Pages

9/22/10

Toy Cam Travelers


"The medium is the message..."
(Marshall McLuhan)

Saya memang selalu telat dalam mengikuti trend. Friendster, Facebook, dan Twitter, semua saya ikuti dengan cara membebek teman-teman saya yang sudah settle dan nyaman dalam menggunakan teknologi baru tersebut. Termasuk saat sedang hangat-hangatnya penggunaan kamera plastik -sering disebut Lomo, padahal tidak selamanya benar. Lomo adalah nama merek- saya termasuk orang yang lambat merespon. Meskipun sejak dua tahun yang lalu, teman-teman saya di kampus sudah pada pake toy camera, saya masih belum bisa menikmati seni dari foto yang merekam light leaks di sana-sini. Saat itu saya memang sangat konservatif dalam masalah fotografi; komposisi harus seimbang, empasis (point of interest) harus sempurna, dan paduan warna yang indah musti hadir dalam selembar karya fotografis.

Namun dunia selalu berubah, apalagi kita hidup dalam iklim post-modernisme yang banyak dipengaruhi oleh paham Dekonstruksi milik Derrida. Maka niscaya semua terlewat dengan cepat, satu hal menjadikan hal lain tampak usang dalam sebuah labirin dialektika. Termasuk karya fotografi. Sebuah kamera plastik dengan segala keterbatasannya justru menampar pemahaman saya tentang sebuah gambar; ketidaksempurnaan toy camera adalah sebuah antitesis dari sebuah gambar yang dianggap sempurna, justru dengan segala kekurangannya itu berbagai jenis kamera plastik menawarkan padang imaji dan ruang eksplorasi yang luas. Membebaskan kita -sebagai pengguna- untuk mendefinisikan sendiri,"Bagaimana menghasilkan sebuah foto yang sempurna menurut konsepsi saya pribadi..."

Saya jadi bermimpi untuk bisa jalan-jalan lalu mengabadikan sebuah kota dari kamera plastik. Dulu saya pernah sharing sama salah satu dedengkot MES56 Jogja, Wimo Bayang, yang mengabadikan perjalanannya dengan kamera Lomo tipe Horizon Perfekt. Ia mencuci foto-fotonya dalam format postcard lalu menyusunnya dengan baik dalam sebuah scrapbook sederhana. Kover depannya adalah sebuah pintu masuk taman bermain di Australia. "Ini jadi dummy, nanti aku mau buat buku," begitu katanya. Entah bukunya sudah keluar atau belum.

Karena banyak teman di kampus yang termasuk dalam barisan solid toy-camera-users, jadi saya manfaatkan saja. Biasanya saya suka sharing sama Wahyu Gunawan, teman saya pemilik kamera DianaMini yang mungil cantik. Ia begitu paham luar kepala spesifikasi dan harga kamera Lomo di pasaran. Mantap. Dia juga tahu perbedaan karakter gambar setiap jenis kamera Lomo. Saya bilang padanya sedang tergila dengan Holga, dan Gugun -begitu saya memanggilnya- segera mendukung saya. "Wah apik iku Yos! aku ngerti seller toycam murah meriah nang Kaskus, koncoku dewe!" kata Gugun.

Sampai suatu malam, ia dengan baik hati memberikan saya sebuah referensi buku dokumentasi traveling milik Lee Frost, judulnya Cuba; Travels With a Toy Camera. Yeeaah meski belum pegang langsung bukunya, namun kover buku ini sangat menarik visual saya. Yes, i do judge book by it's cover! Mungkin karena kebetulan saya sangat menggemari potraiture photography jadi saya langsung suka sama bungkus luar buku ini. Foto seorang kakek dengan topi dan baju kasual, peachy colors, dengan vignette di sekeliling gambar. What a great shoot!

Pemilihan Frost untuk mengabadikan Cuba dengan kamera plastik memang saya rasa tepat. Barisan gedung tua yang kusam, mobil-mobil gemuk era muscle car dengan warna yang mencolok, dan kehidupan kasual ala pantai Havana adalah rangkaian scene yang sangat keren dibidik lewat belakang kamera plastik. Efek oldiesnya menjadi sangat kuat, berlipat kali lebih hebat. Tonal yang muncul dari rol film juga akan memberikan nuansa yang berbeda. Maka silahkan dilihat, ini adalah beberapa hasil gambar yang ada di dalam buku Frost.

Dorongan untuk melirik Lomografi semakin besar saat salah satu fotografer senior favorit saya, John Stanmeyer, meluncurkan buku yang berjudul Island of Spirit. Ini adalah buah dari empat tahun perjalanan John di Bali. ia menetap dan berbaur dengan budaya dan masyarakat Hindu.

John Stanmeyer photographing with a Holga
during a cremation ceremony in Ubud, Bali,
while his son, Richard, sits on his lap.
Photograph by Lukman Bintoro

Sedangkan di bawah ini adalah gambar-gambar yang ada dalam buku Island of Spirit milik John Stanmeyer. Silahkan disimak :)

Foto-foto milik John ini terlihat sangat purba. Nuansa masa lalu meruap dalam perspektif hitam putih dan jauh dari kesan foto jurnalistik biasa. Kontras yang tinggi dengan barisan vignette kelam di sepanjang gigiran foto menambah seksi semua foto hasil kurasi Lisa Botos, mantan editor foto di New York Times, yang juga teman dari John Stanmeyer. "Yoopo-yoopo, nek foto Lomo dicetak monochrome, dadine mesti maknyusss!" kata Gugun suatu pagi.

Oh ya, masih dalam isu Eco Traveling, Gugun dan Komunitas Surabaya Toy Camera mempersembahkan sebuah rangkaian karya lomografi tentang Kebun Binatang Surabaya, so stay tune folks!

NB
Silahkan baca review tentang Cuba; Travels With a Toy Camera milik Lee Frost di sini.
Baca juga wawancara The New York Time Lens dengan John Stanmeyer di sini.

7 comments:

Muhammad Komet Khumaidi said...

Bahasamu Lho.. abot pek!! serasa baca bukune Donny Gahral Ardian ae.. padahal cuma bahas ToyCam.. overall tambah sip mas iki!!

Dwi Putri Ratnasari said...

hoho ga jauh bedalah sama jepretan di borobudur make Diana... ahahhaaha *kaplok dulu*

maharsi wahyu | kinkin said...

bisa jadi alternatif nih, lagi malas bawa dslr,tapi pengen dapet foto yang 'unik'..
tapi mahal di cetak nya huhuhaha apalagi kalo pake film BW

Ferzya Farhan said...

saya punya lomo, dari darat sampe UW, seneng potonya, tapi ga seneng nyetaknya.. hahaha.. mahal adalah alasan utama :-B

winda savitri said...

segera dibeli saja :)

Nur Wahid Budiono (Bandenk Metaphor) said...

Maka niscaya semua terlewat dengan cepat, satu hal menjadikan hal lain tampak usang dalam sebuah labirin dialektika. ---> Dosenmu ono sing jenenge Yasraf tho yos? Mesti lulus dg nilai sempurna ki. kekekeke

Berillium04 said...

wah, ada yang bahas toycam nih :D
salam kenal semuanya..