu rupiah ke dalam kantong plastik tempat uang mereka.

Tapi entah kenapa, beberapa tahun belakangan, tak ada lagi para pengamen seperti itu. Yang ada hanya pengamen yang tak ramah, yang menyanyi asal, dan kerap mengancam penumpang yang tak memberi uang. Satu hal lagi, jenis pengamen seperti ini biasanya menyanyikan lagu yang sedang booming, tak perduli lagu itu buruk sekali.

Kasus itu terjadi lagi padaku hari ini.

Siang sekitar jam 12.15 WIB, ada 3 orang pengamen yang mulai beraksi. Aku tak tahu siapa penyanyi lagu ini. Sampai aku diberitahu oleh seorang teman bahwa yang menyanyikan lagu ini adalah band bernama Armada (yeah, stupid name i know...). Liriknya kira-kira seperti ini:
Bukalah hatimu, bukalah sedikit untukku
Sehingga diriku uu uu, bisa memilikimu

Entah apa yang membuat lagu itu jadi terkenal. Setiap kali aku mendengar 3 orang itu bernyanyi, hawa panas di Logawa semakin menjadi-jadi. Zainul malah beberapa kali mengikuti nyanyian para pengamen itu. Jadilah aku memukul kepalanya berkali-kali dengan botol minuman.

Siksaan mental tak berhenti sampai disitu. Ternyata ada sekitar 5 orang kelompok pengamen setelah kelompok yang pertama tadi. Dan percaya atau tidak, 5 kelompok itu semua menyanyikan lagu dari Armada.

Sekarang aku tahu mengapa orang rela membayar mahal untuk naik kereta eksekutif...

***

Kereta sampai di Purwosari pada pukul 16.10 WIB. Tepat waktu. Sedikit aneh rasanya, mengingat terlambat adalah sinonim dari Logawa. Dari Purwosari, kami harus berjalan ke pertigaan Kerten (e pertama dibaca dengan lafal e dalam kata edan, dan e kedua dibaca dengan lafal e dalam kata elang). Tapi sebelum itu, kami menunggu Yudi, seorang teman dari Riau yang ikut bergabung dalam happy hiking kali ini. Yudi ini adalah seorang traveler cum fotografer yang baru pertama kali datang ke Jawa. Minggu lalu, Aku dan Ayos mengantar dia ke Ijen. Kali ini dia ingin ikut ke Merapi.

30 menit kemudian, Yudi datang, dan kami semua berjalan menuju pertigaan Kerten. Pertigaan ini terletak sekitar 500 meter dari Stasiun Purwosari. Tempat ini adalah sebuah persimpangan tempat orang menunggu tujuan Jogja, Semarang, hingga ke Surabaya. Tapi bis yang akan kami naiki adalah bis menuju Boyolali.

Disaat menunggu ini pula, ada sedikit kepanikan karena ibuku menelpon.

“Ran, mamak bikin nasi kuning. Ini mau dianter ke kosan atau ke Tegalboto?” tanya ibuku.

“Duh mak, Nuran lagi ada di luar kota” kataku sedikit panik.

“Ha? Lagi dimana emang?” tanya ibuku lagi.

“Uhm... Nganjuk” jawabku ngawur. Entah kenapa aku menjawab Ngajuk. Sempat terpikir jawaban Paris, tapi ibuku tak mungkin percaya.

Untunglah ibuku bersikap biasa. Aku memang tak pamit pada orang rumah tentang pendakian ini. Bukannya apa, setiap kali mendengar aku backpacking, ibuku langsung melotot sambil melontarkan pertanyaan klasik bagi para mahasiswa semester X, “Kapan skripsimu digarap? Mau lulus kapan?.”

***

Dari pertigaan Kerten, kami naik mini bus yang melayani trayek antar kota. Tarifnya hanya IDR 4000. Bagi yang ingin ke Merapi, bilang saja pada kondekturnya kalau kalian ingin turun di arah Selo. Nanti kalian akan diturunkan di pertigaan Surowedanan. Dari pertigaan inilah kalian bisa naik bis, pick up, atau colt untuk menuju desa Selo, desa terakhir di kaki gunung Merapi.

Malam itu kami naik di sebuah pick up milik seorang penduduk Selo. Dia kebetulan baru saja pergi ke Boyolali, dan ingin balik ke desa Selo. Ketimbang pulang dengan bak kosong, sang supir memilih untuk mengajak kami, dengan tarif diskon tentunya. Tarif normal untuk pergi ke Selo berkisar antara IDR 6000 – IDR 8000. Tapi malam itu kami cukup membayar IDR 5000 per orang.

Perjalanan dari Surowedanan menuju Selo memakan waktu sekitar 20 menit. Malam itu aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Entahlah, berada di tengah pepohonan yang lebat, dengan suasana jalan yang sepi, selalu berhasil membuatku berkontemplasi dengan sendirinya. Aku mulai berpikir mengenai tujuan hidup, masa depan, cita-cita, dan segala macam pernik kehidupan. Ah sial, aku jadi meracau.

Setelah kami sampai di desa Selo, kami lantas membayar retribusi. Nominalnya IDR 2500 saja. Dari posko pendakian itu, kami lalu pergi menuju pos pendaki. Jaraknya hanya sekitar 100 meter saja. Sang pemilik rumah bernama Pak Min.

Perlu aku terangkan, jalur pendakian menuju Merapi ada 2. Bisa lewat Jogja atau lewat Boyolali. Kalau kalian lewat Jogja, maka anda bisa menemui Mbah Maridjan yang kesohor itu. Tapi kalau anda lewat jalur Boyolali, maka anda akan menemui Pak Min ini.

Sampai di rumah Pak Min, kami sejenak merebahkan badan. Rumah Pak Min ini khas rumah pedesaan yang dijadikan pos pendaki. Tempat menampung para pendaki adalah ruangan depan yang luas, dengan satu dipan panjang tempat untuk beristirahat. Kalau dipan penuh, maka kalian bisa membeber matras untuk tidur di lantai yang terbuat dari semen itu.

Di depan rumah Pak Min, ada sebuah kios yang menjual souvenir ala Merapi. Mulai kaos, pin, stiker, hingga bandana. Yang bikin aku sedikit geleng-geleng kepala adalah sang penjaga dan teman-temannya menyetel lagu dari Wali dengan sound system besar yang biasa dipakai untuk pengajian. Tak ada lagi suasana syahdu ala pegunungan. Dan lagi, kenapa harus Wali?

Ketika kami sampai, terlihat ada sekitar 9 orang pendaki yang sudah bersiap untuk mendaki. Mereka sudah memanggul tas. Aku sempat berpikir, kok aneh ada orang yang mendaki pada malam hari. Tapi sepertinya hal itu sudah biasa di Merapi.

Sebelum kami tidur, kami sempat memasak. Menu malam itu adalah tempe bacem yang dibawa dari Jember, nasi, mie goreng, sambal bajak, dan chicken nugget. Karena tema pendakian ini adalah happy hiking, maka kami membawa nugget. Aku sempat menertawakan hal ini. Karena ketika aku dan Fahmi masih suka naik gunung, nugget tak pernah ada dalam daftar logistik. Menu makanan kami yang paling mewah saat itu adalah sarden kaleng, hahaha.

Setelah memasak, kami bersiap untuk beristirahat. Jam 4 pagi adalah waktu pendakian.

***

Alarm di ponselku menyalak garang pada jam 4 pagi. Aku terbangun, menikmati sejenak lagu Rock N Roll dari Led Zeppelin yang aku jadikan alarm signal, lalu tertidur lagi. Setengah jam kemudian baru kami bangun. Kami memasak mie goreng untuk makan dini hari, sekedar mengganjal perut. Tepat pukul 5 pagi, kami berangkat.

Sial, di depan jalan sudah terlihat menanjak.

5 menit kemudian aku terengah-engah. Begitu juga Zainul dan Agus.

7 menit kemudian, Zainul muntah. Agus hampir pingsan. Dan aku sekarat.

10 menit kemudian... Mamak tolooooonggggg!!

Kami memang para pendaki yang payah. Baru saja dihantam trek curam, kami langsung sekarat. Hanya Fahmi, Yudi dan Ruffo yang terlihat lelah tapi tetap tegar. Pada menit ke 30, kami berhenti sejenak untuk menikmati sunrise yang indah. Pemandangan terlihat begitu indah, di depan kami nampak gunung Merbabu. Yudi pun langsung kalap memotret. Lumayan, jeda memotret itu kami gunakan untuk istirahat.

Lalu kami berjalan lagi. Semua tampak sendu tersiksa lelah. Aku dan Yudi selalu berjalan belakangan. Yudi sibuk memotret, sedang aku sibuk menarik nafas. Dan memang Yudi senang sekali dengan pemandangan Merapi yang indah tiada banding. Berkali-kali dia berucap “tak rugi aku ikut ke Merapi mas. Jancook, bagus pemandangannya.” Beberapa hari berkumpul denganku sudah membuat Yudi mahir mengucapkan Jancuk, makian ala Jawa Timur yang aku ajarkan padanya. Memang aku guru yang teladan bukan?

Pendakian memakan waktu 4 jam. Kami semua terseok-seok seperti ikan meminum limbah pabrik. Pendakian ini sedikit banyak memberikan gambaran kebiasaan dari anggota tim.

Zainul suka sekali mengoceh tiada juntrungannya. Dia ngoceh apa saja, mulai politik, musik, sampai wanita. Sayang, otaknya tak sebesar mulutnya. Seringkali dia aku skak mat, dan lantas aku jadikan objek sarkasme yang aduhai.

Yoga suka sekali tidur dan mengentut. Kalau istirahat lebih dari 5 menit, sudah dipastikan ia akan tertidur. Kalau dibangunkan, suara yang pertama keluar adalah suara “duuut” dari pantatnya. Dan baunya, busuk tiada terkira.

Fahmi suka sekali istirahat sambil berdiri. Menurutnya, istirahat dengan duduk akan membuat orang tambah capek. Dan dia seringkali tertawa mendengar celoteh sadisku saat menanggapi ocehan Zainul.

Ruffo sukanya diam. Ada kentut dia diam. Ada ocehan Zainul dia diam. Dia hanya sesekali berbicara. Entah kenapa, aku merasa ia tak cocok masuk Fakultas Hukum.

Yudi sudah jelas, hobinya adalah memotret, sambil sesekali mengucapkan kata Jancuk.

Agus? Sudah takdirnya untuk selalu jadi pihak yang disalahkan. Hobinya adalah sesekali merepet tak jelas kalau dia dijadikan objek kambing hitam.

***

Kami mencapai Pasar Bubrah alias Pasar Setan sekitar jam 10.43 WIB. Disebut pasar setan karena tempat ini seringkali menyesatkan orang. Orang seringkali berhalusinasi melihat ada pendaki yang berjalan, dan dia mengikutinya, lalu dia bisa tersesat. Banyak orang mengira pendaki-pendaki itu adalah setan. Namun bisa jadi, semua itu disebabkan oleh kelelahan, yang lantas menimbulkan halusinasi.

Kami semua sudah merasakan apa yang disebut sebagai exhausted. Kelelahan tiada tara. Saat itu pula, aku memutuskan untuk tidak berjalan menuju puncak. Niat ini muncul karena melihat puncak Garuda (nama puncak gunung Merapi) masih jauh menanjak. Aku yang berangkat dengan tema Happy Hiking, jelas sudah tidak happy lagi saat itu.

Zainul dengan perut menggelambirnya juga sejenak mengamini keputusanku. Ia sudah terengah-engah, merengek seperti wanita yang dicolek pantatnya. Tapi karena makianku, dan motivasi dari Fahmi, maka ia memaksakan diri untuk mendaki. Puncak Merapi masih sekitar 1 jam lagi.

Maka jadilah aku berteduh di balik batu, menjaga tas-tas dan barang bawaan anggota tim. Aku membeber matras sambil membaca The Motorcycle Diaries, sebuah buku yang tak pernah bosan aku baca meski sudah selesai berulang-ulang. Sesekali aku mengantuk, lalu tertidur. Tak jarang pula aku bangun karena sengatan matahari begitu panas terasa.

Tak terasa, sudah hampir 2 jam para gerombolan begundal itu naik menuju puncak. Lantas terdengar makian jancuk yang tidak biasa. Makian jancuk itu diucapkan dengan logat Melayu. Aha, itu pasti suara si Yudi. Tak lama berselang, terdengar pula ocehan dengan suara yang tak merdu. Brengsek itu pastilah si Zainul. Mereka sudah dekat. Lalu 15 menit kemudian, kesemua anggota tim datang sambil memegangi kaki mereka. Lutut mereka bergetar hebat. Tak lupa repetan dilayangkan pada medan Merapi yang super berat.

“Wah, Raung sih tak ada apa-apanya” kata si Fahmi.

10 menit setelah packing, maka kami pun bersiap untuk turun. Tapi sial, 15 menit kemudian hujan turun dengan derasnya sambil membawa kabut yang tebal. Kami berhenti sejenak, pasrah dihantam hujan. Kabut membuat kami tak berani melangkah lebih jauh. Saat berhenti itulah, para anggota tim memulai kebiasaan mereka. Zainul mulai mengoceh lagi, Yoga tidur, Fahmi tetap berdiri sambil sesekali mengoleskan counterpain pada betisnya. Yudi dan lainnya hanya terdiam sambil sesekali tertawa mendengar ejekanku pada Zainul.

Turun gunung adalah satu siksaan baru. Kami melawan semua teori gravitasi yang pernah diungkapkan Newton ratusan tahun yang lalu. Kami harus berjalan perlahan atau jatuh terjerembab. Kaki kami menahan berat badan yang menyebabkan lutut kami gemetar, dan seaakan tak kuat menopang. Perjalanan turun memakan waktu sekitar 3 jam. Mungkin itulah 3 jam terlama dalam hidup kami.


Sesampai di pos pendaki, lagi-lagi lagu Wali menyambut kami. Suasana di kamp ramai, berbeda dengan kemarin. Ada beberapa orang bule yang ditemani oleh beberapa guide dengan logat ala Jakarta dengan kata-kata lo-gue yang tak sedap didengar kupingku.

Kami semua merebahkan diri. Lelah. Haus. Lapar.

1 jam kemudian, beberapa kelompok pendaki yang ada di pos pendaki, mulai menghilang. Semua memulai pendakian. Hanya ada satu kelompok pendaki dari Purbalingga yang berisik. Mereka memutar lagu dari handphone keras-keras. Padahal di depannya ada 2 orang yang sedang sholat. Brengsek, tak kenal toleransi rupanya. Aku juga jadi rindu suasana tenang di pegunungan. Aih, tekhnologi memang menakutkan.

Kami tak ambil pusing dengan itu semua. Kami masak, kami makan, kami bercanda, aku memaki Zainul, Yoga mengentut, Fahmi merokok, dan yang lainnya mulai tidur. Malam tinggal sejumput lagi. Kami ingin melewatkannya dengan istirahat.

Karena besok pagi aku akan ke Solo... []