Pages

12/8/10

Walking Across The Mist


Teks dan foto oleh Muhammad Nurullah
________________________________________________
Kontributor










Muhammad Nurullah adalah seorang traveler cermat, selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Sedang menyelesaikan studinya di Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya. Termasuk pria santun yang tidak pernah selingkuh. Temui dia di http://suket-teki.blogspot.com/
________________________________________________

Saya mungkin termasuk orang yang telat mengunjungi Gunung Bromo. Sudah hampir 24 tahun saya hidup di Jawa Timur tapi baru beberapa waktu lalu saya bisa kesana. Bersama empat orang travelmate yang semuanya adalah saudara saya. Kami sepakat untuk tidak menggunakan hardtop, ojek atau kuda untuk menuju kawah Bromo. Alasannya, karena kami ingin menjajal trek lautan pasir Bromo dengan berjalan kaki!

Pukul 03.30 kami berangkat dari homestay. Berbekal senter seadanya, kami berlima mulai menyusuri lautan pasir mengikuti pathok-pathok pembatas kawasan Gunung Bromo, karena itulah acuan kami supaya tidak kesasar. Memakai sepatu dengan kaos kaki adalah pilihan terbaik agar pasir-pasir vulkan yang dingin itu tidak menyentuh sela-sela kaki. Karena meski kita pakai jaket tebal lengkap dengan syal, namun jika telapak kaki masih disentuh pasir gunung, seketika otak kita bakal terasa beku. Sangat dingin.

Ternyata melintasi lautan pasir Bromo tidak semudah yang saya bayangkan. Kami harus berhadapan langsung dengan kabut tebal yang saat itu mulai turun memenuhi lautan pasir ini. Selain itu, debu dari lalu lalang hardtop yang seperti arak-arakan pejabat itu juga sangat mengganggu pernafasan. Jadi, bagi pejalan seperti kami, memakai masker hukumnya wajib saat melintasi kawasan ini. Tak hanya itu, kombinasi kabut dan debu tadi ternyata juga sukses membuat jarak pandang semakin terbatas.

Setelah hampir 1,5 jam berjalan, akhirnya kami sampai juga di starting point pendakian ke kawah Bromo. Letaknya tidak jauh dari Pura Poten yang berada di tengah kaldera. Disitu sudah ramai orang yang sedang bersiap-siap naik, banyak pula penjual jasa yang menawarkan ojek kuda, tapi kami tetap setia dengan prinsip "jalan kaki" kami, hehe. Ojek kuda disini rupanya sudah diorganisir dengan baik. Jadi setiap pemilik diberi identitas berupa nomor urut, mereka tidak perlu berebut mencari pelanggan, tinggal menunggu dengan tertib giliran dipanggil sesuai nomor urutnya.

Saat perjalanan menuju kawah Bromo, kabut saat itu masih tetap tebal. Masker yang saya pakai sejak di lautan pasir ternyata sudah tidak mempan lagi. Alhasil, hidung saya mulai bereaksi, bersin-bersin dengan ekstrim dan lendir pun keluar dari hidung. Sudah hampir dua pak kertas tissue ukuran sedang saya habiskan sepanjang perjalanan, tapi belum juga mampet. Sialnya kadang sampai tidak terasa keluar sendiri dari hidung. Srooot. Untung saja keadaan sekitar masih berkabut jadi kejadian disgusting ini tidak sempat membuat heboh pengunjung lain.

Meskipun sudah agak siang dan kabut mulai menghilang, rupanya dinginnya udara di sekitar Bromo masih dirasakan pengunjung lain. Buktinya, toilet sampai antri seperti antri minyak subsidi, terutama toilet cewek. Saya yang dari tadi juga kebelet buang air kecil sedikit tenang karena dari kejauhan, area toilet cowok tampak lengang. Begitu saya mendekat, jeng jeng! ternyata disana sudah ada beberapa orang wanita yang didominasi ibu paruh baya sedang antri. "Nggak salah masuk toilet toh?" tanya mas-mas di pinggir saya. "Toilet cewek antri panjang mas, udah kebelet ini," jawab mereka kompak. Jiaahhhh! Mungkin merekalah sekumpulan orang nekat yang dibutuhkan negara jika seandainya suatu saat republik ini kekurangan pasukan perang.

Dan akhirnya sekitar pukul delapan pagi, kabut sudah benar-benar hilang. Deretan bukit-bukit yang indah disekitar Gunung Bromo sepenuhnya terlihat. Berbagai hardtop warna-warni yang membawa para pelancong juga tampak berbaris rapi. Sebelum kembali ke homestay, kami berlima sempat minum kopi di warung sekitaran toilet. Disela-sela kami minum kopi, si Yusi, sepupu saya, nyeletuk, "Sebenarnya ke Bromo itu nggak susah lho. Dari homestay bisa nyewa hardtop atau ojek, mau ke kawah juga bisa naik kuda, kalau kedinginan juga ada warung kopi di atas. Masalahnya cuma satu, harus bawa uang banyak!". Hehehe, that's right, Yus! []

1 comment:

Vira said...

foto siluet dalam kabutnya keren banget!!