Pages

7/30/10

The Bucket List dan Kopi Luwak


"Saya jadi percaya kata-kata: Rezeki itu selalu ada, di waktu yang tepat, di saat yang tepat, dengan jumlah yang tepat, dan terbaik untuk diri kita sendiri..."

Anda pernah lihat film The Bucket List? Film yang dibintangi oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman ini sebetulnya udah lama sih, produksi tahun 2007 gitu. Saya tertarik untuk lihat film ini karena salah satu soundtracknya dinyanyikan oleh kembaran saya; John Mayer.

Sebetulnya ada cerita nggak enak. Jadi, saya sudah berburu film ini sejak hampir satu setengah tahun yang lalu. Selama masa perburuan itu selalu saja ada cerita nggak enak. Pertama, saya ke rental VCD, saya bilang mau pinjem The Bucket List, tapi mas penjaganya bilang kalo,"Filmnya baruuu saja keluar!," dan itu membuat saya menggerutu dalam hati. "Kapan balik mas?" masnya menjawab,"Mungkin tiga hari lagi Yos..."

Kedua, ini settingnya adalah hari ketiga setelah saya gagal pinjam waktu itu. Saya kembali ke rental yang sama. Kenapa tidak mencoba rental lain? Pasti sidang pembaca yang berbahagia bertanya seperti itu dalam hati. Mari saya jawab. Ini adalah rental langganan saya sejak SMA. Dulu saya selalu datang setiap weekend ke rental yang punya dua cabang di sekitar kampus Unej ini. Semua penjaganya saya kenal. Saya sering diperbolehkan berlama-lama membaca Movie Monthly dan Cinemagz langganan mereka. Saya sering diskusi film terbaru dengan para penjaga yang semua cowok ini. Lebih berbahagia lagi -karena saya adalah pelanggan jujur - tepat waktu - dan ganteng- maka saya kadangkala dipersilahkan untuk ngutang atau pinjem film tanpa KTP. Hehehe.

Oh maaf kembali ke kasus. Jadi saya kan kembali ke rentalan setelah jeda tiga hari. Saya pikir The Bucket List sudah setia menunggu saya. Saat saya datang dan belum mengucap sepatah kata pun, seorang penjaga berbodi cungkring yang dulu gondrong dan sekarang tidak itu teriak,"Wah Yos, The Bucket List baruuuu aja dipinjem lagi." Saraaaaappppp! Batin saya memaki. Rasanya saya ingin membakar seluruh bangunan rental ini. Tapi sebelumnya saya akan menyelamatkan beberapa film favorit: Sahwsank Redemption, Big Fish, dan Schlinder's List. Kalo genre film Thailand, India, dan horor Indonesia mah sudah saya siram bensin paling pertama. Hehehe.

Kejadian ini membuat saya ilfil untuk berburu film The Bucket List.

Tapi gairah itu muncul kembali setelah saya punya modem EVDO. Waktu itu masih kuenceng-kuencengnya. Ini adalah usaha saya yang ketiga untuk berburu The Bucket List, jadi waktu itu saya iseng memenuhi playlist saya dengan akang John Mayer. Lha ndilalah kok saya denger single "Say" yang merupakan soundtrack film The Bucket List. Saya jadi kepikiran film ini lagi. Akhirnya setelah beberapa menit browsing, saya nawaitu untuk mendonlot film sialan ini dari server IDWS.

Tidak perlu lama bagi EVDO untuk menyedot The Bucket List hingga ke akar-akarnya. File sebesar ratusan mega bit yang terbagi menjadi beberapa bagian di Rapidshare berhasil saya donlot tidak sampe dua jam. Saya gembira bukan kepalang. Maunya setelah saya unzip langsung saya carikan subtitle yang cocok dan saya tonton sampai mblenger.

Ternyata cita-cita saya menguap percuma. File yang saya unduh dengan penuh peluh itu ternyata corrupt. Shit.

Usaha keempat saya, tidak akan saya ceritakan dengan penuh semangat seperti yang sudah. Saat itu saya ke Malang bersama Nuran. Kebetulan teman saya yang di Malang memiliki file film The Bucket List dalam PC-nya. Bodohnya: saya tidak membawa flashdisk saat itu. Mengapa tak kau tonton langsung di PC temanmu? Pasti sidang pembaca yang terhormat bertanya seperti itu di dalam hati yang terdalam. Mari saya jawab. Karena saat itu saya tidak kepikiran. Maaf ya.

Intinya: saya sudah mulai merasa bahwa film ini bukan jodoh saya.

Hingga kemarin. Saat saya dan Nuran pulang dari sebuah perkebunan kopi di daerah Bondowoso dalam rangka riset tentang kopi luwak, entah mengapa saya jadi inget film ini lagi. Jadilah Nuran mengantarkan saya ke beberapa rental VCD, dan kami menemukan The Bucket List di rental bernama Miracle.

Akhirnya saya bisa menemukan film ini, yeaaahhh! Jujur saja, saya gembira bukan main. Saya harus berterima kasih banyak sama Nuran yang rela meminjamkan kartu mahasiswa dengan foto monyet (atau itu foto wajah Nuran? Saya bingung) untuk menjadi jaminan. Barangkali di alam bawah sadar saya, film ini sudah menjadi obsesi yang sangat kuat. Sehingga pertemuan dengan film ini saya ibaratkan sebagai momen terindah kelima setelah momen saya wisuda, acara ijab kabul, kelahiran anak pertama, dan Edy Tansil pulang ke Indonesia. Ini adalah sebuah keajaiban. Miracle.

Tapi inti cerita postingan ini bukan curhat colongan seperti yang sudah saya tulis di atas. Sebetulnya saya mau cerita kalo dalam film The Bucket List, Jack Nicholson sebagai seorang pengusaha tua yang sekarat adalah pecinta kopi paling mahal di dunia: Kopi Luwak.


Skrinsyut diatas diambil dari blog
Kementrian Desain Republik Indonesia


Banyak momen yang memunculkan kopi luwak sebagai empasis dan menonjolkan minuman ningrat ini. Saya jadi merasa kebetulan, ini adalah sebuah pertemuan agung yang menguntungkan! Setelah berburu kopi luwak, eh liat film The Bucket List yang bercerita tentang kopi luwak. Saya jadi memiliki banyak opsi dan ide untuk penulisan artikel yang saya lakukan.

Saya jadi percaya kata-kata: Rezeki itu selalu ada, di waktu yang tepat, di saat yang tepat, dengan jumlah yang tepat, dan terbaik untuk diri kita sendiri. Kalo Tuhan belum kasih keinginanmu saat ini, mungkin saatnya belum tepat, mungkin itu akan mendatangkan kerugian buat kita, dan Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik. Saya jadi sangat percaya kata-kata ini!

Tidak banyak yang bisa saya tulis tentang perjalanan berburu kopi luwak yang saya dan Nuran lakukan. Kami sedang menulisnya dengan serius. Tapi nanti pasti kami ceritakan secara detail. Makasih sidang jamaah Hifatlobrain sekalian sudah membaca postingan hari Jumat, semoga kita sekalian diberikan kelapangan hati dan rezeki yang melimpah ruah untuk beli Sour Sally.

Sekilas inpotainment: ini adalah gambar dua orang nenek tua pencari kopi luwak. Nenek Sarna dan nenek Misari yang membantu kami menemukan kopi paling mahal di dunia. Kami mencari dengan teliti di antara rerimbunan pohon Arabica.

Saya sudahi dulu ya. Ini ada banyak tawaran khotbah sholat Jumat. Tapi saya pilih pengundang dari Papua, karena setelah kotbah saya mau diantar diving di Raja Ampat.

Keep Hifatlobrained!
Assalaamualaikum ya Akhi!

6 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

Tuhan, gaya tulisan bos saya lebay sekali... sepertinya dia kemasukan sesuatu di Ijen :p
Tapi Alhamdulillah, saya suka ceracauan ini en i love Sour Sally... Keep froyo-ing..

Giri Prasetyo said...

hahahahaha,menonton film ini dulu saya jadi merasa nonton brokeback mountain.:))
udah pernah dibahas di KDRI bang, yang masalah screenshot kopi luwak sumatra itu...

saya sebenernya pingin posting screenshot film ke KDRI dulu, ada toko rempah-rempah khas indonesia di film No Reservation yang dibintangi Cath Zena Jones, Aaron Eskhart, dan si imut Abigail Breslin.

Ajeng said...

Hwahahaha, ngakak saya bacanya! :)) Iya Put, lebay banget tapi menghibur! Hehehehe...

Kang Eko said...

mosok jadi lebay mas ayos mbak dwi ? hehehehe

didut said...

Luwakkkkk *yg jualan kopi luwak* :))

KEMENTERIAN DESAIN INDONESIA said...

@giri
kirim dong skrinsutnya film no reservation :)