Pages

4/8/10

Jogja Southern Beach Explore


Text and photo by Yusuf Solo


________________________________________________
Kontributor











Yusuf Solo adalah penggiat wisata ala backpacker. Pernah mencicipi indahnya Thailand dan bolak-balik Singapura dengan harga mahasiswa. Saat ini sedang menempuh pendidikan S2 dengan jurusan Pariwisata. Sebagai seorang enterpreneur, ia ingin membangun sebuah jasa tour murah untuk mempromosikan Solo pada dunia. Sebelumnya Yusuf Solo pernah menuliskan kisah perjalanannya ke Wonogiri.

________________________________________________

Tahun baru 2010. Sudah terbayang di benakku sebuah liburan long weekend yang menarik dan menjadi penanda resolusi. Sebenarnya belum punya rencana harus kemana, hingga aku putuskan untuk melakukan tour menyusuri pantai selatan Jogja yang terkenal keren itu. Awalnya saya hanya ditemani oleh Taufiq dan Feri, dua travelmates yang saya banggakan. Tapi mimpi indah liburan akhir tahun kali ini terpaksa hancur lebur karena ada satu penumpang lagi yang memaksa –sekali lagi; memaksa- untuk ikut. Namanya Farida. Memang nama yang indah, hanya sayang, kelakuannya tak seindah namanya! Hahaha. Aku, dan dua travelmates lain, lebih suka memanggilnya amazone girl. Cadas bukan?
Amazone Girl, Feri, Taufiq, dan aku (ki-ka)

Sabtu, 2 Januari 2010 perjalanan kami mulai dari Solo. Berempat kami menunggangi Estillo mungil milik Taufiq. Budget kami adalah IDR 125.000 per orang. Pokoknya, cukup gak cukup harus cukup.

Pantai pertama yang kami tuju adalah Pantai Siung. Banyak aku baca dari blog temen-temen traveler kalau Pantai Siung ini memiliki coral yang bagus. Sayangnya tak satu pun diantara kami berempat yang pernah ke pantai itu. Akhirnya terpaksa kami mengandalkan petunjuk jalan dari aplikasi NokiaMap di Nokia 5800 milik Taufiq. Sepanjang jalan menuju pantai Siung, kami disuguhi pemandangan bukit Wonosari yang menawan. Naik turun bukit dan belokan tajam menjadi warna dari perjalan menuju Pantai Siung. Kami pun sampai Pantai Siung setelah melewati dua setengah jam perjalanan.

Matahari sudah tinggi ketika kami sampai di Pantai Siung. Panasnya menyengat kulit, terasa panas hingga tulang. Tapi suasana itu tidak membuat Farida, si amazon girl, untuk langsung mencicipi segarnya air laut. Sejak mobil kami parkir dia sudah teriak, lalu dalam sepersekian detik ia pun berlari menyambut air. Farida girang bukan main, ia bersorak melihat airnya yang begitu jernih. Suaranya menggelegar membuat burung walet meninggalkan sarangnya di bebukitan cadas Pantai Siung.

Pantai Siung

Keanehan tidak berhenti sampai di situ saja. Hal lain yang cukup mengganggu adalah kostum yang dikenakan Farida siang itu saat bermain air; dia menggunakan selendang panjang seolah ingin ikut lomba menari di kelurahan. Sungguh aneh, aku menduga ada yang salah dengan otaknya. Hahaha.

Melihat pemandangan tersebut membuat aku dan Taufiq malas untuk menceburkan diri ke air. Kami pun memilih berjalan ke arah timur dimana bukit cadas pantai Siung tinggi menjulang. Memang benar kalau para pemanjat tebing menyukai batu cadas di pantai ini. Semburan ombak selama ribuan tahun membentuk relief nan eksotis di bebukitan cadas yang menjadi tantangan tersendiri buat mereka. Menaiki cadas-cadas tinggi dan menikmati deburan ombak yang mengenai tubuh membuat kami lupa sejenak dari panasnya hawa di Pantai Siung.

Tujuan berikutnya adalah pantai Wedi Ombo, tak butuh perjalanan lama dari Pantai Siung, hanya 15 menit. Pantai ini memang memiliki hamparan pantai yang luas, tapi sayang sampah bertebaran di pasir putihnya. Bisa jadi karena tidak ada tempat sampah atau memang minimnya kesadaran para pengunjung terhadap kebersihan. Kami hanya berjalan menyusuri hamparan pasir pantai Wedi Ombo sembari melihat nelayan memanen rumput laut. Kami bersandar sejenak di bawah pohon sambil menikmati semilir angin Pantai Wedi Ombo.
Pemandangan di sekitar Pantai Wedi Ombo

Pantai ini memang tidak terlalu ramai, beberapa pengunjung menyusuri Pantai Wedi Ombo sampai ujung hamparan pasir putih, tapi kami tidak melakukankannya karena keadaan perut kami yang keroncongan sehingga memaksa kami untuk meninggalkan Pantai Wedi Ombo secepatnya.

Sembari mencari persinggahan baru dan warung makan, kami melewati sebuah pantai yang menurut kami awalnya tak bernama. Mobil kami parkirkan, dan kami berempat bergegas keluar, subhanallah, ternyata pantai ini begitu indah, hamparan pasir putih membentang seluas mata memandang, gradasi warna biru muda dan biru tua menghampar luas di pantai ini, batu cadasnya yang menjulang dengan relief-relief cantik seakan menambah pesona pantai ini. Penjelajahan menaiki batu cadas dan menyusuri pantai ini menjadi agenda utama, berenang dan bermain ombak di pantai seolah menghilangkan kelelahan perjalanan kami dan perut kami yang keroncongan seolah terlupakan dengan keindahan pantai ini. Selama satu jam kami menikmati pantai ini dan seperti pantai pribadi karena hanya kami berempat yang berada disana. Sekali lagi perut kami yang keroncongan memaksa kami untuk meninggalkan pantai ini.

Perjalanan kami teruskan menuju pantai Kukup, yang menurut Farida pantai paling indah di sepanjang deretan Pantai Selatan Jogja. Sampai di pantai Kukup niat kami untuk mencari makan mendadak sirna. Anda tahu mengapa? Karena ternyata pantai ini sangat ramai dan penuh sesak pengunjung, hingga membuat kami malas untuk mengeksplor pantai ini lebih jauh. Tubuh kami semakin lemas. Saya, Taufiq, dan Feri yang merupakan manusia biasa menjadi sangat loyo. Tulang belulang kami seakan menghilang entah kemana. Lemas.

Tapi Farida tidak. Wanita aneh ini masih sangat powerful, bahkan untuk mengangkat lima karung goni juga dia pasti masih sanggup. Dia memang wanita monster.

Tak terasa hari beranjak sore, kami butuh makan dan tempat bermalam. Saya mencoba menyusuri jalan-jalan menuju Pantai Krakal untuk mencari penginapan, tentu saja yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Akhirnya setelah berputar-putar, pilhan kami jatuhkan pada Wisma Krakal Indah. Resor sederhana ini terletak di atas bukit pantai krakal, memiliki view lumayan bagus, dimana selepas mata memandang terhampar Pantai Krakal yang ramai dengan pengunjung. Tempatnya juga lumayan nyaman dan bersih untuk kami berempat. Akhirnya, setelah nego dengan penjaganya, kami mendapatkan harga sedikit miring. Hehe kami memang jago sekali untuk urusan ginian.

Setelah menaruh tas, tujuan berikutnya adalah mencari warung makan dan kembali melihat sunset di pantai. Akhirnya kami menemukan sebuah warung makan yang menurut kami layak, namanya Paradiso: “The Ultimate Taste of Nature”. Tampaknya si pemilik berusaha mengunakan bahasa Inggris, bahkan di menu yang tersedia. Dalam hal ini kami berempat harus dibuat tertawa dengan penggunaan bahasa Inggris-acak-adul di menu tersebut; mungkin maksudnya pemilik kepengen menulis lemon tea tapi yang tertulis adalah melon tea. Parahnya kejanggalan seperti itu tidak hanya satu, tapi banyak!

Setelah menyelesaikan makan, perjalan pun kami teruskan untuk melihat sunset di pantai. Kami baru tahu bahwa pantai itu bernama Indrayanti, yang menurut saya namanya sangat mirip dengan seorang penjual pecel.

Pantai Indrayanti
Beruntunglah kami sampai di pantai itu pas sunset, sesi foto pun dimulai. Sementara aku dan Taufiq sibuk memotret sunset, Farida sudah berenang liar di pantai Indrayanti, teriakan girangnya seolah memecahkan keheningan di pantai itu. Biota-biota laut yang kebetulan lewat pun menemui ajalnya dengan percuma karena mendengar teriakan di Farida. Lagi-lagi pantai ini tercemar dengan kehadiran Farida. Tapi tak apalah, pantai ini akhirnya menjadi pantai pribadi buat kami berempat. Berenang sepuasnya sampai tak terasa sudah jam 8 malam. Pasang air laut dan dinginnya air, memaksa untuk menghentikan kesenangan kami bermain air di pantai Indrayanti.
Pemandangan di sekitar Pantai Indrayanti

Akhirnya kami berjalan ke tepi sembari mencari kamar mandi. Ternyata di bibir pantai Indrayanti terdapat warung makan dan rumah pantai yang bisa dipakai untuk menginap. Sebenarnya kami pengen bermalam di rumah pantai itu, tapi kami sudah terlanjur pesan kamar di Wisma Krakal Indah. Akhirnya kami pulang saja, merayakan euforia kami yang girang setengah mati.
Sunset di Pantai Indrayanti

Malam terasa panjang di Wisma Krakal Indah. Dari kejauhan hanya terdengar deburan ombak Pantai Krakal dan suara binatang nocturnal yang hidup di malam hari. Kami pun akhirnya sepakat untuk menghabiskan waktu dengan bermain kartu, hingga kami mengantuk dan terlelap dalam tidur yang nyenyak. Sebelum tidur saya berdoa: Ya Tuhan, semoga mimpi saya bebas dari bayang-bayang Farida.

***

Pagi pun datang. Kami harus check out dan berangkat lagi ke Pantai Indrayanti. Sampai di sana, suasana masih sepi, burung-burung laut yang berterbangan seakan menyapa dan mengucapkan selamat pagi pada kami. Dalam sepersekian detik kami langsung berlari dan berenang kembali di Pantai Indrayanti. Hanya saja kesenangan kami tidak berlangsung lama, sekumpulan remaja labil dengan dandanan lebay bajaj berdatangan. Secara berombongan akhirnya juga ikut menceburkan diri di jernihnya air pantai ini. Kami yang sok eksklusif ini pun memilih bergeser ke arah lebih timur dari pantai ini, agar kesenangan kami tidak terganggu.

Waktu beranjak siang, matahari mulai panas menyengatku. Barangkali itu adalah tanda bahwa kami harus mengakhiri petualangan kami di pantai nan indah ini. Makan pagi pun kami pesan di warung makan pantai itu, harga tidak terlalu mahal, berempat kami hanya mengeluarkan Rp 42.000 dengan aneka makanan yang beragam. Humm yummy! Setelah makan kenyang dan hati senang, kami kembali. Dalam hati aku berkata, suatu saat aku akan datang ke pantai ini lagi. Tanpa amazon girl tentu saja. []

PS: Ada sedikit informasi tambahan yang berguna dalam menyusuri pantai selatan Jogja. Bagan informasi ini dibuat oleh Yusuf Solo.

5 comments:

sisca said...

mas..
aku tertarik banget tuh sama tulisannya tentang pantai indrayanti n pengen banget nginep disana, boleh minta info gak cp pemilik penginapannya??
makasih banget ya..
sisca

Info Wisata said...

sory sisca, cp yang punya rumah pantai hilang, krn hp yang buat nyimpen cpnya hilang.
untuk ke indrayanti tidak susah, susuri aja dr pantai krakal menuju pantai siung.
kurang lebih 20 menit arah timur dr pantai krakal

Traveling said...

bagus juga nih blog sharing tentang pantai indrayanti juga.

saya bulan juni kemarin juga habis ngetrip ke pantai itu.

@ sisca : ini no.cp yg punya pantai
Bp Arif Rahman
081 727 9545 / (0274) 554618

please visit to my blog.

Ayos Purwoaji said...

Makasih sudah berbagi di blog ini! Keep traveling...

Anonymous said...

Infonya mantab! :) kalo kontak untuk pengurus di Pantai Siung punya gak Mas? thx bfore...