Pages

7/18/10

Malang Tempo Doeloe 2010


Text and photo by Irma Cupan
________________________________________________
Kontributor












Irma adalah seorang pemudi berakhlak Islami, karena ia adalah cucu dari Pak Aspan. Menggemari traveling sejak hampir setahun lalu. Gadis manis ini mencintai fotografi dan ngupil. Konon sangat suka sea food dan untuk hobinya yang satu ini ia rela keliling kota Surabaya untuk cari yang paling murah. Berstatus hai kualiti jombo. Silahkan japri kepada Dwi Putri sebagai agen.

Ini adalah postingan pertama Irma Cupan untuk Hifatlobrain.

________________________________________________


Alkisah, bulan itu saya mendengar gosipan dari teman-teman yang lagi heboh ngomongin tentang event Malang Tempoe Doeloe. Dari nama dan ejaannya saja sudah bisa ditebak, pasti ini acara yang berbau-bau vintage. Sebuah acara tahunan yang sudah digelar untuk kali kelima di kota Malang, tepatnya di sepanjang Jalan Ijen.

Jiwa traveler saya terusik dan tergoda untuk mengunjungi kota yang hanya memakan waktu dua jam dari Surabaya ini.

Gosipnya sih, acara ini ngga pernah rame, tapi ruuuammeee banget. Hehehe. Sejauh mata memandang cuman punggung orang-orang yang terlihat. Wuaaa… saya sendiri sebenernya ndak terlalu suka keramaian, tapi bak orang hamil yang lagi ngidam, saya penasaran banget pengen memijakkan kaki di venue MTD. Terlalu lama menjadi anak gaul metropolitan bikin saya pingin balik ke suasana jaman dulu. Hehe..

Then, tanpa ada halangan merintang, Sabtu, 22 Mei 2010, berangkatlah saya, Irma Cupan, mahasiswi semester enam yang cantik jelita berjiwa Pancasila, ditemani tiga orang teman; Mas Teddy, yang kenal baik dengan penyelenggara event MTD dan banyak berkecimpung di berbagai acara kesenian nasional. Lalu Anik, bukan siapa-siapa, hanya sekedar anak kos biasa dengan kehidupannya yang fana dan rambutnya yang berombak. Iin, seorang perantau yang terobsesi mengenakan batik saat mengunjungi event ini. Maka lengkap sudah anggota Fantastic Four ini.

Ya, mumpung lagi perjalanan ke Malang, kami sempatkan main-main dulu di pemandian air panas Cangar. Di kompleks ini terdapat tiga kolam batu yang sudah berumur panjang, serta sebuah kolam keramik modern dengan ukuran jumbo. Saya, Anik dan Iin, memilih berendam di kolam khusus wanita bersama serombongan ibu-ibu arisan yang hobinya berceracau. Hehe.

Kolam batunya yang kuno abis, bikin saya melambungkan khayalan tingkat tinggi tentang pemandian putri-putri khayangan yang selendangnya di curi Jaka Tarub. Kenapa Jaka Tarub usil banget ya? Anyway, air panas di pemandian ini benar-benar merilekskan badan, hangat-hangat menyegarkan. Karena sumber air berasal dari pegunungan, maka terdapat sedikit kandungan belerang di dalamnya. Konon sih, belerang ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Jadi kalo kamu bermasalah dengan panu, ngga ada salahnya mencoba pengobatan alternatif di sini.

Puas dengan acara mandi-mandi ini, kami melanjutkan perjalanan ke kota Malang. Tapi ternyata terlalu banyak berendam berefek bikin perut kelaparan berat. Muka Iin mendadak pucat kayak orang abis liat Mike Lewis jadian sama saya. Jalanan yang berkelok-kelok, dengan view deretan pohon apel dan kebun mawar yang super cantik, ternyata tidak bisa mengembalikan aura bahagia di wajah Iin. Malah tambah pucat, kayak Susanna. Oh maigat.

Untunglah, Mas Teddy segera menghentikan mobilnya di Resto Inggil, sebuah museum resto yang menurut saya keren parah! Di dalamnya banyak tersimpan barang antik dan peninggalan proklamator Bangsa Indonesia, tidak lain tidak bukan adalah Bung Karno. Resto ini sangat direkomendasikan untuk wisatawan yang sedang berlibur di Malang, karena di sini berasa banget nuansa tempo dulunya. Di dinding lorong sebelum masuk restoran, banyak pigura yang berisi foto kota Malang pada jaman dahulu, jaman penjajah masih berkeliaran di Indonesia. Karena disusun dari tahun ke tahun, maka saya ndak bisa membayangkan betapa buanyak koleksi yang bakal dipajang pada zaman anak cucu kita nanti.

Tidak hanya foto, pengunjung juga bisa menikmati gambaran perangko, materai dan uang kuno di lorong ini.

Masuk lebih dalam, saya menemukan koleksi telepon kuno, otoped jadul, pemutar piringan hitam bahkan pengeriting dan pelurus rambut listrik pertama pemberian pemerintah Belanda juga ada di sini! Wuaah, ternyata trend rebonding dan curlier sudah ada sejak jaman dulu. Saya membayangkan nenek moyang kita dulu pasti sangat gaoel and socialite abis karena pada suka nyalon. Hehe.

Di ruang koleksi itu juga terdapat sejarah dan asal mula lahirnya kota Malang. Ditulis seperti pohon keluarga raksasa, dan kerennya semuanya hand-writing! Waw… padahal sejarah kota apel ini puanjang banget. Terpujilah buat yang nulis, kalau dia butuh tukang pijat, dengan senang hati akan segera saya kirimkan Anik si Ratu Pijat.

Sebelum masuk ruang makan, ada enampuluh topeng pewayangan yang ditata dengan cantik dan ciamik. Ruang makan di resto ini juga tidak ketinggalan vintage-nya. Kuno dan indah. Penerangannya memakai lampu yang diletakkan dalam kotak anyaman bambu seperti lampion. Ada juga pecahan kendi dan artefak candi jaman dulu, sampai gubug warung kuno lengkap dengan segala perkakas jadulnya. Di ujung ruangan ada panggung besar yang berisi berbagai alat musik, dari kendang kempul hingga gamelan, semua ada.

Melihat dan mengagumi koleksi radio-radio kuno, mesin tik, setrika arang, alat tradisional penyerut es, poster-poster kuno, peralatan makan out of date, perangkap musang, sampai mainan kuda-kudaan, rasanya membuat perut kami sedikit bertoleransi. Ndak heboh menggelar konser keroncongan seperti tadi. Tapi bukan berarti kami ndak jadi makan. Hehe, makan tetap prioritas utama, karena setelah mengisi perut dengan cukup asupan bergizi kami langsung semangat menuju event MTD.

Eh, ternyata di halaman restoran juga ada panggung untuk dalang lengkap dengan semua tokoh wayang kulitnya lho! Hoho maka menjadi wajib hukumnya untuk berfoto-foto naris di restoran amazing ini!

Sembari menuju lokasi, Mas Teddy menceritakan bahwa tahun ini event Malang Tempoe Doeloe lebih dikenal sebagai Malang Kembali. Tema yang diambil adalah rekonstruksi budaya panji. Jadi begini, budaya Panji ini berasal dari epos panji di Tanah Jawa, bercerita tentang pangeran Panji yang berkelana keliling Jawa menyebarkan budaya yang mengandung nilai luhur tentang kesantunan untuk dijadikan pedoman hidup masyarakat. Sungguh mulia sekali Pangeran Panji, sini saya nikahi.

Sepanjang jalan Ijen, tempat dilangsungkannya event ini, akan terlihat bermacam-macam pagelaran dan stan budaya, mulai dari panggung rakyat tradisional, sayembara permainan tradisional, pameran benda-benda purabakala, upacara adat, pasar rakyat dan workshop budaya. Wah, pokoknya saya harus mencicipi semua suguhan di acara Malang Kembali ini!

Tapi sayangnya, setelah sampai di pintu masuk, niat baik saya itu agak menciut. Padahal saat itu masih sore, namun jumlah pengunjung sudah sebegitu membludaknya seperti ada pembagian raskin.

Stand pasar kuliner adalah stand yang paling dekat dengan pintu masuk. Kita bisa menemukan dan bernostalgia kembali dengan jajanan tradisional, seperti gulali, es goreng, kacang godok, roti moho, roti maryam, tebu, sate kerang, sate bekicot, es sinom, tahu petis, es degan, es dawet, es puter, jamu tradisional, jagung bakar, opak, tahu petis, ketan bubuk, gorengan, sawut dan lain sebagainya yang bisa bikin saya ngiler kalau diingat satu per satu. Untuk menambah kesan tempo dulu, deretan stand ini dibangun menyerupai warung tradisional jadul. Saya jadi ingat jaman SD dulu pernah dimarahin guru gara-gara ketahuan makan gulali di kelas.

Saya sempat kecele dan kesulitan membaca tulisan-tulisan yang ada di stand, karena mereka menggunakan ejaan jaman dulu yang bikin saya harus mengejanya pelan-pelan kayak anak TK baru belajar membaca. Seperti waktu saya lewat stand KATJANG GODHOG, saya kira itu sejenis makanan baru, eh ternyata itu kacang rebus, hihi.

Kami terus melanjutkan penjelajahan di sepanjang jalan. Di sebelah kiri stand kuliner dan sebelah kanan stand pasar anti dan unik. Saya plonga-plongo terus kayak anak kecil tiap kali melewati stand-stand itu sambil berdecak kagum. Woooh ternyata banyak kebudayaan tradisional yang ndak saya tahu, ada pula yang sudah saya tahu tapi sekarang udah jarang ada.

Ndak cuman dari pihak penyelenggara, tapi para pengunjung acara Malang Kembali ini juga ngga mau ketinggalan jadul. Kebanyakan, saya lihat, mereka mengenakan kebaya, batik, dan pakaian-pakaian vintage kayak di video klipnya Naif, bikin suasana makin asoy geboy. Saya juga melihat rombongan orang berkostum luar biasa dalam rangka mengikuti pameran di Malang Kembali ini. Ada yang mengenakan pakaian pejuang, pakaian khas bima, pakaian kompeni Walanda dan banyak lagi.

Malang Tempo Doeloe juga menggelar pertunjukan wayang, musik-musik gamelan dan pencak silat, bahkan sampai topeng monyet juga ada! Sayangnya, dengan jumlah pengunjung yang semakin ndak karuan banyaknya, membuat saya kesusahan untuk mendekati panggung-panggung itu. Saya hanya bisa mendengar suara dalang yang menggelegar dan bersemangat memainkan wayang.

Karena kelelahan berjalan, kami memutuskan untuk membeli roti maryam. Ternyata antriannya ndak jauh beda dengan stan-stand makanan di toko lain. Arrrgh, ramai sekali! Ibu yang jualan roti maryam bilang kalau acara ini jadi rejeki tahunan buat para pedagang. Maka sambil menunggu antrian yang bisa bikin desperate-housewives itu, saya duduk-duduk di sebelah stand sambil mendengarkan siaran radio. RRI memang ikut membuka stand di acara ini sambil muterin tembang-tembang kuno lho, pengunjung juga bisa telepon untuk request lagu dan kirim salam. Gaul banget dah pokoknya.

Ternyata oh ternyata, mengantri roti maryam menjadi satu jam yang paling melelahkan dalam hidup saya. Luama puol! Ironisnya, setelah roti matang, saya hanya butuh waktu lima menit buat ngabisin! Cipirili. Seketika itu kami memutuskan untuk putar balik karena ndak kebayang gimana rasanya terjebak dalam kerumunan pengunjung yang sekarang udah ratusan ribu milyar dolar banyaknya .

Ternyata putar balik pun ndak jauh beda. Karena bukan cuman kami saja pengunjung yang memutuskan putar balik dari kemacetan manusia ini. Akhirnya kami berusaha menikmati perjalanan panjang ini dengan melihat pameran barang antik dan unik. Ada stand uang lama, mulai dari uang logam dan uang kertas semuanya ada. Ada pula pameran sepeda ontel kuno, motor kuno, barang filatelis kuno, wayang, dan yang lainnya.
Stand pijat antik juga ada, sodaraaa… Hahaha sudah jelas stand ini pasti yang terfavorit! Terlihat dari banyaknya pengunjung yang pegel semua setelah mengelilingi venue Malang Kembali ini, langsung memanfaatkan jasa mulia pijat-memijat ini. Tukang pijatnya sendiri mengenakan pakaian kebaya dan jarik lengkap dengan kain penutup kepala. Sedangkan pemijat cowok memakai blangkon. Rasanya bener-bener seperti kembali ke masa kejayaan tukang pijat tradisional yang mulai saat ini mulai redup ditelan kepamoran pijat plus-plus!

Akhirul kalam, rasanya gado-gado banget deh berkunjung ke Malang Kembali ini. Mungkin kalau area jalan pengunjung diperlebar, pasti event ini akan semakin menyenangkan. Karena untuk menikmati tiap detil kejadulannya ndak perlu berdesak-desakan seperti tadi.

Well, seandainya Anda masih ingin melihat malang tempo dulu tanpa keramaian, maka cobalah mengunjungi Resto Inggil. Selain menyediakan makanan yang enak, museum resto tersebut mempunyai koleksi-koleksi jaman dulu yang sudah pasti maha keren. Kyaaaaaaaaaa []

5 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

arek unair kudu eksis nang HFLB!!! :D

Kang Eko said...

foto-fotonya ciamik....dan tulisannya manyan....

Kang Eko said...

fotone ciamik..tulisane yo podo.....apik tur nyenengke le moco

danang bagus said...

mantap kangen malang lek ngeneiki buke pake dungakno anake iki ndang bali nang malang

danang bagus said...

mantap maleh kangen malang lek ngene iki