Pages

7/18/10

Admiring Javan Hawk-eagle at Kawah Ratu

Text and photo by Galih Setyo Putro
________________________________________________
Kontributor











Galih Setyo adalah seorang penggiat alam bebas. Aktif di kegiatan kepanduan dan menyukai trekking. Motto hidupnya seperti anak pandu di seluruh dunia; a scout protects nature, a scout is joyful! Sebagai seorang petualang Galih bisa ditemui di blog pribadinya myscoutchemistry.wordpress.com. Saat ini Galih sebagai abdi negara di sebuah departemen yang membidangi pembangunan desa tertinggal. Pekerjaan ini membawa Galih melangkah jauh dan lebih jauh lagi untuk mengenal Indonesia.

________________________________________________


Orang Belanda pernah bilang “..Tuhan menciptakan alam semesta saat tersenyum..” Bisa jadi ini benar dan bukan basa basi belaka. Selain kecantikan mojang Priangan yang tersohor bagi para pria seantero nusantara, panorama tanah Sunda adalah salah satu buktinya.


Kali ini aku berkesempatan untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri keelokan Kawah Ratu, salah satu pesona andalan Bumi Pasundan. Kawah yang masih aktif mengeluarkan sulfatara ini tersembunyi di balik rimbunnya hutan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Meski bermedan sulit, tapi akan akan berusaha menemukan keidahan sejatinya bagi Hifatlobrainers sekalian.

15 April 2010
Ini kunjunganku yg kedua ke Kawah Ratu setelah kunjunganku yang pertama 2 bulan sebelumnya gagal, karena ada tim Pecinta Alam dari salah satu kampus di Jogja yang hilang di kawasan TNGHS. Alhasil, jalur pendakian ditutup untuk sementara waktu. Akhirnya, saat itu aku harus cukup puas setelah hanya diperbolehkan camping di bawah rimbunnya tegakan pinus, dengan bonus melihat Elang Jawa yang hampir punah terbang dengan gagahnya di atas kanopi pohon pinus. Setidaknya cukup menyegarkan setelah penat dengan rutinitas Jakarta.

Bicara tentang Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), melihatnya secara langsung memang sebuah pengalaman langka. Bayangkan saja, ia adalah salah satu satwa endemik yang terancam punah. Pemerintah memasukkan satwa cantik ini ke dalam kategori endangered species. Secara fisik, Elang Jawa memiliki jambul menonjol sebanyak 2-4 helai dengan panjang mencapai 12 cm, karena itu Elang Jawa disebut juga Elang Kuncung. Konon jambul di belakang kepala Garuda mengambil inspirasi dari Elang Jawa. Ukuran tubuh dewasa (dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 60-70 sentimeter, berbulu coklat gelap pada punggung dan sayap. Bercoretan coklat gelap pada dada dan bergaris tebal coklat gelap di perut. Ekornya coklat bergaris-garis hitam. Sangat cantik.

Salah satu tempat yang paling memungkinkan untuk melihat spesies langka ini adalah di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Bisa jadi ini adalah benteng terakhir keberadaan Elang Jawa. Maka silahkan datang ke taman nasional ini. Tapi maaf, aku tidak bisa memberikan gambar bagus Elang Jawa. Gerakannya yang sigap dan cepat tampaknya memang hanya bisa ditangkap oleh kamera dan fotografer profesional. Silahakan Googling saja untuk mengetahui rupanya. Hehehe.

Beberapa waktu setelah gagalnya ekspedisi yang pertama ke Gunun Halimun, Kang Edi, seorang kawan sesama Pramuka mengirim SMS untuk ke Kawah Ratu tanggal 14-16 April 2010. Bak gayung bersambut, aku langsung menyatakan untuk ikut.

Jadilah Sabtu pagi aku berangkat sendirian dari kos di bilangan Petojo menuju Stasiun Jakarta Kota. Ya, jujur saja aku memang lebih suka naik kereta daripada moda transportasi lainnya. Ditambah lagi dengan arsitektur stasiun-stasiun lama yang megah, membuat saya makin jatuh cinta dengan moda transportasi rakyat yang mirip ular ini. Salah satunya stasiun yang aku kagumi adalah Stasiun Jakarta Kota. Oud spoor station ini terletak di kawasan Kota Tua Jakarta yang terkenal dengan arsitektur khas peninggalan Belanda, membuat Stasiun Jakarta Kota sangat menarik disinggahi bagi pecinta heritage trip.

Dari stasiun ini, saya memilih KRL Ekonomi AC yang murah, nyaman dan cepat menuju Bogor. Hanya butuh 1,5 jam untuk sampai ke Stasiun Bogor dengan selamat. Setelah turun dari kereta, saya masih harus berganti angkutan tiga kali lagi untuk sampai di Warung Mang Koko, seorang lelaki paruh baya dengan keramahan khas Sunda yang menjadi sahabat para pendaki Gunung Halimun-Salak. Pos Pendakian hanya terletak sepuluh meter jalan kaki dari Warung Mang Koko yang legendaris ini.

Sesampainya di Pos Pendakian, ternyata sudah ada seorang guide muda yang menunggu. Penunjuk arah ini memang sudah dipesan oleh Kang Edi untuk mengantarkanku sampai Base Camp Satu. Celakanya, begitu sampai di pos pendakian, sang Guide langsung ngajak tancap gas. Walaupun jalur terlihat jelas, tetapi jalan yang menanjak berhasil memaksaku untuk ngos-ngosan dan ginjal yang meraung keras minta istirahat. Untungnya, penderitaan itu hanya berlangsung setengah jam saja karena ternyata sudah sampai di Base Camp Satu. Bang Irenx, temanku, ternyata sudah menunggu di Base Camp ini sejak pagi. Sembari menunggu selama hampir 8 jam, ternyata Bang Irenx iseng membuat hasta karya berupa sendok nasi dari kayu. Hahaha.

Saat istirahat, kami dikagetkan dengan tawa renyah beberapa perempuan. Aku pikir itu suara bidadari turun dari kahyangan, eh ternyata rombongan ibu-ibu dan mbak-mbak dari sebuah kantor yang gila traveling. Mereka tampak enteng saja menghadapi tanjakan curam yang aku lewati tadi. Masih sempat ketawa-ketiwi lagi. Dalam hati tentu saja rasa patriarki menguar. Aku nggak boleh kalah sama rombongan ibu PKK ini!

Perjalanan ke Kawah Ratu akhirnya dilanjutkan, kali ini aku ditemani kak Irenx. Jalur pendakian menuju Kawah Ratu ini khas hutan hujan tropis; sepanjang jalur pendakian nyaris tak pernah tidak ada air. Menyeberang sungai dan menemui curug kecil menjadi pemandangan yang sering dijumpai. Bahkan, jika hujan jalur yang semula terlihat bisa menjadi jalur air. Bisa dikatakan, delapan puluh persen jalur menuju Kawah Ratu merupakan jalur air.


Sebelum sampai di Kawah Ratu, kita akan melewati Kawah Mati Satu dan Kawah Mati Dua yang sekilas mirip Kawah Putih di Ciwidey. Putih, berkabut, dan banyak pohon meranggas.

Setelah dua jam menembus lebatnya hutan TNGHS, akhirnya sampai juga di Kawah Ratu. Subhanallah, indah sekali pemandangannya. Tanah belerang dan kapur berwarna putih mendominasi penglihatanku. Kepulan asap sulfatara menambah kesan mistis di Kawah Ratu. Berbeda dengan kawah lainnya, di Kawah Ratu masih bisa dijumpai aliran sungai. Setidaknya ada tiga sungai di sekitar Kawah Ratu.

Sesampainya di Kawah Ratu, ternyata rombongan Kang Edi yang sudah berangkat sehari sebelumnya sudah menunggu kami. Jadilah sekarang rombongan berjumlah sepuluh orang; enam cowok dan empat cewek. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sebelah barat, lebih dekat dengan sungai yang airnya relatif tawar dibandingkan dua aliran sungai lainnya. Well, baru kali ini kulihat kawah yang di sebelahnya mengalir sungai kecil jernih. Sungguh pemandangan yang outstanding! Apalagi ditingkahi dengan semburan gas sulfatara dan asap dari sumber air panas belerang membuat suasana semakin misty. Kalau pagi hari malah lebih kacau, wahh pemandangannya benar-benar bikin merinding.


Rombongan kami memutuskan turun keesokan harinya (16/04/10), itu juga setelah puas melakukan banyak sesi foto narsistik. Foto sana foto sini. Oh ya, sarapan istimewa pagi itu -walaupun menurut Pak Bondan Winarno tidak memiliki tampilan yang menarik- namun ternyata cukup ampuh untuk memberikan asupan energi bagi tubuh kami yang kedinginan.

Walhasil, kami menempuh jalur turun dengan lebih cepat dari saat kami naik. Kali ini tentu saja; tanpa ngos-ngosan. Hahaha. Jalan kami turun relatif mudah. hanya sayang, rombongan diklat kader salah satu parpol cukup menghambat perjalanan kami. Bayangkan aja seratus orang lebih melewati jalur yang hanya cukup dilewati satu orang! Jadilah kemacetan layaknya kemacetan di tol Jakarta-Bogor kala menjelang long weekend . Hehehe.

Bagi hiker pemula, tidak perlu takut mencoba jalur pendakian Kawah Ratu. Untuk orang dengan kondisi tubuh normal, bisa ditempuh dalam tiga jam. Tidak terlalu memberatkan bukan. Sama seperti mendaki Gunung Ijen, Situbondo lah. Apalagi jalur yang dilewati relatif teduh dan banyak air, tentu saja ini akan semakin mempermudah pejalan.

Seandainya hoki, Anda akan dapat bonus menyaksikan Elang Jawa yang dengan perkasa terbang melintas di atas kepala. It’s really outstanding experience. Selamat jalan-jalan, keep Hifatlobrained! []

No comments: