Pages

12/20/10

Teguh Sudarisman on Travel Writing


Interview and photo by Ayos Purwoaji

_______________________
Beberapa waktu Hifatlobrain sempat untuk mewawancarai Teguh Sudarisman, seorang pelopor genre travel writing di Indonesia. Saat ini ia menjabat sebagai editor-in-chief untuk dua majalah traveling; Escape! Indonesia dan Liburan.

Teguh Sudarisman sejak beberapa tahun yang lalu mendirikan sebuah klub bernama Penulis Pengelana sebagai sarana untuk menelurkan para penulis travel lokal di Indonesia. Simak wawancara panjang secara random bersama Ayos Purwoaji yang akan mendedah dunia travel writing secara gamblang.
_______________________


Teguh Sudarisman [TS]: Aku sebetulnya punya konsep ya. Kalo di Thailand kan ada konsep One Village One Product. Tapi kurasa kebutuhannya bukan itu, Indonesia butuh konsep One City One Travel Writer. Setiap kota minimal punya satu travel writer.

Misalkan aku butuh artikel tentang Solo, aku pasti akan kontak Si A, karena dia travel writer-nya Solo. Sama misalnya aku butuh tulisan tentang Bromo, Surabaya, Madura, atau Malang, aku cuma perlu kontak satu orang yang memang serius nulis buat kota-kota itu.

Minimal ada satu orang lah yang jadi satu travel writer di satu kota. Karena setiap kota kan punya keunikan tersendiri tuh, sayang kalo nggak dieksplore habis. Tentu saja orang itu, selain dapat kerjaan dari media, dia juga berpartisipasi untuk membangun pariwisata di kota tersebut.

Hifatlobrain [HFLB]
: Bener mas.

TS: Kan sekarang banyak banget fotografer, udah jadi profesi sejuta umat lah ya. Tapi siapa coba yang serius mau jadi travel writer? Susah cari travel writer. Kamu cari fotografer yang bisa nulis susah! Kalo travel writer sih udah pasti fotografer.

HFLB: Ah belum tentu mas.

TS: Mostly kayak gitu.

HFLB: Banyak travel blogger yang fotonya juga gak bagus tuh.

TS: Wah itu sih sayang sekali. Travel writer harusnya juga bisa motret. Nulis bagus, foto juga keren.

HFLB: Yang aku agak terganggu tuh, ada banyak blogger yang fotonya bagus tapi dipublish pake watermark. Menurutku itu mengurangi estetika foto sih... Ya mungkin mereka takut fotonya dicuri, tapi kalo pake watermark itu dilihatnya nggak nyaman gitu, mungkin mas punya pendapat?

TS: Aku ya kalo lihat foto watermark, aku nggak nafsu. Aku selalu kalo posting di Multiply atau FB selalu panjang maksimalnya 480 pixel dengan resolusi 72 dpi. Itu kan kalo dibesarkan udah pecah. Ya walaupun kadang-kadang dikadalin juga, tetep diposting di beberapa tempat. Kalo ketahuan sama aku ya tinggal aku mintain duit aja... [Tertawa]

HFLB: Emang banyak foto mas yang dicuri ya?

TS: Ya ada sih beberapa, tapi nggak apa-apa. Ya namanya orang showcase di internet, dicopy sama orang lain itu udah resiko.

HFLB: Saya sih hampir sepakat dengan konsep tadi mas, tapi yang saya tanyakan adalah; sampai kapan kita bisa mengeksplor sebuah kota? Kecuali kota besar seperti Solo, Jogja, Bandung yang tiap tahun pasti ada annual program gitu ya, lha kalo misalkan kota kecil seperti Nganjuk atau Temanggung gitu sejauh mana dia bisa menggali potensi wisata daerahnya. Apa nggak mungkin suatu saat dia mentok dan kehabisan bahan? Kalo satu kota satu penulis sih agak susah ya, kalo beberapa kota satu travel writer baru mungkin...

TS: Ya mungkin kalo kotanya terlalu kecil dia bisa memperluas daerah eksplorasinya. Bisa ke kota lain di sekitarnya. Bogor misalnya, Bogor tuh kota kecil. Di sana sekarang banyak banget fotografer, tapi travel writer-nya ancur. Aku suruh kirim tulisan nggak ada yang bagus. Nggak bisa mereka nulis yang personal experiences, yang joyful gitu. Mereka biasanya nulis deskriptif. Tahun berdiri lah, lokasi lah, how to get there lah. Yah kalo kayak gitu sih nyari di Google banyak. Boring banget. Travel writer itu harus bisa membawa perasaan pembacanya dong.

Bogor itu kotanya kecil, tapi potensinya gede. Kalo dia merasa habis, dia bisa beralih ke kota sampingnya. Kayak Banyuwangi juga, kalo misalkan satu kota sudah habis yadia pindah ke kota sampingnya aja; Jember, Muncar, Ijen...

Karena setiap kota ini sekarang sedang berusaha menonjolkan diri masing-masing kan, dan sebetulnya setiap kota kan punya potensi wisata yang bisa ditulis.

Kayak Indramayu misalnya, itu kan kayak sleeping town yang gak jelas gitu kan, padahal sebetulnya dia punya potensi besar yang bisa digali seandainya ada orang yang mau concern untuk jadi travel writer; kulinernya apa? Ada pulau apa? Ada spot wisata apa? Kita kan jadi nggak kenal Indramayu soalnya eggak ada penulis yang concern di kota itu.

Makanya aku antusias bener untuk merangsang anak-anak muda biar jadi travel writer gitu, soalnya itu bisa dikoleksi, bisa diarsipkan, bisa buat jualan. Misalnya dirimu jadi kontributor tetap di travel magazine, itu bisa buat jualan ke banyak tourism board; Thailand, Qatar, Macau, Malaysia, macem-macem bisa kemana aja. Lalu dirimu traveling dibiayai gratis oleh tourism board itu. Enak kan, gak usah booking pesawat jauh-jauh hari. [Tertawa]

HFLB: Wohoo gaya banget dah. [Tertawa]

TS: Ya aku bukan orang kaya, aku orang biasa. Tapi aku lihat temen-temen yang suka jalan lucu banget. Mereka mau traveling ke Ho Cin Minh City aja harus booking tiket setahun sebelumnya, nah pas udah mau berangkat, eh rutenya ditutup. [Hahaha] Aduuuh kacau kan! Misalnya kayak gitu.

Kalo aku sih mau jalan ke Ho Cin Minh City tinggal kirim surat aja, dapet tiket, tinggal jalan. Simpel kan?

Ya mungkin tidak semua penulis wisata mau kayak gini. Ada pula yang pake uangnya sendiri, nabung dulu baru berangkat. Kalo aku sih nggak gitu ya, kalo ada kesempatan buat gratisan kenapa enggak? Soalnya di dunia travel writing itu banyak sekali hal gratis. Aku selalu nekanin prinsip ini ke anak-anak didikku.

Masalahnya cuma satu, untuk mendapatkannya dirimu harus minta. Contohnya kamar-kamar hotel berbintang itu, apa selamanya mereka full booked? Enggak kan? Banyak yang kosong. Makanya kita bisa switch; "Eh gue nginep dua hari dong di hotel lu, ntar gue bikinin review deh!" Kalo kita nggak minta ya PR-nya diam aja, emang siapa elu? Ya nggak?

Tapi misalnya ada email, oh dari Mas A misalnya, travel writer handal yang nulis di banyak majalah, maka mereka gampang aja kasih kamar. "Lu gua kasih tiga hari nginep deh, tapi balesannya apa? Buatin gue review satu halaman di majalah dong..."

HFLB: Oke, i got the point, Mas.

TS: Ya udah gitu sistemnya, barter aja kan.

HFLB: Termasuk mas nginep di Amanjiwo waktu itu?

TS: Iya, semua, semua gratis.

HFLB: Gimana tuh yang Amanjiwo mas? Resor itu adalah impian saya untuk melewatkan honeymoon mas...

TS: Nah itu, bagi kebanyakan orang biasa sih nggak bakal sampe ke situ. Ya kan? Karena biayanya terlalu mahal. Nah jadi travel writer itu adalah salah satu cara untuk melampaui orang-orang biasa itu. Kalo orang lain harus nabung bertahun-tahun untuk bisa tidur semalam di Amanjiwo, kalo aku sih tinggal pilih kamar... Ke jaringan Aman Resorts yang lain aku juga jadinya gampang aja [Tertawa]

HFLB: [Mbatin: asem tenan!] Lah kalo misalnya kita ajukan permohonan tapi kita nggak punya media, tapi kita cuman kontributor emang bisa ya mas?

TS: Bisa! Tapi ya kamu harus punya banyak portfolio dulu untuk meyakinkan mereka. Bagi kebanyakan orang itu hal yang tidak mungkin, tapi bagi travel writer itu mungkin banget.

HFLB: Oke. Umm pengalaman traveling mas Teguh yang paling keren di mana sih?

TS: [Berpikir lama] Um kayaknya belum ada sih, emm tergantung sih ya. Soalnya kadang-kadang kelemahan jadi travel writer itu; misalkan kamu menginap tiga malam di sebuah hotel, bisa jadi selama tiga hari itu kamu nggak sempat coba kolam renangnya!

Ya soalnya kamu sibuk keliling, motret, nulis, keliling lagi, motret lagi... [Tertawa] Ya justru bisa jadi pengalaman paling baik justru bukan didapat dari tempat yang sangat istimewa. Bisa jadi bermalam di desa Ngadas di lereng Bromo adalah pengalaman yang jauh lebih kaya... Ya tergantung setiap orang sih.

Contoh lain, misalnya pergi ke Guangzhou, jalan, jalan, jalaaan, eh malah gak dapet apa-apa. Tapi begitu masuk ke toko kaset tua, malah nemu sesuatu yang lama dicari. Nah kan pengalaman batinnya beda. Justru mungkin dari satu kaset yang ditemukan di toko tua itu yang bikin perjalanan istimewa.

HFLB: Berarti personal experience kayak gitu jauh lebih berharga ya?

TS: Iya, justru tidak harus sesuatu yang fisik dan kasat mata. Ya kembali aja contoh di Amanjiwo tadi, hotel yang rate-nya semalam bisa belasan juta, apa bedanya dengan tidur di hotel yang semalam satu juta per kamar? Justru pas di Amanjiwo itu lebih terkesan pas raftingnya, soalnya aku mau njungkel. kayak Tuhan negur saya; "Udah deh nggak usah yang gagah-gagahan lu, ini baru gue kasih sungai yang jeramnya level dua aja udah mau nyungsep lu," Akhirnya aku kan jadi lebih hati-hati, tetep eling dan waspada [Tertawa terbahak]

HFLB: Hwaduh, kok eling lan waspodo kayak Ranggawarsita gini jadinya...[Tertawa] Eh mas kemarin terakhir kali yang pergi ke Siak itu berapa lama?

TS: Oh itu cuma sehari aja.

HFLB: Hah! Apa yang bisa didapatkan seorang travel writer dalam perjalanan sehari aja? Kan penulis itu harus mencerap segala sesuatunya dengan cermat dan detail. Kalo cuman sehari rasanya kurang banget, kayak nggak dapet apa-apa...

TS: [Terdiam sejenak] Oh, travel writer itu beda dengan backpacker atau flashpacker sekalipun. Kalo travel writer itu menggunakan segala macam metode untuk bisa menghasilkan sebuah tulisan. Kamu udah baca tulisan tentang Rumahkoe yang di Solo itu, yang di multiply-ku bagian travelogue itu? Pernah baca nggak?

HFLB: Oh belom baca aku. Aku justru tertarik tulisanmu yang tentang Masjid Art Deco itu mas.

TS: Nah itu kan sama, ngliputnya sebentar...

HFLB: Iya tapi ada sesuatu yang beda gitu... Anda naik ojek, sholat subuh, lalu ngobrol dengan takmir masjid, itu keren banget menurutku mas!

TS: Ya makanya, pengalaman traveling itu tidak ditentukan lama sebentarnya perjalanan. Jadi ngapain kamu bermiskin-miskin jalan dari Jakarta ke Banyuwangi kalo misalkan nggak ada hal yang bisa diceritakan ke orang lain juga? Mending langsung aja, naik pesawat, langsung sampe di tempatnya, trus kita benar-benar mendalami daerah yang kita tuju itu... Itu tergantung sebanyak apa yang bisa kita serap dari tempat itu...

Sama kayak yang di Rumahkoe. Itu aku liputan cuma dua jam aja. Lihat lihat, keliling keliling rumah kuno, lihat kamar tidurnya, makan di dalamnya. Tapi banyak kesan yang kita serap di dalamnya.

Yang di Masjid Art Deco juga sama kan, berangkat jam 3 pagi, abis itu ikut subuhan, jam 8 pulang deh. Jadi dalam 5 jam aja udah banyak yang bisa kita dapetin gitu. Kita perlu mencerna lagi, apa yang bisa kita dapatin dari sebuah tempat.

HFLB: Selama ini aku lihat, kalo misalkan ada tulisan wisata, orang hanya nulis tentang hal-hal yang visual aja; laut biru, pasir putih, pantai jernih, banyak ikan badut, bla bla. Padahal sebetulnya yang aku tunggu tuh ada semacam thriller tentang interaksi dengan penduduk, disengat hewan atau hampir mati tenggelam gitu...

TS: Nah bener itu, sebenernya dengan liputan singkat bisa bikin cerita yang bagus kalo semua indera semua perasaan ikut bergerak. Semuanya mencerna. Tapi kalo cuma tulisan yang menceritakan tentang bergerak dari titik satu ke titik lain buat apa? Makanya aku selalu menyarankan jangan ikut grup tur... Itu membuat indera mati.

HFLB: Apalagi satu kelompok dengan ibu-ibu socialita yang suka belanja belanja gitu ya mas! [Tertawa]

TS: [Tertawa] Ya kecuali kamu mau nulis buat majalah kayak Femina atau Cosmopolitan gitu ya nggak papa.

HFLB: The place you wanna visit before you die dimana mas? Lima tempat gitu...

TS: Wah banyak ya sebenernya. Yang aku sedang planning itu ke Beijing, Angkor Wat, Tokyo, sama India, aku mau ke Varanasi.

HFLB: Itu kan baru empat mas, satu lagi apa?

TS: Umm [Terdiam] ya ke Pulau Moyo kali ya, mau nginep di Amanwana! [Tertawa]

HFLB: [Tertawa plus mbatin: bajigur!]

TS: Emm ke Tokyo sebenernya aku cuma mau nyoba bullet train aja. Kereta peluru.

HFLB: Shinkansen mas?

TS: Iya shinkansen. Udah aku ke Jepang gak mau macem-mecem. Cukup nyoba bullet train aja.

HFLB: Abis naik shinkansen langung pulang lagi gitu mas?! [Tertawa]

TS: [Tertawa] Ya semua hal buat travel writer jadi hal yang menarik ya. Soalnya semua hal unik. Selama kamu di sebuah tempat lalu kamu menikmati perjalananmu, itu udah jadi story yang menarik. Buat travel writer itu udah ngga ada bedanya, semua hal unik, either kamu nginep di hotel bintang tujuh ato losmen kelas kambing semua sama aja...

HFLB: [Bingung] Hotel bintang tujuh mas? Memang obat ya?

TS: [Tetep lanjut bicara] Yang penting kan pengalaman yang didapat di dalamnya.

HFLB: Ehm maaf mas, udah berkeluarga ya?

TS: Udah, istri satu, anak satu. Emang kamu gak tau ya?

HFLB: Waduh mas, maaf aku gak stalking sedalam itu [Tertawa] Emm kalo jalan-jalan sama istri atau sendiri mas?

TS: Sendiri aja. Istriku nggak terlalu suka jalan tuh.

HFLB: O berarti salah ya kalo saya bercita-cita punya istri yang suka traveling juga...

TS: Ya tergantung. Misalkan kamu suka naik gunung, kalo kamu dateng ke pamerah Garuda Travel Fair kayak gini pasti kaget. Tidak semua orang suka naik gunung kan, ada banyak juga orang yang suka ke kota-kota yang indah, tidur di hotel yang mewah, rela keluar duit jutaan untuk belanja. Kalo kita mah tidur di losmen tiga ratus ribuh juga jadi kan? [Tertawa]

Nah istriku tipe yang kayak gini, kalo jalan-jalan harus enak dong, nggak boleh susah. [Tertawa] Tapi bukan berarti itu tidak jodoh kan, ya kita harus saling menyadari keinginan jalan-jalan setiap orang sih...

HFLB: Saya juga melakukan backpacking juga bukan karena apa sih mas, soalnya buat mahasiswa kayak saya gini udah gak ada pilihan lain... [Tertawa] Err tapi sejak kapan sih mas suka travel photography? Menyadari kalo bisa nulis sekaligus motret bagus... itu kan nggak gampang.

TS: Kalo nulisnya udah lama, lima tahunan. Sejak di Femina pokoknya. Tapi nggak konsisten sih waktu itu, kadang nulis kadang enggak. Dulu pas di Femina travelingnya gak sempat jauh-jauh sih, ke Bukittinggi ke Bandung, ya pokoknya tipikal traveling ibu-ibu gitu... [Tertawa]

Kalo motret mulai kapan ya? [Terdiam] Sejak punya Nikon sendiri sih, sejak kerja di majalah JalanJalan. Nggak lama itu...

HFLB: Aku dulu pernah baca postingan mas di di milis. Mas bilang waktu itu foto Pulau Tidung jadi kover di LionMag. Mas bilang ke milis; "Buat yang lain santai aja, saya cuma pake kamera Nikon D40 kok, udah bisa jadi foto kover. Jadi nggak usah minder kalo kameranya nggak high-end." Jujur aja itu membekas banget mas di aku.

TS: Iya, sebetulnya kamera gini (Nikon D40) udah cukup kok. Sebelum ini aku pake kamera prosumer juga.

HFLB: Kalo nggak salah liputan mas juga pernah pake kamera hape ya?

TS: Iya, kamera 3 megapixel. Itu udah cukup juga kalo gambarnya gak besar-besar amat. Tapi pernah yang di LionMag digedein jadi gambarnya pecah. Sayang.

(Photo courtesy of Teguh Sudarisman)

HFLB: Nulis satu destinasi dalam beberapa artikel gitu nggak boring mas?

TS: Ya itu tergantung seberapa banyak obyek menarik yang bisa kamu dapatkan. Makanya travel writer itu kan beda banget sama orang biasa kalo jalan-jalan. Kalo kita (travel writer) kan traveling with mission kan? Kalo orang biasa dateng ke Karimunjawa cuma jebar jebur aja, soalnya gak ada kewajiban untuk nulis atau bikin reportase kan? Kalo kita pasti eksplorasi, mencari-cari sudut pandang mana yang bagus untuk ditulis, kita mikir apa konsepnya, apa yang kita kejar. Jadinya kepuasannya beda antara travel writer dengan orang biasa, kalo bisa bikin sesuatu yang bagus dari sebuah tempat, itu yang bisa bikin bangga sebetulnya.

Dari satu destinasi, sebetulnya bisa banyak story yang dihasilkan. Tapi itu tergantung sama level travel writer-nya juga sih. Misalkan kamu dateng ke Semarang, muter-muter gitu. Terus kamu cuma bisa bikin satu tulisan, [Tertawa] gagal kamu! Kelihatan...

HFLB: Pemula gitu ya mas?

TS: Iya, kelihatan pemula. [Tertawa] Nah kalo misalkan pas di Semarang, ke Semawis, ke Simpang Lima, ke tempat orang bikin lumpia, ke Lawang Sewu, itu udah bisa jadi berapa story coba? Ya misalkan satu tulisan 500 ribu, itu udah dapet dua juta kan? [Tertawa]

Jadi kayak misalnya ke Thailand, aku udah beberapa kali ke sana...

HFLB: Emang ke Thailand terus gak bosen mas?

TS: Ya Thailand kan luas...

HFLB: Udah ke Phi Phi Island berarti?

TS: Oh belom sempat ke sana, mungkin lain waktu. Jadi aku disana udah punya banyak nomor kontak, mulai A-Z ada. Itu bisa jadi bahan tulisan yang nggak habis kalo cuma lima tahun... Banyak sekali yang bisa aku tulis. Menarik kan?

HFLB: Menarik mas!

TS: Ya jadi kalo misalkan kamu travel writer muda, ya kamu masih harus banyak belajar. Banyak beli buku travel, banyak baca juga...

HFLB: Iya mas, pasti itu. Lha kalo mas Teguh sendiri punya travel writer favorit gitu?

TS: Umm [Terdiam] aku soalnya otodidak ya, jadi kebanyakan referensiku ya majalah luar negeri. Nggak ada satu sosok yang aku gandrungi.

HFLB: Emang travel magazine favorit apa mas?

TS: Ya mungkin Travel And Leisure atau Condé Nast Traveller.

HFLB: Oh kalo saya sih suka banget sama gaya CNN Traveller mas, tulisannya aduhai. Pernah dia nulis Varanasi dengan sangat keren...

TS: Umm CNN Traveller ya? Belom pernah baca aku.

HFLB: Nah kalo sekarang aku tanya dari sudut pandang mas sebagai seorang editor sebuah majalah wisata dan travel writer senior yang sudah malang melintang di dunia kayak gini; emang gimana sih mas majalah travel di Indonesia hari ini? Mungkin otokritik dan pendapat mas...

TS: Majalah traveling itu kan dalam kontrolnya relatif lebih sulit ketimbang majalah lain. Masalah utamanya di situ. Akhirnya mereka selalu ingin topik-topik yang levelnya menengah ke atas. Jadi kalo traveling ecek-ecek ke bukit apa atau ke pasar apa gitu jarang sekali bisa masuk.

Tapi kalo misalkan diving atau pergi ke mana yang bener-bener eksotik baru mereka mau. Raja Ampat, Wakatobi, Komodo misalnya. Soalnya itu yang lebih mudah dijual, dan editor pun rela membayar lebih mahal untuk destinasi seperti itu.

Tapi sebetulnya masalah itu bisa diatasi kalo si travel writer punya materi dan foto yang kualitasnya bagus. Kayak aku nulis Bromo misalnya, apa sih sekarang istimewanya Bromo? Udah banyak yang dateng dan nulis tentang Bromo kan? Tapi make it differently! Coba cari tempat-tempat yang baru di Bromo, makanya jangan jadi wisatawan biasa yang cuma dateng, naik kuda di Lautan Pasir, naik tangga ke kaldera, basi banget kalo nulis itu. Kayak gitu udah ditulis tiga puluh tahun yang lalu...[Tertawa]

Mikirnya harus beda, cari detail baru yang menarik. Itu yang bisa dijual.

Kayak Gunung Ijen juga, orang udah banyak yang kesana kan? Tapi cari sesuatu yang beda, mungkin waktu jangan siang, berangkatnya harus pagi benar misalnya. Jangan molor pas kuli belerangnya udah turun kamu baru naik. [Tertawa] Coba deh kamu janjian sama kuli belerangnya, tau rumahnya, berangkat naik bareng, tau percakapan mereka, jarang kan ada orang yang mau kayak gitu. Itu juga yang membedakan kualitas travel writer satu dengan yang lain.

HFLB: Tapi mas, emang bener ya travel writer di Indonesia masih jarang?

TS: Yang bagus ya sebetulnya itu-itu aja...

HFLB: Itu dulu grup Penulis Pengelana gimana mas awalnya? Awal pemikirannya apa sih?

TS: Ya karena di Indonesia belom ada...

HFLB: Emang di luar negeri banyak?

TS: Banyak banget, travel writing class ada banyak sekali di luar...

HFLB: Apa sih mas yang mas mau bilang buat para travel writer muda? Apa yang harus jadi bekal awal buat para penulis travel belia? Mas nggak bisa dong ngomong 'oh otodidak aja kok..."

TS: Ya kamu harus punya impian yang besar, kayak MLM aja. Misalnya kamu punya keinginan lebih kuat mana mau ke Dubai atau ke Jerusalem?

HFLB: [Tertawa] Opo sih mas, mosok pilihane Jerusalem?

TS: [Tertawa] Ya itu kan misalnya... Dengan cara biasa ngumpulin duit kamu nggak akan bisa. Nah sedangkan kalo jadi travel writer peluang itu terbuka lebar... Kamu tinggal milih aja mau kemana. Tinggal kamu berani nggak jadi seorang travel writer? Yang pasti perlu basic skill ya, seperti kemampuan berbahasa yang bagus dan kemampuan estetika fotografi, semua itu bisa dipelajari kan? Nggak susah kok jadi travel writer sebenarnya.

Cuma yang aku lihat seringkali kita terlalu banyak excuse...

HFLB: Maksudnya excuse gimana mas? Contohnya yang umum?

TS: Ya banyak alasan, salah satu yang paling besar sih biasanya malas dan tidak sungguh-sungguh. Terus minder juga. Banyak kok yang punya kemampuan nulis dan fotografi bagus, peluang dia jadi travel writer sebetulnya besar, tapi ya itu, dikalahkan sama minder. Kan sayang jadinya.

HFLB: By the way, mas Teguh nggak ada rencana bikin buku nih? Boleh dikasih bocorannya?

TS: Iya aku lagi nulis buku nih. Sebetulnya sih tentang catatan-catatam perjalananku aja. Dikumpulin gitu. Tapi nanti ada semacam side bar-nya gitu. Jadi semacam, behind the scene dalam peliputan yang aku lakukan. Semacam "how to make it happen-nya" lah!

HFLB: Wah kapan terbit mas? Nanti saya minta waktu khusus untuk book signing ya... [Tertawa]

TS: [Tertawa]

HFLB: Tapi kapan seorang travel writer bisa memiliki bargaining kepada publisher? Karena kan, misalnya saya nulis tentang Bali, ada juga orang lain nulis tentang Sulawesi, panjang tulisan dan jumlah fotonya sama. Bayaran juga sama. Padahal kan effort saya untuk ke Bali lebih murah ketimbang penulis satunya. Menurut mas gimana itu? Misalnya saya nulis tentang Vanuatu atau Timbuktu, itu kan jarang, bisa nggak kita menaikkan daya tawar harga tulisan kita di depan publisher?

TS: Mostly sih kebanyakan media udah punya standar, ada rate harganya. Mau ke Kutub Utara kek, atau mau ke Jombang kek misalnya, harganya sudah standar. Kecuali dirimu punya koneksi bagus dengan medianya. Itu beda soal. Ada beberapa sih editor yang baik kalo kita udah dekat. [Tertawa]

HFLB: Oke, pertanyaan paripurna mas: sesungguhnya jadi seorang full time travel writer itu bisa jadi pegangan hidup nggak sih biar dapur di rumah tetap mengepul?

TS: Bisa ya, bisa. Asalkan satu; sungguh-sungguh. Ya dulu soalnya karena aku nggak sungguh-sungguh ya, jadi end up being an editor ya. [Tertawa] Apalagi kalo koneksinya udah media di luar negeri ya mungkin lebih dari cukup kali ya kalo untuk sekedar hidup. Tapi kalo mainannya masih media dalam negeri yaaa dihitung-hitung aja sih.

Dulu pas masih jadi full time travel writer sih bisa sampe lima juta lebih perbulan. tapi kok ya rasanya masih kurang aja ya! [Tertawa]

Silahkan temui Teguh Sudarisman di blog pribadinya: http://sudarisman.multiply.com

6 comments:

Dwi Putri Ratnasari said...

Om Teguh, sebagai travel writer newbie yang terobsesi pengen ke India, saya mo nitip pertanyaan:

1. Ngga banyak orang yang tau profesi travel writer itu apa.. Apalagi buat para sesepuh di keluarga saya, nah pertanyaannya.. gimana sih mendeskripsikan profesi ini secara TEPAT? Jangan-jangan kita dikira hedon melulu... Apalagi saya cewe ya Om, yang mungkin ga seharusnya terlalu banyak keluyuran :)


2. Berkaitan dengan hedon, gimana cara 'membungkam' mulut orang-orang yang suka sirik ngeliat seorang travel writer pindah dari satu destinasi ke destinasi lain? Biasanya sih pertanyaan yang keluar dari mereka setipe kayak gini, "jalan terusss, rek... ngabisin duit mulu.. Blablabla.."
So annoying :(
Maunya sih 'bodo amat', tapi sebodo-bodonya tetep kepikiran juga...

Hm mungkin dua hal di atas sudah ngga dialamin sama Om Teguh yang uda profesional, apalagi skrg uda jadi editor majalah Liburan...

Yah, pokoknya kau keren abis lah, Om... Doain saya bisa liat Holi Fest ya Om.. hehee..

Thanks for sharing :)

Teguh said...

Hai Dwi, salam kenal. Aku jawab langsung aja ya:
1. Singkatnya travel writer itu penulis artikel traveling (sudah termasuk di dalamnya foto2nya), baik dia itu freelance, kontributor tetap, ataupun staf sebuah majalah traveling.
Untuk menulis artikel traveling yang bagus tidak harus pergi jauh-jauh ke tempat2 yang aneh atau angker. Di lingkungan kota sendiri juga sebenarnya banyak yang bisa ditulis. Mungkin untuk awal2nya yang spt ini dulu kali ya. Kalau sudah ada hasilnya, bisa traveling lebih jauh.

2. Show your works. Tunjukkan hasil-hasil karya tulisanmu ke mereka, supaya mereka tahu bahwa jalan-jalanmu itu untuk 'bekerja' bukan buat keluyuran ndak jelas.

seniman vertex said...

Panjang dan lamaa... hahah tp tetep menarik.

Saya bukan travel writer, karena ada profesi lain yg telah saya pilih sejak awal masuk kuliah. tetapi tetep travel merupakan kebutuhan untuk lepas dari rutinitas.

melalui mas Teguh atau travel writer lainnyalah kita-kita ini punya destinasi yang menarik untuk dikunjungi.

tapi seringnya planing kacau setibanya di tempat tujuan. Pernah masuk hutan berdua sama temen, cuma gara-gara denger dari penduduk sekitar ada air terjun yang bagus di atas gunung... ahahah tapi emang gak sia-siah sih setelah 2 jam lebih masuk hutan ketemu juga.

Kalo menurut mas Teguh kira-kira travel lebih baik kita rencanakan dengan teliti sebelum berangkat atau kita lihat saja nanti disana bisa apa saja?...

Wana said...

nah, panjang dan sangat inspiratif
makasi buat sharing confo nya ya mas teguh dan mas ayos..

dansapar said...

meski panjang tapi menarik
menambah wawasan ttg travel writing
dan tertantang utk bisa nembus media
dgn tulisan travel bukan cerpen lagi

:)

*salam

PeNa said...

@seniman: biasanya kalau mau liputan saya merencanakan sekurangnya 2 topik: 1 yang memang sudah saya rencanakan untuk saya kejar, 1 lagi liputan cadangan. Tujuannya supaya kalo liputan utama gagal/tidak menarik, saya masih punya artikel lain untuk ditulis. Contoh yang simpel saat saya liputan pesut mahakam, tiga hari muter2 tapi ndak nemu juga, akhirnya saya mampir ke hutan anggrek hitam dan malah tulisan anggrek ini yang jadi. :))
contoh lain sewaktu liputan panen tembakau ke temanggung, saya akhirnya naik sundoro juga gara2 tertarik dg gunung ini. akhirnya bisa dapat 2 tulisan.
back-up plan, fleksibilitas, dan juga curiosity sangat diperlukan untuk liputan traveling.

@wana & dansapar: sama2 mas. ditunggu artikel dan foto2 travelingnya.