Pages

9/3/10

The Long Nite Kosodo


Teks: Dwi Putri Ratnasari & Nurwahid Bandenk Budiono
Foto: Ayos Purwoaji

________________________________________________
Kontributor









Artikel ini ditulis secara combo oleh Nurwahid Budiono. Pria yang akrab disapa Bandenk ini adalah seorang mahasiswa pecinta gigs dan musik keren. Sangat mengidolakan Ian Curtis dan Guy Ritchie. Saat ini sedang getol belajar british accent. [follow him @bandeenk]

Sedangkan Dwi Putri Ratnasari adalah Honorable Contributor yang dimiliki Hifatlobrain. Ia sudah sangat sering menyumbangkan berbagai traveloguenya di blog ini.
[follow her @dwiputrirats]
________________________________________________

Sebetulnya saya kecanduan untuk datang ke acara festival budaya setelah menghadiri perayaan Waisak di Borobudur tahun ini. Awalnya saya diberitahu oleh seorang supervisor di tempat magang waktu masih di Semarang. Mumpung jarak antara Magelang dan Semarang tidak sejauh Jakarta - New Delhi maka saya pun bertekad untuk berangkat.

Setelah rajin browsing gambar keren perayaan Waisak di Google atau Flickr, berbekal kamera Lumix dan Diana F+ berangkatlah saya ke Borobudur. Meski diakhiri dengan acara kehujanan, tapi saya ngga pernah nyesel menyaksikan ritual suci umat Buddha itu. Borobudur saat Waisak pun menjadi tidak seperti biasanya. Ia menjadi cantik ruarrr biasa berhias altar-altar kuning yang memenuhi komplek Candi peninggalan Dinasti Syailendra itu.

Setelah Waisak, saya jadi addicted sama acara-acara kayak gini. Rame, banyak orang, banyak ornamen khas, dan bukanlah pemandangan yang bisa disaksikan tiap hari. Rasa candu ini juga yang membuat saya pengen ngeliat langsung Holy Fest di India Maret 2011 nanti. Hahaha doakan saya kaya mendadak ya!

Iseng, saat membaca Travelounge edisi Agustus 2010 saya menemukan halaman yang sedang membahas Bromo. Di situ disebutkan bahwa akan ada prosesi upacara Kasodo pada 25-26 Agustus 2010. Well, because life is a celebration, maka hasrat menyaksikan perayaan pun kembali menggelora. Saya yakin Bromo pasti nampak berbeda dari hari normal, layaknya Borobudur saat Waisak.

Perasaan saya campur aduk. Antara berangkat atau tidak. Ini memang special ocassion, Bromo bakal terlihat berbeda karena perayaan unik ini. Tapi kebetulan ini juga bulan puasa.

Maka sebelum melakukan sholat istikharoh saya memutuskan untuk lapor pada editor-in-chief Hifatlobrain dulu. Kebetulan beberapa hari sebelumnya, Ayos pernah mengutarakan keinginan terpendamnya untuk pergi ke Bromo. Agak aneh, karena setahu saya, dia adalah salah satu dari duo combo yang nggak suka tempat-tempat yang udah bau turis banget. Entah, apa salah tempat-tempat tak berdosa itu hingga mereka berdua membencinya. Hehehe.

Budhaalll...” begitu balasan email Ayos. Hati saya langsung sumringah.

Dua minggu kemudian kami pun berangkat dengan formasi bedhol desa. Ada Nurwahid Budiono, teman Ayos asal Jogja yang selama liburan kulian menghabiskan waktu traveling lintas Jawa Timur. Ada pula Yulianto Krisnawan, dia adalah mahasiswa Unesa semester akhir yang juga berstatus sebagai pacar teman saya, Skan. Selanjutnya sebut saja nama serius mereka dengan panggilan; Bandenk dan Upo.

Sedangkan saya sebagai tour leader membawa serta rombongan ibu-ibu PKK dari dusun sebelah. Ada Rina temen kos saya, yang lagi ikut kelas traveling entry level 3 sks disela-sela kesibukannya sebagai mahasiswi Magister Akuntansi. Saya juga berhasil menghasut Skan, travelmate saya saat ke Karimunjawa dua tahun yang lalu untuk ikut.

Seperti seorang ahli MLM, Skan mengajak serta dua temannya yang lain yaitu Ni Luh dan Ijo. Mereka bertiga ternyata satu geng saat SMA. Jumlah ini membengkak karena mama Ni Luh juga berencana untuk mengikuti prosesi upacara Kasodo, maka si beliau pun ikut berangkat dalam rombongan ini, namun memisahkan diri ketika sampai di Bromo.

Kami berangkat dari Terminal Bungurasih pagi menjelang siang dengan menggunakan bus patas AC, sedang Ayos berangkat terpisah dari Jember. Kami putuskan Terminal Bayuangga, Probolinggo sebagai meeting point kami.

“Mbak, ati-ati, kata temenku kalo Kasodo banyak maling kamera.”

Begitu bunyi SMS singkat dari Irma Cupan, seorang adik kelas saya yang juga hobi traveling. Itu adalah sebuah nasihat yang sungguh melegakan, mengingat dalam tas Bodypack yang saya beli diskonan itu tersimpan sebuah DSLR milik Ayos plus dua pocket keren punya saya dan Rina. Saya juga baru tahu maling di Bromo punya program studi spesialisasi kamera. Dalam benak saya, kalau di tangan kiri calon korban memegang kamera, lalu tangan kanan ada uang seratus juta, si maling akan tetep nyolot nyolong kamera karena tuntutan profesionalisme kerja. Sungguh kasian.

Kami berkendara menuju Bromo dari Terminal Bayuangga dengan menggunakan minibus jenis bison. Uang 25.000 rupiah per orang harus kami keluarkan untuk memacu kendaraan tua ini agar mau mengantarkan kami selama dua jam perjalanan. Rute berkelok-kelok bisa kami nikmati selama perjalanan. Ini seperti rute dari Wonosobo ke Dieng, hanya saja suguhannya bukan barisan indah sawah terasering, melainkan pungung-punggung bukit yang sangat eksotis.

Ayos membuka percakapan dengan supir, Pak Suharno. Sedangkan saya mulai mendekati Mas Didi sang kernet. Dari mereka berdua kami mendapatkan banyak cerita. Saya berpendapat bahwa orang lokal adalah sumber informasi terbaik.

Pak Suharno bilang, bahwa agama hindu di Tengger memiliki praktik beragama yang berbeda dan sangat otentik ketimbang umat Hindu pada umumnya. Mereka tidak memberlakukan sistem kasta. Mereka tidak merayakan Hari Raya Galungan, Kuningan, atau sejenisnya layaknya di Bali. Bahkan sampai tahun 80-an, masyarakat Tengger tidak memiliki perlakuan khusus terhadap orang yang meninggal. "Kalo meninggal, tanggan dan kakinya diikat pada sebilah bambu sebagai pemikul untuk dibawa ke pemakaman. Nggak pake upacara apa-apa," kata Pak Suharno. Bisa Anda bayangkan itu sama seperti bagaimana suku Bakongo di Angola membawa pulang hasil buruannya. Namun saat ini hal tersebut telah dibenahi seiring banyaknya generasi muda masyarakat Tengger yang mempelajari tatacara Hindu yang baik dan benar di Bali.

Bison menurunkan kami di Desa Cemoro Lawang. Ini adalah desa Tengger terakhir sebelum perjalanan ke Bromo. Jejeran penjor di depan rumah penduduk menandakan perayaan Kasodo yang begitu meriah. Festival ini memang dirayakan selama beberapa hari. Puncaknya adalah melempar berbagai hasil bumi ke kawah Bromo.

Tradisi melarung sesaji di kaldera Brahma ini memang berlangsung sudah sangat lama. Mungkin berumur ratusan tahun, sejak Majapahit dipukul mundur oleh kerajaan Demak.

Awalnya adalah Joko Seger dan Roro Anteng, pasangan desperate yang tak kunjung mendapatkan keturunan meski telah lama menikah. Syahdan mereka berdua naik ke puncak gunung untuk berdoa kepada Sang Hyang Dewata agar dikaruniai keturunan. Dewa-dewi welas asih akhirnya mengabulkannya dengan syarat anak terakhir saat berumur dewasa harus dikorbankan ke dalam kawah Gunung Bromo.


Singkat cerita, Rara Anteng dan Jaka Seger dikaruniai dua puluh lima anak. Wedian bukan. Produktifitas orang jaman dulu memang patut diacungi jempol. Hehehe. Pasutri ini pun diselimuti kebahagiaan yang meluap karena banyak anak sama dengan banyak rejeki. Sayang, mereka berdua lupa pada sebuah kontrak penting dengan dewata. Anak mereka yang terakhir tidak juga dikorbankan.

Karena merasa dikhianati akhirnya para dewa marah. Lewat bromo mereka murka. Lava di dalam perut bumi menggelegak, muncrat. Anak terakhir Rara Anteng dan Joko Seger diambil paksa lewat lilitan lidah api milik si perkasa Bromo. Si Bungsu pun lenyap masuk ke kawah.

Alkisah, konon sesaat setelah dikorbankan, terdengar suara anak itu dari dalam kawah yang meminta diadakan upacara peringatan setiap bulan Kasodo pada hari ke-14. Dalam kalender Tengger, Kasodo adalah bulan terakhir.

Anak turun Roro Anteng dan Joko Seger, masyarakat Tengger, yang kemudian setiap tahun memperingati kejadian hilangnya Si Bungsu. Ritual ini juga bermaksud agar Bromo tidak marah lagi. Maka sejak saat itu berbondong-bondonglah mereka membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai macam hasil bumi dan ternak untuk dilarung ke dalam kawan, sebagai simbol pengganti pengorbanan leluhur mereka.


“Mas, mbak, pada menginap dimana? Sekarang sedang ada perayaan Kasodo, biasanya semua penginapan telah penuh.” Ungkap mas Didik, sang kondektur bison. Kami hanya saling menatap dan tidak menjawab pertanyaan itu. Tentu kami tahu malam ini ada perayaan besar Kasodo dan kami memang belum membuat suatu rencana apapun untuk menginap.

Awalnya kami berpikir bakal tidur di luar, entah di musholla, pura, Segara Wedi, atau entah di mana, mengingat upacara Kasodo sendiri berlangsung dari pukul sebelas malam sampai pagi menjelang. Namun berhubung pada saat itu masih sore, kami memutuskan untuk menyewa satu kamar motel bertarif seratus ribu rupiah dengan fasilitas double bed. Kamar sempit dengan lebar 3x4 meter ini kami niatkan hanya untuk menaruh tas saja. Tapi pada akhirnya dibuat molor para jejaka ngantukan itu. Saya dan teman-teman cewek PKK dari dusun sebelah akhirnya sibuk jejalan dan foto-foto ke sana-sini dalam rangka ngabuburit. Sore hari di Bromo memang misty, kabut turun perlahan memenuhi ruang-ruang kosong di sekitar lembah.

Nggak ada suara adzan di sana, tapi pukul setengah enam sore kami, para cewek metropilis ini, sudah standby di sebuah warung sambil memesan menu paling hot untuk ukuran kondisi cool en calm a la pegunungan; soto panas dan teh super panas. Jos!

Sedangkan para jejaka tampaknya masih tidur.

Lamat-lamat dari penginapan, kami mendengar kidung doa yang mengalun syahdu. Suara itu pasti datang dari Pura Poten yang berjarak sekitar 3 kilometer dari penginapan. Nyanyian mantra dalam bahasa Jawa Kuno itu begitu merdu. Melintas lautan pasir dan menggema di dinding-dinding bukit. Memantulkan resonan berupa puja-puja kepada dewata. Dari ujung penginapan kami bisa melihat Pura Poten timbul tenggelam dalam lautan kabut yang mulai tebal.

Tidak banyak kata akhirnya kami membangunkan para jejaka. Saat mempersilahkan mereka mengisi perut, kami para wanita ini bergosip. Saat mereka datang, kami baru mulai berkemas. Hehehe sangat tidak efektif sebenarnya.

Informasi yang kami dapat beda-beda. Ada yang bilang arak-arakan suku Tengger akan dimulai pukul dua belas malam, ada yang bilang jam dua pagi, dan bahkan sampe menyebut jam empat pagi. Untunglah kami para traveler yang cukup cakap. Ketika mendapat kabar bahwa Mama Ni Luh sudah turun ke kawah menggunakan ojek, maka kami pun ikutan berangkat sambil membawa segala macam logistik untuk sahur nanti.

Pukul 11 malam, bersembilan kami mengarungi dataran pasir. Jarak yang harus kami tempuh dari pos masuk Bromo menuju Pura Ponten kira-kira tiga kilometer. Oiya, kami sangat was-was bakal ditarik tiket masuk. Ada gosip yang beredar, meskipun jalan kaki, kami wajib membayar lagi retribusi sebesar 25.000 per orang. Angka itu sempat bikin Bandenk frustasi. Bahkan ia sempat punya ide gila bakal nekad menyusuri jalan tikus yang gelap gulita nan curam sekali bermodal senter abal-abal seharga sepuluh ribu yang dia beli di atas Sumber Kencono, ia rela melakukannya demi bisa melintas gratis .

Eh, tapi ternyata, semua orang sedang baik hati karena malam ini adalah malam suci. Tidak ada tarikan biaya apa-apa. So, kami pun lolos rintangan retribusi. Asik.

Pada kilometer awal, kami melewati jalanan aspal yang terus menukik turun. Entah apa salah kami sebagai pedestrian, beberapa pengendara motor yang lewat hobi banget nyorakin kami. Berjalan kaki tentu bukan hal yang aneh, karena setahu saya banyak wisatawan mancanegara yang lebih suka jalan kaki hingga puncak Bromo pada hari normal.

Saat itu jalanan sangat ramai. Semua rasanya sedang bergerak menuju Pura; hardtop dan motor-motor yang naudzubillah bisingnya. Ayos pun beberapa kali ngomel, ”Rame banget sih... rame banget sih...” Tapi bukankah di dunia ini yang namanya perayaan ya pasti rame? Kalo mengheningkan cipta barulah sepi.

Masuklah kami ke kawasan lautan pasir yang sempat dipopulerkan oleh Christine Hakim dan Dian Sastro dalam film Pasir Berbisik itu. Alas kaki yang tidak tepat bisa bikin kesulitan berjalan di atas gundukan pasir-pasir ini. Beberapa motor yang lewat juga tampak ngeleyat-ngeleyot kehilangan keseimbangan. Wah, suasana magis tempat ini pasti akan terasa kalo saja suara bising kendaraan bermotor itu bisa di-mute.

Selama perjalanan kami beberapa kali terhenti untuk sekedar takzim pada indahnya suguhan bentangan langit yang cerah. Kasodo memang dilaksanakan tiap purnama datang, maka sudah jelas langit yang memayungi lautan pasir ini tampak begitu cerah akibat cahaya rembulan yang bersinar sempurna.

Penumbra terlihat sangat jelas seperti bayangan cincin raksasa berwarna perak yang melingkari bulan. Sebuah fenomena yang disebabkan karena pembiasan cahaya bulan dari kristal es di atmosfer, terkadang disebut sebagai Halo Bulan, dan memang hanya bisa disaksikan jika langit malam benar-benar cerah saja.

Malam itu tampaknya dewata sedang bergembira dan membuat sebuah opera bulan. Greats! Pada bulan purnama penuh yang merona. Pada kerlipan gugusan bintang pada singgasana edarnya. Juga pada pijaran lampu bukit-bukit sekeliling padang pasir yang berkilau kami menarih takzim. Sayang tidak bisa saya gambarkan lebih detil lagi, kecuali Anda datang menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Hohoho.


Namun orkestra alam itu seketika jadi mengenaskan ketika mata dan telinga saya ditampar kencang-kencang oleh deru mesin mobil dan motor yang mengalir menuju pura. Hartop, bison, Honda Win, GL Max, Trail, Mio, Supra. Entah siapa saja mereka, mungkin turis, penduduk lokal, atau para pedagang yang sedang girang mengeruk untung besar dari momen sakral ini.

Suasana di sekitar Pura pun tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, dimana saya mendambakan suasana khidmat layaknya upacara agama nan sakral. Saya hanya menemukan duplikat sempurna sebuah pasar malam di sana, dimana manusia tumpah ruah saling beradu mantel dan mulut yang berasap.

Ada penjual bakso, bakpau, mainan anak-anak, hingga es krim -yang menurut saya adalah jajanan paling kreatif saat semua orang menggigil kedingian. Silahkan tambahkan odong-odong, tong setan dan komidi putar, maka Anda akan berpikir bahwa ini adalah pasar malam bukan Kasodo.

Pura Luhur Poten sendiri terdiri atas beberapa bagian yaitu Mandala Utama, Madya, dan Nista. Maka kami pun bergerak masuk menuju Mandala Utama, area yang digunakan untuk persembahyangan umat Hindu. Ni Luh sendiri sudah terlihat cantik memakai sarung yang digunakan untuk melakukan ritual Tri Sandya dan Panca Sembah, sembari membawa sebuah bokor, yaitu piring kecil yang berisi sesajen dan rangkaian janur bunga canang sari.

Menurut Ni Luh yang baru pertama kali mengikuti rangkaian upacara Kasodo, sesajen yang dipersembahkan biasanya mengandung unsur hasil bumi dan logam. Umat Hindu pada umumnya sembahyang dengan membawa sesajen berupa buah-buahan, roti, ayam bakar dan makanan lainnya sebagai tanda syukur, dan nantinya akan dinikmati bersama-sama setelah ritual selesai. Sedangkan uang yang dipersembahkan biasanya diniatkan sebagai sumbangan untuk pihak Pura.

Upacara Kasodo diawali dengan pengangkatan dukun Tengger kemudian berlanjut ke pemberkatan umat. Dukun inilah yang nantinya akan menjadi petinggi dan pemimpin berbagai upacara keagamaan. Suku Tengger sendiri menurut legenda merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri. Mereka adalah pemeluk agama Hindu yang taat dan patuh terhadap hukum adat.

Puluhan fotografer baik amatir dan profesional mulai mengeluarkan senjatanya. Kamera televisi pun tak berhenti menyorot jalannya upacara. Mama Ni Luh yang sampai sejak tadi ternyata sudah memegang mik dan merapal kidung suci. Mungkin dari tadi suara yang kami dengar dari pantulan di lembah adalah suara beliau. Sedangkan mereka para pedanda dan tetua sedang khusyuk berdoa, para remaja asyik membunyikan petasan di luar sana. Siuuuuuung dhuaaarrr!

Hasrat fotografer saya keluar, ingin sekali jeprat-jepret suasana doa yang unik. Tapi apa daya, saya yang hanya berbekal kamera poket tidak bisa bergerak banyak. Kondisi cahaya yang sangat minim dan kondisi baterai yang cepat ngedrop di udara gunung membuat saya harus berpikir hemat daya.

Setelah Ni Luh selesai melaksanakan sembahyang, kami masuk dalam acara nggak jelas. Mau langsung naik ke kawah kok masih gelap dan belum mulai acara larung. Tapi jika terus nongkrong di komplek Pura juga malah membuat kami membeku kedinginan. Waktu itu sekitar pukul satu pagi, saya ngga tau berapa suhu saat itu, angin bertiup seperti jarum yang membuat sendi ngilu dan otak lesu. Persediaan jaket penghangat terakhir pun sudah saya pakai. Akhirnya sambil tidur-tiduran, kami kembali main ludrukan tebak-tebakan lagu untuk sekedar melupakan hawa dingin yang ngga karuan rasanya itu.

Karena sekarang zamannya menyebut Top 5 Songs, maka lima lagu terbaik tentang Bromo pun kita rumuskan. Kami memilih lagu Mrs. Cold dari King of Convenience sebagai lagu nomor lima. Meski tidak nyambung amat, tapi judul lagu ini sangat menggambarkan keadaan kami, para wanita yang meringkuk kedinginan.

Lagu kedua dan selanjutnya adalah: Shiver dari Coldplay, Snow on Sahara dari Anggun, dan Honeymoon on Ice dari The Trees and The Wild.

Sedangkan lagu terbaik tentang Bromo adalah: Parasit dari Gita Gutawa. Anda merasa aneh dengan pilihan ini. Sini saya jelaskan. Setelah saya pikir, hampir tidak ada lagu di dunia ini yang menggunakan kata 'hypothermia' dalam liriknya kecuali lagu ini. Tentu saja ini adalah pencapaian jenius anak bangsa. "Hipotermia di kutub utaraaaa..." itu sangat mewakili keadaan kami yang hampir beku.

Entah dari mana, si Skan akhirnya mendapatkan beberapa batang bambu yang akhirnya kami pakai untuk membuat api unggun. Jangan tanya berapa lama menyalakan sepotong bambu itu. Suangat luama banget. Hahaha. Itu pun nyalanya nggak seberapa. Jika ada tes survival, maka kami akan dapat rapor merah.

Segala macam logistik pun dikeluarkan dalam rangka santap sahur. Yeah! Ini sahur paling kece seumur hidup saya. Makan roti dan minum Indomilk dibawah naungan bayangan penumbra dan lindungan jaket tebal.

Sebenernya dari awal, saya dan Rina berkomplot ngga mau ikutan naik ke kawah. Alasannya, puasa dan capek. Toh dulu saya juga udah pernah naik ke sana. Tapi akhirnya kami berdua terkena rayuan pulau kelapa travelmates lain yang pengen naik ke kawah untuk melihat para suku Tengger yang melemparkan sesaji ke dalam kawah. Huhu saya pun nurut deh, sambil ngebayangin gimana jadinya puasa nanti kalo tenaga udah terkuras duluan. Yap, suasana malam ini sih boleh berbeda dari hari normal, tapi sensasi naik kawahnya masih sama seperti dulu: jauh, dinginnya nylekit, dan ngos-ngosan.

Sampai di puncak kawah Bromo, ternyata pemandangan mengerikan telah menanti. Sesuatu yang bikin saya geleng-geleng kepala melihatnya. Di bagian dalam Kawah Bromo telah dipenuhi banyak tenda sederhana yang terbuat dari terpal dan kain. Lampu senthir yang dinyalakan sebagai penerangan berkelap-kelip menembus malam. Ternyata para penghuni tenda darurat tersebut adalah pengalap berkah yang menangkap lemparan sesajen dari para peziarah. Mereka rela standby semalaman lengkap bersama dengan jaring di tangan. Ya Tuhan... baru kali ini saya lihat begitu banyak Spiderman beneran berkeliaran. Kok ya kayaknya mereka ngga takut jatuh ke kawah gitu.
Mereka dengan sigap akan menghentikan setiap lemparan sesajen yang seharusnya meluncur sampai kawah. Mereka sangat sederhana, hanya berbekal kain sarung yang dibentangkan, jaring bergagang kayu. atau paling apes dengan tangan kosong.

Awalnya saya pikir mereka akan membantu melemparkan sesajen yang tak sampai kawah. Namun rupanya saya salah. Dengan mata kepala sendiri, saya melihat ada dari mereka yang memakan roti dan menangkap hewan ternak untuk kepentingan pribadi.

Daripada pusing memikirkan kelakuan absurd para pemburu berkah, maka rombongan kami pun memilih untuk duduk uyel-uyelan sekedar berbagi panas tubuh karena dinginnya puncak Bromo ini sudah ngga bisa ditolerir lagi. Kami duduk dan ngobrol dengan gigi gemeletuk sambil menunggu iringan sesaji besar suku Tengger berupa seekor kerbau untuk dilempar ke kawah.

Saat itu pukul empat pagi. Stargazing sambil mendengarkan musik dari player adalah satu-satunya kegiatan yang paling nikmat untuk dilakukan, mengingat badan kami ngga bisa banyak gerak karena pada menggigil dan mendadak terserang pilek karena terlalu banyak menghirup uap air. Kalo kedinginan kayak gini, yang saya rindu cuman satu: panasnya Surabaya.

"Eeeeeh, ada bintang jatuh!" kata Ayos dan Ijo kompak. Waw amazing! Amazing karena saya telat ngeliat, hiiiih nggak asik tenan. Tau gitu kan saya bisa berdoa agar lancar jodoh. Hehehe.

Pagi menjelang, dan masyarakat Tengger berduyun-duyun datang melempar sesajen. Ayam hidup, segala macam buah-buahan dan hasil bumi lainnya pun dikorbankan. Namun entah bagaimana perasaan mereka ketika melihat sebagian dari persembahan itu malah berhasil terjaring oleh penangkap sajen profesional dan ngga takut mati itu. Kalo saya sih, pasti sebel lah.


Ritual budaya ini juga menjadi buruan para fotografer baik lokal dan internasional. Saya masih ingat persis pemandangan seperti ini ketika berada di Borobudur saat Waisak. Beragam kamera keren nan mahal bergelantungan di leher para pemburu gambar. Beberapa fotografer profesional juga tampak hadir, seperti Ulet Ifansasti dari Getty Images dan Arbain Rambey yang dengan santainya membawa kamera idaman saya, Lumix GF1.

Dalam waktu beberapa jam saja, kawah yang tadinya sepi itu mendadak ramai pelancong dan para jamaah. Kami pun memilih turun dari kawah. Barulah di separo perjalanan turun itu kami bertemu dengan iring-iringan para pejabat berpakaian adat putih yang akan turut melempar sesaji seekor kerbau dan gunungan hasil bumi ke dalam kawah. Salah satunya adalah pak Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik.

Pulangnya kami memotong jalan, tidak melewati jalan aspal seperti tadi malam. Kami lebih memilih lewat jalur alternatif di punggung sebuah bukit untuk kembali ke desa. Dari jauh sih, bukit itu tampak kecil dan gampang untuk didaki. Tapi setelah bener-bener ada di kaki bukit, sayalah yang merasa sangat kecil sekarang. Ya Tuhan, serius tinggi bangetttt... Bolehkah saya menelepon kuda terbang di saat-saat genting seperti ini?

Karena nggak ada pilihan lain, kami pun mendaki jalan setapak yang basah dan sempit itu dengan sabar dan penuh keringat. Satu per satu jaket pun mulai dilepas. Ngga ada pemanasan, pokoknya jalannya terus naik persis kayak perjalanan ke Kawah Ijen. Kaki saya gempor banget nget nget. Satu-satunya yang menghibur hati ketika tahu bahwa bukit itu adalah tempat tumbuhnya jutaan bunga edelweis. Waw, beneran buagus banget, I really adore that place kecuali bagian ngos-ngosannya. Sungguh puasa yang menyehatkan.


Twitter
“Maka yang sakral, telah menjelma menjadi suatu yang bingar”
@bandeenk

Sebuah twit saya luncurkan saat kembali pulang ke Surabaya. Saya jadi berpikir, mungkin kita memang sedang hidup di dunia yang terlampau tua, sehingga rasa sakral ikut menguap bersama asap belerang yang keluar dari Kaldera Brahma. Kesakralan pun berubah bentuk menjadi komoditas yang laris diperjualbelikan.

Hingar-bingar festival pun menjadi tema utama. Berbagai spanduk iklan rokok dan provider yang mengadakan acara pada perayaan Yadnya Kasada pun bermunculan. Segera banyak orang mengambil alih keadaan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Permenungan terhadap luka dan kepedihan sepasang orang tua yang harus mengorbankan anak tercintanya pun menjelma menjadi sekedar romansa dan kisah usang. Pengorbanan hanya menjadi setting perayaan, bukan lagi merupakan peresapan saripati dari suatu tragedi.

Lalu apa yang tersisa dari dunia yang tidak lagi memiliki pengorbanan sakral selain pengorbanan untuk nilai kembali. Investasi. []

12 comments:

Nuran Wibisono said...

@putri: seperti biasa, kamu layak direkrut travelounge :D

@bandenk: ehehehe, kau lagi kasmaran ya nak? banyak banget nyebutin kata Ni Luh, hahahaha

seniman vertex said...

cerita perjalanan yang menarik...
saya belom pernah ke bromo dalam suasana kasodo, patut dicoba tahun depan... :)

rina said...

Keren, keren,,,,
like this pokok'e :p

note : rina yang ikut kelas traveling entry level banyak sks ,,,biar gak lu2s,,,wkwkwkwk,,.

winda savitri said...

saya kepikiran bawa roller blade kl kesana nanti :D

siska herwinda said...

bambunya nyolong low itu pud...xixixi

siska herwinda said...

bambunya aq nyolong2 itu...xixixi

Nur Wahid Budiono (Bandenk Metaphor) said...

Nuran : Hahaha sebnernya g sebanyak itu juga penyebutan kata Ni Luh. malah aslinya ga ada. itu ulah si Om ayos. Asem :P

pratapapa81 said...

menarik banget ceritanya, didukung foto2nya yang oke banget...
salam kenal :D

islah said...

saya tidak tahu, apakah kegiatan yang bersifat profan memiliki aura yang berbeda bila dibarengi dengan keramaian atau bahkan kebisingan. tapi saya yakin mereka khidmat di dalamnya, bukan yang seperti saya rasakan setelah sekian lama hidup dalam keriuhan dgn bahana-bahananya, seperti saat ini, yang terkadang merindukan melankolia.

sisca said...

catpernya oke banget, plus foto2nya yang bercerita ...
suka banget...:)

Kris said...

uapik gan. trus kalo boleh saran.. buat traveler yang bermukim di jawa timur, kalo mau lebih irit dan tracking fieldnya bagus. transportasinya dari awal barangkat naek motor aja. kalo week-end pasti kena charge, tapi kalo kasodo klihatannya bebas biaya.

@bandenk n ayos: gaya bahasamu rek hahahahahah sip dah.

@dwiputrats: koyog doraemon. kalo pas kedinginan. hahahahaha mata dan tubuhnya membundar...pipinya jadi bakpao cikyen hahahah pisss @_@

@siska: bakat nyolong kowe ancene nduk..

dinidini said...

panjangggg banget postingnya, mas
whalaaa
komennya pending dah, baca dulu..