Pages

6/8/10

Runaway World


Saya bingung harus mulai dari mana. Pikiran saya sedang kacau. Tampaknya saya harus mendapatkan liburan agak lama, mundur beberapa minggu. Karena draft TA saya tak kunjung mendapat persetujuan dari dosen pembimbing saya yang terkenal killer dan mengerikan itu. Saya baru sadar, ternyata skripsi memang mengerikan. Sehingga teman saya asal Jogja, Awe, membuat sebuah lagu yang berjudul Skripsi Setan Sekali yang bisa diunduh di Youtube. Rilisan perdana ini diproduseri oleh Fakhri Zakaria, teman saya yang juga sama gilanya, di bawah label Republik Primata.

Memang dalam lagu debutnya ini suara Awe tidak seseksi Mariah Carey, genjrengan gitarnya pun tidak seaduhai Jimi Hedrix. Lagunya kacau, Awe berceracau. Kalo saya bilang ini adalah efek nyata dari skripsi yang tak kunjung usai. Naudzubillah min dzaliik.
Lagu ini membuat saya makin stres memikirkan TA.

Anyway, diantara hiruk pikuk urusan tidak penting itu, Ariel ikut-ikutan merilis sesuatu. Kali ini bukan lagu, tapi video bokep. Jika mendengarkan lagu Awe membuat saya tambah stres memikirkan TA, maka melihat video Ariel membuat saya lupa kalo saya sedang TA dan seharusnya saya melakukan tirakat. Hmm.
Saya jadi iri sama Ariel. Fak.


Ingatan saya kembali pada beberapa minggu yang lalu. Saya membaca sebuah buku tipis yang berjudul Runaway World. Iya saya memang sudah lama tidak baca buku, rasanya makin bebal saja otak ini. Tiba-tiba saja saya menemukan buku ini di kamar, entah milik siapa. Karena sudah lama berpuasa tidak membaca, maka saya sikat saja. Meski kovernya sangat tidak menarik, didesain dengan asal dan sama sekali tidak memperhatikan komposisi. Saya yang menganut paham 'judge the book by it's cover' memang awalnya tidak napsu untuk menyentuhnya. Tapi apa boleh buat, kepala saya sudah keroncongan minta diisi.

Selembar dua lembar, ternyata isinya menarik juga. Anthony Giddens, pengarang buku ini, menjelaskan dengan mudah dan gamblang tentang teori globalisasi. Saya yang awam ini juga akhirnya jadi tahu bagaimana monster bernama globalisasi begitu merusak sistem moral dan tatanan nilai yang ada berkembang di komunitas masyarakat selama ribuan tahun.

Giddens tidak saja mengupas globalisasi dalam perspektif ekonomi, tapi dia menyerang juga dari berbagai sisi; sejarah, budaya, sosial, dan kultur politik. Paparan Giddens yang mudah dicerna dan pola pikirnya yang holistik membuat saya tidak bisa melepaskan buku berkover ngguatheli ini dari tangan. Saya membacanya cepat.

Pada bab tentang tradisi Giddens bercerita tentang bagaimana globalisasi berhasil mengobrak-abrik kesadaran kita tentang sebuah budaya; suatu saat teman Giddens, seorang antropologis mempelajari kehidupan desa di Afrika Tengah. Pada hari kedatangannya, ia diundang ke sebuah rumah milik tetua desa untuk menyaksikan hiburan malam. Teman Giddens berharap bisa menyaksikan pertunjukan tradisional komunitas yang hampir punah ini. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya, seluruh warga kampung malah beramai-ramai menonton film Basic Instinct! Hahaha.

Pada bab lain tentang keluarga -ini bab yang saya suka- Giddens mencoba memberikan refleksi yang jelas apa pengaruh globalisasi pada tatanan sosial paling kecil yang disebut keluarga. Bagi Giddens, di antara semua perubahan di dunia tidak ada yang lebih penting daripada yang terjadi dalam kehidupan pribadi kita. Termasuk di dalamnya masalah seksualitas, hubungan pribadi, perkawinan, dan keluarga.

Sejak globalisasi menjadi kata sakti sejak akhir abad 20, ternyata angka perceraian meningkat drastis. Ideologi global dan prinsip demokrasi memaksa setiap orang untuk berpikir kembali tentang komitmen yang dibangun dengan pasangannya: apa saya yakin akan menghabiskan sisa hidup saya dengan pria tukang ngupil seperti dia? Dan perceraian pun niscaya akan segera terjadi.

Salah satu yang menjadi fokus pembahasan Giddens adalah angka perceraian di Beijing yang luar biasa tinggi -meski masih tergolong sangat rendah untuk bangsa sekelas Amerika dan Eropa. Pasutri di Beijing bisa memutuskan tali pernikahan hanya dengan membayar empat dollar! Padahal sedikit beranjak dari Beijing, masyarakat pedesaan China masih menganut paham konservatif sebelum memutuskan apakah putrinya pantas nikah dengan pria dari desa sebelah.
Hingga pada sebuah kalimat saya tertegun:
"Namun, laki-laki harus bisa memastikan bahwa istrinya adalah ibu dari anak-anak mereka. Kehormatan seorang gadis diukur dari keperawanannya, sedangkan istri dari kepatuhan dan kesetiaannya..."
(Runaway World: pg. 53)

Touche! batin saya.
Kalimat di atas, Giddens bukan menulis tentang Cut Tari. Melainkan bagaimana idealisme pernikahan masyarakat Eropa di abad pertengahan. Di mana idealisme seperti itu saat ini sangat sulit ditemui. Mudah ditemui tapi nggak ada jaminan...

Lebih enak mana terikat pernikahan yang membuat Anda menangis seumur hidup, atau melakoni one night stand yang bakal membuat Anda bergairah sepanjang malam? Mari kita tanya Cut Tari saja.

Pertanyaan saya yang lain untuk Cut Tari: mengapa tak kau lepas cicin kawin emas itu saat kau merasakan nikmatnya Ariel?

Hmm sebenernya saya ngomong apa sih? TA saya masih mangkrak. Rindu untuk dibelai, dan di-print untuk asistensi.

Maka saya akan menutup catatan bodoh ini dengan sekelumit paragraf dari Anthony Giddens:
"Salah satu pertanyaannya yang paling mendasar adalah: apakah kita dapat hidup di dunia, di mana tidak ada satu pun yang dianggap sakral? ... Tidak seorang pun dari kita dapat menemukan makna dalam hidupnya jika tidak mempunyai sesuatu yang bernilai untuk diperjuangkan mati-matian."
(Runaway World: pg. 48)

10 comments:

musim said...

hahaha...pertamax gan !!!
suka dengan igauannya, anyawy bytheway busaway, ente jual cdnya ya cak? kok ada kover si ariel dan gadis2nya? hehehe...^_^v

Dwi Putri Ratnasari said...

hhh... ayose, kenapa harus membahas cut tari, luna maya, dan ariel peterporn yang sangat ga hifetlobren skali...

pembaca yang imut ini, agak kecewa membaca igauanmu, karena mereka adalah orang-orang yang ngga penting buanget untuk dibahas di blog sekeren ini...

tapi berhubung otakmu lagi HengHong, saya senang... karena apa? karena saya punya teman :D

nikmati saja *ngomong sambil ngaca.

winda said...

sekelumit paragraf yang di bold kuning itu (page 48 khususnya) muanteb ya.
"Tidak seorang pun dari kita dapat menemukan makna dalam hidupnya jika tidak mempunyai sesuatu yang bernilai untuk diperjuangkan mati-matian."
geleng-geleng sambil mencureng pas baca:D.
(karena saya sendiri belum yakin akan apa yang sebenarnya saya perjuangkan mati-matian dalam hidup ini).jadi wacana iki.
trimakasih banyak :)

Ayos Purwoaji said...

@ mas asim: hehehe CDnya bisa dibeli di Pasar Turi, dijual kiloan.
@ putri: saya cuman mau ikut trending topic, blog ini kan blog gaul...
@ winda: yo aku lah, opo maneh...

Dwi Putri Ratnasari said...

hahahaa.. okelah, bang... eniwei, video skripsi setan sekali-nya wokeee... iku mas-masjid-simpang lima kan?

Galih s Putro said...

haha...Ayos...ngareepp...
aq doain kalian happily ever after dech..
sepakat ma Winda, quote yang dahsyat..
saat kita tahu apa yang kita perjuangkan, selalu ada energi cadangan yang entah datangnya dari mana untuk tak pernah berhenti berjuang.
Seperti kata Chairil, "..sekali berarti lalu mati.."

Ayos Purwoaji said...

@ putri: hooh kuwi mas-yang-difoto-ketok-elek...
@mas galih: hehe makasih mas.

VT said...

Numpang lewat...:)

misstyzha said...

haha postingannya buntu! tapi lucu :p

smangat TAnya mas, daku akan menyusulmu taun dapan, amin!

Ayos Purwoaji said...

@tyzha: hehehe makasih.