Pages

7/18/10

Ring of Fire: An Indonesian Odyssey


oleh Ayos Purwoaji


"...There are places in the world still to be discovered..."

(Ring of Fire: An Indonesian Odyssey)

Jika ada pertanyaan: kenapa sih kamu jadi traveler? kenapa harus keliling Indonesia? Mari akan saya jelaskan alasannya.

Pertama, saya ini orang Indonesia. Sudah sepantasnya saya mencintai negeri ini, bukan hanya dalam kata, tapi juga lewat sikap. Salah satu cara agar saya mencintai negeri ini, tentu saja saya harus mengenalnya. Memang bukan perkara mudah berkenalan dengan negeri penuh pulau seperti Indonesia. Begitu banyak budaya dan bahasa yang melingkupinya.

Maka jalan-jalan adalah salah satu cara terbaik untuk berkenalan dengan negeri ajaib ini. Dan itu yang saat ini saya lakoni. Melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Menyusuri kota demi kota, sambung menyambung antar pulau. Itu semua saya lakoni untuk mencintai dan mencintai lebih dalam lagi negeri ini. Saya harus berusaha, sekuat-kuatnya. Sedapat-dapatnya.

Kedua, saya heran kenapa begitu banyak buku tentang Indonesia justru dikarang oleh orang asing. Sedangkan kita, malah tidak tahu apa-apa tentang negeri sendiri. Menyedihkan bukan?

Saat pergi ke Periplus atau Kinokuniya, buku-buku tentang Indonesia hadir dengan kover tebal dan kualitas foto yang sangat baik. Tapi semua pengarangnya orang luar negeri. Penerbit coffee-table-book lokal seperti Red&White Publishing milik Lans Brahmantyo dan INI Publishing yang berbasis di Bali hanya menyempil saja. Selebihnya penerbit luar. Termasuk banyaknya film tentang ekplorasi alam terbitan luar negeri seperti BBC atau National Geographic.

Sebetulnya itu alasan saya dulu membuat banyak ebook pariwisata dengan kover yang ciamik dan berhias banyak foto indah di dalamnya. Bedanya, punya saya gratis. Bebas diunduh seperti udara. Agar banyak anak muda yang baca dan ketularan virus jalan-jalan, lalu mengenal negeri ini lebih dalam.

***
Beberapa waktu yang lalu saya menemukan film klasik dengan judul Ring of Fire: An Indonesian Odyssey. Sebuah film dokumentari panjang tentang dua bersaudara yang melintas Nusantara selama sepuluh tahun. Mereka berdua ini, Lorne dan Lawrence Blair mendokumentasikan perjalanan panjang nan menantang ini melalui media film dan foto. Mirip seperti apa yang dilakoni Hutchens Brother yang melintas China dan memfilmkannya dengan judul Lost in China yang saat ini menjadi salah satu program di National Geographic TV.

Blair Brother saat interview pada dekade 80'an

Blair Brother dengan sangat keren melakukan perjalanan melintas negara misterius nan eksotik yang memiliki arkipelago paling besar di dunia. Perjalanan mereka dimulai sejak tahun 1972, itu pertama kali mereka mendarat di Singapura -yang mereka sebut instant asia. Konon perjalanan ini dibiayai oleh Ringgo Star, entah benar atau tidak.

Setelah beberapa lama, mereka bosan dengan Singapura dan segala kemodernannya. Lalu, saat berputar-putar keliling kota, seperti yang mereka katakan di awal film,"Then unecpectedly we found a notebook that would change everything, The Malay Archipelago -land of orangutans and the bird of paradise- by Alfred Russell Wallace."

Dari buku lawas tersebut mereka akhirnya melanjutkan perjalan ke Nusantara yang indah sekaligus penuh misteri ini. Sampai di Indonesia, duo Blair ini mengagumi banyak hal; kuli pasar yang mengangkut beban ratusan kilo, pembuatan perahu Phinisi secara tradisional, ilmu tenaga dalam yang seperti sihir, aturan nikah orang Bugis, keindahan alam bawah laut Maluku, naga Komodo yang masih hidup, cara berkuda orang Sumbawa dalam Pasola, tata cara hidup nomaden Dayak Punan, dan masih banyak lagi.

keseluruhan film Ring of Fire ini dibagi menjadi lima seri;
Seri pertama, Spice Island Saga: Bercerita tentang bagaimana Blair Brother mengikuti jejak Wallace mencari burung surga -cenderawasih- ke pulau Aru dengan menggunakan perahu Phinisi. Mereka berdua menyebut perahu suku Bugis ini sebagai perahu bajak laut. Dengan perahu tradisional ini mereka melintas 2000 mil laut melintas Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dua petualang gila ini juga turut menyaksikan pencari mutiara tradisional dan mempelajari tata hidup orang Bugis. Dari sini saya baru tahu kalo sebuan 'boogeymen' dalam bahasa Inggris berasal dari kata 'Bugis'. Kata ini secara letterleg memiliki arti monster yang menyeramkan. Bisa jadi karena bangsa Bugis adalah para bajak laut mengerikan yang membuat ciut para pelaut Barat di zaman lampau.

Seri kedua, Dance of the Warriors: Dua bersaudara ini berlayar ke pulau Komodo untuk melihat legenda naga yang masih hidup, lalu lanjut ke Sumba yang masih percaya dengan pengorbanan manusia, bertemu dengan suku Asmat yang memiliki tradisi berburu kepala manusia, melihat generasi tua penenun kain keramat di Sumba, menyaksikan tradisi Nyale dan berakhir di Bali dimana mereka membangun sebuah rumah sederhana di sebuah desa. Saya mengira desa tempat mereka membuat rumah itu adalah Ubud.

Seri ketiga, East of Krakatoa: Dua bersaudara ini melihat Anak Krakatau, lalu menmpelajari tradisi sakral Keraton Jawa yang sudah dijaga selama puluhan abad, menyaksikan pertunjukan wayang yang misterius, dan menuju Toraja untuk menyaksikan ritual pemakaman yang eksotis. Di episode ini mereka juga sempat bertemu dengan seniman legendaris lokal Bali, Nyoman Lempad.

Seri keempat, Dream Wanderers of Borneo: Lorne dan Lawrence Blair melintas 800 mil melewati hutan perawan untuk mengunjungi Dayak Punan di Kalimantan. Mempelajari gaya hidup namaden, menyingkap tradisi rahasia Pengembara Spiritual khas Dayak, dan mendapatkan tatoo lokal dengan motif Aping; sang pohon kehidupan ala Dayak.

Seri kelima, Beyond the Ring of Fire: Lawrence Blair kembali ke Indonesia delapan tahun kemudian untuk mengenang perjalanannya. Ia mengajak beberapa orang turut serta. Dan mengingat kembali berapa banyak pulau yang ia pernah singgahi.

Setiap serinya memiliki durasi limapuluh menitan. Mereka membingkai hidup keseharian masyarakat Indonesia dengan sangat baik. Setidaknya berhasil membuat saya ngiler untuk traveling lagi. Ditambah lagi narasi yang singkat dan tidak berbelit. Setahu saya film ini pernah tayang di BBC dan memenangkan Emmy Award untuk kategori modern adventure dan film etnografi.

Awalnya sangat sulit mencari film rare collection semacam ini. Butuh usaha lebih. Apalagi film ini dibuat pada tahun 1988. Saking ngebetnya, sempat saya menanyakan ke Periplus Surabaya, ternyata nihil. Yang ada hanya versi buku yang ditulis Lawrence, sedangkan film dalam bentuk DVD tidak tersedia.

Tapi Tuhan memang Maha Pemurah, akhirnya koleksi ini bisa saya dapatkan filenya di Google Video. Meski beresolusi rendah namun sudah cukup untuk membuat saya senang bukan kepalang. Lain waktu, saya akan mencari versi lain yang lebih bagus gambarnya, entah dalam bentuk cakram digital atau file lunak.

Film ini berhasil mengajarkan saya lebih banyak hal. Ternyata masih banyak yang belum saya ketahui dari negeri saya sendiri. Sebagai The Best Combo, saya dan Nuran, tampaknya harus belajar banyak dari Blair Brother. Tentang bagaimana mereka -dengan modal senyum dan kemampuan bahasa nol besar- mampu menjadi antropolog amatir yang keren. Dan melihat film ini semakin membuat saya untuk terus mengeksplorsi Indonesia. Lebih jauh, lebih dalam. []

PS: Saya sudah mendapatkan versi besar dari lima seri film ini melalui Torrent! Yeah!
Dan mendapatkan sumbangan dari kontributor kami paling ganteng, mas Galih Setyo Putro, seri nomor lima berupa kaset VHS! 

3 comments:

Ajeng said...

Wah iya betul tuh, saya juga suka heran kenapa malah turis asing yang hobi "ngebedah" Indonesia. Sayang sekali ya... Saya jadi penasaran buat nyari video-nya Blair bersaudara nih. (Kemarin baru sukses nemu film Indiana Jones seri pertama tahun 1981, hehehe...)

idho said...

ide brillian. dan saya baru tau ada tentang hal itu. must have items tuh. hehehe.... semangat ya.. saya dukung deh. nanti liat saya bisa bantu apa.
oh ya.. salam kenal........

Arung Ajo said...

Saya sangat terharu melihat cuplikan Seri keempat, Dream Wanderers of Borneo. Orang2 yg ada dlm film tersebut adalah kakek, nenek, tante, dan paman saya. Waktu pembuatan film tsb saya berusia 5 tahun. Skrg sebagian besar orang2 yg dlm film tsb msh hidup dan tinggal di desa Long Sule, Kec. Kayan Hilir, Kab. Malinau - Kaltim. Saya ingin sekali memiliki film tersebut. Mhn info di mana saya bisa memperoleh film tersebut. Tolong kiriminfo melalui facebook saya; arungajo92@yahoo.com atau ke email; arungajo@yahoo.com
Terima kasih atas bantuan anda.