Pages

5/24/10

Semarang Free And Easy


Hifatlobrain special report by Dwi Putri and Ayos Purwoaji

Berwisata tidak perlu mengeluarkan uang banyak. Ada banyak tempat alternatif bertetirah namun tidak perlu ditebus dengan rupiah. Semua gratis dalam konsep pariwisata free and easy. Ayos Purwoaji ditemani Dwi Putri Ratnasari akan membawa Anda berkeliling kota Semarang dan menemukan banyak wisata alternatif murah meriah namun tetap menyuguhkan atraksi yang unik dan menarik.

Simak penuturan kami pada beberapa tulisan terpisah berikut ini:

Sebagai salah satu kota bandar tua, Semarang telah menjadi saksi adanya persilangan budaya di masa lampau. Kompeni Belanda, para pedagang dari Cina, dan penduduk pribumi Jawa adalah tiga jenis etnis yang pernah hidup bersama dan memberi corak pada perkembangan kota Semarang. Letak geografis yang berada di jalur srategis menjadikan Semarang sebagai sebuah titik penting pembangunan di era kolonialisme. Hingga hari ini kenangan tersebut masih belum luntur dan jejaknya bisa dinikmati dengan mengunjungi kawasan Kota Lama di Semarang bagian utara. Ratusan bangunan lawas dengan arsitektur bergaya kolonial dan indies ini akan membawa para pejalan untuk kembali memutar memori kembali ke masa lalu.

Seorang teman pernah berujar,"Ah Semarang adalah kota besar yang tidak memiliki dinamika..." Mungkin saja dia harus stay dan mengeksplorasi Semarang lebih lama. Semarang it's not too bad dude.

Kota Lama bukan saja sekumpulan bangunan lawas yang terserak. Denyut kehidupan dan nuansa kebaruan pun terasa di beberapa sudutnya. Maka silahkan tengok suasana tradisi sabung ayam yang hari ini masih dijaga keberlangsungannya oleh para penghobi di antara himpitan tembok-tembok masif bangunan kuno. Sedangkan nuansa kebaruan bisa ditemui pada Semarang Contemporary Art Gallery yang juga terletak di kawasan Kota Lama. Semua komponen wisata tersebut bisa Anda temukan dalam paket sekali jalan.

Beranjak dari Kota Lama, ada beberapa tempat lain yang bisa menjadi jujukan. Salah satunya adalah kampung Cina Semawis yang pada akhir pekan berubah menjadi pasar malam bernuansa Tiongkok. Ruas jalan pecinan ini juga menyuguhkan berbagai kuliner khas yang jarang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pada kawasan ini pula para pejalan bisa menemukan beberapa klenteng tua berusia ratusan tahun.

Selain itu, berburu matahari tenggelam di Tanjung Mas, menganggumi patung Dewi Kwan Im di Pagoda Avalokitesvara, mempelajari kisah Walisongo di Masjid Agung Jawa Tengah, dan mengagumi pesona malam Semarang dari bukit Gombel adalah berbagai alternatif lain yang tentu saja tidak boleh dilewatkan. []

NB:










Masuk sebuah kontribusi lain berupa link foto-foto tentang Semarang milik Eko Nursanty, beliau adalah ambassador dari klub traveling Travelers For Travelers yang tinggal di Semarang. Ibu satu anak yang juga seorang dosen Jurusan Arsitektur ini memiliki ketertarikan besar terhadap penyelamatan bangunan tua di Kota Lama. Sering melakukan edu-traveling ke beberapa negara tetangga. Silahkan kunjungi link flickrnya:

The Story About Joni


Beberapa pria berkerumun di sebuah gang sempit. Mereka berdesak-desakan mengitari sebuah arena sambil berteriak kegirangan. Di tengah kerumunan tersebut, Joni dengan sigap bersiap untuk mencakar lawannya. Tapi musuh Joni yang sudah sempoyongan pun tidak kalah pintar, ia mengelak. Sesaat kemudian mereka terlibat aksi saling kejar. Musuh Joni ingin lari, tampaknya ia sudah tidak kuat lagi. Kepala dan beberpaa bagian tubuh lainnya penuh luka dan mengalirkan darah segar. Tetapi para penonton masih belum puas. Mereka memaksa lawan Joni untuk masuk arena. Kali ini Joni tampak lebih siap untuk memberikan pukulan pamungkas. Dalam sebuah lompatan saja Joni bisa mendaratkan cakaran telak di tubuh lawannya. Lawannya jatuh, lalu dibawa lari oleh promotornya menjauh dari keramaian...

Silahkan baca cerita selanjutnya pada ebook kami dibawah. Donlot aja, gratis kok.

The Story About Joni_Dwi Putri-Ayos Purwoaji

Hikayat Kota Lama

Text and photo
Dwi Putri Ratnasari & Ayos Purwoaji

Menyusuri kawasan Kota Lama Semarang ada beberapa cara; Paling praktis adalah mengendarai mobil atau sepeda motor, jalanan lebar berlapis paving akan memudahkan Anda untuk mengitari areal seluar 32 hektar ini dalam waktu lima menit saja. Tapi ini tidak direkomendasikan. Cara yang paling baik adalah dengan berjalan kaki. Silahkan parkir kendaraan Anda dan mulailah mengayun langkah. Menyesap aroma masa lampau yang memancar dari bangunan-bangunan kuno di sini adalah sebuah kemewahan yang tidak ternilai.

Beberapa lokasi wajib kunjung antara lain adalah Gereje Blenduk dan Gedung Opera Marabunta. Kedua bangunan ini memiliki ciri arsitektur yang sangat unik, membedakan diri dari gedung lain di sekitarnya.

Gereja Blenduk dulunya adalah sebuah gereja kecil yang dibangun oleh Reverend J. Lipsus pada tahun 1750. Gereja ini merupakan gereja protestan pertama yang berdiri di Semarang. Tahun 1794, atau lima puluh empat tahun sesudahnya, Ir. W. Westmaas dan Ir. H.P.A de Wilde melakukan renovasi besar-besaran. Pada awalnya bentuk kubah Gereja Blenduk tidak seperti yang terlihat sekarang. Baru pada tahun 1894 kubah berbentuk setengah bola ini dipasang.

Gereja Blenduk memiliki denah oktagonal atau segi delapan beraturan dengan ruang induk terletak di pusat. Bangunan dengan arsitektur Eropa klasik ini sangat anggun dan gagah. Sampai hari ini masih sangat terawat dan digunakan sebagaimana fungsinya. Di samping Gereja Blenduk terdapat Taman Srigunting yang teduh. Taman kecil ini sering digunakan sebagai lokasi pemotretan pre wedding dan jika malam berubah menjadi tempat beristirahat para tunawisma.

Sedangkan Gedung Opera Marabunta yang terletak di Jalan Cenderawasih syahdan adalah sebuah gedung pusat pertunjukan tonil atau sandiwara. Dapat dibayangkan jaman dahulu gedung ini bagaikan Broadway, para meneer dan mevrouw akan berdandan rapi untuk menyaksikan pertunjukan di dalamnya. Gedung Marabunta memiliki ikon dua patung semut merah raksasa pada atapnya. Saat ini beralih fungsi sebagai gedung serbaguna yang biasa disewa untuk mengadakan pesta perkawinan.

Menyusuri Kota Lama jangan lupakan untuk mampir Stasiun Tawang yang terletak di sebelah utara. Tempat pemberhentian kereta ini adalah salah satu yang paling tua di pulau Jawa, dibangun pada tahun 1914. Hingga saat ini Stasiun Tawang masih berfungsi dengan baik untuk pemberhentian kereta eksekutif dan bisnis. Hanya sayang, pada musim penghujan hampir dapat dipastikan Stasiun ini bakal terendam oleh banjir rob yang tidak pernah absen di Semarang.

...Semarang kaline banjir, ja sumelang ra dipikir...” nyanyian lawas berjudul Jangkrik Genggong milik biduan keroncong paling terkenal, Waldjinah, rasanya masih relevan hingga hari ini. Masalah naiknya air laut hingga menyebabkan banjir rob setiap tahun masih jadi persoalan klasik pemerintah kota Semarang. Tentu saja ini menganggu kenyamanan para turis yang ingin bertetirah. “Justru kalo Semarang ndak banjir, bukan Semarang lagi namanya, justru ini yang khas,” kata Nanang, seorang pria paruh baya yang tinggal di sekitar Kota Lama.

Permasalahan banjir musiman tadi pula yang menyebabkan pemerintah Belanda membangun kolam rakasasa di muka Stasiun Tawang. Polder besar ini malah seiringkali dijadikah wahana wisata alternatif bagi sebagian orang. Sekedar duduk di bangku semen yang tersebar di pinggir kolam adalah salah satu cara untuk menikmati polder legendaris ini.

Namun Kota Lama tidaklah melulu masalah bangunan dan wisata arsitektural saja. Di sudut lain jauh di dalam kawasan Kota Lama ada aktifitas pemantik adrenalin, adu ayam. Acara ini diadakan setiap hari saat matahari sudah bertengger di atas kepala. Kegiatan ini sepertinya sudah menjadi tradisi bagi para penghobinya. Sejak pagi di Gang Telkom, seruas gang yang menghubungkan Jalan Letjend Suprapto dan Jalan Kepodang, sudah ramai oleh para penjual ayam. Biasanya berjenis ayam Bangkok yang memang cocok untuk diadu.

Tidak ada yang istimewa pada pasar ayam tersebut, seperti pasar lainnya para penujual dan pembeli yang saling menawar. Baru pada siang harinya, setelah para peserta sudah siap dan arenanya sudah digelar maka pertarungan pun dimulai. Sekali aduan biasanya memakan waktu sepuluh menit, dapat dipastikan dalam waktu sesingkat itu sudah ada ayam yang bisa dijadikan pemenang. Di sisi lain ayam yang kalah akan sempoyongan dan berdarah-darah.

Pemandangan acara adu ayam ini tentu saja sangat unik, apalagi dilakukan di sebuah gang yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan tua bernuansa kolonial nan eksotis. Apalagi kegiatan adu ayam saat ini sudah mulai jarang dipraktekkan. Kecuali di Bali, dimana sabung ayam, atau biasa disebut tajen, masih menjadi budaya.

Melihat kegiatan adu ayam ini tidak dipungut biaya sepeser pun. Anda hanya butuh senyum untuk membalas sapaan ramah orang Semarang. Sambil menyaksikan kegiatan adu ayam ini jangan lupa untuk membawa kamera. Pastinya akan ada banyak pemandangan unik yang bisa ditangkap oleh kamera Anda. Bagaikan resto all u can eat, maka di gang ini, all u can shoot! Ratusan foto di kamera Anda pun akan 'berbau' ayam, hal ini semakin menarik didukung dengan suasana Kota Lama yang akan memperkaya hasil jepretan kamera. Kandang ayam, penjual ayam, penawar ayam, ayam mandi, ayam makan, ayam digendong, ayam dielus, dan tentu saja yang paling ditunggu adalah saat ada ayam yang diadu.

Salah satu spot menarik lainnya adalah sebuah tembok di Gang Telkom yang dijuluri akar sebesar pergelangan tangan. Ingatan kita pun akan melayang menuju reruntuhan Angkor Wat di Kamboja yang sempat digunakan sebagai latar dalam film Tomb Raider. “Itu dulu bekas kotoran burung yang didalamnya ada bibit beringin, jadinya sekarang seluruh temboknya penuh akar,” kata Mulyono, seorang penjual ayam. Pohonnya sendiri sekarang sudah besar, daunnya rimbun, membuat Gang Telkom terasa adem di tengah udara Semarang yang panas di siang hari.

Bagi para penikmat seni, luangkanlah waktu sejenak untuk mengunjungi Semarang Contemporary Art Gallery yang terletak di Jalan Letjend Suprapto yang dahulu merupakan bagian dari De Groote Postweg atau Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Anyer-Panarukan. Gedung yang bergaya spanish colonial ini dulunya adalah sebuah perusahaan bernama Winkel Maatschappij yang dipunyai oleh tuan H Spiegel. Pada tahun 1905 gedung ini diambil alih Tasripin, seorang pengusaha pribumi kaya raya untuk dijadikan kantor dealer motor dan perusahaan farmasi. Pabrik Limun Fresh diketahui membeli bangunan ini dan digunakan hingga tahun 1990-an. Akhirnya pada tahun 2008, seorang arsitek cum kolektor, Chris Darmawan, melakukan konservasi dan merubah bangunan ini menjadi art gallery.

Bangunannya sendiri terdiri dari beberapa bagian. Paling depan adalah galeri seni yang terbagi dalam dua ruang dan sebuah kantor, lalu di sebelah timur ada dua kompartemen yang dipisahkan oleh taman berfungsi sebagai lounge dan perpustakaan. Untuk masuk ke dalam galeri ini tidak dipungut biaya. Usahakan untuk datang pada siang atau sore hari. Beberapa karya dan sudut bangunan ini sangat menarik untuk dipotret, namun usahakan meminta izin dulu pada petugas yang berjaga, siapa tahu itu adalah karya seni yang akan dipamerkan bulan depan dan masih dirahasiakan untuk umum. []

Tetirah Murah di Semarang


Text and photo by
Dwi Putri Ratnasari & Ayos Purwoaji

Banyak tempat di Semarang yang eksotis sekaligus gratis. Ini adalah beberapa tempat rekomendasi Hifatlobrain untuk menjelajahi Semarang dari segala sudut.

Pecinan Semawis

Semarang adalah pintu masuk utama kebudayaan Cina ke Jawa Tengah, maka tidak heran banyak klenteng tua dan pecinan di dalamnya. Tempat tinggal komunitas Tionghoa paling masyhur di Semarang dimulai dari ujung utara Jalan Beteng - Pekojan - Jagalan - Pedamaran serta sejumlah gang antara lain Gang Baru, Gang Mangkok, Gang Pinggir, Gang Warung, Gang Tengah, dan Gang Besen.

Kawasan pecinan ini mempunyai kurang lebih tujuh kelenteng yang letaknya menyebar. Hampir setiap gang memiliki kelenteng di ujungnya dan yang paling besar adalah Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Klenteng yang didirikan pada tahun 1746 ini pada awalnya hanya untuk memuja Kwan Im. Klenteng ini kemudian berkembang menjadi klenteng besar yang juga memuja berbagai dewa-dewi Tao.

Pada akhir minggu, ruas jalan kecil yang membutuhkan waktu 20 menit jalan dari ujung ke ujung ini akan berubah menjadi pasar malam penuh ornamen khas Cina. Biasa disebut pasar Semawis. Sebenarnya konsepnya mirip dengan Kya Kya yang ada di Surabaya, bedanya Semawis lebih kecil, namun justru karena itu Semawis jadi terlihat lebih hangat dan ramai.

Biasa dimulai sejak senja tiba, pasar ini sudah mulai menampakkan geliatnya. Para pedagang menggelar lapak dan para pengusaha makanan mulai menata kursi serta memanaskan tungku. Semakin malam pasar ini akan semakin ramai. Jika masuk dari gerbang utama, maka penataannya seperti ini: di sebelah kiri adalah deretan pedagang makanan dan ruas sebelah kanan akan dipenuhi meja kursi khas pujasera. Tempat ini mirip dengan pusat kuliner di Solo yang bernama Galabo. Bedanya di Semawis memiliki atmosfer Cina yang kental dan terdapat banyak lampion berbagai ukuran.

Barang yang dijajakan di Pasar Semawis meliputi makanan, mainan anak, aksesoris, hingga peralatan ibadah. Berbagai atraksi pun digelar, namun yang paling digemari adalah karaoke jalanan. Peminat paling banyak datang dari para lansia yang ingin bernostalgia. Dengan setelan necis hem, celana panjang, dan sepatu pantofel mereka akan mendendangkan nyanyian berbahasa Mandarin. Selain pengunjung yang lewat, penonoton setianya adalah kaum lansia lain yang setia menunggu giliran bernyanyi.

Masuk kawasan ini bebas tanpa bayar. Silahkan datang di waktu petang dengan perut kosong. Nikmati sajian kuliner yang akan memanjakan Anda sepanjang malam. Bagi penggemar street photography, spot ini sangat bagus untuk dijadikan lahan hunting.

Pelabuhan Tanjung Mas

Sebagai kota bandar, para pelaut pergi dan datang ke Semarang sejak zaman kiwari. Tanjung Mas adalah tempat dimana kapal mereka bersandar. Secara umum memang tidak ada yang menarik di pelabuhan yang dipenuhi peti kemas, kilang minyak, serta gudang ini. Tapi cobalah tengok Pelabuhan I yang menjadi tempat singgah kapal-kapal kayu, tempat ini bisa menjadi alternatif pelepas penat. Barangkali ini seperti pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta atau pelabuhan Kalimas di Surabaya.

Kapal kayu dengan bentuk phinisi memang banyak datang ke Semarang untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari. Mereka datang dari pulau seberang seperti Kalimantan dan Sulawesi. Kapal-kapal ini rata-rata bermuatan 300 ton dan perlu waktu tiga hari hingga seminggu untuk mencapai Semarang.

Wahana lain yang dapat Anda kunjungi selama di Tanjung mas adalah mercusuar antik di ujung dermaga. Ini merupakan satu-satunya mercusuar yang ada di Jawa Tengah. Mercusuar kuno ini dibangun pada jaman kolonial untuk memperlancar transportasi pengiriman gula ke luar negeri. Menara setinggi 32 meter ini dibangun pada tahun 1884, dengan posisi tegap menghadap pantai utara Jawa, seakan menanti kapal-kapal yang datang dari negeri jauh untuk segera tiba. Bangunan antik ini adalah sumberdaya arkeologi maritim yang dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya dan perlu dilestarikan keberadaannya.

Atraksi paling menarik yang disuguhkan oleh Tanjung Mas adalah melihat matahari tenggelam di horison. Memang tidak bisa dibandingkan dengan sensasi melihat sunset di Uluwatu atau di Pulau Komodo. Tapi ini adalah tawaran terbaik yang dimiliki Semarang bagi Anda pemburu matahari tenggelam. Sambil menunggu sunset tiba, ada baiknya persiapkan kamera Anda untuk membidik kegiatan anak-anak laut yang sedang bermain. Cukup dengan modal senyum dan sedikit tipu daya maka anak-anak laut berkulit legam ini akan siap sedia berjumpalitan di depan kamera. Satu rol saja tidak cukup. Untung sekarang zaman digital yang memungkinkan Anda menggambil gambar tanpa takut kehabisan film. Ini adalah pengalaman yang adiktif dan sisakan juga satu dua foto Anda bersama mereka.

Pagoda Avalokitesvara

Semarang memiliki wahana baru yang siap untuk Anda kunjungi, yaitu Pagoda Avalokitesvara. Sebenarnya ini adalah tempat ibadah bukan tempat wisata. Tapi bukankah di Indonesia banyak pula tempat ibadah yang merangkap tempat wisata. Keindahan pagoda yang baru selesai dibangun pada tahun 2006 ini memang patut diapresiasi. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatkan pagoda ini sebagai yang tertinggi di Indonesia.

Pagoda Avalokitesvara ini sendiri bertempat di daerah Watugong, Semarang Atas. Dibangun di atas sebuah bukit oleh Po Soen Kok, seorang taipan sukses pemilik mall paling baru di Semarang. Avalokitesvara sendiri adalah bahasa sanskerta untuk Dewi Kwan Im, karena memang pagoda ini ditujukan untuk memuja dewi welas asih. Untuk menuju pagoda utama harus melewati tangga kembar yang dipisahkan oleh relief naga yang sangat cantik, mirip dengan anak tangga di Forbidden City, Beijing.

Pagoda utama ini memiliki tinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh. Bagian dalamnya berbentuk segi delapan dengan ukuran 15 x 15 meter. Bagian dalam lantai pertama memuat patung Dewi Kwan Im yang sangat besar. Sedangkan bagian luar ada lima patung kecil yang merupakan penjelmaan Kwan Im untuk perjodohan, keturunan laki-laki, keturunan wanita, keamanan dan panjang umur. Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Kwan Im yang menghadap empat penjuru angin. Semua patung dan ukiran ini didatangkan dari Cina, dan semua memiliki kualitas yang baik dengan pengerjaan yang sangat rumit.

Selain pagoda utama, sisi lain kompleks ini terdapat bangunan Vihara Dhammasala Bhoddisatva yang di dalamnya terdapat patung Budhha berwarna emas berukuran jumbo. Tempat ini relatif sepi ketimbang pagoda Dewi Kwan Im. Tapi dari salah satu sudut wihara kita bisa mengintip pemandangan Semarang dari atas. Bangunan besar ini dikelilingi oleh beberpa pondokan kecil, mungkin digunakan untuk para biksu yang ingin menginap.
Masuk ke dalam kompleks ini gratis. Siapkan kamera untuk memotret patung Gautama dan Kwan Im di depan pagoda. Namun ada larangan bagi pengunjung untuk memotret bagian dalam pagoda, peraturan ini harap dihormati karena masih banyak objek lain yang bisa difoto. Konon pada perayaan hari besar waisak Pagoda Avalokitesvara akan menjadi sangat ramai.

Masjid Agung Jawa Tengah

Wisata religi paling populer di Semarang untuk saat ini adalah Masjid Agung Jawa Tengah. Kompleks masjid paling megah di Jawa Tengah ini diresmikan pada tahun 2006 di areal tanah seluar 10 hektar. Masjid yang memiliki langgam arsitektur campuran Yunani, Arab dan Jawa ini memang sangat menawan. Detail ornamen interior masjid berorientasi geometris, sebuah bentuk universal dalam dunia arsitektur Islam. Sedangkan pada bagian jendela dan daun pintunya menggunakan aksen Jawa dengan material kayu yang dilapisi warna hijau. Padu padan dua kebudayaan tersebut tampak serasi dibalut modernitas berupa atap payung di halaman Masjid Agung.

Sejak beberapa tahun yang lalu masjid ini memang menjadi daftar wajib kunjung bagi siapa saja yang melakukan perjalanan ziarah wali. Sehingga masjid yang mampu menampung 13.000 orang ini terlihat selalu ramai setiap hari. Bahkan tidak hanya turis lokal, turis mancanegara pun datang untuk mengagumi arsitektur masjid ini. Lucunya, disediakan kereta kelinci bagi ibu-ibu dan anak kecil yang ingin berkeliling kompleks masjid tanpa harus kepanasan. Sangat touristy bukan?

Suguhan lain yang mampu ditawarkan oleh Masjid Agung Jawa Tengah adalah Menara Asmaul Husna atau Al Husna Tower yang tingginya mencapai 99 Meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat studio radio. Sedangkan di lantai 18 terdapat restoran yang dapat berputar 360 derajat. Di lantai 19, yaitu untuk menara pandang dilengkapi lima teropong untuk melihat kota Semarang dari atas.

Lantai 2 dan lantai 3 dari menara ini digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam. Ada banyak artefak yang dipamerkan. Paling banyak berasal dari masa penyebaran Islam oleh Walisongo. Sisanya adalah khazanah dunia pesantren dari zaman dulu hingga hari ini. Turut dipamerkan pula seluruh dokumentasi proses pengerjaan Masjid Agung Semarang. Patut menjadi perhatian adalah bagian-bagian yang tampak remeh pun sengaja ditampilkan seperti bakiak wali hingga sepatu proyek para pekerja pembangunan Masjid Agung.

Naik menuju puncak menara memang tidak gratis, tapi kita tidak perlu bayar hanya untuk sekedar berkunjung dan mengagumi arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah. Anda hanya perlu merogoh kocek sebanyak 5000 rupiah per orang untuk naik ke Menara Al Husna, biaya tersebut sudah termasuk tiket museum. Siapkan kamera untuk mengabadikan setiap detail masjid yang indah atau bahkan dokumentasi diri sendiri sebagai pembuktian bahwa Anda sudah singgah di Semarang. Namun jika tidak membawa kamera, ada banyak tukang foto yang menjajakan jasanya di sekitar pelataran masjid.

Tanjakan Gombel

Semarang terkenal sebagai sebuah kota yang memiliki kontur tanah unik. Disebut demikian karena beberapa kecamatan terletak di daerah perbukitan atau biasa dikenal dengan daerah Semarang Atas, sedangkan sisanya berada di Semarang Bawah. Adanya perbedaan ketinggian inilah yang memungkinkan para pelancong dapat menikmati pemandangan kota Semarang dari perbukitan. Salah satu spot menarik di Semarang Atas adalah sebuah tanjakan yang terletak kurang lebih 8 Km dari Tugu Muda, dikenal akrab oleh warga Semarang dengan sebutan Tanjakan Gombel yang terletak di Jalan Setiabudi.

Tanjakan ini menjadi favorit para turis maupun warga lokal. Ini adalah tempat paling pas untuk menyaksikan pemandangan luas dataran rendah Semarang tanpa terhalang apapun. Pesona itulah yang dimanfaatkan banyak pengusaha restoran kelas atas untuk mengembangkan bisnisnya di sepanjang tanjakan. Namun tak perlu kuatir, untuk Anda yang hanya ingin sekedar memanjakan mata dan bersantai menghirup sejuknya udara perbukitan silahkan datang ke Taman Tabanas. Wahana ini terbuka untuk umum setiap harinya.

Tanjakan Gombel ini berdampingan langsung dengan jalan raya yang menghubungkan Semarang Bawah dan Semarang Atas. Sehingga banyak moda transportasi umum yang bisa dipilih untuk mengantar Anda menuju Gombel. Setiap angkot yang menuju terminal Banyumanik dapat dipastikan lewat jalur ini.

Waktu yang tepat untuk menikmati view dari Gombel adalah ketika matahari mulai terbenam hingga malam hari, di depan mata Anda tersaji berjuta-juta kelip lampu sebagai representasi hiruk pikuk kota Semarang Bawah. Tentu saja, dalam hal ini Anda tidak perlu membuka dompet lebar-lebar, cukup siapkan pakaian hangat dan sebuah kamera dengan baterai terisi penuh untuk mengabadikan sisi romantisme Semarang di kala malam. []

5/22/10

Backpacker Notes


Barusan nemu link keren buat para Hifatlobrainers yang ingin bertetirah dengan biaya minim. Nama blognya Backpacker Notes, tampaknya blog ini didedikasikan untuk para pejalan yang ingin menghemat biaya perjalanan sampai seminim-minimnya. Temukan berbagai tips menarik di dalamnya seperti "36 Cara Praktis Untuk Menghemat Biaya Jalan-Jalan" dan "Merencanakan Itinerary dengan Google Earth". Silahkan kunjungi blog menarik ini di:

5/20/10

Surabaya Beyond Imagination


Teks Winda Savitri Foto Ayos Purowaji

Kebetulan malam ini seorang teman dari mas chief-editor Hifatlobrain, mengundang kami untuk menghadiri sebuah acara peresmian pameran foto. Acara ini berjudul “Surabaya : Beyond Your Imagination”, bertempat di Galeri House of Sampoerna. Acara ini menghadirkan karya empat orang fotografer Surabaya yang menyebut dirinya MAHA. Singkatan dari inisial nama mereka, “M” untuk Mamuk Ismuntoro, “A” untuk Agus Wahyudi, “H” untuk Hengki Setiawan dan “A” yang terakhir untuk Andre Junior.

Menurut saya karya-karya mereka ini sarat akan nuansa Surabaya uncovered. Jangan Anda bayangkan bahwa foto yang dipamerkan adalah ikon kota Surabaya seperti biasa. Misalnya patung suro boyo atawa tugu pahlawan. Pameran ini justru menggali imaji Surabaya pada bidikan-bidikan objek yang ‘nyleneh’. Sebut saja, foto-foto jajaran mural wajah yang dibidik satu per satu oleh mas Mamuk dalam seri foto bertajuk Facewall, semuanya dijepret dengan menggunakan kamera saku. Foto lain yang tak kalah menarik adalah sandaran becak bermotif wajah seorang wanita, sedikit jenaka menurut saya. Foto ini diambil Andre dengan sebuah Blackberry. Ada juga foto tumpukan tong-tong bekas yang menggunung, hampir setinggi dua orang pria dewasa. Foto milik Agus Wahyudi ini sangat bagus.

Sedangkan Hengki tampaknya lebih detail. Ia jeli mengangkap warna-warninya stationary sebuah toko buku yang colorful. Beberapa karya Hengki diaplikasikan sebagai motif tas jinjing wanita. Sangat unik. Yang tak kalah menarik adalah beberapa karya foto yang ditampilkan dengan tema refleksi, uniknya semua menggunakan media atap mobil sebagai media refleksinya, Hengki Setiawan mampu menyuguhkan gambar yang cukup menghibur.

Karya Mamuk Ismuntoro

Karya Hengki Setiawan


Karya Agus Wahyudi

Karya Andre Junior

Hifatlobrain Editors


________________________________________
Surabaya: Beyond Your Imagination
21 Mei - 13 Juni 2010
09.00 - 22.00 di Art Gallery House of Sampoerna
________________________________________

5/15/10

Anak Jaman Sekarang

O.. mbiyen aku yen dolan tekan adoh. Yo.. setinan.. yo playon. Pokoke enak lah. Ora koyok saiki. Bocah-bocah dolanane kabeh soko plastik. Methu sithik soko omah wes akeh motor. Ngegirisi.

(O.. dulu saya kalau bermain sampai jauh. Ya.. bermain kelereng.. ya bermain kejar-kejaran. Pokoknya enak lah. Tidak seperti sekarang ini. Anak-anak mainannya dari plastik semua. Keluar sedikit dari rumah sudah banyak motor. Mengkhawatirkan.)

Wawancara dengan Bapak Tukiman 4/6/2004

Disadur dari jurnal Radjimo Sastro Wijono dengan judul Pemukiman Rakyat di Semarang Abad XX: Ada Kampung Ramah Anak. Dalam buku Kota Lama Kota Baru, Sejarah Kota-kota di Indonesia.

5/10/10

Mois du Printemps de Mai


Setiap bulan Mei, orang Prancis akan berbahagia. Karena bulan kelima dalam penanggalan Masehi ini berarti musim semi tiba. Mois du printemps de mai, musim semi di bulan Mei, kata mereka. Setelahnya ladang-ladang anggur pun dipenuhi oleh buah bulat warna ungu tua, dan persediaan minuman hangat setahun kedepan mulai diproduksi.

Bulan Mei adalah bulan yang indah. Begitu juga yang kami -dua redaksi Hifatlobrain- rasakan. Kebetulan kok ya kami ini sama-sama lahir di bulan Mei. Mungkin itu adalah takdir Tuhan untuk menciptakan dua makhluk hedon penyuka traveling seperti kami. Born to be happy. Hahaha. Amien.

Pada bulan Mei 2010 ini kebahagiaan kami berlipat. Tentu saja ini berkat dukungan teman-teman sekalian pembaca Hifatlobrain yang cerdas. Di awal bulan ini kami kebanjiran kontribusi dengan corak yang sangat berbeda. Silahkan dicek list kontributor Hifatlobrain untuk bulan ini:

Seperti janji kami, Bondan Wahyutomo hadir dengan liputan spesial bertajuk riset kuliner. Laporan lengkapnya ditulis dalam artikel Mie Ayam Around Djogja, sebuah riset dengan gaya bahasa populer nan gayeng. Semoga model peliputan seperti ini bisa menjadi pemantik tren peliputan riset kuliner untuk Hifatlobrain ke depannya. Saking berharganya liputan ini bahkan kami -redaksi Hifatlobrain- sampai harus membuat satu rubrikasi baru dengan tag Riset Kuliner. Ini benar-benar terobosan! Kalo biasanya orang hanya mereview satu tempat atau satu makanan saja, ini langsung borongan. Wedian bukan. Hasilnya, Bondan sampai mengaku pernah sakit perut tiga hari karena kebanyakan makan mie ayam! Hahahaha. Tapi sebagai gantinya, kami buatkan sebuah illustrasi sederhana untuk kover postingannya. Digambar langsung oleh editor Hifatlobrain, Ayos Purwoaji. Meski tidak bagus-bagus amat sih. Hehehe.

Perjalanan penuh berkah dijalani oleh Dwi Putri dalam menyusuri Big City yang bernama Kotagede, Jogja. Tidak perlu diragukan lagi kualitas tulisan Putri yang sudah berkali-kali lolos editing untuk masuk ke Hifatlobrain. Kali ini tulisannya semakin bernas dan renyah. Pengalamannya mencoba coklat Monggo dan minuman aneh limun Sarsaparilla juga asyik untuk diikuti.

Bagaimana rasanya menaiki bus dengan sopir yang terobsesi F1? Hoho Agustinus Hendra menceritakan pengalaman menariknya dalam artikel Highway To Hell. Bercerita tentang kejar-kejaran bis di jalur sempit Probolinggo-Surabaya yang penuh pesona. Artikel ini sebelumnya merupakan notes Agustinus di Facebook. Karena ditulis dengan detail yang sempurna dan kesungguhan hati maka artikel ini kami anggap layak untuk masuk ke Hifatlobrain. Oh ya, secara khusus Agustinus juga menyumbangkan kover dengan ilustrasi menarik tentang balapan bis dalam artikelnya untuk Hifatlobrainers sekalian.

Apa yang akan Anda lakukan jika saat kemping nyamuk-nyamuk setempat menjadi musuh terbesar dan melakukan teror semalaman? Bunuh diri? Oh Anda salah besar, simak saja solusi cerdik dari pemuda bernama Condro Priyoaji dalam artikelnya berjudul El Mosquitos En Sempu. Gaya bertuturnya yang spontan khas anak SMA menjadikan artikel ini istimewa. Unfortunately, Condro ini adalah adik dari editor Hifatlobrain.

Bandung adalah kota romantis yang akan meninggalkan banyak kenangan. Simak saja penuturan Augene dalam Bandung Impression yang ciamik. Perjalanan perdananya mengunjungi kota kembang ini tertuang dengan cukup baik ditambah bonus beberapa gambar hasil jepretannya. Jujur saja Augene mengirim banyak sekali gambar ke meja redaksi, ada empat folder. Tetapi kami kurasi untuk memenuhi standar artikel di Hifatlobrain.

Dari banyak kontribusi tersebut kami meyakini bahwa pembaca adalah faktor penting dalam membangun sebuah blog. Hifatlobrain memang tidak setenar blog lain, tapi jujur saja, kami memiliki pembaca militan yang cerdas. Kami sudah pernah membuktikan hal tersebut. Dulu pernah ada artikel yang berjudul Bulgarian Rose, tentang perjalanan Surip Mawardi mengunjungi Bulgaria. Karena ada sebuah kesalahan berupa penulisan bahwa Bulgaria adalah bekas jajahan Sovyet, akhirnya memantik banyak komentar cerdas untuk ditindak lanjuti:

"...Uni Sovyet tidak pernah menjajah negara manapun di Eropa Timur. Yang ada hanya penumpasan gerakan-gerakan demokratis seperti yang terjadi pada hungarian uprising dan prague spring di Cekoslovakia..."
(Pratama Yoga Nugroho, hifatlobrainers)

Itu baru satu contoh, masih banyak contoh lain yang menunjukkan kedahsyatan pembaca Hifatlobrain. Maka dari itu, saat para pembaca merasa tidak nyaman dengan theme yang kami gunakan beberapa saat lalu, kami pun menggantinya, kembali ke model lama yang konservatif namun enak dibaca. Saya mengajak kalian semua pembaca Hifatlobrain untuk berteriak: Hail Hifatlobrainers!

Keep on traveling way,

Editor-in-chief
Hifatlobrain

PS:
Sedikit tambahan, ada artikel menarik yang ditulis oleh Yunaidi Joepoet di blognya tentang Hifatlobrain. Dia -dengan caranya sendiri- mendeskripsikan Hifatlobrain seperti ini:
"...Blog yang berisi destinasi menarik tentang wisata di Indonesia dengan gaya tulisan yang nge"Gue" sekali..."
silahkan lihat reviewnya.

Travelounge Edisi Mei 2010








Alhamdulillah tulisan saya tentang upacara Odalan masuk di majalah Travelounge bulan Mei 2010. Sebelumnya odalan pernah saya tulis di blog ini dengan judul Great Odalan Ceremony, kebetulan pihak Travelounge suka dan tinggal saya modifikasi sana-sini. Versi cetaknya dibuat dalam dua jenis tulisan, bahasa Indonesia dan Inggris. Ini adalah previewnya. Bagi yang ingin melihat full edition-nya ini saya kasih versi onlinenya.

Mie Ayam Around Djogja


Text and photo by Bondan Wahyutomo

________________________________________________
Kontributor











Bondan adalah mahasiswa pecinta fotografi, film bagus, dan makan enak. Riset mie ayam ini adalah tulisan pertamanya untuk Hifatlobrain. Dalam riset ini pula terpancar passion yang kuat dari seorang Bondan terhadap segala sesuatu yang berbau kuliner. "Tapi sekarang aku udah agak kurusan kok," begitu bualnya dalam sebuah Skype session. Sedang dalam masa penyelesaian skripsi, kita doakan agar Bondan lancar.
________________________________________________

Sebenernya ini bukan penelitian secara mendetail, hanya penelitian kelas “icip-icip” saja. Berawal karena saya menemukan beberapa jenis dari mie ayam yang dijual di Jogja dan tidak semuanya pas dengan selera saya. Ada teman pernah nyeletuk,“Kalo di Jogja mah bukan mie ayam, tapi mie semur.” Itu emang tidak salah, karena mie ayam di Jogja sangat manis, layaknya semur ayam. Oke deh ini hasil perburuan saya untuk mie ayam di seluruh Jogja. Tentu saja tidak 'semua', hanya beberapa saja yang outgoing dalam hal citarasa.
_______________________________________________
Keyword: Mie ayam, Jogja, Murah, Enak, Nyaman.
Variabel riset: Rasa di lidah, volume perut, dan tebal kantong.
Reviewer: Bondan Wahyutomo
Lokasi: Seluruh Jogja bagian ngetan, ngulon, ngalor, dan ngidul.
_______________________________________________


Mie Ayam Ungaran
Saya tahu warung Mie Ayam Ungaran dari seorang teman. Warung ini buka dari jam 09.00 sampai sekitar jam 14.00, warung nya tidak permanen, hanya beratapkan terpal dan beberapa tikar untuk lesehan. Warung ini terletak di Jalan Ungaran, tepat di depan SD Ungaran, di bilangan Kotabaru. Warung ini menyediakan tiga jenis porsi; sedang, standar dan jumbo. Sumpah saya sepertinya gak bakal habis kalo pesen yang jumbo size. Buanyaaaak banget.

Uniknya jika masih ada, kita bisa request mie hijau, yaitu mie yang di campur sari sawi pada saat pembuatannya sehingga berwarna hijau, begitu pula pangsitnya.

Kelengkapan mie ayamnya cukup sesuai dengan selera saya, ada pangsit basah dan pangsit goreng, khusus pangsit goreng, itu dijual terpisah. Semuanya dibanderol dengan harga yang menyenangkan kantong mahasiswa. Mie ayam seharga 3000-6000 rupiah dan minuman rata-rata 1500 rupiah saja. Hanya pesan saya jangan kesana ketika jadwal makan siang tiba, bakalan ruuaame dan sulit mendapatkan tempat.

Mie Ayam Bu Tumini

Kemudian saya mendapatkan info mengenai mie ayam di selatan Jogja, Mie Ayam Bu Tumini namanya. Bertempat di sebuah bangunan permanen di Jalan Imogiri Timur, tepat di utara terminal Bus Giwangan. Sebenernya mie ayam ini bukan tipikal selera saya, tapi banyak orang Jogja yang sangat suka mie ayam ini. Kalo menurut saya, mie ayam ini mempunyai cita rasa yang sangat jogja; mie nya lurus, cenderung lembek, kuah ayamnya kental sekali dengan potongan ayam yang besar. Hampir seperti coto Makassar, dan tentu saja tanpa pangsit basah maupun goreng, penggantinya adalah kerupuk kalengan.

Porsinya cukup mengenyangkan, semangkuk dibanderol 5000 rupiah. Karena tempatnya sudah permanen, jadi agak nyaman makan di tempat ini. Warungnya sendiri buka dari jam 09.00 hingga jam 19.00 malam.

Mie Bangka
Sebenenya saya mengetahui tempat ini sudah cukup lama, tapi sudah cukup lama saya tidak mampir ke warung ini. Dalam rangka liputan mie ayam untuk Hifatlobrain inilah saya mampir lagi, tentu saja sekalian saya foto. Nama warungnya Mie Bangka, berada di Jalan Sagan. Tempatnya permanen dan nyaman. Mie ayam ini cocok dengan selera saya; mienya keriting lengkap dengan pangsit basah dan gorengnya. Kisaran harga saya agak lupa, yang paling komplit kalo tidak salah tidak sampai 10000 rupiah. Warung ini buka dari siang sampai malam. Asiknya, selain warung Mie Bangka, di sekitar jalan ini juga ada banyak warung lainnya yang berjejer, jadinya bisa mesen menu dari warung sebelah juga. Yay!

Mie Ceker Bandung

Riset saya berlanjut ke Mie Ceker Bandung yang bertempat di Jalan R.W. Monginsidi, Jetis. Warung ini jadi satu dengan sebuah hotel/guest house, tempatnya juga sangat nyaman. Ada pula menu pilihan selain mie ceker, seperti nasi goreng dan bakso. Tapi saya menyarankan Anda untuk mencoba menu mie ceker rica-rica, ayamnya di masak rica-rica, jadinya ada nunsa pedas yang menampar mulut Anda, cekernya pun juga lembut.

Harga satu porsi mie ceker rica-rica cukup lumayan, untuk mie ayam porsi biasa 10500-13800 rupiah dan untuk porsi satu setengah 12000-18700 rupiah. Saya pikir tempat yang nyaman, pelayanan yang baik, dipadu dengan rasa mie yang enak, berimbas kepada harga. Hahaha. Warung ini buka dari jam 10 pagi sampai 10 malam. So dont worry to be out of stock. Buat pacaran juga enak kok.

Mie Ayam Janti

Jika Anda ingin makan mie ceker tapi budget terbatas, cobalah mie ayam yang ada di bawah jembatan Janti. Ada dua gerobak mie ayam di sana, cobalah yang berada di sisi utara dari halte bus trans jogja. Warung mie ayam tersebut menyediakan mie ayam ceker, tapi harus request dulu sama abangnya, kalo nggak, nanti hanya dikasih mie ayam standart-non-ceker. Secara garis besar, ini kurang cocok sama selera saya; mienya lurus dan kuahnya agak berminyak. Tetapi karena banyak PKL lainnya, menu yang tersedia pun bisa beraneka ragam seperti sup buah dan batagor.

Satu porsi mie ayam ceker 6000 rupiah, jika mie ayam saja 4500 rupiah, saya jujur tidak merekomendasikan tempat ini. Karena tahu sendirilah kalo tempat ini ada di bawah jembatan. Tempat ini terpaksa saya rekomendasikan jika Anda bersikeras ingin mencicipi mie ceker dengan low budget. Kata orang Jawa: Ono rego, ono rupo, di mana-mana harga mempengaruhi kualitas bukan?

Mie [Ayam] Jamur

Sebenarnya menu ini belom bisa disebut mie ayam, karena tidak ada ayamnya sama sekali! Mie Jamur namanya. Saya mencicipi di sebuah warung vegetarian di bilangan Babarsari, Soma Yoga. Mie jamur ini memiliki penampakan mirip mie ayam pada umumnya hanya topping ayam diganti dengan olahan jamur. Hebatnya, menurut saya adalah olahan jamur ini dapat menggantikan fungsi ayam dengan sempurna. Mungkin karena jamur memiliki tekstur seperti daging. Harga satu porsinya di bandrol 5000 rupiah. Warung ini mengklaim tanpa MSG, telur, madu, susu, ikan, dan daging. Cocok untuk Anda yang ingin memulai hidup vegan. Healthy living.

Saya kurang paham mengapa di Jogja banyak warung mie ayam -dan rata-rata enak- hanya buka pada sore menjelang malam. Saya menyakini bahwa mie ayam enaknya dimakan siang-siang bukan untuk makan malam.
[Bondan Wahyutomo, 2010]

Mie Jakarta 168

Malam itu saya mengajak seorang teman yang kebetulan penyuka mie juga untuk bertandang ke daerah Sagan, Mie Jakarta 168 / Pak Thoyong namanya. Saya nggak tahu kenapa harus ada embel-embel 168 di belakangnya. Mungkin nomor rumahnya, atau mungkin dia ingin menyaingi ESQ Ary Ginanjar yang memiliki angka sakral 165. Hahaha.

Warung ini buka dari jam 17.30 – 23.30, kalau siang tempat ini menjadi bengkel pigura. Ini salah satu mie ayam favorit saya, karena mienya keriting dan ada pangsit dalam dua mode, basah dan kering. Lebih sip lagi karena pangsit gorengnya guede, ayamnya pun diracik dengan tongcay. Harga standar, berkisar antara 7000-8500 rupiah, ada menu lainnya seperti nasi gororeng dan mie goreng. Karena tempatnya di pinggir jalan dan warungnya tidak terlalu besar, maka kadang harus antri dulu sebelum dapat tempat duduk.

Mie Pangsit Lamongan
Kemudian di Jalan Kolonel Sugiono, daerah perempatan Tungkak, ada warung mie ayam pangsit khas Lamogan. Mienya biasa saja, tapi yang spesial adalah yang jual, abangnya cukup atraktif dalam meracik mie, pake dilempar-lempar ke udara sebelum dimasukan kedalam mangkok. Saya nggak paham rumus enaknya apa, bisa jadi melempar mie ke udara adalah salah satu rumus baku enaknya Mie Ayam Lamongan ini. Tempatnya cuma tenda yang buka dari jam 5 sore.

Ini ada referensi bagaimana gerakan akrobatik yang dilakukan oleh pangsit-makernya. This video is courtesy of Aryogogo.


Mie Ayam Santika

Tempat terakhir yang saya datangi untuk riset icip-icip kali ini adalah warung mie ayam Jakarta di jalan Sudirman, Gondolayu, tepatnya di seberang Hotel Santika. Maka saya sebut saja Mie Ayam Santika. Banyak yang bilang ini mie ayam paling enak se-Jogja, buka dari jam 16.00-habis. Meskipun tempatnya hanya tenda dan beberapa gulung tikar untuk lesehan, tapi sangat ramai sekali.

Jujur saja, sebagai reviewer mie ayam paling handal, ukuran rasa dan harga Mie Ayam Santika ini adalah pemenangnya! Harga untuk mie ayam dan minum 6500 saja dengan porsinya lumayan untuk meledakkan perut Anda. Tidak salah kalau orang-orang bilang ini mie ayam nomor satu di Jogja. Hanya saja tempatnya yang kurang nyaman, tapi semuanya tergantung pada perut Anda.

Kesimpulan

Dari perjalanan ala riset icip-icip yang lumayan komprehensif ini saya merekomendasikan beberapa hal:
1. Kalo ada dana saya pilih Mie Ayam Jakarta Pak Thoyonk karena rasanya oke, tempatnya layak, tapi harganya lumayan.
2. Tapi jika akhir bulan ngidam mie ayam dan duit rada mepet, saya memilih Mie Ayam Santika. Harga miring, rasa enak tapi tempatnya kurang nyaman.

Sekian riset mendalam tentang mie ayam seluruh Jogja saya haturkan. Semoga berkenan kawan. Silahkan berburu mie ayam di kota Anda![]