Pages

5/10/10

Big City


Text and photo by Dwi Putri
________________________________________________
Kontributor










Dwi Putri adalah seorang traveler dan hiker. Ia adalah salah satu kontributor utama blog ini. Suka membaca buku, khususnya travel novel. Terobsesi dengan Trinity dengan Naked Travelernya. Sedang menyukai lomografi, dan seorang movie freak sejati. Sebelumnya Putri pernah membagikan pengalamannya yang luar biasa saat traveling ke Kawah Ijen, Karimunjawa, dan Jogja untuk Hifatlobrain.
________________________________________________

Hanya memakan waktu tiga jam dari Semarang, tempat saya bermukim untuk sementara ini, bau suasana Jogja sudah bisa tercium. Rasanya saya ngga pernah menempuh jarak sedekat itu menuju si kota gudeg. Yap, weekend ini saya habiskan di Jogja saja, tentu saja karena bagi saya, kota ini nggaaaak pernah ngebosenin. Ngga masalah, meskipun cuman menghabiskan malam dengan jalan kaki di sepanjang Malioboro sampai ujung Mirota, sekedar melihat euforia wisatawan belanja berdesak-desakan. Semakin ramai, Malioboro akan semakin yahud.

Jam delapan malam saya sudah sampai di Jogja. Celingukan sendirian di Alfamart depan terminal Jombor menunggu jemputan adik sepupu saya. Yap, sejak saya traveling ke Karimunjawa dulu, mendadak saya menjadi pecinta terminal. Kemana-mana saya lebih suka menjadikan bus sebagai pilihan awal, padahal dulu saya ini kereta-minded banget. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah bilang pada si Apin, sepupu saya itu, untuk mengantar saya ke Kotagede, dengan iming-iming akan saya bayarin makan dan bensinnya, di mana tawaran itu berarti surga firdaus untuk anak kos kere macem dia. Hahaha.

Walaupun Kotagede lebih dikenal sebagai daerah pengrajin perak, tapi saya ngeluyur ke sana bukan mau belanja. Saya pengen memanjakan mata, melihat bangunan dan rumah-rumah tua ala Jawa. Kalau di Surabaya ada daerah seperti ini di Jalan Gula, kawasan kota lama dengan bumbu-bumbu Pecinan, dan Semarang punya Outstadt yang membuat suasana jalanan berpaving itu tampak seperti Little Holland, Solo dengan kampung tua Laweyan yang terkenal dengan batik-batiknya, maka di Jogja pun gosipnya ada kawasan dengan nuansa jadul juga, yaitu di Kotagede.

Hoho, dan yang membanggakan, ternyata si Apin udah survey duluan ke sana, biar mbaknya yang ayu ini nanti bisa puas kelayapan. Wohoho, saya memang berencana mendidiknya dengan mata kuliah traveling sebanyak 10 sks, sebagai penunjang utama biar dia bisa lulus cumlaude nanti. Tapi sayang, dia ngga mau nganterin saya ke Gunung Kidul, karena terakhir dia ke sana naik motor, terus pulang ke kosan, dia serasa tak punya pantat lagi katanya.

Then, finally motor Jupiter merahnya kelihatan juga. Si Apin yang hobi nonton film lawas ini, sudah cengar-cengir di depan saya. Okelah, mari kita naik ke Kaliurang menuju rumah di Cangkringan. Yap, tempat ini pula yang suka saya kangenin. Cangkringan, sebuah kecamatan di lereng Merapi, letaknya kira-kira 20 km dari pusat kota Jogja, tentu saja kawasan ini dilengkapi dengan view gunung Merapi. Coba rasakan sensasi makan mie godhog Jawa di sini dengan kuah puanas tingkat internasional di saat badan menggigil kedinginan. Sungguh mengasyikkan.

Sampai di rumah, saya ditelpon sama Bapak, menanyakan keadaan dan kegiatan saya di Semarang... tuing! saya lupa sudah pamit apa belum waktu berangkat ke Jogja, hehe. Ketika mendengar nada kaget Bapak saat saya bilang sudah di Cangkringan, baru lah nyadar bahwa saya memang belum pamit. Saya langsung pamitan saat itu juga. Mwahaha... telat itu bukan alasan kawan.

Besok paginya, saya dan Apin meluncur ke Kotagede setelah sarapan di sebuah warung daerah UGM. Ngga jauh kok, cuman jalananannya terasa asing aja, karena saya memang baru kali ini ke daerah pengrajin perak itu. Then, di tengah perjalanan Apin tiba-tiba nyeletuk jayus, ”Selamat datang di Kotagede.”

Saya menyuruhnya melajukan motornya pelan-pelan di beberapa jalanan di sekitar Kotagede, sebelum saya menentukan mau blusukan di mana. Saya suruh dia terus lurus, belok kanan, belok kiri, berhenti sebentar, puter balik, balik lagi hehe, yang penting kan dia bisa makan enak pake uang saya, jadi saya berhak menyuruh-nyuruh kayak kumpeni.

Pemberhentian pertama kami adalah saat secara tidak sengaja melihat pabrik Chocolate Monggo, cokelat khas oleh-oleh dari Jogja. Kebetulan memang, Maya, seorang teman dari Jakarta yang lagi sibuk menggarap skripsi sampai ke perpustakaan Kanisius di Jogja, nitip saya untuk membelikannya cokelat Monggo di Kotagede.

Sebenernya cokelat ini gampang ditemui di pusat oleh-oleh ataupun di toko-toko batik di Malioboro. Tapi waktu Maya bilang, ada pabrik cokelat Monggo di Kotagede, maka saya pikir kenapa ngga sekalian saya belikan di sana juga.

Tapi, jangan membayangkan tempat produksinya itu megah, warna-warni, penuh dengan buah-buahan unik yang bertebaran seperti di pabrik cokelatnya Willy Wonka yang suka dandan menor itu. Cokelat Monggo ternyata dibuat di tempat yang mungil dan nyelempit. Dengan disain bangunan yang simpel dan bau-bau Belanda gitu. Mungkin pengaruh dari si chocolate maker-nya yang berasal dari Belgia. Di dalam ruangan pun hanya ada satu etalase model jadul, dan seperangkat meja dan kursi untuk menjamu konsumen. Tapi semuanya ngga ngefek ke rasa cokelat yang ngga kalah dengan cokelat impor ini. Dengan mengandalkan hanya tiga varian saja, polosan tanpa isi dengan kadar cokelat 58% atau 69%. Cokelatnya pakai kacang mete atau pakai
rasa jahe. Wohoho, Indonesia sekali...

Keuntungan lebih ketika kita mengunjungi pabrik cokelatnya langsung adalah tester! Yap, kira-kira 10 biji potongan cokelat fresh from the kulkas, dihidangkan untuk kami berdua. Sedikit demi sedikit lama-lama coklat tester itu hanya tinggal dua biji. Hilang entah ke mana… Sungguh saya ngga tau…

Setelah transaksi pembayaran dilakukan, ternyata kami masih mendapatkan 6 potong cokelat yang dibagi dalam 3 kotak kecil berwarna pink bertuliskan Rama & Shinta, lengkap dengan pita sebagai pemanis. Sesuatu yang mungkin ngga bisa kita dapet ketika membelinya di toko oleh-oleh. Ih, sumpah enak banget tuh cokelat, udah bonus, pake isi selai stroberi lagi, hohoho.

Tidak jauh dari pabrik cokelat Monggo, terdapat sebuah mural dengan warna hijau mencolok yang bercerita tentang kehidupan warga Kotagede sebagai pembuat batik dan pengrajin perak secara turun temurun hingga saat ini. Setelah melewati deretan mural itu di Jalan Cantheng, kami menemukan warung vintage yang pernah saya baca saat blogwalking Kotagede.

Lebih mirip rumah sebenernya, kalau kurang jeli melihat papan nama warung yang sudah tua itu, ya sudah pasti terlewat. Warung ini bertajuk ”Warung Ys Sido Semi”. Yah, kalo ditransletkan pada kamus jaman sekarang menjadi, Warung Es Sido Semi. Dilihat dari daftar menunya yang masih menggunakan ejaan Bahasa Indonesia tempo dulu itu, sepertinya warung ini memang mengandalkan berbagai macam es sebagai menu andalan. Sedangkan untuk makanan hanya tersedia bakso saja.

Tentu saja yang menarik bagi kita berdua adalah deretan botol limun berwarna-warni. Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir kali merasakan es limun. Jaman masih SD mungkin. Waktu itu saya memesan es limun rasa Frambozen, dan adik saya memesan Sarsaparilla. Katanya sih, dia ingat Pak Bondan pernah me-maknyus-kan minuman rasa ini dalam acara kulinernya. Karena botolnya unik dan antik, kami berdua, mahasiswa jaman millenium, harus ditolongin si mbak untuk membuka botolnya karena kami sama-sama ngga tau caranya gimana, bisanya hanya melongo saja.

Dihidangkan dengan segelas full es batu, minuman limun frambozen ini rasanya mirip-mirip sirup stroberi dicampur soda. Waktu itu saya ngelirik si Apin nyeruput Sarsaparilla. Dia terdiam sejenak, lalu berkomentar, "Kok kayak minum minyak tawon ya?”

Penasaran, langsung saya minum juga itu limun. Hhwaaahaaa... mungkin memang itu yang unik dari sebuah Sarsaparilla. hoho, sedikit sentuhan rasa minyak tawon. Sensasi aneh pada saat pertama kali merasakannya, tapi lama-lama enak juga sih, terbukti minuman berwarna mirip teh itu habis juga. Saya yang ngabisin :p

Puas minum-minuman-tidak-keras dari warung Sido Semi, saya menyuruh Apin memarkirkan motornya di Pasar Gede. Konon, pasar ini sudah dibangun sejak Kerajaan Mataram didirikan oleh Panembahan Senopati, dan sepertinya sejak saat itu pasar ini menjadi pusat perekonomian masyarakat Kotagede hingga sekarang, apalagi letaknya strategis berada di tengah jalan-jalan utama.

Dari pasar tersebut kita mulai jalan kaki, masuk ke gang-gang kecil bak labirin. Kenapa jalan kaki? Karena memang dengan cara itu baru berasa nuansa kota lama di Kotagede ini. Bahkan masjid kuno Kotagede peninggalan kerajaan Mataram, juga letaknya di ujung gang, bukan di pinggir jalan besar, dan efek dikelilingi oleh pagar bertembok bata merah bak benteng membuat masjid itu semakin tak nampak dari kejauhan.

Kalau di Jalan Kemasan, kami disuguhi dengan deretan pertokoan tua yang penuh dengan segala macam hal berbau perak sebagai icon Kotagede, maka di sekitar Jalan Tegalgendu, saya melihat model rumah-rumah tua yang tampak seirama. Daun pintu kayunya ada dua, dengan jejeran jendela yang didesain begitu simpel, persegi panjang dengan tralis vertikal polos dan cat yang cukup mecolok seperti kuning atau hijau toska.

Jangan sungkan untuk terus berjalan melewati gang yang semakin sempit, karena semakin memblusuk, semakin gampang menemukan perkampungan rumah Joglo. Di tambah lagi, banyaknya penduduk yang masih enjoy menggunakan sepeda tuanya menyusuri gang ini, membuat suasana jadul semakin berasa.

Namun tidak semua rumah memiliki disain ‘biasa-biasa saja’ seperti yang saya sebutkan tadi. Ada beberapa rumah yang tampak wow, yang mengindikasikan ada juragan-juragan besar pernah tinggal di gang tersebut. Rumah ini biasa disebut sebagai Rumah Kalang. Rumah ini sangat berbeda sekali dengan rumah joglo. Kebanyakan para juragan ini memodifikasi dengan sedikit sentuhan Belanda yaitu dengan memakai kaca mozaik warna-warni. Orang Kalang yang berjiwa seni tinggi itu memang terkenal sebagai pribumi-pribumi kaya karena keahliannya mengukir kayu. Hasil karya seni itu pula yang coba mereka tunjukkan dengan membangun rumah-rumah Kalang yang kemewahannya masih bisa dilihat hingga saat ini. Sepertinya, sebuah rumah dengan relief dewa-dewi di sepanjang dinding yang saat itu saya lewati, juga merupakan salah satu rumah Kalang.

Yap, saya yakin dan sudah mencobanya, jalan-jalan di Kotagede ngga akan menguras isi dompet, kecuali kalo memang ada niat belanja perak atau memborong Cokelat Monggo. Makan bakso saja di Sido Semi, nyeruput es limun sarsaparilla, kemudian mengunjungi makam raja-raja Mataram, ngadem dan sholat di Masjid Kuno, terkagum-kagum melihat rumah-rumah Kalang, dan lanjut blusukan sampai menemukan perkampungan Joglo hanya dengan modal kaki kuat, jantung sehat dan senyum pepsodent. Hepi walking! []

9 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

hooouwooo... my big city :D
asik-asik-asik *memuji diri sendiri

Ayos Purwoaji said...

great job, as usual py!

bondan said...

sempet jajan kipo gak dwi? stau ku kipo hanya di jual di kotagede

Ayos Purwoaji said...

kipo itu apa ndan? mesti panganan...

bondan said...

hahaha kok kowe ngerti? wah aku udah terlalu identik nih dengan panganan, aduh gusti.....

Fanny said...

mau ke jogjaaaa..
ajak aku jalan-jalan dong.. ajak aku jalan-jalan dong.. hehe :D

mau jogjaaaaa =(

Ayos Purwoaji said...

@ Fanny: ke surabay juga fan, mampir..

Dwi Putri Ratnasari said...

@ mas bondan: kipo? jajanan pasar gede itu yo, yang kecil-kecil itu yo? ga sempet nyicip :)

@ fanny: ke surabayaaa ayo, fan... mau kemana, tak anterrrr... nginep kosanku ajaaa :D

Giri Prasetyo said...

wih, warung limun YS Sido semi nya asik kayakya, masih pake aksara jawa gitu yak...coba kalo ada foto tampak luarnya, kan mbak Dwi bilangnya sulit diidentifikasi kalau tidak benar2 melihat (karena warungnya mirip rumah), kalau ada foto tampak dari jalan mungkin bisa menginformasikan pada penikmat artikel ini kalau mau ke warung tersebut.