Pages

4/9/10

Take A Walk: Surabaya

Teks: Bunga Sarita
Foto: flickr.


________________________________________________
Kontributor











Bunga Sarita adalah seorang mahasiswi aseli Surabaya penggiat turisme. Beberapa bulan pernah magang di Surabaya Tourism Board. Dipertemukan dengan Hifatlobrain di siang bolong, dan langsung ditawari untuk menulis sebuah kolom dalan rubrik Surabaya Heritage Trip. Gadis pecinta Pramoedya Ananta Toer ini ternyata juga suka John Mayer! Hoho. Silahkan cari Facebooknya untuk berkenalan lebih jauh.
________________________________________________

Jujur saja, saya bukan mahasiswa jurusan pariwisata, bukan pula kutu buku pecinta sejarah. Saya cuma “kebetulan” saja sedang magang di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya khususnya Tourist Information Centre, Balai Pemuda. Saya punya tugas menjadi “tourist ambassador” yang punya tugas mempromosikan dan menginformasikan tentang obyek–obyek wisata di kota pahlawan ini. Sialnya siang itu yang datang bukan bule ganteng sekelas Brad Pitt, melainkan mahasiswa buluk dengan tampang lusuh bernama Ayos Purwoaji. Dia pula yang menyodorkan tantangan untuk menulis artikel pariwisata di blog ini. Oke, siapa takut!

Bagi orang yang tidak terlalu paham tentang seluk beluk Surabaya seperti saya, mempromosikan pariwisata bukanlah hal yang mudah. Saya orang Surabaya asli, tapi selama 20 tahun saya lahir dan besar di kota ini, saya juga tidak paham betul seperti apa kota saya ini sebenarnya? Ya mungkin saya saja yang kurang plesir.

Saya masih ingat betul. Hari pertama saya magang, supervisor saya bertanya tentang apa saja obyek–obyek wisata di Surabaya yang saya ketahui. Oh tidaaakkkk! Pertanyaan ini seperti siksaan bagi saya, karena jujur saja saya masih ragu: apakah XXI dan Sutos bisa masuk dalam kategori ini?

Akhirnya, di tengah kebingungan yang amat hebat, saya hanya menyebutkan beberapa. Itu pun -jujur saja- saya menjawab dengan ngawur. Saya kurang begitu ingat apa saja yang saya sebutkan, tapi yang paling saya ingat, saya menyebutkan Pantai Kenjeran di dalamnya. Setelahnya supervisor balik tanya pada saya, “What kind of tourism object that you can find in Kenjeran beach beside the beach itself?”. “Mampus lo!”, saya membatin.

Sial. Lagi–lagi saya harus jujur pada Anda semua bahwa seumur hidup saya hanya pernah pergi ke Pantai Kenjeran tidak lebih dari dua kali; pertama, saat saya masih di dalam kandungan ibu saya yang mana saat itu saya belum bisa melihat bagaimana indahnya Pantai Kenjeran. Kedua waktu semester awal kuliah bersama beberapa teman, itupun merupakan kunjungan yang tidak berkesan.

Akhirnya mau tidak mau saya menjawab dengan jujur pada supervisor saya, “Umm don’t know mam…” Pasrah. Mimik muka saya memelas untuk sedikit mendramatisir keadaan. Hahaha.

Bisa jadi karena rasa iba yang teramat sangat. Mulailah supervisor saya memberi beberapa pidato singkat yang di imbuhi sedikit “extended version” yang berbunyi; “So, right now you should start to read this books ya,” sembari menunjuk setumpuk buku City Guide Free Megazine, Surabaya Tourism Scope, dan lima seri buku sejarah Surabaya lama dengan nama pengarang Dukut Imam Widodo. Belum puas dengan “extended version”–nya beliau menambahkan pula, “And also learn about those brochures”, dengan jari telunjuk yang mengarah ke rak yang berisi puluhan brosur pariwisata. Alamak!

Jadilah mulai hari itu saya dan beberapa teman magang mengunyah buku-buku jahanam tersebut. Dari sinilah pandangan saya tentang Surabaya mulai terbuka. Saya yang tadinya tidak tahu apa-apa tentang kota kelahiran saya ini, lama-lama jadi kagum dan bangga. Kenapa saya bisa bangga? Ini dia ceritanya:

Awalnya saya merasa bahwa kota kelahiran saya adalah kota yang biasa-biasa saja alias STDBGT (standarbanget). Ternyata setelah saya baca, baca, dan baca, kok ya ternyata saya menemukan beberapa fakta yang membuat saya berfikir, “Come on, it’s not that bad!” Begitu banyak obyek wisata yang tidak kalah menarik dari pada kota lain di Indonesia. Saya sebutin beberapa:

House of Sampoerna

Nah kalau yang satu ini merupakan salah satu wisata andalan yang ada di Surabaya. Letaknya yang berada di sekitar Kota Lama membuat tempat ini menjadi the most interesting object to visit! Arsitekturnya yang masih orisinil denan nuansa kolonialisme membuat gedung ini semakin terlihat “luxurious”, saya jamin tidak akan rugi mengunjunginya!

Kalau dari berbagai buku yang saya baca, House of Sampoerna (HoS) merupakan museum rokok. Tapi menurut saya tempat ini bukan sekedar museum rokok, tapi lebih tepatnya museum entrepreneur. Karena memang di dalam museum ini terdapat banyak peninggalan dari keluarga Liem Seeng Tee pemilik PT Sampoerna Tbk yang merupakan salah satu perusahaan rokok terbesar se-Indonesia. Peninggalannya tidak hanya berupa foto-foto saja, namun ada juga furniture, mobil tua, serta gerobak dan kios yang di gunakan saat pemilik masih merintis usahanya dulu. Sangat menginspirasi!

Bagi para pecinta seni, anda juga dapat menikmati galeri lukisan yang terdapat di dalamnya. Bangunan ini terdiri dari tiga bangunan yaitu bangunan utama berupa museum, sedangkan bangunan di sebelah kanan pintu masuk digunakan sebagai café dengan kualitas setara dengan hotel berbintang lima. Sedangkan bangunan terakhir yang berada di sebelah kiri bangunan utama merupakan hunian pribadi sang pemilik. Bagi Anda yang tertarik untuk melihat proses produksi rokok kretek yang masih tradisional Anda dapat pergi ke lantai dua dimana anda dapat menemukan sekitar 2900 pekerja yang semuanya adalah wanita sedang melinting rokok (hand rolling process). Di samping itu ada juga sebuah kios yang menawarkan bermacam-macam souvenir berupa T-shirt, asbak, mug, dan aneka souvenir bertemakan Indonesia lainnya.

Anda juga berkesempatan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di sekitar kawasan HoS dengan mengikuti program “Surabaya Heritage Track” (SHT) yang gratis. Melalui program ini Anda dapat mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Surabaya, terutama di sekitar kawasan Kota Lama. Cukup dengan mendaftarkan diri pada petugas yang ada di HoS, Anda dapat mengikuti tour ini dengan mengendarai bis yang menyerupai kotak sabun. Program ini memiliki dua pilihan waktu yaitu, short tour dengan durasi 1,5 jam dan long tour dengan panjang 2 jam perjalanan. Silahkan pilih.

Jika Anda membawa teman bule, HoS menyediakan beberapa orang guide untuk menemani mereka berkeliling museum atau saat mengikuti SHT. So don’t worry.

Jembatan Merah

Ada tiga cerita yang menjadi dasar penamaan jembatan yang sangat fenomenal ini: Pertama
adalah cerita fabel yang sering dikaitkan dengan munculnya nama kota Surabaya. Mungkin Anda semua sudah sering mendengar tentang kisah ikan Suro -yang lebih di kenal dengan ikan hiu- yang bertarung melawan buaya untuk memperebutkan wilayah kekuasaan meraka di Sungai Kalimas. Syahdan, menurut cerita orang tua dahulu, kejadian itu terjadi tepat di bawah Jembatan Merah yang merupakan muara Sungai Kalimas. Terjadilah pertumpahan darah yang tidak di inginkan itu hingga darah dari kedua petarung tangguh tersebut menodai air sungai di sekitar jembatan dengan merah darah.

Kedua, penamaan Jembatan Merah ini adalah kisah nyata tentang sebuah perang hebat antara arek-arek Suroboyo melawan tentara belanda yang akhirnya menyebabkan tewasnya Brigadier Jendral AWS Mallaby. Perlu saya luruskan di sini adalah letak kematian Jendral Mallaby tersebut, banyak orang salah kaprah dan beranggapan jika beliu tewas tepat di atas jembatan Merah. I would like to say, “You wrong, dude!” Memang benar Jendral Mallaby tewas dalam insiden itu, namun beliau tidak tewas di atas Jembatan Merah, melainkan di Taman Jeyengrono yang berada tepat di seberang Gedung Internatio.

Oke, kembali lagi ke topik utama kita tentang penamaan Jembatan Merah, jadi dalam peperangan antara arek-arek Suroboyo yang terjadi pada tanggal 10 November 1945 itu terjadilah pertumpahan darah yang menyebabkan banyak noda darah tertinggal di sekitar jembatan tersebut sehingga jembatan tersebut di beri julukan “Jembatan Merah”.

Versi terakhir –ini alasannya jauh lebih simpel dan bisa diterima akal sehat- adalah karena besi-besi jembatan diwarnai dengan cat merah, sehingga dinamailah jembatan itu Jembatan Merah. Cat merah sebenarnya merupakan wujud dari kebanggaan para veteran yang tiap tahunnya rajin mengecat besi-besi yang ada di atas jembatan itu dengan meni (cat) berwarna merah sebagai bukti dari perjuangan mereka di masa lalu. Jika menyambangi kawasan ini jangan sampai lupa membawa kamera untuk mengabadikan moment menarik yang mungkin bisa Anda temukan di sekitar tempat ini.

Pantai Ria Kenjeran

Harus saya akui kalau pantai ini jorok, sangat jorok malah! Tapi jangan salah, di sana juga ada obyek yang sangat menarik. Kalau Anda pernah memperhatikan acara – acara wisata di televisi yang menayangkan tentang obyek wisata yang ada di Thailand anda pasti akan takjub melihat patung Buddha empat wajah atau yang biasa di sebut Four Faces Buddha Statue setinggi 9 meter yang berada di kawasan ini. Konon patung Buddha dengan empat wajah juga ada di Thailand, tapi milik Surabaya berukuran jauh lebih besar. Selain itu masih ada juga patung Dewi Kwan Im setinggi 20 meter.

Bagi anda yang tertarik untuk berolah raga, disediakan pula tempat untuk berkuda, skate park bahkan arena go-kart. Belum lagi sajian sunrise di pagi hari yang bisa kita lihat dengan menyewa perahu nelayan yang akan membawa kita ke sebuah gundukan pasir di tengah laut, biasanya nelayan Kenjeran menyebutnya Pulau Pasir. Sebenarnya ini hanya seonggok gundukan pasir di tengah laut yang biasa kita lihat saat air laut sedang surut di pagi hari, tapi berhubung sambil melihat sunrise jadi terasa romantis banget! Dan bagi anda para pecinta kuliner, terutama seafood, tempat ini bisa dijadikan sasaran karena di sekitar jalan menuju pantai ada banyak pedagang lontong kupang yang rasanya maknyuss pemirsaa. Takut alergi? Jangan khawatir, biasanya setiap penjual lontong kupang juga menyediakan es kelapa muda untuk menetralisir alergi Anda. Jadi bisa saya bilang bahwa Pantai Kenjeran ini tidak kalah menarik kok dengan kawasan Ancol di Jakarta maupun Pantai Parangtritis di Jogja.

Tugu Pahlawan

Bangunan yang berdiri tegak menyerupai bentuk paku terbalik setinggi 40,5 meter ini merupankan salah satu icon kebanggaan masyarakat Surabaya. Terletak di Jalan Pahlawan Surabaya, di dalam Tugu Pahlawan juga terdapat Museum 10 Nopember yang di resmikan oleh Alm. Bapak Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000. Museum ini dibangun underground, di bawah tanah. Sengaja dibangun sedemikian rupa agar tidak mengurangi kemegahan Tugu Pahlawan itu sendiri.

Musium yang di bangun tujuh meter di bawah tanah ini memiliki dua lantai dengan interior yang megah. Di lantai pertama kita dapat menyaksikan diorama elektronik serta film-film dokumenter yang mengisahkan seputar pertempuran di Surabaya yang di lengkapi dengan berbagai visualisasi menarik. Terdapat juga hall of fame, gugus patung, koleksi foto, dan rekaman pidato yang di sampaikan oleh Bung Tomo saat membangkitkan semangat arek-arek Suroboyo dalam rangka menghadapi ultimatum sekutu.

Sedangkan di lantai dua terdapat dua ruangan yang berisikan ruang kaca yang menggambarkan beragam peristiwa peperangan yang terjadi di Surabaya dalam rangka perebutan kekuasaan. Tentunya museum ini sangat layak untuk disinggahi serta dapat menambah pengetahuan kita, khususnya bagi warga Surabaya tentang peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Surabaya.

Balai Pemuda

Gedung yang di dirikan sejak tahun 1907 ini awalnya berfungsi sebagai tempat pesta para kumpeni Belanda dengan kasta high class. Di rancang oleh seorang arsitek kenamaan bernama Westamaes, bangunan yang memiliki ciri khas kubah yang menyerupai mahkota raja yang tepat berada di atap bangunan ini awalnya bernama de Simpangsche Societeit. Kalau hari ini anak muda Surabaya suka nongkrong di VerticalSix. Pada zaman kumpeni dulu, Simpangsche Societeit inilah tempat dugemnya. Tapi berhubung zaman itu belum ada turntables dan DJ dan The Justice, maka tempat itu hanya berfungsi sebagai ballroom dance, jamuan makan makam, pertunjukan orkestra, serta tempat bermain bowling dan billiard. Tempat ini sangat exclusive, sampai-sampai di tempat ini dibuatlah sebuah tulisan yang berbunyi “Forboden Vor Irlender”. Kalaupun toh di dalamnya ada orang pribumi, dapat dipastikan bahwa mereka adalah para “youngens” alias “jongos”.

Pada tanggal 10 Oktober 1945 bangunan ini dapat di ambil alih oleh arek-arek Suroboyo hingga akhirnya di jadikan markas Pemuda Republik Indonesia (PRI). Saat ini tulisan tersebut dapat Anda temukan pada prasasti yang berada di tengah gedung ini. Bagi anda yang gemar mengamati bangunan tua maka jangan sampai melewatkan kesempatan untuk mampir di gedung yang bersejarah ini. Karena banyak hal menarik yang dapat Anda temukan pada bangunan warisan zaman Belanda ini. Sebagai contoh, ada ukiran yang membentuk huruf “W” pada kaca, kayu, maupun temboknya huruf ini merupakan simbolisasi dari Ratu Wihelmina yang memegang kekuasaan di Belanda pada saat itu.

Tidak hanya itu, anda juga dapat menemukan sebuah piano tua buatan Jerman bernama Gotrian Steinmeg yang dulu biasa di gunakan untuk mengiringi para meneer dan mevrow Belanda saat sedang berdansa. Ada pula sebuah lemari cabinet yang keempat kakinya membentuk cakar macan yang merepresentasikan simbol dari kerajaan Belanda pada masa itu. Dalam cabinet kayu tersebut ada juga cangkir teh serta gelas dan piring yang biasa digunakan pada saat mereka mengadakan jamuan makan malam. Jika berada di dalam ruangan berkubah, saat Anda menengadahkan kepala, Anda akan mendapati dua buah lampu tua warisan Belanda yang bergaya classic.

Meskipun arsitektur bangunan sampai saat ini masih orisinil, namun ada beberapa bagian penting yang hilang. Sebagai contoh bunker yang terdapat di dasar ruangan yang berkubah telah di tutup, marmer yang melapisi seluruh wilayah yang saat ini telah menjadi lokasi parkir telah diganti aspal, balkon tempat mengadakan orkestra musik saat ini hanya tinggal sepetak kecil itupun berada di dalam ruang karyawan. Sayang sekali. Tapi bagaimana pun juga bangunan ini merupakan bangunan yang sangat saya rekomendasikan untuk di kunjungi! Bukan karena arsitektur dan interiornya saja, tetapi juga karena sejarah yang terkandung di dalamnya.

***

Sementara ini dulu yang bisa saya informasikan kepada Anda sekalian. Sebenarnya masih ada seabreg tempat-tempat yang sangat menarik di Surabaya tapi maaf ya, ceritanya harus saya cicil karena supervisor saya juga sedang memberikan seabreg tugas. Tapi saya janji saya akan bikin catatan extended version jilid selanjutnya, swear! Oke fellas, see ya []

nb:
Liputan ini turut memperkaya tema Surabaya Heritage Trip, sebuah program dokumentasi kota oleh Hifatlobrain. Anda pun bisa berperan!


2 comments:

Galih S Putro said...

wow..Surabaya...kota kenangan takkan kulupa..hahaha
btw,jd penasaran..koq dpt foto pelinting rokok di House of Sampoerna..?? kalo gak salah inget sich, di Lantai 2 dilarang memotret..

Anonymous said...

Sist, aq mau tanya
kan, aq pengen magang di sby
kira2 kalo mau magang di sby setelah daftar bisa langsung magang ato musti tunggu giliran?
dewi- Solo