Pages

12/8/10

Little Africa in The Middle of Java


Teks: Fajar Dwi Nugroho
Foto: Swiss Winasis

________________________________________________
Kontributor










Fajar Dwi Nugroho adalah pecinta jejalan dan serial televisi Heroes. Pria penyuka makanan enak ini adalah seorang Sobat Padi yang loyal, tanyakan padanya semua lagu dari band Padi, dan dia akan menyanyikannya untukmu. Status pria tambun ini adalah jojoba, jomblo-jomblo bahagia.










Swiss Winasis adalah pria lulusan Fakultas Kehutanan yang memiliki sense of art yang tidak bisa dianggap remeh. Blognya adalah salah satu resource paling lengkap sebelum mengunjungi Taman Nasional Baluran. Pria penyuka fotografi ini membuat sebuah ebook tentang burung di Baluran. The next Riza Marlon.
________________________________________________


Awal ide pergi kesana adalah dari seorang teman saya yang sangat berbakat jadi provokator, Ayos Purwoaji. Pria penggila traveling ini begitu bersemangat mengajak kami untuk pergi ke Baluran. Kebetulan kami, satu kos memang memiliki hobi jalan-jalan dan makan enak. Maka tawaran pergi ke Baluran untuk mengisi waktu libur dengan mudah menjadi kenyataan, apalagi saya sendiri memang belum pernah wisata ke taman nasional mana pun.

Jadilah enam orang berangkat ke TN Baluran. Karena kami berangkat dari Jember, maka waktu tempuhnya hanya 3 jam. Kalo dari Surabaya, sekitar 5-7 jam ke arah Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Tiket masuk untuk per orangnya 2500 rupiah, cukup murah.

Dari pintu masuk, kami disuguhi oleh hutan beradu dengan rimbun semak di kanan-kiri jalan. Jalurnya beraspal selebar dua mobil, tapi jalan ini tidak selamanya mulus, ada banyak lubang yang harus kami hindari. Bahkan pada sebuah jembatan yang ambrol, kami memaksa Panther yang kami tumpangi untuk menyeberang sebuah sungai kering sedalam satu setengah meter.

Di samping jalan ada sebuah savanna dengan vegetasi berupa tanaman merambat dari jenis rumput yang sangat kering. Jika kami menyulut api sedikit saja, dapat dipastikan areal seluas belasan hektar ini dengan mudah terbakar. Maka dari itu pihak pengelola Taman Nasional memberikan sebuah plakat dengan tulisan kapital agar pengunjung berhati-hati dalam menggunakan segala sesuatu yang mudah terbakar.

Tapi tidak semua pemandangan yang kami lewati kering kerontang. Pada sebuah lahan, yang disebut Evergreen, kami melewati jalan aspal dengan kanopi pohon lebat yang melingkupinya. Tentu saja kawasan yang selalu hijau (evergreen) ini sangat kontras dengan vegetasi tanaman rambat kering yang kami lalui sebelumnya. Harus saya akui, Baluran memberikan banyak pilihan menyenangkan.

Satu hal yang paling saya ingat dari kawasan Evergreen adalah banyaknya kupu-kupu berbagai jenis yang terbang bebas kesana kemari. Mereka tidak takut disambar mobil atau sepeda motor yang sesekali lewat. Malah hewan kecil bersayap indah ini seperti bermain-main dengan arus turbulensi angin yang terbentuk di belakang mobil yang melaju. Saya belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Bahkan disepanjang jalur aspal yang terik, ratusan kupu-kupu mungil ini asyik berjemur diri, seperti yang saya lihat pada tayangan National Geographic Channel.

Sekitar sepuluh kilometer dari gerbang Taman Nasional, samar terlihat di sebelah kiri kami sebuah gunung menjulang tidak begitu tinggi, mungkin setinggi Gunung Batok yang ada di sekitar Bromo. Inilah yang dinamakan Gunung Baluran dengan tinggi 1.247 meter di atas permukaan laut. Konon, gunung kecil ini adalah tempat terakhir populasi Banteng liar bisa ditemukan. Seorang bapak penjaga pos informasi di Bekol mengatakan jika saat ini sudah sangat susah menemukan hewan bertanduk ini dengan mata telanjang. “Mereka bersembunyi di gunung mas, jarang ada yang turun,” kata sang bapak.

Bekol sendiri adalah sebuah lokasi dimana pos petugas Taman Nasional berada. Ada beberapa bangunan yang bergerombol di sini; sebuah rumah yang berfungsi sebagai pos informasi, dua menara pengamatan, dan beberapa kamar untuk guest house. Landscape di Bekol sangatlah Afrika. Sebuah hamparan sabana dengan tanaman pepohonan jarang, tetapi tanpa hewan-hewan liar yang merumput.

Kami pun memarkirkan kendaraan di depan pos informasi. Setelah bertanya-tanya tentang penginapan dan objek wisata, kami pun bergerak menuju pos pengamatan setinggi sepuluh meter yang terletak d puncak bukit. Ada segerombolan anak muda, mungkin seusia SMA, yang duduk dan bercanda. Mungkin reuni satu kelas. Kami permisi untuk melangkahi mereka yang sedang asyik ngobrol ditemani kudapan berupa kacang garing.

Saya berpikir memang nyaman sekali duduk di atas menara pengamatan ini, angin berhembus melintas padang sabana yang luas bermil-mil tanpa dihalangi pepohonan. Di satu sisi, ada hamparan padang dengan latar belakang Gunung Baluran. Disisi lain, tampak hamparan rumput yang luasnya seperti tak terbatas. Beda sekali dengan kota besar, dimana pandangan kita dikurung tembok-tembok masif yang dingin. Tiba-tiba saja ada sebuah perasaan lega yang merasuk diri saya.

Masih di atas gardu pandang, jika kita lihat sisi sebelah timur, samar-samar terlihat sebuah lautan biru yang tampak kerlap-kerlip terkena cahaya matahari. Tanpa komando lagi kami pun menuju pantai yang dikenal dengan nama Pantai Bama.

Jarak dari Sabana Bekol ke Pantai Bama sekitar tiga kilometer dengan jalan tanah dengan genangan air di beberapa bagian akibat hujan. Selama perjalanan ke Pantai Bama, kami melihat beberapa hewan, antara lain ayam hutan (Gallus varius), rusa, kera, juga merak. Hewan cantik dengan ekor memukau ini santai saja melihat kami lewat. Sayang kami tidak bisa melihat ekornya yang aduhai, mungkin karena saat kami datang bukan musim kawin.

Selain fauna yang kami temui, Baluran memang surga bagi primata dan burung. Ada banyak aves keren yang tinggal di Baluran. Burung cantik seperti Kirikkirik Laut (Merops philippinus), Enggang Cula (Buceros rhinoceros) dan Pelatuk Tinggir-emas (Chrysocolaptes lucidus) bisa kita temukan di wilayah Taman Nasional seluas 25.000 hektar ini.

Seorang teman, seorang pecinta burung sekaligus salah satu staff Taman Nasional Baluran, Swiss Winassis, bahkan memiliki inisiatif untuk membuat ebook berupa dokumentasi habitat burung di Baluran. Saya pikir ini semacam McKinnon atau buku panduan wajib bagi para birdwatcher yang datang ke Baluran. Sebagai seorang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Swiss mulai hunting dengan kamera Nikon D200-nya sejak bulan Mei 2008, hingga saat ini ia berhasil menemukan 171 jenis burung di Baluran. “Itu termasuk 11 jenis burung yang belum teridentifikasi,” ujar Swiss.

Buku Swiss tersedia dalam edisi Indonesia. Tapi tampaknya dia sedang dalam usaha untuk menerjemahkan ebooknya ke dalam bahasa Inggris. Tentu saja ini adalah usaha luar biasa yang harus didukung.

Dalam bukunya, Swiss menyebut:

Selain itu di lokasi ini banyak ditemukan jenis pohon yang masa berbunga dan berbuahnya tidak tergantung musim. Ficus superba atau Krasak bahkan kami sebut sebagai “Pohon Kehidupan” karena begitu dia berbuah, berbagai macam burung, primata dan mamalia kecil berkumpul di pohon raksasa ini.

Kayak apa sih pohon Krasak itu? Sayangnya kami tidak bisa menemui Swiss saat datang ke Baluran, karena dia sedang pulang ke Malang. Padahal seandainya ada Swiss, bisa jadi ia adalah guide terbaik dalam mengenal alam liar Baluran yang penuh vegetasi flora fauna.

Sampai di Pantai Bama, kami sepakat untuk menyewa sebuah homestay seharga 350 ribu rupiah. Homestay kami langsung berhadapan dengan pantai, memiliki dua kamar, dan sebuah kamar mandi. Jika dihitung secara rombongan, maka harga sewa jadi jauh lebih murah. Alternatif lain untuk menginap adalah sebuah bungalow dengan empat kamar yang disewakan seharga 75 ribu per kamar untuk semalam.

Pada hari libur, Pantai Bama akan ramai oleh pengunjung, kebanyakan merupakan anak-anak sekolah yang datang dengan orang tua mereka. Itu yang membuat kami ingin menginap, agar bisa menikmati pantai ini saat sepi. Karena pada sore hari biasanya para turis lokal itu pulang, dan pantai ini berubah menjadi sangat sepi. Kami hanya ditemani oleh puluhan kera yang mondar-mandir di sekitar homestay, menunggu kesempatan mencuri pakaian kami yang dijemur. Sialan.

Pantai Bama sendiri ini memiliki garis pantai yang panjang dengan hiasan beberapa hutan bakau di pinggirnya. Hampir seratus meter ke depan, kedalaman pantai hanya mencapai dada saya. Bagi penggemar snorkeling ini adalah tempat yang layak.

Sepanjang gigiran pantai adalah tempat yang asyik untuk dieksplor. Kami melihat ada sebuah pantai yang memiliki formasi batuan hitam yang indah. Penduduk lokal memiliki banyak mitos dan legenda yang disangkutpautkan dengan asal muasal terbentuknya beberapa situs menarik di sekitar Pantai Bama.

Keesokan paginya kami sedikit kecewa karena cuaca mendung. Namun sedikit sinar matahari pagi kemerahan yang muncul membuat senyum kami kembali. Sunrise di Pantai Bama tidak layak dilewatkan, padahal jika pagi itu tidak mendung bisa jadi kami melihat sunrise yang lebih bagus lagi. Saya selalu suka dengan cara Tuhan memulai dan menutup hari dengan sempurna.

Sunrise at Baluran, courtesy of Muhammad Nurullah

Setelah menikmati sunrise, kami berjalan menyusur bibir pantai lebih jauh lagi dan kami menemukan sebuah spot yang ‘wow’. Sebuah kubangan air dengan diameter sekitar sepuluh meter dengan latar belakang pohon berjenis palmae dan Gunung Baluran yang tampak biru dari kejauhan. Sekilas, taman ini mengingatkan saya pada masa Jurassic, bahkan salah satu dari kami menyebutnya sebagai ‘Taman Dinosaurus’ hehehe.

Setelah jeprat-jepret di ‘Taman Dinosaurus’ kami memutuskan untuk tracking masuk ke dalam hutan perdu. Kami tidak takut tersesat sebab pihak Taman Nasional sudah menyiapkan sebuah jalur trek dan berbagai penanda yang menjelaskan berbagai jenis vegetasi. Saya cukup salut dengan usaha pengelola Baluran, mengingat tidak semua Taman Nasional memiliki fasilitas seperti ini.

Selama trekking kami benar-benar disuguhi sesuatu yang berbeda. Berbagai pohon dan tanaman yang belum pernah kami temui sebelumnya, terhampar luas di depan mata. Bahkan kami juga menemukan sekawanan rusa yang sedang mencari makan. Jika beruntung, sekawanan anjing hutan akan menampilkan atraksi purba mata rantai makanan yang sudah mejadi hukum rimba selama jutaan tahun. Ternyata tak perlu datang jauh ke Afrika untuk menikmati alam wildlife seperti ini.

Menurut saya, Taman Nasional Baluran termasuk dalam kategori a place that worth to comeback to! Lain kali saya kemari lagi, berbekal kamera dengan lensa tele yang lebih panjang! []

Swiss Winasis resources, highly recommended!

9 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

waww... foto-fotonya very waaww :)

aRuL said...

wow gila... tempatnya keren banget....
sometimes harus ke sanah....

maharsi wahyu | kinkin said...

woaaa.. Anjrit! Bagus banget fotonya! Nikon ya?
E-booknya juga bagus. Membangunkan hobi saya yg lama tertidur, birdwatching pake keker sambil buka-buka kitab mc kinnon.
Btw, kmrn aq liat liputan pantai papuma di jember, bagus banget juga njrit! Hahaha.

purwoshop said...

wow, lengkap yah :) yg tulisannya om ayos mana? next edition ya? thx sudah berbagi yah :)

winda savitri said...

sadis :)

Haryo said...

kapan bisa d ajak jalan2...?? pengen juga nih...

dansapar said...

sumpah kereeeennnnn....
pengen ke sana .

Unknown said...

Keren!! i love indonesia :)

fairez said...

tanggal 19 saya mau ke baluran gan.. ente pakai kamera apa nih?