Pages

4/8/10

Catching Tails

Text and photo by Ainur Rohmah
________________________________________________
Kontributor











Ainur Rohmah adalah mahasiswi UGM jurusan Hubungan Internasional. Jago menulis dan suka mendengarkan Jason Mraz. Suatu saat ia mendapatkan anugerah menjadi juara II lomba penulisan TEMPO, padahal itu tulisan pertamanya. Wedian bukan. Penggemar coklat panas ini bisa ditemui di blog pribadinya secangkircoklatpanas.blogspot.com
________________________________________________

Saya bangun telat pada hari Jumat, 26 Februari 2010. Saya seperti orang kesetanan, jam dinding sudah menunjuk angka sembilan. Dengan cepat saya menyambar handuk, mandi dan berpakaian. Lalu menyabet kamera di atas meja dan berlari menuju jalan depan gang kos. Saya pun naik bus jalur 4 menuju Malioboro. Sebenarnya, itu hari yang saya tunggu-tunggu karena tepat tanggal 1 Maulud, namun terlupakan karena saya sukses ngebo sampai hampir siang.

Tapi saya bertekad untuk tidak melewatkan perayaan yang dipusatkan di alun-alun utara Yogyakarta yang sekarang pasti telah dipenuhi berbagai macam manusia. Kalau Anda sekalian belum tahu tempatnya, maka akan saya tunjukkan; Dari pasar kembang, terus saja ke selatan menelusuri Jalan Malioboro. Sampai Anda menemukan perempatan, tak perlu belok ke kiri atau kanan, tapi terus lurus saja. Anda akan melewati gapura yang ada diantara bangunan tua yaitu kantor pos dan Bank BNI jadul. Nah itulah pusat kegiatan orang Jogja yang saya jamin jarang sepi.

Kembali lagi ke sekatenan. Sebenarnya Grebeg Maulud adalah puncak acara dari sekatenan yang merupakan peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Kalau Anda biasanya melihat di TV ada kehebohan di Jogja, dimana para warga sedang berlomba-lomba memperebutkan gunungan tumpeng, itulah yang disebut acara Grebeg Maulud. Super heboh. Sebenarnya itu simbolisasi dari ucapan rasa syukur keraton atas kesejahteraan yang selama ini dinikmati oleh masyarakat Jogja.

Rangkaian sekatenan sendiri sebenarnya panjang, namun sayangnya saya tak menyaksikan seluruhnya dan hanya datang saat Grebeg Maulud. Sial bukan kepalang, itu pun ketika semua orang telah bubar setelah berebut gunungan. Tapi jangan khawatir, saya tetap akan bercerita tentang ekor Grebeg Maulud yang tidak kalah serunya dibanding tubuhnya yang tidak sempat saya saksikan.

***

Saat itu sudah jam 10.00 ketika saya sampai di Malioboro. Alamaaak pemandangannya membuat saya kegirangan. Kalau Anda di sana, saya yakin Anda akan memiliki naluri yang sama seperti saya, yaitu nyolong motor. Hahaha. Saya seperti melihat lautan motor. Disana-sini yang terlihat adalah manusia dari berbagai umur, andong, payung, dan tentu saja motor. Saya pun bergegas menuju alun-alun utara dan meninggalkan hiruk-pikuk jalan di depan kantor pos besar. Arrrggh tapi ternyata sama saja. Saya tetap menemukan lautan manusia. Kanan kiri saya yang terlihat adalah pasar dadakan yang menjual beraneka barang. Mulai dari pakaian, aksesoris, mainan, makanan, ah semua kebutuhan hidup ada disana.

Saya pun menelusur lebih dalam, maka sampailah saya di sebuah Masjid tempat Grebeg Maulud tadi dipusatkan. Hmm masih banyak orang disana. Asyiiiik siapa tahu ada yang bisa dikecengin!
Saya pun tertarik dengan kesibukan beberapa orang yang sedang mengaduk-aduk pasir hitam di depan pagar masjid. Tepatnya bukan mengaduk, tapi menggaruk dan kadang menggali dengan tangan atau alat lain. Ternyata mereka sedang mencari sisa-sisa gunungan yang pada waktu grebeg tadi diperebutkan di area itu. Gunungan sendiri dibuat dari bahan makanan seperti sayur-sayuran, kacang, cabai merah, ubi dan beberapa pelengkap yang terbuat dari ketan dan dibentuk menyerupai gunung, yang melambangkan kemakmuran dan kekayaan tanah Keraton Mataram.

Saya mendekati tempat itu dan melihat bapak-bapak, anak-anak, ibu-ibu, kakek-kakek nyebur ke satu tempat dengan tujuan yang sama, yaitu mengumpulkan makanan keramat yang tadi telah didoakan oleh penghulu keratin itu. Aneh juga karena banyak dari mereka yang mengatakan sedang mencari koin. Masalahnya tak akan ruwet kalau koin itu hanya bersembunyi dibalik pasir, tapi ternyata koin itu nyungsep ke lubang selokan dan karenanya mereka harus jeli menggiringnya agar mau keluar dari tempat persembunyian. Yaikks. Bau anyir pun tercium di sekitar daerah itu yang saya identifikasi sebagai bau telur. Saya sebenarnya ingin bergabung mencari koin, tapi sayangnya saya tak membawa sekop, jadi tak ada alat untuk menggali. Saya takut manicure saya rusak, hehe boong deng. Saya pun meninggalkan tempat itu menuju ke dalam masjid.

Di pelataran masjid, pemandangan yang pertama kali terlihat adalah seorang laki-laki yang sedang jongkok di pinggir kolam air. Sebelum mengambil air dengan tangannya, dengan khusuk dia berdoa dan mulai membasuh mukanya. Hati saya langsung saja bergetar seperti diingatkan untuk sholat dhuha, namun mendadak menjadi datar lagi karena ternyata banyak orang melakukan hal yang sama. Bukan karena mau sholat dhuha, tapi karena ingin dapat berkah dengan membasuh muka dengan air di sepanjang halaman masjid itu. Hayyaa saya pikir mau sholat.

Hal lain yang membuat saya agak terpingkal adalah: kolam air itu ternyata multi fungsi. Semua kegiatan dapat dilakukan di dalam atau dengan kolam itu. Ada anak-anak yang sedang berenang tak jauh dari bapak-bapak tadi mencuci muka, ada juga yang sibuk mencari koin dengan nyebur ke dalamnya. Entahlah, mereka seperti tidak perduli keadaan sekitar, sibuk dengan kesenangan masing-masing. Tapi satu hal yang selalu saya lihat adalah keceriaan anak-anak yang bebas bermain dan bercanda satu-sama lain. Jadi ingin kembali kecil.

Karena udara yang semakin panas, saya pun memutuskan untuk meninggalkan masjid dan mencoba bergaul dengan beberapa orang yang saya temui. Pertama adalah seorang anak yang terlihat lelah setelah dua jam yang lalu berdesak-desakan ikut memperebutkan gunungan. Katanya, dia berhasil mendapat banyak sayuran dan telah diberikannya pada orang tuanya. Ketika saya tanya kenapa dia ikut berebut gunungan, dia hanya tersenyum-senyum dan menjawab pendek “Ikut-ikutan saja, mbak”. Hehe saya ikut tertawa, dan sepertinya tawa saya mengagetkannya karena terlalu keras.

Setelah selesai ngobrol, saya pun meninggalkannya dan mulai menelusuri rute yang sama ketika saya datang tadi. Selama perjalanan, saya melihat anak-anak yang sedang bermain keong warna-warni, anak muda yang bergandengan tangan, dan orang tua yang berjualan. Haha itulah, ketika para orang tua sedang sibuk mencari nafkah, saya melihat begitu banyak anak muda yang hanya saling menggoda, tertawa-tawa seperti mereka tak akan tua.

Saking asyiknya saya melihat sekitar, sampai lupa kemana saja kaki saya telah melangkah. “Loh loh, kok muter lagi,” batin saya dengan dodolnya. Ternyata sudah tiga kali saya menelusuri jalan yang sama dan tak sampai-sampai pada jalan keluar.

Karena kesal sendiri, saya pun iseng-iseng memotret dua “remaja” yang sedang jajan es. Hehe akhirnya saya pun ikutan jajan es dawet seperti mereka. Sayang waktu itu saya tak pakai baju warna hijau, kalau iya, maka kami akan sudah naik ke panggung menyanyikan lagu Trio Kwek-kwek.

Saya sudah akan beranjak pergi ketika saya melihat anak-anak membawa telur berwarna merah yang ditusuk memakai bambu dan dihiasi kertas warna putih di bagian atas dan bawahnya. Ow ow ternyata tak jauh dari tempat saya guyon dengan para remaja ada penjual mainan itu ada penjual telur merah. Saya samperin dan ngobrol-ngobrol tentang dagangannya yang unik. Namanya ibu Djumiati, wajahnya yang telah dipenuhi keriput itu semakin terlihat tua karena kepanasan, makanya beliau berjualan di bawah gerobak penjual buah. Asalnya Bantul dan beliau telah berangkat dari rumahnya ketika matahari baru menyingsing. Dan disinilah orang tua itu sekarang. Bersama telur-telur yang berwarna merah yang telah ditusuknya memakai bambu.

Saya tak tahu bagaimana beliau melakukannya, tapi terlihat sekali, dengan susah payah beliau mendapatkan telur-telur itu. Saya pun pindah ke penjual telur lain, kali ini dengan ibu-ibu yang lebih muda. Tampaknya ibu ini lebih pandai daripada Bu Djumiati karena beliau berjualan di tengah-tengah orang lalu-lalang sambil memakai topi bambu dan sesekali menawarkan telur-nya pada anak-anak yang lewat. Lalu mereka akan merengek minta dibelikan.

Wanita terakhir adalah ibu Muladi, yang ternyata itu adalah nama suaminya. Seperti ibu Djumiati, ibu ini juga berangkat pagi-pagi dari rumahnya yang ada di daerah Parangtritis. Saya bertanya bagaimana beliau menusuk telur yang masih utuh itu dengan bambu, dan tidak seperti jawaban yang saya harapkan, dengan polosnya beliau menjawab, “Niki tigan pitik...” artinya, ini telur ayam. Dan ketika saya tanya darimana mendapatkan telur-telur itu, beliau menjawab lirih, “Kulo mlampah mriki wau” yang berarti dia jalan kaki ke sini. Oke baiklah, paling tidak nenek manis ini berhasil menjawab satu pertanyaan yang saya ajukan yaitu darimana asalnya, yang beliau jawab, “Parangtritis, mbak”. Saya sebenarnya tak tahu persis itu jawaban yang saya inginkan atau tidak, tapi satu kesimpulan saya setelah bertemu mereka semua adalah para penjual telur itu telah tua, yaaaa berumur diatas 55 tahun lah. Muncul pertanyaan nakal di otak saya; Akankah ada penjual-penjual telur merah selanjutnya ketika generasi penjual telur yang telah tua itu tak eksis lagi? Hmm Mama Laurent mungkin bisa menjawabnya.

Ternyata para penjual telur merah itu menjadi semacam penunjuk jalan untuk saya. Akhirnya! saya menemui gapura yang siap mengantarkan saya keluar dari pasar dadakan itu. Tak berapa jauh dari gapura, saya melihat jajanan es lagi dan mau tak mau tenggorokan saya merengek minta disejukkan lagi. Saya pun kali ini membeli es kelapa muda. Selama penjual es menuangkan, saya baru nyadar kalau penjual es disana sangat banyak. Dan beruntunglah saya membeli di sini karena rasa es-nya semanis penjualnya. Hehe mbaknya manis juga kalau senyum.

Tak jauh dari tempat mbak manis berjualan, saya terpaksa meringis kuda karena melihat pemandangan yang sebenarnya sangat tidak menyenangkan. Hmm pemandangan itu adalah beberapa orang yang berhasil dicopet dan akhirnya harus curhat dengan bapak-bapak polisi untuk melaporkan kesialan mereka. Sebelum berangkat, saya memang sudah diperingatkan oleh teman untuk berhati-hati ketika di sekatenan, HATI-HATI BANYAK COPET! Short message-nya dengan huruf kapital. Untung muka saya muka mahasiswa.

Saya berharap tahun depan saya tak boleh hanya dapat ekornya saja, saya juga mau makan tubuh dan kepalanya! []

No comments: