Pages

7/18/10

Six Euro Around Paris

Teks: Anita Rachman
Foto: Edy Can & Anton Muhajir

________________________________________________
Kontributor









Anita Rachman adalah seorang jurnalis muda berbakat. Saat ini bekerja di harian paling wokeh; The Jakarta Globe. Sejak dulu ingin mencicipi snorkeling di Karimunjawa namun belum terealisasi. Sangat suka membaca dan mendengarkan musik, tokoh idolanya adalah Romo Mangun dan Sigmund Freud. Sempat juga mengidolakan esais besar Goenawan Mohamad.

Catatan perjalanannya ke Paris ini adalah tulisan pertama Anita Rachman untuk Hifatlobrain
________________________________________________


Sungguh tidak salah jika banyak orang bilang Paris adalah kota terelok di dunia, karena memang begitulah adanya. Yah, memang sih... kami belum sempet mengunjungi seluruh kota yang ada di dunia ini, tapi paling tidak itu menurut selera, kesimpulan, dan pengalaman saya dan tujuh teman saat mengunjungi ibukota Perancis itu tiga pekan lalu.
Pada saat itu kami sedang berada di Amsterdam, Belanda mengikuti sebuah training tentang new media. Dan iming-iming untuk mampir ke Paris begitu menggiurkan sekaligus meresahkan. Kenapa? Karena kami kere tingkat internasional, sodara... Uang yang tersedia hanyalah sangu beasiswa dari Nuffic-Neso Indonesia. Di tengah kegelisahan yang datang melanda itu, mendadak kami pun teringat proverb di footer buku tulis jaman SD, if there’s a will, there’s a way, maka masalah uang (semestinya) tidak menghambat semangat perjuangan kami. Dengan modal ”Pokoknya harus ke Paris!”, kami pun memutuskan untuk berangkat ke sana!

Sebenarnya, banyak pilihan perjalanan menuju Paris dari Amsterdam. Pesawat, kereta atau bus yang selalu available untuk digunakan tiap saat. Oke, pilihan transportasi pesawat harus dicoret. Selain karena kami malas untuk mengecek harga tiket (sekaligus malas membayarnya, haha), akan terlalu ribet juga harus keluar masuk airport dengan antrean panjang dan berbagai urusan administrasi. Dan ternyata kami pun ngga mampu membeli tiket kereta, haha! Bayangkan untuk sekali jalan ke Paris harus merogoh kocek sampai 130 euro! Dan harga tiket itu akan semakin melambung jika dipesan berdekatan dengan waktu keberangkatan. Maka, dengan berbagai pertimbangan, terutama pertimbangan masalah uang, hehe... kami putuskan untuk naik bus Eurolines saja. Selain jadwal keberangkatannya cocok dengan schedule kami, dengan bus ini kami ’hanya’ mengeluarkan 85 euro saja biaya pulang-pergi. Masih berasa mahal kan kalau dirupiahkan, tapi sungguh, ini adalah yang termurah yang sanggup kami bayar, hehe...

Bus Eurolines meninggalkan stasiun Amstel Amsterdam sekitar pukul sepuluh malam waktu Belanda. Kebanyakan penumpang disini adalah warga keturunan Maroko dan para backpacker. Waw, sepertinya pilihan kami tidak salah. Mungkin bus ini memang tercipta untuk segerombol traveler minim budget seperti kami yang keren ini. Tapi kembali lagi pada sebuah proverb Jawa, ono rego ono rupo, bus ini tidak memiliki fasilitas toilet, tapi cukup baik hati dengan berhenti dua kali di SPBU. Sebuah surga untuk penumpang yang sering beser. Hoho...

Eurolines ini adalah moda transportasi dengan ketepatan waktu tingkat dewa. Supirnya galak minta ampun, bisa jadi sadis adalah nama tengahnya. "We will give you 30 minutes to take some rest. Get back here on time, otherwise we will leave you." Dan dia tidak sedang bercanda kawan, dia serius! Sebagai seorang gadis berparas ayu, tentu saya bergidik ngeri kalo harus ditinggal bis ini. Untungnya semua penumpang juga disiplin, jadi semua terangkut lagi.

Perjalanan yang cukup panjang sebenarnya, memakan waktu delapan jam untuk menuju kota eksotik itu, tapi toh semuanya bukanlah masalah bagi kami yang rata-rata tidur layaknya orang mati suri selama berada di bus. Setibanya di Paris sekitar pukul enam pagi, kami langsung disambut ‘hangat’ dengan dinginnya udara musim semi. Aneh, judulnya saja sudah masuk spring, tapi kok ya masih semriwing begini rasanya.

Yap, sedikit tips dari saya, jika mau bepergian di Eropa, jangan lupa cek cuaca dulu biar tidak salah kostum. Nah, hari itu seperti yang kami lihat di prakiraan cuaca, udara bakal cukup "hangat" di Paris: 12 derajat celcius! Itu sudah termasuk lumayan lhoo, ditambah lagi dengan hadirnya matahari hari itu.

Kami turun di Stasiun Gallieni, sebuah stasiun metro, kereta bawah tanah yang menghubungkan titik-titik Paris. Kami putuskan untuk membeli tiket metro terusan yang bisa digunakan sehari penuh. Harganya sekitar 12 euro. Maka saya pun bergegas mengantri, tak sabar rasanya untuk segera menjelajahi Paris. Dan anehnya, saya hanya di-charge 5.90 euro saja lho!! Lebih murah separo dibandingkan harga normal! Baru kemudian saya tahu bahwa saya dikira belum “dewasa” sehingga harga tiket pun disesuaikan. Hahhahaaaa… saya bahagiaaa bukan kepalang! Bahkan orang Eropa pun mengakui kalau saya memang awet muda! Waseeekk….

Oke, tanpa berlama-lama lagi, kami berangkat memulai perjalanan kami yang pasti bakal seru itu!

1. Louvre Museum
Tiba di museum ini sekitar pukul 7 pagi, dan sebab hari yang masih pagi sekali itu, jadi suasananya, ampuuun, sungguh sepi dan magis! Louvre di pagi hari tanpa lalu lalang pengunjung adalah sebuah sunyi yang menawan, hoho... Kami mengelilingi tembok-tembok tua Louvre, dan begitu bahagia sebab sempat pula melihat gagak-gagak hitam ber-kwaaak-kwaaak mengelilingi Louvre.
Di waktu sedini itu, air mancur useum pun belum dinyalakan! Jadi bisa dibayangkan keintiman museum yang menyimpan lukisan Leonardo da Vinci, Mona Lisa, ini.

Maka saya sarankan, kalau mau ke Louvre, lebih baik pagi-pagi sekalian, biar dapat feel-nya dan bias berfoto sepuasnya tanpa gangguan lalu lalang pegunjung.

Tiket masuk Louvre untuk yang biasa (tanpa melihat pameran yang berganti-ganti setiap waktu, waktu itu: Dali) hanya 9.50 euro! (ini jauh lebih murah dibanding Van Gogh Museum di Amsterdam yang 14 euro dengan koleksi, yang tentu saja, lebih sedikit).

Saya masuk Louvre hanya… tebak berapa lama? 30 MENIT SAJA! Huaaa, rasanya mau bunuh diri saja! Hanya 30 menit untuk mengelilingi museum yang pintu masuknya itu saja ada empat atau lima biji! Siapa sih yang bikin aturan? Yah.. karena pada saat itu tidak dimungkinkan untuk menggelar demo lebih lanjut, kami memilih mengalah dan melanjutkan perjalanan. Saya hanya sempet berfoto dengan Mona Lisa dan melihat beberapa lukisan terkenal, termasuk revolusi Perancis.

Oh iya, jangan lupa bawa kamera, walopun sudah ada larangan, semua orang teuteup motret di sana-sini, hehee...

2. Notre-Dame Katedral
Notre-Dame tidak terlalu jauh dari Louvre, kami memutuskan untuk jalan kaki menuju katedral tua yang terkenal ini. Butuh 30 menit untuk sampai di sana, walaupun sebetulnya sih bisa ditempuh dalam wkatu 10-15 menit saja dengan jalan kaki... tapi ini Paris sodara-sodara, sekali lagi ini Pariiisss... ngga mungkin dong, kami berjalan begitu saja sambil nyuekin bangunan-bangunan keren di sekitar Louvre... Bahkan kombinasi ngga nyambung antara deretan penjual bunga, barang-barang bekas plus kantor pemerintahan di seputar jalan ini, tampak begitu indah di kota romantis ini. Haha...
Well, ternyata Notre-Dame ramai sekali! Antre untuk naik saja bisa berjam-jam lamanya! Ya sudah, kami putuskan untuk menikmati Notre-Dame dari luar saja, dan menikmati bangunan sekitar.
Eits, jangan kaget, di sini banyak pengemis (imigran). Trik mereka untuk meminta uang adalah dengan mengatakan: "Excuse me, do you speak English?" jika ditanya demikian, langsung saja jawab: "NO" dan mereka akan pergi.

Kalau dijawab "Yes," dia akan langsung menyodorkan surat yang isinya kurang lebih: tolong saya, saya sudah tiga bulan di sini, hendak pulang ke rumah (suatu negara) tapi tidak ada biaya, bisakah menolong saya?

So, just say NO.

3. Shakespeare Bookstore and Company
Kalau sudah sampai Notre-Dame, jangan lupa untuk mampir ke toko buku paling terkenal di Paris ini! Toko ini berada di sebelah kanan (jika posisi kita menghadap) katedral. Tinggal turun dan menyebrang lampu merah!

Pernah melihat film Before Sunset? Jesse, toko utama pria di film itu, bertemu kembali dengan Celine, sang tokoh utama perempuan, di toko buku tersebut setelah berpisah bertahun-tahun. SAYA SANGAT SUKA TOKO BUKUNYA! Tua, desain khas perpustakaan tua, namun koleksinya lengkap dan modern. I was so happy to get into the store. Berasa Alice in wonderland, tapi versi perpustakaan hhahaaha…

4. Menara Eiffel
Yap, kami naik metro menuju Eiffel! Bisa dipastikan, kami SANGAT KELAPARAN! Saran kami: carilah rumah makan Cina, selain mereka punya nasi, harganya terjangkau jika beramai-ramai.

Well, ada kemungkinan masakan mereka memakai minyak babi memang, tapi di saat kelaparan, asal mengucap Bismillah, Insya Allah, Allah tidak akan marah. Hehe… Ya Allah ampunilah hamba-Mu yang perutnya keroncongan ini…

Hm, saya pribadi tidak terlalu takjub pada menara yang menjadi ikon kota Paris ini, meskipun harus diakui Eiffel memang menakjubkan! Haha bingung kan? Begini lho, maksud saya, mungkin tower is not my kinda thing. Oh iya, kamu bisa naik menara itu, dan tentu saja setiap ketinggian beda harganya. Dan tentu saja kami tidak naik sebab kami tidak punya banyak waktu. Memang sebetulnya lebih asyik melihat-lihat taman di sekitar Eiffel dan tidur-tiduran di tamannya sambil berjemur :D nikmatnya! Yah, saking “hangat”nya udara di sekitar taman ini, sampai-sampai kami tidur siang beneran di bawah naungan menara Eiffel. Hehe…

5. Arc de Triomphe
Sejujurnya, saya tidak terlalu mengerti apa yang berada di Arc de Triomphe ini, HAHAHA. Tapi, gosipnya sih bangunan ini memang terkenal, makanya kami sempatkan untuk berkunjung ke sini. Kebetulan waktu itu sedang dilangsungkan upacara militer. Dan tahu apa yang saya lakukan saat itu? Duduk selonjoran di bawah bangunan. Huaa… capek bangeeet…

6. Jalan Concorde
Yap, menurut teman saya, Jalan Concorde ini semacam Orchard Road-nya Singapura. Bedanya tentu saja di sini butik-butiknya lebih mahal. Ada banyaaaak butik pakaian ternama di dunia, Louis Vuitton, Versace, ect. Selembar kain yang mempunyai kekuatan magis untuk orang-orang tertentu yaitu bangkrut seketika. Dan herannya, mau masuk Louis Vuitton harus antre dulu di sini... Emmm, tentu saja saya ngga ikutan antre, haha… duit dari mana, coba?

7. Place de la Concorde
Lagi-lagi kami hanya ‘mampu berjalan’ di sekitar pusat perbelanjaan itu. Tugunya sih biasa saja yah, seperti Monas, tapi panorama Paris sungguh cantik dilihat dari sini. Di kejauhan pun tampak Menara Eiffel berdiri dengan anggun, merupakan posisi yang bagus untuk dijadikan background foto Anda, lalu dipasang sebagai profil picture di facebook. Hehe…

Okelah, tujuh tujuan sudah tercapai. Namun waktu masih menunjukkan pukul 20.00 dan toko-toko sudah tutup! Maka, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar daerah tersebut. Termasuk mencari rumah makan China untuk mengisi perut yang lagi-lagi keroncongan minta diisi.

Bus kami baru akan pulang pukul 23.00. Jadi cukup puas juga kami makan dan berjalan-jalan mengelilingi Paris.

Bagaimana, menyenangkan bukan berkeliling Paris hanya dengan 6 euro? Hehehe

No comments: