Pages

7/30/10

The Bucket List dan Kopi Luwak


"Saya jadi percaya kata-kata: Rezeki itu selalu ada, di waktu yang tepat, di saat yang tepat, dengan jumlah yang tepat, dan terbaik untuk diri kita sendiri..."

Anda pernah lihat film The Bucket List? Film yang dibintangi oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman ini sebetulnya udah lama sih, produksi tahun 2007 gitu. Saya tertarik untuk lihat film ini karena salah satu soundtracknya dinyanyikan oleh kembaran saya; John Mayer.

Sebetulnya ada cerita nggak enak. Jadi, saya sudah berburu film ini sejak hampir satu setengah tahun yang lalu. Selama masa perburuan itu selalu saja ada cerita nggak enak. Pertama, saya ke rental VCD, saya bilang mau pinjem The Bucket List, tapi mas penjaganya bilang kalo,"Filmnya baruuu saja keluar!," dan itu membuat saya menggerutu dalam hati. "Kapan balik mas?" masnya menjawab,"Mungkin tiga hari lagi Yos..."

Kedua, ini settingnya adalah hari ketiga setelah saya gagal pinjam waktu itu. Saya kembali ke rental yang sama. Kenapa tidak mencoba rental lain? Pasti sidang pembaca yang berbahagia bertanya seperti itu dalam hati. Mari saya jawab. Ini adalah rental langganan saya sejak SMA. Dulu saya selalu datang setiap weekend ke rental yang punya dua cabang di sekitar kampus Unej ini. Semua penjaganya saya kenal. Saya sering diperbolehkan berlama-lama membaca Movie Monthly dan Cinemagz langganan mereka. Saya sering diskusi film terbaru dengan para penjaga yang semua cowok ini. Lebih berbahagia lagi -karena saya adalah pelanggan jujur - tepat waktu - dan ganteng- maka saya kadangkala dipersilahkan untuk ngutang atau pinjem film tanpa KTP. Hehehe.

Oh maaf kembali ke kasus. Jadi saya kan kembali ke rentalan setelah jeda tiga hari. Saya pikir The Bucket List sudah setia menunggu saya. Saat saya datang dan belum mengucap sepatah kata pun, seorang penjaga berbodi cungkring yang dulu gondrong dan sekarang tidak itu teriak,"Wah Yos, The Bucket List baruuuu aja dipinjem lagi." Saraaaaappppp! Batin saya memaki. Rasanya saya ingin membakar seluruh bangunan rental ini. Tapi sebelumnya saya akan menyelamatkan beberapa film favorit: Sahwsank Redemption, Big Fish, dan Schlinder's List. Kalo genre film Thailand, India, dan horor Indonesia mah sudah saya siram bensin paling pertama. Hehehe.

Kejadian ini membuat saya ilfil untuk berburu film The Bucket List.

Tapi gairah itu muncul kembali setelah saya punya modem EVDO. Waktu itu masih kuenceng-kuencengnya. Ini adalah usaha saya yang ketiga untuk berburu The Bucket List, jadi waktu itu saya iseng memenuhi playlist saya dengan akang John Mayer. Lha ndilalah kok saya denger single "Say" yang merupakan soundtrack film The Bucket List. Saya jadi kepikiran film ini lagi. Akhirnya setelah beberapa menit browsing, saya nawaitu untuk mendonlot film sialan ini dari server IDWS.

Tidak perlu lama bagi EVDO untuk menyedot The Bucket List hingga ke akar-akarnya. File sebesar ratusan mega bit yang terbagi menjadi beberapa bagian di Rapidshare berhasil saya donlot tidak sampe dua jam. Saya gembira bukan kepalang. Maunya setelah saya unzip langsung saya carikan subtitle yang cocok dan saya tonton sampai mblenger.

Ternyata cita-cita saya menguap percuma. File yang saya unduh dengan penuh peluh itu ternyata corrupt. Shit.

Usaha keempat saya, tidak akan saya ceritakan dengan penuh semangat seperti yang sudah. Saat itu saya ke Malang bersama Nuran. Kebetulan teman saya yang di Malang memiliki file film The Bucket List dalam PC-nya. Bodohnya: saya tidak membawa flashdisk saat itu. Mengapa tak kau tonton langsung di PC temanmu? Pasti sidang pembaca yang terhormat bertanya seperti itu di dalam hati yang terdalam. Mari saya jawab. Karena saat itu saya tidak kepikiran. Maaf ya.

Intinya: saya sudah mulai merasa bahwa film ini bukan jodoh saya.

Hingga kemarin. Saat saya dan Nuran pulang dari sebuah perkebunan kopi di daerah Bondowoso dalam rangka riset tentang kopi luwak, entah mengapa saya jadi inget film ini lagi. Jadilah Nuran mengantarkan saya ke beberapa rental VCD, dan kami menemukan The Bucket List di rental bernama Miracle.

Akhirnya saya bisa menemukan film ini, yeaaahhh! Jujur saja, saya gembira bukan main. Saya harus berterima kasih banyak sama Nuran yang rela meminjamkan kartu mahasiswa dengan foto monyet (atau itu foto wajah Nuran? Saya bingung) untuk menjadi jaminan. Barangkali di alam bawah sadar saya, film ini sudah menjadi obsesi yang sangat kuat. Sehingga pertemuan dengan film ini saya ibaratkan sebagai momen terindah kelima setelah momen saya wisuda, acara ijab kabul, kelahiran anak pertama, dan Edy Tansil pulang ke Indonesia. Ini adalah sebuah keajaiban. Miracle.

Tapi inti cerita postingan ini bukan curhat colongan seperti yang sudah saya tulis di atas. Sebetulnya saya mau cerita kalo dalam film The Bucket List, Jack Nicholson sebagai seorang pengusaha tua yang sekarat adalah pecinta kopi paling mahal di dunia: Kopi Luwak.


Skrinsyut diatas diambil dari blog
Kementrian Desain Republik Indonesia


Banyak momen yang memunculkan kopi luwak sebagai empasis dan menonjolkan minuman ningrat ini. Saya jadi merasa kebetulan, ini adalah sebuah pertemuan agung yang menguntungkan! Setelah berburu kopi luwak, eh liat film The Bucket List yang bercerita tentang kopi luwak. Saya jadi memiliki banyak opsi dan ide untuk penulisan artikel yang saya lakukan.

Saya jadi percaya kata-kata: Rezeki itu selalu ada, di waktu yang tepat, di saat yang tepat, dengan jumlah yang tepat, dan terbaik untuk diri kita sendiri. Kalo Tuhan belum kasih keinginanmu saat ini, mungkin saatnya belum tepat, mungkin itu akan mendatangkan kerugian buat kita, dan Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Saya jadi sangat percaya kata-kata ini!

Tidak banyak yang bisa saya tulis tentang perjalanan berburu kopi luwak yang saya dan Nuran lakukan. Kami sedang menulisnya dengan serius. Tapi nanti pasti kami ceritakan secara detail. Makasih sidang jamaah Hifatlobrain sekalian sudah membaca postingan hari Jumat, semoga kita sekalian diberikan kelapangan hati dan rezeki yang melimpah ruah untuk beli Sour Sally.

Sekilas inpotainment: ini adalah gambar dua orang nenek tua pencari kopi luwak. Nenek Sarna dan nenek Misari yang membantu kami menemukan kopi paling mahal di dunia. Kami mencari dengan teliti di antara rerimbunan pohon Arabica.

Saya sudahi dulu ya. Ini ada banyak tawaran khotbah sholat Jumat. Tapi saya pilih pengundang dari Papua, karena setelah kotbah saya mau diantar diving di Raja Ampat.

Keep Hifatlobrained!
Assalaamualaikum ya Akhi!

7/21/10

DetikCom Keliling Indonesia

Just spoiler. Will be updated soon.

"Hello people from around the entire world, come to the islands of Mentawai quickly, right now the Mentawai are still alive. I'm still alive. But when I die, you will not see my culture any more..."

(Bajak Lala, seorang dukun Mentawai yang masih hidup, diambil dari film The Mentawai)

"Keliling dunia itu biasa, keliling Indonesia itu luar biasa," kata bapakku...

(Ardi Wilda, dalam sebuah pesan pendeknya)

Apakah Anda masih punya tenaga untuk mengeksplor Indonesia? Jangan loyo, jangan letoy, karena perusahaan news online terkemuka, DetikCom akan membuat acara yang maknyus abis. Membiayai para penulis dan fotografer muda untuk berkeliling Indonesia secara gratis! Wedian bukan.

Jujur saja, ini acara yang sangat keren. Di zaman merebaknya traveler 2.0 seperti hari ini memang sangat cocok untuk dibuatkan acara kayak gini.

Biarkan anak-anak muda keluar dari rumah, menikmati indahnya Indonesia, lalu menulis dan berbagi melalui media maya. Secara perlahan virus ini akan menular, sangat sederhana namun efektif luar biasa.

Beruntunglah Anda para Hifatlobrainers! Kami akan memberikan bocoran acara keren ini sebelum waktunya. Sejatinya segala pengumuman dan ketentuan baru akan diposting di situs DetikCom pada 26 Juli. Tapi sebagai sebuah blog perjalanan yang naujubila kerennya, kami diberi kesempatan untuk memberikan buzz advertorial lebih dulu. Hehehe.

Saat melihat file itinerary yang dikirimkan, jujur saja jantung saya berdegup kencang, liur saya menetes perlahan namun teratur. Saya melihat ada 33 itinerary perjalanan yang dibagi dalam empat cluster meliputi seluruh daerah di Nusantara. Semuanya sudah dirancang sedemikian rupa dengan sangat rinci dan hati-hati. Semuanya adalah jalur-jalur keren yang melewati berbagai destinasi menarik dengan pesona beragam.

Itinerary nomor empat misalnya: dari Bukittinggi Anda akan diajak touring melintas Padang, menuju Pulau Sikuai, lalu bolak-balik Pulau Sipura dan Pulau Pagai. Trip selama empatbelas hari ini akan berakhir di Siberut, itu berarti Anda akan memiliki kesempatan menemui suku Mentawai, suku eksotik hampir punah yang memiliki tradisi tatoo paling tua di dunia! Ini adalah perjalanan impian saya.

Mentawai women in Sumatra file their teeth to sharp points. (Courtesy of National Geographic)

Itinerary nomor 17 juga tak kalah menggiurkan: Dengan pesawat Anda akan mendarat dengan selamat di Bandara Wai Oti, Maumere. Lantas melanjutkan perjalanan melintas Moni, Bajawa -daerah ini sangat terkenal dengan kopi Floresnya yang enak, melewati Labuhanbajo, lantas berlayar ke Pulau Komodo. Siapkan kamera dengan lensa tele untuk mengabadikan pertemuan Anda dengan naga raksasa yang masih hidup ini. Lantas melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumba, melintas Tambolaka, berhenti di Waikabubak -ini adalah daerah impian saya, karena konon memiliki pantai sekeren Kepulauan Capri, Italia. Perjalanan ini berakhir di Waingapu. Saat di Maumere Anda akan dibawa ke Larantuka hingga Pulau Solor. Pernah tahu tradisi suku Bajau yang berburu paus? Anda akan mendapatinya di Lamalera, tidak jauh dari Larantuka.

Komodo National Park is the last sanctuary for the endemic Komodo dragon, native only to Indonesia. Largest of all lizards, it can reach a fearsome ten feet (three meters) in length. (Courtesy of National Geographic)

Pada itinerary 21: Anda akan menjadi orang beruntung yang bebas mengeksplor bumi Papua habis-habisan. Trip selama 20 hari ini dirancang agar Anda melewati Sorong, Manokwari -kota yang terletak di atas kepala burung, Ransiki, Bintuni, Fak Fak, menuju Pulau Misool lalu Anda akan menikmati sailing melewati kepulauan Raja Ampat -salah satu gugusan pulau paling indah di dunia dengan keragaman hayati paling kaya di dunia- menuju Pulau Waigeo dan kebali ke Sorong. Ya Tuhaaan. Jangan lupa siapkan linting tembakau yang banyak untuk menyogok suku pedalaman Papua agar mau difoto.

The islands of Raja Ampat may well be home to the greatest biodiversity in the world, with almost 600 species of coral, abundant plant life, and unique creatures, such as a shark that walks on its fins and a shrimp that looks like a praying mantis. (Courtesy of National Geographic)

Tiny Batbitim—part of a mostly uninhabited karst archipelago northwest of West Papua—is home to great schools of giant tuna and mobula rays hunting shimmering clouds of anchovies. (Courtesy of National Geographic)

Itinerary lain tidak kalah menggiurkan: Pulau Moyo, Pulau Weh, Danau Toba, Natuna, Ubud, Gunung Tambora, Atambua, Pulau Buru, Kepulauan Aru, Pulau Padaido, Ternate, Bunaken, Makassar hingga Pantai Bira.

Itu beberapa spoiler itinerary yang akan disuguhkan kepada peserta yang lolos screening kegiatan ini. Maaf saya tidak bisa memberikan rincian itinerarynya karena bersifat confidential. dan masih terus diadakan evaluasi serta perbaikan. Semoga nanti para panitia bersedia membagi booklet resminya lewat situs DetikCom.

Anyway seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, ini merupakan kompetisi yang harus diperebutkan. Diperkirakan ada sekitar 50.000 registrant yang akan mendaftar, WTF. Dari jumlah yang seperti mata uang dengan gambar pak Harto mesem ini, kemudian dikerucutkan menjadi kira-kira 1000 orang semifinalis. Pemadatan ini dilakukan oleh sebuah komite yang entah siapa saja orangnya. Bisa jadi salah satunya om Don Hasman, eksplorer tua yang sangat berpengalaman itu.

Dari 1000 orang tersebut, akan dilakukan interview langsung untuk akhirnya diambil 62 finalis. Jumlah ini lantas dibagi menjadi 31 tim (satu tim dua orang) yang akan disebar di seluruh Indonesia dengan itinerary yang berbeda satu sama lain. Berdoalah semoga dapat itinerary yang menjadi dambaan Anda. Pokoknya jangan sampai bermimpi dapat itineray nomor 10 karena dijamin Anda hanya akan berputar-putar sekitar Kemang-Tanah Abang dan pol-polan hanya sampai Pulau Seribu. Hahaha. Kalo sampe dapet ya berarti kamu kurang zakat. Maka dari itu perbanyaklah amal soleh anak muda.

Saat melakukan registrasi secara online, maka lengkapilah data diri Anda: umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, pekerjaan, tempat lahir, dan pendidikan, dan lain sebagainya. Salah satu yang akan menjadi pertimbangan penting adalah personal skill.

Kemampuan pribadi ini sebetulnya tidak dibahas spesifik. Namun karena ini adalah acara DetikCom, dan Anda dibayar jalan-jalan tidak hanya sekedar haha-hihi seperti acara Wara-Wiri atau Celebrity On Vacation, maka saya pikir setidaknya Anda harus bisa menulis dan fotografi. Dua hal ini -menurut saya- adalah kemampuan yang mendasar. Selebihnya, seperti diving, trekking, shooting, dan sebagainya menjadi poin tambahan.

Menurut draft yang saya terima, pengalaman menarik Anda selama traveling nanti harus ditampilkan dalam format tulisan dan foto yang indah. Ini semua adalah usaha luar biasa dari DetikCom untuk mempromosikan Indonesia. Salute!

Maka silahkan berkompetisi mendapatkan sponsor berkelililing Indonesia secara gratis. Saran saya: silahkan apdet blogmu, atau menulislah catatan perjalanan yang keren untuk Hifatlobrain, perbanyaklah portofolio fotografimu terutama yang berhubungan dengan wisata tanah air baik kuliner-budaya-atau-alam, perbanyaklah membaca, mulai rajin olahraga, belilah baterai kamera cadangan, belilah sleeping bag, pamitlah pada orang tua, rajin bersedekah kepada yang membutuhkan, dan yang paling penting kerena ini acara untuk traveler 2.0 maka buatlah akun twitter, flickr, blogger, tumblr, wordpress, facebook, youtube, vimeo, CS, Kaskus atau apapun agar kamu bisa share ke seluruh jagad bahwa: INDONESIA ITU LUAR BIASA INDAH! []

7/18/10

Time Machine

Sebuah foto yang saya ambil di pulau Kemujan, Karimunjawa tiga tahun yang lalu. Saat itu saya membawa kamera poket Fujica lawas. Dan filmnya baru saya cuci beberapa minggu yang lalu. Melihat foto lawas membuat saya selalu ingat akan perjalanan masa lalu yang penuh kenangan.


Halo Hifatlobrainers! Apa kabar? Masih suka Justin Beiber? Mending segera matikan player Anda lalu jalan-jalan dan menulislah buat Hifatlobrain :D

Anyway, ini sudah bulan Juli, sudah pertengahan tahun. Waktu bergerak begitu cepat, hampir setahun tidak terasa. Tiba-tiba sudah terlewat begitu saja. Konon, ketimbang jutaan tahun yang lalu, saat ini bumi berotasi makin cepat. Daur hidup pun menjadi lebih pendek.

Perasaan baru kemarin sore saya melihat demam Walkman, dimana-mana orang mencolok kuping mereka dengan earphone hitam dan memutar kaset Nirvana. Lalu setelah maghrib mulai bermunculan Discman. Agak malam sudah muncul MP3 Player, yang setiap detiknya berubah menjadi lebih mungil, lebih ramping, dan lebih canggih. Lalu tidak lama kemudian muncul iPod Classic. Mini. Shuffle. Nano. Touch. Dan sebelum tengah malam saya sudah bisa melihat iPad di mana-mana.

Di tengah pusaran arus waktu yang demikian riuh dan cepat maka kesunyian dan ketenangan adalah sesuatu yang berharga. Quite is the new loud. Saat semua orang berlomba ke depan, beberapa orang tergerak untuk menengok ke belakang. Melihat dan mengenang setiap proses yang sudah dilalui untuk tetap menjaga kesadaran dan nilai yang dimiliki.

Blog yang super duper maknyus ini juga berfungsi layaknya mesin waktu. Karena berisi kumpulan travelogue di masa-masa yang sudah lama lewat maka silahkan kunjungi arsip-arsip lawas yang kami miliki, hanya sekedar untuk nostalgia.

Hifatlobrain memang sebuah blog yang sederhana, layoutnya juga masih gitu-gitu aja, editor-in-chief juga belum ganti, masih ganteng seperti dulu. Hahaha. Namun jangan salah, blog ini menjadi muara bagi para pecinta traveling yang suka menulis dan berbagi. Setiap bulan selalu saja ada nama baru yang memberikan kontribusi.

Beberapa tulisan yang siap dinikmati untuk edisi bulan Juli adalah sebagai berikut:

Ayos Purwoaji menemukan sebuah film lawas berjudul Ring of Fire: An Indonesian Odyssey. Dokumenter buatan Lorne dan Lawrence Blair ini memberikan sebuah inspirasi baru bagaimana menikmati keelokan Nusantara dalam kacamata petualang. Ayos mendedahnya dalam sebuah esai wisata yang cheesy.

Anita Rachman membuktikan bahwa Anda bisa menaklukkan Paris hanya dengan enam Euro. Tulisan ringan Six Euro Around Paris akan memberikan pengalaman baru bagaimana cara berpiknik murah ala gembel di kota para fashionista ini.

Ardi Wilda memiliki pandangan yang sama dengan Mbah Maridjan. In Merapi We Trust adalah pengalamannya menyaksikan upacara Labuhan Merapi yang sakral dan menjadi symbol bagi warga Yogya untuk memohon perlindungan kepada gunung paling aktif di dunia. Ardi Wilda ditemani fotografer Faizal Afnan juga memberikan banyak gambar menarik tentang upacara yang diadakan setahun sekali ini.

Winda Savitri, associate editor Hifatlobrain, memberikan laporan pandangan mata melalui Overrated Urban Jazz Crossover 2010. Tentang bagaimana ia menikmati salah satu acara jazz paling hype yang selalu diserbu socialite Surabaya ini.

Galih Setyo Putro is comeback! Yihaaa salah satu kontributor aktif Hifatlobrain ini menuliskan catatan perjalanannya ke Kawah Ratu, Jawa Barat dan bagaimana Dewi Fortuna mempertemukan ia dengan Elang Jawa yang hampir punah. Silahkan nikmati catatan yang dibuat ngos-ngosan oleh Galih dalam Admiring Javan Hawk-eagle at Kawah Ratu.

Irma Cupan, dara manis Surabaya ini melaporkan bagaimana penyelenggaraan acara akbar Malang Tempo Doeloe 2010. Gaya menulisnya yang kocak dan diluar ekspektasi memang sangat Hifatlobrain! Secara khusus artikel Irma Cupan diedit oleh kakak seperguruannya di Unair, Dwi Putri Ratnasari.

Silahkan dinikmati sajian kami yang selalu spesial. Jangan lupa untuk membaca juga menu spesial bulan Juli yang jarang didapatkan di bulan lain: Ebook When Will You Come Home, tentang perjalanan meransel ke Pulau Madura yang penuh pesona.

Keep Hifatlobrained dude!

Salam mesra,
Editor-In-Chief

NB:
Dua apresiasi menarik kami terima dalam sebulan terakhir.
Pertama, blog ini dinobatkan sebagai salah satu blog pejalan terbaik versi The Backpacker's Notes! Huhu ini adalah sesuatu yang mengharukan. Tearjecking. Tapi apa daya, memang begitu kenyataannya. Huhahaha. Satu hal yang paling bikin speechless adalah: blog ini berada di peringkat keempat, satu tingkat di bawah blog milik mas Agus Wenk! Padahal beliau adalah panutan saya dalam traveling.

Anyway, terima kasih Ajeng dengan The Backpacker's Notesnya yang mau susah payah memberikan award berharga ini :)

"...membaca blog ini (Hifatlobrain) memang seperti melihat sebuah destinasi dengan sudut pandang berbeda..."
(Herajeng Gustiayu, 2010)

Kedua, sebuah status pendek di FB dari seorang kawan bernama Ria Hayati. Makasih budhe, keep reading us ya! Hehehe.

Ring of Fire: An Indonesian Odyssey


oleh Ayos Purwoaji


"...There are places in the world still to be discovered..."

(Ring of Fire: An Indonesian Odyssey)

Jika ada pertanyaan: kenapa sih kamu jadi traveler? kenapa harus keliling Indonesia? Mari akan saya jelaskan alasannya.

Pertama, saya ini orang Indonesia. Sudah sepantasnya saya mencintai negeri ini, bukan hanya dalam kata, tapi juga lewat sikap. Salah satu cara agar saya mencintai negeri ini, tentu saja saya harus mengenalnya. Memang bukan perkara mudah berkenalan dengan negeri penuh pulau seperti Indonesia. Begitu banyak budaya dan bahasa yang melingkupinya.

Maka jalan-jalan adalah salah satu cara terbaik untuk berkenalan dengan negeri ajaib ini. Dan itu yang saat ini saya lakoni. Melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Menyusuri kota demi kota, sambung menyambung antar pulau. Itu semua saya lakoni untuk mencintai dan mencintai lebih dalam lagi negeri ini. Saya harus berusaha, sekuat-kuatnya. Sedapat-dapatnya.

Kedua, saya heran kenapa begitu banyak buku tentang Indonesia justru dikarang oleh orang asing. Sedangkan kita, malah tidak tahu apa-apa tentang negeri sendiri. Menyedihkan bukan?

Saat pergi ke Periplus atau Kinokuniya, buku-buku tentang Indonesia hadir dengan kover tebal dan kualitas foto yang sangat baik. Tapi semua pengarangnya orang luar negeri. Penerbit coffee-table-book lokal seperti Red&White Publishing milik Lans Brahmantyo dan INI Publishing yang berbasis di Bali hanya menyempil saja. Selebihnya penerbit luar. Termasuk banyaknya film tentang ekplorasi alam terbitan luar negeri seperti BBC atau National Geographic.

Sebetulnya itu alasan saya dulu membuat banyak ebook pariwisata dengan kover yang ciamik dan berhias banyak foto indah di dalamnya. Bedanya, punya saya gratis. Bebas diunduh seperti udara. Agar banyak anak muda yang baca dan ketularan virus jalan-jalan, lalu mengenal negeri ini lebih dalam.

***
Beberapa waktu yang lalu saya menemukan film klasik dengan judul Ring of Fire: An Indonesian Odyssey. Sebuah film dokumentari panjang tentang dua bersaudara yang melintas Nusantara selama sepuluh tahun. Mereka berdua ini, Lorne dan Lawrence Blair mendokumentasikan perjalanan panjang nan menantang ini melalui media film dan foto. Mirip seperti apa yang dilakoni Hutchens Brother yang melintas China dan memfilmkannya dengan judul Lost in China yang saat ini menjadi salah satu program di National Geographic TV.

Blair Brother saat interview pada dekade 80'an

Blair Brother dengan sangat keren melakukan perjalanan melintas negara misterius nan eksotik yang memiliki arkipelago paling besar di dunia. Perjalanan mereka dimulai sejak tahun 1972, itu pertama kali mereka mendarat di Singapura -yang mereka sebut instant asia. Konon perjalanan ini dibiayai oleh Ringgo Star, entah benar atau tidak.

Setelah beberapa lama, mereka bosan dengan Singapura dan segala kemodernannya. Lalu, saat berputar-putar keliling kota, seperti yang mereka katakan di awal film,"Then unecpectedly we found a notebook that would change everything, The Malay Archipelago -land of orangutans and the bird of paradise- by Alfred Russell Wallace."

Dari buku lawas tersebut mereka akhirnya melanjutkan perjalan ke Nusantara yang indah sekaligus penuh misteri ini. Sampai di Indonesia, duo Blair ini mengagumi banyak hal; kuli pasar yang mengangkut beban ratusan kilo, pembuatan perahu Phinisi secara tradisional, ilmu tenaga dalam yang seperti sihir, aturan nikah orang Bugis, keindahan alam bawah laut Maluku, naga Komodo yang masih hidup, cara berkuda orang Sumbawa dalam Pasola, tata cara hidup nomaden Dayak Punan, dan masih banyak lagi.

keseluruhan film Ring of Fire ini dibagi menjadi lima seri;
Seri pertama, Spice Island Saga: Bercerita tentang bagaimana Blair Brother mengikuti jejak Wallace mencari burung surga -cenderawasih- ke pulau Aru dengan menggunakan perahu Phinisi. Mereka berdua menyebut perahu suku Bugis ini sebagai perahu bajak laut. Dengan perahu tradisional ini mereka melintas 2000 mil laut melintas Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dua petualang gila ini juga turut menyaksikan pencari mutiara tradisional dan mempelajari tata hidup orang Bugis. Dari sini saya baru tahu kalo sebuan 'boogeymen' dalam bahasa Inggris berasal dari kata 'Bugis'. Kata ini secara letterleg memiliki arti monster yang menyeramkan. Bisa jadi karena bangsa Bugis adalah para bajak laut mengerikan yang membuat ciut para pelaut Barat di zaman lampau.

Seri kedua, Dance of the Warriors: Dua bersaudara ini berlayar ke pulau Komodo untuk melihat legenda naga yang masih hidup, lalu lanjut ke Sumba yang masih percaya dengan pengorbanan manusia, bertemu dengan suku Asmat yang memiliki tradisi berburu kepala manusia, melihat generasi tua penenun kain keramat di Sumba, menyaksikan tradisi Nyale dan berakhir di Bali dimana mereka membangun sebuah rumah sederhana di sebuah desa. Saya mengira desa tempat mereka membuat rumah itu adalah Ubud.

Seri ketiga, East of Krakatoa: Dua bersaudara ini melihat Anak Krakatau, lalu menmpelajari tradisi sakral Keraton Jawa yang sudah dijaga selama puluhan abad, menyaksikan pertunjukan wayang yang misterius, dan menuju Toraja untuk menyaksikan ritual pemakaman yang eksotis. Di episode ini mereka juga sempat bertemu dengan seniman legendaris lokal Bali, Nyoman Lempad.

Seri keempat, Dream Wanderers of Borneo: Lorne dan Lawrence Blair melintas 800 mil melewati hutan perawan untuk mengunjungi Dayak Punan di Kalimantan. Mempelajari gaya hidup namaden, menyingkap tradisi rahasia Pengembara Spiritual khas Dayak, dan mendapatkan tatoo lokal dengan motif Aping; sang pohon kehidupan ala Dayak.

Seri kelima, Beyond the Ring of Fire: Lawrence Blair kembali ke Indonesia delapan tahun kemudian untuk mengenang perjalanannya. Ia mengajak beberapa orang turut serta. Dan mengingat kembali berapa banyak pulau yang ia pernah singgahi.

Setiap serinya memiliki durasi limapuluh menitan. Mereka membingkai hidup keseharian masyarakat Indonesia dengan sangat baik. Setidaknya berhasil membuat saya ngiler untuk traveling lagi. Ditambah lagi narasi yang singkat dan tidak berbelit. Setahu saya film ini pernah tayang di BBC dan memenangkan Emmy Award untuk kategori modern adventure dan film etnografi.

Awalnya sangat sulit mencari film rare collection semacam ini. Butuh usaha lebih. Apalagi film ini dibuat pada tahun 1988. Saking ngebetnya, sempat saya menanyakan ke Periplus Surabaya, ternyata nihil. Yang ada hanya versi buku yang ditulis Lawrence, sedangkan film dalam bentuk DVD tidak tersedia.

Tapi Tuhan memang Maha Pemurah, akhirnya koleksi ini bisa saya dapatkan filenya di Google Video. Meski beresolusi rendah namun sudah cukup untuk membuat saya senang bukan kepalang. Lain waktu, saya akan mencari versi lain yang lebih bagus gambarnya, entah dalam bentuk cakram digital atau file lunak.

Film ini berhasil mengajarkan saya lebih banyak hal. Ternyata masih banyak yang belum saya ketahui dari negeri saya sendiri. Sebagai The Best Combo, saya dan Nuran, tampaknya harus belajar banyak dari Blair Brother. Tentang bagaimana mereka -dengan modal senyum dan kemampuan bahasa nol besar- mampu menjadi antropolog amatir yang keren. Dan melihat film ini semakin membuat saya untuk terus mengeksplorsi Indonesia. Lebih jauh, lebih dalam. []

PS: Saya sudah mendapatkan versi besar dari lima seri film ini melalui Torrent! Yeah!
Dan mendapatkan sumbangan dari kontributor kami paling ganteng, mas Galih Setyo Putro, seri nomor lima berupa kaset VHS! 

Six Euro Around Paris

Teks: Anita Rachman
Foto: Edy Can & Anton Muhajir

________________________________________________
Kontributor









Anita Rachman adalah seorang jurnalis muda berbakat. Saat ini bekerja di harian paling wokeh; The Jakarta Globe. Sejak dulu ingin mencicipi snorkeling di Karimunjawa namun belum terealisasi. Sangat suka membaca dan mendengarkan musik, tokoh idolanya adalah Romo Mangun dan Sigmund Freud. Sempat juga mengidolakan esais besar Goenawan Mohamad.

Catatan perjalanannya ke Paris ini adalah tulisan pertama Anita Rachman untuk Hifatlobrain
________________________________________________


Sungguh tidak salah jika banyak orang bilang Paris adalah kota terelok di dunia, karena memang begitulah adanya. Yah, memang sih... kami belum sempet mengunjungi seluruh kota yang ada di dunia ini, tapi paling tidak itu menurut selera, kesimpulan, dan pengalaman saya dan tujuh teman saat mengunjungi ibukota Perancis itu tiga pekan lalu.
Pada saat itu kami sedang berada di Amsterdam, Belanda mengikuti sebuah training tentang new media. Dan iming-iming untuk mampir ke Paris begitu menggiurkan sekaligus meresahkan. Kenapa? Karena kami kere tingkat internasional, sodara... Uang yang tersedia hanyalah sangu beasiswa dari Nuffic-Neso Indonesia. Di tengah kegelisahan yang datang melanda itu, mendadak kami pun teringat proverb di footer buku tulis jaman SD, if there’s a will, there’s a way, maka masalah uang (semestinya) tidak menghambat semangat perjuangan kami. Dengan modal ”Pokoknya harus ke Paris!”, kami pun memutuskan untuk berangkat ke sana!

Sebenarnya, banyak pilihan perjalanan menuju Paris dari Amsterdam. Pesawat, kereta atau bus yang selalu available untuk digunakan tiap saat. Oke, pilihan transportasi pesawat harus dicoret. Selain karena kami malas untuk mengecek harga tiket (sekaligus malas membayarnya, haha), akan terlalu ribet juga harus keluar masuk airport dengan antrean panjang dan berbagai urusan administrasi. Dan ternyata kami pun ngga mampu membeli tiket kereta, haha! Bayangkan untuk sekali jalan ke Paris harus merogoh kocek sampai 130 euro! Dan harga tiket itu akan semakin melambung jika dipesan berdekatan dengan waktu keberangkatan. Maka, dengan berbagai pertimbangan, terutama pertimbangan masalah uang, hehe... kami putuskan untuk naik bus Eurolines saja. Selain jadwal keberangkatannya cocok dengan schedule kami, dengan bus ini kami ’hanya’ mengeluarkan 85 euro saja biaya pulang-pergi. Masih berasa mahal kan kalau dirupiahkan, tapi sungguh, ini adalah yang termurah yang sanggup kami bayar, hehe...

Bus Eurolines meninggalkan stasiun Amstel Amsterdam sekitar pukul sepuluh malam waktu Belanda. Kebanyakan penumpang disini adalah warga keturunan Maroko dan para backpacker. Waw, sepertinya pilihan kami tidak salah. Mungkin bus ini memang tercipta untuk segerombol traveler minim budget seperti kami yang keren ini. Tapi kembali lagi pada sebuah proverb Jawa, ono rego ono rupo, bus ini tidak memiliki fasilitas toilet, tapi cukup baik hati dengan berhenti dua kali di SPBU. Sebuah surga untuk penumpang yang sering beser. Hoho...

Eurolines ini adalah moda transportasi dengan ketepatan waktu tingkat dewa. Supirnya galak minta ampun, bisa jadi sadis adalah nama tengahnya. "We will give you 30 minutes to take some rest. Get back here on time, otherwise we will leave you." Dan dia tidak sedang bercanda kawan, dia serius! Sebagai seorang gadis berparas ayu, tentu saya bergidik ngeri kalo harus ditinggal bis ini. Untungnya semua penumpang juga disiplin, jadi semua terangkut lagi.

Perjalanan yang cukup panjang sebenarnya, memakan waktu delapan jam untuk menuju kota eksotik itu, tapi toh semuanya bukanlah masalah bagi kami yang rata-rata tidur layaknya orang mati suri selama berada di bus. Setibanya di Paris sekitar pukul enam pagi, kami langsung disambut ‘hangat’ dengan dinginnya udara musim semi. Aneh, judulnya saja sudah masuk spring, tapi kok ya masih semriwing begini rasanya.

Yap, sedikit tips dari saya, jika mau bepergian di Eropa, jangan lupa cek cuaca dulu biar tidak salah kostum. Nah, hari itu seperti yang kami lihat di prakiraan cuaca, udara bakal cukup "hangat" di Paris: 12 derajat celcius! Itu sudah termasuk lumayan lhoo, ditambah lagi dengan hadirnya matahari hari itu.

Kami turun di Stasiun Gallieni, sebuah stasiun metro, kereta bawah tanah yang menghubungkan titik-titik Paris. Kami putuskan untuk membeli tiket metro terusan yang bisa digunakan sehari penuh. Harganya sekitar 12 euro. Maka saya pun bergegas mengantri, tak sabar rasanya untuk segera menjelajahi Paris. Dan anehnya, saya hanya di-charge 5.90 euro saja lho!! Lebih murah separo dibandingkan harga normal! Baru kemudian saya tahu bahwa saya dikira belum “dewasa” sehingga harga tiket pun disesuaikan. Hahhahaaaa… saya bahagiaaa bukan kepalang! Bahkan orang Eropa pun mengakui kalau saya memang awet muda! Waseeekk….

Oke, tanpa berlama-lama lagi, kami berangkat memulai perjalanan kami yang pasti bakal seru itu!

1. Louvre Museum
Tiba di museum ini sekitar pukul 7 pagi, dan sebab hari yang masih pagi sekali itu, jadi suasananya, ampuuun, sungguh sepi dan magis! Louvre di pagi hari tanpa lalu lalang pengunjung adalah sebuah sunyi yang menawan, hoho... Kami mengelilingi tembok-tembok tua Louvre, dan begitu bahagia sebab sempat pula melihat gagak-gagak hitam ber-kwaaak-kwaaak mengelilingi Louvre.
Di waktu sedini itu, air mancur useum pun belum dinyalakan! Jadi bisa dibayangkan keintiman museum yang menyimpan lukisan Leonardo da Vinci, Mona Lisa, ini.

Maka saya sarankan, kalau mau ke Louvre, lebih baik pagi-pagi sekalian, biar dapat feel-nya dan bias berfoto sepuasnya tanpa gangguan lalu lalang pegunjung.

Tiket masuk Louvre untuk yang biasa (tanpa melihat pameran yang berganti-ganti setiap waktu, waktu itu: Dali) hanya 9.50 euro! (ini jauh lebih murah dibanding Van Gogh Museum di Amsterdam yang 14 euro dengan koleksi, yang tentu saja, lebih sedikit).

Saya masuk Louvre hanya… tebak berapa lama? 30 MENIT SAJA! Huaaa, rasanya mau bunuh diri saja! Hanya 30 menit untuk mengelilingi museum yang pintu masuknya itu saja ada empat atau lima biji! Siapa sih yang bikin aturan? Yah.. karena pada saat itu tidak dimungkinkan untuk menggelar demo lebih lanjut, kami memilih mengalah dan melanjutkan perjalanan. Saya hanya sempet berfoto dengan Mona Lisa dan melihat beberapa lukisan terkenal, termasuk revolusi Perancis.

Oh iya, jangan lupa bawa kamera, walopun sudah ada larangan, semua orang teuteup motret di sana-sini, hehee...

2. Notre-Dame Katedral
Notre-Dame tidak terlalu jauh dari Louvre, kami memutuskan untuk jalan kaki menuju katedral tua yang terkenal ini. Butuh 30 menit untuk sampai di sana, walaupun sebetulnya sih bisa ditempuh dalam wkatu 10-15 menit saja dengan jalan kaki... tapi ini Paris sodara-sodara, sekali lagi ini Pariiisss... ngga mungkin dong, kami berjalan begitu saja sambil nyuekin bangunan-bangunan keren di sekitar Louvre... Bahkan kombinasi ngga nyambung antara deretan penjual bunga, barang-barang bekas plus kantor pemerintahan di seputar jalan ini, tampak begitu indah di kota romantis ini. Haha...
Well, ternyata Notre-Dame ramai sekali! Antre untuk naik saja bisa berjam-jam lamanya! Ya sudah, kami putuskan untuk menikmati Notre-Dame dari luar saja, dan menikmati bangunan sekitar.
Eits, jangan kaget, di sini banyak pengemis (imigran). Trik mereka untuk meminta uang adalah dengan mengatakan: "Excuse me, do you speak English?" jika ditanya demikian, langsung saja jawab: "NO" dan mereka akan pergi.

Kalau dijawab "Yes," dia akan langsung menyodorkan surat yang isinya kurang lebih: tolong saya, saya sudah tiga bulan di sini, hendak pulang ke rumah (suatu negara) tapi tidak ada biaya, bisakah menolong saya?

So, just say NO.

3. Shakespeare Bookstore and Company
Kalau sudah sampai Notre-Dame, jangan lupa untuk mampir ke toko buku paling terkenal di Paris ini! Toko ini berada di sebelah kanan (jika posisi kita menghadap) katedral. Tinggal turun dan menyebrang lampu merah!

Pernah melihat film Before Sunset? Jesse, toko utama pria di film itu, bertemu kembali dengan Celine, sang tokoh utama perempuan, di toko buku tersebut setelah berpisah bertahun-tahun. SAYA SANGAT SUKA TOKO BUKUNYA! Tua, desain khas perpustakaan tua, namun koleksinya lengkap dan modern. I was so happy to get into the store. Berasa Alice in wonderland, tapi versi perpustakaan hhahaaha…

4. Menara Eiffel
Yap, kami naik metro menuju Eiffel! Bisa dipastikan, kami SANGAT KELAPARAN! Saran kami: carilah rumah makan Cina, selain mereka punya nasi, harganya terjangkau jika beramai-ramai.

Well, ada kemungkinan masakan mereka memakai minyak babi memang, tapi di saat kelaparan, asal mengucap Bismillah, Insya Allah, Allah tidak akan marah. Hehe… Ya Allah ampunilah hamba-Mu yang perutnya keroncongan ini…

Hm, saya pribadi tidak terlalu takjub pada menara yang menjadi ikon kota Paris ini, meskipun harus diakui Eiffel memang menakjubkan! Haha bingung kan? Begini lho, maksud saya, mungkin tower is not my kinda thing. Oh iya, kamu bisa naik menara itu, dan tentu saja setiap ketinggian beda harganya. Dan tentu saja kami tidak naik sebab kami tidak punya banyak waktu. Memang sebetulnya lebih asyik melihat-lihat taman di sekitar Eiffel dan tidur-tiduran di tamannya sambil berjemur :D nikmatnya! Yah, saking “hangat”nya udara di sekitar taman ini, sampai-sampai kami tidur siang beneran di bawah naungan menara Eiffel. Hehe…

5. Arc de Triomphe
Sejujurnya, saya tidak terlalu mengerti apa yang berada di Arc de Triomphe ini, HAHAHA. Tapi, gosipnya sih bangunan ini memang terkenal, makanya kami sempatkan untuk berkunjung ke sini. Kebetulan waktu itu sedang dilangsungkan upacara militer. Dan tahu apa yang saya lakukan saat itu? Duduk selonjoran di bawah bangunan. Huaa… capek bangeeet…

6. Jalan Concorde
Yap, menurut teman saya, Jalan Concorde ini semacam Orchard Road-nya Singapura. Bedanya tentu saja di sini butik-butiknya lebih mahal. Ada banyaaaak butik pakaian ternama di dunia, Louis Vuitton, Versace, ect. Selembar kain yang mempunyai kekuatan magis untuk orang-orang tertentu yaitu bangkrut seketika. Dan herannya, mau masuk Louis Vuitton harus antre dulu di sini... Emmm, tentu saja saya ngga ikutan antre, haha… duit dari mana, coba?

7. Place de la Concorde
Lagi-lagi kami hanya ‘mampu berjalan’ di sekitar pusat perbelanjaan itu. Tugunya sih biasa saja yah, seperti Monas, tapi panorama Paris sungguh cantik dilihat dari sini. Di kejauhan pun tampak Menara Eiffel berdiri dengan anggun, merupakan posisi yang bagus untuk dijadikan background foto Anda, lalu dipasang sebagai profil picture di facebook. Hehe…

Okelah, tujuh tujuan sudah tercapai. Namun waktu masih menunjukkan pukul 20.00 dan toko-toko sudah tutup! Maka, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar daerah tersebut. Termasuk mencari rumah makan China untuk mengisi perut yang lagi-lagi keroncongan minta diisi.

Bus kami baru akan pulang pukul 23.00. Jadi cukup puas juga kami makan dan berjalan-jalan mengelilingi Paris.

Bagaimana, menyenangkan bukan berkeliling Paris hanya dengan 6 euro? Hehehe

In Merapi We Trust

Teks Oleh: Ardi Wilda
Foto: Ardi Wilda dan Faizal Afnan

________________________________________________
Kontributor











Ardi Wilda Irawan
Mahasiswa semester akhir Ilmu Komunikasi UGM yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Bercita-cita memiliki sebuah TK. Sedang mempersiapkan nama untuk tiga anaknya kelak. "Emang namanya siapa We?" kata saya suatu saat,"Lili, Nixi, dan Nanar," Kata Awe enteng. Selain bergulat dengan skripsi juga mengkontribusikan tulisannya di sebuah majalah musik nasional dan sebuah majalah lifestyle lokal Jogja. Bisa ditemui di blog baru yang ia dirikan, www.katakom.com atau melalui email di ardiwilda@yahoo.com.

Ini adalah tulisan pertama Ardi Wilda untuk Hifatlobrain.












Faizal Afnan
Adalah teman Ardi Wilda. Mahasiswa semester tiga Komunikasi UGM yang memiliki hobi mendaki gunung. Selain kuliah juga aktif di kegiatan Pers Mahasiswa sebagai fotografer dan menjadi pengurus sebuah unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang fotografi.

________________________________________________



Kabut berwarna putih tebal tampak masih menyelimuti kawasan Gunung Merapi pada Selasa pagi 13 Juli lalu. Matahari yang sedianya muncul pukul enam pagi belum menampakkan diri di lereng gunung berketinggian 2.968 meter ini. Perpaduan kabut yang tebal dan matahari yang masih bersembunyi di balik awan membuat penduduk setempat menggunakan jaket tebal untuk menghalau hawa dingin menusuk tulang. Beberapa orang bahkan tampak menggosok-gosokkan telapak tangan sekedar untuk memberi kehangatan sementara di tubuh mereka.

Tak seperti kebanyakan penduduk yang pagi itu merasakan kedinginan, beberapa orang paruh baya justru mulai mempersiapkan diri untuk mendaki Gunung Merapi yang kondisinya jelas lebih dingin. Para pria paruh baya yang siap mendaki mengenakan pakaian sorjan bercorak biru dan hitam dengan mengenakan blangkon khas Jogja yang memiliki mondolan atau semacam jendolan di belakang blangkon yang merupakan pembeda antara blangkon Solo dengan Jogja.

Sementara itu para wanita paruh baya mengenakan kebaya berwarna hitam polos dengan bawahan kain, beberapa diantaranya juga menyanggul rambutnya dengan rapi. Mereka adalah Abdi Dalem Kawasan Merapi yang pagi itu akan melawan hawa dingin dan terjalnya jalur pendakian Gunung Merapi untuk melaksanakan upacara sakral tahunan bernama Labuhan Merapi.

Upacara adat Labuhan Merapi merupakan sebuah ritual untuk memperingati Jumenengen Ndalem (naik tahta) Sri Sultan Hamengkubuwono X yang dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb atau menjelang tanggal 1 Ruwah pada tanggalan Jawa. Setiap tahun ada dua tempat yang dijadikan tempat Labuhan, Pantai Parangkusumo merupakan tempat selain Gunung Merapi yang menjadi tempat diadakannya Labuhan. Namun Labuhan Merapi memiliki rangkain yang lebih lama dan kompleks ketimbang labuhan Parangkusumo.

Selain ditujukan sebagai peringatan naik tahta Sri Sultan, ada juga yang menyatakan kalau Labuhan Merapi terkait erat dengan sejarah Merapi lebih tepatnya sejarah mengenai penguasa Gunung Merapi. Maka dari itu Labuhan ini identik dengan Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah lembang Sari, Mbah Nyai Gadhung Wikarti dan Kyai Mergantoro yang semuanya merupakan nama mitikal penguasa Merapi. Labuhan ini ditujukan untuk menghormati para penguasa tersebut dengan memberi berkah yang akan dibawa dari kediaman juru kunci Merapi sampai tempat diadakannya Labuhan.

Dalam konteks kekinian Labuhan Merapi juga ditujukan untuk memohon agar Gunung Merapi tidak meletus. Kedekatan masyarakat Jogja dengan meletusnya Gunung Merapi memang tak bisa terbantahkan, beberapa kali Gunung Merapi dengan wedus gembelnya yang terkenal itu mencemaskan warga sekitar Merapi. Bahkan diperkirakan letusan yang terjadi pada tahun 1006 selain membuat bagian tengah Pulau Jawa berselimut abu putih juga membuat Kerajaan Mataram Kuno harus pindah ke Jawa Timur.

Sejarah juga terus mencatat aktivitas Gunung Merapi beberapa kali mencemaskan warga yang tinggal di sekitar gunung tersebut. Terakhir gunung ini memperlihatkan tanda-tanda akan meletus pada tahun 2006 lalu. Pada saat gempa besar menimpa Jogja bahkan warga Jogja mengira hal itu dikarenakan Gunung Merapi meletus padahal nyatanya disebabkan karena gempa bumi dengan kekuatan yang besar.

Pada saat aktivitas Gunung Merapi mulai aktif di tahun 2006 pemerintah bahkan sudah mengintruksikan warga sekitar lereng untuk mengungsi. Namun Juru Kunci Gunung Merapi yakni Ki Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan Mbah Marijan mengatakan bahwa aktivitas Merapi tak perlu dicemaskan.

Sejak saat itu pula nama Mbah Marijan mencuat ke publik, bahkan ia menjadi bintang iklan minuman energi dengan teriakan khasnya, “Roso!” yang berarti 'kuat' dalam Bahasa Indonesia. Labuhan ini tentunya ditujukan agar aktivitas Gunung Merapi yang berbahaya tidak terjadi lagi.

Rangkain Labuhan Merapi dimulai sehari sebelum para Abdi Dalem kawasan Gunung Merapi mendaki Gunung Merapi untuk memberi berkah tepatnya pada Senin 12 Juli lalu. Acara awal itu berupa seserahan secara simbolis Ubarampe dari Kraton Ngayogyakarta oleh seorang utusan yang ditunjuk Sri Sultan Hamengkubuwono X kepada Camat kawasan Cangkringan. Setelah Ubarampe diterima Camat maka akan dilanjutkan dengan menyerahkan Ubarampe kepada juru kunci Gunung Merapi yakni Mbah Marijan.

Ubarampe sendiri merupakan perlengkapan sesaji yang digabungkan dalam sebuah peti untuk labuhan. Ubarampe berbentuk seperti sebuah peti untuk mengangkut jenazah dengan panjang sekitar satu setengah meter. Ubarampe dicat merah dan dilapisi kain bercorak diatasnya. Diatas Ubarampe terdapat hiasan berbentuk tanduk berwarna emas. Pada saat Labuhan, Ubarampe akan digotong oleh beberapa Abdi Dalem sambil mendaki Gunung Merapi.

Isi Ubarampe sendiri terdiri dari barang-barang yang akan dilabuh. Ada lima jenis kain di Ubarampe yakni kain limar, destar (bahan untuk blangkon yang masih berbentuk kain), semekan gadung (kain berwarna hijau), gadung melati (berwarna hijau dengan list warna putih di ujungnya), dan peningset udaraga. Sementara barang-barang lain selain kain yang ada di Ubarampe antara lain wewangian, uang cindik (uang yang terbuat dari kain cindik dan hanya terdapat di Kraton), ratus (semacam rokok) dan lapak (pelana kuda).

Setelah upacara penyerahan Ubarampe selesai dilakukan, rangkaian Labuhan Merapi dilanjutkan dengan Kirab Budaya. Arak-arak ini dilakukan oleh Prajurit Gandungarum dari kawasan Kaliadem, Desa Ngrangkah kawasan lereng Gunung Merapi menuju rumah juru kunci Merapi Mbah Marijan yang bernama resmi Ki Surakso Hargo. Kirab budaya ini dilaksanakan pada pukul tiga sore di hari yang sama dengan penyerahan Ubarampe pada Mbah Maridjan. Pada malam harinya dilaksanakan kenduri wilujengan atau syukuran dengan hiburan Macapatan oleh Paguyuban Sekar Cangkring Manunggal di rumah Mbah Marijan.

Barulah esok paginya, pada tahun ini jatuh pada Selasa tanggal 13 Juli 2010, beberapa Abdi Dalem akan membawa Ubarampe dari kediaman Rumah Mbah Marijan menuju Kendit 2 atau lebih dikenal dengan Labuhan karena di tempat inilah Labuhan dilaksanakan. Kendit 2 sendiri pada hari biasa diperuntukan sebagai pos kedua pendakian merapi dari jalur Desa Cangkringan.

Sebelum membawa Ubarampe ke Kendit 2 diadakan semacam upacara pelepasan terlebih dahulu di Rumah Mbah Marijan. Semestinya perjalanan atau kirab membawa Ubarampe yang dilakukan oleh Abdi Dalem dan utusan dari Kraton dipimpin langsung oleh juru kunci Gunung Merapi.

Sayangnya pada tahun ini kondisi fisik Mbah Marijan yang mulai menua membuat dirinya tak lagi roso atau kuat untuk mendaki sampai ke pos 2 pendakian Gunung Merapi. Ditambah kondisi kesehatan Mbah Marijan yang tidak fit membuat dirinya urung untuk naik sampai Kendit 2 Merapi. “Untuk Labuhan di Kendit 2 Mbah Marijan tidak dapat ikut karena kondisinya belum fit pasca operasi hernia beberapa waktu yang lalu,” tutur putra Mbah Marijan menjelaskan kondisi fisik ayahnya. Pada kesempatan tahun ini anak Mbah Marijan-lah yang menggantikan posisi ayahnya untuk memimpin rombongan.

Setelah pelepasan oleh Mbah Marijan maka rombongan mulai menuju Kendit 2 tepat pada pukul enam pagi di hari Selasa yang amat dingin tersebut. Adalah sebuah perjalanan berat bagi Abdi Dalem untuk mendaki sampai ke Kendit 2. Banyak faktor yang membuat perjalanan para Abdi Dalem terasa berat. Pakaian lurik tipis yang mereka gunakan jelas membuat tubuh mereka harus bersahabat dengan suhu gunung Merapi yang amat dingin pagi itu. Ujian lain adalah mereka semua harus menggunakan selop sebagai alas kaki saat mendaki, padahal jalanan terjal bebatuan jelas tak bersahabat dengan sepatu tipis macam selop. Dan yang paling berat adalah mereka harus mendaki dengan mengangkut Ubarampe yang beratnya tak main-main karena terbuat dari kayu. namun diantara yang terberat adalah kewajiban mereka untuk tak boleh beristirahat saat menjalani kirab sampai ke Kendit 2.

Berhenti atau istirahat saat kirab merupakan hal yang tabu untuk dilakukan bagi para Abdi Dalem, tentunya hal itu sangat berat untuk dijalankan. Sebagai perbandingan penulis harus beristirahat sekitar lima kali karena jalur yang curam membuat kaki letih untuk melangkah.

Sedikit menguntungkan bagi para Abdi Dalem dan beberapa orang yang hendak menyaksikan ritual ini adalah jalur pendakian Merapi sebelumnya telah dibersihkan dari ilalang untuk kepentingan Labuhan. Upaya membersihkan jalan tersebut tentunya membuat perjalanan sedikit lebih mudah karena tanah menjadi tidak terlalu licin dan kaki menjadi tidak gatal karena tertusuk oleh ilalang. Di pinggiran jalan juga dibuat jalur lintasan air sehingga tak membuat jalan pendakian licin bila hujan turun. Namun tetap saja tak adanya ilalang dan dibuatnya jalur air tak banyak membantu karena curamnya jalur pendakian dan dinginnya hawa di pagi itu membuat beberapa wisatawan yang ingin melihat upacara Labuhan harus beristirahat beberapa kali. Raut muka beberapa wisatawan asing bahkan terlihat memerah karena keletihan mendaki.

Sekitar pukul delapan rombongan sampai di pos pemberhentian pertama yang merupakan pos 1 pendakian Merapi. Disana dilaksanakan ritual menaruh sesaji yang ditujukan untuk permisi bagi ‘penghuni’ di daerah sana. Doa-doa dan penaruhan sesaji berlangsung sekitar lima belas menit untuk kemudian rombongan Abdi Dalem melanjutkan perjalanan untuk melakukan acara inti melabuh di Kendit 2. Hanya di pos 1 pendakian merapi inilah para Abdi Dalem bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang lebih berat lagi.

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara pendakian dari kediaman Mbah Marijan menuju Pos 1 Pendakian Gunung Merapi dengan perjalanan dari Pos 1 menuju Kendit 2. Pendakian menuju Pos 1 akan sangat dibantu dengan pohon-pohon yang menutupi arah sinar matahari sehingga kita tak langsung menghadap matahari sementara perjalanan dari pos 1 menuju kendit 2 kita akan mengarah langsung ke matahari. Tentunya hal itu kurang menguntungkan karena selain membuat penglihatan silau hal itu juga akan membuat badan kita kegerahan walaupun hawa dingin masih terasa. Beberapa wisatawan saat menuju Kendit 2 dari pos 1 pendakian Merapi bahkan tampak membuka jaketnya untuk menghindari tubuhnya kegerahan. Sedikit tak enak memang rasanya ketika badan berkeringat terkena matahari di tengah suhu gunung yang dingin.

Saat menuju Kendit 2 yang juga menjadi masalah adalah jalanan mulai berbelok-belok. Di Pos 1 jalanan memang curam namun arahnya biasanya lurus dan tak berbelok-belok sementara setelah pos 1 kita harus menemui jalanan curam yang berbelok-belok. Jalanan berbelok tentu akan sangat menyulitkan bagi beberapa Abdi Dalem yang menggotong Ubarampe.

Setelah melewati beberapa tanjakan curam yang berbelok rombongan Kirab Labuhan sampai di Kendit 2 sekitar pukul pukul 09.30. Kendit 2 sendiri yang sehari-hari dijadikan Pos 2 Pendakian Gunung Merapi luasnya sama dengan dua kali lapangan badminton. Gerbangnya berbentuk seperti gerbang-gerbang khas arsitektur Jawa dengan susunan yang bertingkat-tingkat. Kita misalnya bisa menemui gerbang semacam ini di pelataran gerbang Masjid Agung Kotagede, Jogja. Tepat di depan gerbang Kendit 2 Merapi kita akan menemui sebuah batu besar dengan ukiran logo Kraton Jogja di permukaannya. Batu besar ini lebih tinggi sekitar satu meter dari tinggi orang dewasa dengan ukiran logo Kraton tepat di tengahnya.

Di belakang batu besar berukir logo Kraton Jogja terdapat semacam pendopo yang digunakan untuk menaruh Ubarampe dan sajian-sajian untuk Labuhan. Di kiri dan kanan pendopo terdapat dua buah bangunan kecil dari kayu untuk menaruh sesaji ketika upacara dilakukan. Bangunan tersebut tingginya kira-kira setinggi betis orang dewasa.

Ubarampe diletakkan di pendopo utama, kemudian kelima jenis kain yang terdapat di dalamnya digelar berjajar di pendopo ini. Di bawah jajaran kain tepatnya di anak tangga pendopo berjejer beberapa peralatan yang digunakan untuk seserahan. Setelah semua bahan untuk sesaji disiapkan maka upacara Labuhan pun dimulai. Doa-doa mulai dipanjatkan agar Gunung Merapi tidak menampakkan aktivitas yang membahayakan.

Selesai memanjatkan doa-doa Abdi Dalem kemudian menyiapkan berkah yang akan diberikan pada para warga dan wisatawan yang ikut menyaksikan upacara Labuhan Merapi. Berkah tersebut ditujukan agar para penerima berkah ikut mendoakan agar Gunung Merapi tak meletus. Bentuk berkah itu sendiri sangat sederhana, hanya sekitar tiga sendok makan nasi putih dengan ayam goreng yang dipotong kecil-kecil atau dalam istilah Jawa disuwir. Nasi dan ayam itu kemudian dimasukkan dalam plastik bening yang biasa digunakan untuk membuat es batu. Setiap pengunjung akan diberikan satu bungkus berkah tersebut ketika akan pulang.

Setelah semua pengunjung pulang barulah seorang atau beberapa utusan yang telah ditunjuk dari Kraton membawa berkah menuju puncak Merapi. Seorang Abdi Dalem yang mengantar menuturkan bahwa si utusan baru akan berangkat menuju puncak Merapi ketika semua pengunjung sudah pulang terlebih dahulu. “Nunggu semua yang ada pulang dulu, ya ibaratnya tidak enak kalau masih ada tamu terus ditinggal,” tuturnya. Sementara Abdi Dalem lainnya akan turun kembali sambil membawa Ubarampe.

Sekitar pukul 10.30 kegiatan Labuhan Merapi selesai, Abdi Dalem yang mengangkut Ubarampe turun terlebih dahulu disusul oleh beberapa Abdi Dalem lainnya. Kabut putih yang amat tebal tadi pagi sudah tak tampak lagi ketika rombongan Abdi Dalem tiba kembali di kediaman Mbah Marijan. Dari Masjid yang terletak sekitar tiga ratus meter dari kediaman Mbah Marijan tampak Mbah Marijan sedang mengambil air wudhu untuk melaksanakan Sholat Dzuhur. Lamat-lamat tampak ia berdoa setelah wudhu, di depannya Gunung Merapi berdiri dengan indahnya.

Labuhan Merapi yang rutin diadakan setahun sekali memberi gambaran jelas tentang bagaimana manusia menghormati alamnya. Ini bukan sekedar ritual biasa, ribuan jejak kaki yang dilalui dari kediaman Mbah Marijan sampai tempat dilaksanakannya Labuhan Merapi membawa kita pada perenungan lebih dalam mengenai relasi alam dengan manusia. Manusia hanya bisa berharap dan berusaha namun bila alam berkehendak lain tentunya ceritanya akan berbeda. []

When Will You Come Home


Beberapa waktu yang lalu, saya dan Nuran kembali meransel. Kali ini sasaran kita adalah tanah Madura yang magis dan mempesona. Pulau garam yang terkenal dengan aksi bacoknya ini sesungguhnya memiliki potensi wisata yang sangat unik dan indigenous. Sangat sayang bila dilewatkan. Apalagi sekarang para pejalan lebih mudah meraih Madura dengan adanya jembatan Suramadu yang kokoh.

Ebook ini menawarkan travel experience yang patut disimak. Pengalaman kami mencoba makanan bebek songkem hingga iseng menelan ramuan Madura patut untuk ditiru! Hahaha. Silahkan dibaca, dihayati, diprint, dan dibaca lagi di kamar mandi. Insyallah perjalanan Anda ke Madura akan jauh dari marabahaya.

"...Apabila Anda suka membaca kisah perjalanan dan petualangan para pejalan yang diceritakan dari berbagai sudut pandang, ditulis dengan penuh semangat, serta dipenuhi dengan banyak foto-foto yang menarik, maka ini merupakan salah satu Travel eBook yang wajib unduh..."

(Review dari The Backpacker's Notes)

Sekian dan teringmakangsih.
Untuk mengunduh bukunya silahkan klik link Ziddu ini:
http://www.ziddu.com/download/10469951/WhenYouWillComeHome_web.pdf.html

Atau ingin membaca online di sini:
http://www.scribd.com/doc/33630781/When-Will-You-Come-Home

When Will You Come Home

Overrated Urbanjazz 2010


Teks: Winda Savitri
Foto: Ayos Purwoaji


“How lucky me!” Ucap saya secara berkala kepada mas editor-in chief pada waktu itu. Senang rasanya kami berdua masih bisa menghadiri dan merasakan meriahnya salah satu event tahunan yang selalu happening ini. Walaupun waktunya agak kurang pas bagi mahasiswa yang statusnya sedang menyelesaikan tugas akhir. Tapi itu bukan penghalang bagi saya untuk datang, toh acara ini juga diciptakan sebagai penyegar si tengah skripsi yang merengek minta digarap.

Ok, please welcome – Urban Jazz Cross Over 2010, live performance at Grand City Mall, Surabaya. Hehehe.

Rangkaian tour musik yang digarap oleh Eki Puradireja dan kawan-kawan ini tidak terasa telah memasuki tahun ke-3 (khususnya untuk kota Surabaya). Mereka selalu menawarkan new concept disetiap performanya. Tahun ini yang diambil adalah detail pada setting panggung. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kali ini lebih hi-tech. Kenapa? Karena pentolan Humania ini memilih Moveable Projected Backdrop sebagai point of view. Dimana, desain backdrop dengan ukuran 5 x 7 meter tersebut mampu berubah formasi sebanyak delapan varian. Ditambah dengan visual 3D Masking Technology yang menjadikan stage tampil lebih ‘hidup’.

Pemilihan lokasi untuk konser kali ini tidak lagi di Empire Palace, melainkan disebuah mall baru di kawasan metropolis yang tidak kalah menawan dibanding tahun sebelumnya. Dialah Grand City Mall. Bangunan modern dengan arsitektur mewah -walaupun belum jadi seratus persen, dilengkapi dengan ballroom berkapastas jumbo dan cukup nyaman dengan adanya pendingin ruangan yang mumpuni. Ya ya, tapi kok tiba-tiba saya merasa kayak de javu ya akan atmosfernya, seperti tidak asing lagi dengan tempat ini. Padahal ini baru kali pertama saya berkunjung ke Grand City.

Bisa jadi karena penataan venue yang di sponsori oleh Dji Sam Soe ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Ditambah lagi dengan antusiasme masyarakat yang cukup besar hingga berjubel, juga dilengkapi dengan mbak-mbak SPG-sexy yang berseliweran dengan baju minim, menawarkan rokok sana-sini sambil kedap-kedip dikit.

Sesampainya di lantai tiga, tidak lama setelah konfirmasi kedatangan, kami melaju menuju venue. Tampak beberapa kawan hadir disana. Ngobrol-ngobrol sebentar, nggak kerasa acara sudah dimulai. Alhamdulillah tidak sampai ketinggalan penampilan pembuka. Yaha, this is it, Drew yang membawakan beberapa lagu laris diantaranya milik Nirvana, The Ting Tings serta lagu lawas milik ME memanaskan suasana.

Grup band yang dikenal lewat single Unromantic dalam kompilasi album Nu-Buzz ini memang mencuri perhatian kami sedari awal. Karena mereka bermain secara akustik dan sangat powerful. Perlu diketahui bahwa mentor mereka adalah grup duo akustik, Endah N Rhesa. Pantes aja maknyus :p

Dilanjutkan dengan penampilan ke-2 yaitu oleh DJ Cream (Reza Arnanda), yang mengaransemen ulang lagu milik Black Eyed Peas, I Gotta Feeling menjadi lebih bossas. Diteruskan oleh beberapa pemusik yang tahun kemarin juga hadir, seperti Rapper Boogieman (Pradana Rizky), Yuyun Discus, dan tentu saja band pengiring Urban Jazz dengan formasi yang hampir sama dengan tahun kemarin.

Untuk new comer, kali ini Eki menggandeng Ipang (BIP) yang di-crossover-kan dengan Dewi Sandra, membawakan singe Bete ciptaan Dewiq. Selain itu Ipang juga berhasil membuat histeria penonton semakin menjadi-jadi dengan membawakan lagu dari Jet, Are You Gonna Be My Girl dan single Enter Sandman dari Metalica.

Tampil pula dua legenda musik Indonesia; Achmad Albar dan Indra Lesmana. Dua musisi luamayan gaek ini memang jadi bonus Urban Jazz tahun ini. Ahmad Albar sendiri berhasil membuat penonton wanita genereasi atas saya untuk menjadi lebih liar. Sedangkan Indra Lesmana tampil kalem di belakang grand pianonya. Tata cahaya yang pas membuat Indra tampak bersinar dari kejauhan. Ia seperti malaikat yang turun membawakan musik jazz dari surga. Hahaha.

Penampilan selanjutnya disusul oleh violinis cantik puol Maylaffayza. Sebagai seorang penerus Idris Sardi, harus saya akui ibu satu anak ini masih bisa tampil seksi. Sandhy Sondoro hadir kemudian dengan membawakan lawas lagu milik Sting, Desert Rose. Saat menyanyikan nomor ini suasana padang pasir meruap ke seluruh ruangan. Apalagi Lengkingan suara Sandhy ditigkahi cerdas oleh Yuyun dan gesekan biola Maylaffayza. Sayang Sandhy tampil cepat. Ia hanya membawakan tiga buah single dan ditutup oleh lagu andalan: Malam Biru. Untungnya lagu terakhir mampu membuat seluruh penonton yang kebanyakan para anak muda kimcil untuk sing-a-long.

Kikan Cokelat jujur saja tampil mengecewakan. Meski ia hadir dengan nomor dahsyat Light My Fire-nya The Doors tapi tampak sangat letoy, mungkin malam itu Kikan sedang dapet. Ia menyanyi begitu malas. Kami juga malas mendengarkannya. Untung saja Kikan tidak banyak membawa lagu. Pertunjukan malas itu segera berganti Ello yang membawakan Iris dari Goo Goo Dolls. Penonton kembali semangat. Apalagi Ello bersusah payah meniru habis gaya Justin Timberlake. Ini yang membuat saya dan para penonton wanita muda menjadi panas.

Selama acara tidak ketinggalan penampilan sexy dancer, sexy dancer dan sexy dancer lagi. Sampai mules saya. Maklum, acara ini diperuntukkan bagi pemilik usia 18+ kawan.

Urban Jazz tahun ini saya rasa lebih kaya akan warna musik. Karena, beberapa pemusiknya tidak hanya melulu berasal dari genre jazz. Sebut saja pendatang baru Sandhy Sondoro, kemudian ada Ello dan Kikan yang berada dalam jalur pop. Kontras dengan Ipang yang membawa nafas semi-rock, seperti bebuyutnya; Achmad Albar yang benar-benar berasal dari genre rock. Awesome.

Banyaknya penonton, membuat mas editor-in chief agak kesulitan untuk mengabadikan momen-momen menarik. Kami juga kebetulan berada dalam kerumunan manusia di shaf nomor lima dari depan yang kurang bagus angle-nya. Ditambah dengan lighting yang kurang tertangkap maksimal. Tapi yasudahlah.

Melihat Urbanjazz Crossover tahun ini, di tengah-tengah acara entah mengapa kami agak jenuh. Mungkin karena pemilihan lagunya yang kurang kami minati, atau karena kami belom makan. Mbuhlah. Yang pasti, kami lebih memilih gelaran Urban Jazz Crossover yang tahun lalu jika dibandingkan dengan tahun ini. Lebih dapet banget feel-nya. Well, so far bagus kok. Hanya kurang gereget aja tahun ini. Mudah-mudahan tahun depan masih bisa nonton Urban Jazz Crossover lagi, amien. Tapi mungkin bukan lagi di kota Surabaya. Haha. Who knows.
Sampai jumpa. []

Admiring Javan Hawk-eagle at Kawah Ratu

Text and photo by Galih Setyo Putro
________________________________________________
Kontributor











Galih Setyo adalah seorang penggiat alam bebas. Aktif di kegiatan kepanduan dan menyukai trekking. Motto hidupnya seperti anak pandu di seluruh dunia; a scout protects nature, a scout is joyful! Sebagai seorang petualang Galih bisa ditemui di blog pribadinya myscoutchemistry.wordpress.com. Saat ini Galih sebagai abdi negara di sebuah departemen yang membidangi pembangunan desa tertinggal. Pekerjaan ini membawa Galih melangkah jauh dan lebih jauh lagi untuk mengenal Indonesia.

________________________________________________


Orang Belanda pernah bilang “..Tuhan menciptakan alam semesta saat tersenyum..” Bisa jadi ini benar dan bukan basa basi belaka. Selain kecantikan mojang Priangan yang tersohor bagi para pria seantero nusantara, panorama tanah Sunda adalah salah satu buktinya.


Kali ini aku berkesempatan untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri keelokan Kawah Ratu, salah satu pesona andalan Bumi Pasundan. Kawah yang masih aktif mengeluarkan sulfatara ini tersembunyi di balik rimbunnya hutan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Meski bermedan sulit, tapi akan akan berusaha menemukan keidahan sejatinya bagi Hifatlobrainers sekalian.

15 April 2010
Ini kunjunganku yg kedua ke Kawah Ratu setelah kunjunganku yang pertama 2 bulan sebelumnya gagal, karena ada tim Pecinta Alam dari salah satu kampus di Jogja yang hilang di kawasan TNGHS. Alhasil, jalur pendakian ditutup untuk sementara waktu. Akhirnya, saat itu aku harus cukup puas setelah hanya diperbolehkan camping di bawah rimbunnya tegakan pinus, dengan bonus melihat Elang Jawa yang hampir punah terbang dengan gagahnya di atas kanopi pohon pinus. Setidaknya cukup menyegarkan setelah penat dengan rutinitas Jakarta.

Bicara tentang Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), melihatnya secara langsung memang sebuah pengalaman langka. Bayangkan saja, ia adalah salah satu satwa endemik yang terancam punah. Pemerintah memasukkan satwa cantik ini ke dalam kategori endangered species. Secara fisik, Elang Jawa memiliki jambul menonjol sebanyak 2-4 helai dengan panjang mencapai 12 cm, karena itu Elang Jawa disebut juga Elang Kuncung. Konon jambul di belakang kepala Garuda mengambil inspirasi dari Elang Jawa. Ukuran tubuh dewasa (dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 60-70 sentimeter, berbulu coklat gelap pada punggung dan sayap. Bercoretan coklat gelap pada dada dan bergaris tebal coklat gelap di perut. Ekornya coklat bergaris-garis hitam. Sangat cantik.

Salah satu tempat yang paling memungkinkan untuk melihat spesies langka ini adalah di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Bisa jadi ini adalah benteng terakhir keberadaan Elang Jawa. Maka silahkan datang ke taman nasional ini. Tapi maaf, aku tidak bisa memberikan gambar bagus Elang Jawa. Gerakannya yang sigap dan cepat tampaknya memang hanya bisa ditangkap oleh kamera dan fotografer profesional. Silahakan Googling saja untuk mengetahui rupanya. Hehehe.

Beberapa waktu setelah gagalnya ekspedisi yang pertama ke Gunun Halimun, Kang Edi, seorang kawan sesama Pramuka mengirim SMS untuk ke Kawah Ratu tanggal 14-16 April 2010. Bak gayung bersambut, aku langsung menyatakan untuk ikut.

Jadilah Sabtu pagi aku berangkat sendirian dari kos di bilangan Petojo menuju Stasiun Jakarta Kota. Ya, jujur saja aku memang lebih suka naik kereta daripada moda transportasi lainnya. Ditambah lagi dengan arsitektur stasiun-stasiun lama yang megah, membuat saya makin jatuh cinta dengan moda transportasi rakyat yang mirip ular ini. Salah satunya stasiun yang aku kagumi adalah Stasiun Jakarta Kota. Oud spoor station ini terletak di kawasan Kota Tua Jakarta yang terkenal dengan arsitektur khas peninggalan Belanda, membuat Stasiun Jakarta Kota sangat menarik disinggahi bagi pecinta heritage trip.

Dari stasiun ini, saya memilih KRL Ekonomi AC yang murah, nyaman dan cepat menuju Bogor. Hanya butuh 1,5 jam untuk sampai ke Stasiun Bogor dengan selamat. Setelah turun dari kereta, saya masih harus berganti angkutan tiga kali lagi untuk sampai di Warung Mang Koko, seorang lelaki paruh baya dengan keramahan khas Sunda yang menjadi sahabat para pendaki Gunung Halimun-Salak. Pos Pendakian hanya terletak sepuluh meter jalan kaki dari Warung Mang Koko yang legendaris ini.

Sesampainya di Pos Pendakian, ternyata sudah ada seorang guide muda yang menunggu. Penunjuk arah ini memang sudah dipesan oleh Kang Edi untuk mengantarkanku sampai Base Camp Satu. Celakanya, begitu sampai di pos pendakian, sang Guide langsung ngajak tancap gas. Walaupun jalur terlihat jelas, tetapi jalan yang menanjak berhasil memaksaku untuk ngos-ngosan dan ginjal yang meraung keras minta istirahat. Untungnya, penderitaan itu hanya berlangsung setengah jam saja karena ternyata sudah sampai di Base Camp Satu. Bang Irenx, temanku, ternyata sudah menunggu di Base Camp ini sejak pagi. Sembari menunggu selama hampir 8 jam, ternyata Bang Irenx iseng membuat hasta karya berupa sendok nasi dari kayu. Hahaha.

Saat istirahat, kami dikagetkan dengan tawa renyah beberapa perempuan. Aku pikir itu suara bidadari turun dari kahyangan, eh ternyata rombongan ibu-ibu dan mbak-mbak dari sebuah kantor yang gila traveling. Mereka tampak enteng saja menghadapi tanjakan curam yang aku lewati tadi. Masih sempat ketawa-ketiwi lagi. Dalam hati tentu saja rasa patriarki menguar. Aku nggak boleh kalah sama rombongan ibu PKK ini!

Perjalanan ke Kawah Ratu akhirnya dilanjutkan, kali ini aku ditemani kak Irenx. Jalur pendakian menuju Kawah Ratu ini khas hutan hujan tropis; sepanjang jalur pendakian nyaris tak pernah tidak ada air. Menyeberang sungai dan menemui curug kecil menjadi pemandangan yang sering dijumpai. Bahkan, jika hujan jalur yang semula terlihat bisa menjadi jalur air. Bisa dikatakan, delapan puluh persen jalur menuju Kawah Ratu merupakan jalur air.


Sebelum sampai di Kawah Ratu, kita akan melewati Kawah Mati Satu dan Kawah Mati Dua yang sekilas mirip Kawah Putih di Ciwidey. Putih, berkabut, dan banyak pohon meranggas.

Setelah dua jam menembus lebatnya hutan TNGHS, akhirnya sampai juga di Kawah Ratu. Subhanallah, indah sekali pemandangannya. Tanah belerang dan kapur berwarna putih mendominasi penglihatanku. Kepulan asap sulfatara menambah kesan mistis di Kawah Ratu. Berbeda dengan kawah lainnya, di Kawah Ratu masih bisa dijumpai aliran sungai. Setidaknya ada tiga sungai di sekitar Kawah Ratu.

Sesampainya di Kawah Ratu, ternyata rombongan Kang Edi yang sudah berangkat sehari sebelumnya sudah menunggu kami. Jadilah sekarang rombongan berjumlah sepuluh orang; enam cowok dan empat cewek. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sebelah barat, lebih dekat dengan sungai yang airnya relatif tawar dibandingkan dua aliran sungai lainnya. Well, baru kali ini kulihat kawah yang di sebelahnya mengalir sungai kecil jernih. Sungguh pemandangan yang outstanding! Apalagi ditingkahi dengan semburan gas sulfatara dan asap dari sumber air panas belerang membuat suasana semakin misty. Kalau pagi hari malah lebih kacau, wahh pemandangannya benar-benar bikin merinding.


Rombongan kami memutuskan turun keesokan harinya (16/04/10), itu juga setelah puas melakukan banyak sesi foto narsistik. Foto sana foto sini. Oh ya, sarapan istimewa pagi itu -walaupun menurut Pak Bondan Winarno tidak memiliki tampilan yang menarik- namun ternyata cukup ampuh untuk memberikan asupan energi bagi tubuh kami yang kedinginan.

Walhasil, kami menempuh jalur turun dengan lebih cepat dari saat kami naik. Kali ini tentu saja; tanpa ngos-ngosan. Hahaha. Jalan kami turun relatif mudah. hanya sayang, rombongan diklat kader salah satu parpol cukup menghambat perjalanan kami. Bayangkan aja seratus orang lebih melewati jalur yang hanya cukup dilewati satu orang! Jadilah kemacetan layaknya kemacetan di tol Jakarta-Bogor kala menjelang long weekend . Hehehe.

Bagi hiker pemula, tidak perlu takut mencoba jalur pendakian Kawah Ratu. Untuk orang dengan kondisi tubuh normal, bisa ditempuh dalam tiga jam. Tidak terlalu memberatkan bukan. Sama seperti mendaki Gunung Ijen, Situbondo lah. Apalagi jalur yang dilewati relatif teduh dan banyak air, tentu saja ini akan semakin mempermudah pejalan.

Seandainya hoki, Anda akan dapat bonus menyaksikan Elang Jawa yang dengan perkasa terbang melintas di atas kepala. It’s really outstanding experience. Selamat jalan-jalan, keep Hifatlobrained! []