Pages

12/20/11

2012 National Holiday

Click to enlarge!

Salah satu keistimewaan punya temen-temen traveler adalah bisa tahu lebih awal jadwal libur Nasional tahun depan. Hehehe. Untuk mengantisipasi banyaknya tanggal merah dan harpitnas, maka ini dia kami tampilkan kalender libur 2012. Semoga kalender sederhana ini bisa membantu Anda merumuskan resolusi wisata setahun yang akan datang! Selamat mengunduh!

Underwater Division

all photos by Winda Savitri and Bondan Wahyutomo

Next, will be on Hifatlobrain: 
divisi menyelam dan ekspedisi bawah laut :p 
(Bondan Wahyutomo, 2011)

Berikut ini adalah oleh-oleh berupa foto dari perjalanan bawah air duo staff Hifatlobrain, Winda Savitri dan Bondan Wahyutomo. Akhir minggu lalu mereka menjajal dive site di Pulau Pelangi, yang katanya berarus lumayan deras. "Padahal ono shipwreck apik, tapi aruse deres..." Padahal ada bangkai kapal yang bagus, tapi arus sedang kencang, kata Bondan yang batal memotret shipwreck untuk keselamatan bodinya. Sedangkan Winda, sebagai seorang pemula, harus puas hanya melihat nemo, anemon, dan nudi yang tak bercahaya di kedalaman 20 meter. 

Sambil berseloroh Bondan mengatakan bahwa Hifatlobrain saat ini sudah memiliki divisi bawah air yang siap berbagi cerita keindahan laut Indonesia kepada pembaca. Bisa jadi ini semacam jamu tombo bosen bagi Hifatlobrainers yang jemu membaca travelogue blog ini yang melulu daratan. Kami haus, we need underwater! Mungkin begitu kata hati kalian. Jadi ya kita doakan saja Winda dan Bondan bisa mendapat banyak rezeki dengan konstan agar bisa selalu berbagi pengalaman bawah airnya dengan Hifatlobrainers semua. 

12/18/11

Rumah Leluhur Naga


Bagi Anda, para handai taulan dan rekan-rekan Hifatlobrainers, yang sedang ada di sekitar Surabaya, silahkan merapat di CCCL pada tanggal 21 Desember, pukul 18.30 untuk menyaksikan screening dokumenter pendek buatan Giri Prasetyo, pendekar visual yang namanya harum di seantero jagad Vimeo.

Secara garis besar dokumenter ini bercerita tentang Klenteng Hok An Kiong, klenteng tertua di Surabaya, dan pengaruhnya terhadap perkembangan penduduk Tionghoa setelahnya. Giri menggarap video ini hampir setahun lamanya. Menetaskan ide pada bulan Februari, melakukan riset dan wawancara, hingga pengambilan ratusan footage di kawasan pecinan Surabaya. Paper tentang pecinan karya Claudine Salmon dan pertemuannya dengan beberapa ahli budaya Tionghoa semakin memperkaya sudut pandang Giri dalam pembuatan film ini.

Jadi kami doakan agar screening kali ini lancar anakmuda!

 Photo courtesy of Lukki Sumarjo and Matanesia Pictures

12/14/11

Mohe Wae Rebo

Click to enlarge. 

Pemutaran & diskusi film arsitektur nusantara: Mohe Wae Rebo!

Bersama Rendy Hendrawan & Arya Wishnu Wardana

Jumat, 16 Desember 2011 | Pk. 18.00 – 21.00

Tersedia popcorn dan minuman hangat, courtesy of Kami Arsitek Jengki,
Hifatlobrain Travel Institute, dan C2O. Mohon sumbangan kawan-kawan untuk menjaga kelangsungan kegiatan ini ;-)

INFO: info@c2o-library.net

_____

Benarkah dimuseumkan berarti telah punah?

Menjadi pusaka berarti dibiarkan berdebu dan beku dimakan waktu?

Tercatat dalam sejarah berarti harus siap terlupakan dan digantikan oleh hal baru?

 

More info: http://ow.ly/7ZcWw

Wae Rebo: a Journey


Rendy Hendrawan bersama Arya Wishnu Wardhana akan membagi pengalaman architectural journey mereka ke pedalaman Flores Barat, yaitu desa Wae Rebo. Selama berhari-hari mereka berdua mengikuti upacara pembangunan rumah-rumah adat yang berbentuk seperti tumpeng raksasa. "Aku menyebut Wae Rebo seperti the hidden heaven village, mas!" kata Rendi,"Tengah hari kabut sudah tebal, datang bergulung-gulung dari balik perbukitan. Sedangkan saat malam langit dipenuhi debu bima sakti..."

Rumah Niang, rumah khas Wae Rebo, nyaris saja punah. Dari tujuh buah awalnya, pada tahun 2009 hanya tersisa empat buah saja. Itu pun dalam keadaan yang rusak berat. Pada akhirnya Yori Antar, seorang arsitek senior, melakukan sebuah proyek merancang dan membangun kembali rumah-rumah Niang. Menggenapinya kembali menjadi tujuh buah.

Bersama tim Yori Antar, akhirnya Rendy dan Arya mengunjungi Wae Rebo dalam sebuah ziarah arsitektural. mereka melebur dan menyelami kehidupan masyarakat lokal sembari mempelajari khazanah arsitektur setempat.

Bagaimana kisah dua calon arsitek muda ini dalam perjalanannya? Silahkan datang pada acara pemutaran film "Mohe Wae Rebo" di c2o Library, 16 Desember 2011.

Photo courtesy by Rendy Hendrawan

More screening info: http://ow.ly/7ZcWw

12/12/11

Fadaelo



(Lagi-lagi) Sebuah video menarik karya Giri Prasetyo.

12/11/11

Bemor

Pelesir dengan bemor oleh Winda Savitri 

Pada gelaran PicFest beberapa waktu yang lalu, Winda Savitri menyumbangkan sebuah foto becak motor (bemor) yang ia ambil di Pulau Bintan untuk dipamerkan. Pameran ini sungguh mungil karena setiap foto 'hanya' dicetak pada selembar kertas foto ukuran 4R. Melihat pameran foto mini ini bagaikan menikmati sebungkus sego kucing; terasa nikmat tapi pengen nambah lagi. Kurang puas.

Pameran foto ini di selenggarakan oleh rekan-rekan hebat dari KeluaRumah, tempat bertukar pengalaman jejalan paling syip di Twitter. KeluaRumah tampaknya juga menjadi kunci penting yang membuat gelaran PicFest ini menjadi semakin seru karena semarak kicau mereka di linimasa.

Sedangkan Winda, ia berjanji akan membagi pengalamannya mengunjungi Pulau Bintan dalam sebuah tulisan duet bersama teman perjalanannya. Stay tune Hifatlobrainers! 

Melihat Indonesia Dari Dekat


Lukki Sumarjo saat memberikan wejangan. 

Hifatlobrain diundang oleh organisasi pemuda dengan jaringan internasional, Rotract, untuk mengisi sebuah sesi dalam sebuah seminar bertajuk "Surabaya Muda". Akhirnya diwakilkan oleh Lukki Sumarjo, sutradara kelas salmon ginuk-ginuk, kami mempresentasikan slide yang berjudul "Melihat Indonesia Dari Dekat".

Inti dari slide ini sebetulnya adalah menginspirasi anak muda untuk traveling keliling Indonesia. Ajakan untuk berkelana ini kami rasa cukup sesuai dengan forum seminar yang sebagian besar membahas tentang leadership ini. Sesuai kata Walt Whitman, "Now I see the secret of the making of the great person. It is grow in the open air and to eat and sleep with the earth..." Jadi menurut kami, para legislatif yang korup dan tidak memiliki mental pemimpin itu pasti nggak pernah traveling keliling Indonesia pada masa mudanya.

Lukki bercerita; Kemaren seseorang bertanya waktu aku sharing pengalaman jadi seorang pejalan.

"Mbak, apa resiko terbesar jadi seorang pejalan?"
Mikirnya lama baru bisa jawab, " Resiko terbesarnya jadi kecanduan. "

Sebuah jawaban yang menarik bukan?

Melihat Indonesia Dari Dekat

12/6/11

Timika Experience


Teks: Ni Luh Pratidina
Foto: Ayos Purwoaji
Peta: Istimewa

________________________________________________
Kontributor










Ni Luh Pratidina adalah seorang wanita ahli perkapalan yang menyukai traveling dan musik cadas. Memiliki ketertarikan besar pada budaya dan pria ganteng sayang mertua. Meski ia seorang keturunan Bali, namun Ni Luh tinggal di Surabaya.
________________________________________________

Selasa, 14 Desember 2010 aku dan tim peneliti memulai perjalanan ke pulau paling timur di Indonesia. Pulau besar yang begitu dikenal dengan burung Cenderawasih atau mungkin malah tambang emasnya yang belum habis dikeruk. Perjalanan ini ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan yang mendanai penelitian kami di Papua. Sehingga kami juga harus menggunakan penerbangan khusus yang disediakan oleh perusahaan. Belakangan akhirnya aku tahu bahwa untuk mengikuti penerbangan khusus itu kami harus menjalani pemeriksaan yang lebay dan bertele-tele.

Tujuan kami adalah kota Timika, untuk sampai kesana, pesawat harus transit di Makassar. Perbedaan waktu disini lebih cepat 1 jam dari Surabaya. Penerbangan menuju Timika ditempuh kurang lebih 2,5 jam. Saat itu matahari sudah sangat terik, hutan belantara hijau yang tidak bercelah seperti brokoli berjajar terbentang luas, dihiasi sungai-sungai besar menyambut prosesi mendarat di bandara Mozes Kilangin. Aku masih sangat lelah dan mengantuk, jam di tangan masih menunjukkan angka 5:03, sepertinya aku dilanda jetlag.

Pusat kota Timika, yang merupakan ibukota kabupaten Mimika termasuk cukup ramai oleh "orang rambut lurus" (sebutan penduduk lokal untuk para pendatang) yang sebagian besar terdiri dari BBM (Buton, Bugis, Makassar), sisanya adalah taipan dari Jawa dan etnis tionghoa. Perbandingan pendatang dengan pribumi sekitar 6:4. Umumnya para pendatang ini membuka usaha seperti toko, salon, penginapan, warung makan, hingga penyedia jasa taksi atau ojek. Sementara penduduk pribumi di Timika biasanya pergi ke kota untuk jual beli di pasar, beribadah, mengantar anak ke sekolah, berobat, kerja, atau sekedar mengunjungi keluarga.

Sebagian besar penduduk lokal bertempat tinggal di pesisir sungai atau di lembah pegunungan. Terdapat dua suku besar yang tersebar di kabupaten Mimika, yaitu suku Kamoro dan suku Amungme. Suku Kamoro banyak ditemui di sepanjang pesisir Agats – Jita (bagian selatan Timika). Sementara suku Amungme banyak ditemui di sebelah selatan pegunungan Sudirman.
Suku-suku lainnya yang tinggal di area kabupaten Mimika diantaranya adalah suku Asmat, Sempan, Nafaripi, Fak Fak dan Ayamaru. Penduduk lokal tersebut biasanya hidup sebagai nelayan, petani, menokok sagu, berburu, mengumpulkan kayu bakar, atau bekerja di pelabuhan.

Perbincanganku dengan seorang antropolog yang masuk dalam tim peneliti kami tentang kebudayaan lokal masyarakat Kamoro dan Amungme, menurutku sangat menarik untuk diulas. Suku Kamoro dan Amungme memiliki kekayaan budaya leluhur yang masih terjaga hingga saat ini, diantaranya prinsip hidup yang disebut Ndaita yaitu:
1. Imi-imi yaitu rasa memiliki dan perasaan senasib
2. Kaukapaiti yaitu suatu tanggung jawab pihak laki-laki kepada keluarga istri
3. Nawarepoka yaitu memberi imbalan, masyarakat menganggap bahwa tidak ada yang gratis
4. We-Iwaoto yaitu rasa sayang, terutama kepada pihak yang mengalami kesulitan
5. Taparuisme yaitu perasaan ego terhadap golongan

Kaukapaiti juga biasa diartikan sebagai budaya malu, yaitu malu jika tidak menjalankan tanggung jawab atau malu jika melakukan perbuatan tidak baik.

Selain itu masyarakat lokal juga mengenal Sasi yang berarti suatu larangan untuk mengambil tumbuhan tertentu selama jangka waku tertentu. Sehingga masyarakat lokal sangat menjaga kelestarian hutannya. Hal tersebut terkait dengan “Mitos Keharmonisan” yang dipercaya oleh masyarakat Amungme, yaitu menjaga keharmonisan antara sesama manusia, Tuhan, dan alam seisinya. Mirip sekali dengan ajaran Tri Hita Karana dalam ajaran Hindu Bali.

Kearifan lokal tersebut nampak sekali pada berbagai macam kesenian mereka; seperti seni ukir, lagu-lagu, dan tarian. Sayangnya aku belum berkesempatan untuk melihat langsung bagaimana kehidupan penduduk lokal di pedalaman.

Ketertarikanku akan budaya lokal sungguh tinggi, aku mengagumi seni ukir suku Kamoro yang terdapat di hotel tempat aku bermalam. Tiang leluhur Kamoro, disebut juga Biro, merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Kamoro. Tiang ini wujud penghormatan kepada arwah leluhur pada saat upacara Karapao, ritus inisiasi yang berkaitan dengan pendewasaan anak laki-laki. Ukiran tersebut berfungsi agar leluhur memberikan perlindungan kepada masyarakat di kampung tersebut.
Siang hari tanggal 17 Desember 2010, seharusnya aku dan tim peneliti dijadwalkan pulang ke Surabaya. Namun penerbangan kami tertunda karena masalah teknis pesawat. Di Papua, jadwal penerbangan yang kacau merupakan hal biasa. Akses transportasi darat dan jaringan telekomunikasi masih tergolong susah. Sehingga tidak ada pilihan selain menunggu.

Pada saat yang sama, kebetulan ada acara peresmian sebuah koperasi yang dihadiri oleh Bupati Mimika. Para penari Kamoro yang didatangkan langsung dari kampung Paumako memadati area parkir hotel lengkap dengan pakaian adatnya.

Tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya, para pria sudah mengenakan celana pendek dengan dilapisi rumbai-rumbai jerami sebagai pengganti koteka. Tidak jauh berbeda dengan yang dikenakan penari wanita, mereka juga telah menutupi bagian dada dengan kutang modern. Para penari membawa dayung yang menggambarkan kehidupan mereka sebagai nelayan yang sangat bergantung pada sungai dan laut, baik sebagai transportasi juga kebutuhan pangan keluarga.

Para penari pria yang sedari tadi bersembunyi di balik semak-semak melempari kapur disertai sejenis tumbuhan air kearah mobil yang dinaiki pejabat daerah. Namun ini hanyalah skenario penyambutan tanpa bermaksud membuat kericuhan. Para penari yang sudah berbaris rapi mulai bernyanyi dan menari yang gerakannya seperti orang mendayung perahu. Seketika bapak Bupati turun dari mobil dan berjalan memasuki tempat peresmian. Acara ini banyak mengundang perhatian penghuni hotel dan juga masyarakat sekitar yang mayoritas adalah pendatang.

 
Dari perjalanan singkatku di Papua, aku senang sekali berkesempatan bertemu (hanya beberapa jam saja) dengan penduduk asli Kamoro, berharap aku bisa bertemu dengan suku lain di tanah Papua yang sangat kaya akan budaya.

Kamoro Night



Hasil liputan Dwi Putri Ratnasari pada acara "Berjumpa dengan Suku Kamoro" yang diselenggarakan oleh CCCL Surabaya beberapa waktu yang lalu. Acara budaya ini menampilkan Berbagai hasil kriya suku Kamoro, seperti ukiran totem biro yang bernilai seni tinggi hingga lukisan kulit kayu yang bergaya tribal. Ada pula senjata tradisional seperti pisau yang terbuat dari tulang Kasuari yang langka. Tampak Kal Muller, seorang etnolog yang meneliti dan hidup di pesisir selatan Mimika selama puluhan tahun, mengenakan pakaian adat Kamoro. []

11/24/11

Kamoro Life


Setahun yang lalu saya mengunjungi Kekwa, sebuah kampung Suku Kamoro di selatan Mimika. Sepanjang pesisir selatan ini adalah daerah penuh rawa, dimana bakau, kerang, dan kepiting hidup dengan rukun sentausa. Di tempat inilah Suku Kamoro hidup. 

Suku Kamoro ini mirip dengan Suku Asmat, mereka adalah pemahat ulung. Saya pernah melihat Mbiko, patung setan berukuran setinggi 60 centimeter yang sangat mirip dengan corak ukiran kaum Melanesian. Suku Kamoro juga membuat tiang-tiang leluhur yang sangat indah dan khas. Biasanya dipajang di sebuah rumah adat yang digunakan dalam prosesi Karapao, inisiasi dewasa yang harus dilalui oleh setiap anak kecil Suku Kamoro. 

Saya mengagumi suku pesisir ini. Saya makan Tambelo, cacing bakau, kesukaan mereka. Saya juga merasakan Kole-kole, perahu tradisional Kamoro yang sederhana. 

Saya tahu banyak tentang Suku Kamoro dari buku "Introducing Papua" karangan Kal Muller, seorang etnolog yang telah meneliti suku ini sejak lama. Nah, selama beberapa hari kedepan CCCL Surabaya akan mengadakan Pameran Budaya Suku Kamoro. Mereka mendatangkan Kal Muller lengkap dengan para pematung Kamoro yang tersohor itu. Maka bila ada waktu sempatkanlah datang kawan! 

Di bawah ini adalah beberapa foto saya tentang Suku Kamoro yang diambil setahun lalu saat traveling ke daerah pesisir selatan Mimika. 

Kole-kole perahu tradisional Suku Kamoro yang 
digunakan sebagai alat transportasi sejak ribuan tahun 
lalu saat migrasi pertama dari seberang Pasifik.

Kampung Kekwa, tempat tinggal Suku Kamoro yang letaknya 
dekat dari pelabuhan Pomako, Mimika.

Mbitoro, patung sakral leluhur Kamoro yang diletakkan di depan 
rumah adat yang berfungsi sebagai tempat pelaksanaan 
Karapao, upacara inisiasi kedewasaan.

11/18/11

Bali & Beyond Edisi November 2011

Mbak Intan, editor B&B, memberikan saya sebuah kesempatan untuk menulis tentang dataran tinggi Dieng di majalahnya. Akhirnya, saya menuju Dieng untuk kedua kalinya. Sebelumnya saya memang pernah menulis tentang Dieng di majalah lain, namun saya lebih suka untuk melakukan liputan baru dan mencari sudut penulisan yang lain. Dalam kunjungan kedua ini saya juga bisa menjelajah Dieng lebih lengkap dari kunjungan pertama, meskipun masih ada beberapa obyek wisata lain dalam komplek Dieng yang belum sempat saya kunjungi. Menurut hemat saya, komplek dataran tinggi yang terletak di Wonosobo ini memiliki banyak sekali destinasi yang patut dikunjungi. Saya juga merasa lebih puas dengan foto-foto yang saya dapatkan dalam penugasan kali ini.

Untuk membaca artikel saya dalam versi lengkap, silahkan klik link berikut: http://t.co/gWCJ7A76