Pages

12/11/10

The Last Living Dinosaur on Earth

(click image to enlarge)


Text: Dwi Putri Ratnasari
Photos: Dwi Putri Ratnasari & Ayos Purwoaji



“Kenapa Pulau Komodo harus terpilih jadi The New Seven Wonder?”
(Yudi ‘Kudaliar’ Febrianda, 2010)

Saya mohon maaf sebelumnya karena tidak membuat travelogue seperti biasa, mengawali tulisan dengan keindahan langit biru dan pantai berpasir putih, karena ada hal yang jauh lebih penting. Jujur saja, saya terusik dengan pertanyaan naïf seorang teman hunting di Pulau Komodo, Bang Yudi; mengapa pulau di selatan Labuan Bajo, Flores ini harus kita dukung menjadi tujuh keajaiban dunia baru?

Bang Yudi tidak berhenti sampai di situ, ia, sama naifnya dengan yang pertama, bertanya; kalau Komodo terpilih menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia, apa untungnya buat Indonesia yang telah melakukan promosi secara besar-besaran untuk program ini?

Tentu saja ini bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah oleh kroco macam saya. Tapi mari persilahkan saya untuk menjelaskan sedikit. Program hunting foto dan video di Taman Nasional Komodo yang saya ikuti ini diadakan oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia untuk satu tujuan, yaitu mendongkrak angka voting Komodo National Park for the New Seven Wonders of Nature in the World! Dalam ajang kelas dunia ini, TN Komodo memang harus bersaing dengan 27 finalis ajaib lain di dunia, seperti Dead Sea, Grand Canyon, Bay of Fundy, Masurian Lake District, Puerto Princesa Underground River, dan sebagainya.

Hingga saat ini voting memang terus berjalan, hasilnya akan diumumkan tahun depan pada 11-11-2011. Saat ini komodo mengantongi angka voting pada kisaran 40-50%, dengan 90% voters berasal dari Indonesia. Tapi rupanya itu tidak cukup, sodara! Coba klik link berikut ini, lihat sendiri statistik hasil perhitungan ranking terakhir minggu ini. Angka segitu ternyata masih harus dipompa terus agar bisa menyalip finalis-finalis yang sempat saya sebutkan tadi.

Salah satu usaha yang dilakukan oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata adalah mengirim fotografer, videografer, media dalam dan luar negeri, plus selebriti selama beberapa hari di Taman Nasional Komodo untuk membantu kampanye Seven Wonders ini sesuai dengan bidang yang digelutinya. Oke, karena saya hanyalah seorang travel writer dan fotografer kacangan, maka satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah menceritakan pada Anda sekalian, pembaca yang budiman, betapa Komodo itu layak mendapatkan posisi satu dari tujuh keajaiban dunia.

Komodo (Varanus Komodoensis) adalah salah satu hewan purba yang masih eksis hingga hari ini. Hewan lain, seperti ikan Coelacanth (Latimeria menadoensis) yang ditemukan di perairan Manado Tua juga sama purbanya. Hanya saja ikan monster yang dijuluki Ikan Raja Laut oleh nelayan lokal ini habitatnya masih bisa ditemukan di beberapa tempat lain di muka bumi, salah satunya Madagaskar.

Sedangkan komodo? Satu-satunya di muka bumi, naga ini hanya bisa ditemukan di Komplek Taman Nasional Komodo!

Kadal purba endemik yang hidup dari zaman Tertiarum ini seharusnya sudah punah seperti teman-teman seangkatannya. Saya tidak tahu mengapa Komodo bisa selamat dai Armageddon masa lalu, padahal hewan lain yang jauh lebih besar seperti Tyrannosaurus rex dan berbagai jenis dinosaurus lain punah dan sudah menjadi pajangan di museum.

Ajaibnya, hingga zaman Twitter seperti ini, si Komodo ini lah kok masih eksis gitu. Hidup dalam jumlah populasi yang stabil, yaitu sekitar 2500 ekor di Indonesia, tepatnya di Taman Nasional Komodo yang mencakup tiga pulau yaitu Pulau Rinca (1100 ekor), Pulau Komodo (1300 ekor) dan Pulau Padar (100 ekor).

Dari jumlah sekian itu, perbandingan antara yang jantan dengan betina adalah tiga banding satu. Maka tidak heran jika pada musim-musim kawin (Juli-Agustus), banyak pejantan usia produktif (di atas tiga tahun) yang terlibat pertarungan sengit demi nge-date dengan seekor betina. Yang jadi looser silahkan gigit jari, sedangkan pemenang akan mendapatkan mempelai wanita dan siap bersembunyi di hutan untuk melangsungkan perkawinan.

Yeap! Wisatawan yang berkunjung pada bulan Juli-Agustus besar kemungkinan bisa menyaksikan pemandangan raksasa-raksasa ini saling bertarung berebut cewek. Tapi ya harus sabar tingkat internasional juga jika menghadapi kenyataan tidak menemukan seekor komodo pun karena mereka tidak suka memperlihatkan diri jika musim kawin tiba.

Komodo betina akan bertelur pada bulan September. Lalu dia akan menggali tanah untuk mengubur dan mengamankan calon-calon bayinya hingga tanah yang menimbunnya cukup padat dan tidak tercium oleh komodo dewasa lain. Ow yeah, mereka kanibal men, anak sendiri bisa di makan! Selain komodo dewasa, yang menjadi predator telur adalah sekawanan babi hutan. Makanya induk betina akan berjaga selama beberapa minggu di atas gundukan tanah tersebut (biasa disebut sebagai ‘sarang’) hingga kondisi aman.

Seekor betina bisa menghasilkan 10 hingga 35 telur, dengan prosentase menetas mencapai 80%. Angka yang cukup tinggi dari masalah kepunahan, bukan? Tapi ya itu… setelah menetas pada bulan Maret-April, komodo imut-imut pemakan insect ini akan benar-benar diuji ketentraman hidupnya. Hanya dia yang mampu lolos dari predator lah yang bisa survive hingga dewasa.

Diperkirakan usia komodo bisa mencapai 50 tahun, dan kalau ada komodo mati ya biasanya ngga berbekas apa-apa. Begini, komodo akan melahap mangsa hingga tetes terakhir! Tulang pun akan dicerna dan dikeluarkan menjadi butiran kalsium. Makanya kotoran komodo pun warnanya putih. Kata Pak Dacosta, polisi hutan yang saya kenal di sana, hanya dua hal itu yang tidak bisa dicerna oleh komodo: kuku dan helai rambut saja.

”Kalau punya musuh, lempar saja ke Komodo, Mbak... Kalau dimakan komodo, pasti tidak ada bekasnya, hahaha...” canda lelaki Flores itu. Saya cuman bisa meringis.

Tapi ya, serius, kita sebagai pengunjung memang harus ekstra hati-hati selama berada di dalam Taman Nasional. Jangan melakukan hal-hal spontan, jangan berisik dan terlebih lagi jangan berkunjung saat datang bulan, wahai para wanita... Bau darah mudah sekali untuk membangkitkan nafsu makan komodo. Bagaikan anak kecil diberi asupan Scott’s Emulsion, laper mama...

Komodo bertebaran bebas di taman nasional ini, ada yang manjat di pohon, ada yang tiduran di bawah barak ranger taman nasional, ada yang jalan-jalan dengan gagah sambil menjulurkan lidah bercabangnya yang berwarna merah jambu, atau banyak pula yang hanya diam di tempat, tengok kanan kiri sambil pamer air liurnya yang mengandung enam puluh jenis bakteri mematikan itu. Beberapa kali saya sempat mengira mereka sebagai potongan kayu mati. Lah wong warnanya hampir sama, untung saya nggak inisiatif duduk mengaso di atas kayu mati palsu itu.

Tidak banyak orang tahu bahawa komodo adalah perenang jempolan. Mereka mampu bermigrasi menuju pulau-pulau lain yang jauhnya belasan mil.

Komodo memiliki tiga titik lemah, yaitu mata, leher dan kepala. Maka dari itu, tiap kali pergi trekking, para ranger selalu berbekal senjata berupa tongkat kayu panjang dengan ujung bercabang dua. Kali aja, hewan purba yang bisa mencapai panjang 3 meter dan berat 90 kg ini lagi badmood. Maka sodorkan saja tongkat-tongkat itu ke tiga area sensitif tadi, agar komodo tidak menyerang kita.

Dalam komplek Taman Nasional ini saya sering menemukan gerombolan rusa asik ngemil biji asam. Pohon asam memang vegetasi aseli yang banyak tumbuh di sini, selain jarak, srikaya dan gebang. Ada anggrek juga lho di sini, jenis Anggrek Vanda Limbata tumbuh liar di batang-batang pohon. Berbagai jenis burung, seperti kakak tua, gagak, juga hewan kecil lain seperti siput unik bercangkang kuning menyolok, sempat saya lihat selama trekking di Pulau Rinca dan Komodo. So wildlife banget lah!

Karena komodo berstatus sebagai predator utama, maka menjaga kelestarian rusa, babi, dan sebagainya dari perburuan liar, adalah tugas penting polisi hutan di sini. Intinya, jangan sampai komodo kekurangan makanan, sehingga beresiko menyerang penduduk di pulau tersebut.

Oke, apakah si naga tanpa sayap dan semburan api ini sudah cukup ajaib bagi Anda? Vote sekarang juga kalau begitu!

Lalu, kalau apa untungnya bangsa ini jika Komodo sudah menang voting dan resmi menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia, dengan promosi besar-besaran seperti ini?

Jawaban berikut ini berasal dari tulisan Pak Hanif dari pihak Kementrian Budaya dan Pariwisata. Sengaja saya copas dari milis, agar kalian semua, para pembaca HFLB, bisa turut memahami betapa promosi wisata sangat penting untuk mengangkat nama Indonesia di masa akan datang.

Untuk jangka pendek, jelas tujuan pemerintah adalah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing ke TNK, dengan demikian otomatis akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, karena pendapatan sektor pariwisata bisa langsung dinikmati oleh daerah setempat, yaitu melalui hotel, airline, travel, restoran, pedagang souvenir, pengusaha kapal, guide dan sebagainya.

Sebagai catatan semenjak BudPar mempromosikan TNK secara besar-besaran mulai tahun 2008, jumlah kunjungan ke TNK pada 2009 naik hingga 67% (naik sekitar 15.000 orang), jika rata-rata pengeluaran wisatawan asing USD 1000 berarti devisa yang diperoleh adalah USD 15 juta (sekitar 140 M).

Selain itu, melalui Seven Wonders ini, citra Indonesia bisa meningkat di mata internasional, mereka bisa melihat keseriusan pemerintah dalam mengelola aset dunia, karena TNK merupakan warisan dunia.

Jangka panjang, tentu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Logikanya semakin terkenal suatu destinasi, semakin banyak orang yang peduli terhadap destinasi tersebut, khususnya dalam menjaga dan memeliharanya.

Jangan sampai anak cucu kita hanya bisa melihat komodo lewat film seperti Jurrasic Park!

Namun perlu diketahui pula, bahwa kunjungan yang tidak terkontrol ke TNK dapat membuat komodo stress dan dapat membahayakan pengunjung. Menurut penelitian batas aman jumlah kunjungan ke TNK adalah 500 orang per hari, di sesuaikan dengan jumlah komodo dan jagawana yang ada di TNK.


Oke, selain melakukan trekking di Pulau Rinca (Loh Buaya) dan Pulau Komodo (Loh Liang) yang sangat menawan itu, jangan lupa untuk mampir ke Pulau Kalong, Pulau Papagaran, Pulau Mesah, dan Pink Beach. Pastikan Anda melihat lumba-lumba juga di perairan ini. Snorkeling dan diving adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Ada surga bawah laut yang sangat layak untuk dinikmati. Oh iya, satu lagi, jangan pernah bepergian ke Flores dengan tidak menyaksikan sunset! Ya ampun, dosa besar kalo Anda tidur kala matahari tenggelam!

Sunset di Pulau Kalong, misalnya... Widih, sadis berat! Pada pukul 18.00-19.00 WITA, kala matahari sudah ingin menutup hari dengan hanya meninggalkan hamparan cahaya merah di langit; ribuan kalong akan keluar terbang dari Pulau tersebut, berhamburan, berdesakan, dan tampak sangat tergesa-gesa. Entah mereka akan pindah kemana, yang jelas keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya, pemandangan langit merah dan ribuan kalong terbang ini akan terulang lagi.

Kalau beruntung, mungkin Anda bisa melihat Batman juga dalam defile besar hewan nokturnal ini :p

Pink beach adalah destinasi yang wajib hukumnya! Dari kejauhan sih memang tidak terlihat pink-nya yah, tapi coba mendekat dan letakkan segenggam pasir di tangan, barulah Anda akan melihat keajaiban lainnya. Pasir putih bercampur butir-butir pecahan koral merah tersebar di seluruh pantai ini. Amazing!

Di pantai merah muda ini Anda bisa snorkeling di pantai atau trekking ke bukit teratas, merekam gambar pantai biru jernih dengan pasir berwarna merah jambu yang dikelilingi gundukan bukit-bukit hijau. Sumpah, ngga bakal rugi mampir ke pantai ini!

Sayangnya, tidak ada itinerary mampir ke Pulau Papagaran dan Pulau Mesah. Dari atas yacht, sambil mendengarkan cerita Pak Andi Sucirta yang pernah bertugas sebagai dokter di sana, saya hanya bisa memandang sederet kampung nelayan yang ada di dua pulau tersebut.

Dan lebih sayangnya lagi, kami tidak bisa berkunjung ke Desa Komodo yang penduduknya hidup berdampingan dengan naga purba ini sejak ribuan tahun. Padahal menurut mitos lokal, Suku Komodo memiliki hubungan daran dengan hewan buas ini. Penduduk sekitar memanggil Komodo dengan sebutan Ora.

Yah, namanya juga perjalanan dibiayai, jadi saya harus nurut jadwal haha... Semoga saja lain kali saya bisa menginjakkan kaki lagi di sini. Amin! Dan semoga cerita per-komodo-an ini bisa melengkapi artikel Ayos dalam e-book ’Alone Longway From Home’ yang pernah dipublish oleh blog ini tahun lalu.

Oke, jangan lupa, vote ya! :)

6 comments:

aRuL said...

membaca blogmu ah jadi pengen travelling dan menuliskan kisah2nya, sudah wuapik gambar'e, ceritanya juga merangsang utk travelling :D

purwoshop said...

Ayo dong...segera dirilis :)

novi kuspriyandari said...

kereeennn...!

dansapar said...

wow...super keren!

pratapapa81 said...

foto2nya cakep banget. baik landscape maupun portraitnya.
salut...

Ayos Purwoaji said...

Cakep Put tulisanmu tertata rapi ... cukup jelas, dng alur cerita persis dengan yang kudengar sendiri dalam perjalanan ke Komodo. Salam - Harry Oeban

nb: Komentar om Harry ini nyasar di postingan percobaan, jadi saya tulisa ulang di jalan yang benar...