Pages

4/7/10

Over Sunday



Hari minggu yang lalu saya tidak turut ayah ke kota naik delman istimewa. Saya hanya ada di Surabaya. Kebetulan ada acara street hunting bareng National Geographic Indonesia. Saya mendaftar duluan, jadi bisa masuk kuota yang hanya 20 orang (kalo nggak salah). Kami berkumpul di Kantor Pos Besar di seberang Tugu Pahlawan. Hari minggu pagi, daerah di sekitaran Tugu Pahlawan adalah pasar dadakan. Jadi bisa kalian bayangkan bagaimana macet dan ruwetnya kondisi di sana. Semua barang ada. Baju bekas, gorengan, mainan murahan, casing hape Cina, kelinci, sampe obat herbal.

Kami berkumpul untuk briefing. Ada dua staff NGI yang hadir: Mbak Manggalani Ukirsari, text editor untuk NG Traveler, dan Mas Reynold Sumayku, fotografer NGI.

Semua peserta tampak sumringah, apalagi kaos merah marun yang menjadi seragam wajib para peserta disablon logo NG yang berupa kotak kuning legendaris itu. Kami, para peserta pun menjadi sedikit jumawa -ehm, sebenernya cuman saya doang sih hehe.

Kami di bagi dua kelompok, masing-masing kelompok memiliki trek yang sama mengitari Tugu Pahlawan, Gereja Santa Maria, Jembatan Merah, dan kota tua Jalan Gula. Saya masuk kelompok B, jadi satu dengan Bondan, sahabat saya dari Jogja, dan Skan, soulmate traveling Dwi Putri.

Peserta hunting bareng NGI, Surabaya.

Kami berjalan berkelompok membelah kerumunan orang di pasar tumpah. Sangat menarik bagi saya, apalagi sudah lama saya tidak hunting liar seperti ini. Jujur saja, saya sangat menikmati acara ini. Kaos peserta yang berwarna norak menghindarkan saya dari hilang arah dan terpisah dari kelompok.

Saya mengabadikan banyak gambar dari kamera mungil Nikon yang saya pasangi lensa Nikkor MF 50mm. Banyak hal yang menarik yang saya bidik. Sampai di rumah saya memilahnya kembali. Dan saya kompilasikan menjadi sebuah ebook dengan format PDF. Kovernya berwarna merah marun, sama seperti warna kaos seragam saya pagi itu. Gambarnya seorang ibu yang bingung mencari dompet di dalam tas jinjingnya. Saya bidik ibu itu secara candid. Ia tidak sadar, dan lebih suka larut dalam kebingungannya sendiri. Potongan rambut yang antik dan jepit rambut diatasnya menarik perhatian saya. Gambar ibu ini mengingatkan saya akan sebuah masa. Mungkin di era akhir 80-an.

Saya hanya mau bilang dua hal: terima kasih -untuk NGI yang sudah bikin acara ini, dan selamat menikmati.

7 comments:

Anonymous said...

weww foto2nya semakin berjaya!
btw mas, gimana caranya bikin slide seperti ituu?
-journalkinchan-

Hilmy Nugraha said...

fotonya bagus2 mas ayos...

saya suka..

lutfiana said...

nas ayos...
ajari bikin slidenya!!

Ayos Purwoaji said...

@ Kincung dan Lutfi:
Gampang saja, kalian bikin layout di CorelDraw, trus save as PDF. Habis itu upload aja di Scribd. Linknya taruh di blog, tapi link embed, jangan link URL.

skan said...

hmmmmm....
bru baca yoz..
koq kyknya awal kalimat kata2nya sama kyk notesq y? hehe
well, a nice sunday...
n guess what,,, putri brkali2 sms dgn nada amat sangat iri....hehe

pyut said...

ooo... baru tau ada ini... ini kan yang aku ga diajak itu ya...

poor me...

Agung S Rohutomo said...

kalao ada acara kayak gini lagi ajak aku dong