Pages

4/18/10

Vogue: The September Issue



*Sebelumnya, maaf saya menghapus postingan Cock Fighting. Setelah saya pikir lagi, kok gak mutu ya, just a piece of shit. Biasa, kebodohan saya di kala senggang. Maka saya ganti saja postingannya dengan sesuatu yang lebih bermutu.

Sudah lama saya tidak nulis di rubrik igauanpanjang. Blog ini memang didedikasikan untuk para pejalan, tapi saya juga masih berhak untuk menulis pemikiran saya sendiri, meski bukan pada ranah traveling. Saya rindu untuk menuliskan sesuatu yang cheesy. Sesuatu yang ringan dan menggairahkan (?) Sebuah kejadian sehari-hari yang biasa diposting para blogger ABG pada umumnya. Saya rindu hal seperti itu.

Bagi yang baru saja mengikuti Hifatlobrain, jangan salah, dulu blog ini juga pernah diisi oleh review album -meski cuman satu album doang, punya Tompi, dan -bahkan- postingan tentang cinta! Wahahaha. Betapa bodohnya saya waktu itu. Tentu saja yang harus bertanggung jawab, tidak lain dan tidak bukan adalah: Mbak Kontributor.

Pada waktu senggang, kami berdua sering melihat-lihat postingan awal di blog ini pas masih cupu, dan kita berdua tertawa ngakak. Sialan.

Tapi tentu saja semua itu butuh proses. Meski sekarang sudah menjelma menjadi blog yang ciamik, tapi dulu kami hanya dibaca oleh tiga orang saja! Mereka adalah Nuran Wibisono, Rikian, dan Dwi Putri. Hanya mereka yang kasih komen di blog ini. Menyedihkan bukan. Tapi tak apa, namanya juga nostalgia. Seandainya ada Hifatlobrain Award, maka mereka akan kami beri Lifetime Achievement Award. Tiga orang cecunguk cerdas inilah yang membuat blog ini bertahan di tengah gempuran serdadu Amerika di Irak, krisis moneter yang berkepanjangan, dan kemerosotan moral yang merajalela. Salute!

Hmm saya mau cerita apa ya. Oh ya, saya habis nonton film bagus. Judulnya The September Issue. Ini film tentang proses pengerjaan majalah fashion terkenal, Vogue. Setiap bulan September, Vogue akan mengeluarkan majalah edisi khusus yang mempengaruhi dunia fashion setahun ke depan. Jika pada bulan biasa majalah Vogue setebal juz amma, maka pada bulan September majalah ini setebal AlQuran. Buat nimpuk kucing tetangga bisa langsung mati.

“This is the real Devil Wears Prada”
-Krista Smith, VANITY FAIR

Saya tertarik pada proses kreatif majalah ini. Sebagai majalah fashion paling berpengaruh, tentu saja majalah ini mengedepankan kualitas yang tak main-main. Saya pernah beli majalan fashion lokal baru, materinya jelek sama sekali. Fotonya diambil -dicolong?- dari internet. Resolusinya tidak diperhatikan, sehingga saat naik cetak pecah, mengganggu paha mulus Kate Winslet yang dijadikan pembahasan akibat acting-nya di film The Reader yang kelewat bagus. Tentu saja kasus foto pecah ini tidak mengenai Vogue, karena mereka memotret model mereka sendiri. Semua foto berkualitas tinggi dengan konsep ciamik dan direkam dengan kamera medium format seperti Hasselblaad.

Salah satu photoshoot yang ada di film September Issue

Apalagi saat mereka berdebat tentang foto kover yang -menurut saya sih- nggak ada bedanya! Kebetulan yang jadi model untuk edisi spesial ini adalah Sienna Miller. Dua alternatif kover yang diperdebatkan adalah foto headshot Sienna yang sedang tersenyum. Cuman bedanya yang satu lebih lebar beberapa centimeter saja. WTF. Ini bedanya kerja di media sekeren Vogue dengan koran lampu merah seperti Pos Kota yang kovernya didesain dengan prinsip tabrak lari.

Kover Vogue September 2007

Kualitas memang menjadi taruhan Vogue. Reputasi ini yang dijaga mati-matian oleh Anna Wintour, editor Vogue yang sangat disegani di dunia fashion. “We wanted to be as careful as we could to signal that this magazine is aimed at a different market, ... upscale feel.” ujarnya. Matanya memang sangat awas terhadap detail fashion. Meski selalu mengenakan kacamata hitam saat menonton barisan peragawati di atas catwalk, tapi Anna sangatlah jeli. Ia bisa saja memberikan sebuah review jelek, dan brand yang bersangkutan akan segera bangkrut tahun depan. Mengerikan.

Saya suka sosok Anna ini. Ia dijuluki "ice woman" karena sikapnya yang dingin dan tanpa tedeng aling-aling dalam mengomentari sebuah busana. Ia juga sangat fashionable, meski umurnya sudah tua dan kulitnya sudah mengkerut di sana-sini tapi Anna masih terlihat menarik. Selera fashionnya memang bagus, cocok lah kalo dia jadi editor Vogue. Hal itu tentu tidak berlaku di Hifatlobrain, karena selera fashion editornya sangat buruk. Meskipun suka membeli majalah fashion dan gaya hidup, tapi itu tidak merubah penampilan saya, sama sekali. Karena saya tahu, banyak resensi majalah mode bukanlah variabel utama dalam membuat seseorang menjadi fashionista, tapi tebalnya dompet adalah variable mutlak! Iya, saya akui saya ini old-fashioned, ini yang membuat mbak Kontributor selalu saja rewel.

Ya sudah silahkan liat saja filmnya. Tidak dianjurkan untuk wanita shopaholic, karena saya yakin kalian pasti bakal ngiler abis kalo liat film ini, dan berdoalah kalian untuk bisa bekerja di Vogue karena bisa jadi nanti handuk kalian pun akan bermerek Louis Vuitton! Tapi saya nggak tahu apakah film dokumenter seperti ini akan masuk ke jaringan bioskop 21 atau tidak. Kecuali kalau bintangnya Dewi Persik, pasti laku!

PS: Oh ya, di film ini saya juga baru tahu kalo majalah Vogue punya editor maho bernama André Leon Talley, selera berpakaiannya sangat aneh. Ini adalah sosok makhluk maho yang paling buruk yang pernah saya lihat di muka bumi.

7 comments:

aRuL said...

wah keknya memperlihatkan perfectnya manusia ya filmnya.
btw cock fighting emangnya kenapa? perasaan bagus2 aja koq.. ;)

Ayos Purwoaji said...

umm nggak juga mas. justru film ini menggambarkan ketidaksempurnaan manusia -menurut saya. coba deh dilihat :)

cock fighting saya hapus. karena saya tahu ada orang nyasar masuk blog ini karena googling dengan query "cock"! wah saya nggak mau dikira ini adult blog :p

bondan said...

sepertinya mirip "devil wears prada" ya?

mungkin klo suka fashion film "Coco avant Chanel" http://www.imdb.com/title/tt1035736/ juga perlu di lihat, meskipun rating di IMDB gak terlalu tinggib

Ayos Purwoaji said...

iya ndan, kan udah aku kutip kata-katanya editor vanity fair.
iya lagi cari film coco. ada dua filmnya, tapi lagi berburu yang dibintangi sama Audrey Toutou....

Giri Prasetyo said...

takutnya tar kalo aku nonton ini jadi kembali suka ke modelling photography mas, hehe. tapi penasaran juga dengan proses kreatif dan bagaimana eksekusinya di majalah ini.so, i'll rent it.

Ayos Purwoaji said...

@ giri: umm sebenernya gak ada yang salah dengan fashion photography gir, tinggal treatmentnya aja: dibuat dengan kesungguhan atau tidak.

Anonymous said...

Hehe, saya tersenyum dan terhibur membaca review mas Ayos. Jujur dan apa adanya. Memang kadang-kadang ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang sempurna.

Menurut saya film ini sangat dinantikan oleh orang yang bekecimpung di bidang fashion dan media. Seperti mengungkap dapur pembuatan suatu hal yang besar.

Oh ya menurut saya kembali lebih bagus film Coco & Igor ketibang Coco avant Chanel :)

Miu Miu