Pages

8/30/10

Yadnya Kasodo

Postingan ini hanyalah spoiler belaka. Tunggu liputan lengkapnya yang ditulis oleh duet maut Nur Wahid "Bandenk" Budiono dan Dwi Putri Ratnasari. Cari tahu bagaimana kami menikmati Kasodo dan segala keindahan alam Bromo yang mempesona para pemburu matahari terbit selama ratusan tahun.

Lalu, kami juga mempersembahkan sebuah video abal-abal yang kami buat seadanya. Silahkan dinikmati.

Kasodo Festival from Aklam Panyun on Vimeo.



Silahkan menuju URL ini jika Anda tidak punya flash player:
http://vimeo.com/14508664

8/28/10

Codex Code: Sebuah Pameran Buku

Teks dan foto oleh Winda Savitri

Acara ini merupakan salah satu dari serangkaian acara yang tengah diadakan oleh C2O library di bulan Agustus. Dimana, C2O sendiri bekerja sama dengan sebuah komunitas seniman, yang menamakan diri mereka Kedai Kebun Forum.

Bagi para penikmat buku, perpustakaan yang sudah eksis kurang lebih dua tahunan ini tentu bukan barang baru. Tepatnya di Jl. Dr. Cipto no. 20, yang berseberangan dengan kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat untuk Surabaya. Saya berkesempatan hadir disana untuk menyaksikan sekaligus mendokumentasikan pameran yang diinisiatori oleh Wok The Rock, seorang seniman asal Jogja yang memiliki jaringan netlabel Yes No Wave dan Agung Kurniawan selaku produser.

Pameran yang diisi oleh para seniman yang diantaranya adalah Aprilia Apsari, Ariela Kristantina, Bambang Toko Witjaksono, Bujangan Urban, Butawarna, Cahyo Basuki Yopi, Grace Samboh, Henry Foundation, Hoay Wei Djoeh, Ican Harem, Ika Vantiani, Iqi Qoror, Irwan Ahmett, Jim Allen Abel, Malaikat, Marishka Soekarna, Muhammad Akbar, oomleo, Reza Asung Afisina, S.C.A.N.D.A.L., Uji Handoko, Wimo Ambala Bayang, Wiyoga Muhardanto, Wok The Rock.

Bagi jamaah hifatlobrain yang memiliki waktu luang silahkan datang karena pemeran ini akan dibuka hingga tanggal 30 Agustus 2010.

***

“Pamerannya masih lama kok mbak. Silahkan saja kalau mau diambil gambarnya.” Jelas mbak-mbak penjaga perpustakaan. Saat itu suasana di Perpustakaan C2O masih sangat begitu sepi. Hanya ada saya dan para penjaga. Jadi tanpa sungkan saya langsung mengabadikan beberapa sudut ruangan dengan berbagai komposisi yang dipamerkan.

Secara umum, perpustakaan ini memang sangat asik. Tempatnya yang sejuk dengan ribuan koleksi buku yang ditawarkan memang membuat saya betah. Ini adalah surga para kutu! Bagi saya, seorang kutu buku tentu saja merasa bahagia berada di tengah jilid-jilid buku yang berbaris rapi menunggu untuk dibaca.

Dalam pameran Codex Code ini, buku yang dipamerkan tak harus dijilid dan diberi sampul, semua buku yang ada didekonstruksi menjadi bentuk-bentuk yang aneh dan benar-benar baru. Berjumpalitan menawarkan pesona magis untuk disentuh dan dibaca.

Maka dalam pameran ini, buku tidak lagi sebuah benda mati yang menakutkan. Tapi dari buku dan ratusan lembar kertas itu bisa menjelma menjadi kitab berwarna-warni yang menawarkan ribuan imaji.

Buku rajutan

Bible dan salib yang rock n roll!

Buku desain yang keren :), berisi tentang karya desain grafis
untuk salah satu label indie ternama, EAT347


Saya jadi berpikir; seandainya kita bisa membuat sendiri buku yang kita inginkan, lalu untuk apa percetakan dan penerbitan? Toh kita bebas menerjemahkan buku seperti apa yang kita inginkan. Kita bisa saja menjadikan buku sebagai ruang komunal atau membuatnya menjadi sangat sangat personal, orang lain tidak boleh masuk.

Ini sama saja seperti buku zaman SD dimana setiap wanita di kelas punya. Buku itu secara bergilir dihidangkan di depan setiap hidung siswa yang apes lantas disuruh mengisi entri konyol seperti: mafav (makanan favorit), mifav (minuman favorit), atau bahkan aktor kesukaan. Maka dalam kasus ini buku menjadi semacam plaza, dimana setiap orang show off dan orang lain menjadi penonton.

Atau sepersonal buku harian berisi segala curhat yang menguras keringat dan air mata. Isinya tidak jauh tentang cinta remaja, duka keluarga, atau mempertanyakan agama. Tidak setiap orang bisa membaca. Hanya ada saya - buku kecil - bolpen - dan Tuhan. No one else. Maka di sini bisa dilihat buku adalah labirin personal yang gelap dan tertutup rapat.

“Pameran ini lebih menekankan pada olah buku. Sebuah pembebasan atas kehadiran sebuah buku dari sisi manapun. Mulai dari ide, bentuk, cara hingga pesan yang ingin disampaikan,” ungkap Koordinator Pameran Codex Code, Woto Wibowo.

Bagaimana? Anda tertarik?

Silahkan saja datang, dan tidak ada salahnya menjadi member C2O. Mungkin anda, para jamaah hifatlobrain sekalian ingin lebih berkonsentrasi dan berlama-lama membaca buku-buku keren yang disediakan di C2O tersebut dirumah.

Enjoy.

8/25/10

Let's Go Back

'Waiting for The Train'

Foto di atas adalah karya dari teman saya, Maharsi Wahyu Kinasih atau lebih akrab disapa Kinkin. Mahasiswi angkatan 2007 jurusan Akuntansi UGM ini memang pandai memotret. Beberapa karya fotografinya saya kagumi.

Sebagai seorang pecinta jejalan dia memiliki sebuah target yang tidak main-main: ingin mengunjungi Qomolangma pada tahun 2015. Awalnya saya tidak tahu apa itu Qomolangma, saya pikir sebuah makanan empuk manis seperti klepon. Ternyata itu adalah bahasa lokal untuk menyebut Mount Everest. Entah bagaimana Kinkin bisa tahu sebutan Qomolangma. Mungkin dia sudah lama bergaul dengan para sherpa.

Wanita berjilbab yang sepertinya tidak begitu pandai memasak ini -hehe yang saya tahu lelaki Kinkin malah lebih jago masak- melakukan sebuah seri concept photo yang ciamik. Salah satu modelnya adalah Navan, adik saya. Posenya seperti seorang hitchhiker keren yang sedang mau pulang setelah pergi traveling dalam waktu lama.

Saya pasang foto ini untuk menyambut kepulangan adik saya yang sudah dua bulan KKN di Lombok. Dapat foto dan cerita apa kamu di rantau, Nak? Mari dibagi.

Kebetulan saya juga sedang mendengarkan single Let's Go Back dari album terbaru Dira Sugandi. Ini lagu yang cukup oke. Dinyanyikan oleh Dira featuring Omar, lengkap dengan aransemen acid jazz ala Incognito. Wah saya jadi kangen sama koleksi jazz lawas saya; Incognito, Earth Wind and Fire, Fourplay, Yellow Jacket, Lee Ritenour. Saya taruh mana ya, saya kok lupa.

8/21/10

Kota-Kota di Jawa

Sebuah tweet dari teman saya, Nur Wahid Budiono (@bandeenk) tentang kota-kota di Jawa yang ia lewati selama trip panjangnya ke Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Sedangkan karya fotografi adalah milik Dwi Putri Ratnasari. Sebuah gambar yang dia ambil dari kamera Olympus Pen lawas miliknya.
_______________________________________________

Oh ya, mumpung masih dalam acara quote-mengquote, saya mau nambahin satu lagi quote asyik dari salah satu kontributor blog ini.

"Merenung seperti gunung,
bergerak seperti ombak..."

( Teater Tanah Air, 2010)

Kalimat ini adalah status milik Mas Galih di Facebook pada 21 Agustus 2010. Sangat traveler sekali :p Hehehe.

8/17/10

Alone Longway From Home, First Year


Saya sangat enjoy dengan gaya bercerita yang begitu personal. Bukan guidebook tapi semacam kisah susah, senang, gembira, atau kecewa. Amat pantas sebagai bahan sebuah buku untuk catatan perjalanan khususnya Indonesia Timur.

Photo dan literatur juga menyegarkan, informatif dan mengundang. Yang paling menyenangkan ternyata 4shits happen : the worst entertainment adalah....Nafa Urbach (ngakak deh, very refreshing and honest). The best tunes juga paling menggugah walaupun ngga hobi ndengerin musik ketika backpacking.

Makasih banget buat Nuran Wibisono dan Ayos Purwoaji atas sharing yang luar biasa :)
(Ambar/Moderator Milis Indobackpacker)

Nice story, dan gaya penulisan yang sangat bagus detail namun tidak membosankan. .
sudah lama saya ingin mendokumentasikan catatan perjalanan saya kedalam bentuk seperti ini
Salam backpack!
(Leo Himawan)

cuma bisa kasih respon "W.O.W"
meskipun belum sempat membaca semuanya, tapi dari foto-fotonya ajib gila...
semoga bisa membuat inspirasi untuk backpacker2 pemula seperti saya...
(Kukuh Dwi)

RRRRUUARRR BIASA!
Pencerita yang hebat dan juru foto yang sangat cermat menangkap detail gambar yang fantastis. Salut untuk kalian berdua yang memacu semangat saya untuk menjelajah negeri yang cantik ini.
Salam,
(Ime)

Dear friends...
Like Roeper and Ebert; "Two thumbs up" tapi ini tak tambahin 2 lagi deh jempolnya. Sudah selesai dibaca, gaya bahasanya santai, jadi ringan bacanya, foto-fotonya menarik, dan catper yang agak beda bikin akhirnya langsung selesai ngebaca... bagian "index" akhirnya juga unik, dari wiskul sampai playlist-nya, hehehe...
it's true when the writer told that it's influenced by Gola Gong... mirip-mirip baca "Perjalanan Asia" na Gola Gong dan sedikit seperti The Journey...
ditunggu e-book berikutnya... kalo bisa dikumpulin... lalu dibikin buku deh... can be a good collection, thanks for free sharing...
warm regards.
(Shinta JP)

Mantebh surantebh, Bro..!!!
Luar biasa cerita dan pengambilan gambarnya.
Makin cinta saja pada Indonesia.. makin dalam saja rasa syukur pada-Nya.
(Nirwana Saloka)

Glek.., ngiri berat lihat cerita dan foto jalan-jalannya, karena tidak semua orang diberikan kesempatan yang sama. Memang nusantara ini sangat indah, pengin banget bisa menikmati keindahannya, sayang terkendala oleh waktu dan beberapa juga uang he.. he.. karena belum berani full backpacker-an!. Tuturan cerita di buku tersebut sangat enak, gaya penulisannya kadang agak tengil ingat dulu waktu muda juga suka rada-rada tengil . :).
(Endah RH)

"Nampol!" Satu kata yang terucap, ketika saya menyelesaikan 'Alone Longway from Home'. (Viera Rachmawati)

__________________________________________________________

"Tapi memang Tuhan selalu menolong hambanya yang pergi backpacking..."
(Alone Longway From Home, pg. 24)

__________________________________________________________

Tepat tanggal 17 Agustus satu tahun yang lalu, saya dan Nuran Wibisono membuat sebuah kumpulan travelogue tentang perjalanan backpacking kami ke Flores. Perjalanan overland selama hampir satu bulan ini memang merupakan salah satu perjalanan yang paling menarik yang pernah kami lakoni. Jika diingat kembali, begitu banyak kisah yang menyenangkan dan mengharukan. Akhirnya, di akhir perjalanan, kami sepakat untuk membuat sebuah ebook sederhana yang kami beri judul Alone Longway From Home.

Ebook ini akhirnya kami unggah dan bisa didonlot gratis oleh siapapun. Pertama kali saya merilisnya di milis Indobackpacker. Voila! ternyata banyak sambutan yang membuat kami tergugah. Tidak pernah kami pikir sebelumnya bahwa ebook setebal 42 halaman ini akan diapresiasi secara luas. Berbagai komentar positif ini menjadi energi baru bagi saya dan Nuran untuk terus jalan-jalan, memotret, dan membuat ebook lebih banyak lagi.

Ebook pertama kami ini bisa dikatakan memantik tren pembuatan ebook traveling di Indonesia. Tentu saja ini sebuah kemajuan yang patut diberikan applause panjang.

Maka satu tahun sudah umur Alone Longway From Home, akan selalu menjadi semangat untuk menyebarkan virus keliling Indonesia dan mencintai negeri ini lebih baik lagi!

Dirgahayu RI ke-65!

NB:
Silahkan baca review panjang tentang bagaimana 'nampol'-nya Alone Longway From Home ala dara manis teman kami, Viera Rachmawati. Silahkan klik artikelnya di sini.

Penghormatan satu tahun Alone Longway From Home juga ditulis oleh Nuran Wibisono dalam blognya. Silahkan klik di sini.

8/16/10

Pasar Malem Tjap Toendjoengan

Click image to enlarge!

Sekedar repost dari FB mas Eko Magelang, semoga ada yang bisa dateng :) Lumayan, buat menyemarakkan Agustusan. Hehehe.

Terimakasih atas infone mas Eko!

Follow the Blog!

image by Google


Hifatlobrain new feature.

Membuat sebuah blog itu mudah. Anda tinggal masuk ke situs penyedia hosting blog gratis seperti Blogger, Wordpress, Myspace, Tumblr, Xanga, Posterous atau Multiply. Lalu daftarkanlah akun Anda seperti mengisi form yang disediakan untuk membuat sebuah akun email. Tunggu sebuah surel yang akan masuk ke inbox, aktivasi, lalu voila! Jadilah sebuah blog pribadi yang terserah akan Anda isi apa.

Sekali lagi saya tekankan bahwa; membuat blog itu mudah. Namun menjaganya agar tetap enak dibaca dan selalu dikunjungi itu yang susah. Amat sangat susah. Tidak bisa saya hitung banyaknya teman saya yang membuat akun blog, lalu ditinggal mangkrak setelah satu dua postingan tanpa arah.

Memiliki blog yang ciamik itu hampir sama dengan mempunyai seorang pacar. Anda harus konsisten dan selalu memperkaya diri dengan fitur-fitur baru yang memungkinkan kekasih tidak mau ditinggal dalam waktu lama. Fitur baru juga akan menaikkan daya tawar Anda di depan calon mertua. O' rite mate?

Nah Hifatlobrain yang super duper keren ini pun begitu. Kami mencoba konsisten menyuguhkan berbagai artikel menarik dan beragam layanan baru dalam blog.

Kali ini kami memutuskan untuk ikut nge-twit. Blog maknyus ini kami sambungkan langsung dengan social media paling hype dewasa ini: Twitter. Hal ini menimbulkan banyak kemungkinan baru yang patut dijelajahi. Sebagai redaksi Hifatlobrain, melalui jejaring Twitter, kami bisa memberitahukan adanya postingan terbaru dengan lebih cepat. Layanan jejaring sosial dengan simbol burung berwarna biru ini juga memungkinkan adanya dialog antara sidang pembaca sekalian dengan kami, para redaksi.

Jika sebelumnya seluruh konten blog merupakan hak mutlak kami, maka jangan sungkan-sungkan untuk berbagi ide dan saran untuk mengembangkan konten blog ini di masa yang akan datang.

Keputusan mengawinkan Hifatlobrain dengan Twitter memiliki sejarah panjang. Awalnya, saya, sebagai editor-in-chief, merasa menghubungkan blog dengan Twitter adalah sebuah usaha yang sia-sia. Saat itu pandangan sinis kepada para twittizen memang memenuhi kepala saya. Karena nge-twit dalam konsepsi saya adalah; pekerjaan bodoh yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kesibukan. Tapi itu dulu.

Jika ini memang pekerjaan orang lalai, mengapa orang sekelas Goenawan Mohamad dan Ridwan Kamil yang saya hormati, rela berbagi waktu untuk memposting ribuan kicau pendek dalam Twitter. Jika nge-twit tidak memiliki manfaat, mengapa media sekelas The New Yorker dan Time Magazine rela membuat akun khusus untuk update berita. Harus diakui, saat ini kita hidup di dunia yang menghargai 140 kata. Sekecil apapun kicauan yang kita munculkan, bisa jadi menimbulkan efek besar di kemudian waktu. Dan, percaya atau tidak, menurut harian Kompas, bangsa Indonesia adalah pengguna Twitter nomor satu di dunia.

Satu twit saat ini bisa menjelma menjadi ribuan twit dalam waktu sepersekian jam, lalu berubah menjadi trending topic dalam beberapa hari, lalu menjadi ulasan di ribuan blog dan menjadi ratusan video pendek di Youtube dalam satu minggu. Seperti Butterfly Effect dalam Chaos Theory: kepakan sayap kupu-kupu yang terjadi saat ini di hutan Brazil dapat menghasilkan tornado beberapa bulan kemudian di Texas. Itulah kekuatan Twitter.

Associate editor Hifatlobrain, Winda Savitri (@savitriwinda) sebetulnya sudah menyarankan hal ini sejak lama. Dwi Putri Ratnasari (@dwiputrirats), honorable contributor, pun sudah lama menjadi Twittizen. Hanya sayang saya baru tergerak sekarang. Saat ini mata saya terbuka lebar. Layanan microblogging ini ternyata membuka banyak oportunitas baru dalam berbagi. We believe that sharing is caring. Jika memang Twitter mampu menjadi konduktor bagi sebuah informasi dalam bingkai yang lebih luas, mengapa tidak? We will spread the reader bigger, and bigger!

Untuk itu, kami tidak tanggung-tanggung. Kami sudah menyediakan tiga perangkat yang bisa membantu Anda sekalian, para pembaca untuk menyebarkan virus Hifatlobrain melalui Twitter:

1. Tombol 'Follow Me' akan membimbing Anda untuk memfollow Ayos Purwoaji (@aklampanyun).

2. Tombol feed di bawah setiap posting akan membantu Anda melakukan posting link artikel yang bersangkutan ke Twitter.

3. Tombol 'Tweetmeme' memudahkan pembaca sekalian untuk mempromosikan Hifatlobrain kepada para followers Anda di Twitter.

Jadi, mulai saat ini jangan sungkan untuk melakukan silang posting dari Hifatlobrain ke Twitter. Fell free to share folks! Keep Hifatlobrained!

Salam,

editor-in-chief

n.b:
Kami, redaksi Hifatlobrain, terimakasih kepada Bang Didut (@didut), yang telah men-tweetmeme-kan blog ini, bahkan jauh sebelum fasilitas tweetmeme dipasang di blog ini!

8/13/10

The Concert of the Year


Slash masih sama. Bertopi dan berambut gimbal, seperti yang saya kenal, pada saat SMP dulu.

Slash, gitaris legendaris dunia, hanya bisa melongo, tatapannya begitu bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Itu semua akibat seorang wartawan media lokal yang bertanya,”Mister Slash, apakah anda tahu tentang alat musik tradisional Indonesia seperti angklung dan gamelan? Apakah Anda punya rencana untuk mengkolaborasikan permainan Anda nanti malam dengan alat musik tradisional Indonesia?”

***
Hingga pertengahan 2010, saya sudah menikmati beberapa konser. Baik itu indie, jazz, dan yang terakhir rock. Memang tidak fair untuk membandingkan satu konser dengan konser lainnya. Apalagi dari genre yang sama sekali berbeda. Tapi tak apalah. Ini sebuah perasaan saya yang jujur. Bagi saya, hingga pertengahan tahun ini, konser Slash masih yang terbaik. Secara pribadi, saya bersedia memberikan predikat The Concert of the Year kepada pertunjukan yang diorganisir oleh Mahaka Entertainment ini.

Awalnya adalah Wendi Putranto, editor saya di Rolling Stone Magazine, yang menyuruh saya untuk meliput konser besar ini. Mimpi apa saya semalam? Saya memang sudah tahu konser ini sejak jauh hari. Tapi bahkan bermimpi untuk membeli tiketnya saja tidak pernah. Cukup mahal untuk kantong mahasiswa kere seperti saya. Ini konser bertipe koper, bukan backpacker.

"Kamu bisa kan liput konser ini, Yos? Pokoknya saya mau liputan dan foto eksklusif!" kata pria berambut gondrong sebahu yang sering disebut Wenz Rawk ini.

Saya masih bengong untuk beberapa saat. Ini bukan ranah saya, seharusnya ini bagian Nuran. Seumur-umur sangat jarang telinga saya dihentak oleh musik rock dengan desibel tinggi. Kuping saya lebih bisa beradaptasi dengan lompatan-lompatan nada pada musik jazz atau senandung pentatonik dari world music.

Jauh sebelum hari ini, saya mengenal Slash sejak SMP, banyak teman sejawat saya yang mencoba memainkan berbagai komposisi Guns N Roses di atas fret gitar kopong mereka. Mencoba mendekati, minimal meniru suara gitar milik Slash.

Wulung Anggara Hanandita, sahabat saya yang pintar bukan kepalang itulah yang meracuni saya untuk berkenalan lebih jauh dengan Slash dan Axl Rose. Dari pria kurus tinggi langsing ini, saya meminjam sebuah CD yang berisi diskografi Guns N Roses dalam format MP3. Lalu mendengarkannya secara intens. Apalagi ini adalah CD MP3 berbonus tiga video klip klasik Guns N Roses; "Sweet Child O' Mine", "Paradise City", dan "November Rain".

Tiga video klip ini sangat berpengaruh. Sehingga saya berkesimpulan bahwa Slash adalah gitaris paling jago di dunia setelah Yngwie Malmsteen, Steve Vai, dan Joe Satriani. Saat itu saya belum berkenalan dengan Jimi Hendrix, John Petrucci, BB King, atau Tohpati. Permainan gitar Slash yang meraung liar terus terngiang di telinga saya. Saya terus menerus mengulang track Winamp yang dipenuhi lagu Guns N Roses, tapi juga diselingi Slank, Iwan Fals, dan Avril Lavigne! Hahaha.

The best Slash guitar action bagi saya adalah dalam video klip "November Rain". Saat itu gitaris kriting ini berjalan keluar dari sebuah gereja putih kecil. Ia sangat boyish dengan jaket kulit dan sepatu boot. Di dadanya ada kalung salib kecil. Slash berjalan dengan tenang sambil menenteng sebuah gitar.

Selanjutnya bisa ditebak, ia bermain solo di luar gereja ditingkahi tanah gersang dan debu yang beterbangan. Rambut Slash berkibar-kibar tanpa topi. Permainan sangat intens ini berlangsung selama beberapa puluh detik. Fak! ini keren banget.

Sayang CD MP3 itu hilang, akibat perbuatan saya yang teledor. Peristiwa ini membuat Wulung sempat murka, meski tidak lama.

***
Malam itu, pada Sabtu (31/7) di gedung Jatim Expo, saya hanya berjarak beberapa belas meter dari Slash. "Iki aku mimpi ta gak?" begitu ucap saya berkali-kali dalam hati. Saya berkeringat, sangat senang.

Saya melihat banyak pemuda seumuran saya yang turut menyaksikan konser ini. Barangkali mereka adalah anak-anak kecil yang tersihir permainan gitar Slash beberapa tahun lalu, sama seperti saya.

Permainan Slash malam itu memang membuktikan kualitasnya sebagai seorang legenda. Lagu "Ghost" dari album selftitled dimainkan pertama kali. Ini adalah salah satu track kesukaan saya di album terbaru Slash. Selanjutnya mengalirlah nomor-nomor lawas dari Guns N Roses, Slash's Snakepit serta Velvet Revolver. Nomor-nomor seperti "Rocket Queen", "Sucker Train Blues", "Slither", dan "Night Train". Semuanya menampilkan permainan apik dari Slash.

Saat "Sweet Child O' Mine" dimainkan, siapa yang bisa menahan mulutnya untuk berhenti? Saya melolong sing-a-long sepanjang lagu keren yang menemani saya mimpi basah akil baligh ini. Suara Myles Kennedy, vokalis Alter Bridge yang menemani Slash, tenggelam diantara suara penonton yang membuat kucing bunting jadi tidak ingin melahirkan. Begitu menggema, membuat saya merinding.

Lagu-lagu baru dari album selftitled juga dimainkan, seperti single "Nothing To Say", "Back From Cali", "By The Sword", dan "Watch This". Pada lagu "Starlight", permainan gitar Slash mengalun sendu di awal. Mengajak para penonton untuk sejenak menghela nafas.

Selama konser ini, Slash memang hadir sadis. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Antara lagu satu dengan lagu berikutnya hampir tidak berjarak. Menurut saya, nonton konser ini hampir sama seperti mendengarkan iPod yang terisi playlist Slash. Semua track datang dengan cepat dan tidak memberikan banyak waktu pada penonton untuk beristirahat. Siapa tidak puas dijejali 18 track lagu dengan raungan gitar yang mengalun sempurna?

Puncak permainan gitar Slash, menurut saya adalah saat ia bermain solo dalam sebuah komposisi tanpa nama. Permainan melodi yang melengking dan raungan gitar khas Slash muncul. Komposisi sepanjang hampir enam menit ini disambung dengan theme song film Godfather yang skillful. Pose favorit saya pun muncul ketika leher gitar diangkat hampir menjadi satu sumbu dengan tubuh Slash. Kedua kakinya mengangkang dan bermain menjadi satu dengan gitar. Ini adalah pose sempurna seorang Slash dalam memainkan gitar, seperti bercinta dengan kekasihnya sendiri.

***
Menonton konser berdurasi dua jam ini merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Menyedot saya melewati pusaran waktu, kembali menjadi anak SMP yang terpukau melihat gaya bermain dari salah satu gitaris terbaik di dunia. Bagi saya; tidak ada kata tua buat permainan gitar seorang Slash! []

Saya ingin mengucapkan rasa terimakasih banyak kepada:
Wulung Anggara Hanandita atas virusnya yang oke :)
Fanny Sudarti
dan Dwi Adiyanto


Beberapa paragraf dalam artikel ini saya copas dari artike saya untuk Rolling Stone, males mikir lagi euy, hehehe. Klik di sini untuk membaca artikelnya.

Silampukau on The JakartaPost July 2010

Sebuah foto Silampukau, band folk aseli Surabaya, yang saya ambil beberapa bulan lalu. Berhasil nampang di JakartaPost, bersanding numpang tenar bersama artikel ciamik sobat saya, Nuran Wibisono. Sebetulnya saya juga mau mengaplot gambar aselinya, tapi lupa saya taruh mana. Mungkin di HD. Nanti deh saya aplot belakangan.

Silahkan lihat tulisan menarik Nuran tentang scene musik Surabaya di:
Surabaya Scene Awake After Long Slumber.

Kredit. Foto capture koran saya ambil dari twitter milik @gugunsatya.
Silampukau check it here: http://www.myspace.com/silampukau

8/5/10

Similar But Different

Afghan Girl by Steve McCurry, National Geographic Magazine June 1985 cover.
The best magazine cover all the time.

TIME Magazine August 2010 cover.

Wanita yang tampil di cover itu adalah Aisha. Dia masih muda, umurnya 16 tahun. Seperti wanita negeri Asia Tengah lainnya, Aisha dianugerahi paras elok. Kulitnya gelap, rambutnya hitam tergerai. Alisnya, amboi, bak semut beriring.

Tapi, foto di sampul Time tersebut menyajikan sisa-sisa kecantikan Aisha. Dia menjadi wanita tanpa hidung, hanya tersisa rongga segi tiga yang mengerikan. Sejatinya, dua telinganya pun sudah tak ada. Tapi, rambut hitamnya menutupi dua lubang di sisi kepalanya itu.

Aisha menyatakan, tampil di sampul Time adalah keputusan terberat dirinya. Tapi, dia memutuskan melakukan itu untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kebangkitan Taliban akan sangat berpengaruh pada nasib perempuan.

Akhir tahun lalu, Aisha dieksekusi. Dia dinyatakan bersalah lantaran berusaha lari dari wilayah kekuasaan Taliban. (Jawa Pos. Rabu, 4 Agustus 2010)

See the similiar :)

8/3/10

Interview with Ambar Briastuti

Hifatlobrain memunculkan rubrik baru yang diberi nama I'm Hifatlobrained. Untuk kali pertama dalam sejarah, Ambar Briastuti, seorang traveler kelas dunia siap untuk diwawancara. Dia membagikan kisah dan pengalamannya selama traveling dan berbagi hal menarik yang akan di-share untuk Hifatlobrainers sekalian. Selamat membaca!

___________________
Interviewer: Ayos Purwoaji
By: Yahoo! Messanger
Photo: Ambar Briastuti
___________________

Hifatlobrain (HFLB): Halo mbak!
Ambar Briastuti (AB): Hi!

HFLB: Oke yak sip, apakah interview abal-abal ini siap dimulai?
AB: Hahaha... tekone ojok susah-susah yo.

Tentang Ambar
HFLB: Santai saja mbak ini tidak sesusah tes masuk perguruan tinggi, oke pertanyaan pertama: Jelaskan siapakah Ambar Briastuti dalam tiga kata?
AB: Backpacking. Adventure. Photography. Tiga hobby yang menginspirasi hidupku selama ini.

HFLB: Personal information?
AB: Saya adalah seorang engineer perempuan tetapi menyukai dunia desain. Hingga hari ini berumur 36 tahun, tempat tinggal California, US. Aseli Bantul, Yogyakarta. Status menikah belum punya anak. Cukup?
HFLB: Woho sangat cukup mbak.

__________________________________________________________
Mbak Ambar menghabiskan masa kecilnya di Yogyakarta. Mengenyam pendidikan di SMA Teladan, S1 Universitas Islam Indonesia, lalu melanjutkan di University Wolverhampton Inggris lantas saat ini terdampar di UC Berkeley, US.

Setelah tekun mempelajari ribuan lembar buku Mekanika Tanah dan Mekanika Teknik untuk mengejar gelar civil engineer, sekarang Mbak Ambar sedang tertarik untuk menekuni bidang sustainable design.
__________________________________________________________

HFLB: Apa pilihan sustainable design dipilih akibat pengaruh dari banyak melakukan tetirah?
AB: Salah satunya iya. Terutama menciptakan budaya traveling yang lebih menghargai alam sekitar. Mungkin karena saya seneng berpetualang, otomatis menyukai landscape yang bagus. Paling tidak, ada keinginan untuk menjaga agar alam tetap lestari. Oleh karena itu aku juga paling tidak suka dengan konsep mass travel, perjalanan dengan sistem massal. Karena terkadang bumi tidak mampu menghadapi efek yang ditimbulkan oleh sampah atau terinjak-injak oleh manusia. Belum lagi misale melibatkan pemakaian bahan bakar kayu atau limbah manusia.

HFLB: Lalu apa yang mbak Ambar ketahui tentang sustainable traveling? *rodo advanced iki pertanyaanne, hahaha*
AB: Sustainable traveling itu lebih kepada common sense manusia terhadap lingkungannya. Menghormati alam dan menyakini bahwa kita ini bagian dari alam itu sendiri. Bukan mengusai atau menggunakannya dengan sewenang-wenang. Pertanyaanmu kok dadi serius?
HFLB: Hehehe iyo ben blogku ketok berbobot sithik.

AB: Menurutmu independent traveler itu lebih bagus daripada mass travel?
HFLB: Kok malah saya yang ditanya? ini kan sesi saya...
AB: [Dengan cuek dan terus mengetik] Aku sendiri memandang backpacking itu lebih sustainable karena berusaha memakai public transport, menghargai budaya dan nilai setempat.
HFLB: [Pasrah] Betul mbak...
AB: Jadi di milis Indobackpacker [IBP] itu nek ada yang tanya penyewaan mobil mesti kita hapus.
HFLB: Wah sesadis itukah IBP?
AB: Hooh... emang moderator IBP iku terkenal paling sadis hahaha.
HFLB: Iya, lha wong thread saya pernah kena banned satu kali.
AB: Kenapa emang?
HFLB: Waktu itu saya mau bagi-bagi Lonely Planet: Indonesia gratis versi PDF. Lantas dicekal karena dituduh melanggar hak cipta.
AB: Ya, kalau dibagikan ke orang per orang sih silakan aja.
HFLB: Iya mbak, waktu itu saya khilaf.


__________________________________________________________
Milis Indobackpacker adalah milis tertua yang dikhususkan untuk backpacker di Indonesia. Lahir pada 30 September 2004, didirikan oleh dua orang pegiat alam bebas bernama Aris dan Erwin. Tujuan awalnya adalah menjadikan milis ini sebagai tempat berkumpul alternatif bagi penyuka petualangan ala gunung. "Backpacking dalam term orang Amrika adalah back country, jadi kegiatannya adalah kemping, jalan-jalan di gunung, dan segala aktifitas outdoor oriented begitulah," kata Mbak Ambar. Wanita yang aktif di kegiatan pecinta alam sejak SMA ini awalnya hanya menjadi anggota biasa," Terus ditawari jadi moderator oleh Aris pada tahun 2005," kata Mbak Ambar.
__________________________________________________________

HFLB: Oke lanjut. Apa sih yang mempengaruhi seorang Ambar Briastuti untuk menjadi seorang traveler?
AB: Mungkin keingintahuan. Sedari kecil, saya selalu bertanya hal sepele, seperti, kenapa langit itu biru? Sama seperti traveling; kenapa orang Inggris itu suka antri atau kenapa orang China suka meludah. Jadi semua itu menuntun untuk belajar hal baru.

HFLB: Apakah ada tokoh fiksi di masa kecil yang memperngaruhi?
AB: Ada, petualangan Lima Sekawan! Ah ya... Inget, dulu waktu kecil suka ngimpi jadi George [salah satu anggota Lima Sekawan]. Dulu sampe ngebayangin ke Pulau Kirin, dan membuat aku pengen banget ke Inggris.

HFLB: Aktif di kegiatan pecinta alam sejak SMA membawa Mbak Ambar ke mana saja?
AB: Dulu jadi anak gunung tapi nggak sempat melakukan ekspedisi yang jauh-jauh. Hanya lingkup Jawa Tengah dan sekitarnya. Seperti Gunung Merbabu Lawu dan Sindoro. Tapi pas mahasiswa aku malah nggak ikut pecinta alam, karena nanti kuliah bakalan mampet. Dulu Mapala UII kan terkenal di Jogja, tapi aku malah memutuskan tidak ikut.
HFLB: Kenapa?
AB: Banyak pertimbangan. Karena aku nggak kuliah di universitas negeri jadi biaya adalah masalah utama. Kondisi seperti itu yang membuat aku menjadi orang yang frugal, selalu mencari hal yang murah dan efisien.
HFLB: Jadi [kalau urusan duit] sangat pertimbangan sekali ya?
AB: Yoi...rada sosialis banget dah. Hahaha. Dalam opiniku, ngga perlu mahal jika kita usaha sedikit. Kebetulan aku berkesempatan untuk membagi value ini dengan rekan-rekan di Indobackpacker.

Tentang Musik, Buku, dan Film
HFLB: Emang dulu masa muda mbak dihabiskan dengan mendengarkan musik apa?
AB: Dulu aku suka musik etnik, Djaduk salah satunya. Atau kombinasi modern dengan tradisional. Genre musik new age juga suka, atau iseng mendengarkan musik klasik kalau lagi kumat.
HFLB: Wah suka world music ya. Suka mendengarkan rilisan Putumayo berarti?
AB: Yups. Oh ya tau nggak Rough Guide itu juga nerbitin world music? Mereka mengumpulkan musik-musik dunia, terus juga ada guide untuk menonton music festival di seluruh dunia.
HFLB: New age? Suka meditasi atau yoga gitu?
AB: Enggak, nemenin kerja aja. Aku ngga bisa konsen kalau musik ada liriknya :)
HFLB: Loh bukannya Mbak Ambar sudah totally off dari dunia kerja?

__________________________________________________________
Setelah menikah, sang suami menyarankan Mbak Ambar untuk tidak lagi bekerja formal. Jadi ia bekerja kadang sebagai penulis lepas, menerjemahkan sebuah karya atau pekerjaan lain suka-suka Mbak Ambar lah intinya. "Aku kan juga sekolah lagi sekarang, ambil non-gelar Arsitektur, mau lebih menekuni budaya," kata Mbak Ambar. Sekolah terus memang nggak bosen ya?
__________________________________________________________

AB: Kalau travel aku suka beli CD lokal, kayak kamu juga Yos...
HFLB: Oh, kalo gitu nanti saya kirim yang Madura mbak! Hehehe. Oke next question: Traveler itu bisa dikatakan sebagai antropolog amatir atau tidak?
AB: Bisa. Menurutku, menjadi traveler itu membuat kita memahami budaya lain. Penting juga menjadi humble, karena bila kita melihat kearifan budaya lain maka kita ini jadi serasa bukan apa-apa. Kita jadi berpikir kenapa saya menjadi saya. Kenapa saya beragama Islam misalnya. Well, itulah menurut aku traveling sebenarnya, sebuah proses pencarian diri.
HFLB: Jawaban Anda begitu cadas Mbak.
AB: Hahaha

HFLB: Suka nonton film Mbak?
AB: Wow suka banget! Baca buku juga suka.
HFLB: Sebutkan 5 film terbaik untuk para traveler!
AB: Yang konyol apa yang serius nih?
HFLB: Terserah. Top five versi Ambar lah.
AB: Seven Years In Tibet (1997), The Motorcycle Diaries (2004), Lost In Translation (2003), The Quite American (2002), Indiana Jones Serial khususnya Raiders of the Lost Ark (1981)
HFLB: Emang kalo film traveling yang konyol seperti apa?
AB: Kayak The Da Vinci Code. Suspensenya oke lah, tapi lemah di materi. Oh ya ada juga tentang tiga bersaudara naik kereta ke India, itu juga oke. Judulnya The Darjeeling Limited (2007)

HFLB: Eh mbak, mengapa Ernesto dalam film The Motorcycle Diaries begitu dicintai wanita? Apakah karena pemerannya yang ganteng seperti saya?
AB: Hayah. Menurutku Ernesto itu berpendidikan, dia cenderung memperlakukan wanita dengan baik. Setahuku, Ernesto itu simpatik, seperti Soe Hok Gie.

HFLB: Katanya lagi baca buku tentang Tibet mbak?
AB: Iya. Aku lagi baca "Freeing Tibet", buku politik. Trus lagi baca "The Search for the Panchen Lama" juga.
HFLB: Eh mbak kalo ada 5 buku travel yang direkomendasikan apa?
AB: Apa ya? Aku lagi baca banyak. "Riding the Iron Rooster" - Paul Theroux, "Krakatoa: The Day the World Exploded" - Simon Winchester, "Lost Horizon" - James Hilton, ... [Saya dan Mbak Ambar lalu ngobrol ngalor ngidul tentang Lost Horizon dan Shambala, ia lupa menambahkan daftar kelima dari buku traveler yang direkomendasikan. Kita tagih kapan-kapan]

HFLB: Berarti tadi Top Five Travel Book versi Ambar, "Alone Longway From Home" nggak masuk ya?
AB: Hahaha... Ora, soale ndak kepincut.

HFLB: Lebih suka travel guide atau travel experience?
AB: Maksudte?
HFLB: Lebih tertarik baca Lonely Planet dan Rough Guide, atau Selimut Debu dan The Naked Traveler?
AB: Dua-duanya punya tujuan berbeda. Guide Book berisi panduan jalan, how to. Tapi Selimut Debu bisa disebut Travel Memoir. Lebih inspiring travel memoir menurutku.

Tentang Traveling
HFLB: Oke sekarang memasuki pertanyaan standar untuk seorang Ambar: sudah traveling kemana aja Mbak?

__________________________________________________________
Dalam sebuah esai di blognya, Mbak Ambar mengatakan bahwa dia sangat benci mendengar pertanyaan seperti," Sudah berapa negara yang dikunjungi mbak?" kata Ambar,"Itu nggak penting, lebih penting journey-nya. Biasanya orang kalo sudah pergi ke banyak negara jadi kemaki (sombong, red.) padahal aku pernah juga nemuin orang yang katanya sering pergi ke luar negeri, tapi masih aja culun. Jadi jumlah itu bukan ukuran." Sedaaap. Tapi Mbak Ambar tetap tidak berkutik dan menjawab pertanyaan yang diajukan Hifatlobrain.
__________________________________________________________

AB: Eropa cuman beberapa aja. Italia, Perancis, sedikit Jerman, sedikit Swiss. Masih pengen ke Eropa Timur, cita-cita kalau nanti tua. Amerika Latin belum seperti Meksiko, Costarica, Peru, Chile, Suriname juga tampaknya menarik, kalo tahun depan kayaknya ke Patagonia. Dan lain-lain.
HFLB: Lha ke Suriname ngapain?
AB: Ketemu wong Jowo! Hahaha.
HFLB: Hahaha, cliche!
AB: Secara sejarah, Suriname sangat menarik. Bubar iku dolan neng Amsterdam nggoleki wong Makassar. Wah komplit tenan! Hahaha
HFLB: Apakah Mbak Ambar percaya bahwa Indonesia adalah Atlantis?
AB: Absolutely NO.
HFLB: Oke next, the best traveling ever kemana mbak?
AB: Aku selalu teringat hal sepele, misale menghabiskan malam di sebuah dusun terpencil di Thailand atau naik kereta ke Bangkok dari perbatasan Laos karena ra nduwe visa mlebu Vietnam...

__________________________________________________________
Sebelum Mbak Ambar nyerocos terus tentang kenangan travelingnya yang menyakitkan hati saya sebagai backpacker kere yang belum kemana-mana, maka segera saya putus. Hehehe.
__________________________________________________________

HFLB: Nggak boleh curang mbakku yang baik. Anda harus memilih salah satu saja, karena the best itu cuman ada satu.
AB: Hahaha. Aku suka di Himalaya.
HFLB: Alasannya?
AB: Merasa seperti dirumah sendiri. Gunung yang tinggi dan kuburan manusia yang mencoba menaklukannya. Ironis. Tempat yang sangat indah tapi mematikan.

HFLB: Pernahkah Anda melakukan traveling karena obsesi atau fantasi masa lalu?
AB: Enggak pernah. Aku ngga pernah terpengaruh obsesi dari masa lalu. Obsesi masa kecilku adalah ke Jepang, sampe sekarang aku belum pernah kesana dan belum pengen banget.
HFLB: The place you wanna visit before you die is ...
AB: 1. Antartica; 2. Tibet (insyaallah tahun ini); 3. Iceland; dan 4. Alaska.

HFLB: Selama ini pilih hospitality gratis atau hotel murah?
AB: Hotel murah. Ketemu orang senasib. Ra duwe duwit tetapi impian tinggi. Hahaha.
HFLB: Jadi kere tapi hedon ya. Tapi mengapa? katanya Anda seorang antropolog amatir? Bukankah menginap di rumah penduduk adalah salah satu cara mengenal mereka?
AB: Tergantung rumah penduduk dimana. Kalo di negara dunia ketiga masih mending, tapi kalo di Paris? Wah mending ngere wae (menjadi kere, red.) , bila perlu gelar tikar di stasiun. Aku ngga percaya orang lokal selalu lebih tahu.
HFLB: Oh ya? Berbeda dengan saya yang percaya bahwa orang lokal adalah Lonely Planet terbaik.
AB: Lha buktinya aku pernah ke NY. Temenku yang orang Manhattan malah ngga ngerti dan ngga pernah ke Central Station atau ke Tibet Museum. Payah. Jadi tergantung orang lokal seperti apa. Aku malah lebih percaya orang di jalanan.
HFLB: Seperti tukang becak gitu?
AB: Iya... atau kernet atau penjaja makanan.

Tentang Travel Photography
HFLB: Tentang travel photography, sejak kapan Mbak?
AB: Sejak dulu pake film, tapi ngga sempat punya SLR sendiri, nggak punya duit, mending pinjem temen aja. Tahun 2002 masih pinjem kamera digital. Akhirnya nabung dan bisa beli DSLR sendiri.
HFLB: Agamanya apa mbak, Nikon atau Canon?
AB: DSLR-nya Nikon, pocket pake Canon. Ra setia tenan pokoke, hahaha.
HFLB: Karena foto Mbak Ambar cukup keren, mau kasih tips gak cara membuat travel photography yang baik buat pembaca Hifatlobrain?
AB: Believe your eyes!
HFLB: Jadi bukan believes your gear ya? Hehehe.
AB: Yups! Mata kita adalah cerminan persepsi estetika, kamera hanyalah alat membantu mengabadikannya.


Epilog
HFLB: Mbak ada nggak saran buat para traveler muda?
AB: Penuhi keingintahuanmu.
HFLB:Wes ngono thok?
AB: Lha iya sih, kalau kamu ndak punya keinginan untuk tahu, ngapain traveling? Wes nonton teve wae nonton acara traveling udah cukup.
HFLB: Lha kalo pengen narsis? Cuman pengen foto di PhiPhi Island atau Disneyland misalnya. Ini abad Facebook mbak.
AB: Iya sih...setiap orang berhak traveling apapun motivasinya.
HFLB: Nah kalo narsisme jadi motivasi utama kan berarti kata-kata mbak yang: penuhi keingintahuanmu, jadi nggak relevan.
AB: Menurutku rasa lapar ingin tahu itu kunci utama untuk kita keluar rumah, tidak hanya duduk saja. Action, doing something. Kalau dia kemudian melakoni backpacking hanya untuk narsis, ya biarin aja. Memang itu kadar dia. Itu cara dia untuk merasa menjadi 'manusia'.

HFLB: Mbak Ambar pilih lagu "Keong Racun" atau "Cinta Satu Malam"?
AB: Cinta Satu Malam! Soale nggak dengerin Keong Racun. Hahaha.
HFLB: Mbak nggak berniat bikin buku seperti mas Agustinus Wibowo?
AB: Aku ada riset, tapi masih panjang. Ke Tibet juga dalam rangka itu sebenere.
HFLB: Ooh sukses mbak untuk risetnya. Segera diterbitkan saja. Nanti saya kasih review di blog saya :)
AB: Hahaha oke.
HFLB: Makasih Mbak Ambar atas waktunya.
AB: Sip nuwun Ayos! Salam buat temen-temen ya.

Silahkan temui Ambar Briastuti langsung di blognya yang berisi banyak pemikiran cerdas tentang traveling http://ambarbriastuti.multiply.com/

Menjadi Indonesia, Sebuah Kompetisi Esai


Saya berkewajiban untuk mempostingnya, karena saya alumni kompetisi ini tahun kemarin :p Silahkan baca panduan lengkapnya di sini:
http://menjadi-indonesia.org/kem-2010/

Hadiahnya lumayan. Cukup buat jalan-jalan Phuket - Chiang Mai - Kathmandu - Tanah Abang - Ciamis bolak-balik :) Karena ditunjuk sebagai mentor, saya harus bersedia menjadi tempat bertanya dan asistensi untuk para Hifatlobrainers yang tertarik untuk mengikuti lomba ini. Silahkan mendaftar!

8/2/10

Sinta & Jojo the New Internet Phenomenon

Photo courtesy of provoke-online.com

Saya mau memulai postingan bulan Agustus dengan Sinta & Jojo. The Bieber-effect Indonesian rising star. Foto ini dicomot dari sini.