Pages

1/28/11

Memoar Orang-Orang SIngkawang

Reportase: Winda Savitri


Aksi Tatung - Yori Antar

Wajah Tatung - Julian Sihombing

Generasi Tatung - Septiawan

Bhinneka Indonesia - Oscar Motuloh

The Dragon - Jay Subiyakto

Panji Kebesaran - Yori Antar

Su Ai Ying Series (Young & Old) - John Suryaatmadja

Eternal Smile Series - Sjaifoel Boen

Setiap orang punya cerita. Pahit, manis, asam dan asin yang berbeda. Kisah-kisah orang biasa, orang kebanyakan, bukan penguasa atau bangsawan semata. Sejarah arus besar memang menjadi bagian dan mempengaruhi hidup mereka, sehingga mereka mesti berpencar ke berbagai titik di muka bumi ini, meninggalkan kampung halaman.

Saya menghadiri pameran ini di gedung Galeri Foto Jurnalistik Antara yang terletak di samping gerbang Passer Baroe, Jakarta. gambar-gambarnya cukup menarik dan beragam. Bercerita tentang budaya Tatung dan kisah imigran Singkawang yang terpaksa pulang ke kampung halamannya di China, meski mereka lebih mencintai budaya Indonesia. Bagi saya ini adalah sebuah pameran foto yang menarik. Membuat saya ingin sekali pergi ke Singkawang untuk menyaksikan tradisi Tatung yang magis dan sudah dilaksanakan selama ratusan tahun.

Pameran Fotografi "MEMOAR ORANG-ORANG SINGKAWANG” merupakan kerja sama Galeri Foto Jurnalistik Antara, Liga Merah Putih & Panitia Festival Cap Go Meh Singkawang 2011 untuk Indonesia yang beragam, dan berbeda-beda. []

1/17/11

Volunteer's Perspective

View Gunung Merbabu dari New Selo. Diambil pada siang hari.

Seorang wanita tua penduduk Selo, salah satu korban letusan Merapi.

Hiruk pikuk perayaan Satu Suro.

Penduduk membawa labuhan berupa kepala sapi pada perayaan Satu Suro.

Wuwungan menarik berbentuk burung Garuda yang diapit dua ayam jago.

Beberapa foto menarik yang diambil oleh Lukman Simbah saat bertugas sebagai relawan paska letusan Gunung Merapi. Yang menarik, ia juga sempat menyaksikan perayaan Satu Suro di daerah Selo, Boyolali, di tengah-tengah penduduk lokal yang masih mencoba bangkit setelah bencana. []

1/14/11

NGI Frame #5

(Randy Olson / NGM)

Apakah Anda sudah membaca majalah National Geographic terbaru? Isu yang diangkat cukup menarik, berkembangnya populasi di bumi hingga mencapai 7 miliar manusia. Apakah lantas bumi menjadi sesak panas karena kumpulan orang-orang yang berlalu lalang? Ternyata bumi masih cukup luas untuk ditinggali sodara-sodaraaa! Silahkan lihat video menarik tentang artikel ini.



Sebagai seorang yang suka memotret manusia tentu saya menyukai kehidupan dan segala hiruk pikuknya; Suasana pasar yang ramai, ulah manusia plastik di pusat perbelanjaan, pengemis jalanan, hingga kultur budaya yang terancam punah. Tapi bagaimana mendokumentasikan kehidupan di tengah bumi yang semakin sesak menurut para ahli? Maka silahkan ikut acara Frame #5 yang diadakan oleh NG Indonesia.

Pembicara
Reynold Sumayku (Editor Foto National Geographic Indonesia)
Yudhi Soerjoatmodjo (The British Council)
Oscar Motulloh (Antara)

Waktu dan Tempat
Sabtu, 22 Januari 2011
10.30-15.30 WIB
Food Court Gramedia Majalah
Jl. Panjang No. 8A Kebon Jeruk Jakarta Barat (depan halte busway Kebon Jeruk)

Persyaratan Peserta
Member fotokita.net (registrasi via web http://fotokita.net/frame/registrasi?id=5)
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 10 Januari 2011 dan ditutup tanggal 18 Januari 2011. Panitia berhak menutup pendaftaran lebih awal apabila kuota sudah terpenuhi.
Daftar peserta akan ditampilkan di website: http://fotokita.net/frame tgl 19 Januari 2011.

Pendaftaran Gratis, Tidak Dipungut Biaya
Tempat Terbatas

Informasi Kegiatan
National Geographic Indonesia
Email: event@nationalgeographic.co.id
FB: http://nationalgeographic.co.id/facebook
Follow us on twitter @ngindonesia

1/13/11

Matatita's Comment

Suluh Pratita atau yang lebih dikenal dengan Matatita adalah seorang travel writer yang sudah menerbitkan dua buku traveloguenya yang berjudul Tales From The Road dan Eurotrip. "Dalam waktu dekat aku juga bakal menerbitkan UK Trip, lanjutan dari Eurotrip," katanya.

Suatu saat ia meninggalkan sebuah sanjungan melalui artikel Hifatlobrain di Multiply. Saya pikir ia setengah bercanda, namun ibu satu anak ini mengatakan,"Eh..itu aku mujinya tulus loh... Soale ancen apik tenan..terutama foto2nya.."

Ya kami memang menjaga kualitas dan mutu sumbangan artikel dari para kontributor. Apalagi kami beranggapan bahwa; artikel yang buruk masih bisa diselamatkan, tapi kalo foto yang buruk itu bencana! Hahaha. Jadi buat para pembaca calon kontributor Hifatlobrain, silahkan siapkan foto-foto terbaik Anda untuk bisa bersanding manis dengan artikel ciamik yang disuguhkan. Karena sesungguhnya artikel yang bagus dengan foto yang indah adalah pasangan rumus paten untuk catatan perjalanan yang sedap.

Oh ya, nantikan interview kami dengan Matatita tentang era baru penerbitan buku perjalanan di Indonesia. Tapi sik yo dab, tak transkrip dulu rekamane, soale random dan mumet je.

In The Train

Sudah lama saya jatuh cinta sama kereta. Nggak tau kenapa. Kayaknya ini moda transportasi paling melankolis yang pernah saya temui setelah sepeda onthel dan dokar. Saat naik kereta, saya merasakan sebuah kenangan yang aneh ketika mendengar suara ban besi beradu kuat dengan rel, ketika menelan ludah melihat penjaja makanan hilir mudik, ketika menikmati bau ketiak orang-orang menguap memenuhi gerbong, dan ketika wajah-wajah kuyu kami saling berpandangan.

Sangat mungkin pemikiran saya ini dipengaruhi oleh esai panjang Paul Theroux di National Geographic tentang kisah perjalanannya melintas India menggunakan kereta uap. Sangat indah dan menggugah, apalagi dihiasi oleh foto-foto keren dari Steve McCurry idola saya.

Sedangkan National Geographic Traveler Indonesia sendiri sudah beberapa kali menurunkan liputan lengkap tentang kereta api.

Saya punya pemikiran untuk membuat feature panjang tentang kereta api dengan sahabat sekaligus teman berdiskusi saya, Islahudin Hilal. Semoga terwujud dalam waktu dekat. Jadi mulai sekarang saya akan mengumpulkan berbagai koleksi lawas saya tentang kehidupan di dalam kereta. Dan ini beberapa diantaranya, selamat menikmati :)

1/6/11

Postcards From Home

Ayos Purwoaji / Indonesia

@nonadita: Congrats to @aklampanyun your photo was chosen as the Runner Up of international photo contest!

Sebuah pesan dari Mbak Anandita mampir di akun twitter saya. Wanita yang tenar sebagai blogger jempolan ini memberitahu bahwa foto sederhana saya masuk sebagai runner up di sebuah kontes foto yang diadakan oleh ExchangeConnect. Saya cukup terkejut karena sebetulnya saya ikut kontes ini asal aja, dulu tahunya juga dari temen, terus disuruh submit.

Memiliki tema tentang "Postcard From Home", kayaknya lebih ingin menyampaikan keadaan riil yang ada di sekitar tempat tinggal saya. Akhirnya saya pilih dua foto lawas yang mewakili kehidupan sederhana, yang apa adanya, yang Indonesia sekali.

Eh nggak taunya masuk finalis bersama 20 peserta lain dari seluruh dunia. Sepertinya saya lagi hoki di awal tahun Kelinci yang kebetulan shio saya. Hehehe.

Itu foto berjudul 'Old Woman' saya ambil di kawasan Ampel. Saya memang suka jalan-jalan ke kampung arab paling eksotik di Surabaya ini. Kalo ada waktu luang dan duit lagi banyak saya pasti mampir kemari.

Nah rumah milik nenek ini ada di pojokan sebuah gang, dahulu temboknya berwarna-warni seperti di foto saya. Tapi beberapa minggu yang lalu saya kembali ternyata rumahnya sudah dipulas dengan warna krem semua. Beruntung saya masih dapat gambar pas rumah nenek ini dicat kayak permen.

Dan ini adalah salah satu foto favorit yang pernah saya ambil di Ampel. Entah mengapa, kayaknya pas aja, wajah di nenek nongol sempurna di bawah hiasan pagar yang berbentuk mahkota. Padahal itu cuma kebetulan aja, karena saya motretnya juga sambil jalan. Kalo nggak salah saya ambil foto ini pas jalan sama Mas Fahmi Machda yang juga menggemari kuliner arab.

Ini saya lampirkan foto finalis lain yang saya sukai. Selamat menikmati!

Birol Kirac / Turkey

Cristian Cezar Ghioca / Romania

Daissa Rabie / Morocco

Diana Cardenas / Ecuador

Dibyendu Dey Choudhury / India

Diego Egas / Ecuador

Jatuporn Kuptasin / Thailand

Majdal Nijem / Palestine

Mehboob Imam Hussain / India

Mo Zhang / China

Nauman Shaukat / Pakistan

Yonatan Tsighe Tewelde / Eritrea

TravelXpose Januari 2011


Alhamdulillah feature ringan saya menjadi Travel'sNote di majalah TravelXpose edisi Januari 2011. Sebetulnya proses menulisnya cukup dadakan karena baru tahu assigment ini dari Dwi Putri Ratnasari, seingat saya pas sore hari. Deadline-nya sendiri tengah malam. Sore itu saya iya-in saja tawaran Putri, meski jemari ini masih malas untuk menyentuh keyboard.

But clock's ticking, dan saya baru sadar kalo hari sudah beranjak semakin malam. Saat mengecek email, ternyata ada berapa buah email dari Putri yang semua isinya mewanti-wanti saya untuk taat tenggat. Ohyes, Putri -pada saat genting- ternyata bisa berubah menjadi manager yang cerewet luar biasa.

Sementara otak saya masih blank mau nulis apa, angle-nya apa, foto gimana, akhirnya saya tulis saja dengan fokus kuliner Wamena. Ya saya menuliskan kisah saya dengan lobster air tawar endemik Lembah Baliem yang gurihnya ampun DJ. TravelXpose awalnya meminta lima buah foto, namun akhirnya saya kasih sepuluh! Hahaha semoga mas editor TravelXpose menyukai sikap royal saya :p

Dan akhirnya dimuat. Terimakasih Tuhan.

Tapi sayangnya ada sedikit hal yang membuat saya ketawa nggak bisa berhenti. Judul artikel saya berubah menjadi "Menjajal Si Selingkuh di Wamena". Ohno, memang Udang Baliem (Cherax sp) lebih familiar disebut Udang Selingkuh oleh masyarakat lokal. Tapi judul artikel saya itu seperti sebuah ajakan how-to-cheat-tribal-woman-in-Wamena. Huahahaha. Tapi perayalah kawan, saya tidak akan melakukan hal tersebut. []