Pages

4/8/10

And We Call Them, Superman

Teks: Yudi Joepoet
Foto: Andrey Gromico

________________________________________________
Kontributor











Yunaidi Joepoet adalah solo backpacker dari Riau. Kecintaannya akan fotografi membuatnya terus memburu tempat indah di Nusantara. Penjelajahannya ke Jawa di awal tahun 2010 merupakan kunjungannya yang pertama. Dalam kesempatan kali ini ia menyempatkan diri mengunjungi Bromo, Surabaya, Jember, dan juga Kawah Ijen. Suatu saat ia berjanji akan datang lagi ke Jawa.












Andrey Gromico adalah pecinta segala. Ia lebih mecintai kameranya, daripada pacar ayu yang menunggunya di Jakarta. Ia mendaki Kawah Ijen untuk kesekian kalinya. Andrey adalah guide terbaik untuk menunjukkan tempat fotografis di Ijen, beberpa fotografer nasional sempat menyewa jasa Andrey. Beberapa fotonya sempat masuk di agensi foto nasional dan internasional. Andrey menyuguhkan karya fotonya kali ini untuk Hifatlobrain.
________________________________________________

Gerak langkah terdengar sayup di Paltuding ketika matahari mulai merona di ufuk timur. Pagi-pagi sekali puluhan penambang belerang tradisional bergerak menanjak menuju daerah penambangan belerang di kawah Ijen, danau asam yang terletak diketinggian 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 hektar.

Pagi itu saya juga bergegas menggerakan langkah kaki menuju kawah Ijen dari pos Paltuding. Paltuding merupakan pos terakhir yang bisa dijadikan tempat menginap sebelum memulai pendakian ke kawah Ijen yang berjarak sekitar 3,2 KM. Jalan dari Pos Paltuding hingga ke Kawah Ijen sendiri cukup berat dan menanjak, namun perjalanan tersebut akan terobati oleh keindahan pemandangan di kanan dan kiri jalan.

***

Setelah setengah jam perjalanan dari Paltuding akhirnya saya sampai juga di Pos Bunder, terlihat banyak penambang belerang yang sedang beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen ataupun turun ke Paltuding untuk mengantarkan belerang yang telah dipanggul dari Kawah Ijen ke truk pengangkut belerang. Dari percakapan saya dengan para penambang, saya baru tahu jika belerang yang diangkut masing-masing penambang mencapai 60–110 kilogram, sungguh sangat fenomenal menurut saya. Karena kekuatan mereka mengangkut beban sebanyak itu dengan medan yang sangat sulit adalah sebuah keajaiban.

Setelah beritirahat sejenak di Pos Bunder, saya melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen. Menanjak adalah hal yang saya temui ketika melewati jalur penguras tenaga ini. Namun semua agak terobati karena selama perjalanan banyak pemandangan menakjubkan dan samar-samar terlihat Gunung Raung memancarkan pesonanya. Saya tidak tinggal diam, kamera saya mengeluarkan ratusan bunyi shutter sejak pertama kali jalan.

Perjalanan ke atas membuat saya banyak berpapasan dengan para penambang belerang yang turun ke bawah, membuat saya semakin bersemangat untuk segera sampai di kawah ijen. Setelah perjalanan melelahkan dari Pos Bunder tiba saat nya mata ini melihat suatu keindahan yang tak ternilai, Kawah Ijen yang berwarna hijau ini memancarkan pesonanya seakan-akan memanggil saya untuk segera turun dan mendekat ke kawah tersebut. Perjalanan turun termasuk sulit untuk dilalui karna jalan setapak yang begitu kecil dengan sudut kemiringan hingga 30 derajat membuat langkah turun saya agak tersendat-sendat. Jalannya terjal penuh batu. Dengan semangat keras akhirnya saya sampai juga di bibir kawah.

***

Semburan asap belerang seakan berteriak selamat datang kepada saya, semburan itu mengisyaratkan sebuah pesan penting tentang kinerja alam dan manusia yang terjalin selama ribuan tahun. Tempat yang menyimpan berbagai keindahan, pesona dan semangat kerja keras. Kawah ijen memang memiliki keindahan yang tiada tara, kawahnya berwarna biru dikelilingi bebukitan cadas, dan penambang-penambang belerang yang rela bertaruh nyawa untuk mengais rupiah agar dapur tetap ngebul.

Beberapa saat saya sempat termenung melihat apa yang dilakukan oleh “manusia super” ini. Ditengah kepulan asap belerang yang mematikan mereka melakukan pekerjaan yang sungguh berbahaya, menyirami drum-drum besi yang dialiri belerang cair panas dari pipa-pipa sentinel sepanjang puluhan meter. Menggali serpihan belerang hingga memecahnya menjadi serpihan yang lebih kecil. Semua itu dilakukan secara manual. Edan.

Dalam melakukan kegiatan tambang belerang, para penambang ini melakukanya dalam bentuk kelompok, “Satu kelompok terdiri dari 9-12 orang, 15 hari kami melakukan penambangan di sini dan 15 hari lagi kami berada dirumah,“ ujar seorang penambang senior bernama Budiono yang telah menjadi kuli belerang sejak umur 14 tahun hingga sekarang beliau berumur 54 tahun. Saat ini Budiono sudah naik pangkat menjadi pengawas. Wajah Budiono sangat tenar, tersebar di berbagai majalah dan situs dunia, ia memang beberapa kali dipotrait oleh fotografer handal. Salah satunya Ulet Ifansasti, fotografer Getty Images.

Sungguh mengunjungi Kawah Ijen semakin membuat saya sadar akan kehidupan, betapa sulitnya hidup ini, betapa besar anugrah Tuhan. Setelah sejenak duduk beristirahat, setelah beberapa kali menjepret dan berinteraksi dengan para penambang, tiba saatnya bagi saya untuk meninggalkan tempat ini. Semoga suatu saat saya kembali lagi kesini dengan pesona-pesona Kawah Ijen yang tak akan pernah habis. []

1 comment:

Fanny said...

Waw, 2 foto yang terakhir bagus..
:)