Pages

7/18/10

In Merapi We Trust

Teks Oleh: Ardi Wilda
Foto: Ardi Wilda dan Faizal Afnan

________________________________________________
Kontributor











Ardi Wilda Irawan
Mahasiswa semester akhir Ilmu Komunikasi UGM yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Bercita-cita memiliki sebuah TK. Sedang mempersiapkan nama untuk tiga anaknya kelak. "Emang namanya siapa We?" kata saya suatu saat,"Lili, Nixi, dan Nanar," Kata Awe enteng. Selain bergulat dengan skripsi juga mengkontribusikan tulisannya di sebuah majalah musik nasional dan sebuah majalah lifestyle lokal Jogja. Bisa ditemui di blog baru yang ia dirikan, www.katakom.com atau melalui email di ardiwilda@yahoo.com.

Ini adalah tulisan pertama Ardi Wilda untuk Hifatlobrain.












Faizal Afnan
Adalah teman Ardi Wilda. Mahasiswa semester tiga Komunikasi UGM yang memiliki hobi mendaki gunung. Selain kuliah juga aktif di kegiatan Pers Mahasiswa sebagai fotografer dan menjadi pengurus sebuah unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang fotografi.

________________________________________________



Kabut berwarna putih tebal tampak masih menyelimuti kawasan Gunung Merapi pada Selasa pagi 13 Juli lalu. Matahari yang sedianya muncul pukul enam pagi belum menampakkan diri di lereng gunung berketinggian 2.968 meter ini. Perpaduan kabut yang tebal dan matahari yang masih bersembunyi di balik awan membuat penduduk setempat menggunakan jaket tebal untuk menghalau hawa dingin menusuk tulang. Beberapa orang bahkan tampak menggosok-gosokkan telapak tangan sekedar untuk memberi kehangatan sementara di tubuh mereka.

Tak seperti kebanyakan penduduk yang pagi itu merasakan kedinginan, beberapa orang paruh baya justru mulai mempersiapkan diri untuk mendaki Gunung Merapi yang kondisinya jelas lebih dingin. Para pria paruh baya yang siap mendaki mengenakan pakaian sorjan bercorak biru dan hitam dengan mengenakan blangkon khas Jogja yang memiliki mondolan atau semacam jendolan di belakang blangkon yang merupakan pembeda antara blangkon Solo dengan Jogja.

Sementara itu para wanita paruh baya mengenakan kebaya berwarna hitam polos dengan bawahan kain, beberapa diantaranya juga menyanggul rambutnya dengan rapi. Mereka adalah Abdi Dalem Kawasan Merapi yang pagi itu akan melawan hawa dingin dan terjalnya jalur pendakian Gunung Merapi untuk melaksanakan upacara sakral tahunan bernama Labuhan Merapi.

Upacara adat Labuhan Merapi merupakan sebuah ritual untuk memperingati Jumenengen Ndalem (naik tahta) Sri Sultan Hamengkubuwono X yang dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb atau menjelang tanggal 1 Ruwah pada tanggalan Jawa. Setiap tahun ada dua tempat yang dijadikan tempat Labuhan, Pantai Parangkusumo merupakan tempat selain Gunung Merapi yang menjadi tempat diadakannya Labuhan. Namun Labuhan Merapi memiliki rangkain yang lebih lama dan kompleks ketimbang labuhan Parangkusumo.

Selain ditujukan sebagai peringatan naik tahta Sri Sultan, ada juga yang menyatakan kalau Labuhan Merapi terkait erat dengan sejarah Merapi lebih tepatnya sejarah mengenai penguasa Gunung Merapi. Maka dari itu Labuhan ini identik dengan Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, Branjang Kawat, Sapu Angin, Mbah lembang Sari, Mbah Nyai Gadhung Wikarti dan Kyai Mergantoro yang semuanya merupakan nama mitikal penguasa Merapi. Labuhan ini ditujukan untuk menghormati para penguasa tersebut dengan memberi berkah yang akan dibawa dari kediaman juru kunci Merapi sampai tempat diadakannya Labuhan.

Dalam konteks kekinian Labuhan Merapi juga ditujukan untuk memohon agar Gunung Merapi tidak meletus. Kedekatan masyarakat Jogja dengan meletusnya Gunung Merapi memang tak bisa terbantahkan, beberapa kali Gunung Merapi dengan wedus gembelnya yang terkenal itu mencemaskan warga sekitar Merapi. Bahkan diperkirakan letusan yang terjadi pada tahun 1006 selain membuat bagian tengah Pulau Jawa berselimut abu putih juga membuat Kerajaan Mataram Kuno harus pindah ke Jawa Timur.

Sejarah juga terus mencatat aktivitas Gunung Merapi beberapa kali mencemaskan warga yang tinggal di sekitar gunung tersebut. Terakhir gunung ini memperlihatkan tanda-tanda akan meletus pada tahun 2006 lalu. Pada saat gempa besar menimpa Jogja bahkan warga Jogja mengira hal itu dikarenakan Gunung Merapi meletus padahal nyatanya disebabkan karena gempa bumi dengan kekuatan yang besar.

Pada saat aktivitas Gunung Merapi mulai aktif di tahun 2006 pemerintah bahkan sudah mengintruksikan warga sekitar lereng untuk mengungsi. Namun Juru Kunci Gunung Merapi yakni Ki Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan Mbah Marijan mengatakan bahwa aktivitas Merapi tak perlu dicemaskan.

Sejak saat itu pula nama Mbah Marijan mencuat ke publik, bahkan ia menjadi bintang iklan minuman energi dengan teriakan khasnya, “Roso!” yang berarti 'kuat' dalam Bahasa Indonesia. Labuhan ini tentunya ditujukan agar aktivitas Gunung Merapi yang berbahaya tidak terjadi lagi.

Rangkain Labuhan Merapi dimulai sehari sebelum para Abdi Dalem kawasan Gunung Merapi mendaki Gunung Merapi untuk memberi berkah tepatnya pada Senin 12 Juli lalu. Acara awal itu berupa seserahan secara simbolis Ubarampe dari Kraton Ngayogyakarta oleh seorang utusan yang ditunjuk Sri Sultan Hamengkubuwono X kepada Camat kawasan Cangkringan. Setelah Ubarampe diterima Camat maka akan dilanjutkan dengan menyerahkan Ubarampe kepada juru kunci Gunung Merapi yakni Mbah Marijan.

Ubarampe sendiri merupakan perlengkapan sesaji yang digabungkan dalam sebuah peti untuk labuhan. Ubarampe berbentuk seperti sebuah peti untuk mengangkut jenazah dengan panjang sekitar satu setengah meter. Ubarampe dicat merah dan dilapisi kain bercorak diatasnya. Diatas Ubarampe terdapat hiasan berbentuk tanduk berwarna emas. Pada saat Labuhan, Ubarampe akan digotong oleh beberapa Abdi Dalem sambil mendaki Gunung Merapi.

Isi Ubarampe sendiri terdiri dari barang-barang yang akan dilabuh. Ada lima jenis kain di Ubarampe yakni kain limar, destar (bahan untuk blangkon yang masih berbentuk kain), semekan gadung (kain berwarna hijau), gadung melati (berwarna hijau dengan list warna putih di ujungnya), dan peningset udaraga. Sementara barang-barang lain selain kain yang ada di Ubarampe antara lain wewangian, uang cindik (uang yang terbuat dari kain cindik dan hanya terdapat di Kraton), ratus (semacam rokok) dan lapak (pelana kuda).

Setelah upacara penyerahan Ubarampe selesai dilakukan, rangkaian Labuhan Merapi dilanjutkan dengan Kirab Budaya. Arak-arak ini dilakukan oleh Prajurit Gandungarum dari kawasan Kaliadem, Desa Ngrangkah kawasan lereng Gunung Merapi menuju rumah juru kunci Merapi Mbah Marijan yang bernama resmi Ki Surakso Hargo. Kirab budaya ini dilaksanakan pada pukul tiga sore di hari yang sama dengan penyerahan Ubarampe pada Mbah Maridjan. Pada malam harinya dilaksanakan kenduri wilujengan atau syukuran dengan hiburan Macapatan oleh Paguyuban Sekar Cangkring Manunggal di rumah Mbah Marijan.

Barulah esok paginya, pada tahun ini jatuh pada Selasa tanggal 13 Juli 2010, beberapa Abdi Dalem akan membawa Ubarampe dari kediaman Rumah Mbah Marijan menuju Kendit 2 atau lebih dikenal dengan Labuhan karena di tempat inilah Labuhan dilaksanakan. Kendit 2 sendiri pada hari biasa diperuntukan sebagai pos kedua pendakian merapi dari jalur Desa Cangkringan.

Sebelum membawa Ubarampe ke Kendit 2 diadakan semacam upacara pelepasan terlebih dahulu di Rumah Mbah Marijan. Semestinya perjalanan atau kirab membawa Ubarampe yang dilakukan oleh Abdi Dalem dan utusan dari Kraton dipimpin langsung oleh juru kunci Gunung Merapi.

Sayangnya pada tahun ini kondisi fisik Mbah Marijan yang mulai menua membuat dirinya tak lagi roso atau kuat untuk mendaki sampai ke pos 2 pendakian Gunung Merapi. Ditambah kondisi kesehatan Mbah Marijan yang tidak fit membuat dirinya urung untuk naik sampai Kendit 2 Merapi. “Untuk Labuhan di Kendit 2 Mbah Marijan tidak dapat ikut karena kondisinya belum fit pasca operasi hernia beberapa waktu yang lalu,” tutur putra Mbah Marijan menjelaskan kondisi fisik ayahnya. Pada kesempatan tahun ini anak Mbah Marijan-lah yang menggantikan posisi ayahnya untuk memimpin rombongan.

Setelah pelepasan oleh Mbah Marijan maka rombongan mulai menuju Kendit 2 tepat pada pukul enam pagi di hari Selasa yang amat dingin tersebut. Adalah sebuah perjalanan berat bagi Abdi Dalem untuk mendaki sampai ke Kendit 2. Banyak faktor yang membuat perjalanan para Abdi Dalem terasa berat. Pakaian lurik tipis yang mereka gunakan jelas membuat tubuh mereka harus bersahabat dengan suhu gunung Merapi yang amat dingin pagi itu. Ujian lain adalah mereka semua harus menggunakan selop sebagai alas kaki saat mendaki, padahal jalanan terjal bebatuan jelas tak bersahabat dengan sepatu tipis macam selop. Dan yang paling berat adalah mereka harus mendaki dengan mengangkut Ubarampe yang beratnya tak main-main karena terbuat dari kayu. namun diantara yang terberat adalah kewajiban mereka untuk tak boleh beristirahat saat menjalani kirab sampai ke Kendit 2.

Berhenti atau istirahat saat kirab merupakan hal yang tabu untuk dilakukan bagi para Abdi Dalem, tentunya hal itu sangat berat untuk dijalankan. Sebagai perbandingan penulis harus beristirahat sekitar lima kali karena jalur yang curam membuat kaki letih untuk melangkah.

Sedikit menguntungkan bagi para Abdi Dalem dan beberapa orang yang hendak menyaksikan ritual ini adalah jalur pendakian Merapi sebelumnya telah dibersihkan dari ilalang untuk kepentingan Labuhan. Upaya membersihkan jalan tersebut tentunya membuat perjalanan sedikit lebih mudah karena tanah menjadi tidak terlalu licin dan kaki menjadi tidak gatal karena tertusuk oleh ilalang. Di pinggiran jalan juga dibuat jalur lintasan air sehingga tak membuat jalan pendakian licin bila hujan turun. Namun tetap saja tak adanya ilalang dan dibuatnya jalur air tak banyak membantu karena curamnya jalur pendakian dan dinginnya hawa di pagi itu membuat beberapa wisatawan yang ingin melihat upacara Labuhan harus beristirahat beberapa kali. Raut muka beberapa wisatawan asing bahkan terlihat memerah karena keletihan mendaki.

Sekitar pukul delapan rombongan sampai di pos pemberhentian pertama yang merupakan pos 1 pendakian Merapi. Disana dilaksanakan ritual menaruh sesaji yang ditujukan untuk permisi bagi ‘penghuni’ di daerah sana. Doa-doa dan penaruhan sesaji berlangsung sekitar lima belas menit untuk kemudian rombongan Abdi Dalem melanjutkan perjalanan untuk melakukan acara inti melabuh di Kendit 2. Hanya di pos 1 pendakian merapi inilah para Abdi Dalem bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang lebih berat lagi.

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara pendakian dari kediaman Mbah Marijan menuju Pos 1 Pendakian Gunung Merapi dengan perjalanan dari Pos 1 menuju Kendit 2. Pendakian menuju Pos 1 akan sangat dibantu dengan pohon-pohon yang menutupi arah sinar matahari sehingga kita tak langsung menghadap matahari sementara perjalanan dari pos 1 menuju kendit 2 kita akan mengarah langsung ke matahari. Tentunya hal itu kurang menguntungkan karena selain membuat penglihatan silau hal itu juga akan membuat badan kita kegerahan walaupun hawa dingin masih terasa. Beberapa wisatawan saat menuju Kendit 2 dari pos 1 pendakian Merapi bahkan tampak membuka jaketnya untuk menghindari tubuhnya kegerahan. Sedikit tak enak memang rasanya ketika badan berkeringat terkena matahari di tengah suhu gunung yang dingin.

Saat menuju Kendit 2 yang juga menjadi masalah adalah jalanan mulai berbelok-belok. Di Pos 1 jalanan memang curam namun arahnya biasanya lurus dan tak berbelok-belok sementara setelah pos 1 kita harus menemui jalanan curam yang berbelok-belok. Jalanan berbelok tentu akan sangat menyulitkan bagi beberapa Abdi Dalem yang menggotong Ubarampe.

Setelah melewati beberapa tanjakan curam yang berbelok rombongan Kirab Labuhan sampai di Kendit 2 sekitar pukul pukul 09.30. Kendit 2 sendiri yang sehari-hari dijadikan Pos 2 Pendakian Gunung Merapi luasnya sama dengan dua kali lapangan badminton. Gerbangnya berbentuk seperti gerbang-gerbang khas arsitektur Jawa dengan susunan yang bertingkat-tingkat. Kita misalnya bisa menemui gerbang semacam ini di pelataran gerbang Masjid Agung Kotagede, Jogja. Tepat di depan gerbang Kendit 2 Merapi kita akan menemui sebuah batu besar dengan ukiran logo Kraton Jogja di permukaannya. Batu besar ini lebih tinggi sekitar satu meter dari tinggi orang dewasa dengan ukiran logo Kraton tepat di tengahnya.

Di belakang batu besar berukir logo Kraton Jogja terdapat semacam pendopo yang digunakan untuk menaruh Ubarampe dan sajian-sajian untuk Labuhan. Di kiri dan kanan pendopo terdapat dua buah bangunan kecil dari kayu untuk menaruh sesaji ketika upacara dilakukan. Bangunan tersebut tingginya kira-kira setinggi betis orang dewasa.

Ubarampe diletakkan di pendopo utama, kemudian kelima jenis kain yang terdapat di dalamnya digelar berjajar di pendopo ini. Di bawah jajaran kain tepatnya di anak tangga pendopo berjejer beberapa peralatan yang digunakan untuk seserahan. Setelah semua bahan untuk sesaji disiapkan maka upacara Labuhan pun dimulai. Doa-doa mulai dipanjatkan agar Gunung Merapi tidak menampakkan aktivitas yang membahayakan.

Selesai memanjatkan doa-doa Abdi Dalem kemudian menyiapkan berkah yang akan diberikan pada para warga dan wisatawan yang ikut menyaksikan upacara Labuhan Merapi. Berkah tersebut ditujukan agar para penerima berkah ikut mendoakan agar Gunung Merapi tak meletus. Bentuk berkah itu sendiri sangat sederhana, hanya sekitar tiga sendok makan nasi putih dengan ayam goreng yang dipotong kecil-kecil atau dalam istilah Jawa disuwir. Nasi dan ayam itu kemudian dimasukkan dalam plastik bening yang biasa digunakan untuk membuat es batu. Setiap pengunjung akan diberikan satu bungkus berkah tersebut ketika akan pulang.

Setelah semua pengunjung pulang barulah seorang atau beberapa utusan yang telah ditunjuk dari Kraton membawa berkah menuju puncak Merapi. Seorang Abdi Dalem yang mengantar menuturkan bahwa si utusan baru akan berangkat menuju puncak Merapi ketika semua pengunjung sudah pulang terlebih dahulu. “Nunggu semua yang ada pulang dulu, ya ibaratnya tidak enak kalau masih ada tamu terus ditinggal,” tuturnya. Sementara Abdi Dalem lainnya akan turun kembali sambil membawa Ubarampe.

Sekitar pukul 10.30 kegiatan Labuhan Merapi selesai, Abdi Dalem yang mengangkut Ubarampe turun terlebih dahulu disusul oleh beberapa Abdi Dalem lainnya. Kabut putih yang amat tebal tadi pagi sudah tak tampak lagi ketika rombongan Abdi Dalem tiba kembali di kediaman Mbah Marijan. Dari Masjid yang terletak sekitar tiga ratus meter dari kediaman Mbah Marijan tampak Mbah Marijan sedang mengambil air wudhu untuk melaksanakan Sholat Dzuhur. Lamat-lamat tampak ia berdoa setelah wudhu, di depannya Gunung Merapi berdiri dengan indahnya.

Labuhan Merapi yang rutin diadakan setahun sekali memberi gambaran jelas tentang bagaimana manusia menghormati alamnya. Ini bukan sekedar ritual biasa, ribuan jejak kaki yang dilalui dari kediaman Mbah Marijan sampai tempat dilaksanakannya Labuhan Merapi membawa kita pada perenungan lebih dalam mengenai relasi alam dengan manusia. Manusia hanya bisa berharap dan berusaha namun bila alam berkehendak lain tentunya ceritanya akan berbeda. []

5 comments:

Anonymous said...

let go to your hell...mbah marijan,,,,

Anonymous said...

Baik Islam yang bertuhan Allah,
Kristen yang bertuhan Jesus,
Hindu yang bertuhan Brahmana
Budha yang bertuhan sang Budha Gautama.
semua pasti akan menolak jika pengikutnya menyembah Gunung dan Jin.

Anonymous said...

Hai kau... kalian... yang hidup di dunia hanya memikirkan surga.... cepat lah mati saja. cepat cepatlah menuju akhiratmu. biar kalian dapat lebih cepat melihat surgamu. your f u c k i n jannah.... kalian hanya mengotori dunia ku dengan ocehanmu...

Anonymous said...

kalau hanya ngomong, anak bayi juga bisa...
kalau hanya ngoceh, burung pun juga bisa...
kalau asal bunyi, kentut pun juga bisa...
kalau merasa lebih pintar dari mereka yg dimerapi,kenapa hanya ngomong, ngoceh, asbun?
kalian pernah hidup di antara mereka?
memahami pikiran mereka?
tau cara hidup mereka?
ak yakin jawaban kalian "TIDAK"...
turun langsung dihadapan mereka baru ngomong...
jangan sombong dan takabur...
sombong dan takabur sifat jin/setan..

Tulus Subardjono said...

Kearifan budaya hanya bisa dengan perhormatan terhadap kreasi dan perbedaan yang ada pada manusia.
Agama menurut saya adalah ideologi anti mistik yang menggunakan mistik, artinya tidak mempercayai tahayul namun dengan argumen tahayul juga. Tapi ini adalah bagian dari perbedaan yang juga harus dihormati. Tidak usah ditanggapi serius apabila ada cacimaki yang berlandas agama atau keyakinan mereka, biarkan saja...
Teruskan reportase budaya.. sangat indah dan menambah kaya batin dan penghormatan pada manusia dan amal semesta..