Pages

6/19/10

Belut Fresh Surabaya

Maaf saya belum sempet ngapdet blog ini dengan beberapa posting kontribusi yang sudah menumpuk. Jadi saya kasih ini aja. Namanya Belut Fresh, warungnya di daerah Kebon Bibit, Surabaya. Wuenak pol. Ini warung kesukaan Nuran, dan adik saya, Navan, kalo lagi berkunjung ke Surabaya. Belutnya diolah dalam beberapa varian rasa: belut goreng, belut lada hitam, belut saus inggris, dan belut entah apa lagi. Ragamnya banyak, Anda tak perlu mengingatnya satu persatu karena pelayan akan selalu siap menyodorkan daftar menu :p

Silahkan dicoba, kawan. Ini yang paling enak di Surabaya, setelah saya melakukan survey selama beberapa tahun terakhir. Harganya Rp 15.000,- per porsi sudah sama minum. Jangan datang jam 7-8 malam karena pasti bakal antri banyak. Datanglah lebih sore atau di atas jam 8 sekalian.

Makanan ini saya kasih 4.5/5 bintang.

Enjoy!
Posted by Picasa

6/16/10

#ngeritenan

Maaf kawan, postingan bulan Juni terpaksa datang terlambat. Memang kami, para redaksi ini, bukan seperti matahari yang selalu tepat janji. Kami ini bulan, yang selalu datang telat. Hehehe.

Tapi jangan kuatir, dalam dua hari ke depan blog ini akan kembali dipenuhi oleh kontribusi asik dari berbagai belahan dunia. Simak saja tips bagaimana berkeliling Paris dengan beberapa euro saja. Oh ya bagi para pecinta trekking akan ada artikel menarik tentang sebuah tempat di Jawa Barat, diliput oleh seorang pegawai negeri yang kerjanya jalan-jalan teruos mulai terkena virus Hifatlobrain. Hoho penasaran bukan...

Sebauh apresiasi yang datang dari wall
seorang teman, terima kasih Evvn :)


Pasti dari tadi kalian bertanya; apa sih #ngeritenan itu? apakah itu semacam hashtag yang bikin kita populer?

Oh no, itu hanya semacam ungkapan saja. Ngeri tenan yang merupakan ungkapan khas Jawa, secara harfiah berarti "sangat mengerikan", namun maknanya bisa bermacam-macam. Saya sendiri suka mengucapkan ngeri tenan jika ada sesuatu yang luar biasa, yang breathtaking. Mungkin padanannya sama seperti ungkapan "Awesome!" dalam bahasa Inggris. Jadi nggak usah ikut-ikutan nulis di Twitter dengan hashtag #ngeritenan, karena saya haqqul yaqin kalo itu nggak bakal bisa jadi trending topic. Hehehe.

Oke gitu dulu lah. Keep Hifatlobrained!

Travelounge Edisi Juni 2010

Pernah baca artikel Semarang Free and Easy di Hifatlobrain bulan Mei 2010? Artikel suka-suka yang saya tulis bareng kontributor Hifatlobrain paling ciamik soro, Dwi Putri, akhirnya dilirik oleh Travelounge. Diterbitkan di bawah naungan rubrik Travel Choice.

Oh ya, foto putri yang sabung ayam, berhasil masuk juga. Selamat ya put.

Bagi yang ingin membaca versi digitalnya, silahkan unduh di sini:

Mie Ayam Kayoon


Ini foto mie ayam Kayoon yang saya makan bareng Nuran dan Dwi Putri. Menurut saya sih mie-nya enak, tapi tidak menurut Nuran. Entah mengapa. Mungkin perut saya lagi lapar berat pas diajak makan ini.

Silahkan baca review lengkapnya di blog teman saya paling rock, Nuran Wibisono. Dia menulis tentang Mie Kayoon dan membandingkannya dengan mie paling legendaris di Jember, Mie Apong. Silahkan kunjungi tulisannya yang berjudul Mie Ayam Kayoon yang Ternyata Biasa Saja.

Yaa, untuk menu makan siang saya sedikit merekomendasikan. Saya beri 3,5/5 bintang. Harganya Rp 10.000,- sama minum.

Silahkan mencoba :)

"Paling enak kalo ditambah caos (saos tomat murahan)"
(Nuran Wibisono: 2010)
Posted by Picasa

RSI Edisi Mei 2010


Tulisan saya tentang Lokananta dimuat di Rolling Stone Indonesia edisi Mei 2010. Ini adalah feature panjang tentang musik saya yang pertama. Sebelumnya kalo nulis di RSI pasti liputan hard news, saya kurang suka. Saya melakukan riset Lokananta ini sama Fakhri Zakaria, sobat saya dari Bogor. Kami melakukan liputan ini secara marathon. Beberapa bulan sebelumnya kami sudah riset habis-habisan tentang perusahaan recording tertua milik pemerintah ini, hanya sayang, masih jarang orang yang menulis tentang Lokananta. Akhirnya saya dan Fakhri bertemu di Solo pada awal April. Setelahnya, Fakhri ikut saya ke Surabaya untuk merampungkan tulisan panjang ini.

Kami tulis. Kami edit. Kami baca lagi. Kami tambahi. Kami tulis ulang. Kami edit. Kami print. Kami baca lagi. Kami edit. Akhirnya kami kirim. Alhamdulillah saat diterbitkan hampir tidak ada yang berubah dari tulisan aselinya. Sayangnya foto yang dimuat tidak banyak -dan kebetulan dari foto yang dimuat saya tidak ada yang suka :p hahaha.

Setelah ini saya mau nulis lagi sebuah feature panjang dengan Nuran. Semoga tidak ada aral melintang.

Buat yang mau baca artikelnya silahkan berkunjung ke sini:
http://www.rollingstone.co.id/read/2010/04/28/695/9/2/Menyelamatkan-Musik-Indonesia

6/15/10

Tommorow's Parties


TOMORROW'S PARTIES
an Audio Visual Exhibitiona Tribute to Velvet Underground

Tomorrow's Parties adalah sebuah pameran audio, text, dan visual sebagai suatu tribute untuk Velvet Underground, band asal kota New York yang merupakan band paling penting dan berpengaruh di era 60-an.Pameran ini diikuti oleh 60 partisipan yang berdomisili di Surabaya, Malang, Jember, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Jakarta, dan Hamburg. Partisipan Tomorrow's Parties adalah mereka yang mengagumi Velvet Underground, yang baru mengenal Velvet Underground, dan yang tidak suka dengan Velvet Underground.

Tomorrow's Parties dimeriahkan dengan:
Sablonase oleh Garasi 337
Stand Jus Pisang oleh Ahmad Oka
Stand Lapak CD dan Merchandise oleh Cut and Paste
Pertunjukkan Musik oleh Denda Omnivora, Yogie Digital feat Kuro, Terbujurkaku, Ahmad Oka, DJ Faris, Danny Blacky

Bawa kaos berwarna terang, sejumlah uang, dan semangat pada:
hari/tanggal : Sabtu-Minggu, 19-20 Juni 2010
waktu : 16.00-24.00
tempat : Museum of Mind, Surabaya

Pembukaan (Sabtu, 19 Juni 2010)
16.00-16.30 : Pengantar Kuratorial oleh Kuro
16.30-17.00 : Pemutaran video Exploding Plastic Inevitable
17.00-19.00 : Presentasi Karya19.00-24.00 : Pertunjukkan Musik

Penutupan (Minggu, 20 Juni 2010)
16.00-19.00 : Presentasi Karya
19.00-24.00 : Stick with Karaoke

Mari berpesta!

*artwork by novielisa

Posted by Picasa

6/8/10

Runaway World


Saya bingung harus mulai dari mana. Pikiran saya sedang kacau. Tampaknya saya harus mendapatkan liburan agak lama, mundur beberapa minggu. Karena draft TA saya tak kunjung mendapat persetujuan dari dosen pembimbing saya yang terkenal killer dan mengerikan itu. Saya baru sadar, ternyata skripsi memang mengerikan. Sehingga teman saya asal Jogja, Awe, membuat sebuah lagu yang berjudul Skripsi Setan Sekali yang bisa diunduh di Youtube. Rilisan perdana ini diproduseri oleh Fakhri Zakaria, teman saya yang juga sama gilanya, di bawah label Republik Primata.

Memang dalam lagu debutnya ini suara Awe tidak seseksi Mariah Carey, genjrengan gitarnya pun tidak seaduhai Jimi Hedrix. Lagunya kacau, Awe berceracau. Kalo saya bilang ini adalah efek nyata dari skripsi yang tak kunjung usai. Naudzubillah min dzaliik.
Lagu ini membuat saya makin stres memikirkan TA.

Anyway, diantara hiruk pikuk urusan tidak penting itu, Ariel ikut-ikutan merilis sesuatu. Kali ini bukan lagu, tapi video bokep. Jika mendengarkan lagu Awe membuat saya tambah stres memikirkan TA, maka melihat video Ariel membuat saya lupa kalo saya sedang TA dan seharusnya saya melakukan tirakat. Hmm.
Saya jadi iri sama Ariel. Fak.


Ingatan saya kembali pada beberapa minggu yang lalu. Saya membaca sebuah buku tipis yang berjudul Runaway World. Iya saya memang sudah lama tidak baca buku, rasanya makin bebal saja otak ini. Tiba-tiba saja saya menemukan buku ini di kamar, entah milik siapa. Karena sudah lama berpuasa tidak membaca, maka saya sikat saja. Meski kovernya sangat tidak menarik, didesain dengan asal dan sama sekali tidak memperhatikan komposisi. Saya yang menganut paham 'judge the book by it's cover' memang awalnya tidak napsu untuk menyentuhnya. Tapi apa boleh buat, kepala saya sudah keroncongan minta diisi.

Selembar dua lembar, ternyata isinya menarik juga. Anthony Giddens, pengarang buku ini, menjelaskan dengan mudah dan gamblang tentang teori globalisasi. Saya yang awam ini juga akhirnya jadi tahu bagaimana monster bernama globalisasi begitu merusak sistem moral dan tatanan nilai yang ada berkembang di komunitas masyarakat selama ribuan tahun.

Giddens tidak saja mengupas globalisasi dalam perspektif ekonomi, tapi dia menyerang juga dari berbagai sisi; sejarah, budaya, sosial, dan kultur politik. Paparan Giddens yang mudah dicerna dan pola pikirnya yang holistik membuat saya tidak bisa melepaskan buku berkover ngguatheli ini dari tangan. Saya membacanya cepat.

Pada bab tentang tradisi Giddens bercerita tentang bagaimana globalisasi berhasil mengobrak-abrik kesadaran kita tentang sebuah budaya; suatu saat teman Giddens, seorang antropologis mempelajari kehidupan desa di Afrika Tengah. Pada hari kedatangannya, ia diundang ke sebuah rumah milik tetua desa untuk menyaksikan hiburan malam. Teman Giddens berharap bisa menyaksikan pertunjukan tradisional komunitas yang hampir punah ini. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya, seluruh warga kampung malah beramai-ramai menonton film Basic Instinct! Hahaha.

Pada bab lain tentang keluarga -ini bab yang saya suka- Giddens mencoba memberikan refleksi yang jelas apa pengaruh globalisasi pada tatanan sosial paling kecil yang disebut keluarga. Bagi Giddens, di antara semua perubahan di dunia tidak ada yang lebih penting daripada yang terjadi dalam kehidupan pribadi kita. Termasuk di dalamnya masalah seksualitas, hubungan pribadi, perkawinan, dan keluarga.

Sejak globalisasi menjadi kata sakti sejak akhir abad 20, ternyata angka perceraian meningkat drastis. Ideologi global dan prinsip demokrasi memaksa setiap orang untuk berpikir kembali tentang komitmen yang dibangun dengan pasangannya: apa saya yakin akan menghabiskan sisa hidup saya dengan pria tukang ngupil seperti dia? Dan perceraian pun niscaya akan segera terjadi.

Salah satu yang menjadi fokus pembahasan Giddens adalah angka perceraian di Beijing yang luar biasa tinggi -meski masih tergolong sangat rendah untuk bangsa sekelas Amerika dan Eropa. Pasutri di Beijing bisa memutuskan tali pernikahan hanya dengan membayar empat dollar! Padahal sedikit beranjak dari Beijing, masyarakat pedesaan China masih menganut paham konservatif sebelum memutuskan apakah putrinya pantas nikah dengan pria dari desa sebelah.
Hingga pada sebuah kalimat saya tertegun:
"Namun, laki-laki harus bisa memastikan bahwa istrinya adalah ibu dari anak-anak mereka. Kehormatan seorang gadis diukur dari keperawanannya, sedangkan istri dari kepatuhan dan kesetiaannya..."
(Runaway World: pg. 53)

Touche! batin saya.
Kalimat di atas, Giddens bukan menulis tentang Cut Tari. Melainkan bagaimana idealisme pernikahan masyarakat Eropa di abad pertengahan. Di mana idealisme seperti itu saat ini sangat sulit ditemui. Mudah ditemui tapi nggak ada jaminan...

Lebih enak mana terikat pernikahan yang membuat Anda menangis seumur hidup, atau melakoni one night stand yang bakal membuat Anda bergairah sepanjang malam? Mari kita tanya Cut Tari saja.

Pertanyaan saya yang lain untuk Cut Tari: mengapa tak kau lepas cicin kawin emas itu saat kau merasakan nikmatnya Ariel?

Hmm sebenernya saya ngomong apa sih? TA saya masih mangkrak. Rindu untuk dibelai, dan di-print untuk asistensi.

Maka saya akan menutup catatan bodoh ini dengan sekelumit paragraf dari Anthony Giddens:
"Salah satu pertanyaannya yang paling mendasar adalah: apakah kita dapat hidup di dunia, di mana tidak ada satu pun yang dianggap sakral? ... Tidak seorang pun dari kita dapat menemukan makna dalam hidupnya jika tidak mempunyai sesuatu yang bernilai untuk diperjuangkan mati-matian."
(Runaway World: pg. 48)

6/2/10

Film Tanah Air Beta


Saya sedang menantikan Indonesia Tanah Air Beta, sebuah film produksi Alenia Pictures. Bercerita tentang perpisahan dua kakak beradik akibat konflik Timor Timur. Seperti biasa, selain menjanjikan cerita epik yang sangat lokal, biasanya Alenia membuat film dengan gambar yang indah. Sangat Indonesia. Seperti yang terjadi di dua film Alenia sebelumnya; Denias dan King.

Konon lokasi pengambilan gambarnya di Atambua, NTT. Dari rangkaian trailer yang diunggah ke Youtube saya mengagumi keindahan gambarnya. Suasana gersang namun eksotik khas daerah Nusa Tenggara tampaknya menjadi gimmick segar yang memperindah jalannya cerita. I really can't wait to see this movie!

Film ini akan ada di bioskop pada bulan Juni.

Ini beberapa gambar yang saya capture dari trailernya.

Director:
Ari Sihasale

Starring:
Alexandra Gottardo
Lukman Sardi
Asrul Dahlan (yg di Film "KING" berperan sbg Bang Bujang)
Robby Tumewu
Thessa Kaunang
Yehuda Rumbindi (dulu jg ikut main di Film "Denias")
Griffith Patricia
Marcel Raymond

Music:
Wong Aksan
Titi Sjuman