Pages

7/18/10

Overrated Urbanjazz 2010


Teks: Winda Savitri
Foto: Ayos Purwoaji


“How lucky me!” Ucap saya secara berkala kepada mas editor-in chief pada waktu itu. Senang rasanya kami berdua masih bisa menghadiri dan merasakan meriahnya salah satu event tahunan yang selalu happening ini. Walaupun waktunya agak kurang pas bagi mahasiswa yang statusnya sedang menyelesaikan tugas akhir. Tapi itu bukan penghalang bagi saya untuk datang, toh acara ini juga diciptakan sebagai penyegar si tengah skripsi yang merengek minta digarap.

Ok, please welcome – Urban Jazz Cross Over 2010, live performance at Grand City Mall, Surabaya. Hehehe.

Rangkaian tour musik yang digarap oleh Eki Puradireja dan kawan-kawan ini tidak terasa telah memasuki tahun ke-3 (khususnya untuk kota Surabaya). Mereka selalu menawarkan new concept disetiap performanya. Tahun ini yang diambil adalah detail pada setting panggung. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kali ini lebih hi-tech. Kenapa? Karena pentolan Humania ini memilih Moveable Projected Backdrop sebagai point of view. Dimana, desain backdrop dengan ukuran 5 x 7 meter tersebut mampu berubah formasi sebanyak delapan varian. Ditambah dengan visual 3D Masking Technology yang menjadikan stage tampil lebih ‘hidup’.

Pemilihan lokasi untuk konser kali ini tidak lagi di Empire Palace, melainkan disebuah mall baru di kawasan metropolis yang tidak kalah menawan dibanding tahun sebelumnya. Dialah Grand City Mall. Bangunan modern dengan arsitektur mewah -walaupun belum jadi seratus persen, dilengkapi dengan ballroom berkapastas jumbo dan cukup nyaman dengan adanya pendingin ruangan yang mumpuni. Ya ya, tapi kok tiba-tiba saya merasa kayak de javu ya akan atmosfernya, seperti tidak asing lagi dengan tempat ini. Padahal ini baru kali pertama saya berkunjung ke Grand City.

Bisa jadi karena penataan venue yang di sponsori oleh Dji Sam Soe ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Ditambah lagi dengan antusiasme masyarakat yang cukup besar hingga berjubel, juga dilengkapi dengan mbak-mbak SPG-sexy yang berseliweran dengan baju minim, menawarkan rokok sana-sini sambil kedap-kedip dikit.

Sesampainya di lantai tiga, tidak lama setelah konfirmasi kedatangan, kami melaju menuju venue. Tampak beberapa kawan hadir disana. Ngobrol-ngobrol sebentar, nggak kerasa acara sudah dimulai. Alhamdulillah tidak sampai ketinggalan penampilan pembuka. Yaha, this is it, Drew yang membawakan beberapa lagu laris diantaranya milik Nirvana, The Ting Tings serta lagu lawas milik ME memanaskan suasana.

Grup band yang dikenal lewat single Unromantic dalam kompilasi album Nu-Buzz ini memang mencuri perhatian kami sedari awal. Karena mereka bermain secara akustik dan sangat powerful. Perlu diketahui bahwa mentor mereka adalah grup duo akustik, Endah N Rhesa. Pantes aja maknyus :p

Dilanjutkan dengan penampilan ke-2 yaitu oleh DJ Cream (Reza Arnanda), yang mengaransemen ulang lagu milik Black Eyed Peas, I Gotta Feeling menjadi lebih bossas. Diteruskan oleh beberapa pemusik yang tahun kemarin juga hadir, seperti Rapper Boogieman (Pradana Rizky), Yuyun Discus, dan tentu saja band pengiring Urban Jazz dengan formasi yang hampir sama dengan tahun kemarin.

Untuk new comer, kali ini Eki menggandeng Ipang (BIP) yang di-crossover-kan dengan Dewi Sandra, membawakan singe Bete ciptaan Dewiq. Selain itu Ipang juga berhasil membuat histeria penonton semakin menjadi-jadi dengan membawakan lagu dari Jet, Are You Gonna Be My Girl dan single Enter Sandman dari Metalica.

Tampil pula dua legenda musik Indonesia; Achmad Albar dan Indra Lesmana. Dua musisi luamayan gaek ini memang jadi bonus Urban Jazz tahun ini. Ahmad Albar sendiri berhasil membuat penonton wanita genereasi atas saya untuk menjadi lebih liar. Sedangkan Indra Lesmana tampil kalem di belakang grand pianonya. Tata cahaya yang pas membuat Indra tampak bersinar dari kejauhan. Ia seperti malaikat yang turun membawakan musik jazz dari surga. Hahaha.

Penampilan selanjutnya disusul oleh violinis cantik puol Maylaffayza. Sebagai seorang penerus Idris Sardi, harus saya akui ibu satu anak ini masih bisa tampil seksi. Sandhy Sondoro hadir kemudian dengan membawakan lawas lagu milik Sting, Desert Rose. Saat menyanyikan nomor ini suasana padang pasir meruap ke seluruh ruangan. Apalagi Lengkingan suara Sandhy ditigkahi cerdas oleh Yuyun dan gesekan biola Maylaffayza. Sayang Sandhy tampil cepat. Ia hanya membawakan tiga buah single dan ditutup oleh lagu andalan: Malam Biru. Untungnya lagu terakhir mampu membuat seluruh penonton yang kebanyakan para anak muda kimcil untuk sing-a-long.

Kikan Cokelat jujur saja tampil mengecewakan. Meski ia hadir dengan nomor dahsyat Light My Fire-nya The Doors tapi tampak sangat letoy, mungkin malam itu Kikan sedang dapet. Ia menyanyi begitu malas. Kami juga malas mendengarkannya. Untung saja Kikan tidak banyak membawa lagu. Pertunjukan malas itu segera berganti Ello yang membawakan Iris dari Goo Goo Dolls. Penonton kembali semangat. Apalagi Ello bersusah payah meniru habis gaya Justin Timberlake. Ini yang membuat saya dan para penonton wanita muda menjadi panas.

Selama acara tidak ketinggalan penampilan sexy dancer, sexy dancer dan sexy dancer lagi. Sampai mules saya. Maklum, acara ini diperuntukkan bagi pemilik usia 18+ kawan.

Urban Jazz tahun ini saya rasa lebih kaya akan warna musik. Karena, beberapa pemusiknya tidak hanya melulu berasal dari genre jazz. Sebut saja pendatang baru Sandhy Sondoro, kemudian ada Ello dan Kikan yang berada dalam jalur pop. Kontras dengan Ipang yang membawa nafas semi-rock, seperti bebuyutnya; Achmad Albar yang benar-benar berasal dari genre rock. Awesome.

Banyaknya penonton, membuat mas editor-in chief agak kesulitan untuk mengabadikan momen-momen menarik. Kami juga kebetulan berada dalam kerumunan manusia di shaf nomor lima dari depan yang kurang bagus angle-nya. Ditambah dengan lighting yang kurang tertangkap maksimal. Tapi yasudahlah.

Melihat Urbanjazz Crossover tahun ini, di tengah-tengah acara entah mengapa kami agak jenuh. Mungkin karena pemilihan lagunya yang kurang kami minati, atau karena kami belom makan. Mbuhlah. Yang pasti, kami lebih memilih gelaran Urban Jazz Crossover yang tahun lalu jika dibandingkan dengan tahun ini. Lebih dapet banget feel-nya. Well, so far bagus kok. Hanya kurang gereget aja tahun ini. Mudah-mudahan tahun depan masih bisa nonton Urban Jazz Crossover lagi, amien. Tapi mungkin bukan lagi di kota Surabaya. Haha. Who knows.
Sampai jumpa. []

No comments: