Pages

5/10/10

El Mosquitos En Sempu


Text and photo by Condro Priyoaji

________________________________________________
Kontributor










Condro Priyoaji adalah anak SMA ingusan. Ia juga seorang street artist yang sudah menghabiskan ratusan pylox dan akan merengek ke kakaknya untuk dibelikan caps. Hahaha. Pemuda yang akrab disapa Ndo ini baru pertama kali menuliskan catatan perjalanan bodohnya untuk Hifatlobrain. Gaya bertuturnya yang spontan sangat dipengaruhi oleh novelis ternama Jepang, Ryu Murakami. Ndo sangat suka meneriakkan kata: freedom.
________________________________________________

Sudah dari dulu kami merencanakan perjalanan ini. Saya tertarik kepada Pulau Sempu karena terlihat sangat eksotis di foto milik Navan, kakak saya. Seperti tentara, awalnya perjalanan ini akan dihadiri lebih dari sepuluh orang. Seperti tentara juga, lama-kelamaan peminat ini gugur satu persatu karena alasan mereka masing-masing. Akhirnya tinggal empat orang anak yang jadi ikut.

Saya, Candra, Azka dan Satriyo berangkat hari Rabu pukul satu dini hari. Ini semua gara-gara acara Maulid Nabi yang secara tiba-tiba diwajibkan oleh sekolah untuk ikut. Siang saat hari terakhir masuk sekolah, datang seorang guru BK. Meminta izin kepada Bu Ira untuk berbicara. Sopan, lemah lembut dan yang pasti menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Guru BK itu berbicara panjang lebar dan yang pasti ujung-ujungnya, “Ini bersangkutan dengan nilai dan kenaikan kelas...” Semangat yang awalnya membara ini mulai menciut mengecil. Akhirnya kami berangkat Rabu malam untuk menghadiri acara Maulid Nabi yang mendadak dan membosankan itu.

Kami sepakat untuk menginap di rumah Satriyo malam ini. Kami berkumpul di POM bensin karena tidak tahu di mana rumah Satriyo berada. Karena sepedanya cuma satu, Satriyo memutuskan untuk mengantar Candra dulu, lalu saya dan Azka disuruh untuk berjalan sebentar sambil menunggu kedatangan Satriyo.

Satriyo dan Candra sudah tidak terlihat. Kami melewati rel kereta, yang tepat di pinggirnya saya melihat sesosok wanita yang sedang merias wajahnya. “Ka, iku sopo?” saya bertanya pada Azka, tapi kelihatannya Azka tidak menggubris pertanyaan itu, saya berpikir mungkin wanita itu menunggu jemputan. Tidak lama setelah itu, Satriyo tiba lalu bertanya, “Eh koen mau nang rel ndelok bencong ta gak?” Azka yang tidak melihat bilang tidak. Lalu aku berpikir lagi,“Ternyata perkembangan teknologi mulai dapat membuat kita sulit membedakan kelamin seseorang, hahaha.”

Jalur yang harus kami lewati adalah berikut; kami berangkat dari Tawang Alun Jember menuju Wonorejo dengan bus jalur Surabaya. Dari Wonorejo kami harus menunggu sekitar setengah jam karena bus berikutnya menuju Dampit datang mulai pukul setengah empat pagi.

Kami duduk di pertigaan Wonorejo hingga bus menuju Dampit pun tiba. Tidur di bus menyebabkan saya tidak melihat pemandangan indah di sekeliling jalan. Setelah beberapa jam kami akhirnya tiba di Dampit. Sekali lagi kami harus menunggu sampai colt menuju pantai Sendang Biru penuh terisi penumpang. Kami pun berangkat.

Kami diantar oleh sopir colt itu menuju tempat perizinan. “Bla, bla, Anda tidak boleh bla, bla, dan untuk uang administrasi...”, petugas perizinan itu berbicara pada kami. Setelah mendapat izin yang ujung-ujungnya uang administrasi tersebut, kami langsung menuju tempat kapal agar bisa cepat-cepat menyebrang. Teman-teman saya merasa kecewa karena tidak bisa menawar uang penyeberangan. Akhirnya kami harus membayar seratus ribu untuk pulang pergi pulau Sempu.

Sebelum sampai ke Segara Anakan, kami harus melakukan tracking sejauh dua kilometer. Sebenarnya tidak terlalu jauh dan tidak begitu terjal, tapi kami merasa kesusahan karena harus melewati tanah yang licin dan tangan kami membawa dua botol aqua 1,5 liter. Tapi semua itu terbayarkan setelah kami melihat Segara Anakan yang sungguh eksotik.

Sesampainya dibawah, saya langsung buka baju dan lari menuju air. Saya tidak lama di air karena cuaca yang sangat panas. Keadaan menuntut saya untuk segera tidur dan istirahat setelah puas mencemplungkan tubuh kecil ini ke air. Siang itu aku tidur dan mencoba untuk merenung bersama alam.

Malam yang ditunggu-tunggu saat siang tadi pun akhirnya tiba. Kami menyalakan perapian lewat ranting-ranting sisa perapian orang lain. Kami tidak tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang.

Malam itu kami memasak mie instant, nasi dan sarden. Awalnya saya berpikir untuk tidak makan karena saya takut jika malam ini harus BAB. Tapi perut saya berteriak-teriak memaksa untuk makan, dan saya pun ikut bergabung dengan mereka.

Hari semakin larut, kakiku mulai merasa gatal-gatal. Aku tidak tahu dari mana rasa gatal ini. Tidak terlihat dan terdengar dengungan nyamuk, aku berpikir mungkin ini sejenis kutu pantai yang tidak terlihat. Langit mulai berawan dan menutupi bintang-bintang yang awalnya terlihat. Hujan rintik-rintik memaksa kami harus meringkas barang-barang di luar untuk dimasukkan ke tenda. Sebenarnya, tenda itu hanya muat untuk dua orang saja. Tapi kami tidak peduli, kami masuk bersama untuk melindungi diri agar tidak basah.

Hujan tidak berlangsung lama, kami keluar. Satriyo dan Candra mencoba untuk menyalakan perapian lagi. Tidak lama, kaki kami sudah tidak tahan menunggu untuk digaruk. Semakin malam semakin menjadi-jadi, awalnya tidak satu pun nyamuk yang terlihat. Tapi lama-kelamaan terlihat satu dua spesies. Dapat saya lihat sejenak, nyamuk itu kecil, tidak seperti nyamuk rumahan yang gemuk-gemuk itu. Tidak mendengung, tapi jika sekali saja darah kita terisap, nyamuk itu meniggalkan bentolan-bentolan merah yang sangat gatal. Candra berusaha melindungi diri dengan sleeping bag miliknya. Setelah itu saya juga menyimpulkan satu hal, nyamuk jenis ini juga pintar. Nyamuk ini dapat menyelinap selama ada secuil celah untuk dimasuki, dan Candra kembali membuka sleeping bag-nya.

Berjam-jam kami berusaha untuk beristirahat, tetap tidak bisa. Nyamuk-nyamuk sialan itu membuat diri kami naik pitam. Semakin malam, semakin banyak perbendaharaan umpatan yang kami keluarkan. Kami ingin menyalahkan, tapi kami juga tidak tahu harus menyalahkan siapa. Awalnya hanya satu dua bentolan yang bersarang di kulitku, tapi semakin malam tubuh kami semakin seperti candi yang memiliki relief yang beralur cerita tragis.

Berbagai cara kami lakukan, hingga kami melakukan hal-hal konyol yang tidak mungkin dipikirkan orang waras. Satriyo mengimbau kami untuk melumuri kulit kami dengan air pantai. Mungkin dia berpikir nyamuk tidak suka rasa asin. Tapi semua itu salah, hanya sekitar satu sampai dua menit, kaki kami mulai dihinggapi nyamuk lagi. Sebelumnya saya sudah berpikir tentang melumuri kulit kami dengan sampo pantene yang kami bawa, tapi pikiran saya masih sehat dan saya tidak akan menyampaikan pendapat bodoh itu kepada teman-teman. Tapi sekarang saya sudah gila dan saya menyampaikan pendapat bodoh itu ke yang lainnya. Sayang sekali, ternyata teman-teman saya juga sudah gila, mereka menuruti perkataan bodoh saya. Tetapi pada akhirnya, nyamuk-nyamuk itu kembali mengukir relief di kulit kami.

Satu detik seperti satu jam, mungkin itu perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan nasib kami malam itu. Berkali-kali kami saling menanyakan jam berapa sekarang. Kami benar-benar berharap untuk cepat-cepat menghirup embun pagi.

Langit sudah menunjukan pukul lima pagi. Para nyamuk tidak bosan-bosannya menjadikan kulit mulus ini menjadi bentol-bentol. Para nyamuk itu berhenti mengukir relief di kulit kami kira-kira pada pukul enam pagi. Candra mengumpat-umpat tak jelas pagi itu. Ia menantang para nyamuk untuk keluar, tapi sayangnya tidak ada satu pun nyamuk yang menggubris dan menghadap. Candra kembali membuka sleeping bagnya, ia ingin balas dendam dengan tidur sepuasnya pagi ini.

Rencananya kami pulang ke Jember pada hari Jumat, tapi persediaan air yang menipis menuntut kami untuk pulang pagi ini. Saya, Azka dan Satriyo terpaksa membangunkan Candra pagi itu karena cuaca mendung yang menandakan akan turunnya hujan. Kami tidak mau jika harus tracking bersama air hujan.

Sebelum pergi saya sempat memandang air Segara Anakan yang kembali pasang. Hahaha, ternyata benar-benar indah. Kemaren, setelah tiba di Jember. Teman-teman kami yang tidak jadi ikut menyimpulkan bahwa perjalanan kami kali ini tidaklah menyenangkan dengan melihat bentol-bentol yang bersarang pada tubuh kami. “Untung awak dewe ga melok yo..”, katanya. Hahaha, memang menyengsarakan perjalanan kemarin, tapi kami tidak pernah menyesal. Terakhir kali saya melihat Segara Anakan dari tinggi bukit, saya berpikir mungkin saya akan merindukan tempat ini. []

5 comments:

fajjar_nuggraha said...

adek mu ya mas ayoz..ojo diracunin seng gak-gak mas...cukup km aja yang rusak..wkwkwk..hehehe..peace..

Kang Eko said...

gak bedo ambek cacak-e, memper plek, hehehehehe.....

btw. tulisan yg bagus dan runut..

Ayos Purwoaji said...

@kang eko: mosok memper mas? apikan aku ketoke...

vilda yahya said...

orang jember to trnyata?

Ayos Purwoaji said...

Betul mbak, saya orang Jember :)