Pages

8/3/10

Interview with Ambar Briastuti

Hifatlobrain memunculkan rubrik baru yang diberi nama I'm Hifatlobrained. Untuk kali pertama dalam sejarah, Ambar Briastuti, seorang traveler kelas dunia siap untuk diwawancara. Dia membagikan kisah dan pengalamannya selama traveling dan berbagi hal menarik yang akan di-share untuk Hifatlobrainers sekalian. Selamat membaca!

___________________
Interviewer: Ayos Purwoaji
By: Yahoo! Messanger
Photo: Ambar Briastuti
___________________

Hifatlobrain (HFLB): Halo mbak!
Ambar Briastuti (AB): Hi!

HFLB: Oke yak sip, apakah interview abal-abal ini siap dimulai?
AB: Hahaha... tekone ojok susah-susah yo.

Tentang Ambar
HFLB: Santai saja mbak ini tidak sesusah tes masuk perguruan tinggi, oke pertanyaan pertama: Jelaskan siapakah Ambar Briastuti dalam tiga kata?
AB: Backpacking. Adventure. Photography. Tiga hobby yang menginspirasi hidupku selama ini.

HFLB: Personal information?
AB: Saya adalah seorang engineer perempuan tetapi menyukai dunia desain. Hingga hari ini berumur 36 tahun, tempat tinggal California, US. Aseli Bantul, Yogyakarta. Status menikah belum punya anak. Cukup?
HFLB: Woho sangat cukup mbak.

__________________________________________________________
Mbak Ambar menghabiskan masa kecilnya di Yogyakarta. Mengenyam pendidikan di SMA Teladan, S1 Universitas Islam Indonesia, lalu melanjutkan di University Wolverhampton Inggris lantas saat ini terdampar di UC Berkeley, US.

Setelah tekun mempelajari ribuan lembar buku Mekanika Tanah dan Mekanika Teknik untuk mengejar gelar civil engineer, sekarang Mbak Ambar sedang tertarik untuk menekuni bidang sustainable design.
__________________________________________________________

HFLB: Apa pilihan sustainable design dipilih akibat pengaruh dari banyak melakukan tetirah?
AB: Salah satunya iya. Terutama menciptakan budaya traveling yang lebih menghargai alam sekitar. Mungkin karena saya seneng berpetualang, otomatis menyukai landscape yang bagus. Paling tidak, ada keinginan untuk menjaga agar alam tetap lestari. Oleh karena itu aku juga paling tidak suka dengan konsep mass travel, perjalanan dengan sistem massal. Karena terkadang bumi tidak mampu menghadapi efek yang ditimbulkan oleh sampah atau terinjak-injak oleh manusia. Belum lagi misale melibatkan pemakaian bahan bakar kayu atau limbah manusia.

HFLB: Lalu apa yang mbak Ambar ketahui tentang sustainable traveling? *rodo advanced iki pertanyaanne, hahaha*
AB: Sustainable traveling itu lebih kepada common sense manusia terhadap lingkungannya. Menghormati alam dan menyakini bahwa kita ini bagian dari alam itu sendiri. Bukan mengusai atau menggunakannya dengan sewenang-wenang. Pertanyaanmu kok dadi serius?
HFLB: Hehehe iyo ben blogku ketok berbobot sithik.

AB: Menurutmu independent traveler itu lebih bagus daripada mass travel?
HFLB: Kok malah saya yang ditanya? ini kan sesi saya...
AB: [Dengan cuek dan terus mengetik] Aku sendiri memandang backpacking itu lebih sustainable karena berusaha memakai public transport, menghargai budaya dan nilai setempat.
HFLB: [Pasrah] Betul mbak...
AB: Jadi di milis Indobackpacker [IBP] itu nek ada yang tanya penyewaan mobil mesti kita hapus.
HFLB: Wah sesadis itukah IBP?
AB: Hooh... emang moderator IBP iku terkenal paling sadis hahaha.
HFLB: Iya, lha wong thread saya pernah kena banned satu kali.
AB: Kenapa emang?
HFLB: Waktu itu saya mau bagi-bagi Lonely Planet: Indonesia gratis versi PDF. Lantas dicekal karena dituduh melanggar hak cipta.
AB: Ya, kalau dibagikan ke orang per orang sih silakan aja.
HFLB: Iya mbak, waktu itu saya khilaf.


__________________________________________________________
Milis Indobackpacker adalah milis tertua yang dikhususkan untuk backpacker di Indonesia. Lahir pada 30 September 2004, didirikan oleh dua orang pegiat alam bebas bernama Aris dan Erwin. Tujuan awalnya adalah menjadikan milis ini sebagai tempat berkumpul alternatif bagi penyuka petualangan ala gunung. "Backpacking dalam term orang Amrika adalah back country, jadi kegiatannya adalah kemping, jalan-jalan di gunung, dan segala aktifitas outdoor oriented begitulah," kata Mbak Ambar. Wanita yang aktif di kegiatan pecinta alam sejak SMA ini awalnya hanya menjadi anggota biasa," Terus ditawari jadi moderator oleh Aris pada tahun 2005," kata Mbak Ambar.
__________________________________________________________

HFLB: Oke lanjut. Apa sih yang mempengaruhi seorang Ambar Briastuti untuk menjadi seorang traveler?
AB: Mungkin keingintahuan. Sedari kecil, saya selalu bertanya hal sepele, seperti, kenapa langit itu biru? Sama seperti traveling; kenapa orang Inggris itu suka antri atau kenapa orang China suka meludah. Jadi semua itu menuntun untuk belajar hal baru.

HFLB: Apakah ada tokoh fiksi di masa kecil yang memperngaruhi?
AB: Ada, petualangan Lima Sekawan! Ah ya... Inget, dulu waktu kecil suka ngimpi jadi George [salah satu anggota Lima Sekawan]. Dulu sampe ngebayangin ke Pulau Kirin, dan membuat aku pengen banget ke Inggris.

HFLB: Aktif di kegiatan pecinta alam sejak SMA membawa Mbak Ambar ke mana saja?
AB: Dulu jadi anak gunung tapi nggak sempat melakukan ekspedisi yang jauh-jauh. Hanya lingkup Jawa Tengah dan sekitarnya. Seperti Gunung Merbabu Lawu dan Sindoro. Tapi pas mahasiswa aku malah nggak ikut pecinta alam, karena nanti kuliah bakalan mampet. Dulu Mapala UII kan terkenal di Jogja, tapi aku malah memutuskan tidak ikut.
HFLB: Kenapa?
AB: Banyak pertimbangan. Karena aku nggak kuliah di universitas negeri jadi biaya adalah masalah utama. Kondisi seperti itu yang membuat aku menjadi orang yang frugal, selalu mencari hal yang murah dan efisien.
HFLB: Jadi [kalau urusan duit] sangat pertimbangan sekali ya?
AB: Yoi...rada sosialis banget dah. Hahaha. Dalam opiniku, ngga perlu mahal jika kita usaha sedikit. Kebetulan aku berkesempatan untuk membagi value ini dengan rekan-rekan di Indobackpacker.

Tentang Musik, Buku, dan Film
HFLB: Emang dulu masa muda mbak dihabiskan dengan mendengarkan musik apa?
AB: Dulu aku suka musik etnik, Djaduk salah satunya. Atau kombinasi modern dengan tradisional. Genre musik new age juga suka, atau iseng mendengarkan musik klasik kalau lagi kumat.
HFLB: Wah suka world music ya. Suka mendengarkan rilisan Putumayo berarti?
AB: Yups. Oh ya tau nggak Rough Guide itu juga nerbitin world music? Mereka mengumpulkan musik-musik dunia, terus juga ada guide untuk menonton music festival di seluruh dunia.
HFLB: New age? Suka meditasi atau yoga gitu?
AB: Enggak, nemenin kerja aja. Aku ngga bisa konsen kalau musik ada liriknya :)
HFLB: Loh bukannya Mbak Ambar sudah totally off dari dunia kerja?

__________________________________________________________
Setelah menikah, sang suami menyarankan Mbak Ambar untuk tidak lagi bekerja formal. Jadi ia bekerja kadang sebagai penulis lepas, menerjemahkan sebuah karya atau pekerjaan lain suka-suka Mbak Ambar lah intinya. "Aku kan juga sekolah lagi sekarang, ambil non-gelar Arsitektur, mau lebih menekuni budaya," kata Mbak Ambar. Sekolah terus memang nggak bosen ya?
__________________________________________________________

AB: Kalau travel aku suka beli CD lokal, kayak kamu juga Yos...
HFLB: Oh, kalo gitu nanti saya kirim yang Madura mbak! Hehehe. Oke next question: Traveler itu bisa dikatakan sebagai antropolog amatir atau tidak?
AB: Bisa. Menurutku, menjadi traveler itu membuat kita memahami budaya lain. Penting juga menjadi humble, karena bila kita melihat kearifan budaya lain maka kita ini jadi serasa bukan apa-apa. Kita jadi berpikir kenapa saya menjadi saya. Kenapa saya beragama Islam misalnya. Well, itulah menurut aku traveling sebenarnya, sebuah proses pencarian diri.
HFLB: Jawaban Anda begitu cadas Mbak.
AB: Hahaha

HFLB: Suka nonton film Mbak?
AB: Wow suka banget! Baca buku juga suka.
HFLB: Sebutkan 5 film terbaik untuk para traveler!
AB: Yang konyol apa yang serius nih?
HFLB: Terserah. Top five versi Ambar lah.
AB: Seven Years In Tibet (1997), The Motorcycle Diaries (2004), Lost In Translation (2003), The Quite American (2002), Indiana Jones Serial khususnya Raiders of the Lost Ark (1981)
HFLB: Emang kalo film traveling yang konyol seperti apa?
AB: Kayak The Da Vinci Code. Suspensenya oke lah, tapi lemah di materi. Oh ya ada juga tentang tiga bersaudara naik kereta ke India, itu juga oke. Judulnya The Darjeeling Limited (2007)

HFLB: Eh mbak, mengapa Ernesto dalam film The Motorcycle Diaries begitu dicintai wanita? Apakah karena pemerannya yang ganteng seperti saya?
AB: Hayah. Menurutku Ernesto itu berpendidikan, dia cenderung memperlakukan wanita dengan baik. Setahuku, Ernesto itu simpatik, seperti Soe Hok Gie.

HFLB: Katanya lagi baca buku tentang Tibet mbak?
AB: Iya. Aku lagi baca "Freeing Tibet", buku politik. Trus lagi baca "The Search for the Panchen Lama" juga.
HFLB: Eh mbak kalo ada 5 buku travel yang direkomendasikan apa?
AB: Apa ya? Aku lagi baca banyak. "Riding the Iron Rooster" - Paul Theroux, "Krakatoa: The Day the World Exploded" - Simon Winchester, "Lost Horizon" - James Hilton, ... [Saya dan Mbak Ambar lalu ngobrol ngalor ngidul tentang Lost Horizon dan Shambala, ia lupa menambahkan daftar kelima dari buku traveler yang direkomendasikan. Kita tagih kapan-kapan]

HFLB: Berarti tadi Top Five Travel Book versi Ambar, "Alone Longway From Home" nggak masuk ya?
AB: Hahaha... Ora, soale ndak kepincut.

HFLB: Lebih suka travel guide atau travel experience?
AB: Maksudte?
HFLB: Lebih tertarik baca Lonely Planet dan Rough Guide, atau Selimut Debu dan The Naked Traveler?
AB: Dua-duanya punya tujuan berbeda. Guide Book berisi panduan jalan, how to. Tapi Selimut Debu bisa disebut Travel Memoir. Lebih inspiring travel memoir menurutku.

Tentang Traveling
HFLB: Oke sekarang memasuki pertanyaan standar untuk seorang Ambar: sudah traveling kemana aja Mbak?

__________________________________________________________
Dalam sebuah esai di blognya, Mbak Ambar mengatakan bahwa dia sangat benci mendengar pertanyaan seperti," Sudah berapa negara yang dikunjungi mbak?" kata Ambar,"Itu nggak penting, lebih penting journey-nya. Biasanya orang kalo sudah pergi ke banyak negara jadi kemaki (sombong, red.) padahal aku pernah juga nemuin orang yang katanya sering pergi ke luar negeri, tapi masih aja culun. Jadi jumlah itu bukan ukuran." Sedaaap. Tapi Mbak Ambar tetap tidak berkutik dan menjawab pertanyaan yang diajukan Hifatlobrain.
__________________________________________________________

AB: Eropa cuman beberapa aja. Italia, Perancis, sedikit Jerman, sedikit Swiss. Masih pengen ke Eropa Timur, cita-cita kalau nanti tua. Amerika Latin belum seperti Meksiko, Costarica, Peru, Chile, Suriname juga tampaknya menarik, kalo tahun depan kayaknya ke Patagonia. Dan lain-lain.
HFLB: Lha ke Suriname ngapain?
AB: Ketemu wong Jowo! Hahaha.
HFLB: Hahaha, cliche!
AB: Secara sejarah, Suriname sangat menarik. Bubar iku dolan neng Amsterdam nggoleki wong Makassar. Wah komplit tenan! Hahaha
HFLB: Apakah Mbak Ambar percaya bahwa Indonesia adalah Atlantis?
AB: Absolutely NO.
HFLB: Oke next, the best traveling ever kemana mbak?
AB: Aku selalu teringat hal sepele, misale menghabiskan malam di sebuah dusun terpencil di Thailand atau naik kereta ke Bangkok dari perbatasan Laos karena ra nduwe visa mlebu Vietnam...

__________________________________________________________
Sebelum Mbak Ambar nyerocos terus tentang kenangan travelingnya yang menyakitkan hati saya sebagai backpacker kere yang belum kemana-mana, maka segera saya putus. Hehehe.
__________________________________________________________

HFLB: Nggak boleh curang mbakku yang baik. Anda harus memilih salah satu saja, karena the best itu cuman ada satu.
AB: Hahaha. Aku suka di Himalaya.
HFLB: Alasannya?
AB: Merasa seperti dirumah sendiri. Gunung yang tinggi dan kuburan manusia yang mencoba menaklukannya. Ironis. Tempat yang sangat indah tapi mematikan.

HFLB: Pernahkah Anda melakukan traveling karena obsesi atau fantasi masa lalu?
AB: Enggak pernah. Aku ngga pernah terpengaruh obsesi dari masa lalu. Obsesi masa kecilku adalah ke Jepang, sampe sekarang aku belum pernah kesana dan belum pengen banget.
HFLB: The place you wanna visit before you die is ...
AB: 1. Antartica; 2. Tibet (insyaallah tahun ini); 3. Iceland; dan 4. Alaska.

HFLB: Selama ini pilih hospitality gratis atau hotel murah?
AB: Hotel murah. Ketemu orang senasib. Ra duwe duwit tetapi impian tinggi. Hahaha.
HFLB: Jadi kere tapi hedon ya. Tapi mengapa? katanya Anda seorang antropolog amatir? Bukankah menginap di rumah penduduk adalah salah satu cara mengenal mereka?
AB: Tergantung rumah penduduk dimana. Kalo di negara dunia ketiga masih mending, tapi kalo di Paris? Wah mending ngere wae (menjadi kere, red.) , bila perlu gelar tikar di stasiun. Aku ngga percaya orang lokal selalu lebih tahu.
HFLB: Oh ya? Berbeda dengan saya yang percaya bahwa orang lokal adalah Lonely Planet terbaik.
AB: Lha buktinya aku pernah ke NY. Temenku yang orang Manhattan malah ngga ngerti dan ngga pernah ke Central Station atau ke Tibet Museum. Payah. Jadi tergantung orang lokal seperti apa. Aku malah lebih percaya orang di jalanan.
HFLB: Seperti tukang becak gitu?
AB: Iya... atau kernet atau penjaja makanan.

Tentang Travel Photography
HFLB: Tentang travel photography, sejak kapan Mbak?
AB: Sejak dulu pake film, tapi ngga sempat punya SLR sendiri, nggak punya duit, mending pinjem temen aja. Tahun 2002 masih pinjem kamera digital. Akhirnya nabung dan bisa beli DSLR sendiri.
HFLB: Agamanya apa mbak, Nikon atau Canon?
AB: DSLR-nya Nikon, pocket pake Canon. Ra setia tenan pokoke, hahaha.
HFLB: Karena foto Mbak Ambar cukup keren, mau kasih tips gak cara membuat travel photography yang baik buat pembaca Hifatlobrain?
AB: Believe your eyes!
HFLB: Jadi bukan believes your gear ya? Hehehe.
AB: Yups! Mata kita adalah cerminan persepsi estetika, kamera hanyalah alat membantu mengabadikannya.


Epilog
HFLB: Mbak ada nggak saran buat para traveler muda?
AB: Penuhi keingintahuanmu.
HFLB:Wes ngono thok?
AB: Lha iya sih, kalau kamu ndak punya keinginan untuk tahu, ngapain traveling? Wes nonton teve wae nonton acara traveling udah cukup.
HFLB: Lha kalo pengen narsis? Cuman pengen foto di PhiPhi Island atau Disneyland misalnya. Ini abad Facebook mbak.
AB: Iya sih...setiap orang berhak traveling apapun motivasinya.
HFLB: Nah kalo narsisme jadi motivasi utama kan berarti kata-kata mbak yang: penuhi keingintahuanmu, jadi nggak relevan.
AB: Menurutku rasa lapar ingin tahu itu kunci utama untuk kita keluar rumah, tidak hanya duduk saja. Action, doing something. Kalau dia kemudian melakoni backpacking hanya untuk narsis, ya biarin aja. Memang itu kadar dia. Itu cara dia untuk merasa menjadi 'manusia'.

HFLB: Mbak Ambar pilih lagu "Keong Racun" atau "Cinta Satu Malam"?
AB: Cinta Satu Malam! Soale nggak dengerin Keong Racun. Hahaha.
HFLB: Mbak nggak berniat bikin buku seperti mas Agustinus Wibowo?
AB: Aku ada riset, tapi masih panjang. Ke Tibet juga dalam rangka itu sebenere.
HFLB: Ooh sukses mbak untuk risetnya. Segera diterbitkan saja. Nanti saya kasih review di blog saya :)
AB: Hahaha oke.
HFLB: Makasih Mbak Ambar atas waktunya.
AB: Sip nuwun Ayos! Salam buat temen-temen ya.

Silahkan temui Ambar Briastuti langsung di blognya yang berisi banyak pemikiran cerdas tentang traveling http://ambarbriastuti.multiply.com/

5 comments:

Giri Prasetyo said...

whoaa, Nikonian!! :)
nice interview anyway,thanks. kupikir film In To The Wild bakal jadi favorit.hehe...

mas ayos, foto labunya double post tuh, kalap ya lihat hasil foto nikon? ;P

blackskin said...

Yeaah..sama2 Nikonian.
Tapi emang bener dan saya setuju pada apa yang dikatain Mbak Ambar bahwa kamera itu hanya alat bantu.
Sip deh interview-nya panjaaang banget tuh klo di YM ditulis semua.

Dan saya sangat menikmati interview ini, di rubrik baru HFLB yang ngeri gila pokoke. Ajib Yos, aku banyak belajar dari posting ini.

Oh ya foto gambar buah itu sampe muncul 2 kali tuh...

:D

maharsi wahyu | kinkin said...

aaah mba e mau ke tibet. mupeng banget. saya dua tahun lagi ah :p

asik nih interviewnya, dapat banyak wawasan baru :)

seniman vertex said...

maknyos...
nais inpo gan,
haha ngomongin lonely planet "travel guide" yg baru benr2 aku pegang dan baca sebulan yang lalu...
haha untung saya lebih suka bawa peta dan mengintepretasikan sendiri mana2 saja lokasi yang menarik dan di gabungkan dengan info dari masyarakat...
btw tips keluar negerinya menarik jg, secara baru februari tahun depan saya berkesempatan ke kamboja... nice inpoh pokoknya

fajar subchan said...

Wah, keren. tadinya ngenet sambil ngantuk, setelah baca interviewnya ngantuk jadi hilang...