Pages

5/10/10

Bandung Impression

Text and photo by Augene
________________________________________________
Kontributor










Augene adalah seorang remaja penuh ide. Selain sukses sebagai seorang engineer, Augene juga mahir membuat seni vektor. Karyanya pernah dimuat di majalah desain keren, Vektorika. Pria berperawakan tinggi kurus ini adalah aktivis di Ocean Tripper. Temui dia di blog BlackSkin miliknya.
________________________________________________

Setelah merasakan hiruk pikuk kota sibuk seperti Tangerang, serta ingin beristirahat sejenak dari kesibukan kantor, memang tidak salah saya memilih untuk refreshing ke Kota Bandung. Selama di kota kembang ini saya banyak menghabiskan perjalanan dengan moda jalan kaki – angkot – jalan kaki.

Berjalan kaki disini menurut saya suatu hal yang mahal dan mewah. Kenapa? Karena selama ini saya lebih sering naik motor, dan ternyata sangat menyenangkan untuk dilakukan karena banyak mojang Bandung yang jalan bergentayangan di trotoar dan angkot! Hahaha. Hal ini tentu saja tidak jadi masalah mengingat udara di Bandung yang relatif sejuk dan dingin. Bayangkan saja jika siang bolong saya harus jalan kaki di Surabaya atau Tangerang, kulit saya yang indah ini akan melepuh dan gosong dengan cepat.

Bandung memang layak memiliki udara sejuk, karena terletak pada dataran berketinggian antara 650-700 meter dari permukaan air laut. Konon ceritanya, lokasi Kota Bandung menempati bekas danau purba yang sudah kering sejak ratusan tahun sebelumnya. Secara geometri, kita bisa membayangkan bahwa Kota Bandung ini seperti sebuah mangkuk. Kesejukan Kota Bandung ini juga karena dikelilingi oleh gunung-gunung yang rata-rata berketinggian 2200 meter dari permukaan air laut. Bagi yang ingin menikmati pemandangan lautan cahaya Bandung dalam bentuk mangkuk di malam hari, coba kunjungi Daweung, tempat ini seperti daerah Gombel di Semarang. Sangat romantis untuk memadu kasih.

Saya hampir yakin seratus persen kalo sebutan Kota Kembang lebih ditujukan untuk memuja kecantikan para cewek Bandung. Tentu saja saya yang jenuh dengan kehidupan keras dan industrial ala Tangerang ini menjadi segar saat berkunjung ke Bandung. Hahaha. Perjalanan saya kali ini sebenarnya merupakan pengalaman pertama saya ke Kota Bandung. Saya mengkategorikan sekaligus mendokumentasikannya dalam sebuah tourism and culinary trip. Di balik semua orientasi tersebut, juga dilatarbelakangi oleh ajakan dari dua orang teman saya di Bandung. Kebetulan juga salah satu dari dua orang tersebut sedang merayakan kelulusannya sebagai Sarjana Seni Desain lulusan kampus ternama, Institut Teknologi Bandung.

Bandung juga punya sebutan sebagai Parijs Van Java. Ini merupakan cermin kekaguman para kompeni terhadap keindahan dan kenyamanan hidup yang ditawarkan oleh Bandung. Sebutan ini sekarang berwujud menjadi sebuah pusat perbelanjaan mewah dengan nama sama, biasa kami menyingkatnya dengan PVJ. Sebagai sebuah kota lama, Bandung juga sarat dengan gedung lawas yang tersebar di penjuru kota. Rata-rata bangunannya memiliki langgam kolonialisme dan art deco. Seperti Hotel Savo-Homann dan bangunan tua di sepanjang Jalan Braga. Sejak lama saya memang sudah punya rencana untuk mengunjungi salah satu ruas jalan paling hype di Bandung ini.

Jujur saja, perjalanan yang saya lakukan selama satu minggu di Bandung tidak membuat saya merasa capek apalagi bosan. Setiap hari selalu merencanakan destinasi tempat yang berbeda-beda untuk dikunjungi. Kemudian ada rasa penasaran untuk menjajal ekstrak buah stroberi di SAM’S strawberry corner di bilangan Dago. Sempat juga merasakan capek yang luar biasa setelah ublek-ublek kebun binatang selama 2 jam.

Hari kedua di Kota Bandung, saya sempat mencicipi konser musik yang diadakan di Monumen Perjuangan Bandung dalam sebuah acara TV yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Ada juga pameran pakaian dari beberapa distribution outlet Kota Bandung dan unjuk kebolehan dari para skaterboy. Hal tersebut melengkapi kegiatan pariwisata saya selama di Bandung. Hubungannya adalah, bahwa saya melihat kota paling padat di dunia ini juga merupakan kota budaya dengan esensi kesenian yang kental, seperti menampilkan lukisan dari para seniman lukis, pementasan kesenian tari, pagelaran musik, dan pagelaran seni lainnya. Pantas saja kota ini dinobatkan menjadi Kota Kreatif.

Di Bandung, angkot dengan tujuan yang berbeda dibedakan dengan warna angkot yang berbeda pula, seperti yang saya lihat di Tangerang. Berbeda dengan Kota Surabaya yang diakomodir dengan simbol huruf yang berbeda yang tertera pada badan angkot untuk tujuan yang berbeda pula. Disarankan selalu siap sedia payung bagi para pejalan. Hal tersebut berlaku bagi siapapun yang suka jalan kaki atau angkot sewaktu berkeliling Kota Bandung. Saya sendiri banyak belajar dari apa yang disarankan oleh travelmate saya yang menemani saya keliling Bandung, Maharani. Bila belum terbiasa dengan atmosfer yang dingin, sehabis seharian keliling Kota Bandung dan sampai pulang malam, disarankan jangan langsung mandi karena air di Bandung sangat dingin, selain itu tidak baik juga untuk tubuh.

Pada sesi pembahasan kuliner, saya juga menyarankan bagi pencinta kuliner untuk menyiapkan budget yang besar. Makanan di Kota Bandung sebagian besar mahal walaupun sebetulnya ada juga yang murah jika kita mengetahui tempatnya. Saya pribadi mungkin perlu bertestimoni bahwa porsi makanan di Bandung menurut saya lebih banyak dibandingkan di Surabaya maupun Tangerang. Hal tersebut menurut saya wajar, dan mungkin dikarenakan lingkungan Bandung yang dingin, sehingga saya merasakan kenikmatan tersendiri saat menjajal masakan khas Sunda yang segar sehabis berjalan kaki keliling Kota Bandung.

Namun sayang sekali jika saya harus menceritakan setiap detail perjalanan kuliner dalam satu posting tulisan saja di Hifatlobrain yang ciamik ini. Saya berjanji akan menuliskannya dalam chapter yang berbeda. Ini dilakukan agar para Hifatlobrainers sekalian tidak bosan membaca postingan saya yang bertele-tele dan melulu kuliner.

Rasa kagum datang saat saya berkunjung ke Cihampelas Walk di jalan Cihampelas, melihat bangunan dengan arsitektur yang futuristik. Tidak lupa saya juga menjajal masakan Bandung Seafood di Niagara yang ternyata juga menyajikan hiu putih, namun saya lupa dimana letaknya Niagara ini. Hingga saya meminta teman saya untuk mencari tempat untuk ngopi di tempat yang cozy seperti Kopi Progo. Aaaah…lagi-lagi sudah saya bilang semuanya itu terlalu berharga untuk saya tulis dalam satu postingan. Namun jangan khawatir dan menangis, sudah saya siapkan beberapa gambar hasil jepretan menggunakan ponsel kebanggan saya yang siap menyiksa mata anda.

Tulisan ini juga saya tujukan untuk Ayos Purwoaji yang sedang merayakan hari kelahirannya. SELAMAT ULANG TAHUN KAWAN!!! []

5 comments:

blackskin said...

Kulit saya yang indah ini akan melepuh dan gosong dengan cepat...haha.

Ayos Purwoaji said...

hahaha, bagaimana kawan. canggih bukan?

blackskin said...

Yup, sarat akan kecanggihan masa depan...hoho. Perasaan 2 orang editornya biasa wae.. XD

Anonymous said...

gen... bukan Sarjana Seni gen.. aku Sarjana Desain... TT_TT beda tauuk..... huuhuhu

blackskin said...

Sip Yos, suwun sing akeh...