Pages

4/20/10

Rann: Truth is Terrible



Film India yang hadir tanpa balutan tari dan materi yang di luar ekspektasi.

Sejak My Name is Khan, pandangan saya tentang film India sedikit berubah. Harus saya akui kualitas film dari negeri para inspektur ini sudah berevolusi menjadi sangat baik. Tentu saja ini bukan surprise yang luar biasa, tahu kan kalo India adalah penghasil film nomor satu di dunia. Produktifitas mereka sungguh tidak perlu diragukan. Hanya saja satu yang masih saya sayangkan, yaitu scene tarian yang menghiasi alur cerita. Bukan, bukan saya anti, tapi memang nggak enak aja rasanya kalau saat menonton film dan mencapai puncak tiba-tiba dipotong dengan tarian aneh dan kostum yang sangat dangdut. Sangat Ellya Khadam. Bisa saja mereka bilang kalo tarian itu adalah signature mereka, khas film India, dan sah juga bila saya katakan saya tidak suka.

My Name Is Khan masih ada tarian. Slumdog Millionaire juga ada. 3 Idiot pun demikian, malah lebih parah. Rann, alhamdulillah saya tidak menemukan tarian annoying tersebut.

Film ini -jujur saja- di luar perkiraan saya. Sangat cerdas dan harus saya akui kalo saya suka banget sama alur ceritanya. Kritis dan faktual. Menyentuh kehidupan gelap media yang memiliki relasi erat dengan kuasa. Ini adalah cerita tentang pergulatan politik kotor India yang melibatkan media -TV khususnya- sebagai alat untuk membentuk opini publik. Ingatan saya jadi kembali pada kasus yang menimpa TVOne dan Indy Rahmawati beberapa hari lalu, saat terjadi kasus narasumber markus palsu yang hadir ke ruang redaksi. Nah, Rann mengangkat hal yang sama. Bedanya di Rann adalah tentang sebuah video fiktif yang menjadi barang bukti penyimpangan jabatan perdana menteri India yang terlibat kasus terorisme. Masalahnya, video fiktif tersebut adalah buatan anak Amitabh Bachchan, pemilik channel TV India 24/7 yang dikenal memiliki reputasi sangat baik di dunia jurnalistik.

Segala intrik pun mengalir dengan natural. Menariknya, setiap pemain memiliki kadar masalah dan kepalsuan yang seimbang: politisi yang bengis namun aktor yang baik di atas mimbar, pengusaha yang tamak tapi sekaligus ketakutan, raja media yang bermuka dua, dan pemuda labil namun ingin tampak gagah. Ini gila, dan membuat saya terus berpikir bagaimana caranya membuat naskah dimana semua pemain tampak bajingan dan manusiawi dalam waktu yang sama. Saya jadi ingat perkataan Pramoedya Ananta Toer dalam Bumimanusia;

"...Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput..."

Tentu saja tidak seperti script kacangan film Indonesia yang masih memegang teguh ajaran klasik tentang oposisi biner. Pemeran protagonisnya kelihatan sangat baik dan tanpa cela. Lebih cenderung kasihan dan sering disiksa, dipukul rotan lah, disiram susu lah, disuruh beli nasi Padang lah. Sedangkan yang antagonis pun berperan bengis habis-habisan. Senyum adalah haram. Katrok banget kan?

Dalam Rann, watak pemain juga diekspos sangat baik oleh Ram Gopal Varma, sang sutradara. Apalagi sudut pengambilan gambar yang tidak monoton -bahkan menurut saya eksperimental pada beberapa bagian- semakin mengukuhkan saya untuk menulis note jam tiga pagi. Memang kurang kerjaan, diantara tugas akhir yang bertumpuk ingin dikerjakan tapi saya masih sempat-sempatnya nulis review yang bahkan nggak bikin saya lulus cepat. Memang saya bodoh, kalo saya pintar tentu saja saya lulus cepat. Tapi, di luar perdebatan saya lulus kapan, ini merupakan film India yang bagus. Sangat jarang film di Indonesia yang menyorot hal kritis semacam ini. Padahal tentu saja riset tentang film politik itu sangat mudah, lha wong materinya selalu jadi headline setiap hari. Justru menurut saya lebih susah untuk membuat film Hantu Casablanca atau Misteri Jeruk Purut, karena objeknya yang kasat mata.

Ada satu adegan yang membuat saya menahan nafas, breathtaking istilahnya -hahaha sok keren. Yaitu pada saat Amitabh Bachchan melakukan permintaan maaf kepada pemirsa karena melakukan kelalaian jurnalistik yang fatal: tidak melakukan ricek materi berita yang ada. Sehinga fungsi media untuk mencerdaskan masyarakat menjadi hablur. Ini turnpoint yang sangat bagus. Sudut pengambilan gambar close up membuat guratan wajah Bachchan menjadi makin kharismatik. Shah Rukh Khan mah ke laut aja. Bachchan adalah aktor dengan wajah paling kharismatik nomor dua setelah Richard Gere, menurut saya.

Saat permintaan maafnya, Bachchan membuat pleidoi yang sangat menyentuh. Ini saya transkrip dari film. No repost for sure!

"But when government and the media in the race to achieve power, strike a deal amongst themselves. News are no longer reported, but created. Then whom should the public place their trust on?"

Film ini mendapat rating 7.2/10 di IMDB. Sebuah angka yang cukup bagus mengingat film pemenang Oscar, The Hurt Locker hanya meraih 7.9/10 di situs yang sama. Tapi sekali lagi saya tidak yakin apakah film Rann ini akan masuk jaringan 21. Enjoy!

PS: Makasih buat Fajjar yang udah menyuplai film bagus ini. Review ini didedikasikan untukmu.

18 comments:

fajjar_nuggraha said...

kamu membuat film, aku juga membuat film. Kalau film mu berdurasi panjang dan disebut film. Film ku hanya 5 menit dan itu disebut "news"

pyut said...

film india tanpa inspektur vijay, bagai sego sambel tanpa sambel...
njaluk, om!

Ayos Purwoaji said...

@ fajjar: hehe apal nih!
@ pyut: bagai pratap singh tanpa kumis. iya kalo dah di sby tak kasih :)

Giri Prasetyo said...

perfilman india memang meningkat pesat beberapa tahun ini mas...ya dari sinematografi, sampai cerita. tidak mendayu2 melankolik ndak jelas kayak dulu. saya anti nonton film india sampai kehadiran Slumdog (walaupun 60% kru bukan asli India). sinematografinya itu lho, sedapp dipandang mata (sampeyan yang fotografer juga paham, bahwa sinematografinya bukan sekedar menceritakan, tapi sekaligus mengindahkan scene), permainan flare, bokeh, sampai moving cameranya. saya stupidly yakin kalau itu film dibikinnya pake 5D MkII, tapi tidak mungkin buat industri sebesar itu.hehe...lalu dikagetkan lagi dengan munculnya si Khan itu. pembuatnya adalah sutradara film terlaris sepanjang masanya bollywood, yang 8 tahun filmnya diputar di bioskop india sebagai penghargaan bangkitnya perfilman india sejak itu, judulnya Kuch-Kuch Hota hai(tulisannya bener gitu ga ya, saya benci film ini, ada tariannya juga soalnya)

Indonesia, gimana perfilman indonesia???

Ayos Purwoaji said...

@ giri: sini gir, filmu aku review! mask punya film kok malah diumpetin. gak seru!

Giri Prasetyo said...

filmnya masih dikantor SET jakarta mas...hehehe.kita minta juga ndak boleh.payah!

aku yang editor aja punya yang versi youtube, soalnya dulu editing kan di kantor SET.makanya ini mau ta susun ulang dari awal buat crew.

Ayos Purwoaji said...

@giri: ditunggu om :)

Rudi B. Prakoso said...

Perfilman Indonesia boleh berguru pada industri film India. Memang film kita banyak mengulas dunia lain, hantu, horor yang tidak membuat orang takut tapi malah tertawa karena kelihatan bohongnya. Tapi kadang ada beberapa film Indonesia yang baik dalam hal skenario, pemain, sinematografi lihat saja Cau Bau Khan ( kalau g salah ejaan ) film ini menurut saya WOOOWW Kerennnnn, Pasir berbisik, yang menampilkan gambar yang menurut saya sangat indah mungkin cukup 2 saja soale banyak juga yang menurut saya bagus. Khusus Film India memang perlu diacungi jempol untuk kualitas produksinya, sebut saja Devdas yang senimatografinya yahuuttt abiss, Provoked - nya Aiswarya tidak ada tarian, akting Aiswarya keren abis. Jodhaa Akbar, klasik tapi memikat. The Mistressof Spices cerita mengharu biru khusus film ini Aiswarya sedikit bermain "berani" dan masih banyak film-film berkualitas lainya. Satu dari saya " Maju terus film Indonesia ".

Ayos Purwoaji said...

Tampaknya mas Rudi ini pemerhati film India sejati.
Bagi ilmunya om!

Rudi B. Prakoso said...

Heee heee.. kalau saya sih semua jenis film suka, entah itu dari negeri sendiri sampai film negeri orang. Terutama film animasi, dan film-film dengan kualitas sinematografi yang kerennnn. Sebagai contoh film Sleepy Hollow, menurut saya weee keren abis ( Tim borton memang sutradara kelas wahit film-filmnya pasti detail banget), Pixar tidak komentar lagi...best of the best, khusus Michael Bay sutradara satu ini berani menampilkan adegan closeup dan filmnya menampilkan gambarnya detail banget. Tapi khusus film Trilogy The Lord of The Ring tidak ada duanya dalam industri film manapun. Cukup itu dulu untuk amrik. Indonesia... Garin Nugroho tidak ada komentar ini yang terbaik di Indonesia, Riri Reza kuat dalam skenario, Rizal Mantovani walaupun sering memproduksi film horor, tapi detail dan tata lightingnya bagus. Rudi Soedjarwo film-filmnya mudah dicerna. Mungkin cukup itu dulu untuk sutradara..

Ayos Purwoaji said...

Kepada YTh Mas Rudi B Prakoso:
Saya undang untuk nulis di Hifatlobrain mas, dengan tema Film dan Perjalanan. Ini tentang a must see film yang patut ditonton oleh para traveler. Kalo bisa untuk tayang bulan mei, bebarengan dengan riset Mie Ayam dari Bondan Wahyutomo.

gimana mas? please reply to my email: punyaku_3@yahoo.com

Rudi B. Prakoso said...

Waduh kalau film-film terbaru saya sedikit terlambat, soalnya saya tinggal di Kota Jember - Jawa Timur yang masih belum punya gedung bioskop sekelas 21, jadi kalau mau lihat film nunggu VCD atau DVD aslinya keluar di peredaran. Kalau harus buat review film-film baru...heee....heee..... maaf seribu maaf. Tapi kalau untuk film-film radak lama dan sudah beredar VCD atau DVD boleh lah...

Ayos Purwoaji said...

@mas rudi:
wooh santai saja mas, film lama gak papa, pokoknya yang berbau traveling dan adventure. bisa dari berbagai jenis genre. pokoknya yang asik dan menggugah orang buat traveling.

contoh film lama: 7 years in tibet, kun dun, le grand voyage, atau into the wild.

oke oke. hehehe.
kita saling berbagi mas di sini.
enjoy and welcome to the club!

Dwi Putri Ratnasari said...

ayose, mintain provoked ke mas di atas...
apik iku...

ayo barter sama keramat :)

Ayos Purwoaji said...

@ pyut: yo ntar cari donlotannya aja.
@ mas rudi: mas rudi, ini putri. putri, ini mas rudi. kaliam berdua adalah movie addict, silahkan berkenalan.

Rudi B. Prakoso said...

@ Mas ayos : hee .. heee.. terima kasih ada teman baru Dewi Putri. Ada film dokumenter produksi Disney "Oceans" sepertinya keren abis nih film. Sayang tidak bisa nonton di 21, harus nunggu beberapa bulan lagi untuk DVD-nya.

@ Dwi P : Kalau Provoked-nya Aiswarya DVD udah keluar. Kalau Keramat memang belum lihat sih filmnya, soalnya film dengan genre seperti ini masuk pilihan yang sedikit dibawah dari pada film yang lain. Maaf lho ya.... jauh dibawah Laskar Pelangi sama Sang Pemimpi.

Dwi Putri Ratnasari said...

@ mas Rudi: waaah ya jangan dibandingin ama laskar pelangi to, mas...
genrenya kan beda...
nah, setau saya film horror paling buagus dan bikin saya ngga bisa tidur berhari-hari ya cuman Jelangkung. Selain yang itu, ngga ada lagi, horror kampungan semua hehe...
kalo Keramat blom nonton full sih, cuman ngintip2 aja, tapi sepertinya bagus dan aura mistis daerah pesisir pantai selatannya berasa banget... tapi ya blom nonton sepenuhnya sih hehehe

Hanza said...

hahahaaa, aku udah liad mz

nonton bareng d kantor
10 jempol buat RANN