Pages

2/27/11

Sabang 16 Coffee Shop

Photo (above) courtesy of Saiful Azhar

Just spoiler, stay tune for Hifatlobrain review!

Sebetulnya saya datang ke sini dalam suasana hati yang tidak menyenangkan. Setelah melalui kemacetan parah dari Depok dan antrian yang tidak manusiawi di shelter busway Harmoni, akhirnya saya bisa mencapai tempat yang hanya sepelemparan batu jaraknya dari shelter busway Bank Indonesia ini.

Kafe mungil yang berada di samping kafe Kopitiam Oey milik Pak Bondan Winarno ini menyediakan berbagai macam kopi spesial (specialty coffee) khas Indonesia. Mulai dari jenis kopi Aceh Gayo hingga kopi Wamena. Sayang karena haus akut menyerang, saya akhirnya hanya memilih cappucino ice yang bisa dikatakan pilihan standar ABG tanggung yang ingin terlihat berkelas.

Untuk makanan saya mencoba kaya toast dengan rasa Srikaya. Ini adalah sajian utama dari Sabang 16, saya melihat banyak review bagus tentang makanan ini. Saya berharap kelelahan dan perasaan dongkol saya karena busway sialan itu bisa terobati setelah mencicipi makanan seharga empat belas ribu ini.

Kaya toast dari Sabang 16 ini gak tanggung-tanggung, terdiri dari dua lembar roti tawar tebal yang direkatkan dengan selai srikaya yang lezat. Saat saya menggoreskan pisau untuk mengiris body-nya yang berwarna cokelat terpanggang oven, dari sisi-sisinya keluar selai cair. Ouugghh siapa yang tahan untuk tidak menjilatnya sampai habis? Saya pikir ini makanan seksi juga ya, agak fetish gimanaaa gitu. Hahaha.

Memang enak, manisnya pas, rotinya empuk lembut. Tapi sayang tidak terlalu istimewa di lidah saya.

Winda sendiri memberikan nilai dua dari lima bintang. Cukup sadis bukan? "Lha tempatnya sempit sih, nggak nyaman buat nongkrong. Gak ada WiFi-nya juga..." Yayaya, saya tahu itu adalah nilai yang sangat tidak pantas.

Saya sendiri lebih moderat. Interior ruangan yang dikelir merah maroon dan aksen foto kuno hitam putih cukup menyentuh hati saya. Ada beberapa gambar Soekarno dan satu foto Tan Malaka yang dipajang. Wow. Cukup menarik sebagai tempat untuk melewatkan senja dengan suasana vintage yang kental.

Jadi akhirnya, saya memberikan nilai tiga setengah dari lima bintang untuk coffee shop ini.

Silahkan mencoba bray!

2/25/11

Bengawan Solo Expedition Book


Judul: Bengawan Solo; Riwayatmu Kini...!
Penerbit: National Geographic Indonesia
Tebal: 216 + XXIV halaman
Reviewer: Ayos Purwoaji


Hifatlobrain baru saja mendapatkan sebuah buku spesial yang berjudul "Bengawan Solo; Riwayatmu Kini...!" yang diterbitkan secara eksklusif oleh National Geographic Indonesia. Tentu saja kami senang bukan kepalang, pasalnya buku yang dicetak dalam format coffee table book ini sangat bagus dan keren pisan cyiiin; dibalut dalam kertas hard cover, cetak full color di atas kertas jenis art paper, serta berisi ratusan foto dan data yang sangat bermanfaat,

Buku terbitan tahun 2009 ini sebetulnya isinya tidak jauh berbeda dengan laporan perjalanan Kompas dalam Ekspedisi Bengawan Solo. Namun bedanya, jika dalam buku Kompas hanya berisi feature dan dicetak dalam format hitam putih, maka buku yang diterbitkan National Geographic Indonesia ini adalah advanced version-nya. Selain berisi feature, buku catatan ekspedisi ini juga dihiasi dengan beberapa data geografis yang ditampilkan dalam format infografis yang cantik. Sehingga isinya tidak monoton dan membosankan.

Beberapa feature panjang yang disajikan dalam buku ini berjudul: "Bengawan Solo Purba; Misteri yang Semakin Terkuak", "Sumber Kehidupan", "Nadi yang Terbebani", dan bagian terakhir adalah "Mempertahankan Sang Nadi Kehidupan". Empat feature panjang ini ditulis oleh dua orang, Andreas Maryoto (feature satu dan dua) dan Subur Tjahjono (feature dua, tiga, dan empat).

Tapi sebetulnya membaca buku ini tidak bisa disebut membaca, karena komposisi fotonya jauh lebih banyak dengan ukuran besar-besar, jadi sebagai penikmat visual, saya sangat puas melihatnya. Hahaha.

Sayangnya saya tidak iseng untuk mencoba menghitung jumlah foto yang ada di dalamnya. Karena sudah pasti sangat buanyak, berasal dari bidikan empat fotografer: Dwi Oblo, Feri Latief, Edy Purnomo, dan Tantyo Bangun. Nama terakhir, selain membantu sebagai fotografer, Tantyo sekaligus adalah direktur dalam proyek pembuatan buku ini.

Dalam kata sambutannya, Tantyo Bangun, selaku mantan editor-in-chief National Geographic Indonesia, mengatakan bahwa, "Mungkin di sini pandangan masa kanak-kanak lebih berguna, bahwa Bengawan Solo tetaplah harus dirawat dan dicintai, sebagai salah satu sumber kehidupan utama manusia sepanjang alirannya..." Me, couldn't agree more, Bray!

Saya sebetulnya tidak punya kenangan khusus dengan Bengawan Solo, selain fakta bahwa setiap pulang mudik ke Klaten ibu saya selalu menunjukkan sungai legenda ini sebagai pertanda sudah memasuki kawasan Solo, itu artinya perjalanan mudik sudah dekat. Itu artinya saya tidak perlu uring-uringan lagi karena menghirup udara mobil tua keluarga kami yang pengap penuh barang selama perjalanan. Itu artinya terbayang senyum wajah nenek saya dan rasa sambal tomatnya yang lezat. Itu artinya dalam waktu dekat saya mendadak kaya karena bakal dapat banyak angpao.

Intinya, bagi saya pribadi, Bengawan Solo berarti kebahagiaan yang meluap, seperti aliran airnya yang menjadi-jadi saat musim hujan tiba.

Buku ini menjadi menarik karena isinya bukan hanya berisi catatan perjalanan yang cenderung membosankan. Buku ini lengkap, bercerita tentang Bengawan Solo dari berbagai sisi, mulai dari bagaimana sungai ini menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitarnya, berbagai budaya yang bisa ditemui di sepanjang alirannya, pencemaran yang dilakukan oleh industri, serta bagaimana kisah Bengawan Solo menginspirasi Gesang untuk menciptakan gubahannya yang sangat terkenal itu.

Saya pribadi merindukan buku traveling seperti ini beredar di rak-rak buku komersial, bersanding dengan buku-buku traveling murah yang sekarang membanjiri pasaran namun miskin mutu. Saya memberikan rating 4.5 dari 5 bintang untuk buku yang dicetak terbatas ini.[]

2/20/11

Cirebon Street Musician



Saat melakukan perjalanan ke Cirebon dari Jakarta kami menaiki sebuah bis yang naujubila leletnya. Tapi kami cukup terhibur dengan para pengamen yang hilir mudik silih berganti dan video musik lokal yang disetel oleh kondektur selama perjalanan. Ini adalah rekaman salah satu pengamen yang menghibur perjalanan kami ke Cirebon. Silahkan cekidots!

Anyway untuk travelogue Cirebon silahkan ditunggu ya :) Sementara silahkan baca catatan perjalanan Dwi Putri Ratnasari, travelmate saya yang menahan perut keroncongan selama perjalanan Jakarta- Cirebon. Stuck on the bus!

Surabaya Today

Hari ini saya keliling Surabaya. Mulai dari mewawancarai bule yang mengkoleksi postcard Indonesia lawas, menjenguk event Locker Keeper di CCCL yang penuh kimcil berterbangan, menemui Giri Prasetyo -the next big videographer, nongkrong di Matchbox Too dan berbicara tentang hikayat cerita yang tak penting, hingga menunggu seorang teman yang janji bertemu di Pintu Air Kayoon namun akhirnya tak kunjung datang, sampai perut saya mulas lantas pulang dengan gontai. Ini ada dua snapshoot ringan yang saya dapatkan hari ini. Happy weekend lads! Happy traveling!

2/18/11

TravelXpose Februari 2011

Tulisan salah satu staff Hifatlobrain, Dwi Putri Ratnasari, tentang Komodo akhirnya dimuat di majalah TravelXpose edisi Februari. Artikel baru ini banyak berubah dari artikel Putri tentang Komodo sebelumnya di Hifatlobrain yang berjudul The Last Living Dinosaur on Earth. Namun sebenarnya tidak banyak hal yang saya tahu bagaimana cerita Putri selama peliputan, selain dia sering berceracau,"Yes, akhire aku numpak yaaaaccchhhttt..." Begitu saudara-saudara sekalian. Terimakasih.

2/16/11

Samuel's Pray

Ilustrasi TR/Kompas
"Tuhan saya sudah nggak mau kerja lagi tapi beri saya uang banyak. Kerja gak enak. Enakan traveling..."
(Samuel Mulia, kolumnis Parodi di Kompas Minggu)
PS: Sejak SMA saya menggemari tulisan-tulisan Samuel Mulia di Kompas. Selalu segar dan reflektif, menohok dada orang lain dengan meminjam dada sendiri, mengolok-olok diri sendiri dalam perspektif yang terkadang ganjil. Sama satirnya dengan komik strip Benny & Mice yang selalu muncul di hari yang sama.

Pernah dalam suatu masa, gaya menulis Samuel mempengaruhi gaya saya dalam menulis esai, tapi memang selalu beda, bisa jadi karena Samuel sudah melalui asam garam itu, dia sudah kenyang dengan pengalaman hidup.

Quote ini dia lontarkan melalui akun twitternya :)

Blogger's Time Seminar

Kementrian Sains dan Teknologi BEM FMIPA ITS proudly present BLOGGER'S TIME Seminar.

Special guest star RADITYA DIKA (penulisan novel best seller KAMBING JANTAN the series). Juga menghadirkan AYOS PURWOAJI (pengelola travel blog hifatlobrain.net).

5 Maret 2011 | @pascasarjana ITS lt. 3 | Start 8 AM.

Tiket:
Mahasiswa ITS: Rp 50.000
Umum: Rp 60.000

Dapatkan ptongan 10rb utk 50 pembayar pertama. Pendaftaran BT_nama_ITS/umum ke 085645735666 (Devima).

CP: 081933111014 (Jeffry). Tempat terbatas!

2/15/11

Happy Maulid!

Kue Walimah setinggi 25 meter, tradisi unik memperingati Maulid Nabi oleh masyarakat Gorontalo. (Agus La Hinta)

Selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW ke 1440. Lebih dari 1 Milenium Muhammad membawa pesan damai, cinta dan kasih. Keep the world peace, keep traveling!
Update: Seorang staff kami, Dwi Putri Ratnasari sedang berada di Jogja untuk melihat prosesi akbar Grebeg Maulud yang diadakan oleh Keraton Jogjakarta setiap tahun. Semoga dia bisa membagi cerita dan fotonya untuk para Hifatlobrainers semua :)

2/14/11

Dokumenter Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa

Bocoran desain kover DVD Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa

Setelah menunggu sekian lama, tampaknya film ini akan dirilis juga. Sebuah film dokumenter tentang petualangan keliling Indonesia ala Farid Gaban dan Ahmad Yunus yang melintasi banyak pulau dan merasakan berbagai sensasi yang tak kalah seru dibandingkan dengan kisah "The Motorcycle Diaries" milik Ernesto Guevara dan Alberto Granado.

Touring selama sepuluh bulan mulai dari Juni 2009 hingga April 2010 ini menghasilkan 70 jam footages (potongan video) yang akhirnya diserahkan kepada Dandhy Dwi Laksono untuk diedit. Film produksi WatchDoc ini konon akan launching pada pertengahan Februari 2011, jadi kita tunggu saja.

Buat para traveler pecinta Indonesia, silahkan tunggu dan lihat :)

2/11/11

Sunsign Journal

3.0 lamp series designed by Terbit Setya


Saya memang kuliah di jurusan Desain Produk, tapi bisa jadi seumur hidup saya nggak bakal bisa jadi product designer handal kelas dunia. Bukan, bukan salah jurusan, karena saya sendiri yang memilih jurusan ini. Masalahnya, ternyata saya punya passion lain dalam bidang traveling, dan itu ternyata masalah yang cukup akut sodara-sodara hahaha.

Tapi tak apalah, yang penting saya punya temen-temen yang bakal jadi product designer sukses itu sudah cukup... Hehehe. And finally let me introduce my partner in crime!

Namanya Terbit Setya, seorang desainer produk muda yang handal dan bersinar. Sejak kuliah dulu saya memang suka karyanya, soalnya desain yang dia bikin selalu membuat saya teringat dengan salah satu desainer kesukaan saya, Karim Rashid. Mereka berdua suka menggunakan warna-warna yang cerah dan bentuk organis. Sedap lah pokoknya.

Maka silahkan kunjung blog pria penyuka wanita dan fixie ini di http://sunsignjournal.blogspot.com/ dan temukan berbagai karya iseng dan serius miliknya. Yeah!

PS: @terbit blogmu wes tak iklanno, minimal yo koen nraktir aku semangkuk ice cream Zangrandi lah XD Hehehe

Bakmie Gang Kelinci

Photograph is courtesy of Susan Stephanie (@thesuusan)

"
Jakarta kotaku indah dan megah
Disitulah aku dilahirkan
Rumahku di salah satu gang
Namanya gang kelinci

Entah apa sampai namanya kelinci
Mungkin dulu kerajaan kelinci
...
"
(Lilis Suryani - Gang Kelinci)
Saya baru tahu kalo Gang Kelinci itu ada di dalem Passer Baroe. Nylempit diantara ratusan toko tekstil dan sepatu yang berjajar padat. Ini bukanlah gang yang saya bayangkan sebelumnya. Imajinasi saya dulu mengatakan kalo Gang Kelinci itu pasti sempit sekali, cuman kelinci dan hobbit yang bisa masuk. Ternyata saya salah, cukup lebar untuk dilalui satu buah mobil pick up atau dua buah bajaj. Saya kemari saat melakoni city tour bersama para happy jobless ibukota yang bisa haha hihi di hari Senin.

Konon ini bakmi legendaris yang udah eksis dari tahun 1957. Wuih itu berarti seumuran sama bapak saya men.

Tapi memang waktu tidak pernah berbohong. Meski hari Senin, ini warung tua ramenya naujubillah. Saya nggak bisa bayangin kalo weekend seperti apa ramenya warung bakmie ini, pasti berkali lipat lebih crowded dan pengap. Dan yang saya tahu: cuma makanan enak yang bisa bikin orang berkorban kayak gini.

Akhirnya saya memesan menu Bakmie Ayam, seperti umumnya yang rombongan kami pesan. Konon ini adalah menu andalan dari Bakmie Gang Kelinci yang resepnya dirahasiakan selama puluhan tahun. Saya jadi penasaran. Di antara kami cuma Ucy yang memesan Ifumie, cukup aneh memang seleranya, dan nantinya dia akan menyesal telah memesan menu tidak populer ini, hahaha.

Saya tidak ingat berapa menit waktu yang saya perlukan untuk membabat habis semangkuk mie beserta kuah kaldunya. Tiba-tiba saja saya tersadar kalo mangkuk saya udah kosong, WTF! Hahaha ini mie memang enak sekali bung -tapi bisa jadi juga karena saya yang lapar berat setelah jalan kaki city tour. At least saya bisa kasih nilai 4/5 untuk bakmie ini. Sebetulnya bentuknya biasa aja, hampir sama seperti Bakmie Gajah Mada, tapi toppingnya lebih beragam; cah jamur dan daging ayam dua rasa! Puas.

Oh ya, kalo menurut temen saya, Susan, seorang reviewer makanan handal yang juga seorang talented designer, bilang kalo sebetulnya yang paling istimewa itu sambalnya. Ada rasa yang khas dan otentik. Saya lihat Susan sampe kepedesan tapi wajahnya memancarkan rona ketagihan. "Hushh aahh, Yosh, ambilinh sambhelnyah dhongh..." katanya sambil terus ber-hu-ha kepedesan. Saya melihatnya jadi ketawa, mungkin di Singapura nggak ada sambal se-tasteful ini, hehehe.

Jangan lupa untuk mampir ke blognya Susan yang penuh dengan foto makanan. Saya termasuk fans beratnya dalam hal food photography, bagi saya foto-foto dia simply awesome dan selalu sukses bikin saya ngiler. Cewek lajang ini juga seneng banget berbagi kisahnya dalam melakukan foodspotting yang seru via twitter.

Yang paling saya notice dari kedai ini adalah: pramuniaga wanita menggunakan pakaian yang sangat keren. Sangat Gang Kelinci! Potongannya centil tapi classy. Apalagi warna seragamnya merah muda! Wuih baby doll abis pokonya mah...

Anyway, nanti liputan Jakarta City Tour akan saya tulis terpisah ya. Keep reading guys.

Silahkan kunjungi fans page Bakmie Gang Kelinci di sini.

Traditional Pizza Delicacy


Beberapa waktu yang lalu saya ditanya sama Nuran Wibisono, seorang sahabat yang saya malu mengakuinya sahabat. Dia bilang: "Lapo Hifatlobrain dadi dot Net nek awakmu malah jarang nulis! Mending ganti ae nang dot Blogspot maneh..." (Ngapain Hifatlobrain jadi dot Net kalo kamu malah jarang nulis! Mending diganti aja ke blogspot lagi aja...) Uhukkk, saya tertohok men. Ya Tuhan, kapan ya terakhir kali saya nulis di blog saya sendiri? Hahahaha.

Jujur saja, beberapa waktu terakhir saya disibukkan dengan jalan-jalan, nah traveloguenya belom sempet ditulis (baca: males) eh sudah jalan-jalan lagi... Jadi sebetulnya hutang travelogue saya buanyaaak sekali. Ehm err sebetulnya nggak begitu banyak sih :p

Anyway, saya sebetulnya tetep nulis. Tapi lebih ke yang berbau jurnalistik, writing for some assignment. Sangat nggak asyik sebetulnya. Saya harus berpikir alur dan struktur. It's kinda boring actually, dan saya merasa kangen buat nulis yang nggak pake mikir. Nulis yang apa adanya. Nulis di blog...

Maka kali ini saya kembali lagi Hifatlobrainers! Untuk itu saya akan mereview kuliner, sebuah topik yang saya suka dan pembaca juga suka! Hohoho dan iseng-iseng saya makan sepotong pizza di Nanamia Pizzeria. Warung ini akan membuat Anda berpikir ulang tentang bagaimana cara menikmati sepotong pizza!

Saya datang bersama teman tepat sebelum matahari terbenam. Saat itu saya melihat banyak meja masih kosong. Hanya ada satu dua pengunjung wanita yang tampak. Mereka duduk berkelompok, asyik bercanda di meja paling ujung. Saya mengambil sebuah meja double seat yang masih kosong. Tiba-tiba seorang pelayan datang dengan wajah ramah, mempersilahkan saya pindah, ternyata meja yang saya duduki sudah dipesan, begitu juga meja sampingnya dan sampingnya lagi.

Ternyata, meski kecil, pizzeria (toko pizza) ini begitu diminati. Pengunjung sampai harus pesan terlebih dahulu karena takut kehabisan tempat. “Pengunjung kita setiap hari memang sangat banyak, bahkan jika meja sudah habis, Anda harus rela menunggu,” kata operational manager Nanamia Pizzeria, Putri Agustin, seraya menunjuk sebuah deretan kursi plastik yang biasa digunakan sebagai ruang tunggu.

Akhirnya saya menuju ruang samping, ada beberapa meja yang memang benar-benar kosong. Akhirnya saya pesan menu Nanamia Speciale, pizza spesial khas Nanamia yang memiliki citarasa pedas dengan topping sederhana. Saya menunggu pesanan tidak begitu lama, mungkin karena pengunjung masih sedikit. Selama menunggu yang saya lakukan adalah menikmati nuansa pesisir Italia yang hadir di setiap dekorasi di resto kecil ini.

Akhirnya pesanan saya tiba, yang pertama kali datang adalah blueberry juice yang saya pesan untuk menemani Nanamia Speciale.

Saya perhatikan, di atas tembok ada mural Nanamia Pizzeria dengan grafis memukau, bersulur-sulur klasik. Membawa semangat Victorian, namun tidak aristokrat. Di bawahnya terdapat tagline; traditional pizza for modern people. Sebuah motto yang ambigu tapi menarik.

Nanamia memang warung pizza tradisional yang taat aturan. Mereka masih menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak, itu semua dilakoni agar citarasa orisinal Italian pizza bisa hadir. Efeknya memang terasa, pizza pun terhidang dengan aroma sedikit gosong, akibat terkena pembakaran langsung dari tungku yang tanpa sekat. Bagi saya, ini merupakan salah satu kunci yang membuat pizza Nanamia terasa seksi. “Kami memilih kayu tidak sembarangan, tapi hanya dari pohon buah-buahan,” kata Nana, pemilik Nanamia Pizzeria. Hal ini dilakukan agar aroma yang tercipta dari pizza tidak berbau arang melainkan berbau harum dengan sedikit aroma buah-buahan.

Selain itu, ciri khas lain pizza Nanamia adalah lapisan roti yang tipis, sehingga terasa sangat crunchy. Konon, aslinya pizza Italia memang harus dihadirkan seperti ini, sama seperti empat ratus tahun yang lalu saat pizza pertama kali ditemukan di Italia. Tanpa saus tomat, hanya mozzarella dan beberapa topping sederhana.

Pizza tradisional Italia ini sangat berbeda dibandingkan dengan american pizza yang memiliki lapisan roti tebal dan mengenyangkan. Pizza suguhan Nanamia tentu saja tidak cocok digunakan sebagai pengganti makan besar. Tapi jika Anda bersikeras untuk mengganjal perut saat datang ke Nanamia, maka silahkan coba sajian lainnya, seperti Spaghetti al Tonno Piccante, Spaghetti Bolognese, Insalata Mediterania, dan Insalata le Marche. Masih ada sederetan panjang menu pasta lainnya yang namanya membuat lidah saya keselo blah blah, semua dibikin dengan citarasa tradisional Italia.

Karakteristik yang khas ini sangat berpengaruh kepada cara makan pizza Nanamia. Ini yang saya suka; sebuah pan pizza hadir apa adanya tanpa piring, pisau, dan garpu. Maka silahkan comot slice pizza-nya dan makan saja dengan tangan! “Justru ini cara makan pizza Italia yang baik dan benar,” kata teman saya.

Sebagai pemilik warung pizza ini, Nana tampaknya benar-benar ingin menciptakan ambience yang kuat dalam penataan interior ruangan. Dindingnya berwarna oranye muda dengan aksen rustic di beberapa bagian memberi kesan oldies yang kuat. Penambahan mural berupa motif floral berwarna coklat menghadirkan kesan klasik. Semua itu elemen ini mengingatkan pada film Malena yang dibintangi Monica Belluci dengan berlatar belakang Italia di tahun 1940.

Suasana Italia hadir semakin kuat dengan alunan Italian world music yang chillout. “Kami ingin menghidupkan suasana yang cozy, tenang, dan sangat Italia. Ini salah satu daya jual yang dimiliki Nanamia dibanding resto pizza yang lain. Banyak pengunjung yang suka dengan konsep ini dan rela berlama-lama duduk, padahal waiting list-nya banyak ha-ha-ha,” kata Nana.

Seluruh konsep interior didesain sendiri oleh Nana. Sebagai seorang arsitek, tentu Nana tahu benar bagaimana cara menghadirkan suasana yang nyaman melalui penataan ruangan. “Itu lubang besar penyekat antar ruang, sengaja aku buat seperti itu biar pengunjung satu sama lain bisa saling melihat meskipun ada di ruangan lain, apalagi banyak ekspatriat yang makan di sini, lumayan lah bisa buat cuci mata,” kata Nana setengah bercanda.

Tapi bisa jadi benar juga, meskipun tidak terlalu besar, tetapi Nanamia berhasil menghadirkan suasana yang hangat. Itu yang membuat pelanggannya kembali dan kembali lagi. Sederetan selebritis nasional bahkan menjadi pelanggan tetap warung yang terletak di pertigaan Universitas Sanata Dharma ini. “Diplomat dari beberapa negara juga sering makan di sini, mereka enjoy meski tempatnya nggak begitu besar,” kata Nana.

Sebagai pizzeria dengan banyak penggemar seharusnya Nanamia bisa dikembangkan menjadi lebih besar dengan tempat yang lebih luas. Namun tampaknya opsi tersebut tidak pernah dipilih oleh Nana,”Konsep warung dengan tempat kecil memang sengaja dijaga. Agar keintiman yang hadir tidak hilang begitu saja,” kata Nana. []

2/3/11

Happy Imlek!

Pasar Atum | photo by Dwi Putri Ratnasari

Gong Xi Fat Choi Bagi Angpaunya Dong Coy!
Segenap team Hifatlobrain.net mengucapkan selamat tahun baru Cina 2562.