Pages

8/13/10

The Concert of the Year


Slash masih sama. Bertopi dan berambut gimbal, seperti yang saya kenal, pada saat SMP dulu.

Slash, gitaris legendaris dunia, hanya bisa melongo, tatapannya begitu bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Itu semua akibat seorang wartawan media lokal yang bertanya,”Mister Slash, apakah anda tahu tentang alat musik tradisional Indonesia seperti angklung dan gamelan? Apakah Anda punya rencana untuk mengkolaborasikan permainan Anda nanti malam dengan alat musik tradisional Indonesia?”

***
Hingga pertengahan 2010, saya sudah menikmati beberapa konser. Baik itu indie, jazz, dan yang terakhir rock. Memang tidak fair untuk membandingkan satu konser dengan konser lainnya. Apalagi dari genre yang sama sekali berbeda. Tapi tak apalah. Ini sebuah perasaan saya yang jujur. Bagi saya, hingga pertengahan tahun ini, konser Slash masih yang terbaik. Secara pribadi, saya bersedia memberikan predikat The Concert of the Year kepada pertunjukan yang diorganisir oleh Mahaka Entertainment ini.

Awalnya adalah Wendi Putranto, editor saya di Rolling Stone Magazine, yang menyuruh saya untuk meliput konser besar ini. Mimpi apa saya semalam? Saya memang sudah tahu konser ini sejak jauh hari. Tapi bahkan bermimpi untuk membeli tiketnya saja tidak pernah. Cukup mahal untuk kantong mahasiswa kere seperti saya. Ini konser bertipe koper, bukan backpacker.

"Kamu bisa kan liput konser ini, Yos? Pokoknya saya mau liputan dan foto eksklusif!" kata pria berambut gondrong sebahu yang sering disebut Wenz Rawk ini.

Saya masih bengong untuk beberapa saat. Ini bukan ranah saya, seharusnya ini bagian Nuran. Seumur-umur sangat jarang telinga saya dihentak oleh musik rock dengan desibel tinggi. Kuping saya lebih bisa beradaptasi dengan lompatan-lompatan nada pada musik jazz atau senandung pentatonik dari world music.

Jauh sebelum hari ini, saya mengenal Slash sejak SMP, banyak teman sejawat saya yang mencoba memainkan berbagai komposisi Guns N Roses di atas fret gitar kopong mereka. Mencoba mendekati, minimal meniru suara gitar milik Slash.

Wulung Anggara Hanandita, sahabat saya yang pintar bukan kepalang itulah yang meracuni saya untuk berkenalan lebih jauh dengan Slash dan Axl Rose. Dari pria kurus tinggi langsing ini, saya meminjam sebuah CD yang berisi diskografi Guns N Roses dalam format MP3. Lalu mendengarkannya secara intens. Apalagi ini adalah CD MP3 berbonus tiga video klip klasik Guns N Roses; "Sweet Child O' Mine", "Paradise City", dan "November Rain".

Tiga video klip ini sangat berpengaruh. Sehingga saya berkesimpulan bahwa Slash adalah gitaris paling jago di dunia setelah Yngwie Malmsteen, Steve Vai, dan Joe Satriani. Saat itu saya belum berkenalan dengan Jimi Hendrix, John Petrucci, BB King, atau Tohpati. Permainan gitar Slash yang meraung liar terus terngiang di telinga saya. Saya terus menerus mengulang track Winamp yang dipenuhi lagu Guns N Roses, tapi juga diselingi Slank, Iwan Fals, dan Avril Lavigne! Hahaha.

The best Slash guitar action bagi saya adalah dalam video klip "November Rain". Saat itu gitaris kriting ini berjalan keluar dari sebuah gereja putih kecil. Ia sangat boyish dengan jaket kulit dan sepatu boot. Di dadanya ada kalung salib kecil. Slash berjalan dengan tenang sambil menenteng sebuah gitar.

Selanjutnya bisa ditebak, ia bermain solo di luar gereja ditingkahi tanah gersang dan debu yang beterbangan. Rambut Slash berkibar-kibar tanpa topi. Permainan sangat intens ini berlangsung selama beberapa puluh detik. Fak! ini keren banget.

Sayang CD MP3 itu hilang, akibat perbuatan saya yang teledor. Peristiwa ini membuat Wulung sempat murka, meski tidak lama.

***
Malam itu, pada Sabtu (31/7) di gedung Jatim Expo, saya hanya berjarak beberapa belas meter dari Slash. "Iki aku mimpi ta gak?" begitu ucap saya berkali-kali dalam hati. Saya berkeringat, sangat senang.

Saya melihat banyak pemuda seumuran saya yang turut menyaksikan konser ini. Barangkali mereka adalah anak-anak kecil yang tersihir permainan gitar Slash beberapa tahun lalu, sama seperti saya.

Permainan Slash malam itu memang membuktikan kualitasnya sebagai seorang legenda. Lagu "Ghost" dari album selftitled dimainkan pertama kali. Ini adalah salah satu track kesukaan saya di album terbaru Slash. Selanjutnya mengalirlah nomor-nomor lawas dari Guns N Roses, Slash's Snakepit serta Velvet Revolver. Nomor-nomor seperti "Rocket Queen", "Sucker Train Blues", "Slither", dan "Night Train". Semuanya menampilkan permainan apik dari Slash.

Saat "Sweet Child O' Mine" dimainkan, siapa yang bisa menahan mulutnya untuk berhenti? Saya melolong sing-a-long sepanjang lagu keren yang menemani saya mimpi basah akil baligh ini. Suara Myles Kennedy, vokalis Alter Bridge yang menemani Slash, tenggelam diantara suara penonton yang membuat kucing bunting jadi tidak ingin melahirkan. Begitu menggema, membuat saya merinding.

Lagu-lagu baru dari album selftitled juga dimainkan, seperti single "Nothing To Say", "Back From Cali", "By The Sword", dan "Watch This". Pada lagu "Starlight", permainan gitar Slash mengalun sendu di awal. Mengajak para penonton untuk sejenak menghela nafas.

Selama konser ini, Slash memang hadir sadis. Tidak banyak kata yang keluar dari mulutnya. Antara lagu satu dengan lagu berikutnya hampir tidak berjarak. Menurut saya, nonton konser ini hampir sama seperti mendengarkan iPod yang terisi playlist Slash. Semua track datang dengan cepat dan tidak memberikan banyak waktu pada penonton untuk beristirahat. Siapa tidak puas dijejali 18 track lagu dengan raungan gitar yang mengalun sempurna?

Puncak permainan gitar Slash, menurut saya adalah saat ia bermain solo dalam sebuah komposisi tanpa nama. Permainan melodi yang melengking dan raungan gitar khas Slash muncul. Komposisi sepanjang hampir enam menit ini disambung dengan theme song film Godfather yang skillful. Pose favorit saya pun muncul ketika leher gitar diangkat hampir menjadi satu sumbu dengan tubuh Slash. Kedua kakinya mengangkang dan bermain menjadi satu dengan gitar. Ini adalah pose sempurna seorang Slash dalam memainkan gitar, seperti bercinta dengan kekasihnya sendiri.

***
Menonton konser berdurasi dua jam ini merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. Menyedot saya melewati pusaran waktu, kembali menjadi anak SMP yang terpukau melihat gaya bermain dari salah satu gitaris terbaik di dunia. Bagi saya; tidak ada kata tua buat permainan gitar seorang Slash! []

Saya ingin mengucapkan rasa terimakasih banyak kepada:
Wulung Anggara Hanandita atas virusnya yang oke :)
Fanny Sudarti
dan Dwi Adiyanto


Beberapa paragraf dalam artikel ini saya copas dari artike saya untuk Rolling Stone, males mikir lagi euy, hehehe. Klik di sini untuk membaca artikelnya.

7 comments:

irma sang cucu pak aspan said...

slash itu mirip brooke yg di komik onepiece.. makalah bacalah komik one piece sodara-sodaraa

irma sang cucu pak aspan said...

slash itu mirip brooke yg di komik onepiece..maka wajib hukumnya baca komik onepiece setelah alquran..kyaaaa
(dalil irmacupan nan jeniuso)

Ayos Purwoaji said...

Hoho iyo wessssss.... kyaaaa

Giri Prasetyo said...

ajari nulis po'o mas...

Ayos Purwoaji said...

Hehe, sini gir, abang ajarin...

blackskin said...

Aaaah,..
Terlewat sudah aku tidak bisa menyaksikan permainan jari Slash.
Grrr...

Untungnya HFLB menyajikan dengan apik beserta foto2nya, itu sudah cukup.

Rudi B. Prakoso said...

Gak bisa nonton.....huaaa...huaa...

Tapi tulisan sama fotonya sedikit bisa menghapus air mata...

Tapi terobati dengan Jember Fashion Carnaval 9.