Pages

5/24/10

Tetirah Murah di Semarang


Text and photo by
Dwi Putri Ratnasari & Ayos Purwoaji

Banyak tempat di Semarang yang eksotis sekaligus gratis. Ini adalah beberapa tempat rekomendasi Hifatlobrain untuk menjelajahi Semarang dari segala sudut.

Pecinan Semawis

Semarang adalah pintu masuk utama kebudayaan Cina ke Jawa Tengah, maka tidak heran banyak klenteng tua dan pecinan di dalamnya. Tempat tinggal komunitas Tionghoa paling masyhur di Semarang dimulai dari ujung utara Jalan Beteng - Pekojan - Jagalan - Pedamaran serta sejumlah gang antara lain Gang Baru, Gang Mangkok, Gang Pinggir, Gang Warung, Gang Tengah, dan Gang Besen.

Kawasan pecinan ini mempunyai kurang lebih tujuh kelenteng yang letaknya menyebar. Hampir setiap gang memiliki kelenteng di ujungnya dan yang paling besar adalah Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok. Klenteng yang didirikan pada tahun 1746 ini pada awalnya hanya untuk memuja Kwan Im. Klenteng ini kemudian berkembang menjadi klenteng besar yang juga memuja berbagai dewa-dewi Tao.

Pada akhir minggu, ruas jalan kecil yang membutuhkan waktu 20 menit jalan dari ujung ke ujung ini akan berubah menjadi pasar malam penuh ornamen khas Cina. Biasa disebut pasar Semawis. Sebenarnya konsepnya mirip dengan Kya Kya yang ada di Surabaya, bedanya Semawis lebih kecil, namun justru karena itu Semawis jadi terlihat lebih hangat dan ramai.

Biasa dimulai sejak senja tiba, pasar ini sudah mulai menampakkan geliatnya. Para pedagang menggelar lapak dan para pengusaha makanan mulai menata kursi serta memanaskan tungku. Semakin malam pasar ini akan semakin ramai. Jika masuk dari gerbang utama, maka penataannya seperti ini: di sebelah kiri adalah deretan pedagang makanan dan ruas sebelah kanan akan dipenuhi meja kursi khas pujasera. Tempat ini mirip dengan pusat kuliner di Solo yang bernama Galabo. Bedanya di Semawis memiliki atmosfer Cina yang kental dan terdapat banyak lampion berbagai ukuran.

Barang yang dijajakan di Pasar Semawis meliputi makanan, mainan anak, aksesoris, hingga peralatan ibadah. Berbagai atraksi pun digelar, namun yang paling digemari adalah karaoke jalanan. Peminat paling banyak datang dari para lansia yang ingin bernostalgia. Dengan setelan necis hem, celana panjang, dan sepatu pantofel mereka akan mendendangkan nyanyian berbahasa Mandarin. Selain pengunjung yang lewat, penonoton setianya adalah kaum lansia lain yang setia menunggu giliran bernyanyi.

Masuk kawasan ini bebas tanpa bayar. Silahkan datang di waktu petang dengan perut kosong. Nikmati sajian kuliner yang akan memanjakan Anda sepanjang malam. Bagi penggemar street photography, spot ini sangat bagus untuk dijadikan lahan hunting.

Pelabuhan Tanjung Mas

Sebagai kota bandar, para pelaut pergi dan datang ke Semarang sejak zaman kiwari. Tanjung Mas adalah tempat dimana kapal mereka bersandar. Secara umum memang tidak ada yang menarik di pelabuhan yang dipenuhi peti kemas, kilang minyak, serta gudang ini. Tapi cobalah tengok Pelabuhan I yang menjadi tempat singgah kapal-kapal kayu, tempat ini bisa menjadi alternatif pelepas penat. Barangkali ini seperti pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta atau pelabuhan Kalimas di Surabaya.

Kapal kayu dengan bentuk phinisi memang banyak datang ke Semarang untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari. Mereka datang dari pulau seberang seperti Kalimantan dan Sulawesi. Kapal-kapal ini rata-rata bermuatan 300 ton dan perlu waktu tiga hari hingga seminggu untuk mencapai Semarang.

Wahana lain yang dapat Anda kunjungi selama di Tanjung mas adalah mercusuar antik di ujung dermaga. Ini merupakan satu-satunya mercusuar yang ada di Jawa Tengah. Mercusuar kuno ini dibangun pada jaman kolonial untuk memperlancar transportasi pengiriman gula ke luar negeri. Menara setinggi 32 meter ini dibangun pada tahun 1884, dengan posisi tegap menghadap pantai utara Jawa, seakan menanti kapal-kapal yang datang dari negeri jauh untuk segera tiba. Bangunan antik ini adalah sumberdaya arkeologi maritim yang dapat dikategorikan sebagai benda cagar budaya dan perlu dilestarikan keberadaannya.

Atraksi paling menarik yang disuguhkan oleh Tanjung Mas adalah melihat matahari tenggelam di horison. Memang tidak bisa dibandingkan dengan sensasi melihat sunset di Uluwatu atau di Pulau Komodo. Tapi ini adalah tawaran terbaik yang dimiliki Semarang bagi Anda pemburu matahari tenggelam. Sambil menunggu sunset tiba, ada baiknya persiapkan kamera Anda untuk membidik kegiatan anak-anak laut yang sedang bermain. Cukup dengan modal senyum dan sedikit tipu daya maka anak-anak laut berkulit legam ini akan siap sedia berjumpalitan di depan kamera. Satu rol saja tidak cukup. Untung sekarang zaman digital yang memungkinkan Anda menggambil gambar tanpa takut kehabisan film. Ini adalah pengalaman yang adiktif dan sisakan juga satu dua foto Anda bersama mereka.

Pagoda Avalokitesvara

Semarang memiliki wahana baru yang siap untuk Anda kunjungi, yaitu Pagoda Avalokitesvara. Sebenarnya ini adalah tempat ibadah bukan tempat wisata. Tapi bukankah di Indonesia banyak pula tempat ibadah yang merangkap tempat wisata. Keindahan pagoda yang baru selesai dibangun pada tahun 2006 ini memang patut diapresiasi. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatkan pagoda ini sebagai yang tertinggi di Indonesia.

Pagoda Avalokitesvara ini sendiri bertempat di daerah Watugong, Semarang Atas. Dibangun di atas sebuah bukit oleh Po Soen Kok, seorang taipan sukses pemilik mall paling baru di Semarang. Avalokitesvara sendiri adalah bahasa sanskerta untuk Dewi Kwan Im, karena memang pagoda ini ditujukan untuk memuja dewi welas asih. Untuk menuju pagoda utama harus melewati tangga kembar yang dipisahkan oleh relief naga yang sangat cantik, mirip dengan anak tangga di Forbidden City, Beijing.

Pagoda utama ini memiliki tinggi 45 meter dengan 7 tingkat, yang bermakna bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh. Bagian dalamnya berbentuk segi delapan dengan ukuran 15 x 15 meter. Bagian dalam lantai pertama memuat patung Dewi Kwan Im yang sangat besar. Sedangkan bagian luar ada lima patung kecil yang merupakan penjelmaan Kwan Im untuk perjodohan, keturunan laki-laki, keturunan wanita, keamanan dan panjang umur. Mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Kwan Im yang menghadap empat penjuru angin. Semua patung dan ukiran ini didatangkan dari Cina, dan semua memiliki kualitas yang baik dengan pengerjaan yang sangat rumit.

Selain pagoda utama, sisi lain kompleks ini terdapat bangunan Vihara Dhammasala Bhoddisatva yang di dalamnya terdapat patung Budhha berwarna emas berukuran jumbo. Tempat ini relatif sepi ketimbang pagoda Dewi Kwan Im. Tapi dari salah satu sudut wihara kita bisa mengintip pemandangan Semarang dari atas. Bangunan besar ini dikelilingi oleh beberpa pondokan kecil, mungkin digunakan untuk para biksu yang ingin menginap.
Masuk ke dalam kompleks ini gratis. Siapkan kamera untuk memotret patung Gautama dan Kwan Im di depan pagoda. Namun ada larangan bagi pengunjung untuk memotret bagian dalam pagoda, peraturan ini harap dihormati karena masih banyak objek lain yang bisa difoto. Konon pada perayaan hari besar waisak Pagoda Avalokitesvara akan menjadi sangat ramai.

Masjid Agung Jawa Tengah

Wisata religi paling populer di Semarang untuk saat ini adalah Masjid Agung Jawa Tengah. Kompleks masjid paling megah di Jawa Tengah ini diresmikan pada tahun 2006 di areal tanah seluar 10 hektar. Masjid yang memiliki langgam arsitektur campuran Yunani, Arab dan Jawa ini memang sangat menawan. Detail ornamen interior masjid berorientasi geometris, sebuah bentuk universal dalam dunia arsitektur Islam. Sedangkan pada bagian jendela dan daun pintunya menggunakan aksen Jawa dengan material kayu yang dilapisi warna hijau. Padu padan dua kebudayaan tersebut tampak serasi dibalut modernitas berupa atap payung di halaman Masjid Agung.

Sejak beberapa tahun yang lalu masjid ini memang menjadi daftar wajib kunjung bagi siapa saja yang melakukan perjalanan ziarah wali. Sehingga masjid yang mampu menampung 13.000 orang ini terlihat selalu ramai setiap hari. Bahkan tidak hanya turis lokal, turis mancanegara pun datang untuk mengagumi arsitektur masjid ini. Lucunya, disediakan kereta kelinci bagi ibu-ibu dan anak kecil yang ingin berkeliling kompleks masjid tanpa harus kepanasan. Sangat touristy bukan?

Suguhan lain yang mampu ditawarkan oleh Masjid Agung Jawa Tengah adalah Menara Asmaul Husna atau Al Husna Tower yang tingginya mencapai 99 Meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat studio radio. Sedangkan di lantai 18 terdapat restoran yang dapat berputar 360 derajat. Di lantai 19, yaitu untuk menara pandang dilengkapi lima teropong untuk melihat kota Semarang dari atas.

Lantai 2 dan lantai 3 dari menara ini digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam. Ada banyak artefak yang dipamerkan. Paling banyak berasal dari masa penyebaran Islam oleh Walisongo. Sisanya adalah khazanah dunia pesantren dari zaman dulu hingga hari ini. Turut dipamerkan pula seluruh dokumentasi proses pengerjaan Masjid Agung Semarang. Patut menjadi perhatian adalah bagian-bagian yang tampak remeh pun sengaja ditampilkan seperti bakiak wali hingga sepatu proyek para pekerja pembangunan Masjid Agung.

Naik menuju puncak menara memang tidak gratis, tapi kita tidak perlu bayar hanya untuk sekedar berkunjung dan mengagumi arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah. Anda hanya perlu merogoh kocek sebanyak 5000 rupiah per orang untuk naik ke Menara Al Husna, biaya tersebut sudah termasuk tiket museum. Siapkan kamera untuk mengabadikan setiap detail masjid yang indah atau bahkan dokumentasi diri sendiri sebagai pembuktian bahwa Anda sudah singgah di Semarang. Namun jika tidak membawa kamera, ada banyak tukang foto yang menjajakan jasanya di sekitar pelataran masjid.

Tanjakan Gombel

Semarang terkenal sebagai sebuah kota yang memiliki kontur tanah unik. Disebut demikian karena beberapa kecamatan terletak di daerah perbukitan atau biasa dikenal dengan daerah Semarang Atas, sedangkan sisanya berada di Semarang Bawah. Adanya perbedaan ketinggian inilah yang memungkinkan para pelancong dapat menikmati pemandangan kota Semarang dari perbukitan. Salah satu spot menarik di Semarang Atas adalah sebuah tanjakan yang terletak kurang lebih 8 Km dari Tugu Muda, dikenal akrab oleh warga Semarang dengan sebutan Tanjakan Gombel yang terletak di Jalan Setiabudi.

Tanjakan ini menjadi favorit para turis maupun warga lokal. Ini adalah tempat paling pas untuk menyaksikan pemandangan luas dataran rendah Semarang tanpa terhalang apapun. Pesona itulah yang dimanfaatkan banyak pengusaha restoran kelas atas untuk mengembangkan bisnisnya di sepanjang tanjakan. Namun tak perlu kuatir, untuk Anda yang hanya ingin sekedar memanjakan mata dan bersantai menghirup sejuknya udara perbukitan silahkan datang ke Taman Tabanas. Wahana ini terbuka untuk umum setiap harinya.

Tanjakan Gombel ini berdampingan langsung dengan jalan raya yang menghubungkan Semarang Bawah dan Semarang Atas. Sehingga banyak moda transportasi umum yang bisa dipilih untuk mengantar Anda menuju Gombel. Setiap angkot yang menuju terminal Banyumanik dapat dipastikan lewat jalur ini.

Waktu yang tepat untuk menikmati view dari Gombel adalah ketika matahari mulai terbenam hingga malam hari, di depan mata Anda tersaji berjuta-juta kelip lampu sebagai representasi hiruk pikuk kota Semarang Bawah. Tentu saja, dalam hal ini Anda tidak perlu membuka dompet lebar-lebar, cukup siapkan pakaian hangat dan sebuah kamera dengan baterai terisi penuh untuk mengabadikan sisi romantisme Semarang di kala malam. []

4 comments:

tikawe said...

Tanjakan Gombel paling bagus kalo malem dan pas traffic jam! Hahahaha... Gag uji adrenalin wisata mistis Lawang Sewu, Mas? Taman Mini Jateng aka PRPP?
Weekend kmaren biz dari sana (macak dines liputan DBNS, padahal status pengangguran), sudah banyak yg berubah dari Semarang...

Ayos Purwoaji said...

woho iya tik, kalo malem bagus.
loh abis dari semarang? yo iputaneee rweeekkk :)

bayu said...

waktu aku scrolldowning - opo meneh bahasane....- nurunin gambar ke bawah liat gambar pagoda mu....mas....ada ilusi optik....pagodanya kaya bunga teratai yang membuka dan menutup........baru sekali ini liat .
kayaknya karena potografernya deh.....

Ayos Purwoaji said...

@bayu: hoho kamu sedang mabuk kawan...