Pages

10/5/10

Ke Timika, Ke Wamena

Photo courtesy of Ulet Ifansasti/Getty Images

“Tuhan bekerja dengan cara yang misterius…”
(Bondan Wahyutomo, @bondiy, 2010)

Beberapa waktu lalu, di blog ini saya menulis sebuah spoiler acara dengan nama Aku Cinta Indonesia. Memang waktu itu saya diminta oleh teman saya di Detik.com untuk memberikan ulasan singkat tentang acara besar menjelajah Indonesia ini. Karena memiliki tujuan positif untuk lebih menggali potensi wisata Nusantara, maka saya pun bersedia, saya menuliskan review itu dengan sangat serius dan suasana hati yang gembira. Ini gila, mana ada perusahaan yang menaruh perhatian sebegitu besar hingga mau ngoyo membiayai banyak anak muda untuk menjelajah Indonesia. Tentu saja ini buakn perkara mudah, biaya operasionalnya pasti raksasa.

Saya pun ikut mendaftar. Waktu itu memang coba-coba, nothing to loose. Kalo diterima ya Alhamdulillah, kalo tidak ya saya akan tetap menabung untuk keliling Indonesia suatu saat nanti.

Setelah beberapa waktu dan mengalami tiga kali penyaringan, saya pun terpilih, menyisihkan limapuluh ribu peserta lain. Alhamdulillah. Saya memang seorang lucky bastard.

Bagaimana tidak, saya mengalami beberapa keberuntungan majemuk. Mari saya jelaskan.

Pertama masalah destinasi. Sejak pendaftaran, saya memilih Mentawai dan Sumba sebagai daerah tujuan. Kedua daerah ini memang sedang saya gandrungi. Selain menyuguhkan alam yang luar biasa indah juga memiliki budaya yang otentik. Dua tempat ini adalah surga bagi seorang travel freak sekaligus antropolog abal-abal seperti saya.

Sayangnya, saat pengumuman muncul saya menerima daerah Papua Tengah. Itu berarti selama dua minggu lebih saya akan menjelajahi Timika, Taman Nasional Lorentz, Wamena, Lembah Baliem, Danau Habema, dan Jayapura.

Awalnya saya merengut.

Tapi tidak lama kemudian senyum lebar muncul di wajah ganteng saya, “Hey bukankah ini adalah mimpi purba yang lama terpendam?” Setelahnya pikiran saya mengembara jauh ke belakang, sekitar dua tahun yang lalu, saya pernah bermimpi untuk berpetualang di Papua. Keinginan besar ini muncul sejak saya bertemu dengan Evi Warikar, peneliti muda kupu-kupu, yang sekarang sedang melanjutkan sekolah di Jerman. Saya menganggapnya sebagai kakak dan kami sering berkirim kabar. Dari berbagai email yang dia kirim, saya membayangkan keindahan hutan-hutan di Pegunungan Cyclops dan pasir putih di Pulau Supiori.

Sejak saat itu saya bertekad untuk pergi ke Papua, suatu saat nanti. Dengan antusias saya mulai berbagi mimpi; saya menuliskannya di blog, saya cerita panjang lebar ke teman-teman terdekat, dan saya banyak berburu buku tentang Papua. Keinginan ini begitu kuatnya, hingga akhirnya saya lupa dan tertimbun di alam bawah sadar.

Jauh sebelum itu saya sudah tersihir dengan Papua ketika saya melihat Garuda Inflight Magazine sekitar awal tahun 90-an. Itu sebetulnya oleh-oleh bapak saya yang suka terbang dengan maskapai nasional ini. Waktu itu majalah ini memuat foto kover wajah seorang pimpinan suku Dani. Hidungnya dicocok dengan taring dan muka penuh celoreng. Di dalamnya terdapat sebuah artikel tentang Fastival Baliem dalam bahasa Inggris. Karena saat itu saya masih SD dan belum mahir, maka saya hanya menikmati gambarnya saja. Pengalaman itu sangat membekas hingga hari ini.


Mimpi tentang Papua memang datang dan pergi silih berganti. Tapi memang benar kata Bondan; Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Rejeki akan datang dari suatu hal yang tidak pernah kita duga. Dan itu sering terjadi pada saya, berawal dari mimpi dan guyonan lantas menjadi kenyataan. Petualangan saya ke Papua ini sama seperti cerita klasik saya pergi ke tanah Belitung berbekal mimpi yang saya pendam selama bertahun-tahun. Semua berjalan begitu cepat dan ajaib.

Pemikiran saya memang agak new age, saya begitu percaya dengan kejadian yang tampak tidak disengaja. Sesuatu yang coincidental. Tapi saya juga begitu percaya bahwa ketidaksengajaan pasti ada arsiteknya. Semua terususun begitu rapi dalam lipatan-lipatan nasib yang penuh rahasia. Yang bisa saya lakukan hanya bermimpi, setinggi-tingginya, sebesar-besarnya. Menurut saya, mimpi itu adalah nama lain dari doa.

Makanya mulai dari sekarang saya memiliki deposit mimpi yang sangat banyak, menjelajahi dunia adalah salah satunya. Saya haqqul yakin bakal terwujud, entah kapan.

Oh ya, saya juga harus bersyukur kuadrat pada Tuhan, karena jujur saja, ini adalah perjalanan paling mahal di ACI. Alhamdulillah.

Suatu saat, mbak Riyanni Djangkaru pernah mentwit saya: Waah kamu dapet Wamena! The best place I’ve ever visit! Atau spimpinan Detik.com Surabaya, pak Budi Sugiharto yang berkomentar: Kamu beruntung dapat Papua, bakal banyak cerita yang bisa kamu dapat! Tidak seperti destinasi lain...

Keberuntungan saya yang kedua adalah: partner yang ciamik! Sebagai traveler pemula, pasti saya bakal kesulitan dalam menghadapi medan Papua. Banyak hal yang tidak bisa saya perhitungkan. Maka dari itu fungsi teman perjalanan menjadi urgen.

Maka saya perkenalkan, rekan saya bernama Sukma Kurniawan, namun ia lebih akrab disapa Dede. Meski belum pernah bertatap muka, tapi kami selalu mengusahakan komunikasi yang intens. Dari berbagai obrolan kami di telepon, saya menjadi yakin jika mas Sukma ini adalah travel mate yang oke.

Sedikit banyak saya bisa menggambarkan profilnya: dia adalah seorang penggiat alam bebas yang sangat aktif, saat kuliah ia sering nongkrong di Mapala UI yang legendaris, meski bukan anggota dan masih rajin hiking hingga hari ini. Satu yang saya suka, mas Dede ini bertipe family person, bahkan saat naik gunung pun ia tak alpa membawa istri dan buah hatinya, Azzam, yang baru berumur dua tahun. Cadas.

Pengalamannya juga tidak main-main, tahun 2002 ia menjadi salah satu peserta Marlboro Adventure Team (MAT) yang terpilih dari Indonesia. Kompetisi ini membawanya ke Colorado, USA untuk menaklukkan Grand Canyon. “Waktu itu, selama dua puluh hari kaos gue gak ganti, Yos! Hahaha,” begitu ujarnya dalam sebuah obrolan via telpon.

Berseberangan dengan saya, mas Dede adalah tipe petualang yang well prepared. Segala sesuatu ia perhitungkan; jarak tempuh, transportasi, persediaan makanan, perlindungan barang, hingga memilih ransel yang tepat. Saya banyak belajar dari seorang Sukma. Oh ya, teman dia juga sangat banyak, terutama para penggiat traveling. Dody Djohanjaya (Jejak Petualang), Yunas Santhani Azis (Chief editor NGI saat ini), dan Tantyo Bangun (Mantan chief editor NGI) adalah teman dekatnya.

Banyak tema obrolan yang kami lewatkan, salah satunya tentang agama. Dari pria yang rendah hati ini saya mendapat banyak cerita, dan yang membuat saya gembira, tampaknya saya tidak perlu risau karena dalam perjalanan saya akan selalu diingatkan untuk beribadah oleh rekan perjalanan. Oh ya, hampir lupa, mas Dede ini sangat suka mengkoleksi berbagai jenis senjata tradisional hasil berpetualangnya di berbagai tempat.

Apa lagi yang harus saya harapkan selain rekan perjalanan yang super? Dan saya sudah mendapatkannya! Yeeeaaah!

Dua hal tersebut adalah keberuntungan saya yang utama. Sebetulnya masih banyak sisanya. Tapi saya anggap hanya bonus saja, hehehe. Then you can call me a lucky bastard.

***
Perjalanan 33 tim ACI ini nanti masih diperlombakan lagi. Panitia akan memilih satu kelompok terbaik yang akan diganjar grandprize. Sebetulnya mendapat berkah jalan-jalan gratis saja sudah cukup buat saya. Tapi apa boleh dikata, regulasi membuat kami harus berlomba.

Ada tiga hal yang menjadi penilaian panitia Detik.com; update artikel rutin setiap hari, voting pembaca, dan hasil rapat dewan juri.

Sebetulnya agak berat bagi saya untuk melakukan promosi vote-me-please. Tentu saja ini bukan ajang pemilihan idola plastik ala televisi. Saya berpikir,”Jika saya menyuruh orang untuk memilih saya, memang apa yang bisa saya berikan ke para voters?” Tentu saja tidak mungkin bagi petualang kere untuk membelikan ribuan voters yang bersusah payah memilih kami.

Maka sebelum berangkat, saya membulatkan tekad untuk memberikan segala sesuatu yang terbaik; catatan perjalanan yang dibuat serius, karya fotografi yang indah, dan berbagai informasi menarik yang jarang didapatkan dari tempat lain!

Saya juga sudah merancang untuk membuat sebuah ebook yang akan menampung segala pengalaman perjalanan yang kami alami. Itu adalah sederetan komitmen kami pada para pendukung.

Maka silahkan ikuti perjalanan kami, tunggulah cerita yang dahsyat, foto yang memukau, dan ebook yang keren!

Maka silahkan memilih kami!

NB:
Silahkan voting kami di sini
Silahkan ikuti jurnal para petualang ACI di sini
Foto kover dan ilustrsi lain tentang Festival Baliem adalah milik Ulet Ifansasti, fotografer Getty Images favorit saya. Foto-foto ini dimuat di DenverPost, The Guardian, dan Zimbio.

19 comments:

Muhammad Komet Khumaidi said...

Semangat Kawan..!! sayapun sampai saat ini tetap memiliki ribuan impian yg terpendam.. ttg menaklukkan kompetisi design skala internasional.. yg akan membawa kaki ini melangkah ketempat2 baru, bertemu orang2 hebat diluar sana dan menjaga otak ini tetap belajar.. Bismillah.. Allah memang punya cara tersendiri untuk hamba2nya.. :)

satu pesan buat kamu: karena perjalanan ini akan membuang kesempatan kamu utk melakukan Kolokium 2 maka persiapkan dirimu utk kembali bersama saya dlm satu kelas menempuh TA bersama hahaha.... :D

Hilmy Nugraha said...

mantap mas ayos,
aku wes yakin dirimu masuk 66 kontestan,


sing menang yo mas,
jangan lupa, perjalanane dibikin ebook,
lumayan nambahi kitab fardhu perjalanan kita-kita mas,
hehe


keep walking!

rock on!

Nuran Wibisono said...

Semangat boi! Tak enteni catatan perjalananmu cuk! :)

rudy said...

Josss....proud to u!
gw support lahir & batin bro!! ACI Mantaffh tjux.. kpan budhal?? share foto & koteka yes?? ;p

Wana said...

voted :)
awas ya kalo ga bawa caper kereeen!!
smoga jadi juara bro..

seniman vertex said...

selamat jalan2 bung...
menang kompetisi adalah bonus berikutnya, hibur kami dengan cerita seru dan foto2 ciamik dari anda... :D

hello yellow! said...

semangat mass!!
keren bgt bgt bgt bangeett! :D

Anonymous said...

Ya Tuhan... Papua...
Semua orang yang cinta alam Indonesia pasti bermimpi menjejakkan kaki di sana....

eLFiRa aRisanti said...

mantep mantep mantep !
kalian keren :)
btw iri deh eheheh pengen kesana juga jadinya ;p

Isabella Angelita said...

Jasik, Mas Ayos bener-bener beruntung! Ayo mas Yos, tak tunggu foto-foto dan ceritamu. Buatlah aku iri sampai ke ujung ubun-ubunku, biar aku bisa ngimpi sampe nangis buat nyusul kesana, kapan-kapan.

Temen seperjalananmu yo gendeng ngono mas.. Suhu'e mlaku-mlaku. Belajaro yg banyak mas dari dia, nanti biar sampean bisa tak rampok ilmunya juga.

Selamat!
Semoga nanti TAnya bisa segera selesai, biar ndak ada beban lagi. AMIN.

Fir'aun NgebLoG said...

keren sekali tuch jepretannya...
Mantab abis euy :D

Ferzya Farhan said...

cie mas Ayos, banyak penggemarnya ciye.. hehe, selamat menempuh perjalanan yang akan menakjubkan dan selamat menumpuh sekolah kehidupan di Papua.. semoga kembali dengan pemikiran dan inspirasi yang bermanfaat bagi orang lain :)

i voted u

*jangan lupa oleh2nya! haha*

Fanny said...

Aku bangga loh bisa kenal sama mas Ayos ini.. :D
Aku mau oleh-oleh cerita Yos!
You have fun there :)

bayu said...

PF yos.....
bagaimanapun wamena sangat indah..katanya...heheheh.....
apalagi pasar tradisionalnya....

" Tuhan tahu,...tapi menunggu......"
Andrea H.

Dwi Andi said...

Bagus!!! Maksimal tiga tahun dari sekarang saya juga akan sampai ke sana!!! Okeee!!! :)

farah aulia said...

hi... here i'm..
support you !

Kantong Plastik said...

kereeeeeee-n !
semangat mas!

aku setuju kalo mas bilang mimpi itu nama lain dari doa.

ditunggu ebooknya.

;D

Dhani bin Slamet said...

Aku padamu Yos! cinta menolak kelamin dan idiologi wes!

haniemaria said...

Tuhaaaan, Papuua!

how lucky you are..
ada alam yang mempesona, masyarakat transmigrasi, 'perbudakan' tersembunyi, kebudayaan mereka yang eksotis juga termasuk masakan yang aduhaai.

selamat bertualang, dan selamat menulis!
;D