Pages

12/9/10

God Save The Travelers



Teks dan foto: Nuran Wibisono

________________________________________________
Kontributor











Jika ada seorang pemuda gila penggemar The Doors dan mencintai traveling, maka Nuran Wibisono lah orangnya. Pria kalem ini terlahir dari keluarga pecinta alam bebas. Nuran memiliki bakat menulis, karyanya menghiasi beberapa situs musik dan gaya hidup terkenal. Sungguh sebuah kehormatan ia bisa menuliskan kisahnya di Hifatlobrain. Nuran juga termasuk pembaca angkatan pertama Hifatlobrain. Temui pria ini di http://nuranwibisono.blogspot.com/

________________________________________________

Tuhan selalu punya cara yang misterius untuk membantu hambanya yang pergi traveling. Saya mengalami itu ketika mulai rutin traveling sejak kelas 2 SMP. Berkali-kali saya dibantu orang tak dikenal di jalan, ketika kehabisan uang, atau kelaparan. Saya percaya itu adalah perpanjangan tangan dari Tuhan.

Yang paling bikin saya geleng-geleng kepala adalah pengalaman saya pergi ke Derawan, Kalimantan Timur. Saya memimpikan pergi ke pulau kecil dengan underwater view yang indah ini semenjak kelas 1 SMA. Semua karena saudara saya mengirimi saya foto pulau ini. Juga foto-foto Sangalaki dan Kakaban. Pantai dengan pasir putih, air laut yang biru nan bening, pemandangan bawah laut yang menakjubkan, angin laut yang sepoi, serta penduduk yang ramah. Apalagi yang bisa diimpikan oleh seorang pejalan pecinta pantai seperti saya?

Saya berusaha mengumpulkan uang setelah menerima foto itu. Apa saja saya kerjakan. Mulai dari mengamen, mengumpulkan botol dan koran bekas untuk dijual lagi, hingga mengerjakan penerjemahan lintas bahasa. Sayang, uang saya tak pernah cukup untuk pergi ke Derawan.

Hingga saya duduk di bangku kuliah, semester 5.

Ketika saya sudah mulai sedikit pesimis, saya mulai rajin sholat. Curhat dengan Tuhan. Padahal saya bukanlah orang yang taat beragama. Doa saya Cuma satu waktu itu, "Tuhan, buatlah saya pergi ke Derawan. Aku tahu engkau ada dan selalu terjaga, meski kita tak pernah bersua. Maka tunjukkan kebesaranmu dengan membuatku pergi ke Derawan."

Percaya atau tidak, beberapa hari kemudian, saudara saya yang ada di Berau tiba-tiba melontarkan ajakan pergi ke Derawan!

Saya terkaget. Sedikit tak percaya. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba ajakan ini terlontar. Ketika saya sudah mengusahakan segala cara semenjak SMA, dan diakhiri dengan doa.

Ketika mengiyakan ajakannya, beberapa hari kemudian, tiket pesawat Jogja-Balikpapan-Berau sudah ditangan. Gila! Saya membayangkan perjalanan ke Kalimantan dengan naik kapal laut ekonomi bersama ribuan penumpang lainnya, terhimpit di dek, dan tidur berdesakan. Ini kok malah saya disuruh naik pesawat. Gila! Saya menggilakan situasi menyenangkan yang serba mendadak ini untuk kedua kalinya.

Keesokan siangnya saya sudah berada di Berau yang panas dan berangin kering itu. setelah bertemu saudara dan mengucap banyak terimakasih, saya pun beristirahat. Dua hari kemudian, barulah saya pergi ke Derawan. Kali ini saya ditemani Didi, anak buah saudara saya, untuk menemani ke Derawan. Saya sebenarnya agak malas, karena saya ingin menikmati Derawan sendirian saja.

Berdua kami pergi naik sepeda motor menuju Tanjung Batu, pelabuhan pintu masuk ke Derawan, sekitar 90 km dari Berau. Saya menikmati perjalanan ke Tanjung Batu, terutama karena aspal hot mix yang baru saja selesai. Dibangun karena beberapa waktu lalu PON diadakan di Kalimantan Timur.

Sesampainya di Tanjung Batu dan menitipkan motor, saya kebingungan karena ternyata tak ada transportasi massal untuk ke Derawan. Adanya speedboat yang waktu itu disewakan dengan tarif Rp. 300.000.

Saat saya sedang kebingungan, tiba-tiba ada kapal nelayan yang sepertinya akan angkat sauh. Setelah tanya-tanya ke nahkoda, ternyata kapal itu pergi ke Derawan! Saya meminta izin untuk numpang. Tapi saya disuruh untuk meminta izin ke seorang laki-laki yang menyewa kapal itu. Ternyata pria berkacamata itu angkuh sekali. Dia bilang hanya akan memancing dan tidak pergi ke Derawan. Dia berbohong tentu saja, dan dia melakukannya bahkan dengan tidak memandang muka saya sama sekali. Sialan.

Tak dinyana, tiba-tiba Didi dipanggil oleh seorang perempuan. Perempuan muda ini ternyata teman saudara saya, dan dia sudah tahu perihal kedatangan saya. Hanya saja ia tak tahu kalau saya pergi ke Derawan hari itu. setelah ngobrol sejenak, perempuan berkerudung coklat itu mengajak saya pergi ke Derawan bersama dia dan teman-temannya yang akan pergi memancing dan mampir ke Derawan. Yeah!

Tak disangka, ternyata pria angkuh berkacamata itu adalah teman sang perempuan muda itu. Lebih tepatnya: bawahan. Sekonyong-konyong iseng saya kumat.

"Loh mbak, tadi kata mas ini perahunya gak pergi ke Derawan," kata saya sambil menunjuk pria angkuh yang ternyata bukan boss itu. Lelaki berkacamata itu hanya cengengesan saja. Saya malah tertawa dalam hati. Rasakan itu sok jagoan!

Cerita berikutnya adalah bagian senang-senang. Naik kapal kecil yang penuh canda tawa, menginap di bungalow murah meriah, snorkeling seharian, lantas dilanjut dengan bermain bersama anak-anak kecil di pulau itu, yang diakhiri dengan melihat senja di dermaga. Matahari yang memerah dan tergelincir perlahan itu menjadi saksi bisu betapa sempurnanya sore itu.

Gara-gara kesempurnaan itu, saya lupa diri. Bahkan saya tak mengucap syukur dan saya tidak sholat. Iya, saya tipikal manusia yang mengadu pada Tuhan ketika susah, dan meninggalkanNya ketika senang datang.

Bisa jadi saya diberi pelajaran karena kebiasaan buruk itu. Keesokan harinya, saya yang janjian numpang pulang bareng perempuan muda itu, bangun kesiangan. Mbak itu akhirnya pergi dengan rombongannya, meninggalkan saya dengan Didi. Karena kita beda bungalow dan dia tak tahu dimana kami menginap, maka ia tak bisa mencari saya. Ditambah sinyal handphone yang jelek. Saya sih santai saja, berharap ada tumpangan menuju Tanjung Batu lagi.

Ternyata setelah menunggu hingga tengah hari, tak ada kapal nelayan yang berlayar ke Tanjung Batu. Saya mulai cemas. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan menyewa speed boat. Di dompet, uang saya tinggal RP. 280.000 saja. Dengan muka memelas, saya berhasil membuat iba sang pemilik kapal cepat itu. Maka saya menyewa speedboat-nya dengan harga Rp. 250.000 saja.

"Harga saudara mas, karena mas datang jauh-jauh dari Jawa," kata sang pemilik dengan ramah. Pergi ke Derawan menjadi bukti bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius. Saya sendiri masih tidak percaya saya bisa pergi kesana. Setelah dikalkulasi, ternyata biaya pergi kesana sangatlah besar untuk mahasiswa seperti saya. Dan saya bisa pergi kesana dengan cara yang terbilang ajaib; Tuhan telah mengabulkan doa saya melalui perpanjangan tangan saudara saya.

Tuhan juga menolong saya melalui Didi. Andaikan saya bersikeras untuk pergi ke Derawan sendirian, mungkin saya tidak akan berkenalan dengan perempuan muda yang mengajak saya naik kapalnya. Dan saya tak akan bisa pergi ke Derawan. Meski berakhir dengan mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk menyewa kapal cepat, saya tak menyesal. Karena salah satu impian saya tercapai.

Ya, saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu melindungi hambanya yang pergi traveling. God save the traveler! []

3 comments:

Giri Prasetyo said...

tulisannya mas nuran ini selalu menarik....:D

dansapar said...

fotonya ajib deh ....
keren

Tekno aka Bolang said...

selalu suka mbaca tulisan-tulisan ne master yang satu ini..:)