Pages

5/24/10

Hikayat Kota Lama

Text and photo
Dwi Putri Ratnasari & Ayos Purwoaji

Menyusuri kawasan Kota Lama Semarang ada beberapa cara; Paling praktis adalah mengendarai mobil atau sepeda motor, jalanan lebar berlapis paving akan memudahkan Anda untuk mengitari areal seluar 32 hektar ini dalam waktu lima menit saja. Tapi ini tidak direkomendasikan. Cara yang paling baik adalah dengan berjalan kaki. Silahkan parkir kendaraan Anda dan mulailah mengayun langkah. Menyesap aroma masa lampau yang memancar dari bangunan-bangunan kuno di sini adalah sebuah kemewahan yang tidak ternilai.

Beberapa lokasi wajib kunjung antara lain adalah Gereje Blenduk dan Gedung Opera Marabunta. Kedua bangunan ini memiliki ciri arsitektur yang sangat unik, membedakan diri dari gedung lain di sekitarnya.

Gereja Blenduk dulunya adalah sebuah gereja kecil yang dibangun oleh Reverend J. Lipsus pada tahun 1750. Gereja ini merupakan gereja protestan pertama yang berdiri di Semarang. Tahun 1794, atau lima puluh empat tahun sesudahnya, Ir. W. Westmaas dan Ir. H.P.A de Wilde melakukan renovasi besar-besaran. Pada awalnya bentuk kubah Gereja Blenduk tidak seperti yang terlihat sekarang. Baru pada tahun 1894 kubah berbentuk setengah bola ini dipasang.

Gereja Blenduk memiliki denah oktagonal atau segi delapan beraturan dengan ruang induk terletak di pusat. Bangunan dengan arsitektur Eropa klasik ini sangat anggun dan gagah. Sampai hari ini masih sangat terawat dan digunakan sebagaimana fungsinya. Di samping Gereja Blenduk terdapat Taman Srigunting yang teduh. Taman kecil ini sering digunakan sebagai lokasi pemotretan pre wedding dan jika malam berubah menjadi tempat beristirahat para tunawisma.

Sedangkan Gedung Opera Marabunta yang terletak di Jalan Cenderawasih syahdan adalah sebuah gedung pusat pertunjukan tonil atau sandiwara. Dapat dibayangkan jaman dahulu gedung ini bagaikan Broadway, para meneer dan mevrouw akan berdandan rapi untuk menyaksikan pertunjukan di dalamnya. Gedung Marabunta memiliki ikon dua patung semut merah raksasa pada atapnya. Saat ini beralih fungsi sebagai gedung serbaguna yang biasa disewa untuk mengadakan pesta perkawinan.

Menyusuri Kota Lama jangan lupakan untuk mampir Stasiun Tawang yang terletak di sebelah utara. Tempat pemberhentian kereta ini adalah salah satu yang paling tua di pulau Jawa, dibangun pada tahun 1914. Hingga saat ini Stasiun Tawang masih berfungsi dengan baik untuk pemberhentian kereta eksekutif dan bisnis. Hanya sayang, pada musim penghujan hampir dapat dipastikan Stasiun ini bakal terendam oleh banjir rob yang tidak pernah absen di Semarang.

...Semarang kaline banjir, ja sumelang ra dipikir...” nyanyian lawas berjudul Jangkrik Genggong milik biduan keroncong paling terkenal, Waldjinah, rasanya masih relevan hingga hari ini. Masalah naiknya air laut hingga menyebabkan banjir rob setiap tahun masih jadi persoalan klasik pemerintah kota Semarang. Tentu saja ini menganggu kenyamanan para turis yang ingin bertetirah. “Justru kalo Semarang ndak banjir, bukan Semarang lagi namanya, justru ini yang khas,” kata Nanang, seorang pria paruh baya yang tinggal di sekitar Kota Lama.

Permasalahan banjir musiman tadi pula yang menyebabkan pemerintah Belanda membangun kolam rakasasa di muka Stasiun Tawang. Polder besar ini malah seiringkali dijadikah wahana wisata alternatif bagi sebagian orang. Sekedar duduk di bangku semen yang tersebar di pinggir kolam adalah salah satu cara untuk menikmati polder legendaris ini.

Namun Kota Lama tidaklah melulu masalah bangunan dan wisata arsitektural saja. Di sudut lain jauh di dalam kawasan Kota Lama ada aktifitas pemantik adrenalin, adu ayam. Acara ini diadakan setiap hari saat matahari sudah bertengger di atas kepala. Kegiatan ini sepertinya sudah menjadi tradisi bagi para penghobinya. Sejak pagi di Gang Telkom, seruas gang yang menghubungkan Jalan Letjend Suprapto dan Jalan Kepodang, sudah ramai oleh para penjual ayam. Biasanya berjenis ayam Bangkok yang memang cocok untuk diadu.

Tidak ada yang istimewa pada pasar ayam tersebut, seperti pasar lainnya para penujual dan pembeli yang saling menawar. Baru pada siang harinya, setelah para peserta sudah siap dan arenanya sudah digelar maka pertarungan pun dimulai. Sekali aduan biasanya memakan waktu sepuluh menit, dapat dipastikan dalam waktu sesingkat itu sudah ada ayam yang bisa dijadikan pemenang. Di sisi lain ayam yang kalah akan sempoyongan dan berdarah-darah.

Pemandangan acara adu ayam ini tentu saja sangat unik, apalagi dilakukan di sebuah gang yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan tua bernuansa kolonial nan eksotis. Apalagi kegiatan adu ayam saat ini sudah mulai jarang dipraktekkan. Kecuali di Bali, dimana sabung ayam, atau biasa disebut tajen, masih menjadi budaya.

Melihat kegiatan adu ayam ini tidak dipungut biaya sepeser pun. Anda hanya butuh senyum untuk membalas sapaan ramah orang Semarang. Sambil menyaksikan kegiatan adu ayam ini jangan lupa untuk membawa kamera. Pastinya akan ada banyak pemandangan unik yang bisa ditangkap oleh kamera Anda. Bagaikan resto all u can eat, maka di gang ini, all u can shoot! Ratusan foto di kamera Anda pun akan 'berbau' ayam, hal ini semakin menarik didukung dengan suasana Kota Lama yang akan memperkaya hasil jepretan kamera. Kandang ayam, penjual ayam, penawar ayam, ayam mandi, ayam makan, ayam digendong, ayam dielus, dan tentu saja yang paling ditunggu adalah saat ada ayam yang diadu.

Salah satu spot menarik lainnya adalah sebuah tembok di Gang Telkom yang dijuluri akar sebesar pergelangan tangan. Ingatan kita pun akan melayang menuju reruntuhan Angkor Wat di Kamboja yang sempat digunakan sebagai latar dalam film Tomb Raider. “Itu dulu bekas kotoran burung yang didalamnya ada bibit beringin, jadinya sekarang seluruh temboknya penuh akar,” kata Mulyono, seorang penjual ayam. Pohonnya sendiri sekarang sudah besar, daunnya rimbun, membuat Gang Telkom terasa adem di tengah udara Semarang yang panas di siang hari.

Bagi para penikmat seni, luangkanlah waktu sejenak untuk mengunjungi Semarang Contemporary Art Gallery yang terletak di Jalan Letjend Suprapto yang dahulu merupakan bagian dari De Groote Postweg atau Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Anyer-Panarukan. Gedung yang bergaya spanish colonial ini dulunya adalah sebuah perusahaan bernama Winkel Maatschappij yang dipunyai oleh tuan H Spiegel. Pada tahun 1905 gedung ini diambil alih Tasripin, seorang pengusaha pribumi kaya raya untuk dijadikan kantor dealer motor dan perusahaan farmasi. Pabrik Limun Fresh diketahui membeli bangunan ini dan digunakan hingga tahun 1990-an. Akhirnya pada tahun 2008, seorang arsitek cum kolektor, Chris Darmawan, melakukan konservasi dan merubah bangunan ini menjadi art gallery.

Bangunannya sendiri terdiri dari beberapa bagian. Paling depan adalah galeri seni yang terbagi dalam dua ruang dan sebuah kantor, lalu di sebelah timur ada dua kompartemen yang dipisahkan oleh taman berfungsi sebagai lounge dan perpustakaan. Untuk masuk ke dalam galeri ini tidak dipungut biaya. Usahakan untuk datang pada siang atau sore hari. Beberapa karya dan sudut bangunan ini sangat menarik untuk dipotret, namun usahakan meminta izin dulu pada petugas yang berjaga, siapa tahu itu adalah karya seni yang akan dipamerkan bulan depan dan masih dirahasiakan untuk umum. []

4 comments:

Kang Eko said...

wouw...penulisan yang yahud meski hanya beberapa titik, tapi seakan bertutur komplit ttg kota lama disana, jadi pingin menikmati kembali keindahan semarang.

Ayos Purwoaji said...

Wehehe iya kang, makasih. Ini postingnya dipikirkan betul, tirakatnya lama :)

Arjuna said...

AKu denger ada paket wisata muter kota lama dalam sehari ya?

Arjuna said...

AKu denger ada paket wisata muter kota lama dalam sehari ya?