Pages

11/6/10

The Traveler's Memoar

Foto 8 tahun lalu saat mampir ke Gunung Merapi, Sumatera Barat.


Teks dan foto oleh Sutiknyo
________________________________________________
Kontributor
Sutiknyo a.k.a Tekno Bolang, adalah seorang nature trekker dan pecinta pantai sepi. Hidupnya didedikasikan untuk jalan-jalan dan memotret. Lahir dan besar di Pati, Jawa Tengah, saat ini berdomisili di Tangerang. Beberapa saat yang lalu ia berkesempatan untuk mengunjungi Danau Sentani seorang diri. Silahkan temui tulisan dan fotonya yang ciamik di techno80.multiply.com.

________________________________________________

Sesosok anak muda di sudut terminal 1B itu memperhatikanku dengan sebatang rokok di tanggannya. Tatapannya seolah kosong dan membutuhkan pertolongan. Aku berusaha melemparkan salam melalui senyuman padanya, begitu saya hampiri dan sedikit bercakap, saya seolah membuka kembali lembar demi lembar memoar tentang petualangan nekad saya seorang diri dengan dana yang cekak di masa lalu.

Ternyata dia baru saja tiba dari Batam, hendak melanjutkan perjalanan menuju Pulau Bali yang telah menjadi impiannya selama ini. Namun suatu hal terjadi dan dia harus terdampar di Cengkareng sejak siang tadi dengan berbekal buku telepon kecil yang berisi sederet angka nomer telepon salah satu temannya di Jakarta.

“Saya sudah muter-muter nyari wartel tidak nemu disini, Bang,” ungkapnya yang sekejap membuyarkan lamunan saya pada petualangan gila di Sumatra Barat 8 tahun silam. Saya mencoba tunjukkan sebuah wartel di salah satu sudut teminal 1 bandara ini, sayangnya wartel tersebut ternyata tidak berfungsi, mungkin karena sudah tidak ada pelanggan seiring dengan merebaknya telepon seluler murah meriah yang beredar di pasaran sekarang ini.

“Pakai telepon saya aja,” saya mencoba memberikannya penawaran. Namun dia seolah segan dengan tawaran saya, “ SMS aja bang, biar teman saya yang menelepon ke sini," Namun saya meyakinkannya untuk menelepon temannya yang dia sendiri tidak tau berada dimana lokasi teman itu. Setelah telepon berakhir barulah saya tahu jika temannya berada di Pulogadung, dan satu-satunya angkutan dari bandara kesana adalah Damri. Sialnya, malam sudah semakin larut dan keberadaan armada Damri juga sudah semakin sedikit.

Saya pun menyarankan anak muda ini untuk mengambil arah Blok M terlebih dahulu, yang busnya kebetulan sedang melintas di depan kami, namun dia seolah ragu-ragu untuk menjejakkan kakinya di tangga bis. Setelah kutanya kenapa, ternyata uang yang ada di dompetnya tinggal 2 lembar sepuluh ribuan, tidak akan cukup untuk mencapai rumah temannya di daerah Jakarta Timur tersebut. “Ini sedikit dari saya, semoga bisa membantu," sambil menyodorkan sedikit rupiah padanya. Dengan sedikit haru dia pun menerima pemberian saya dan bergegas mengejar Damri yang sudah mulai bergerak menjauh sambil melambaikan novel Avonturir milik Golagong tanda salam perpisahan, saya hanya bisa berdoa semoga dia selamat dan dapat mengejar mimpi untuk menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Sebuah senyum mengembang jika ingat dia bertanya ke saya saat pertama kali bicara,“Abang sopir taksi di sini ya?”

Bis Damri berwarna kusam itu sudah menghilang dari pandangan mata. Tapi kejadian yang berlangsung hanya beberapa saat itu seolah mengingatkan kejadian yang saya alami 8 tahun yang lalu. Saat itu saya kehabisan uang di terminal Aurkuning kota Bukittinggi, saya kelimpungan di negeri orang. Akhirnya datang seseorang menegur dan terjadilah obrolan yang bersahabat, hingga dia menawari untuk bekerja sementara di sebuah rumah makan padang kecil tidak jauh dari tempat saya duduk di sudut terminal.

Tanpa pikir panjang segera saya terima tawaran tersebut, membantu urusan domestik yang bisa saya kerjakan. Selama 2 hari jadi tukang cuci piring saya rasa cukup dan saya harus berpamitan untuk segera melanjutkan petualangan yang tidak tahu kapan dan dimana akan berakhir. Bergegas kusiapkan ransel dan berpamitan pada Si Bapak pemilik warung Padang tersebut. Ternyata ia sudah menyiapkan sebungkus nasi dan seplastik es teh untuk bekal saya di perjalanan. Selain itu dia juga memasukkan sebuah amplop kecil ke saku saya, setelah saya buka berisi dua lembar uang lima puluh ribuan. Dalam hati saya “ Terima kasih Tuhan, sudah dapat tumpangan dan makan gratis selama dua hari, sekarang masih ada uang saku dan sebungkus nasi buatku."

Waktu pamitan usai, saya berlalu dari meja kasir tempat dimana bapak itu selalu duduk. Bang Faizal orang yang menawari saya bekerja di rumah makan padang tersebut menghampiri memberikan salam perpisahan serta menitipkan pesan,"Ati-ati ang di jalan yo, kalo ado apo-apo ang baliak kasiko lai...”

Dan petualangan pun berlanjut kembali dengan berbagai cerita seru di dalamnya, mulai dari jadi kuli angkut di pasar-pasar tradisional hingga manjadi kuli tambang batu bara di Sawahlunto, menjadi sepenggal kisah petualangan saya di Sumatra Barat selama hampir satu bulan lebih itu. Saya selalu ingat pesan terakhir kakek sebelum beliau tiada, “Guru paling berharga dalam hidup hanya akan kau jumpai dalam sebuah pengembaraan, Le," dan saya berusaha selalu memegang petuah dari kakek tersebut. Berkelana hingga sampai kapan, saya juga tidak tahu.

Sedikit kisah kecil yang terjadi di Cengkareng malam ini seolah menyiram jiwa gersang ini, bahkan saya juga tidak sempat menanyakan siapa nama avonturir muda tersebut. Tapi kisah ini sudah memberikan semangat baru bagi saya untuk terus berkelana menyusuri negeri-negeri asing yang jauh.[]

Editor's Note:
Memoar ini disadur dari catatan pribadi penulis yang dimuat di Facebook pada tanggal 5 November 2010. Ditulis ulang atas izin sebelumnya.

6 comments:

Nuran Wibisono said...

Balada si Roy episode Avonturir, seperti laiknya kitab suci bagi para pejalan...

Tuhan tak pernah mengingkari janjinya, bahwa ia akan melindungi setiap pejalan. God save the backpacker :)

Dwi Putri Ratnasari said...

Kok aku merinding ya, haha..

Giri Prasetyo said...

"Guru paling berharga dalam hidup hanya akan kau jumpai dalam sebuah pengembaraan, Le,"
kakeknya mas Tekno pastilah seorang pendekar seperti Brama Kumbara

galih s putro said...

mantaappp...sayang saya dulu gak punya keberanian sebesar itu...

dan membaca novel Gola gong kembali mengusik niat itu...

hoho..btw, adakah yang punya Balada si Roy seri Traveler..???

Anonymous said...

pay it forward.. keren pak tekno, semoga selalu di beri kesehatan untuk terus mengabadikan cantiknya negeri ini dari balik lensa mu..:)


tegar

Anonymous said...

Mantap Bro.. Jangan bosan jadi orang baik.