Pages

5/10/10

Highway To Hell


Text and photo by Agustinus Hendra CA

________________________________________________
Kontributor











Agustinus Hendra CA adalah seorang pecinta bus. Saya biasa memangggilnya Pinus. Begitu terobsesinya, ia bahkan bisa membedakan jenis bis berdasar bunyi remnya. Sungguh kemampuan yang di luar nalar kawan. Seandainya ada satu slot lagi untuk pemeran serial Heroes, maka saya pilih Pinus dengan kemampuannya ini. Pria berkecamata ini bermimpi untuk melakukan traveling panjang dengan menggunakan moda transportasi bus. Semoga dia bisa melintas Amerika dengan bus suatu saat nanti.
________________________________________________


Malam yg dingin membuat aku masih betah berlama-lama di rumah di Situbondo. Tapi karena banyaknya kerjaan yang harus kuselesaikan di Surabaya, mau tidak mau membuat aku harus bertolak ke Surabaya malam itu juga. Tentunya dengan naik bis. Yang mau tidak mau semuanya didominasi AKAS.

Sambil menunggu lewatnya bis jurusan Surabaya di depan sebuah warung, tidak jauh dari Pengadilan Negeri Situbondo. Aku menunggu dengan harap-harap cemas. Semoga aja malam ini dapat bus Mila Sejahtera atau Indonesia Abadi yg memang terkenal kencang lajunya di jalur ini. Tentunya dengan harapan cepat sampai tujuan dan dapat tidur dengan nyaman di dalam bis. Supaya besok dapat langsung kuliah.

Setengah jam berlalu, tidak ada bis yg lewat. Padahal dari jalur barat arah Probolinggo sudah ada satu Akas NNR, satu Mila Sejahtera, dan satu Ladju yang lewat. "Suwiiiiiiii...", batinku. Lima menit kemudian barulah nampak dari kejauhan kilauan lampu dengan deretan lampu kacil berwarna kuning diatasnya. "Wah, ini dia bisnya udah datang". Tapi, begitu sampai di depanku, "Yek opo iki? Hino AK taun piro?" Ya, Akhirnya cuma dapat armada AKAS IV, dengan sasis Hino AK lawas (posisi supir lebih tinggi dari penumpang). Dengan bantingan suspensi yang sangat keras plus suara "kriett kriett" tanda body mulai berontak karena termakan usia. Waduh, ternyata lebih buruk dari bus Mitsubishi yang aku naiki dua bulan lalu.

Sang kondektur pun mendatangi saya. Sambil membayar ongkos, saya bertanya "Mas, sampe Probolinggo aja kan?" Untung si kondektur mengangguk. Berarti masih ada harapan naik armada yang lebih baik di Probolinggo nanti. Selama di jalan, mau tidur pun susah. bantingan keras dan suara gaduh mesin -maklum duduk di baris kedua dari depan- ditambah dengan gaya menyalip si supir yang kelihatan masih ragu-ragu membuat saya sulit tidur. Akhirnya ku putuskan untuk berjaga mengawasi jalan, takut kalau terjadi apa-apa. Tetapi, alamak! Pelan banget ini bis. Udah satu jam perjalanan, baru masuk daerah Besuki. Sangat lambat untuk perjalanan tengah malam, apalagi bis tidak ngetem. Huf, akhirnya sampai juga di Pangger, Probolinggo. Si kondektur berteriak supaya yang mau ke Surabaya - Pasuruan - Madura pindah ke bis di belakang. Ternyata, Situbondo - Probolinggo saya harus menghabiskan waktu tiga jam. Ya, setara dengan waktu tempuh Surabaya-Situbondo menggunakan sepeda motor.

Saya pun sumringah kembali. Melihat body New Setra bus di belakang. Masih sama-sama AKAS IV. Ku putuskan masuk melalui pintu depan, walaupun sudah pasti berdiri. Berharap ada adegan roller coaster selama di jalan. Melihat ke arah jam dua, terlihat si supir yang sudah cukup berumur. Lima puluh lima tahun prediksiku. Ditambah dengan panel indikator MB King yang membuat aku berkesimpulan. "Wah, body New Setra, ternyata lawas kabeh". Yah, paling tidak lebih nyaman sedikit karena menggunakan mesin belakang.

Si kondektur menawari saya duduk di sisi pintu, tetapi saya tolak. Karena takut menghalangi arus keluar-masuk orang dari atau keluar bis. Maka dia menawarkan saya duduk menggunakan filter bekas. Nah ini baru sip. Kapan lagi ngerasain duduk diatas filter.

Yup, MB King pun berangkat dari pertigaan Pangger. Busseeettt... Merasakan akselerasinya yang lumayan ngejos. Membuat saya teringat lagi kata-kata salah satu supir Sumber Kencono, "Jangan ngeremehin bis mercy AKAS. Biarpun lawas. Tapi perawatannya yahud. Kalo bicara diesel mercy di Indonesia, AKAS nomor satu". Ternyata benar. Selepas lampu merah terakhir kota Probolinggo , si AKAS IV bertemu dengan armada Hino RK-nya ZENA, dan setelah itu disalip oleh MB1521-nya Gunung Harta saat berhenti sebentar untuk menaikkan penumpang.

OK. Penumpang pun sudah penuh. 70 orang, saya dengar dari si kondektur. Maka si supir pun memutuskan untuk tidak menaikkan penumpang lagi, sekaligus mengejar kedua bis yg menyalip barusan. Selama jalur Probolinggo - Tongas. Si RK ZENA maupun Gunung Harta belum bisa terkejar. Hanya Ladju bumel dan Estu Jaya yang bisa diblong MB King. Namun, begitu sampai di jembatan Nguling. Kepegang sudah buntut si Gunung Harta. Uber-uberan pun terjadi sampai masuk daerah Grati. Sampai akhirnya si MB King dapat menyalip di tikungan menurun di dekat Patal Grati. Maka target berikutnya pun berganti menjadi si RK-Zena.

Begitu masuk daerah Ngopak, terpegang sudah buntut si Zena. Di jalan lurus dan sepi, MB King mulai tertinggal. Tapi jarak mulai merapat kembali ketika menjumpai jejeran truk di depan. Uber-uberan berlangsung sengit. Walaupun si MB King harus bolak-balik menurunkan penumpang di Ngopak, Rejoso, dan kota Pasuruan, namun buntut si Zena selalu terkunci. Gak bisa kemana-mana.

Masuk di jalan lebar antara Pasuruan dan Bangil, terdapat trailer berjalan pelan di depan. Prediksiku si supir bakal mengambil lajur kanan membuntuti si Zena. Ternyata dia mengambil lajur kiri. padahal 150 meter di depan ada truk yang mogok di kiri jalan. Si Zena mengambil sisi kanan dan MB King mengambil kiri trailer. Duel timing menyalip dan insting pun terjadi. Saya pun teringat bagaimana saat Mika Hakkinen meng-overtake Michael Schumacher saat dua-duanya berusaha menyalip Jaques Villeneuve di Sirkuit Spa-Franschorschamp, saat musim tahun 2000.

Yes. Si Zena pun berhasil diblong. Berhubung jalan lurus panjang, sepertinya si supir sudah memprediksi kelebihan tenaga yang dimiliki RK-nya si Zena. maka ia berusaha menutupi jalannya si Zena. Mungkin frustasi karena tidak diberi jalan, akhirnya si Zena hanya bisa membuntuti MB King. Iseng kucoba melihat spion MB King. Ternyata dibelakang si Zena terlihat sosok lampu "Smile". Wah apa lagi nih. Bingung karena harus memblok sapa, akhirnya si supir MB King kebobolan juga. Sesosok armada OBL (Safari Dharma Raya) berbaju New Travego buatan Adi Putro dengan chassis OH1525 menyalip. Wah, tiga bus, dengan kelas chassis berbeda bertarung disini. Mencoba mencari celah menyalip sembari meliuk-liuk di antara jejeran truk-truk yang berjalan lambat. Sesuai degan iringan lagu dangdut Banyuwangian yang mengiringi selama perjalanan.

Sampai masuk kota Bangil, battle masih terjadi. Tapi apa dikata. Di trek lurus Beji. Si MB King memang harus mengakui kemampuan OH1525 si OBL yang memang lebih muda hampir 20 tahun darinya. Begitu masuk bundaran Gempol,si MB King memilih berpisah dengan para rivalnya. Dengan tidak adanya AC di atap bus, membuat dia dapat melalui sisi bawah jembatan kereta di Gempol. Setelah sedikit bermacet ria di Porong. MB King pun masuk ke ruas tol Porong-Waru. MB King pun melesat. Aku tidak tahu angka pasti berapa kecepatannya, karena spidometer yang tidak berfungsi. Tetapi melihat lajunya yang berani menempel Kijang Innova di depannya, berarti dia berlari 100-110 km/jam. Sebuah bus Tentrem pun dilibas. Namun si MB King harus menyerah pada lawan paling berat di jalan tol. Yakni sebuah bus Hino RG milik AKAS I yang sanggup berlari 120++km/jam

Sampai sudah di pintu tol Waru dan bus pun masuk di Terminal Purabaya dan berhenti di peron masuk. Baiklah, cukup sekian saja perjalanan saya dengan armada AKAS yg cukup berkesan. Walaupun tua (bus dan supirnya), tetapi tetap jagoan di jalan. Dan yang paling saya senang dengan si supir, walaupun ia bertarung dengan bus lainnya, tetapi ia mampu membuat penumpang tetap nyaman di dalamnya.[]

5 comments:

Imaniar Ramadhani said...

analisanya membuat saya makin ngeri naik bis malam.. ternyata ada orang yang menilai perjalanan naik bis dari perspektif seperti ini

Ayos Purwoaji said...

Hahahaha, ya begini ini dhan kalo pecinta bus harus nulis tentang bus, penuh passion. bahaya cuman jadi bahan tertawa aja...

Giri Prasetyo said...

menurut saya alangkah bijaknya kalau diberi penjelasan sitilah-istilah atau reputasi bis yang dimaksud...soalnya kayak saya yang awam mengenai bis,jadi agak kurang menangkap passionnya.kayak duduk diatas filter, saya ndak tau filter apaan, yang saya tau filter CPL, ND, GHD, Tian Ya..hehehehe

tapi dewa bis ini ancen edan karo bis, sudah hapal trayek di seluruh indonesia belon mas?hehehe

seniman vertex said...

wahahah si Restu lg masuk pitstop kayaknya, kalo nggak cerita balap busnya bakal lebih seru lagi!...
ups salah jalur sepertinya, Restu cuma Malang - Surabaya aja sih...
hahah, tapi tetep ngerinya minta ampun kalo naik, klo jalur timur -'Probolinggo, 'Banyuwangi saya lebih memilih naik kereta api daripada Bus...
seperti yang diceritakan diatas supirnya sekaliber Michael Schumacher semua... wahahah

Anonymous said...

itulah seni nya naik bus..