Pages

4/8/10

Full Track Pacitan

Teks dan foto oleh Yusuf Solo

________________________________________________
Kontributor












Yusuf Solo adalah penggiat wisata ala backpacker. Pernah mencicipi indahnya Thailand dan bolak-balik Singapura dengan harga mahasiswa. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 dengan jurusan Pariwisata. Sebagai seorang enterpreneur, ia ingin membangun sebuah jasa tour murah untuk mempromosikan Solo pada dunia. Sebelumnya Yusuf Solo pernah menuliskan kisah perjalanannya ke Wonogiri.
________________________________________________


Pacitan, terletak di ujung barat bagian selatan Propinsi Jawa Timur, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kota yang tidak terlalu terlalu ramai, tapi menyimpan pesona alam yang menarik untuk dijelajahi. Kali ini kubawa adikku dalam perjalanan. Ada tiga alternatif rute dari Solo menuju Pacitan: Pertama, Solo-Wonogiri-Baturetno-Pringkuku-Pacitan. Kedua, Solo-Wonogiri-Giritontro-Pracimantoro-Donorejo-Pacitan. Ketiga, Solo-Wonogiri-Tirtomoyo-Arjosari-Pacitan. Rute yang saya ambil adalah yang pertama, karena selain lebih dekat, jalannya sudah beraspal meski bergelombang sana-sini. Untuk jalur bis Solo-Pacitan bisa ditempuh dengan rute yang kedua.

Setelah terpanggang tiga jam di atas panasnya aspal jalan, akhirnya sekitar jam 12.30 kami sampai di kota Pacitan. Kota yang tak ramai, jalan-jalan utama terlihat lenggang, tidak seperti Jogja atau Solo yang sudah mulai rawan macet. Setelah istirahat sejenak dan browsing internet tempat-tempat menarik di kota Pacitan, akhirnya jam 2.00, kami memulai petualangan kami, tujuan pertama adalah Patung Jendral Sudirman setinggi tujuh meter di Kecamatan Nawangan. Kata petugas penginapan tidak terlalu jauh dari kota Pacitan, hanya 20 km arah Ponorogo -yang aku pikir hanya butuh waktu kira kira 30 menit perjalanan kesananya.

Ternyata perjalanan menuju Nawangan agak sulit. Apalagi tidak ada petunjuk arah yang jelas, jadi kita harus sering-sering bertanya ke penduduk sekitar. Akhirnya setelah beberapa lama kami memasuki hutan dengan jalan yang sempit dan berliku. Hujan gerimis pun ikut mewarnai perjalanan kami. Kulihat sejenak jam tanganku, what! Ternayat sudah jam tiga sore. Kami berjalan sudah cukup jauh dan Nawangan belum juga terlihat. Mau bertanya tapi tidak ada satu pun orang, karena memang di hutan.

Kami pun bertekad meneruskan perjalanan, kira kira dua kilo kemudian, kami bertemu penduduk sekitar yang sedang mencari kayu. “Nyuwu sewu Pak, Patung Sudirman teseh tebih mboten njih?” saya bertanya apakah patungnya masih jauh. Sang bapak menjawab, “Teseh tebih mas, niki nembe sepaleh, mengke menawi balik saking mriko atos-atos njih, amargi mboten wonten lampu kirang langkung sepuluh kilo amargi ten alas (Masih jauh mas, ini baru setengahnya dari kota Pacitan, nanti kalau balik dari sana hati-hati ya, karena tidak ada lampu kurang lebih 10 km karena di hutan)”. Aku tertegun sejenak, kulihat wajah adikku yang tidak pernah melakukan perjalanan seperti ini, wajahnya pucat pasi. Kalau mengikuti leksikon kamus traveler Hifatlobrain, maka adikku ini termasuk genre Happy Traveler. Dia bukan tipe petualang.

Kutanya dia, “Gimana Yu? Masih mau lanjut?” Adikku langsung menjawab,”Balik aja Mas, daripada nanti pulangnya resiko,” Katanya sedikit memelas. Akhirnya kuputar balik Supra X125 milik adikku, dan kegeber secepatnya untuk balik ke kota Pacitan.

Sampai di kota Pacitan sudah hampir jam 4.00, males kalau mau balik ke penginapan. Akhirnya kuarahkan motor ke rumah Pak SBY yang tak jauh dari pusat kota Pacitan. Rumah yang tak terlalu besar tapi terkesan adem, sayangnya kami hanya bisa sampai di pendopo depan saja dengan melihat beberapa koleksi foto Pak SBY, karena kamar yang dulu ditempati Pak SBY sedang terkunci rapat. Kami sempatkan sekalian untuk sholat Ashar di mushola depan rumah Pak SBY. Selesai sholat, jam di tanganku masih menunjukkan pukul 4.20, akhirnya motor kuarahkan ke Pantai Srau, arah barat daya kota Pacitan. Tapi karena perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya kami berhenti sebentar di warung seafood dekat pantai Teleng Ria.

Kediaman masa kecil SBY di Pacitan

Aku memang sengaja tidak ke Pantai Teleng Ria, karena menurutku sudah terlalu kotor dan touristy. Setelah kenyang, perjalanan kami teruskan ke Pantai Srau, butuh 30-40 menit perjalanan dari kota Pacitan. Jalan menuju Pantai Srau berkontur sempit dan berliku, sudah beraspal tapi bergelombang, tidak ada pilihan lain, karena ini memang jalan satu-satunya menuju kesana. Sapaan ramah penduduk desa mengiringi perjalanan kami menuju pantai Srau. Sekitar jam 5.15 akhirnya kami sampai di Pantai Srau, pantai berpasir putih bersih dan lembut dengan hiasan batu cadas yang menarik hati. Sore itu hanya kami satu-satunya wisatawan di pantai ini. Serasa pantai pribadi.

Pemandangan di Pantai Srau

Motor aku parkir disisi pantai, dan kuputuskan untuk berjalan menyusurinya. Sesekali kujumpai kapal nelayan yang hendak berlayar ke tengah. Garis pantai yang panjang seolah tidak ada ujungnya. Kucoba melihat sunset di Pantai Srau, tapi usahaku sia-sia, karena ternyata sunset di pantai Srau hanya bisa dilihat dari atas cadas yang menjulang tinggi di bagian selatan. Dan kulewatkan begitu saja sunset di pantai Srau. Perjalanan balik ke kota Pacitan sedikit menyeramkan, selain masih minimnya lampu penerangan jalan, sepinya jalan-jalan di sekitar hutan di Pacitan membuat bulu kudukku berdiri, sepanjang jalan kami hanya berpapasan dengan beberapa truck saja.

Jam 7 malam akhirnya kami sampai di penginapan, setelah mandi kami pun berniat untuk mencari oleh-oleh makanan khas Pacitan untuk keluarga dan teman-teman di Solo. Suasana malam di Kota Pacitan bisa dikatakan seperti kota mati. Sangat lengang. Kusempatkan mencari ATM BCA di kota ini, saat kutanya pada penduduk ternyata tidak ada kantor BCA pembantu dan ATM BCA di kota ini. Hanya terdapat ATM BNI, BRI dan Bank Jatim. Uang di dompet hanya tinggal dua lembar mata uang Indonesia berwarna biru dan beberapa lembar ribuan. Untung disaat seperti ini, adikku membawa ATM BNI miliknya. Kami pun akhirnya bisa membeli beberapa jenis makanan khas Pacitan.

Jam 9 malam, perut mulai minta diisi lagi, aku dan adikku coba mencari café di kota kecil ini. Ternyata cukup sulit. Setelah 15 menit kami berputar-putar akhirnya kami menemukan café tempat mangkalnya eksekutif muda dan ABG alay kota Pacitan. Menurut pelayan café, memang benar café ini hanya satu-satunya di kota Pacitan. Menu makanan bisa dikatakan lumayan lengkap, tapi jangan dibandingkan dengan menu di café-café di Solo atau Jogja, karena menu disini lebih terkesan menu rumah makan. Harganya pun tidak terlalu mahal, 1 mangkok tom yam hanya dihargai Rp 15.000. Café ini menyediakan layanan hotspot, sayangnya café ini hanya buka sampai jam 11 malam, terlalu sore untuk ukuran sebuah café.

Jet Sky Cafe, satu-satunya di Pacitan

Esoknya, kami sudah dibangunkan oleh pihak penginapan yang mengantarkan sarapan pagi. Lalu sibuklah kami untuk packing dan mandi. Tepat jam 9.30 kami meninggalkan penginapan. Masih ada dua pantai lagi yang akan jadi penjelajahanku hari ini, jalurnya sudah kutentukan karena sekalian perjalanan pulang.

Pantai Watu karung menjadi target berikutnya. Jalan yang dilalui sama dengan arah Pantai Srau, hingga pertigaan jalan yang memisahkan Pantai Srau dan Watu Karung. Jalan sempit, berliku dan tanjakan-turunan curam seolah menjadi bagian dari perjalanan kali ini. Butuh waktu kurang lebih satu jam dari kota Pacitan untuk ke Pantai Watu Karung. Pantai ini berpasir putih layaknya Pantai Srau, Pantai Watu Karung langsung bersebelahan dengan pemukiman penduduk. Setiap hari di sini juga digunakan sebagai pelelangan ikan. Kapal-kapal nelayan pun berjejer di pantai. Batu cadas di tengah pantai Watu Karung menjadi daya tarik sendiri. Kami tidak lama di pantai ini karena bau amis dari hasil tangkapan kapal nelayan membuat kami tidak betah.

Pemandangan di Pantai Watu Karung

Target penjelajahan berikutnya adalah Pantai Klayar. Kami sempat bertanya ke penduduk di Pantai Watu Karung, ternyata ada dua jalan menuju pantai Klayar dari Pantai Srau. Pertama, balik ke pertigaan yang memisahkan Pantai Srau dan Pantai Watu Karung trus ambil jalan ke arah Donorejo, setelah itu ikuti petunjuk jalan menuju Pantai Klayar, jarak hampir 35 km atau sekitar 1,5 jam. Sedangkan jalan yang ke dua, menyusuri jalan tembus Pantai Watu Karung dan Pantai Klayar, kata penduduk tersebut jaraknya lumayan lebih dekat, hanya 20 km saja tapi dengan jalan sempit, berbatu, serta turunan dan tanjakan tajam.

Akhirnya kami pun memilih jalan yang kedua. Naluri adventure saya terpanggil. Sepuluh kilo pertama dari pantai Watu Karung menuju Pantai Klayar, masih bisa kami kuasai. Hingga tiba-tiba, what! kami sempat tertegun menatap jalan yang ada di depan kami, jalan dengan lebar hanya sekitar 1,5 meter hanya tepi kanan dan kirinya jurang berbatu cadas yang sekilas terlihat ganas. Kondisi jalan tidak mendukung sama sekali, jalan berbatu dengan tanjakan dan turunan yang berliku. Oh Tuhan, kenapa kami pilih jalan ini. Penyesalan sedikit hinggap di hatiku.

Akhirnya kugantikan posisi adikku di depan sembari mengucap bismillah. Ternyata setelah melakukan berbagai manuver gaul, jarak sejauh lima kilo kami lewati. Akhirnya adikku menggantikan posisiku di depan. Tikungan dan turunan pertama dan kedua dilalui dengan aman. Tibalah saatnya tanjakan curam dengan jalan berbatu dan jurang di sebelah kiri, dan gedubrakkk. Kami pun jatuh karena ban motor kami tergelincir batu, adikku sempat terperosok hampir tiga meter dari bibir jalan, aku lebih beruntung karena hanya jatuh di pinggir jalan. Sebelum adikku jauh terperosok, kubantu dia untuk naik keatas, beberapa bagian tubuhnya lecet-lecet. Hingga kucium bau bensin, yang ternyata dari motor kami, langsung buru-buru kuangkat motor dan kami kembalikan ke jalan. Cukup berat karena jalan menanjak dan, shit! Motor kami tidak mau distarter. Tidaaak. Adikku yang bertipe happy traveler semakin menunjukkan muka masamnya.

Medan menuju Pantai Klayar

Kami beristirahat kira-kira sepuluh menit sambil mengecek dan mendinginkan mesin motor. Aku berjalan kearah lain sambil menyalakan rokok, kulihat adikku sedang sibuk mengecek kondisi laptopnya yang tadi ikut jatuh. Rokok habis, kucoba lagi menyalakan motorku, dan alhamdulilah motor kami bisa jalan lagi.

Adikku sempat bertanya,“Masih nekad terus cari Pantai Klayar, mas?” Dengan semangat kujawab,”Ya, tentu,” dan adikku hanya bisa melenguh pelan. Jalan-jalan berbatu kembali menjadi makanan kami. Hingga akhirnya kami sampai di Pantai Klayar tepat saat tengah hari.

Pantai yang indah dengan pasir putih yang lembut, dan subhanallah, kulihat dari jauh di sebelah timur dari pantai ini terlihat bebatuan coral yang indah. Kubiarkan adikku beristirahat di pinggir pantai sambil berteduh dibawah pohon kelapa. Kubiarkan kakiku melangkah kearah timur sambil menyusuri panasnya pasir di Pantai Klayar. Degradasi warna hijau, biru muda dan biru tua dipermukaan laut manambah indahnya pantai ini. Benar-benar indah, bahkan tak kalah indah dengan pantai di James Bonds Island atau Maya Bay, di Phuket, Thailand.

Pantai Klayar

Bebatuan coralnya yang terpampang gagah di hadapanku begitu indah. Kucoba menaikinya dengan hati-hati, semburan kerasnya ombak ikut membasahi badanku dan wow, sesampainya di atas pemandangan laut lepas begitu luar biasa terpampang di hadapanku. Terlihat samar-samar adikku jauh dibibir pantai. Kucoba meneruni coral ini dan berpindah ke coral lainnya. Sempat kutemui beberapa penduduk yang sedang memancing di atas bukit coral ini. Mereka bilang, ada seruling laut di pantai ini. Mereka menunjukkan tempatnya, tapi sayangnya ombak di pantai ini tidak seperti biasanya semburan air. Dari balik batu tidak kutemukan dan suara yang keluar dari bebatuan hanya sayup-sayup kudengarkan. Kucoba menunggu sepuluh menit, kali aja keberuntungan berpihak padaku dan ahh sial, setelah 10 menit, tidak ada semburan air mancur dari bawah coral itu.

Udara panas dan haus membuatku kembali menuju bibir pantai tempat adikku menunggu. Kulihat ada muara sungai yang tenang di bibir pantai ini. Pantai ini memang benar-benar bagus.

Bu Sukiyem, pemilik warung makan itu menyapaku ramah,”Pesan mie goreng juga mas? Adikknya sudah pesan lho,” Kulihat adikku sedang menikmati mie goreng buatan Bu Sukiyem dengan rakusnya. Emm rasa lapar ini memang tidak bisa menghentikanku untuk memesan mie goreng juga. Sejenak kami terlibat dalam percakapan dengan bu Sukiyem, bahkan beliau menawarkan pada kami apabila suatu saat nanti ke Pantai Klayar dan berniat bermalam, bisa memakai rumahnya untuk bermalam. Bu Sukiyem pun bercerita pada usianya yang hampir 50 tahun, beliau dan suaminya belum pernah ke kota Pacitan. Ironis memang, tapi begitulah keadaanya. Kami pun sholat dhuhur di mushola pantai, katanya tempat ini kadang digunakan bermalam para traveler yang kemalaman. Maklum di kota ini belum ada penginapan. Jam 2.30 siang, akhirnya kami pun berpamitan dengan Bu Sukiyem dan suaminya.

Medan jalan yang menantang pun kembali kami hadapi, rencana untuk membeli batu akik di daerah Donorojo pun kami batalkan karena kami ingin segera pulang. Jam lima sore, akhirnya kami sampai di rumah, setelah melakukan petualangan dan perjalanan yang cukup menantang. []

3 comments:

Demhank said...

Mas...
Sebagian nanti aku minta gambar2-nya ya....
Untuk referensi aku...
Sebab duluuu kadang ada gambar yang belum sempat ke ambil...
matur suwun...

Arty Voicelost Angelic said...

Detail bgt ya ms?sya juga ud pnh adventure ke watu karung & klayar bnr" adventure bgt,rsnya prlu pk motor" khusus u/ medn sush hehehe
Sy juga berniat mncrtkn ke blog tapi,sy ta smpt mnyatat/mningt detail" perjlnn itu hehe

SHin said...

Mas, cerita pengalamannya jalan2 bagus sekali. maklum saya juga hobby traveling jd sering cr referensi tempt menarik bwt jalan2